1). HUWASY DARDAM
yaitu pemeliharaan keluar masuknya nafas, supaya hati tidak lupa kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala atau tetap hadirnya Alloh Subhanahu Wa Ta'ala pada waktu masuk dan keluarnya nafas.
Setiap suluk (orang yang menempuh jalan untuk menuju Alloh Subhanahu Wa Ta'ala) menarikkan dan menghembuskan nafasnya, hendaklah selalu ingat atau hadir bersama Alloh Subhanahu Wa Ta'ala di dalam hati sanubarinya.
Ingat kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala setiap keluar masuknya nafas, berarti memudahkan jalan untuk dekat kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, dan sebaliknya lalai atau lupa mengingat Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, berarti menghambat jalan menuju kepada-NYA.
2). NAZHAR BARQODLAM
yaitu setiap suluk (orang yang menempuh jalan untuk menuju Alloh Subhanahu Wa Ta'ala) dalam iktikaf (berdiam diri pada suatu tempat) atau bila berjalan harus menundukkan kepala, melihat ke arah kaki dan apabila dia duduk dia melihat pada kedua tangannya. Jangan memperluas pandangan ke kiri atau ke kanan, karena khawatir dapat membuat hatinya bimbang atau terhambat untuk berzikir (memuji nama Alloh Subhanahu Wa Ta'ala) atau mengingat Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Nazhar Barqodlam ini lebih ditekankan lagi bagi pengamal thoriqot yang baru merambah ke jalan pendekatan diri kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, karena yang bersangkutan belum mampu memelihara hatinya.
3). SAFAR DARWATHON
yaitu perpindahan dari sifat kemanusiaan yang kotor dan rendah, kepada sifat-sifat kemalaikatan yang bersih dan suci lagi utama. Karena itu wajiblah bagi suluk (orang yang menempuh jalan untuk menuju Alloh Subhanahu Wa Ta'ala) mengontrol hatinya, agar dalam hatinya tidak ada rasa cinta kepada makhluk, selain hanya kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.
4). KHALWAT DARANJAMAN
yaitu setiap suluk (orang yang menempuh jalan untuk menuju Alloh Subhanahu Wa Ta'ala) harus selalu menghadirkan hati kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dalam segala keadaan, baik waktu sunyi maupun di tempat orang banyak (ramai).
Dalam Thoriqoh Naqsyabandiyah ini ada dua bentuk kholwat (mendekatkan diri kepada Allah dengan cara menyepi)
A. Berkhalwat Lahir,
yaitu orang yang melaksanakan suluk (orang yang menempuh jalan untuk menuju Alloh Subhanahu Wa Ta'ala) dengan mengasingkan diri di tempat yang sunyi dari masyarakat ramai.
B. Khalwat Batin,
yaitu hati sanubari suluk (orang yang menempuh jalan untuk menuju Alloh Subhanahu Wa Ta'ala) senantiasa musyahadah (menyaksikan) rahasia- rahasia kebesaran Alloh Subhanahu Wa Ta'ala walaupun berada di tengah- tengah orang ramai. Melihat kebesaran-kebesaran Alloh Subhanahu Wa Ta'ala yang tersirat di alam raya ini.
5). YA DAKRAD
yaitu selalu berkekalan zikir (menyebut nama Alloh Subhanahu Wa Ta'ala), baik zikir ismus zat (yaitu melafadzkan ALLAH...ALLAH...ALLOH), Zikir Nafi Isbat (menyebut LA ILAHA ILALLAH), sampai yang disebut dalam zikir itu hadir (yaitu merasakan kehadiran Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dengan kenikmatan yang tiada tara, bahkan enggan untuk berhenti berdzkir).
6). BAR KASYAT
yaitu orang yang berzikir nafi isbat (menyebut LA ILAHA ILALLAH), setelah melepaskan nafasnya, kembali munajat kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dengan mengucapkan kalimat yang mulia :“Wahai Tuhan Allah, Engkaulah yang aku maksud (dalam perjalanan rohaniku ini) dan keridlaan-Mulah yang aku tuntut” . Sehingga terasa dalam kalbunya rahasia tauhid yang hakiki, dan semua makhluk ini lenyap dari pemandangannya.
7). NAKAH DASYAT
yaitu setiap suluk (orang yang menempuh jalan untuk menuju Alloh Subhanahu Wa Ta'ala) harus memelihara hatinya dari kemasukan sesuatu yang dapat menggoda dan mengganggunya, walaupun hanya sebentar. Karena godaan yang mengganggu itu adalah masalah yang besar, yang tidak boleh terjadi dalam ajaran dasar thoriqoh ini.
Syekh Abu Bakar Al Kattani berkata, “Saya menjaga pintu hatiku selama 40 (empat puluh) tahun, aku tiada membukakannya selain kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, sehingga menjadilah hatiku itu tidak mengenal seseorang pun selain daripada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.”
