Senin, 11 Mei 2020

PELAJARAN DAN NASEHAT SAYYIDINA SYAIKH MUHAMMAD BAHAUDDIN AN NAQSYABANDI

1). HUWASY DARDAM

yaitu pemeliharaan keluar masuknya nafas, supaya hati tidak lupa kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala atau tetap hadirnya Alloh Subhanahu Wa Ta'ala pada waktu masuk dan keluarnya nafas.

Setiap suluk (orang yang menempuh jalan untuk menuju Alloh Subhanahu Wa Ta'ala) menarikkan dan menghembuskan nafasnya, hendaklah selalu ingat atau hadir bersama Alloh Subhanahu Wa Ta'ala di dalam hati sanubarinya.

 Ingat kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala setiap keluar masuknya nafas, berarti memudahkan jalan untuk dekat kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, dan sebaliknya lalai atau lupa mengingat Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, berarti menghambat jalan menuju kepada-NYA.

2). NAZHAR BARQODLAM

yaitu setiap suluk (orang yang menempuh jalan untuk menuju Alloh Subhanahu Wa Ta'ala) dalam iktikaf (berdiam diri pada suatu tempat) atau bila berjalan harus menundukkan kepala, melihat ke arah kaki dan apabila dia duduk dia melihat pada kedua tangannya. Jangan memperluas pandangan ke kiri atau ke kanan, karena khawatir dapat membuat hatinya bimbang atau terhambat untuk berzikir (memuji nama Alloh Subhanahu Wa Ta'ala) atau mengingat Alloh Subhanahu Wa Ta'alaNazhar Barqodlam ini lebih ditekankan lagi bagi pengamal thoriqot yang baru merambah ke jalan pendekatan diri kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, karena yang bersangkutan belum mampu memelihara hatinya.

3). SAFAR DARWATHON

yaitu perpindahan dari sifat kemanusiaan yang kotor dan rendah, kepada sifat-sifat kemalaikatan yang bersih dan suci lagi utama. Karena itu wajiblah bagi suluk (orang yang menempuh jalan untuk menuju Alloh Subhanahu Wa Ta'ala) mengontrol hatinya, agar dalam hatinya tidak ada rasa cinta kepada makhluk, selain hanya kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.

4). KHALWAT DARANJAMAN

yaitu setiap suluk (orang yang menempuh jalan untuk menuju Alloh Subhanahu Wa Ta'ala) harus selalu menghadirkan hati kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dalam segala keadaan, baik waktu sunyi maupun di tempat orang banyak (ramai).

Dalam Thoriqoh Naqsyabandiyah ini ada dua bentuk kholwat (mendekatkan diri kepada Allah dengan cara menyepi)

A. Berkhalwat Lahir,

yaitu orang yang melaksanakan suluk (orang yang menempuh jalan untuk menuju Alloh Subhanahu Wa Ta'ala) dengan mengasingkan diri di tempat yang sunyi dari masyarakat ramai.

B. Khalwat Batin,

 yaitu hati sanubari suluk (orang yang menempuh jalan untuk menuju Alloh Subhanahu Wa Ta'ala) senantiasa musyahadah (menyaksikan) rahasia- rahasia kebesaran Alloh Subhanahu Wa Ta'ala walaupun berada di tengah- tengah orang ramai. Melihat kebesaran-kebesaran Alloh Subhanahu Wa Ta'ala yang tersirat di alam raya ini.

5). YA DAKRAD

 yaitu selalu berkekalan zikir (menyebut nama Alloh Subhanahu Wa Ta'ala), baik zikir ismus zat (yaitu melafadzkan ALLAH...ALLAH...ALLOH), Zikir Nafi Isbat (menyebut LA ILAHA ILALLAH), sampai yang disebut dalam zikir itu hadir (yaitu merasakan kehadiran Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dengan kenikmatan yang tiada tara, bahkan enggan untuk berhenti berdzkir).

