Kamis, 14 Mei 2020

MALAM LAILATUL QODAR MENURUT SYAIKH ABDUL QODIR AL JAILANI

keutamaan malam Qodar sudah dimulai ketika membuka tafsiran bismillahirrohmanirrohim
Dengan nama Alloh yang telah menentukan berbagai takdir makhluk di dalam hadirat ilmu-NYA dan lembaran ketetapan-NYA dengan diturunkannya Alqur'an kepada hamba-NYA.

Juga sebagai pemberi peringatan bagi mereka ke jalan ma'rifat (mengenal Tuhan) dan keimanan, sekaligus membangunkan mereka dari tidur panjang kelenaan dan kelalaian.
Pintu masuk di atas setidaknya menunjukkan kita secercah pemahaman tentang keajaiban lailatul qadr.

Bahwa pada malam itu diturunkan Alquran dari tempat yang agung.

Kalimat inna anzalnahu fi lailatil qodr menyiratkan turunnya Alqur'an dengan cara penuh kelembutan kepada seluruh hamba Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, sebagai pemberi penjelasan perihal jalan keselamatan dari api kebodohan. Dan orang-orang dungu tak akan menyambut malam agung itu, kecuali mereka yang memahami hakikat alam goib.

Maka dikatakan, wahai Muhammad, sekiranya Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, tidak memberitahumu perihal keagungan malam itu, niscaya tak ada yang mengetahui rahasia-rahasianya, hingga Alloh Subhanahu Wa Ta'ala memberitahukannya.

Lailatul qodar adalah malam yang penuh keagungan dan hikmah. Malam yang berlimpah keberkahan, di mana amal sholeh pada malam itu lebih baik dari seribu bulan. Bahkan para sahabat tidak pernah merasakan puncak kegembiraan sebagaimana ketika disebutkan firman-NYA, “malam itu lebih baik dari seribu bulan.”

Para malaikat turun mulai dari terbenamnya matahari sampai matahari terbit kembali (fajar). Dipimpin oleh punggawa mereka, yakni Jibril, sebagai jelmaan dari Ar-Ruh Al-Amin (Ruh pembawa amanah dari Robbul 'alamin). Ruh yang menjelma rupa manusia dan makhluk teragung dan malaikat paling mulia.

Ada yang mengatakan, turunnya Jibril dengan rupa manusia, namun dengan jasad malaikat.

Pada malam itu, mereka turun dengan berbaris-baris dan dipimpin oleh Jibril Alaihis salam. Berdiri bershof-shof (barisan-barisan), mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pengasih dan ia hanya mengatakan yang benar. (Qs. An Naba' ayat 38).

Atas izin Alloh Subhanahu Wa Ta'ala untuk menyelesaikan berbagai perkara kebaikan dan keberkahan. Mereka turun ke langit dunia hingga fajar menjelang dengan penuh kesejahteraan dan kedamaian, tanpa keburukan dan sihir.

Kalimat mathla dengan lam fathah mengindikasikan tempat terbitnya, jika dengan kasrah menandakan terbitnya.

Dan para malaikat menghaturkan salam kedamaian kepada orang-orang mukmin hingga terbitnya fajar. 

Keutamaan lailatul qodar pun mengundang ketakjuban malaikat Jibril, Sang Pembawa Wahyu.

Dalam satu riwayat berkenaan dengan kalimat “malam yang lebih baik dari seribu bulan” yang dikutip Syekh Abdul Qadir Al-Jilani, suatu ketika Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wassallam berbincang-bincang dan mengisahkan empat sosok Bani Israil yang telah beribadah kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala selama 80 tahun tanpa bermaksiat sama sekali.

Kala itu beliau menyebutkan Ayub, Zakaria, Hizqil, dan Yusa’ bin Nun.

Dengan kisah itu para sahabat pun merasa heran. Lalu datanglah Jibril Alaihis salam. sembari berkata,:

“wahai Muhammad, engkau dan para sahabatmu takjub dengan hamba Alloh yang telah beribadah selama 80 tahun tanpa melakukan kemaksiatan. Sementara Alloh justru menurunkan sesuatu yang lebih baik dari itu semua, sambil membacakan surat al-Qodr sampai akhir. Dan ini lebih utama dari sesuatu yang mengejutkanmu dan para sahabatmu.” Maka, Nabi Sholallohu 'Alaihi Wassalam pun merasa bahagia dengan itu.

Namun demikian, tak ada yang tahu pasti kapan terjadinya Lailatul qodr. Hanya mengundang spekulasi yang mungkin sedikit mendekati.

Akan tetapi, spekulasi ini tidak lantas tanpa ilmu. Tentunya tetap berlandaskan keilmuan yang ketat dan tidak sembrono.

Bahkan Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Baghdadi, Rodhiallohu'anhu yang memiliki kecenderungan batiniah tidak mau menyimpulkan berdasarkan narasi batiniahnya saja.

Dia tetap mengambil pendapat dari para imam dan fuqoha dari kalangan salafus sholeh.

Menurutnya, malam itu terjadi pada sepuluh hari terakhir di bulan Romadhon, tepatnya malam 27.

Imam Malik mengatakan bahwa malam itu terjadi di semua malam sepuluh hari terakhir,

sedangkan Imam Syafii, menyatakannya pada malam 21 Romadhon.

Mereka yang mengikuti pendapat Ummul mu'minin Aisyah, Rodhiallohu'anha. Lailatul Qodr terjadi pada malam 29 Romadhon,

sementara Syaikh Abu Burdah Al-Aslami menyimpulkannya pada malam 23 Romadhon.

Syaikh Abu Dzar dan Syaikh Hasan Al-Bashri menyimpulkannya pada malam 25,

Dan Sayyidina Ibnu Abbas dan Sayyidina Ubay bin Kaab mengatakannya terjadi pada malam 27.

Sepertinya Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Baghdadi, Rodhiallohu'anhu cenderung memaknai terjadi lailatul qodar pada malam 27 Romadhon.

Kecenderungan itu dikuatkan dengan berbagai dalil, di antaranya: Dari Ibnu Umar Rodhiallohu'anhu, “… Sementara para sahabat selalu menceritakan kepada Nabi Sholallohu 'Alaihi Wassallam. Tentang mimpi-mimpi mereka bahwa Lailatul Qodar terjadi pada malam ketujuh dari sepuluh malam yang akhir, maka Nabi Sholallohu 'Alaihi Wassalam. bersabda: “Sungguh aku melihat bahwa mimpi kalian benar, dan Lailatul Qodar terjadi pada sepuluh malam yang akhir. Maka siapa yang mau mencarinya, carilah pada sepuluh malam yang akhir (dari Romadhon).

Untuk menguatkan argumen/hujjahnya tentang terjadinya Lailatul Qodr pada malam 27, lagi-lagi Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Baghdadi, Rodhiallohu'anhu mengambil dalil/hukum yang sekaligus simbolisme sufisme tentang angka tujuh.

Sebuah narasi panjang dialog antara Ibnu Abbas dengan Umar bin Khatthob ini menegaskan bahwa segala hal berporos pada angka tujuh.

Misalnya: lapisan langit ada tujuh, lapisan bumi ada tujuh, malam-malam tujuh, planet-planet tujuh, bintang-bintang tujuh, sai antara shofa dan marwah tujuh kali, thowaf tujuh kali, lempar jumroh tujuh kali, penciptaan manusia selama tujuh hari, pemberian rezeki tujuh hari, membasuh muka tujuh kali, kata alhamdu dijadikan sebagai pembuka tujuh suroh, tujuh bacaan Alqur'an (sabatu ahruf), dan lain sebagainya yang menyiratkan ragam rahasia angka tujuh.

Selain sebagai petunjuk tentang keajaiban angka tujuh, simbolisme ini identik dengan sufisme yang tidak jarang membubuhkan makna intrinsik.

Hal ini bukan berarti para sufi tidak puas dengan makna lahiriah, tapi makna batiniah ini menunjukkan kekayaan wacana dan penggalian terdalam yang khas hingga menembus batas relung jiwanya.

Makna-makna intrinsik ini bukannya spekulasi yang nihil makna, justru jauh sebelumnya telah didahului oleh para sahabat Nabi Sholallohu 'Alaihi Wassallam, hanya saja kita belum mengetahuinya, menggalinya, atau belum sampai ke sana.

diriwayatkan oleh Ummul Mukminin Aisyah, Rodhiallohu'anha ketika ia bertanya kepada Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wassalam. tentang doa apa yang dibaca tatkala mengetahui malam Lailatul Qodar, lalu Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wassalam menjawab:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Allaahumma Innaka ‘Afuwwun Tuhibbul ‘Afwa Fa’fu ‘Annii

Artinya : “Wahai Alloh, Engkau Maha Pemaaf dan Engkau mencintai orang yang meminta maaf, maka maafkanlah aku.” (HR. Nasai: 7665, Tirmidzi: 3513, Ibnu Majah: 3850, Ahmad: 25384. Menurut Imam Ahmad dan Tirmidzi).

 Wallohu alam bish showab...lahum biissirril fatihah...


Read More

Senin, 11 Mei 2020

IJAZAH KEKAYAAN DARI MBAH KYAI ABDUL HAMID WALI ALLOH DARI PASURUAN


Setelah berusaha, bekerja akan tetapi segitu2 saja hasil nya, maka bacalah dzikir ini secara istiqomah insya Alloh dalam waktu dekat rezeki kita akan mengalir deras dan jika punya hutang2 segera lunas.

✓Mbah Hamid Pasuruan pernah di tanya seseorang yg bertamu pada Beliau tentang rezeki, maka Beliau menjawab:

Sembahyang shubuh jamaah! Gak usah takon wis nak, setengah tahun ae rasakno. Lek koen akehan melarate karo enake, yai ilokno, siap aku. Di ilokno koen siap aku, sukur koen ngelaksanakno sholat shubuh jamaah. Wes gak usah takon maneh, Muleh!”.

(“shalat shubuh jamaah! Gak usah tanya lagi nak, setengah tahun saja rasakan, kalau hidupmu banyakan melaratnya (sengsara) daripada enaknya, aku siap (redho) kamu marah-marahin, di maki kamu siap aku, tapi harus jamaah shubuh. Wes gak usah banyak tanya lagi, sana pulang!”)

✓Imam Muslim dalam hadist nya menyampaikan Rosululloh Sholallohu Alaihi Wassallam Bersabda:
Barang siapa sholat shubuh berjamaah maka dia ada didalam jaminan ALLOH SUBHANAHU WA TA'LA” (HR. Muslim)
Jaminan disini menyeluruh bukan hanya pada keselamatan nya saja tapi juga rezekinya, kehidupannya.

✓Sebelum sholat shubuh lakukan sholat sunnah 2 rakaat, seperti diketahui bahwa manfaat dan pahala yg sangat besar terkandung di dalam nya yaitu:
Dua raka’at fajar (shalat sunnah qobliyah shubuh) lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Muslim no. 725).

Kemudian bacalah:
1 “SUBHANALLOH WABIHAMDIHI SUBHANALLOHIL ADZIM ASTAGHFIRULLAH MI_ATA MAR_ROTIN” 100X
(maka dunia akan mendatangi mu dgn menunduk)

Lalu membaca:

2. “YAA HAYYU YAA QOYYUM LAA ILAAHA ILLA ANTA” 40X

Lalu ditambah baca:


3. “AH_YIL QULUB TAKH_YA WASH_LIKH LANAL A’MAL FIDDINI WAADDUNYA” 18X

✓Lalu sholat shubuh kemudian setelah sholat baca doa seperti biasa dan sertakan doa pelunas hutang dibawah ini:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ

“ALLOHUM_MA IN_NII A’UU_DZUBIKA MINAL HAM_MI WAL HAZANI, WA A’UUDZUBIKA MINAL ‘AJ_ZI WAL KASALI, WA A’UUDZUBIKA MINAL JUB_NI WAL BUKH_LI, WA A’UUDZUBIKA MIN GHOLABATID_DAINI WA QOH_RIL RIJAALI.”


Dari Abu Said Al-Hudri RA meriwayatkan bahwa pada suatu hari Rosululloh Sholallohu Alaihi Wassallam masuk ke dalam masjid bertemu dengan seorang laki-laki Anshar bernama Abu Umamah.

Ya Abu Umamah, sekarang bukan waktu sholat, mengapa engkau berada disini?” tanya Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wassallam.

Aku dirundung kesedihan dan dibelit banyak hutang, ya Rosululloh,” jawab Abu Umamah.

Maukah jika kuajarkan kepadamu satu kalimat yang bila kau ucapkan, Alloh akan menghilangkan kesedihan dan melunasi hutang-hutangmu?” tanya Nabi Sholallohu 'Alaihi Wassalam.

Tentu saja, ya Rosululloh,” jawabnya.

Beliau Sholallohu Alaihi Wassallam bersabda, “Katakanlah saat waktu PAGI dan SORE”:

 اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ

“ALLOHUM_MA IN_NII A’UU_DZUBIKA MINAL HAM_MI WAL HAZANI, WA A’UUDZUBIKA MINAL ‘AJ_ZI WAL KASALI, WA A’UUDZUBIKA MINAL JUB_NI WAL BUKH_LI, WA A’UUDZUBIKA MIN GHOLABATID_DAINI WA QOH_RIL RIJAALI.”

Doa itu kuamalkan dan Alloh menghilangkan kesedihan dan melunasi hutang-hutangku,” jelas Abu Umamah.

(HR Abu Dawud dan Tirmidzi. Doa ini juga diriwayatkan oleh Imam Bukhari, An-Nasaa'i dan ahmad dengan matan sedikit berbeda).

Kalo ada yg bilang “wong sholat koq niatnya buat ngejar rezeki” maka itu pemikiran yg sama sekali salah.

Niat kita tetap mencari ridho ALLOH SUBHANAHU WA TA'ALA dgn melakukan amalan2 diatas, sedangkan rezeki adalah salah satu dari hasil di ijabahnya doa kita dan juga karunia ALLAH SUBHANAHU WA TA'ALA sangat luas bukan terbatas hanya pada rezeki saja. Doa2 tersebut di ajarkan oleh para habaib wa sholihin, para kyai yg tentunya semua bersumber dari Rosulalloh Sholallohu Alaihi Wassallam.

