Jumat, 08 Mei 2020

TINGKATAN PARA WALI ALLOH

Seperti para nabi-nabi (anbiya') dan rosul-rosul yang martabat serta kedudukan mereka tidak sama di antara satu sama lain, para Aulia juga diberi martabat yang berlainan pula.

Di kalangan Anbiya' dan Rosul yang jumlahnya sangat ramai itu dengan jumlah nabi mencapai 124.000 orang dan Rosul berjumlah 315 orang, sedang yang yang wajib kita diketahui hanya 25 orang Nabi dan Rosul saja. Sedangkan yang lainnya tidak wajib untuk kita ketahui.

Daripada 25 orang Nabi dan Rosul itu ada pula lima orang yang dikurniakan martabat tinggi, dipanggil ‘Ulil Azmi’ (sebuah gelar khusus bagi golongan rosul pilihan yang mempunyai ketabahan luar biasa selama menyebarkan berbagai risalah Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.)

 Para Rosul itu adalah Nabi Muhammad Sholallohu 'Alaihi Wassallam, Nabi Ibrahim Alaihis Salam, Nabi Musa Alaihis Salam., Nabi Isa Al Masih. dan Nabi Nuh Alaihis Salam.

Aulia'Illah (para Wali Alloh) pun juga mempunyai martabat yang berbeda-beda. Namun tidak ada siapa yang dapat mengenal pasti siapakah di antara para Aulia'Illah itu yang tertinggi martabatnya kecuali Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Namun para wali Alloh ada yang mengetahui antara yang satu dengan yang lain dan ada pula yang tidak.

"Laa ya'rifu ilal wali minal wali" artinya tidak mengetahui dari seorang itu golongan Wali Alloh, kecuali golongan wali Alloh itu sendiri. 

Dalam penjelasannya, seorang wali Alloh yang tingakatannya lebih tinggi bisa mengetahui derajat tingkatan ke-wali-an yang ada dibawahnya, namun wali Alloh yang tingkatannya berada di bawah tidak mengetahui tingkat kewalian seseorang yang berada di atasnya. Namun semua itu merupakan petunjuk dari Alloh Subhanahu Wa Ta'ala semata.

Seperti dijelaskan dahulu, para nabi dan rosul yang diutus kepada manusia harus membuktikan bahwa mereka diberikan mukjizat yang dikurniakan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala kepada mereka.

Tetapi para Aulia tidak wajib membuktikan diri mereka sebagai Aulia melalui karomah yang dikurniakan oleh Alloh Subhanahu Wa Ta'ala kepada mereka.

Bahkan para Aulia dianjurkan merahasiakan ke-wali-an mereka, apalagi martabat mereka, kecuali dalam keadaan darurat atau terdesak saja.

Sebab itu Aulia'illah tidak dapat dikenal pasti yang lebih tinggi martabatnya dari pada yang lain, kecuali atas petunjuk Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, sedangkan bilangan mereka juga sangat ramai.

Mungkin martabat para Aulia itu dapat dikenal hanya melalui karomah mereka, sedangkan karomah mereka pun tidak wajib ditontonkan kepada orang ramai, kecuali jika terdesak. Awliya'illah yang mampu membangunkan/menghidupkan orang/makhluk yang sudah meninggal/mati bisa di kategorikan Al Aqthob (pemimpin para wali dimasanya), seperti sulthonu awliya' Sayyidina Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Baghdadi yang menghidupkan ayam yang dagingnya telah dimakan & tinggal tulangnya saja bisa lembali menjadi ayam yang hidup lagi, seperti Sayyidina Syaikh Ali Ahmad Rohmatulloh Al Makhdumi As Samarkhondi (sunan Ampel) yang menghidupkan mbah Sholeh selaku marbot masjid Ampel Denta hingga 9x, seperti Sayyidina Syaikh Muhammad Bahauddin An Naqsyabandi yang mematikan & menghidupkan kembali temannya saat di gurun pasir dengan redho Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, dan beberapa wali Alloh yang lain.

