Kamis, 14 Mei 2020

MALAM LAILATUL QODAR MENURUT SYAIKH ABDUL QODIR AL JAILANI

keutamaan malam Qodar sudah dimulai ketika membuka tafsiran bismillahirrohmanirrohim
Dengan nama Alloh yang telah menentukan berbagai takdir makhluk di dalam hadirat ilmu-NYA dan lembaran ketetapan-NYA dengan diturunkannya Alqur'an kepada hamba-NYA.

Juga sebagai pemberi peringatan bagi mereka ke jalan ma'rifat (mengenal Tuhan) dan keimanan, sekaligus membangunkan mereka dari tidur panjang kelenaan dan kelalaian.
Pintu masuk di atas setidaknya menunjukkan kita secercah pemahaman tentang keajaiban lailatul qadr.

Bahwa pada malam itu diturunkan Alquran dari tempat yang agung.

Kalimat inna anzalnahu fi lailatil qodr menyiratkan turunnya Alqur'an dengan cara penuh kelembutan kepada seluruh hamba Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, sebagai pemberi penjelasan perihal jalan keselamatan dari api kebodohan. Dan orang-orang dungu tak akan menyambut malam agung itu, kecuali mereka yang memahami hakikat alam goib.

Maka dikatakan, wahai Muhammad, sekiranya Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, tidak memberitahumu perihal keagungan malam itu, niscaya tak ada yang mengetahui rahasia-rahasianya, hingga Alloh Subhanahu Wa Ta'ala memberitahukannya.

Lailatul qodar adalah malam yang penuh keagungan dan hikmah. Malam yang berlimpah keberkahan, di mana amal sholeh pada malam itu lebih baik dari seribu bulan. Bahkan para sahabat tidak pernah merasakan puncak kegembiraan sebagaimana ketika disebutkan firman-NYA, “malam itu lebih baik dari seribu bulan.”

Para malaikat turun mulai dari terbenamnya matahari sampai matahari terbit kembali (fajar). Dipimpin oleh punggawa mereka, yakni Jibril, sebagai jelmaan dari Ar-Ruh Al-Amin (Ruh pembawa amanah dari Robbul 'alamin). Ruh yang menjelma rupa manusia dan makhluk teragung dan malaikat paling mulia.

Ada yang mengatakan, turunnya Jibril dengan rupa manusia, namun dengan jasad malaikat.

Pada malam itu, mereka turun dengan berbaris-baris dan dipimpin oleh Jibril Alaihis salam. Berdiri bershof-shof (barisan-barisan), mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pengasih dan ia hanya mengatakan yang benar. (Qs. An Naba' ayat 38).

Atas izin Alloh Subhanahu Wa Ta'ala untuk menyelesaikan berbagai perkara kebaikan dan keberkahan. Mereka turun ke langit dunia hingga fajar menjelang dengan penuh kesejahteraan dan kedamaian, tanpa keburukan dan sihir.

Kalimat mathla dengan lam fathah mengindikasikan tempat terbitnya, jika dengan kasrah menandakan terbitnya.

Dan para malaikat menghaturkan salam kedamaian kepada orang-orang mukmin hingga terbitnya fajar. 

Keutamaan lailatul qodar pun mengundang ketakjuban malaikat Jibril, Sang Pembawa Wahyu.

Dalam satu riwayat berkenaan dengan kalimat “malam yang lebih baik dari seribu bulan” yang dikutip Syekh Abdul Qadir Al-Jilani, suatu ketika Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wassallam berbincang-bincang dan mengisahkan empat sosok Bani Israil yang telah beribadah kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala selama 80 tahun tanpa bermaksiat sama sekali.

Kala itu beliau menyebutkan Ayub, Zakaria, Hizqil, dan Yusa’ bin Nun.

Dengan kisah itu para sahabat pun merasa heran. Lalu datanglah Jibril Alaihis salam. sembari berkata,:

“wahai Muhammad, engkau dan para sahabatmu takjub dengan hamba Alloh yang telah beribadah selama 80 tahun tanpa melakukan kemaksiatan. Sementara Alloh justru menurunkan sesuatu yang lebih baik dari itu semua, sambil membacakan surat al-Qodr sampai akhir. Dan ini lebih utama dari sesuatu yang mengejutkanmu dan para sahabatmu.” Maka, Nabi Sholallohu 'Alaihi Wassalam pun merasa bahagia dengan itu.

Namun demikian, tak ada yang tahu pasti kapan terjadinya Lailatul qodr. Hanya mengundang spekulasi yang mungkin sedikit mendekati.