Jangan dekati RIBA (rentenir/pinjaman yang berbunga) jaga perut dari makan/hasil yg harom, rutin sedekah meskipun sedikit, sertakan doa utk kedua orang tua disetiap doa kita, maka insya Alloh dengan di tambah dzikir ini akan dimudahkan rezeki kita semua silahkan praktekkan dan rasakan hasilnya.

Amalan Pelunas Hutang

Al Habib Ali bin Husein Al Attas atau lebih dikenal dengan Habib Ali Bungur (ulama masyhur ditanah Betawi) dalam kitab Al Qirthos ( Karya Al ‘Allamah Al Habib Ali bin Hasan bin Abdullah bin Husin bin Umar Al Attas) menyebutkan satu riwayat:

يروي ان من صلي ركعتين قبل طلوع الفجر‘يقراء في كل ركعۃ الفاتحۃ وايۃ الكرسي ثلاث مرات والكافرون مرۃ والاخلاص ۱۱ مرۃ ثم يقول بعد الفراغ : سبحان الله وبحمده سبحان الله العظيم استغفرالله ۱۰۰ مرۃ‘قضي الله دينه ووسع عليه رزقه.

Barang siapa shalat dua raka’at sebelum terbit Fajar. Dalam setiap raka’atnya ia membaca :

1) Al-Fatihah
2) Ayat Kursi 3x
3) Surat Al-Kafirun 1x
4) Surat Al-Ikhlas 11x

Kemudian setelah shalat ia membaca:

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيمِ أَسْتَغْفِرُ الله

“SUBHANALLOH WA BIHAMDIHI SUBHANALLOHIL ADHIM ASTAGH_FIRULLOH” 100x

Maka Allah akan melunasi hutangnya dan melapangkan rizkinya.

Amin ya rabbal’alamin..

Read More

PELAJARAN DAN NASEHAT SAYYIDINA SYAIKH MUHAMMAD BAHAUDDIN AN NAQSYABANDI

1). HUWASY DARDAM

yaitu pemeliharaan keluar masuknya nafas, supaya hati tidak lupa kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala atau tetap hadirnya Alloh Subhanahu Wa Ta'ala pada waktu masuk dan keluarnya nafas.

Setiap suluk (orang yang menempuh jalan untuk menuju Alloh Subhanahu Wa Ta'ala) menarikkan dan menghembuskan nafasnya, hendaklah selalu ingat atau hadir bersama Alloh Subhanahu Wa Ta'ala di dalam hati sanubarinya.

 Ingat kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala setiap keluar masuknya nafas, berarti memudahkan jalan untuk dekat kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, dan sebaliknya lalai atau lupa mengingat Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, berarti menghambat jalan menuju kepada-NYA.

2). NAZHAR BARQODLAM

yaitu setiap suluk (orang yang menempuh jalan untuk menuju Alloh Subhanahu Wa Ta'ala) dalam iktikaf (berdiam diri pada suatu tempat) atau bila berjalan harus menundukkan kepala, melihat ke arah kaki dan apabila dia duduk dia melihat pada kedua tangannya. Jangan memperluas pandangan ke kiri atau ke kanan, karena khawatir dapat membuat hatinya bimbang atau terhambat untuk berzikir (memuji nama Alloh Subhanahu Wa Ta'ala) atau mengingat Alloh Subhanahu Wa Ta'alaNazhar Barqodlam ini lebih ditekankan lagi bagi pengamal thoriqot yang baru merambah ke jalan pendekatan diri kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, karena yang bersangkutan belum mampu memelihara hatinya.

3). SAFAR DARWATHON

yaitu perpindahan dari sifat kemanusiaan yang kotor dan rendah, kepada sifat-sifat kemalaikatan yang bersih dan suci lagi utama. Karena itu wajiblah bagi suluk (orang yang menempuh jalan untuk menuju Alloh Subhanahu Wa Ta'ala) mengontrol hatinya, agar dalam hatinya tidak ada rasa cinta kepada makhluk, selain hanya kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.

4). KHALWAT DARANJAMAN

yaitu setiap suluk (orang yang menempuh jalan untuk menuju Alloh Subhanahu Wa Ta'ala) harus selalu menghadirkan hati kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dalam segala keadaan, baik waktu sunyi maupun di tempat orang banyak (ramai).

Dalam Thoriqoh Naqsyabandiyah ini ada dua bentuk kholwat (mendekatkan diri kepada Allah dengan cara menyepi)

A. Berkhalwat Lahir,

yaitu orang yang melaksanakan suluk (orang yang menempuh jalan untuk menuju Alloh Subhanahu Wa Ta'ala) dengan mengasingkan diri di tempat yang sunyi dari masyarakat ramai.

B. Khalwat Batin,

 yaitu hati sanubari suluk (orang yang menempuh jalan untuk menuju Alloh Subhanahu Wa Ta'ala) senantiasa musyahadah (menyaksikan) rahasia- rahasia kebesaran Alloh Subhanahu Wa Ta'ala walaupun berada di tengah- tengah orang ramai. Melihat kebesaran-kebesaran Alloh Subhanahu Wa Ta'ala yang tersirat di alam raya ini.

5). YA DAKRAD

 yaitu selalu berkekalan zikir (menyebut nama Alloh Subhanahu Wa Ta'ala), baik zikir ismus zat (yaitu melafadzkan ALLAH...ALLAH...ALLOH), Zikir Nafi Isbat (menyebut LA ILAHA ILALLAH), sampai yang disebut dalam zikir itu hadir (yaitu merasakan kehadiran Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dengan kenikmatan yang tiada tara, bahkan enggan untuk berhenti berdzkir).

6). BAR KASYAT

yaitu orang yang berzikir nafi isbat (menyebut LA ILAHA ILALLAH), setelah melepaskan nafasnya, kembali munajat kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dengan mengucapkan kalimat yang mulia :“Wahai Tuhan Allah, Engkaulah yang aku maksud (dalam perjalanan rohaniku ini) dan keridlaan-Mulah yang aku tuntut” . Sehingga terasa dalam kalbunya rahasia tauhid yang hakiki, dan semua makhluk ini lenyap dari pemandangannya.

7). NAKAH DASYAT

yaitu setiap suluk (orang yang menempuh jalan untuk menuju Alloh Subhanahu Wa Ta'ala) harus memelihara hatinya dari kemasukan sesuatu yang dapat menggoda dan mengganggunya, walaupun hanya sebentar. Karena godaan yang mengganggu itu adalah masalah yang besar, yang tidak boleh terjadi dalam ajaran dasar thoriqoh ini.

Syekh Abu Bakar Al Kattani berkata, “Saya menjaga pintu hatiku selama 40 (empat puluh) tahun, aku tiada membukakannya selain kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, sehingga menjadilah hatiku itu tidak mengenal seseorang pun selain daripada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.”

Sebagian ulama tasawuf berkata “Aku menjaga hatiku 10 (sepuluh) malam, maka dengan itu hatiku menjaga aku selama 20 (dua puluh) tahun.”

8). BAD DASYAT

yaitu ber-tawajuh adalah pemusatan perhatian sepenuhnya pada musyahadah, (menyaksikan) keindahan, kebesaran, dan kemuliaan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala terhadap Nur Zat Ahadiyah (Cahaya Yang Maha Esa) tanpa disertai dengan kata- kata.

Keadaan “Bad Dasyat” ini baru dapat dicapai oleh seorang suluk (orang yang menempuh jalan untuk menuju Alloh Subhanahu Wa Ta'ala) , setelah dia mengalami fana dan baka (ketiadaan) yang sempurna (yaitu segala apa yang ada semua hanyalah Alloh Subhanahu Wa Ta'ala).

 ADAPUN TIGA AJARAN DASAR YANG BERASAL DARI BAHAUDDIN NAQSYABANDI

9). WUQUF ZAMANI

 yaitu kontrol yang dilakukan oleh seorang suluk (orang yang menempuh jalan untuk menuju Alloh Subhanahu Wa Ta'ala) tentang ingat atau tidaknya ia kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala setiap dua atau tiga jam.

Jika ternyata dia berada dalam keadaan ingat kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala pada waktu tersebut, ia harus bersyukur dan jika ternyata tidak, ia harus meminta ampun kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dan kembali mengingat- NYA.


10). WUQUF ‘ADADI

 yaitu memelihara bilangan ganjil dalam menyelesaikan dzikir nafi isbat (menyebut LA ILAHA ILALLAH) sehingga setiap zikir nafi isbat tidak diakhiri dengan bilangan genap. Bilangan ganjil itu, dapat saja 3 (tiga) atau 5 (lima) sampai dengan 21 (duapuluh satu), dan seterusnya atau 99 kali (seperti asmaul husna)


11). WUQUF QALBI

yaitu sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Ubaidullah Al- Ahror, “Keadaan hati seorang suluk (orang yang menempuh jalan untuk menuju Alloh Subhanahu Wa Ta'ala) yang selalu hadir bersama Alloh Subhanahu Wa Ta'ala”.

Pikiran yang ada terlebih dahulu dihilangkan dari segala perasaan, kemudian dikumpulkan segenap tenaga dan panca indera untuk melakukan tawajuh (pemusatan perhatian sepenuhnya, baik secara rasa maupun fisik) dengan mata hati yang hakiki, untuk menyelami makrifat (pengetahuan) Tuhannya, sehingga tidak ada peluang sedikitpun dalam hati yang ditujukan kepada selain Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, dan terlepas dari pengertian zikir (menyebut nama Alloh Subhanahu Wa Ta'ala)


ADAPUN 7 MACAM LATHIFAH

1. Lathifah Al-Qolb

   Ada di bawah dada kiri, dua jari di bawah payudara,

   Warnanya adalah kuning

   Tempat kekuasaan Nabi Adam Alaihis salam ,

   Asalnya adalah tanah.

2. Lathifah Ar-Ruh

   Bertempat di sisi bawah susu kanan, berjarak sekitar dua jari,

   Warnanya adalah merah,

   Tempat kewenangan Nabi Ibrohim Alaihis salam , dan Nabi Nuh Alaihis salam ,

   Asalnya adalah api.

3. Lathifah As-Sirr

   Bertempat di atas susu kiri berjarak sekitar dua jari,

   Warnanya adalah putih,

   Tempat kekuasaan Nabi Musa Alaihis salam dan Nabi Khidhir Alaihis salam,

   Asalnya adalah air.

4. Lathifah al-khafi

   Bertempat di atas susu kanan, berjarak sekitar dua jari,

   Warnanya adalah hitam,

   Tempat kekuasaan Nabi Isa Al Masih dan  Nabi Sulaiman Alaihis salam,

   Asalnya adalah udara.

5. Lathifah Al Akhfa

   Bertempat di tengah dada,

   Warnanya hijau,

   Tempat kekuasaan Nabi Muhammad Sholallohu 'Alaihi Wassallam.,

   Asalnya adalah cahaya.

6. Lathifatul An-Nafsi

   Bertempat di antara kedua kata dikepala,

7. Lathifatul Qolab (Jasad)

   Bertempat di seluruh dan sekujur anggota badan, mulai rambut kepala sampai kaki


NASEHAT SAYYIDINA SYAIKH MUHAMMAD BAHAUDDIN AN-NAQSYABANDI

1). Mengamalkan thoriqoh berarti sibuk di dalam melaksanakan ‘ubudiyyah (penghambaan diri) kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, secara dzohir dan bahtin, dengan kesempurnaan komitmen/berjanji (iltizam) mengikuti as-Sunnah, dan menjauhkan segala bid’ah (amaliyah yang keluar dari aqidah islam) dan segala kelonggaran (rukhsah), pada setiap gerak dan diam.

2). Jalan kita adalah dengan mengikuti jejak langkah baginda Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wassallam dan para sahabatnya. Aku telah dibawakan ke jalan ini melalui Pintu Karunia, karena dari permulaan jalan hingga ke akhirnya, tiada yang aku lihat melainkan pengaruniaan-pengaruniaan dari Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.

3). Di dalam thoriqot ini, pintu-pintu kepada ilmu-ilmu langit akan dibukakan kepada Ash Sholihin (orang-orang yang berbuat amal kebajikan) yang teguh menuruti jejak langkah Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wassalam Mengikuti As-Sunnah adalah cara yang paling utama untuk membuka pintu-pintu ini.

4). Orang-orang ahli hikmah mempunyai tiga cara untuk mencapai Kebenaran (al-haqiqoh), yaitu melalui muroqobah, musyahadah dan muhasabah (introspeksi diri)
Muroqobah itu adalah kita tidak melihat makhluk karena pribadi makhluk tersebut, akan tetapi yang kita lihat Sang Pencipta makhluk yang telah menggerakkan makhluk ciptaanNYA.
Maksud musyahadah Adalah memandang kecemerlangan nur yang diterima di dalam hati dengan merasakan bahwa kita berada dihadapan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.Dan maksud muhasabah yaitu tidak mengizinkan segala sesuatu yang telah dilakukan dahulu (keburukan), menjadi batu penghalang (putus asa) bagi mencapai maqam-maqam yang lebih tinggi dengan selalu berbuat kebaikan-kebaikan, sesungguhnya rohmat (kasih sayang) Alloh Subhanahu Wa Ta'ala lebih luas dan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala selalu mengampuni semua dosa-dosa hambaNYA walaupun itu sebesar gunung.

5). Para orang-orang yang dekat kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala itu tidak pernah merasa kagum dengan amalan-amalan yang mereka kerjakan. Mereka sentiasa beramal demi rasa cinta kepadaNYA.

6). Siapa yang mengambil daripada tangan kami (berbai'at thoriqoh) dan menuruti jejak langkah kami (mengamalkan thoriqoh) dan mencintai kami, apakah dia itu dekat atau pun jauh, berada di Timur atau di Barat, maka akan kami minumkan dia dari Sungai Kecintaan (haudh Al kautsar, yang warnanya lebih putih dari susu, rasanya lebih manis dari madu, dan wanginya lebih wangi dari parfum yang ada dibumi), dan akan kami berikan dia cahaya pada setiap hari.

7). Jalan kita adalah melalui pergaulan yang baik. Mengutamakan diri bisa mengakibatkan seseorang itu menjadi masyhur (terkenal) dan ini adalah bahaya. Kebaikan terletak di dalam bersahabat. Siapa yang mengikuti jalan ini akan memperolehi banyak manfaat dan barokah melalui pertemuan-pertemuan yang ikhlash dan yang benar.