 Tingkatan para wali dapat dibagikan kepada beberapa tingkatan sesuai dengan kedudukan mereka masing-masing di sisi Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Di antara mereka ada yang terbatas jumlahnya di setiap masanya, tetapi ada pula yang tidak terbatas jumlahnya Sehubungan dengan hal ini, Syeikh Muhyiddin Ibnul Arabi memberikan penjelasan tentang tingkatan dan pembahagian para wali seperti yang diterangkan dalam kitabnya FUTUHATUL MAKKIYAH pada bab ke tujuh puluh tiga yang diringkas oleh Syeikh Al Manawi dalam mukaddimah Thabaqat Sughrahnya sebagai berikut:


PEMBAHAGIAN WALI-WALI ALLOH SUBHANAHU WA TA'ALA.

1. Al Aqthob 

Al Aqthob berasal dari kata tunggal Al Quthub yang mempunyai arti penghulu/pemimpin tunggal. Dari sini dapat kita simpulkan bahwa Al Aqtab adalah darajat kewalian yang tertinggi. Jumlah wali yang mempunyai darajat tersebut hanya terbatas seorang saja untuk setiap masanya. Seperti Abu Yazid Al Busthomi dan Ahmad Ibnu Harun Rasyid Assity.

Di antara mereka ada yang mempunyai kedudukan di bidang pemerintahan, meskipun tingkatan taqorrubnya juga mencapai darajat tinggi, seperti para Khulafa’ur Rasyidin, Al Hasan Ibnu Fatimah zahro bin Muhammad Rosulillaah, Muawiyah Ibnu Yazid, Umar Ibnu Abdul Aziz dan Al Mutawakkil. Dalam bidang thoriqoh, Sulthonu Awliya' Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al baghdadi, Sayyidina Syaikh Abu Hasan Asy Syadzili, Sayyidina Syaikh Muhyidin Ibnu Arobi, Sayyidina Syaikh Ali Ahmad Rohmatulloh Al Makhdumi As Samarkhondy (sunan Ampel), Sayyidina Syaikh Muhammad Bahauddin An Naqsyabandi, Sayyidina Syaikh Muhammad bin Abdul Karim as-Samman al-Madani, Sayyidina Syaikh Muhammad bin Alwi Al Maliki Al Hasani.


2. Al-A_immah

Al Aimmah berasal dari kata tunggal imam yang mempunyai arti pemimpin. Setiap masanya hanya ada dua orang saja yang dapat mencapai darajat Al Aimmah.

Keistimewaan mereka, ada di antara mereka yang pandangannya hanya tertumpu ke alam malakut saja, ada pula yang pandangannya hanya tertumpu di alam secara keseluruhan (bumi & langit).


3. Al-Autad

Al Autad berasal dari kata tunggal Al Watad yang mempunyai arti pasak. Yang memperoleh darajat Al Autad hanya ada empat orang saja setiap masanya.

Kami menjumpai seorang di antara mereka dikota Fez di Morocco. Mereka tinggal di utara, di timur, di barat dan di selatan bumi, mereka bagaikan penjaga di setiap pelusuk bumi.


4. Al-Abdal

Al Abdal berasal dari kata Badal yang mempunyai arti menggantikan. Yang memperoleh darajat Al Abdal itu hanya ada tujuh orang dalam setiap masanya. Setiap wali Abdal ditugaskan oleh Alloh Subhanahu Wa Ta'ala untuk menjaga suatu wilayah di bumi ini. Dikatakan di bumi ini mempunyai tujuh daerah. Setiap daerah dijaga oleh seorang wali Abdal. Jika wali Abdal itu meninggalkan tempatnya, maka ia akan digantikan oleh yang lain. Ada seorang yang bernama Abdul Majid Bin Salamah pernah bertanya pada seorang wali Abdal yang bernama Muaz Bin Asyrash, amalan apa yang dikerjakannya sampai ia menjadi wali Abdal? Jawab Muaz Bin Asyrash: “Para wali Abdal mendapatkan darajat tersebut dengan empat kebiasaan, yaitu sering lapar, gemar beribadah di malam hari, suka diam dan mengasingkan diri”. Seperti, KH. Ahmad Asrori Al Ishaqi, Tuan Guru Muhammad Zaini bin Abdul Ghani Al Banjari (guru ijai sekumpul).