6). BAR KASYAT

yaitu orang yang berzikir nafi isbat (menyebut LA ILAHA ILALLAH), setelah melepaskan nafasnya, kembali munajat kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dengan mengucapkan kalimat yang mulia :“Wahai Tuhan Allah, Engkaulah yang aku maksud (dalam perjalanan rohaniku ini) dan keridlaan-Mulah yang aku tuntut” . Sehingga terasa dalam kalbunya rahasia tauhid yang hakiki, dan semua makhluk ini lenyap dari pemandangannya.

7). NAKAH DASYAT

yaitu setiap suluk (orang yang menempuh jalan untuk menuju Alloh Subhanahu Wa Ta'ala) harus memelihara hatinya dari kemasukan sesuatu yang dapat menggoda dan mengganggunya, walaupun hanya sebentar. Karena godaan yang mengganggu itu adalah masalah yang besar, yang tidak boleh terjadi dalam ajaran dasar thoriqoh ini.

Syekh Abu Bakar Al Kattani berkata, “Saya menjaga pintu hatiku selama 40 (empat puluh) tahun, aku tiada membukakannya selain kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, sehingga menjadilah hatiku itu tidak mengenal seseorang pun selain daripada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.”

Sebagian ulama tasawuf berkata “Aku menjaga hatiku 10 (sepuluh) malam, maka dengan itu hatiku menjaga aku selama 20 (dua puluh) tahun.”

8). BAD DASYAT

yaitu ber-tawajuh adalah pemusatan perhatian sepenuhnya pada musyahadah, (menyaksikan) keindahan, kebesaran, dan kemuliaan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala terhadap Nur Zat Ahadiyah (Cahaya Yang Maha Esa) tanpa disertai dengan kata- kata.

Keadaan “Bad Dasyat” ini baru dapat dicapai oleh seorang suluk (orang yang menempuh jalan untuk menuju Alloh Subhanahu Wa Ta'ala) , setelah dia mengalami fana dan baka (ketiadaan) yang sempurna (yaitu segala apa yang ada semua hanyalah Alloh Subhanahu Wa Ta'ala).

 ADAPUN TIGA AJARAN DASAR YANG BERASAL DARI BAHAUDDIN NAQSYABANDI

9). WUQUF ZAMANI

 yaitu kontrol yang dilakukan oleh seorang suluk (orang yang menempuh jalan untuk menuju Alloh Subhanahu Wa Ta'ala) tentang ingat atau tidaknya ia kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala setiap dua atau tiga jam.

Jika ternyata dia berada dalam keadaan ingat kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala pada waktu tersebut, ia harus bersyukur dan jika ternyata tidak, ia harus meminta ampun kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dan kembali mengingat- NYA.


10). WUQUF ‘ADADI

 yaitu memelihara bilangan ganjil dalam menyelesaikan dzikir nafi isbat (menyebut LA ILAHA ILALLAH) sehingga setiap zikir nafi isbat tidak diakhiri dengan bilangan genap. Bilangan ganjil itu, dapat saja 3 (tiga) atau 5 (lima) sampai dengan 21 (duapuluh satu), dan seterusnya atau 99 kali (seperti asmaul husna)


11). WUQUF QALBI

yaitu sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Ubaidullah Al- Ahror, “Keadaan hati seorang suluk (orang yang menempuh jalan untuk menuju Alloh Subhanahu Wa Ta'ala) yang selalu hadir bersama Alloh Subhanahu Wa Ta'ala”.

Pikiran yang ada terlebih dahulu dihilangkan dari segala perasaan, kemudian dikumpulkan segenap tenaga dan panca indera untuk melakukan tawajuh (pemusatan perhatian sepenuhnya, baik secara rasa maupun fisik) dengan mata hati yang hakiki, untuk menyelami makrifat (pengetahuan) Tuhannya, sehingga tidak ada peluang sedikitpun dalam hati yang ditujukan kepada selain Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, dan terlepas dari pengertian zikir (menyebut nama Alloh Subhanahu Wa Ta'ala)


ADAPUN 7 MACAM LATHIFAH

1. Lathifah Al-Qolb

   Ada di bawah dada kiri, dua jari di bawah payudara,

   Warnanya adalah kuning

   Tempat kekuasaan Nabi Adam Alaihis salam ,

   Asalnya adalah tanah.