8). Siapa juga yang menziarahi (mengunjungi) kami tanpa memperolehi faedah/kemanfaatan yang mereka perlukan dibanding kami, sebenarnya, tiadalah mereka menziarahi kami (apabila mengunjungi kami hanya sekedar ingin mengetahui saja, maka akan sia-sia belaka). Mereka tidak akan merasa berpuas hati.

Siapa yang mempunyai keinginan untuk berkata-kata dengan kami (hanya sekedar ingin berdebat masalah agama),
kami tidak akan mendengar apa-apa (akan sia-sia belaka dan menjadikan musibah untuk dirinya).

Dan siapa pula yang ingin mendengar dari pada kami (nasehat) kami tidak mempunyai apa-apa untuk diperdengarkan (karana nasehat tanpa adanya hidayah itu mustahil bisa masuk kedalam hati).

Siapa yang menerima apa yang diberikan tanpa menganggapnya remeh, Alloh Subhanahu Wa Ta'ala akan memberikan tambahan.

Siapa pula yang tidak dapat menerima apa yang telah diberikan di sini (tidak mau mendengarkan) tidak akan berusaha menerima apa-apa pun (meremehkan), di mana-mana pun juga tempatnya akan sama tidak mendapatkan apa-apa.

Ingatlah engkau kepada kisah seorang manusia yang meminta dirham (duit perak), tetapi dia telah diberikan dinar (duit emas), karena tidak ada dirham untuk diberikan kepadanya? Dia telah berkata, “Apalah gunanya benda ini? Aku tidak boleh membelanjakannya. Ini bukan dirham!”.

9). Dari satu segi, setiap Insan Kamil (makhluk yang mulia) itu adalah sama. Ini berarti yang apabila si murid sudah benar-benar sealiran dengan usaha Thoriqoh ini, dia boleh berkomuniksai dengan para masayaikh (pembimbing) terdahulu, sebagaimana mereka sendiri sering berkomuniksai sesama sendiri (seperti orang yang bertemu atau bertatap muka) menempuh jarak masa dan tempat.

10). Tugas-tugas dan amalan-amalan sebuah thoriqoh membentuk satu unit. Kebenaran, cara mengajar dan cara murid, membentuk rupa satu tangan, yang tidak dapat dilihat oleh si jahil. Karena dia hanya melihat ketidaksamaan jari-jari, dia tidak dapat melihat kepada pergerakan padu dari tangan itu (yakni pergerakan tangan sebagai satu keselarasan, sebenarnya terjadi dari pergerakan bersaingan tetapi berpadu dari jari-jari tangan itu, saling terkait).

11). Setiap orang mendambakan kebaikan, namun tidak seorang pun telah meraih kebaikan, melainkan dengan mencintai Sang Pencipta Kebaikan.

12). 

Read More

BERBUAT KEBAIKAN NAMUN TIDAK MENDAPATKAN APA-APA DARI HAL TERSEBUT (amal ibadah yang sia-sia)

Memberikan nasehat, termasuk juga amal sholeh (perbuatan kebaikan), tetapi itu akan sirna (sia-sia, atau perbuatan buruk) apabila kita menasehati seseorang dihadapan orang lain atau banyak orang/tamu (apabila didalam rumah). Maka itu sama halnya kita menghina orang yang kita beri nasehat. Terlebih apabila menasehati orang lain dengan disertai amarah.

berilah nasehat itu dengan 4 mata & jangan ada orang lain yang mendengarkan, supaya orang yang di beri nasehat tidak merasa terhina.
Read More

KAROMAH SEORANG WALI ALLOH KH ABDUL HAMID PASURUAN

REZEKI DARI NOMOR TOGEL

Suatu ketika ada seseorang meminta nomer togel ke Kyai Hamid. Oleh Kyai Hamid diberi dengan syarat jika dapat togel maka uangnya harus dibawa kehadapan Kyai Hamid.

Maka orang tersebut benar-benar memasang nomer pemberian Kyai Hamid dan menang. Saran ditaati uang dibawa kehadapan Kyai Hamid. Oleh kyai uang tersebut dimasukan ke dalam bejana dan disuruh melihat apa isinya.

 Terlihat isinya darah dan belatung. Kyai Hamid berkata “tegakah saudara memberi makan anak istri saudara dengan darah dan belatung?” Orang tersebut menangis dan bertobat.


DIMULIAKAN ALLOH SUBHANAHU WA TA'ALA di MAKKAH

Setiap pergi ke mana pun Kyai Hamid selalu didatangi oleh umat, yang berduyun duyun meminta doa padanya. Bahkan ketika naik haji ke mekkah pun banyak orang tak dikenal dari berbagai bangsa yang datang dan berebut mencium tangannya. Darimana orang tau tentang derajat Kyai Hamid? Mengapa orang selalu datang memuliakannya? Konon inilah keistimewaan beliau, beliau derajatnya ditinggikan oleh Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.


PULPEN TIDAK KELUAR TINTA

Pada suatu saat orde baru ingin mengajak Kyai Hamid masuk partai pemerintah. Kyai Hamid menyambut ajakan itu dengan ramah dan menjamu tamunya dari kalangan birokrat.

Ketika surat persetujuan masuk partai pemerintah itu disodorkan bersama pulpennya, Kyai Hamid menerimanya dan menandatanganinya.

Anehnya pulpen tak bisa keluar tinta, diganti polpen lain tetap tak mau keluar tinta. Akhirnya Kyai Hamid berkata: “Bukan saya yang gak mau tanda tangan, tapi bolpointnya gak mau”. Itulah Kyai Hamid dia menolak dengan cara yang halus dan tetap menghormati siapa saja yang bertamu kerumahnya.

Inilah beberapa dari banyak karomah Kyai Hamid. Kyai Hamid adalah realita nyata tentang munculnya seorang hamba Alloh Subhanahu Wa Ta'ala yang mempunyai kekuatan ma’rifat billah (mengenal dengan sebenarnya kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala) yang mumpuni dan kekuatan musyahadah (perbuatan kebaikan (evaluasi diri) untuk mengganti perbuatan buruk yang pernah dilakukan di masa lampau dan berniat untuk melakukan yang lebih baik lagi di masa mendatang untuk mendapatkan ridho Alloh Subhanahu Wa Ta'ala) atas nur tajalli (terbukanya hijab/penghalang dari sifat-sifat kemanusiaan, sehingga yang tampak hanyalah nur Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dengan maqam wilayah yang amat tinggi. Dan kekuatan tersebut tentu tidak mungkin beliau dapatkan dengan serta merta tanpa melalui tahapan-tahapan amaliyah dan maqamat Thoriqoh yang beliau jalani dan beliau istiqomahkan. Setidaknya dari sirah (cerita) Kyai Hamid yang dapat kita baca, kualitas amaliyah dan maqamat itulah yang selalu beliau pancarkan dalam setiap gerak langkah beliau. Kewara’an (kehati-hatian dalam bertindak), kezuhudan (lebih mengutamakan cinta akhirat dan tidak terlalu mementingkan urusan dunia atau harta kekayaan) ketawadlu’an (rendah hati)kesabaran, keistiqomahan (dilakukan secara terus-menerus), dan riyadhoh (latihan penyempurnaan diri secara terus menerus melalui dzikir memuji nama Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dan pendekatan diri kepada Sang Kholik) 

Dan yang jelas, kekuatan ma’rifat dan wilayah tersebut hingga saat ini telah menjadi hamparan hikmah yang maha luas dan menebarkan harum pada sanubari setiap orang yang mengenalnya. Hingga siapapun tak akan pernah kehabisan untuk mengais suri tauladan atas keagungan akhlaknya dan menempa keberkahan yang telah beliau sebarkan dalam setiap relung hati dan palung hidup kita.

Sebelum menjadi kyai, semasa beliau mondok di Termas, Abdul Hamid (nama asli Kyai Hamid) banyak melakukan suluk thoriqoh secara sirri. Seperti sering pergi ke gunung dekat pondok Termas untuk melakukan kholwat (mendekatkan diri kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dengan cara menyepi/menyendiri) dan dzikir (memuji nama Alloh Subhanahu Wa Ta'ala)Tapi kalau ada orang datang, ia pura-pura mantheg (mengetapel) agar orang tidak tahu bahwa dia sedang berkholwat. Amalan wirid juga sering beliau baca disela-sela aktifitasnya sebagai seorang santri. Bahkan, ketika sering diajak begadang untuk mencari jangkrik, Kyai Hamid segera membaca wirid ketika teman-temannya tidak melihatnya.

Lambat laun, aktifitas suluk Kyai Hamid dengan dzikir sirri ( mengingat Alloh Subhanahu Wa Ta'ala didalam hati, tanpa komat-kamit dimulut) dan membaca awrad (beberapa wirid) semakin intens dilakukan di kamar Pondok. Bahkan diceritakan, semakin hari, Kyai Hamid semakin jarang keluar dari kamar untuk melakukan dzikir dan wirid thoriqoh tersebut. Sampai-sampai, kawan-kawannya menggodanya dengan mengunci pintu kamar dari luar.

Beliau bersikap hormat pada siapapun. Dari yang miskin sampai yang kaya, dari yang jelata sampai yang berpangkat, semua dilayaninya, semua dihargainya. Misalnya, bila sedang menghadapi banyak tamu, beliau memberikan perhatian pada mereka semua. Mereka ditanyai satu per satu sehingga tak ada yang merasa disepelekan.

“Yang paling berkesan dari Kiai Hamid adalah akhlaknya: penghargaannya pada orang, pada ilmu, pada orang alim, pada ulama. Juga tindak tanduknya,” kata Mantan Menteri Agama, Prof. Dr. Mukti Ali, yang pernah menjadi junior sekaligus anak didiknya di Pesantren Tremas.

Beliau sangat menghormat pada ulama dan habaib. Di depan mereka, sikap beliau layaknya sikap seorang santri kepada kiainya. Bila mereka bertandang ke rumahnya, beliau sibuk melayani. Misalnya, ketika Sayid Muhammad ibn Alwi Al-Maliki, seorang ulama kondang Mekah, bertamu, beliau sendiri yang mengambilkan suguhan, lalu mengajaknya bercakap sambil memijatinya. Padahal tamunya itu lebih muda usia.

Sikap tawadhu’ (rendah hati) itulah, antara lain, rahasia “keberhasilan” beliau. Karena sikap ini beliau bisa diterima oleh berbagai kalangan, dari orang biasa sampai tokoh. Para kiai tidak merasa tersaingi, bahkan menaruh hormat ketika melihat sikap tawadhu’ beliau yang tulus, yang tidak dibuat-buat. Derajat beliau pun meningkat, baik di mata Alloh Subhanahu Wa Ta'ala maupun di mata manusia. Ini sesuai dengan sabda Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wassalam: "Barangsiapa bersikap tawadhu’(rendah hati) Alloh akan mengangkat (derajat) nya.”

Beliau sangat penyabar, sementara pembawaan beliau halus sekali. Sebenarnya, di balik kehalusan itu tersimpan sikap keras dan temperamental. Hanya berkat riyadhoh (latihan penyempurnaan diri secara terus menerus melalui dzikir memuji nama Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dan pendekatan diri kepada Sang Kholik) yang panjang, beliau berhasil meredam sifat cepat marah itu dan menggantinya dengan sifat sabar luar biasa. Riyadhoh telah memberi beliau kekuatan yang hebat untuk mengendalikan amarah.

Beliau, misalnya, dapat menahan amarah ketika disorongkan oleh seorang santri hingga hampir terjatuh. Padahal, santri itu telah melanggar aturan pondok, yaitu tidak tidur hingga lewat pukul 9 malam. Waktu itu hari sudah larut malam. Beliau disorongkan karena dikira seorang santri. “Sudah malam, ayo tidur, jangan sampai ketinggalan salat subuh berjamaah,” kata beliau dengan suara halus sekali.

Beliau juga tidak marah mendapati buah-buahan di kebun beliau habis dicuri para santri dan ayam-ayam ternak beliau ludes dipotong mereka. “Pokoknya, barang-barang di sini kalau ada yang mengambil (makan), berarti bukan rezeki kita,” kata beliau.

Pada saat-saat awal beliau memimpin Pondok Salafiyah, seorang tetangga sering melempari rumah beliau. Ketika tetangga itu punya hajat, beliau menyuruh seorang santri membawa beras dan daging ke rumah orang tersebut. Tentu saja orang itu kaget, dan sejak itu kapok, tidak mau mengulangi perbuatan usilnya tadi. Beliau juga tidak marah ketika seorang yang hasud mencuri daun pintu yang sudah dipasang pada bangunan baru di pondok.

Melalui riyadhoh dan mujahadah (memerangi hawa nafsu) yang panjang, beliau telah berhasil membersihkan hati beliau dari berbagai penyakit. Tidak hanya penyakit takabur (orang yang merasa dirinya lebih segala-segalanya dari orang lain) dan amarah, tapi juga penyakit lainnya. Beliau sudah berhasil menghalau rasa iri dan dengki. Beliau sering mengarahkan orang untuk bertanya kepada kiai lain mengenai masalah tertentu.

“Sampeyan tanya saja kepada Kiai Ghofur, beliau ahlinya,” kata beliau kepada seorang yang bertanya masalah fiqih.

Beliau pernah marah kepada rombongan tamu yang telah jauh-jauh datang ke tempat beliau, dan mengabaikan kiai di kampung mereka.

Beliau tak segan “memberikan” sejumlah santrinya kepada KH. Abdur Rahman, yang tinggal di sebelah rumahnya, dan kepada Ustaz Sholeh, keponakannya yang mengasuh Pondok Pesantren Hidayatus Salafiyah.

Menghilangkan rasa takabur (orang yang merasa dirinya lebih segala-segalanya dari orang lain) memang sangat sulit. Terutama bagi orang yang memiliki kelebihan ilmu dan pengaruh. Ada yang tak kalah sulitnya untuk dihapus, yaitu kebiasaan ghibah (menggunjing orang lain). Bahkan para kiai yang memiliki derajat tinggi pun umumnya tak lepas dari penyakit ini. Apakah menggunjing kiai saingannya atau orang lain.