5. An-Nuqaba’

An Nuqaba’ berasal dari kata tunggal Naqib yang mempunyai arti ketua suatu kaum. Jumlah wali Nuqaba’ dalam setiap masanya hanya ada dua belas orang. Wali Nuqaba’ itu diberi karomah mengerti sedalam-dalamnya tentang hukum-hukum syariat. Dan mereka juga diberi pengetahuan tentang rahasia yang tersembunyi di hati seseorang. Selanjutnya mereka pun mampu untuk meramal tentang watak dan nasib seorang melalui bekas jejak kaki seseorang yang ada di tanah. Sebenarnya hal ini tidaklah aneh. Kalau ahli jejak dari Mesir mampu mengungkap rahasia seorang setelah melihat bekas jejaknya. Apakah Alloh Subhanahu Wa Ta'ala tidak mampu membuka rahasia seseorang kepada seorang waliNya?


6. An-Nujaba’

An Nujaba’ berasal dari kata tunggal Najib yang mempunyai arti bangsa yang mulia. Wali Nujaba’ pada umumnya selalu disukai orang. Dimana saja mereka mendapatkan sambutan orang ramai. Kebanyakan para wali tingkatan ini tidak merasakan diri mereka adalah para wali Alloh. Yang dapat mengetahui bahawa mereka adalah wali Alloh hanyalah seorang wali yang lebih tinggi darajatnya. Setiap zaman jumlah mereka hanya tidak lebih dari lapan orang. Salah orang adalah KH. Thoha Al Ghozali, yang makamnya berkain kafan hijau di komplek pemakaman sunan bungkul, darmo kali, surabaya.


7. Al-Hawariyun

Al Hawariyun berasal dari kata tunggal Hawariy yang mempunyai arti penolong. Jumlah wali Hawariy ini hanya ada satu orang saja di setiap zamannya. Jika seorang wali Hawariy meninggal, maka kedudukannya akan diganti orang lain. Di zaman Nabi Sholallohu 'Alaihi Wassalam hanya sahabat Zubair Bin Awwam saja yang mendapatkan darajat wali Hawariy seperti yang dikatakan oleh sabda Nabi Sholallohu 'Alaihi Wasalam: Setiap Nabi mempunyai Hawariy. Hawariyku adalah Zubair ibnul Awwam”Walaupun pada waktu itu Nabi mempunyai cukup banyak sahabat yang setia dan selalu berjuang di sisi beliau. Tetapi beliau Sholallohu 'Alaihi Wasalam berkata demikian, kerana beliau tahu hanya Zubair saja yang meraih darajat wali Hawariy. Kelebihan seorang wali Hawariy biasanya seorang yang berani dan pandai berhujjah (beragumentasi menggunakan dalil-dalil/dasar hukum).


8. Ar-Rojbiyun

Ar Rojbiyun berasal dari kata tunggal Rojab. Wali Rajbiyun itu adanya hanya pada bulan Rojab saja. Mulai awal Rojab hingga akhir bulan mereka itu ada. Selanjutnya keadaan mereka kembali biasa seperti semula. Setiap masa, jumlah mereka hanya ada empat puluh orang saja. Para wali Rojbiyun ini berpecah di berbagai wilayah. Di antara mereka ada yang saling mengenal, tapi kebanyakannya tidak. Salah satu diantaranya ada di daerah gresik yaitu Abah Thoyyib sumengko.

Disebutkan bahwa ada sebagian orang dari Wali Rojbiyun yang dapat melihat hati orang-orang Syiah melalui kasyaf. Ada dua orang Syiah yang mengaku sebagai Ahlu Sunnah dihadapan seorang wali Rojbiyun. Lalu keduanya diusir, kerena wali Rojbiyun itu melihat keduanya berupa dua ekor babi, sebab keduanya membenci Abu Bakar, Umar dan sahabat-sahabat lain. Keduanya hanya mencintai Ali dan sejumlah sahabatnya. Ketika keduanya bertanya padanya, maka si wali tersebut berkata: “Aku lihat kamu berdua berupa dua ekor babi, kerana kamu menganut mazhab Syiah dan membenci para sahabat Nabi Sholallohu 'Alaihi Wasalam."