2. Lathifah Ar-Ruh

   Bertempat di sisi bawah susu kanan, berjarak sekitar dua jari,

   Warnanya adalah merah,

   Tempat kewenangan Nabi Ibrohim Alaihis salam , dan Nabi Nuh Alaihis salam ,

   Asalnya adalah api.

3. Lathifah As-Sirr

   Bertempat di atas susu kiri berjarak sekitar dua jari,

   Warnanya adalah putih,

   Tempat kekuasaan Nabi Musa Alaihis salam dan Nabi Khidhir Alaihis salam,

   Asalnya adalah air.

4. Lathifah al-khafi

   Bertempat di atas susu kanan, berjarak sekitar dua jari,

   Warnanya adalah hitam,

   Tempat kekuasaan Nabi Isa Al Masih dan  Nabi Sulaiman Alaihis salam,

   Asalnya adalah udara.

5. Lathifah Al Akhfa

   Bertempat di tengah dada,

   Warnanya hijau,

   Tempat kekuasaan Nabi Muhammad Sholallohu 'Alaihi Wassallam.,

   Asalnya adalah cahaya.

6. Lathifatul An-Nafsi

   Bertempat di antara kedua kata dikepala,

7. Lathifatul Qolab (Jasad)

   Bertempat di seluruh dan sekujur anggota badan, mulai rambut kepala sampai kaki


NASEHAT SAYYIDINA SYAIKH MUHAMMAD BAHAUDDIN AN-NAQSYABANDI

1). Mengamalkan thoriqoh berarti sibuk di dalam melaksanakan ‘ubudiyyah (penghambaan diri) kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, secara dzohir dan bahtin, dengan kesempurnaan komitmen/berjanji (iltizam) mengikuti as-Sunnah, dan menjauhkan segala bid’ah (amaliyah yang keluar dari aqidah islam) dan segala kelonggaran (rukhsah), pada setiap gerak dan diam.

2). Jalan kita adalah dengan mengikuti jejak langkah baginda Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wassallam dan para sahabatnya. Aku telah dibawakan ke jalan ini melalui Pintu Karunia, karena dari permulaan jalan hingga ke akhirnya, tiada yang aku lihat melainkan pengaruniaan-pengaruniaan dari Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.

3). Di dalam thoriqot ini, pintu-pintu kepada ilmu-ilmu langit akan dibukakan kepada Ash Sholihin (orang-orang yang berbuat amal kebajikan) yang teguh menuruti jejak langkah Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wassalam Mengikuti As-Sunnah adalah cara yang paling utama untuk membuka pintu-pintu ini.

4). Orang-orang ahli hikmah mempunyai tiga cara untuk mencapai Kebenaran (al-haqiqoh), yaitu melalui muroqobah, musyahadah dan muhasabah (introspeksi diri)
Muroqobah itu adalah kita tidak melihat makhluk karena pribadi makhluk tersebut, akan tetapi yang kita lihat Sang Pencipta makhluk yang telah menggerakkan makhluk ciptaanNYA.
Maksud musyahadah Adalah memandang kecemerlangan nur yang diterima di dalam hati dengan merasakan bahwa kita berada dihadapan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.Dan maksud muhasabah yaitu tidak mengizinkan segala sesuatu yang telah dilakukan dahulu (keburukan), menjadi batu penghalang (putus asa) bagi mencapai maqam-maqam yang lebih tinggi dengan selalu berbuat kebaikan-kebaikan, sesungguhnya rohmat (kasih sayang) Alloh Subhanahu Wa Ta'ala lebih luas dan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala selalu mengampuni semua dosa-dosa hambaNYA walaupun itu sebesar gunung.