Kiai Hamid, menurut pengakuan banyak pihak, tak pernah melakukan hal ini. Kalau ada orang yang hendak bergunjing di depan beliau, beliau menyingkir. Sampai KH. Ali Ma’shum berkata, “Wali itu ya Kiai Hamid itulah. Beliau tidak mau menggunjing (ngrasani) orang lain.”

Kiai Hamid, seperti para wali lainnya, adalah tiang penyangga masyarakatnya. Tidak hanya di Pasuruan tapi juga di tempat-tempat lain. Beliau adalah sokoguru moralitas masyarakatnya.

Beliau adalah cermin (untuk melihat borok-borok diri), beliau adalah teladan, beliau adalah panutan. Beliau dipuja, di mana-mana dirubung orang, ke mana-mana dikejar orang (walaupun beliau sendiri tidak suka, bahkan marah kalau ada yang mengkultuskan beliau).

Tanggal 9 rabiul awal 1403 H beliau berpulang ke rohmatulloh. Umat menangis, gerak kehidupan di Pasuruan seakan terhenti. Ratusan ribu orang membanjiri Pasuruan, memenuhi relung Masjid Agung Al Anwar dan alun alun serta memadati gang dan ruas jalan. Beliau dimakamkan di belakang masjid agung Pasuruan. Ribuan umat menziarahinya setiap waktu mengenang jasa dan cinta beliau kepada umat.

Wallohu'alam bii showab lahum bii sirril fatihah...

Read More

DOA MENYADARKAN ORANG PINGSAN/KOMA

Ambilah wudhu,

Tawasul kepada:

1. Hadirat Baginda Al Musthofa Nabi Muhammad Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wassallam...al fatihah,

2. Sulthon awliya' Sayyidina Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Baghdadi, Rodhiallohu 'anhu...alfatihah,

3. Nabiyulloh Khidhir Alihis Sallam...alfatihah,

4. Asyauri Al Makhdumi...alfatihah,

5. Khusushon (sebutkan nama orang yang pingsan/koma)...alfatihah,

kemudiaan bacakan ayat dibawah ini ditelinga orang yang pingsan sebanyak 3x minta sama Alloh supaya dia kembali.

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَٰكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ

AFA_KHASIB_TUM AN_NAMAA KHOLAQ_NAAKUM 'ABA_TSAN WA AN_NAKUM ILAI_NAA LAA TUR_JA'UUN

Artinya: Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?

Orang yang dalam keadaan koma, bacakan 7x ditelinga kanannya.

Read More

Jumat, 08 Mei 2020

TINGKATAN PARA WALI ALLOH

Seperti para nabi-nabi (anbiya') dan rosul-rosul yang martabat serta kedudukan mereka tidak sama di antara satu sama lain, para Aulia juga diberi martabat yang berlainan pula.

Di kalangan Anbiya' dan Rosul yang jumlahnya sangat ramai itu dengan jumlah nabi mencapai 124.000 orang dan Rosul berjumlah 315 orang, sedang yang yang wajib kita diketahui hanya 25 orang Nabi dan Rosul saja. Sedangkan yang lainnya tidak wajib untuk kita ketahui.

Daripada 25 orang Nabi dan Rosul itu ada pula lima orang yang dikurniakan martabat tinggi, dipanggil ‘Ulil Azmi’ (sebuah gelar khusus bagi golongan rosul pilihan yang mempunyai ketabahan luar biasa selama menyebarkan berbagai risalah Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.)

 Para Rosul itu adalah Nabi Muhammad Sholallohu 'Alaihi Wassallam, Nabi Ibrahim Alaihis Salam, Nabi Musa Alaihis Salam., Nabi Isa Al Masih. dan Nabi Nuh Alaihis Salam.

Aulia'Illah (para Wali Alloh) pun juga mempunyai martabat yang berbeda-beda. Namun tidak ada siapa yang dapat mengenal pasti siapakah di antara para Aulia'Illah itu yang tertinggi martabatnya kecuali Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Namun para wali Alloh ada yang mengetahui antara yang satu dengan yang lain dan ada pula yang tidak.

"Laa ya'rifu ilal wali minal wali" artinya tidak mengetahui dari seorang itu golongan Wali Alloh, kecuali golongan wali Alloh itu sendiri. 

Dalam penjelasannya, seorang wali Alloh yang tingakatannya lebih tinggi bisa mengetahui derajat tingkatan ke-wali-an yang ada dibawahnya, namun wali Alloh yang tingkatannya berada di bawah tidak mengetahui tingkat kewalian seseorang yang berada di atasnya. Namun semua itu merupakan petunjuk dari Alloh Subhanahu Wa Ta'ala semata.

Seperti dijelaskan dahulu, para nabi dan rosul yang diutus kepada manusia harus membuktikan bahwa mereka diberikan mukjizat yang dikurniakan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala kepada mereka.

Tetapi para Aulia tidak wajib membuktikan diri mereka sebagai Aulia melalui karomah yang dikurniakan oleh Alloh Subhanahu Wa Ta'ala kepada mereka.

Bahkan para Aulia dianjurkan merahasiakan ke-wali-an mereka, apalagi martabat mereka, kecuali dalam keadaan darurat atau terdesak saja.

Sebab itu Aulia'illah tidak dapat dikenal pasti yang lebih tinggi martabatnya dari pada yang lain, kecuali atas petunjuk Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, sedangkan bilangan mereka juga sangat ramai.

Mungkin martabat para Aulia itu dapat dikenal hanya melalui karomah mereka, sedangkan karomah mereka pun tidak wajib ditontonkan kepada orang ramai, kecuali jika terdesak. Awliya'illah yang mampu membangunkan/menghidupkan orang/makhluk yang sudah meninggal/mati bisa di kategorikan Al Aqthob (pemimpin para wali dimasanya), seperti sulthonu awliya' Sayyidina Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Baghdadi yang menghidupkan ayam yang dagingnya telah dimakan & tinggal tulangnya saja bisa lembali menjadi ayam yang hidup lagi, seperti Sayyidina Syaikh Ali Ahmad Rohmatulloh Al Makhdumi As Samarkhondi (sunan Ampel) yang menghidupkan mbah Sholeh selaku marbot masjid Ampel Denta hingga 9x, seperti Sayyidina Syaikh Muhammad Bahauddin An Naqsyabandi yang mematikan & menghidupkan kembali temannya saat di gurun pasir dengan redho Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, dan beberapa wali Alloh yang lain.

 Tingkatan para wali dapat dibagikan kepada beberapa tingkatan sesuai dengan kedudukan mereka masing-masing di sisi Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Di antara mereka ada yang terbatas jumlahnya di setiap masanya, tetapi ada pula yang tidak terbatas jumlahnya Sehubungan dengan hal ini, Syeikh Muhyiddin Ibnul Arabi memberikan penjelasan tentang tingkatan dan pembahagian para wali seperti yang diterangkan dalam kitabnya FUTUHATUL MAKKIYAH pada bab ke tujuh puluh tiga yang diringkas oleh Syeikh Al Manawi dalam mukaddimah Thabaqat Sughrahnya sebagai berikut:


PEMBAHAGIAN WALI-WALI ALLOH SUBHANAHU WA TA'ALA.

1. Al Aqthob 

Al Aqthob berasal dari kata tunggal Al Quthub yang mempunyai arti penghulu/pemimpin tunggal. Dari sini dapat kita simpulkan bahwa Al Aqtab adalah darajat kewalian yang tertinggi. Jumlah wali yang mempunyai darajat tersebut hanya terbatas seorang saja untuk setiap masanya. Seperti Abu Yazid Al Busthomi dan Ahmad Ibnu Harun Rasyid Assity.

Di antara mereka ada yang mempunyai kedudukan di bidang pemerintahan, meskipun tingkatan taqorrubnya juga mencapai darajat tinggi, seperti para Khulafa’ur Rasyidin, Al Hasan Ibnu Fatimah zahro bin Muhammad Rosulillaah, Muawiyah Ibnu Yazid, Umar Ibnu Abdul Aziz dan Al Mutawakkil. Dalam bidang thoriqoh, Sulthonu Awliya' Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al baghdadi, Sayyidina Syaikh Abu Hasan Asy Syadzili, Sayyidina Syaikh Muhyidin Ibnu Arobi, Sayyidina Syaikh Ali Ahmad Rohmatulloh Al Makhdumi As Samarkhondy (sunan Ampel), Sayyidina Syaikh Muhammad Bahauddin An Naqsyabandi, Sayyidina Syaikh Muhammad bin Abdul Karim as-Samman al-Madani, Sayyidina Syaikh Muhammad bin Alwi Al Maliki Al Hasani.


2. Al-A_immah

Al Aimmah berasal dari kata tunggal imam yang mempunyai arti pemimpin. Setiap masanya hanya ada dua orang saja yang dapat mencapai darajat Al Aimmah.

Keistimewaan mereka, ada di antara mereka yang pandangannya hanya tertumpu ke alam malakut saja, ada pula yang pandangannya hanya tertumpu di alam secara keseluruhan (bumi & langit).


3. Al-Autad

Al Autad berasal dari kata tunggal Al Watad yang mempunyai arti pasak. Yang memperoleh darajat Al Autad hanya ada empat orang saja setiap masanya.

Kami menjumpai seorang di antara mereka dikota Fez di Morocco. Mereka tinggal di utara, di timur, di barat dan di selatan bumi, mereka bagaikan penjaga di setiap pelusuk bumi.


4. Al-Abdal

Al Abdal berasal dari kata Badal yang mempunyai arti menggantikan. Yang memperoleh darajat Al Abdal itu hanya ada tujuh orang dalam setiap masanya. Setiap wali Abdal ditugaskan oleh Alloh Subhanahu Wa Ta'ala untuk menjaga suatu wilayah di bumi ini. Dikatakan di bumi ini mempunyai tujuh daerah. Setiap daerah dijaga oleh seorang wali Abdal. Jika wali Abdal itu meninggalkan tempatnya, maka ia akan digantikan oleh yang lain. Ada seorang yang bernama Abdul Majid Bin Salamah pernah bertanya pada seorang wali Abdal yang bernama Muaz Bin Asyrash, amalan apa yang dikerjakannya sampai ia menjadi wali Abdal? Jawab Muaz Bin Asyrash: “Para wali Abdal mendapatkan darajat tersebut dengan empat kebiasaan, yaitu sering lapar, gemar beribadah di malam hari, suka diam dan mengasingkan diri”. Seperti, KH. Ahmad Asrori Al Ishaqi, Tuan Guru Muhammad Zaini bin Abdul Ghani Al Banjari (guru ijai sekumpul).


5. An-Nuqaba’

An Nuqaba’ berasal dari kata tunggal Naqib yang mempunyai arti ketua suatu kaum. Jumlah wali Nuqaba’ dalam setiap masanya hanya ada dua belas orang. Wali Nuqaba’ itu diberi karomah mengerti sedalam-dalamnya tentang hukum-hukum syariat. Dan mereka juga diberi pengetahuan tentang rahasia yang tersembunyi di hati seseorang. Selanjutnya mereka pun mampu untuk meramal tentang watak dan nasib seorang melalui bekas jejak kaki seseorang yang ada di tanah. Sebenarnya hal ini tidaklah aneh. Kalau ahli jejak dari Mesir mampu mengungkap rahasia seorang setelah melihat bekas jejaknya. Apakah Alloh Subhanahu Wa Ta'ala tidak mampu membuka rahasia seseorang kepada seorang waliNya?


6. An-Nujaba’

An Nujaba’ berasal dari kata tunggal Najib yang mempunyai arti bangsa yang mulia. Wali Nujaba’ pada umumnya selalu disukai orang. Dimana saja mereka mendapatkan sambutan orang ramai. Kebanyakan para wali tingkatan ini tidak merasakan diri mereka adalah para wali Alloh. Yang dapat mengetahui bahawa mereka adalah wali Alloh hanyalah seorang wali yang lebih tinggi darajatnya. Setiap zaman jumlah mereka hanya tidak lebih dari lapan orang. Salah orang adalah KH. Thoha Al Ghozali, yang makamnya berkain kafan hijau di komplek pemakaman sunan bungkul, darmo kali, surabaya.


7. Al-Hawariyun

Al Hawariyun berasal dari kata tunggal Hawariy yang mempunyai arti penolong. Jumlah wali Hawariy ini hanya ada satu orang saja di setiap zamannya. Jika seorang wali Hawariy meninggal, maka kedudukannya akan diganti orang lain. Di zaman Nabi Sholallohu 'Alaihi Wassalam hanya sahabat Zubair Bin Awwam saja yang mendapatkan darajat wali Hawariy seperti yang dikatakan oleh sabda Nabi Sholallohu 'Alaihi Wasalam: Setiap Nabi mempunyai Hawariy. Hawariyku adalah Zubair ibnul Awwam”Walaupun pada waktu itu Nabi mempunyai cukup banyak sahabat yang setia dan selalu berjuang di sisi beliau. Tetapi beliau Sholallohu 'Alaihi Wasalam berkata demikian, kerana beliau tahu hanya Zubair saja yang meraih darajat wali Hawariy. Kelebihan seorang wali Hawariy biasanya seorang yang berani dan pandai berhujjah (beragumentasi menggunakan dalil-dalil/dasar hukum).


8. Ar-Rojbiyun

Ar Rojbiyun berasal dari kata tunggal Rojab. Wali Rajbiyun itu adanya hanya pada bulan Rojab saja. Mulai awal Rojab hingga akhir bulan mereka itu ada. Selanjutnya keadaan mereka kembali biasa seperti semula. Setiap masa, jumlah mereka hanya ada empat puluh orang saja. Para wali Rojbiyun ini berpecah di berbagai wilayah. Di antara mereka ada yang saling mengenal, tapi kebanyakannya tidak. Salah satu diantaranya ada di daerah gresik yaitu Abah Thoyyib sumengko.

Disebutkan bahwa ada sebagian orang dari Wali Rojbiyun yang dapat melihat hati orang-orang Syiah melalui kasyaf. Ada dua orang Syiah yang mengaku sebagai Ahlu Sunnah dihadapan seorang wali Rojbiyun. Lalu keduanya diusir, kerena wali Rojbiyun itu melihat keduanya berupa dua ekor babi, sebab keduanya membenci Abu Bakar, Umar dan sahabat-sahabat lain. Keduanya hanya mencintai Ali dan sejumlah sahabatnya. Ketika keduanya bertanya padanya, maka si wali tersebut berkata: “Aku lihat kamu berdua berupa dua ekor babi, kerana kamu menganut mazhab Syiah dan membenci para sahabat Nabi Sholallohu 'Alaihi Wasalam."