Ketika berita itu disadari kebenarannya oleh keduanya, maka keduanya mengaku benar dan segera memohon ampun kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Demikianlah sepenggal kisah kasyaf seorang wali Rojbiyun.

Pada umumnya, di bulan Rojab, sejak awal harinya, para wali Rojbiyun menderita sakit, sehingga mereka tidak dapat menggerakkan anggota tubuhnya. Selama bulan Rojab, mereka senantiasa mendapat berbagai pengetahuan secara kasyaf, kemudian mereka memberitahukannya kepada orang lain. Anehnya penderitaan mereka hanya berlangsung di bulan Rojab. Setelah bulan Rojab berakhir, maka kesehatan mereka kembali seperti semula.


9. Al-Khotamiyun

Al Khotamiyun berasal dari kata Khotam yang mempunyai arti penutup atau penghabisan. Maksudnya darajat Al Khotamiyun adalah sebagai penutup para wali. Jumlah mereka hanya seorang. Tidak ada darajat kewalian umat Muhammad Sholallohu 'Alaihi Wassallam yang lebih tinggi dari tingkatan ini. Jenis wali ini hanya akan ada di akhir masa, yaitu ketika Nabi Isa Al Masih putra sayyidatuna Maryam datang kembali.

Di antaranya, ada para Wali yang hatinya seperti Nabi Adam Alaihis Salam. Jumlah mereka hanya tiga ratus orang. Sabda Nabi Sholallohu 'Alaihi Wassallam: “Mereka berhati seperti hati Adam Alaihis Salam, Mereka diberi anugerah tersendiri oleh Alloh Subhanahu Wa Ta'ala."

Syeikh Muhyidin Ibnu Arobi berkata: “Jumlah wali jenis ini (kewalian Adam) bukan hanya tiga ratus orang saja dikalangan umatnya, tetapi ada juga dikalangan umat-umat lain. Tentang keberadaan mereka hanya dapat diketahui secara kasyaf. Setiap masanya dunia tidak pernah kosong dari keberadaan mereka. Mereka mempunyai budi pekerti Ilahi, mereka amat dekat disisi Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Doa mereka selalu diterima oleh Alloh Subhanahu Wa Ta'ala." 

Mereka senang dengan doa: “Wahai Tuhan kami, sesungguhnya kami suka menganiaya diri kami. Jika Engkau tidak berkenan memberi ampunan dan kasih sayang kepada kami, pasti kami akan termasuk orang-orang yang rugi”

Di antara mereka ada pula yang berhati seperti hati Nabi Nuh Alaihis Salam (kewalian Nuh) Jumlah mereka hanya empat puluh orang di setiap zamannya. Hati mereka seperti hatinya Nabi Nuh Alaihis Salam.

Beliau adalah Nabi dan Rasul pertama. Mereka suka berdoa, seperti doa Nabi Nuh Alaihis Salam yang artinya: “Wahai TuhanKu, ampunilah aku dan kedua orang tuaku dan siapa saja dari orang beriman, lelaki ataupun wanita yang masuk ke dalam rumahku dan jangan Engkau tambahkan bagi orang-orang yang berbuat aniaya kecuali kebinasaan”.

Tingkatan wali dari jenis ini sukar diraih orang, sebab ciri khas mereka sangat keras dalam menegakkan agama, seperti sifat Nabi Nuh Alaihis Salam. Yang pasangannya susah diatur, begitu pula anaknya juga demikian, sehingga tingkat kesabarannya sangatlah tinggi.

Mereka selalu memperhatikan sabda Nabi Sholallohu 'Alaihi Wassallam yang artinya: “Barangsiapa yang beribadah selama empat puluh hari dengan penuh ikhlas, maka akan terpancar ilmu hakikat dari lubuk hatinya ke lidahnya”. Dan para wali Alloh mengartikan bahwa ilmu hakikat dari lubuk hatinya ke lidahnya itulah ilmu Laduni (karomah/keistimewaan).

