Dalam menjalani kehidupan ini, kita tidak harus kita menjadi yang terbaik.
Tujuan kita Hidup untuk menjalani nasib dengan selalu berbuat kebaikan kepada siapa pun, baik kepada manusia, hewan, tumbuhan dan makhluk ciptaan Alloh yang lainnya, supaya apa?
Supaya takdir yang kita yang tertuang didalam lahul mahfadz juga berupa takdir yang baik pula, dalam kata lain, kita menanam padi, maka dengan proses berjalannya waqtu kita akan memanen padi tersebut.
Sesungguhnya mereka pun juga hidup, dan berbuat kebaikan dan amal ibadah kepada Alloh, hanya saja kita tidak memahami bagaimana cara mereka beribadah kepada Alloh. Misal:
tanah, mereka hidup & melihat serta memahami apa yang kita rasakan, apa yang kita perbuat. Disaat mereka tersakiti dengan cara manusia menyakiti ciptaan Alloh yang lainnya, maka tanah pun bergerak & terjadilah bencana. Karana melihat tingkah laku manusia sudah keluar batas. Begitu pula dengan lautan, gunung, langit. Apabila hewan, mereka akan menggigit kita apabila mereka terancam, atau mereka akan nurut kepada siapa saja yang selalu berbuat kebaikan & taat, tulus-ikhlas, rela (redho) ibadah serta semua karana Alloh semata.
Kita tidak perlu khawatir, sebab segala sesuatu yang ditakdirkan untuk kita pasti akan sampai/terjadi kepada kita walaupun itu lama terjadinya. Apabila ingin mempercepat, terjadinya takdir yang baik harusnya kita sering bersedekah kepada faqir, miskin, janda tua, anak yatim, musyafir (orang yang kehabisan perbekalan didalam perjalanan), serta perbanyak Sholawat kepada Baginda Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wasalam.
Takdir adalah sebuah misteri, karana apabila kita berbuat kebaikan (amal sholeh) maka takdir yang kita alami pun juga akan baik, walau ada kalanya orang meremehkan, maka disitulah ujian kesabaran kita, karana modal hidup adalah kesabaran, orang yang sabar, orang yang mampu menahan amarahnya/emosinya dikala marah, maka itulah orang yang kuat, bukan orang yang tahan pukul atau sakti. Orang yang mampu melawan rasa malas, bisa juga dikategorikan orang yang kuat. Imam Al Ghozali berkata didalam kitab IHYA' ULUMUDDIN: "Untuk mendapatkan apa yang kamu suka, pertama-tama kamu harus bisa bersabar dengan apa yang kamu benci."
Apabila kita berbuat yang buruk atau perbuatan bodoh (amal jahiliyah), kenapa dikatakan bodoh?
Karana orang tersebut lebih menuruti hawa nafsu mereka ketimbang hati nurani mereka, sehingga hati mereka mati dan tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
Takdir yang sampai/terjadi kepada kita pun juga buruk, mengecewakan, walau pun ada kesenangan maka itu adalah istidrot (kesenangan yang Alloh berikan hanya sesaat, setelah itu Alloh akan membinasakannya dalam keadaan yang buruk).
Jikalau orang yang memahami akibat perbuatan buruk kita berdampak kepada:
1. Takdir yang menjadi perjalanan yang tidak menyenangkan,
2. Ganjaran kebaikan (pahala) kita berpindah kepada yang kita sakiti (dzolimi),
3. Saat sakaratul maut (nazak, lepasnya ruh dari jasad) yang bukan main sakitnya (lebih sakit dari pada tercekik) hingga berhari-hari, susah menyebut Nama Alloh, sehingga dikhawatirkan meninggal dalam keadaan su'ul khotimah (mati dalam keadaan yang buruk), sehingga siksaan² batin didalam barzah terus terjadi hingga hari kiyamat besar, entah berapa puluh atau ratus tahun lagi, setelah dikubur,
4. Saat berada di alam barzah (kubur) yang ingin kembali kedunia ingin berbuat kebaikan saja dan dia berjanji akan berbuat amal sholeh, namun itu semua sudah terlambat, karana ruh sudah melewati kerongkongan, itulah batas akhir bertaubat sudah Alloh tutup.
5. Di alam akherat (surga atau neraka) yang habis amal kebaikannya (bangkrut), walau masuk surga sebagai pengemis, disaat semua datang berduyun-duyun untuk menemui SANG KHOLIQ (sang pencipta) dia tidak bisa hadir. Sungguh kesengsaraan yang menyedihkan. Kita merasakan dengan menyebut nama Alloh sangatlah nikmat & indah, apa lagi melihat Alloh.
Apabila kita fahami maka pastilah kita enggan untuk berbuat keburukan didunia ini.