Ketika berita itu disadari kebenarannya oleh keduanya, maka keduanya mengaku benar dan segera memohon ampun kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Demikianlah sepenggal kisah kasyaf seorang wali Rojbiyun.

Pada umumnya, di bulan Rojab, sejak awal harinya, para wali Rojbiyun menderita sakit, sehingga mereka tidak dapat menggerakkan anggota tubuhnya. Selama bulan Rojab, mereka senantiasa mendapat berbagai pengetahuan secara kasyaf, kemudian mereka memberitahukannya kepada orang lain. Anehnya penderitaan mereka hanya berlangsung di bulan Rojab. Setelah bulan Rojab berakhir, maka kesehatan mereka kembali seperti semula.


9. Al-Khotamiyun

Al Khotamiyun berasal dari kata Khotam yang mempunyai arti penutup atau penghabisan. Maksudnya darajat Al Khotamiyun adalah sebagai penutup para wali. Jumlah mereka hanya seorang. Tidak ada darajat kewalian umat Muhammad Sholallohu 'Alaihi Wassallam yang lebih tinggi dari tingkatan ini. Jenis wali ini hanya akan ada di akhir masa, yaitu ketika Nabi Isa Al Masih putra sayyidatuna Maryam datang kembali.

Di antaranya, ada para Wali yang hatinya seperti Nabi Adam Alaihis Salam. Jumlah mereka hanya tiga ratus orang. Sabda Nabi Sholallohu 'Alaihi Wassallam: “Mereka berhati seperti hati Adam Alaihis Salam, Mereka diberi anugerah tersendiri oleh Alloh Subhanahu Wa Ta'ala."

Syeikh Muhyidin Ibnu Arobi berkata: “Jumlah wali jenis ini (kewalian Adam) bukan hanya tiga ratus orang saja dikalangan umatnya, tetapi ada juga dikalangan umat-umat lain. Tentang keberadaan mereka hanya dapat diketahui secara kasyaf. Setiap masanya dunia tidak pernah kosong dari keberadaan mereka. Mereka mempunyai budi pekerti Ilahi, mereka amat dekat disisi Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Doa mereka selalu diterima oleh Alloh Subhanahu Wa Ta'ala." 

Mereka senang dengan doa: “Wahai Tuhan kami, sesungguhnya kami suka menganiaya diri kami. Jika Engkau tidak berkenan memberi ampunan dan kasih sayang kepada kami, pasti kami akan termasuk orang-orang yang rugi”

Di antara mereka ada pula yang berhati seperti hati Nabi Nuh Alaihis Salam (kewalian Nuh) Jumlah mereka hanya empat puluh orang di setiap zamannya. Hati mereka seperti hatinya Nabi Nuh Alaihis Salam.

Beliau adalah Nabi dan Rasul pertama. Mereka suka berdoa, seperti doa Nabi Nuh Alaihis Salam yang artinya: “Wahai TuhanKu, ampunilah aku dan kedua orang tuaku dan siapa saja dari orang beriman, lelaki ataupun wanita yang masuk ke dalam rumahku dan jangan Engkau tambahkan bagi orang-orang yang berbuat aniaya kecuali kebinasaan”.

Tingkatan wali dari jenis ini sukar diraih orang, sebab ciri khas mereka sangat keras dalam menegakkan agama, seperti sifat Nabi Nuh Alaihis Salam. Yang pasangannya susah diatur, begitu pula anaknya juga demikian, sehingga tingkat kesabarannya sangatlah tinggi.

Mereka selalu memperhatikan sabda Nabi Sholallohu 'Alaihi Wassallam yang artinya: “Barangsiapa yang beribadah selama empat puluh hari dengan penuh ikhlas, maka akan terpancar ilmu hakikat dari lubuk hatinya ke lidahnya”. Dan para wali Alloh mengartikan bahwa ilmu hakikat dari lubuk hatinya ke lidahnya itulah ilmu Laduni (karomah/keistimewaan).

Itulah maqom kewalian Nuh Alaihis Salam.

Di antaranya pula ada yang berhati seperti hati Nabi Ibrahim Alaihis Salam (kewalian Ibrohim) Jumlah wali jenis ini hanya ada tujuh orang dalam setiap zamamnya. Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wassallam pernah menceritakan tentang mereka dalam salah satu sabdanya. Mereka suka dengan doa Nabi Ibrahim Alaihis salam, yang artinya: “Tuhanku, berikan kepadaku kebijaksanaan, dan ikutkan aku kepada orang-orang salih”. Mereka diberi keistimewaan yang luar biasa, hati mereka dibersihkan dari rasa ragu, rasa dengki dan rasa buruk sangka terhadap Kholik maupun makhluk, mereka terlindung dari semua perbuatan buruk.

Syeikh Muhyiddin Ibnu Aroby berkata: “Aku pernah menemui salah seorang dari jenis wali tersebut, aku kagum dengan kemuliaan budi pekertinya, luas pengetahuannya dan kesucian hatinya, sampai aku beranggapan bahwa kesenangan surga telah dipercepatkan baginya”.

Di antaranya pula ada yang berhati seperti hati Malaikat Jibril Alaihis Salam (kewalian Jibril) Jumlah wali jenis ini hanya ada lima orang saja dalam setiap zamannya.

Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wassallam pernah menyebut tentang mereka dalam salah satu sabdanya. Mereka diberi kekuatan (karomah) seperti yang diberikan kepada malaikat Jibril yang amat kuat. Di hari kiamat kelak, mereka akan dikumpulkan dengan malaikat Jibril. Dan malaikat Jibril senantiasa membantu rohani mereka, sehingga mereka selalu terpimpin.

Di antaranya pula ada yang berhati seperti hati Malaikat Mikail Alaihis Salam (kewalian Mikail), Jumlah mereka hanya ada tiga orang saja dalam setiap masanya. Keistimewaan (karomah) mereka suka berlemah-lembut terhadap semua orang, sehingga semua yang ditemui selalu menjadi lemah lembut, dan mereka diberi kekuatan seperti Malaikat Mikail. Salah satunya adalah Tuan Guru Muhammad Zaini bin Abdul Ghani Al Banjari (Abah Guru Ijai sekumpul).

Di antaranya pula ada yang berhati seperti hati Malaikat Isrofil (kewalian Isrofil) Jumlah mereka hanya ada satu orang saja dalam setiap zamannnya. Nabi Sholallohu 'Alaihi Wassallam pernah menyebut tentang mereka dalam salah satu sabdanya.

Menurut pengamatan kami, Syeikh Abu Yazid Al Busthomi termasuk salah seorang dari jenis wali ini Termasuk juga kewalian Nabi Isa Al Masih, Syeikh Al Muhyiddin berkata: “Di antara tokoh-tokoh sufi ada yang diberi hati seperti hati Nabi Isa, kedudukan mereka sangat tinggi di sisi Alloh Subhanahu Wa Ta'ala”.

Di antaranya pula ada yang diberi hati seperti hati Nabi Daud Alaihis Salam (kewalian Daud) Jumlah mereka di setiap masa hanya terbatas beberapa orang saja. Mereka diberi berbagai keistimewaan (karomah), kedudukan tinggi di dunia dan ketebalan iman.


10. Rijalul Ghoib

Di antaranya pula ada yang diberi pangkat Rijalul Ghoib atau manusia-manusia misteri. Jumlah wali jenis ini hanya sepuluh orang di setiap masa. Mereka orang-orang yang selalu khusyu’, mereka tidak berbicara kecuali dengan perlahan atau berbisik, kerana mereka merasa bahwa Alloh Subhanahu Wa Ta'ala selalu mengawasi mereka. Mereka sangat misteri, sehingga keberadaan mereka tidak banyak dikenali kecuali oleh ahlinya (yaitu dari golongan Wali sendiri). Mereka selalu rendah hati, malu dan mereka tidak banyak mementingkan kesenangan dunia. Boleh dikata segala tindak tanduk mereka selalu misteri. Di antaranya pula ada yang selalu menegakkan agama Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Jumlah mereka hanya delapan belas orang di setiap masa. Ciri khas mereka adalah selalu menegakkan hukum-hukum Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Dan mereka bersikap keras terhadap segala penyimpangan.

Syeikh Abu Madyan termasuk salah seorang di antara mereka. Beliau berkata kepada murid-muridnya: “Tampilkan kepada manusia tanda redha kamu sebagaimana kamu menampilkan rasa ketidaksenangan kamu, dan perlihatkan kepada manusia segala nikmat yang diberikan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, baik yang dzohiriyah mau pun batiniyah seperti yang dianjurkan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dalam firmanNya berikut:

“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaknya engkau menyebut-nyebutnya sebagai tanda bersyukur” (Surah Adh Dhuha: 11).


11. Rijalul Quwwatul Ilahiyah

Di antaranya pula ada wali yang dikenal dengan nama Rijalul Quwwatul Ilahiyah artinya orang-orang yang diberi kekuatan oleh Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Jumlah mereka hanya delapan orang saja di setiap zaman. Wali jenis ini mempunyai keistimewaan (karomah), yaitu sangat tegas terhadap orang-orang kafir dan terhadap orang-orang yang suka memperkecilkan agama. Sedikit pun mereka tidak takut oleh kritikan orang. Di kota Fez ada seorang yang bernama Abu Abdullah Ad Daqqaq. Beliau dikenal sebagai seorang wali dari jenis Rijalul Quwwatul Ilahiyah. Di antaranya pula ada jenis wali yang sifatnya keras dan tegas. Jumlah mereka hanya ada 5 orang disetiap zaman. Meskipun watak mereka tegas, tetapi sikap mereka lemah lembut terhadap orang-orang yang suka berbuat kebajikan.


12. Rijalul Hanani Wal Athfil Ilahi

Di antaranya pula ada jenis wali yang dikenal dengan nama Rijalul Hanani Wal Athfil Illahi artinya mereka yang diberi rasa kasih sayang Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Jumlah mereka hanya ada lima belas orang di setiap zamannya. Mereka selalu bersikap kasih sayang terhadap manusia baik terhadap yang kafir mau pun yang mukmin. Mereka melihat manusia dengan pandangan kasih sayang, kerana hati mereka dipenuhi rasa insaniyah yang penuh rohmat (kasih sayang).


13. Rijalul Haibah Wal Jalal

Di antaranya pula ada yang termasuk dalam golongan Rijalul Haibah Wal Jalali. Jumlah mereka hanya empat orang di setiap masa. Jenis wali tingkatan ini dikenal sebagai orang-orang yang hebat dan mengkagumkan, meskipun sifat mereka lemah lembut, tetapi orang-orang yang menemui mereka akan tunduk. Mereka tidak dikenal di bumi, tapi mereka adalah orang-orang yang dikenal di langit. Di antara mereka ada yang mempunyai hati seperti Nabi Muhammad Sholallohu 'Alaihi Wassalam, ada pula yang mempunyai hati seperti Nabi Syuaib, Nabi Solleh dan Nabi Hud. Sayyid Muhyiddin berkata: “Aku pernah menemui wali golongan ini di kota Damsyik”.


14. Rijalul Fathi

Di antaranya pula ada yang termasuk dalam golongan Rijalul Fathi. Artinya rahasia-rahasia Alloh Subhanahu Wa Ta'ala selalu terbuka bagi mereka. Jumlah mereka hanya ada 24 orang di setiap masanya. Jumlah mereka sama dengan bilangan jam, yaitu 24 orang. Meskipun demikian, mereka tidak pernah berkumpul di satu tempat dalam jumlah sebanyak itu. Adanya mereka menyebabkan terbukanya pintu-pintu pengetahuan, baik yang nyata mau pun yang rahasia.


15. Rijalul Ma’arij Al’-‘Ula

Di antaranya pula ada yang termasuk dalam kelompok Rijalul Ma’arij Al ‘Ula. Jumlah mereka hanya 7 orang di setiap masa. Mereka termasuk wali-wali tingkatan tinggi, hampir setiap saatnya mereka naik ke alam malakut, mereka adalah orang-orang pilihan.


16. Rijalu Tahtil Asfal

Di antaranya pula ada yang termasuk dalam golongan Rijalu Tahtil Asfal, yaitu mereka yang berada di alam terbawah di bumi. Jumlah mereka tidak lebih dari 21 orang di setiap masa. Ciri khas wali ini, hati mereka selalu hadir di hadapan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.


17. Rijalul Imdadil Ilahi Wal Kaun

Di antaranya pula ada yang termasuk dalam golongan Rijalul Imdadil Ilahi Wal Kauni, yaitu mereka yang selalu mendapat karunia Ilahi. Jumlah mereka tidak lebih dari 3 orang di setiap masa. Mereka selalu mendapat pertolongan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala untuk menolong manusia sesamanya. Sikap mereka dikenal lemah lembut dan berhati penyayang. Mereka senantiasa menyalurkan anugerah-anugerah Alloh Subhanahu Wa Ta'ala kepada manusia. Pokoknya, adanya mereka menunjukkan berpanjangannya kasih sayang Alloh Subhanahu Wa Ta'ala kepada makhlukNya.


18. Ilahiyun Rohmaniyun

Di antaranya pula ada yang termasuk dalam golongan Ilahiyun Rohmaniyun, yaitu manusia-manusia yang diberi rasa kasih sayang yang luar biasa. Jumlah mereka ini hanya 3 orang di setiap masa. Sifat mereka seperti wali-wali Abdal, meskipun mereka tidak termasuk didalamnya. Kegemaran mereka suka mengkaji firman-firman Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.


19. Rijalul Istithoolah

Di antaranya pula ada yang termasuk dalam golongan Rijalul Istithoolah, yaitu manusia-manusia yang selalu mendapat pertolongan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Jumlah mereka hanya seorang dalam setiap masa. Yang termasuk kelompok ini adalah Syeikh Abdul Qadir Jilani. Mereka selalu menolong manusia dan mereka sangat ditakuti.