Itulah maqom kewalian Nuh Alaihis Salam.

Di antaranya pula ada yang berhati seperti hati Nabi Ibrahim Alaihis Salam (kewalian Ibrohim) Jumlah wali jenis ini hanya ada tujuh orang dalam setiap zamamnya. Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wassallam pernah menceritakan tentang mereka dalam salah satu sabdanya. Mereka suka dengan doa Nabi Ibrahim Alaihis salam, yang artinya: “Tuhanku, berikan kepadaku kebijaksanaan, dan ikutkan aku kepada orang-orang salih”. Mereka diberi keistimewaan yang luar biasa, hati mereka dibersihkan dari rasa ragu, rasa dengki dan rasa buruk sangka terhadap Kholik maupun makhluk, mereka terlindung dari semua perbuatan buruk.

Syeikh Muhyiddin Ibnu Aroby berkata: “Aku pernah menemui salah seorang dari jenis wali tersebut, aku kagum dengan kemuliaan budi pekertinya, luas pengetahuannya dan kesucian hatinya, sampai aku beranggapan bahwa kesenangan surga telah dipercepatkan baginya”.

Di antaranya pula ada yang berhati seperti hati Malaikat Jibril Alaihis Salam (kewalian Jibril) Jumlah wali jenis ini hanya ada lima orang saja dalam setiap zamannya.

Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wassallam pernah menyebut tentang mereka dalam salah satu sabdanya. Mereka diberi kekuatan (karomah) seperti yang diberikan kepada malaikat Jibril yang amat kuat. Di hari kiamat kelak, mereka akan dikumpulkan dengan malaikat Jibril. Dan malaikat Jibril senantiasa membantu rohani mereka, sehingga mereka selalu terpimpin.

Di antaranya pula ada yang berhati seperti hati Malaikat Mikail Alaihis Salam (kewalian Mikail), Jumlah mereka hanya ada tiga orang saja dalam setiap masanya. Keistimewaan (karomah) mereka suka berlemah-lembut terhadap semua orang, sehingga semua yang ditemui selalu menjadi lemah lembut, dan mereka diberi kekuatan seperti Malaikat Mikail. Salah satunya adalah Tuan Guru Muhammad Zaini bin Abdul Ghani Al Banjari (Abah Guru Ijai sekumpul).

Di antaranya pula ada yang berhati seperti hati Malaikat Isrofil (kewalian Isrofil) Jumlah mereka hanya ada satu orang saja dalam setiap zamannnya. Nabi Sholallohu 'Alaihi Wassallam pernah menyebut tentang mereka dalam salah satu sabdanya.

Menurut pengamatan kami, Syeikh Abu Yazid Al Busthomi termasuk salah seorang dari jenis wali ini Termasuk juga kewalian Nabi Isa Al Masih, Syeikh Al Muhyiddin berkata: “Di antara tokoh-tokoh sufi ada yang diberi hati seperti hati Nabi Isa, kedudukan mereka sangat tinggi di sisi Alloh Subhanahu Wa Ta'ala”.

Di antaranya pula ada yang diberi hati seperti hati Nabi Daud Alaihis Salam (kewalian Daud) Jumlah mereka di setiap masa hanya terbatas beberapa orang saja. Mereka diberi berbagai keistimewaan (karomah), kedudukan tinggi di dunia dan ketebalan iman.


10. Rijalul Ghoib

Di antaranya pula ada yang diberi pangkat Rijalul Ghoib atau manusia-manusia misteri. Jumlah wali jenis ini hanya sepuluh orang di setiap masa. Mereka orang-orang yang selalu khusyu’, mereka tidak berbicara kecuali dengan perlahan atau berbisik, kerana mereka merasa bahwa Alloh Subhanahu Wa Ta'ala selalu mengawasi mereka. Mereka sangat misteri, sehingga keberadaan mereka tidak banyak dikenali kecuali oleh ahlinya (yaitu dari golongan Wali sendiri). Mereka selalu rendah hati, malu dan mereka tidak banyak mementingkan kesenangan dunia. Boleh dikata segala tindak tanduk mereka selalu misteri. Di antaranya pula ada yang selalu menegakkan agama Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Jumlah mereka hanya delapan belas orang di setiap masa. Ciri khas mereka adalah selalu menegakkan hukum-hukum Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Dan mereka bersikap keras terhadap segala penyimpangan.