5). Para orang-orang yang dekat kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala itu tidak pernah merasa kagum dengan amalan-amalan yang mereka kerjakan. Mereka sentiasa beramal demi rasa cinta kepadaNYA.

6). Siapa yang mengambil daripada tangan kami (berbai'at thoriqoh) dan menuruti jejak langkah kami (mengamalkan thoriqoh) dan mencintai kami, apakah dia itu dekat atau pun jauh, berada di Timur atau di Barat, maka akan kami minumkan dia dari Sungai Kecintaan (haudh Al kautsar, yang warnanya lebih putih dari susu, rasanya lebih manis dari madu, dan wanginya lebih wangi dari parfum yang ada dibumi), dan akan kami berikan dia cahaya pada setiap hari.

7). Jalan kita adalah melalui pergaulan yang baik. Mengutamakan diri bisa mengakibatkan seseorang itu menjadi masyhur (terkenal) dan ini adalah bahaya. Kebaikan terletak di dalam bersahabat. Siapa yang mengikuti jalan ini akan memperolehi banyak manfaat dan barokah melalui pertemuan-pertemuan yang ikhlash dan yang benar.

8). Siapa juga yang menziarahi (mengunjungi) kami tanpa memperolehi faedah/kemanfaatan yang mereka perlukan dibanding kami, sebenarnya, tiadalah mereka menziarahi kami (apabila mengunjungi kami hanya sekedar ingin mengetahui saja, maka akan sia-sia belaka). Mereka tidak akan merasa berpuas hati.

Siapa yang mempunyai keinginan untuk berkata-kata dengan kami (hanya sekedar ingin berdebat masalah agama),
kami tidak akan mendengar apa-apa (akan sia-sia belaka dan menjadikan musibah untuk dirinya).

Dan siapa pula yang ingin mendengar dari pada kami (nasehat) kami tidak mempunyai apa-apa untuk diperdengarkan (karana nasehat tanpa adanya hidayah itu mustahil bisa masuk kedalam hati).

Siapa yang menerima apa yang diberikan tanpa menganggapnya remeh, Alloh Subhanahu Wa Ta'ala akan memberikan tambahan.

Siapa pula yang tidak dapat menerima apa yang telah diberikan di sini (tidak mau mendengarkan) tidak akan berusaha menerima apa-apa pun (meremehkan), di mana-mana pun juga tempatnya akan sama tidak mendapatkan apa-apa.

Ingatlah engkau kepada kisah seorang manusia yang meminta dirham (duit perak), tetapi dia telah diberikan dinar (duit emas), karena tidak ada dirham untuk diberikan kepadanya? Dia telah berkata, “Apalah gunanya benda ini? Aku tidak boleh membelanjakannya. Ini bukan dirham!”.

9). Dari satu segi, setiap Insan Kamil (makhluk yang mulia) itu adalah sama. Ini berarti yang apabila si murid sudah benar-benar sealiran dengan usaha Thoriqoh ini, dia boleh berkomuniksai dengan para masayaikh (pembimbing) terdahulu, sebagaimana mereka sendiri sering berkomuniksai sesama sendiri (seperti orang yang bertemu atau bertatap muka) menempuh jarak masa dan tempat.

10). Tugas-tugas dan amalan-amalan sebuah thoriqoh membentuk satu unit. Kebenaran, cara mengajar dan cara murid, membentuk rupa satu tangan, yang tidak dapat dilihat oleh si jahil. Karena dia hanya melihat ketidaksamaan jari-jari, dia tidak dapat melihat kepada pergerakan padu dari tangan itu (yakni pergerakan tangan sebagai satu keselarasan, sebenarnya terjadi dari pergerakan bersaingan tetapi berpadu dari jari-jari tangan itu, saling terkait).

11). Setiap orang mendambakan kebaikan, namun tidak seorang pun telah meraih kebaikan, melainkan dengan mencintai Sang Pencipta Kebaikan.

12).