20. Rijalul Ghina Billah

Di antaranya pula ada yang termasuk dalam golongan Rijalul Ghina Billah, iaitu orang-orang yang tidak memerlukan kepada manusia sedikit pun. Jumlah mereka hanya 2 orang di setiap masanya. Mereka selalu mendapat siraman rohani dari alam malakut, sehingga kelompok ini tidak memerlukan kepada bantuan sesiapa pun, selain bantuan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.


21. Rijalu ‘Ainut Tahkim Waz Zawaid

Di antaranya pula ada yang termasuk dalam golongan Rijalu ‘Ainut Tahkim Waz Zawaid. Jumlah mereka hanya 10 orang di setiap zamannya. Mereka senantiasa meningkatkan keyakinannya terhadap masalah-masalah yang ghoib. Seluruh hidup mereka terlihat aktif di semua aktivitas ibadah.


22. Rijalul Isytiqoq

Diantaranya pula ada yang termasuk dalam golongan Rijalul Isytiqoq, yaitu mereka yang selalu rindu kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Jumlah mereka hanya 5 orang di setiap zamannya. Kegemaran mereka hanya memperbanyakkan sholat di siang hari dan di malam hari.


23. Al-Mulamatiyah

Di antaranya, ada yang termasuk dalam golongan Al Mulamatiyah. Mereka tergolong dari wali darajat yang tinggi, pimpinan tertingginya adalah Nabi Muhammad Sholallohu 'Alaihi Wassallam. Mereka sangat berhati-hati dalam melaksanakan syariat Islam. Segala sesuatu mereka tempatkan di tempatnya yang tepat. Tindak tanduk mereka selalu didasari rasa takut dan hormat kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Sudah tentu keberadaan mereka sangat diperlukan, meskipun mereka tidak terbatas. Ada kalanya jumlah mereka meningkat, tetapi ada kalanya pula jumlah mereka berkurangan.


24. Al-Fuqoro'

Di antaranya, ada pula yang termasuk dalam golongan Al Fuqoro’. Jumlah mereka ada kalanya meningkat dan ada kalanya berkurangan. Ciri khas mereka ini selalu merendahkan diri. Mereka merasa rendah di hadapan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.


25. As-Sufiyyah

Di antaranya, ada pula yang termasuk dalam kelompok As Sufiyyah. Jumlah mereka tidak terbatas. Ada kalanya membesar dan ada kalanya pula berkurangan. Mereka dikenal sebagai wali yang amat luhur budi pekertinya. Mereka selalu menghias diri mereka dengan kebajikan-kebajikan yang sesuai dengan ketinggian budi pekerti mereka.

Kebanyakan dari wali jenis ini, mereka tidak terkenal dan berbaur dengan masyarakat kebanyakan, jarang yang mempunyai santri atau murid, tetapi ucapan mereka penuh dengan kesederhanaan & ilmu.


26. Al-‘Ibaad

Di antaranya, ada pula yang termasuk dalam golongan Al ‘Ibaad. Mereka dikenali sebagai orang-orang yang suka beribadah. Pokoknya, ibadah merupakan kegiatan mereka sehari-hari, mereka suka mengasingkan diri di gunung-gunung, di lembah-lembah dan di pantai-pantai. Di antara mereka ada yang mau bekerja, tetapi kebanyakan dari mereka meninggalkan semua kegiatan duniawi. Puasa sepanjang masa dan beribadah di malam hari merupakan syiar mereka. Sebab, menurut mereka dunia ini adalah tempat untuk menyuburkan amal-amal di akhirat. Abu Muslim Al Khaulani adalah di antara wali tingkatan ini. Biasanya jika ia merasa letih ketika beribadah di malam hari, maka ia memukul kedua kakinya seraya berkata: “Kamu berdua lebih pantas dipukul dari binatang ternakanku”.


27. Az-Zuhaad

Di antaranya, ada pula yang termasuk dalam golongan Az Zuhaad. Mereka termasuk orang-orang yang suka meninggalkan kesenangan duniawi. Mereka mempunyai harta, tetapi mereka tidak pernah menikmatinya sedikitpun, sebab, seluruh hartanya mereka nafkahkan pada jalan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Sayyid Muhyiddin berkata: “Di antara bapa saudaraku ada yang tergolong dari wali tingkatan ini”.

Disebutkan bahawa Syeikh Abdullah At Tunisi, seorang ahli ibadah di masanya, ia dikenal sebagai salah seorang wali Az Zuhad. Pada suatu hari, penguasa kota Tilmasan menghampiri tempat Syeikh Abdullah seraya berkata kepadanya: “Wahai Syeikh Abdullah, apakah aku boleh sholat dengan pakaian kebesaranku ini?” Mendengar pertanyaan itu, Syeikh Abdullah tertawa.

Tanya si penguasa: “Mengapa engkau tertawa, wahai Syeikh?

Jawab Syeikh Abdullah: “Aku tertawa kerana lucunya pertanyaanmu tadi, sebab mengapa engkau bertanya kepadaku seperti itu, padahal pakaianmu dan makananmu dari harta yang haram?” 

Mendengar jawaban Syeikh Abdullah seperti itu, maka si penguasa menangis dan menyatakan taubatnya kepada Syeikh, selanjutnya ia meninggalkan kekuasaannya demi untuk mengabdikan diri kepada Syeikh Abdullah, sehingga beliau berkata: “Mintalah doa kepada Yahya Bin Yafan, sesungguhnya ia adalah seorang penguasa dan seorang ahli zuhud, andaikata aku diuji sepertinya, mungkin aku tidak dapat melaksanakannya”.

28. Rijalul Maa’i

Di antaranya, ada pula yang termasuk dalam golongan Rijalul Maa’i. Mereka adalah para wali yang senantiasa beribadah di pinggir-pinggir laut dan sungai. Mereka tidak banyak dikenal, kerana mereka suka mengasingkan diri. Disebutkan, bahwa Syeikh Abu Saud Asy Syibli pernah berada di pinggir sungai Dajlah di Baghdad. Ketika hatinya bergerak: “Apakah ada di antara hamba-hamba Alloh yang beribadah di dalam air?” 

Tiba-tiba ada seorang yang muncul dari dalam air seraya berkata: “Ada, wahai Abu Saud. Di antara hamba-hamba Alloh ada juga yang beribadah di dalam air dan aku termasuk di antara mereka. Aku berasal dari negeri Takrit, aku sengaja keluar, kerana beberapa hari mendatang akan terjadi musibah di negeri Baghdad”. 

Kemudian ia menghilang ke dalam air. Kata Abu Saud: “Ternyata tidak lebih dari lima belas hari musibah memang terjadi.”


29. Al-Afrod

Di antaranya, ada pula yang termasuk dalam golongan Al Afrad. Mereka termasuk wali-wali berkedudukan tinggi. Di antara mereka adalah Syeikh Muhammad Al ‘Awani, sahabat karib Syeikh Abdul Qodir Al Jailani.

Mereka ini jarang dikenal manusia awam, kerana kedudukan mereka terlalu tinggi. Jumlah mereka tidak terbatas. Ada kalanya jumlah mereka meningkat dan ada kalanya pula berkurangan.


30. Al-Umana’

Di antaranya, ada pula yang termasuk dalam golongan Al Umana’ artinya orang-orang yang dapat diberikan kepercayaan. Di antara mereka adalah Abu Ubaidah Ibnul Jarroh, seperti mana yang disebutkan oleh Nabi Sholallohu 'Alaihi Wassalam: “Abu Ubaidah adalah orang yang paling dapat diberi kepercayaan di antara umat ini”.

Jumlah mereka tidak terbatas. Mereka jarang dikenal manusia, kerana mereka tidak pernah menonjol ditengah masyarakatnya.


31. Al-Qurra’

Di antaranya, ada pula yang termasuk dalam golongan Al Qurra’. Mereka ahli membaca Al Quran. Menurut sebuah hadis, wali-wali ini termasuk orang-orang yang dekat dengan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, kerana mereka ahli Al Quran. Dan mereka harus dimuliakan. Syeikh Sahal Bin Abdullah At Tusturi termasuk di antara mereka dan juga Syaikh Abdurrohman As Sudais.

32. Al-Ahbab

Di antaranya, ada pula yang termasuk dalam golongan Al Ahbab, yaitu orang-orang yang dikasihi. Jumlah mereka tidak terbatas, adakalanya meningkat, adakalanya pula berkurangan.

Mereka mencapai tingkatan ini disebabkan mereka melaksanakan segala ibadah dan taqorrub (taqorrub adalah mampu merasakan dengan hati kita dekat dengan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.) kerana rasa cinta kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Ibadah yang didasari rasa cinta, lebih baik dari ibadah yang berharap pahala dan surga. Maka sebagai imbalan baik bagi mereka, mereka mendapat kasih sayang Alloh Subhanahu Wa Ta'ala yang luar biasa.


33. Al-Muhaddathun

Di antaranya, ada pula yang termasuk dalam golongan Al Muhaddathun, yaitu orang-orang yang selalu diberi ilham oleh Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.

Menurut hadits Nabi, ada sebagian dari umatku yang diberi ilham dari Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Maka Umar Bin Al Khattab termasuk salah satu dari mereka. Sayyid Muhyiddin Ibnu Arabi Rodhiallohu'anhu berkata: “Di zaman kami ada pula wali-wali Al Muhaddathun, di antaranya adalah Abul Abbas Al Khasyab dan Abu Zakariya Al Baha-i. Para wali yang tergolong dalam golongan ini senantiasa mendapat bisikan-bisikan rohani dari penduduk alam malakut, misalnya dari Jibril, Mikail, Isrofil dan Izroil, sebab rohani mereka sudah dapat menembus alam arwah atau alam malakut.


34. Al-Akhilla’

Di antaranya, ada pula yang termasuk dalam golongan Al Akhilla’. Mereka adalah orang-orang yang dicintai Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Jumlah mereka tidak terbatas, adakalanya meningkat dan adakalanya berkurangan.


35. As-Samro’

Di antaranya, ada pula yang termasuk dalam golongan As Samra’. Arti kata As Samro’ adalah berkulit hitam manis. Jumlah mereka tidak terbatas. Mereka termasuk orang-orang yang senantiasa berdialog dengan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, sebab hati mereka selalu dipenuhi rasa keTuhanan yang tiada taranya.


36. Al-Wirothoh

Di antaranya, ada pula yang termasuk dalam golongan Al Wirathah, yaitu mereka yang mendapat warisan dari Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.

Mereka adalah para ulama, pewaris para Nabi. Kelompok ini termasuk orang-orang yang gemar beribadah sampai melebihi dari batas kemampuannya. Mereka suka mengasingkan diri di tempat-tempat terpencil demi untuk memenuhi kecintaannya kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.


CERITA TENTANG WALI-WALI ALLOH SUBHANAHU WA TA'ALA.

1. Kisah Wali Alloh yang Sholat Di Atas Air

Sebuah kapal yang sarat dengan muatan dan bersama 200 orang temasuk ahli perniagaan berlepas dari sebuah pelabuhan di Mesir. Apabila kapal itu berada di tengah lautan maka datanglah ribut petir dengan ombak yang kuat membuat kapal itu terumbang-ambing dan hampir tenggelam. Berbagai usaha dibuat untuk mengelakkan kapal itu dipukul ombak ribut, namun semua usaha mereka sia-sia saja. Kesemua orang yang berada di atas kapal itu sangat cemas dan menunggu apa yang akan terjadi pada kapal dan diri mereka. Ketika semua orang berada dalam keadaan cemas, terdapat seorang lelaki yang sedikitpun tidak merasa cemas. Dia kelihatan tenang sambil berzikir kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Kemudian lelaki itu turun dari kapal yang sedang terumbang ambing dan berjalanlah dia di atas air dan mengerjakan sholat di atas air. Beberapa orang peniaga yang bersama-sama dia dalam kapal itu melihat lelaki yang berjalan di atas air dan dia berkata, “Wahai wali Alloh, tolonglah kami. Janganlah tinggalkan kami!”

Lelaki itu tidak memandang ke arah orang yang memanggilnya. Para peniaga itu memanggil lagi, “Wahai wali Alloh, tolonglah kami. Jangan tinggalkan kami!”

Kemudian lelaki itu menoleh ke arah orang yang memanggilnya dengan berkata, “Ada apa?” Seolah-olah lelaki itu tidak mengetahui apa-apa.

Peniaga itu berkata, “Wahai wali Alloh, tidakkah kamu hendak mengambil berat tentang kapal yang hampir tenggelam ini?"

 Wali itu berkata, “Dekatkan dirimu kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.”

Para penumpang itu berkata, “Apa yang mesti kami buat?

Wali Alloh itu berkata, “Tinggalkan semua hartamu, jiwamu akan selamat.”

Kesemua mereka sanggup meninggalkan harta mereka. Asalkan jiwa mereka selamat. Kemudian mereka berkata, “Wahai wali Alloh, kami akan membuang semua harta kami asalkan jiwa kami semua selamat.”

Wali Allah itu berkata lagi, “Turunlah kamu semua ke atas air dengan membaca Bismillah.”

Dengan membaca Bismillah, maka turunlah seorang demi seorang ke atas air dan berjalan menghampiri wali Alloh yang sedang duduk di atas air sambil berzikir. Tidak berapa lama kemudian, kapal yang mengandungi muatan beratus ribu ringgit itu pun tenggelam ke dasar laut. Habislah kesemua barang-barang perniagaan yang mahal-mahal terbenam ke laut. Para penumpang tidak tahu apa yang hendak dibuat, mereka berdiri di atas air sambil melihat kapal yang tenggelam itu. Salah seorang daripada peniaga itu berkata lagi, “Siapakah kamu wahai wali Alloh?

Wali Allah itu berkata, “Saya Awais Al-Qorni.

Peniaga itu berkata lagi, “Wahai wali Alloh, sesungguhnya di dalam kapal yang tenggelam itu terdapat harta fakir-miskin Madinah yang dihantar oleh seorang jutawan Mesir.”

Wali Alloh berkata, “Sekiranya Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. kembalikan semua harta kamu, adakah kamu betul-betul akan membahagikannya kepada orang-orang miskin di Madinah?” 

Peniaga itu berkata, “Betul, saya tidak akan menipu, yaa wali Alloh.