Akan tetapi, spekulasi ini tidak lantas tanpa ilmu. Tentunya tetap berlandaskan keilmuan yang ketat dan tidak sembrono.

Bahkan Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Baghdadi, Rodhiallohu'anhu yang memiliki kecenderungan batiniah tidak mau menyimpulkan berdasarkan narasi batiniahnya saja.

Dia tetap mengambil pendapat dari para imam dan fuqoha dari kalangan salafus sholeh.

Menurutnya, malam itu terjadi pada sepuluh hari terakhir di bulan Romadhon, tepatnya malam 27.

Imam Malik mengatakan bahwa malam itu terjadi di semua malam sepuluh hari terakhir,

sedangkan Imam Syafii, menyatakannya pada malam 21 Romadhon.

Mereka yang mengikuti pendapat Ummul mu'minin Aisyah, Rodhiallohu'anha. Lailatul Qodr terjadi pada malam 29 Romadhon,

sementara Syaikh Abu Burdah Al-Aslami menyimpulkannya pada malam 23 Romadhon.

Syaikh Abu Dzar dan Syaikh Hasan Al-Bashri menyimpulkannya pada malam 25,

Dan Sayyidina Ibnu Abbas dan Sayyidina Ubay bin Kaab mengatakannya terjadi pada malam 27.

Sepertinya Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Baghdadi, Rodhiallohu'anhu cenderung memaknai terjadi lailatul qodar pada malam 27 Romadhon.

Kecenderungan itu dikuatkan dengan berbagai dalil, di antaranya: Dari Ibnu Umar Rodhiallohu'anhu, “… Sementara para sahabat selalu menceritakan kepada Nabi Sholallohu 'Alaihi Wassallam. Tentang mimpi-mimpi mereka bahwa Lailatul Qodar terjadi pada malam ketujuh dari sepuluh malam yang akhir, maka Nabi Sholallohu 'Alaihi Wassalam. bersabda: “Sungguh aku melihat bahwa mimpi kalian benar, dan Lailatul Qodar terjadi pada sepuluh malam yang akhir. Maka siapa yang mau mencarinya, carilah pada sepuluh malam yang akhir (dari Romadhon).

Untuk menguatkan argumen/hujjahnya tentang terjadinya Lailatul Qodr pada malam 27, lagi-lagi Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Baghdadi, Rodhiallohu'anhu mengambil dalil/hukum yang sekaligus simbolisme sufisme tentang angka tujuh.

Sebuah narasi panjang dialog antara Ibnu Abbas dengan Umar bin Khatthob ini menegaskan bahwa segala hal berporos pada angka tujuh.

Misalnya: lapisan langit ada tujuh, lapisan bumi ada tujuh, malam-malam tujuh, planet-planet tujuh, bintang-bintang tujuh, sai antara shofa dan marwah tujuh kali, thowaf tujuh kali, lempar jumroh tujuh kali, penciptaan manusia selama tujuh hari, pemberian rezeki tujuh hari, membasuh muka tujuh kali, kata alhamdu dijadikan sebagai pembuka tujuh suroh, tujuh bacaan Alqur'an (sabatu ahruf), dan lain sebagainya yang menyiratkan ragam rahasia angka tujuh.

Selain sebagai petunjuk tentang keajaiban angka tujuh, simbolisme ini identik dengan sufisme yang tidak jarang membubuhkan makna intrinsik.

Hal ini bukan berarti para sufi tidak puas dengan makna lahiriah, tapi makna batiniah ini menunjukkan kekayaan wacana dan penggalian terdalam yang khas hingga menembus batas relung jiwanya.

Makna-makna intrinsik ini bukannya spekulasi yang nihil makna, justru jauh sebelumnya telah didahului oleh para sahabat Nabi Sholallohu 'Alaihi Wassallam, hanya saja kita belum mengetahuinya, menggalinya, atau belum sampai ke sana.

diriwayatkan oleh Ummul Mukminin Aisyah, Rodhiallohu'anha ketika ia bertanya kepada Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wassalam. tentang doa apa yang dibaca tatkala mengetahui malam Lailatul Qodar, lalu Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wassalam menjawab:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Allaahumma Innaka ‘Afuwwun Tuhibbul ‘Afwa Fa’fu ‘Annii

Artinya : “Wahai Alloh, Engkau Maha Pemaaf dan Engkau mencintai orang yang meminta maaf, maka maafkanlah aku.” (HR. Nasai: 7665, Tirmidzi: 3513, Ibnu Majah: 3850, Ahmad: 25384. Menurut Imam Ahmad dan Tirmidzi).

 Wallohu alam bish showab...lahum biissirril fatihah...