Syeikh Abu Madyan termasuk salah seorang di antara mereka. Beliau berkata kepada murid-muridnya: “Tampilkan kepada manusia tanda redha kamu sebagaimana kamu menampilkan rasa ketidaksenangan kamu, dan perlihatkan kepada manusia segala nikmat yang diberikan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, baik yang dzohiriyah mau pun batiniyah seperti yang dianjurkan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dalam firmanNya berikut:

“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaknya engkau menyebut-nyebutnya sebagai tanda bersyukur” (Surah Adh Dhuha: 11).


11. Rijalul Quwwatul Ilahiyah

Di antaranya pula ada wali yang dikenal dengan nama Rijalul Quwwatul Ilahiyah artinya orang-orang yang diberi kekuatan oleh Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Jumlah mereka hanya delapan orang saja di setiap zaman. Wali jenis ini mempunyai keistimewaan (karomah), yaitu sangat tegas terhadap orang-orang kafir dan terhadap orang-orang yang suka memperkecilkan agama. Sedikit pun mereka tidak takut oleh kritikan orang. Di kota Fez ada seorang yang bernama Abu Abdullah Ad Daqqaq. Beliau dikenal sebagai seorang wali dari jenis Rijalul Quwwatul Ilahiyah. Di antaranya pula ada jenis wali yang sifatnya keras dan tegas. Jumlah mereka hanya ada 5 orang disetiap zaman. Meskipun watak mereka tegas, tetapi sikap mereka lemah lembut terhadap orang-orang yang suka berbuat kebajikan.


12. Rijalul Hanani Wal Athfil Ilahi

Di antaranya pula ada jenis wali yang dikenal dengan nama Rijalul Hanani Wal Athfil Illahi artinya mereka yang diberi rasa kasih sayang Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Jumlah mereka hanya ada lima belas orang di setiap zamannya. Mereka selalu bersikap kasih sayang terhadap manusia baik terhadap yang kafir mau pun yang mukmin. Mereka melihat manusia dengan pandangan kasih sayang, kerana hati mereka dipenuhi rasa insaniyah yang penuh rohmat (kasih sayang).


13. Rijalul Haibah Wal Jalal

Di antaranya pula ada yang termasuk dalam golongan Rijalul Haibah Wal Jalali. Jumlah mereka hanya empat orang di setiap masa. Jenis wali tingkatan ini dikenal sebagai orang-orang yang hebat dan mengkagumkan, meskipun sifat mereka lemah lembut, tetapi orang-orang yang menemui mereka akan tunduk. Mereka tidak dikenal di bumi, tapi mereka adalah orang-orang yang dikenal di langit. Di antara mereka ada yang mempunyai hati seperti Nabi Muhammad Sholallohu 'Alaihi Wassalam, ada pula yang mempunyai hati seperti Nabi Syuaib, Nabi Solleh dan Nabi Hud. Sayyid Muhyiddin berkata: “Aku pernah menemui wali golongan ini di kota Damsyik”.


14. Rijalul Fathi

Di antaranya pula ada yang termasuk dalam golongan Rijalul Fathi. Artinya rahasia-rahasia Alloh Subhanahu Wa Ta'ala selalu terbuka bagi mereka. Jumlah mereka hanya ada 24 orang di setiap masanya. Jumlah mereka sama dengan bilangan jam, yaitu 24 orang. Meskipun demikian, mereka tidak pernah berkumpul di satu tempat dalam jumlah sebanyak itu. Adanya mereka menyebabkan terbukanya pintu-pintu pengetahuan, baik yang nyata mau pun yang rahasia.


15. Rijalul Ma’arij Al’-‘Ula

Di antaranya pula ada yang termasuk dalam kelompok Rijalul Ma’arij Al ‘Ula. Jumlah mereka hanya 7 orang di setiap masa. Mereka termasuk wali-wali tingkatan tinggi, hampir setiap saatnya mereka naik ke alam malakut, mereka adalah orang-orang pilihan.