Setelah wali itu mendengar pengakuan dari peniaga itu, maka dia pun mengerjakan sholat dua rakaat di atas air, kemudian dia memohon kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. agar kapal itu ditimbulkan semula bersama-sama hartanya.Tidak berapa lama kemudian, kapal itu timbul sedikit demi sedikit sehingga terapung di atas air. Kesemua barang perniagaan dan lain-lain tetap seperti asal. Tiada yang kurang. Setelah itu dinaikkan kesemua penumpang ke atas kapal itu dan meneruskan pelayaran ke tempat yang dituju.

Apabila sampai di Madinah, peniaga yang berjanji dengan wali Alloh itu terus menunaikan janjinya dengan membahagi-bahagikan harta kepada semua fakir miskin di Madinah sehingga tiada seorang pun yang tertinggal.

 

2. KAROMAH

Karomah merupakan perkara luar biasa yang berlaku ke atas ulama atau wali Alloh. Mereka adalah golongan insan yang beriman dan beramal sholeh, ikhlas dalam perkataan, perbuatan serta menjadikan seluruh kehidupan mereka hanya untuk beribadah kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Para kekasih Alloh sangat menumpukan seluruh perhatiannya kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dan Alloh pun senantiasa memperhatikannya bahkan menjadikan insan sholeh tersebut lebih dekat kepadaNYA.

Karomah berlaku sepanjang zaman sejak dahulu hingga ke hari ini. Begitu halnya dari kalangan para sahabat, ramai memiliki karomah atau kelebihan yang luar biasa. Mereka beriman dengan kejernihan kalbu, kecintaan terhadap Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dan RasulNYA melebihi segala-galanya bahkan kasih sayang mereka terhadap orang mukmin sangat mendalam, sehingga akhirnya mereka memperoleh darajat yang tinggi.

 

PENGERTIAN KAROMAH

Karomah berasal dari kata Ikroom yang mempunyai arti penghargaan dan pemberian. Alloh Subhanahu Wa Ta'ala memberikan karunia kepada wali-waliNYA berbagai kejadian luar biasa atau yang biasa disebut karOmah. Hal itu diberikan kepada mereka sebagai rohmat dari Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dan bukan kerana hak mereka. Karomah biasa disebut sebagai kejadian yang luar biasa yang diberikan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala kepada hamba-hambaNYA yang selalu meningkatkan taraf ibadahnya dan ketaatannya. Karomah itu diberikan sebagai suatu pembekalan ilmu atau sebagai ujian bagi seorang wali. Dan karomah boleh terjadi tanpa sebab dan tanpa adanya tantangan dari orang lain.

 

PENJELASAN TENTANG KEJADIAN-KEJADIAN LUAR BIASA

Alloh Subhanahu Wa Ta'ala telah menganugerahkan kepada manusia khusus dan awam 8 perkara luar biasa yang mengikuti adat yang boleh berlaku ke atas manusia. Perkara luar biasa itu bolehlah dibagikan kepada 2 bahagian yaitu, 4 perkara yang dipuji dan 4 perkara yang dikeji dan menyalahi ajaran Islam. Ramai daripada kalangan orang Islam sendiri yang keliru tentang konsep dan perbedaan perkara-perkara tersebut, kadang kala masyarakat tidak dapat membedakan yang mana baik dan yang mana mesti dijauhi.

Untuk menjelaskan kekeliruan itu maka dijelaskan serba ringkas tentang perkara-perkara tersebut, agar kita semua dapat membuat penilaian dengan sebaik-baiknya.

1. MUKJIZAT

Kejadian luar biasa yang diberikan kepada seorang nabi atau rasul untuk menguatkan kenabian dan kerasulannya.

2. KAROMAH

Kejadian luar biasa yang diberikan kepada seorang hamba yang sholih atau wali, dan ia tidak mengaku sebagai seorang nabi atau rasul.

3. MA’UNAH

Kejadian luar biasa yang diberikan kepada sebagian orang awam untuk melepaskan dirinya dari kesulitan.

4. IHAANAH

Kejadian luar biasa yang diberikan kepada seorang pembohong yang mengaku sebagai nabi, seperti yang pernah diberikan kepada Musailamah Al Kadzab. Ia pernah meludah di sebuah sumur dengan harapan agar airnya bertambah banyak, tetapi pada kenyataannya airnya mengering, dan ia pernah meludah pada mata seorang yang juling, agar matanya sembuh, tetapi pada kenyataannya mata orang itu menjadi buta.

5. ISTIDROJ

Kejadian luar biasa yang diberikan kepada orang fasik yang mengaku sebagai wakil Tuhan dengan mengemukakan berbagai dalil untuk menguatkan kebohongannya. Menurut Ijma’, biasanya seorang yang mengaku sebagai nabi, maka ia tidak akan diberi kejadian luar biasa.

Alloh Subhanahu Wa Ta'ala memberikan ISTIDROJ kepada orang-orang yang keliru dalam perbuatannya, sehingga dengan batas waktu yang Alloh Subhanahu Wa Ta'ala tentukan kemudian membinasakannya, sebagai pembelajaran bahwa apa yang ia kerjakan adalah salah. 

6. IRHAAS

Kejadian luar biasa yang diberikan kepada seorang nabi meskipun ia belum diutus, seperti adanya naungan awan bagi Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wassallam di masa kecilnya.

7. SIHIR

Suatu cara yang dapat menampilkan berbagai perbuatan yang aneh bagi yang tidak mengerti seluk beluknya, tetapi seluk beluknya itu dapat dipelajari.

8. SYA’WAZAH

Kejadian luar biasa yang biasa timbul di tangan seseorang, sehingga menimbulkan pesona bagi yang melihatnya meskipun kejadian itu tidak terjadi.

 

PERBEZAAN ANTARA KAROMAH DAN ISTIDRAJ

Seseorang yang menginginkan sesuatu, kemudian Alloh Subhanahu Wa Ta'ala memberinya, maka pemberian itu tidak menunjukkan bahwa orang itu mempunyai kedudukan mulia di sisi Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, baik pemberian itu bersifat biasa ataupun tidak. Kemungkinan pemberian itu merupakan anugerah dari Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, tetapi kemungkinan pula merupakan istidraj, yaitu pemberian sebagai ujian.

Al Istidraj mempunyai beberapa nama atau istilah yang berbagai:

1. Adakalanya seseorang dikabulkan segala permintaannya agar ia makin bertambah ingkar dan sesat dan pada akhirnya ia akan dibinasakan dalam keadaan kafir. Hal itu seperti yang disebutkan dalam firman Alloh Subhanahu Wa Ta'ala:

Nanti KAMI akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan ) dengan cara yang tidak mereka ketahui”. (Surah Al-Qolam :44)

2. Makar:

Dalam Al Qur’an disebutkan:

Maka tidak ada yang terhindar dari tipu daya Alloh kecuali orang yang rugi”. (Surah Al-‘Araf: 99)

Alloh Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

Dan mereka berbuat tipu daya, maka Alloh membalas mereka dengan tipu daya yang serupa dan DIA sebaik-baik yang membuat balasan”(Surah Ali ‘Imran: 54)

3. Al Kaid artinya tipu daya:

Dalam firman Alloh Subhanahu Wa Ta'ala disebutkan:

Mereka berusaha menipu Alloh, padahal Alloh lah yang menipu mereka”(Surah An-Nisaa’:142)

Alloh Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

“Mereka akan menipu Alloh dan orang-orang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri, tetapi mereka tidak merasakannya”.(Surah Al-Baqarah: 9)

4. Imla’ mempunyai arti memberi tangguh:

Firman Alloh Subhanahu Wa Ta'ala:

Dan janganlah orang-orang kafir itu mengira bahawa pemberian tangguh bagi mereka itu memberi kebaikan bagi mereka, tetapi hal itu terjadi agar mereka makin bertambah dosa-dosanya” (Surah Ali ‘Imran: 178)


5. Al Ihlak mempunyai arti kebinasaan:

Alloh Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

Sampai ketika mereka bergembira dengan apa yang diberikan kepada mereka, maka Kami siksa mereka dengan cara yang mendadak” (Surah Al-‘Anam: 44)

Alloh Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

“Firaun dan bala tentaranya menyombongkan diri di permukaan bumi tanpa alasan yang dibenarkan, dan mereka mengira bahwa mereka tidak akan kembali kepada Kami, maka Kami menyiksanya dan bala tentaranya, kemudian Kami menenggelamkan mereka di dalam laut” (Surah Al-Qisas: 33)

Dari ayat-ayat di atas, dapat kami simpulkan bahwa antara karomah dan istidroj perbedaannya adalah Seorang yang diberi karomah tidak pernah merasa senang atas pemberian itu, bahkan ia makin bertambah takut kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, sebab ia takut kalau pemberian karomah itu merupakan ujian atau membuat dirinya jauh dari Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Ada juga seorang wali yang dengan karomah tersebut untuk menyadarkan seseorang supaya bertaubat & kembali ke jalan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.

 Lain halnya dengan seorang yang diberi istidraj. Ia makin maharajalela, kerana ia mendapat anugerah dan ia pun tidak takut disiksa. Adapun kalau seseorang bergembira ketika ia diberi karomah, maka ia termasuk orang yang melanggar. Ini disebabkan oleh beberapa perkara antaranya:

Jika seorang diberi karomah, lalu ia bergembira, maka ia termasuk orang yang menyimpang, kerana ia merasa berhak untuk mendapatkan anugerah semacam itu disebabkan amal kebajikannya.

✓ Karomah adalah sesuatu yang di luar kebiasaan Sunnatulloh. Seorang yang diberi karomah, kemudian ia terlalu bangga dengan karomah yang diperolehnya, bererti ia telah melanggar dan telah menyimpang dari kebenaran.

✓ Seseorang yang berkeyakinan, bahwa ia berhak mendapat karomah kerana amal kebajikannya yang istiqomah, maka boleh dikatakan bahawa ia seorang yang bodoh. Seharusnya ia merasa bahwa semua amal ibadah yang ia kerjakan merupakan kewajipan baginya terhadap hak Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Seharusnya ia selalu merasa kurang pengabdiannya kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, tetapi kalau ia merasa puas, maka ia termasuk orang yang bodoh.

✓ Seseorang yang diberi karomah, seharusnya ia merasa bahwa karomah yang diberikan kepadanya hanya untuk menundukkan dirinya makin rendah dihadapan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Bila seseorang berlaku sebaliknya, maka sudah jelas orang itu mirip dengan Iblis yang merasa sombong atas kemuliaan yang diberikan kepada dirinya.

✓ Karomah itu adakalanya tidak menyebabkan seseorang menjadi mulia. Seseorang yang bangga ketika mendapat karomah, maka ia terlalu membesarkan sesuatu yang biasa. Seseorang yang membesarkan sesuatu yang biasa, maka ia sama dengan berbuat sesuatu yang sia-sia. Demikian pula, seorang wali yang bangga dengan karomah, maka ia termasuk seorang yang rendah kedudukannya.

✓ Seseorang yang sombong diri kerana kedudukannya, ia sama seperti Iblis dan Firaun. Nabi Sholallohu 'Alaihi Wassallam bersabda:

Ada tiga perkara yang menyebabkan kebinasaan seseorang. Yang terakhir adalah seorang yang membanggakan kedudukan peribadinya”.

Alloh Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

Maka terimalah apa yang AKU berikan kepadamu dan jadilah engkau orang-orang yang berterima kasih. Dan sembahlah Tuhanmu sampai engkau didatangi kematian”.

Berdasarkan ayat di atas, seseorang yang mendapat kurnia dari Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, hendaknya ia selalu rajin menyembah Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dan mensyukuri semua nikmat yang ia terima, bukannya makin bertambah ingkar.

✓ Ketika Nabi Sholallohu 'Alaihi Wassalam diberi pilihan untuk memilih, apakah beliau ingin dijadikan sebagai seorang penguasa dan seorang Nabi, ataukah beliau ingin dijadikan seorang hamba dan seorang Nabi, maka beliau memilih pilihan yang kedua. Karana itu nama beliau selalu disebut di dalam tasyahud (persaksian) setiap muslim dalam ucapan: “Wa asyhadu anna Muhammadan abduhu war rosuluh”.

✓ Seseorang yang selalu bergaul akrab dengan makhluk, maka ia tidak terlalu akrab bergaul dengan Kholiknya.

✓ Seseorang yang tidak takut dan tidak bertawakkal kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala sudah tentu ia tidak akan menjadi wali, apa lagi kalau ia selalu menyandarkan hidupnya kepada dirinya atau kepada orang lain. Jika seseorang dapat mendatangkan satu perbuatan atau kejadian yang luar biasa, pasti ia akan mengikutinya dengan pengakuan bagi dirinya, tetapi ada juga yang tidak. Bagi mereka yang dapat mengikuti dengan pengakuan bagi dirinya dan dapat mendatangkan sesuatu perbuatan atau kejadian yang luar biasa, adakalanya ia mengaku sebagai Tuhan, atau sebagai Nabi, atau sebagai wali, atau sebagai ahli sihir. Dalam perkara ini dapat kita bahagikan kepada empat bagian :

a. Ada yang mengaku sebagai Tuhan:

Ada kalanya orang yang dapat mendatangkan suatu perbuatan atau kejadian yang luar biasa, maka ia mengaku sebagai Tuhan, seperti yang dilakukan oleh Firaun dan yang akan dilakukan oleh Dajjal. Dalam keadaan seperti, ini sudah jelas, bahwa perbuatan orang itu adalah bathil.

b. Ada pula yang mengaku sebagai Nabi:

Ini boleh berlaku pada dua kemungkinan, yaitu adakalanya pengakuannya itu benar, tetapi adakalanya pengakuannya itu bohong. Jika pengakuannya itu memang benar dan ia benar-benar nabi, maka ia harus mampu untuk menunjukkan bukti kenabiannya, tetapi jika ia tidak mampu menunjukkan buktinya, maka ia adalah seorang pembohong. Namun dizaman milenial ini, yang mengaku Nabi pasti pembohong.

c. Ada yang mengaku sebagai seorang wali:

Dalam keadaan seperti ini ada yang boleh melakukannya, tetapi ada pula yang tidak mampu.

d. Ada yang mengaku sebagai ahli sihir:

Dalam situasi seperti ini ada kalanya orang-orangnya dapat membuktikan kepandaiannya, tetapi kaum Mutazilah menolak pendapat ini. Seseorang yang dapat mendatangkan perbuatan atau kejadian yang luar biasa tanpa pengakuan bagi dirinya, adakalanya ia seorang wali yang diredhai oleh Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, tetapi adakalanya pula ia seorang fasik yang banyak dosanya. Ada pula yang dapat mendatangkan berbagai kejadian luar biasa, tetapi ia tidak termasuk orang yang taat kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, bahkan orang itu selalu berbuat dosa dan maksiat. Kejadian luar biasa yang ia datangkan itu disebut Istidraj, yaitu kelebihan yang diberikan kepadanya, agar dosanya dan kejahatannya makin bertambah dan terus menerus yang akhirnya dibinasakan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dalam keadaan yang menyedihkan, seperti yang diberikan kepada Iblis dan syaitan.