Sebagian ulama tasawuf berkata “Aku menjaga hatiku 10 (sepuluh) malam, maka dengan itu hatiku menjaga aku selama 20 (dua puluh) tahun.”
8). BAD DASYAT
yaitu ber-tawajuh adalah pemusatan perhatian sepenuhnya pada musyahadah, (menyaksikan) keindahan, kebesaran, dan kemuliaan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala terhadap Nur Zat Ahadiyah (Cahaya Yang Maha Esa) tanpa disertai dengan kata- kata.
Keadaan “Bad Dasyat” ini baru dapat dicapai oleh seorang suluk (orang yang menempuh jalan untuk menuju Alloh Subhanahu Wa Ta'ala) , setelah dia mengalami fana dan baka (ketiadaan) yang sempurna (yaitu segala apa yang ada semua hanyalah Alloh Subhanahu Wa Ta'ala).
ADAPUN TIGA AJARAN DASAR YANG BERASAL DARI BAHAUDDIN NAQSYABANDI
9). WUQUF ZAMANI
yaitu kontrol yang dilakukan oleh seorang suluk (orang yang menempuh jalan untuk menuju Alloh Subhanahu Wa Ta'ala) tentang ingat atau tidaknya ia kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala setiap dua atau tiga jam.
Jika ternyata dia berada dalam keadaan ingat kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala pada waktu tersebut, ia harus bersyukur dan jika ternyata tidak, ia harus meminta ampun kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dan kembali mengingat- NYA.
10). WUQUF ‘ADADI
yaitu memelihara bilangan ganjil dalam menyelesaikan dzikir nafi isbat (menyebut LA ILAHA ILALLAH) sehingga setiap zikir nafi isbat tidak diakhiri dengan bilangan genap. Bilangan ganjil itu, dapat saja 3 (tiga) atau 5 (lima) sampai dengan 21 (duapuluh satu), dan seterusnya atau 99 kali (seperti asmaul husna)
11). WUQUF QALBI
yaitu sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Ubaidullah Al- Ahror, “Keadaan hati seorang suluk (orang yang menempuh jalan untuk menuju Alloh Subhanahu Wa Ta'ala) yang selalu hadir bersama Alloh Subhanahu Wa Ta'ala”.
Pikiran yang ada terlebih dahulu dihilangkan dari segala perasaan, kemudian dikumpulkan segenap tenaga dan panca indera untuk melakukan tawajuh (pemusatan perhatian sepenuhnya, baik secara rasa maupun fisik) dengan mata hati yang hakiki, untuk menyelami makrifat (pengetahuan) Tuhannya, sehingga tidak ada peluang sedikitpun dalam hati yang ditujukan kepada selain Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, dan terlepas dari pengertian zikir (menyebut nama Alloh Subhanahu Wa Ta'ala)
ADAPUN 7 MACAM LATHIFAH
1. Lathifah Al-Qolb
Ada di bawah dada kiri, dua jari di bawah payudara,
Warnanya adalah kuning,
Tempat kekuasaan Nabi Adam Alaihis salam ,
Asalnya adalah tanah.
2. Lathifah Ar-Ruh
Bertempat di sisi bawah susu kanan, berjarak sekitar dua jari,
Warnanya adalah merah,
Tempat kewenangan Nabi Ibrohim Alaihis salam , dan Nabi Nuh Alaihis salam ,
Asalnya adalah api.
3. Lathifah As-Sirr
Bertempat di atas susu kiri berjarak sekitar dua jari,
Warnanya adalah putih,
Tempat kekuasaan Nabi Musa Alaihis salam dan Nabi Khidhir Alaihis salam,
Asalnya adalah air.
4. Lathifah al-khafi
Bertempat di atas susu kanan, berjarak sekitar dua jari,
Warnanya adalah hitam,
Tempat kekuasaan Nabi Isa Al Masih dan Nabi Sulaiman Alaihis salam,
Asalnya adalah udara.
5. Lathifah Al Akhfa
Bertempat di tengah dada,
Warnanya hijau,
Tempat kekuasaan Nabi Muhammad Sholallohu 'Alaihi Wassallam.,
Asalnya adalah cahaya.
6. Lathifatul An-Nafsi
Bertempat di antara kedua kata dikepala,
7. Lathifatul Qolab (Jasad)
Bertempat di seluruh dan sekujur anggota badan, mulai rambut kepala sampai kaki
NASEHAT SAYYIDINA SYAIKH MUHAMMAD BAHAUDDIN AN-NAQSYABANDI
10). Tugas-tugas dan amalan-amalan sebuah thoriqoh membentuk satu unit. Kebenaran, cara mengajar dan cara murid, membentuk rupa satu tangan, yang tidak dapat dilihat oleh si jahil. Karena dia hanya melihat ketidaksamaan jari-jari, dia tidak dapat melihat kepada pergerakan padu dari tangan itu (yakni pergerakan tangan sebagai satu keselarasan, sebenarnya terjadi dari pergerakan bersaingan tetapi berpadu dari jari-jari tangan itu, saling terkait).