 

TUJUAN KAROMAH

1. Dapat menambah keyakinan kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.

2. Untuk menguatkan kepercayaan masyarakat kepada seorang wali, seperti yang terjadi pada masa-masa terdahulu. Berbeda halnya dengan masa-masa terakhir. Kaum salaf sholih tidak pernah memerlukan karomah sedikit pun.

3. Adanya karomah merupakan bukti anugerah atau pangkat yang diberikan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. kepada seorang wali, agar pengabdiannya tetap istiqomah.

 

DALIL-DALIL WUJUDNYA KAROMAH

Andaikata Alloh Subhanahu Wa Ta'ala tidak mau memperlihatkan karomah bagi seorang mukmin, mungkin kerana Alloh Subhanahu Wa Ta'ala memang tidak ingin melakukannya, atau mungkin juga seorang mukmin itu memang belum pantas mendapatkan karomah. Adapun kemungkinan pertama, dapat memberi penilaian yang tidak baik terhadap takdir Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, tentunya hal itu dapat menyebabkan ingkar kepada Dzat Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. 

Sedangkan kemungkinan yang kedua adalah tak mungkin, sebab hal itu termasuk hal yang batil. Mengetahui Dzat Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, sifat-sifatNYA, perbuatan-perbuatanNYA, hukum-hukumNYA, nama-namaNYA, mencintaiNYA, mentaatiNYa dan senantiasa menyebutNYA dan memujiNYA, tentunya hal itu lebih mulia dari sekedar memberi se-potong roti, menundukkan seekor ular atau seekor singa.


DALIL DARI AL-QUR'AN

“Setiap kali Zakariya masuk untuk menemui Maryam di Mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: “Hai Maryam, dari mana kamu memperoleh makanan ini?”. Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Alloh”. Sesungguhnya Alloh memberi rezeki kepada siapa yang dikehendakiNya tanpa perhitungan” (Surah Al Imron: 37)

Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu, maka makanlah, minumlah dan bersenang hatilah kamu” (Suroh Maryam : 25-26)

Siti Maryam bukanlah seorang nabi. Tentunya yang terjadi padanya, seperti yang tertera pada ayat di atas, bukanlah suatu mukjizat, tetapi suatu karomah.

Ashif Ibnu Barkhiya berkata: “Aku akan membawa singgahsana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” (Suroh An Naml: 40)

Seorang hamba yang sholih yang bernama Ashif Ibnu Barkhiya mampu membawa singgasana Ratu Balqis dari Yaman ke Syam hanya dalam waktu sekelip mata. Padahal ia bukan seorang Nabi. Tentunya kemampuan luar biasa yang dimilikinya adalah karomah.

Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rohmat (kasih sayang) NYa kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu. Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam, menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda kebesaran Alloh” (Suroh Al Kahfi: 16-17)

Dan mereka tinggal dalam gua selama tiga ratus tahun dan sembilan tahun” (Suroh Al Kahfi: 25)

Pemuda Ashabul Kahfi seramai tujuh orang berasal dari Syam. Mereka hidup setelah masa Nabi Isa Al Masih. Karena mereka takut kehilangan imannya, maka mereka bersembunyi di sebuah gua untuk sesaat, tetapi mereka ditidurkan oleh Alloh  Subhanahu Wa Ta'ala selama 300 tahun. Setelah itu mereka dibangunkan kembali. Anehnya tubuh mereka tidak binasa dimakan masa, kerana itu para ulama berpendapat bahwa mereka adalah para wali bukan para nabi.

Adapun bahtera (kapal) itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut dan aku bertujuan merusaknya bahtera (kapal) itu, karana di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera (kapal).”Dan adapun anak itu, maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran.” (Suroh Al Kahfi: 79)

Dari Hadist Antara Karomah Umat Yang Terdahulu

Hadits Pertama

Dari Abdullah Ibnu Umar Rodhiallohu'anhu, beliau berkata :

“Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wassallam pernah bersabda: Ada tiga lelaki tergolong di antara orang-orang terdahulu. Pada suatu hari, ketika mereka berjalan di suatu hutan, maka mereka bermalam di suatu gua. Setelah mereka masuk ke dalam gua, tiba-tiba sebuah batu besar jatuh tepat di permukaan gua itu dan menutupinya, sehingga mereka tidak dapat keluar.

Kata salah seorang dari pada mereka: “Tidak ada yang dapat menyelamatkan kamu, kecuali jika kamu berdoa kepada Alloh dan bertawassul dengan perbuatan baik kamu."

Salah seorang di antara mereka berkata: “Dahulu aku mempunyai ibu-bapak yang telah lanjut usia, dan aku tidak pernah makan malam sebelum mereka makan. Pada suatu hari, keduanya sudah tidur ketika aku datang membawa segelas air susu. Aku tidak ingin membangunkan mereka. Aku menjaga keduanya semalaman tanpa makan dan minum, dan aku tetap memegang gelas susu itu hingga pagi. Ketika keduanya bangun, barulah kuberikan air susu itu.

Wahai Alloh, jika amalan sholihku yang satu itu benar-benar ikhlas untukMu, maka bebaskan kami dari batu besar ini”.

Dengan izin Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, batu itu bergeser sedikit dari mulut gua,tetapi mereka masih belum dapat keluar.

Selanjutnya, orang yang kedua berkata: “Dahulu, anak saudaraku termasuk orang yang paling aku cintai, aku selalu menggodanya, agar ia cinta kepadaku, tetapi ia selalu menolak.

Pada suatu ketika, ia datang kepadaku dan minta bantuan uang. Aku ingin membantunya, asalkan ia ingin bercinta denganku. Ia setuju dengan permintaanku kerana terpaksa. Ketika aku hendak memperkosanya, maka ia berkata: “Sebenarnya engkau tidak boleh memecahkan keperawananku, kecuali dengan cara yang sah”.

Maka aku segera meninggalkannya dan aku tidak minta kembali uangku. Ya Alloh, jika Engkau tahu, bahwa perbuatanku itu karana MU, maka selamatkanlah kami dari batu besar ini”.

Dengan izin Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, batu besar itu bergeser sedikit, tetapi mereka belum dapat keluar. 

Selanjutnya orang yang ketiga berkata: “Dahulu aku mempunyai banyak pegawai, aku selalu memberi upah mereka tepat pada waktunya, dan aku tidak pernah merugikan mereka.

Pada suatu kali salah seorang pegawaiku meninggalkan tempatku tanpa meminta upahnya. Selanjutnya, upah itu aku kembangkan dan aku belikan binatang ternak serta lembu abdi. Setelah beberapa waktu binatang ternak itu berkembang menjadi besar. Sampai pada suatu waktu ia datang kepadaku untuk meminta upahnya.

 Kataku: “Semua binatang ternak dan lembu abdi yang kau lihat di lembah itu adalah upahmu”.

Kata lelaki itu: “Wahai hamba Alloh, apakah engkau mempermainkan aku”.

Kataku: “Aku tidak mempermainkan kamu”. Maka ia membawa pergi semua binatang ternak dan para abdi itu.

Wahai Alloh, jika perbuatanku benar-benar ikhlas karana MU, maka bebaskanlah kami dari himpitan batu besar ini”.

Maka dengan izin Alloh Subhanahu Wa Ta'ala batu besar itu bergerak, sehingga ketiga orang itu dapat keluar dengan selamat. (Hadis Hasan Sahih, Mutthofaq 'Alaih).


Hadist Kedua

Dari Abu Hurairah Rodhiallohu'anhu sesungguhnya Nabi Sholallohu 'Alaihi Wassallam. Pernah bersabda :

Tidak ada seorang bayi yang dapat berbicara ketika masih dibuaian (gendongan) ibunya (masih bayi) kecuali tiga orang, yaitu Isa Al Masih putra Maryam, seorang bayi di masa Juroij An Nasik, dan seorang bayi lainnya. Tentang Isa putra Maryam, kamu telah mengetahui kisahnya.

Tentang Juraij, ia adalah seorang ahli ibadah dari kalangan Bani Israil. Ia mempunyai seorang ibu. Juroij gemar ibadah. Ketika ibunya rindu kepadanya, maka ia memanggil nama Juroij.

Tetapi Juroij tidak memenuhi panggilan ibunya, ia hanya berkata: “wahai Alloh, apakah sebaiknya aku memenuhi panggilan ibuku, ataukah aku meneruskan ibadahku?” Ibunya memanggilkannya sampai tiga kali, tetapi Juroij masih meneruskan ibadahnya tanpa memenuhi panggilannya.

Maka ibunya kecewa, sehingga ia berdoa : “wahai Alloh, jangan Engkau matikan putraku itu sampai setelah Engkau menemukannya dengan seorang wanita pelacur”.

Kebetulan di tempat itu, ada seorang wanita pelacur. Ia berkata: “Aku akan merayu Juroij sampai ia berbuat zina denganku”.

Maka ia mendatangi Juroij dan merayunya, tetapi Juroij tidak mempedulikannya. Akhirnya wanita pelacur itu merayu seorang petani yang kebetulan bermalam di samping tempat ibadah Juroij, sampai ia hamil dari petani itu. Selanjutnya ia mendatangi Juroij sambil membawa anak haramnya dari si petani.

Kemudian ia berkata kepada orang banyak: “Bayiku ini adalah dari hasil hubungan gelapku dengan Juroij”.

Mendengar ucapan wanita pelacur itu, maka Bani Israil mendatangi tempat ibadah Juroij, kemudian mereka menghancurkannya dan merajam Juroij secara beramai-ramai.

Maka Juroij melakukan sholat dan ia berdoa. Kemudian ia menyentuh tubuh bayi itu dengan jari telunjuknya seraya berkata: “Wahai anak bayi, siapa ayahmu?”

Anak bayi itu berkata: “Ayahku adalah seorang petani”.

Maka masyarakat Bani Israil menyesali perbuatannya terhadap Juroij dan mereka minta maaf kepadanya.

Mereka berkata: “Kalau engkau mau, kami akan membangun kembali tempat ibadahmu dari emas atau perak",

tetapi tawaran mereka ditolak oleh juroij sehingga mereka membangunnya kembali seperti semula.

Itulah kisah bayi yang dapat berbicara di masa Juroij.

Adapun kisah bayi yang lain, ada seorang wanita yang tengah menyusui anak bayinya. Ketika ada seorang pemuda tampan lewat di depannya, maka ibunya berkata: “wahai Alloh, jadikan putraku ini seperti pemuda itu.

Maka dengan spontan bayinya berkata: “wahai Alloh, janganlah Engkau jadikan aku seperti pemuda itu.”

Selanjutnya ketika ada seorang wanita yang tertuduh mencuri dan berzina sedang lewat di depan ibunya, maka ia berkata: “wahai Alloh, jangan Engkau jadikan putraku ini seperti wanita itu”.

Maka bayinya berkata: “wahai Alloh, jadikan aku sepertinya”.

Maka ibunya bertanya: “Mengapa engkau berdoa seperti itu?”

Bayinya berkata: “Pemuda tampan yang lewat di sini tadi adalah seorang yang bengis dan kejam dan aku tidak ingin menjadi sepertinya.

Adapun si wanita yang dituduh sebagai pencuri dan pelacur, sebenarnya ia bukan pencuri ataupun pelacur, dan ia hanya berkata: “Aku hanya pasrahkan diriku kepada Alloh”. (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)

ANTARA KAROMAH UMAT NABI MUHAMMAD Sholallohu 'Alaihi Wassalam.

Pertama

Dari Abu Said Al-Khudri, beliau berkata : “Pada suatu malam ketika Usaid ibnu Khudhoir sedang membaca Al Qur’an di pekarangan rumahnya, tiba-tiba kudanya melonjak-lonjak, sampai ia menghentikan bacaannya.

Kemudian ketika ia melanjutkan bacaannya lagi, anehnya, kudanya melonjak-lonjak lagi, sampai ia menghentikan bacaannya. 

Kata Usaid: “Maka aku takut kalau kudaku menginjak Yahya, putraku. Ketika aku berdiri, tiba-tiba aku lihat di atas kepalaku ada naungan cahaya dan ia membumbung ke atas lambat-lambat sampai menghilang dari pandanganku."

Kedua

Dari ummu Aisyah Rodhiallohu'anha, beliau berkata :

Abu Bakar Ash Shiddiq pernah memiliki dua puluh gantang buah kurma yang diberikan kepadaku.

Ketika saat kematiannya tiba, maka ia berkata; “Wahai putriku, tidak seorang pun yang lebih kucintai dan lebih aku takuti kesusahannya darimu, dulu aku pernah berikan kepadamu dua puluh gantang buah kurma, kalau dulu telah engkau pakai, tentunya aku tak akan mempersoalkannya, tetapi pada hari ini harta itu akan jadi harta waris setelah aku tiada. Harta itu boleh engkau bagi dengan kedua saudara lelakimu dan kedua saudara perempuanmu, bagilah harta waris itu menurut hukum Kitabulloh.”

Kata Aisyah: “Maka aku berkata: “Wahai ayah, kami tidak keberatan untuk membaginya, tetapi putrimu hanya Asma dan aku, maka siapakah putrimu yang lain?”

Kata Abu bakar: “Kini ia masih dalam perut ibunya, yaitu Habibah binti Khorijah ibnu Zaid, kulihat, ia adalah perempuan.”

Setelah ia wafat, memang benar yang lahir adalah anak perempuan, ia diberi nama Ummu Kaltsum binti Abubakar. (Hadis riwayat Malik dalam kitab Al-Muwatho’)

Read More