16. Rijalu Tahtil Asfal

Di antaranya pula ada yang termasuk dalam golongan Rijalu Tahtil Asfal, yaitu mereka yang berada di alam terbawah di bumi. Jumlah mereka tidak lebih dari 21 orang di setiap masa. Ciri khas wali ini, hati mereka selalu hadir di hadapan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.


17. Rijalul Imdadil Ilahi Wal Kaun

Di antaranya pula ada yang termasuk dalam golongan Rijalul Imdadil Ilahi Wal Kauni, yaitu mereka yang selalu mendapat karunia Ilahi. Jumlah mereka tidak lebih dari 3 orang di setiap masa. Mereka selalu mendapat pertolongan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala untuk menolong manusia sesamanya. Sikap mereka dikenal lemah lembut dan berhati penyayang. Mereka senantiasa menyalurkan anugerah-anugerah Alloh Subhanahu Wa Ta'ala kepada manusia. Pokoknya, adanya mereka menunjukkan berpanjangannya kasih sayang Alloh Subhanahu Wa Ta'ala kepada makhlukNya.


18. Ilahiyun Rohmaniyun

Di antaranya pula ada yang termasuk dalam golongan Ilahiyun Rohmaniyun, yaitu manusia-manusia yang diberi rasa kasih sayang yang luar biasa. Jumlah mereka ini hanya 3 orang di setiap masa. Sifat mereka seperti wali-wali Abdal, meskipun mereka tidak termasuk didalamnya. Kegemaran mereka suka mengkaji firman-firman Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.


19. Rijalul Istithoolah

Di antaranya pula ada yang termasuk dalam golongan Rijalul Istithoolah, yaitu manusia-manusia yang selalu mendapat pertolongan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Jumlah mereka hanya seorang dalam setiap masa. Yang termasuk kelompok ini adalah Syeikh Abdul Qadir Jilani. Mereka selalu menolong manusia dan mereka sangat ditakuti.


20. Rijalul Ghina Billah

Di antaranya pula ada yang termasuk dalam golongan Rijalul Ghina Billah, iaitu orang-orang yang tidak memerlukan kepada manusia sedikit pun. Jumlah mereka hanya 2 orang di setiap masanya. Mereka selalu mendapat siraman rohani dari alam malakut, sehingga kelompok ini tidak memerlukan kepada bantuan sesiapa pun, selain bantuan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.


21. Rijalu ‘Ainut Tahkim Waz Zawaid

Di antaranya pula ada yang termasuk dalam golongan Rijalu ‘Ainut Tahkim Waz Zawaid. Jumlah mereka hanya 10 orang di setiap zamannya. Mereka senantiasa meningkatkan keyakinannya terhadap masalah-masalah yang ghoib. Seluruh hidup mereka terlihat aktif di semua aktivitas ibadah.


22. Rijalul Isytiqoq

Diantaranya pula ada yang termasuk dalam golongan Rijalul Isytiqoq, yaitu mereka yang selalu rindu kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Jumlah mereka hanya 5 orang di setiap zamannya. Kegemaran mereka hanya memperbanyakkan sholat di siang hari dan di malam hari.


23. Al-Mulamatiyah

Di antaranya, ada yang termasuk dalam golongan Al Mulamatiyah. Mereka tergolong dari wali darajat yang tinggi, pimpinan tertingginya adalah Nabi Muhammad Sholallohu 'Alaihi Wassallam. Mereka sangat berhati-hati dalam melaksanakan syariat Islam. Segala sesuatu mereka tempatkan di tempatnya yang tepat. Tindak tanduk mereka selalu didasari rasa takut dan hormat kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Sudah tentu keberadaan mereka sangat diperlukan, meskipun mereka tidak terbatas. Ada kalanya jumlah mereka meningkat, tetapi ada kalanya pula jumlah mereka berkurangan.


24. Al-Fuqoro'

Di antaranya, ada pula yang termasuk dalam golongan Al Fuqoro’. Jumlah mereka ada kalanya meningkat dan ada kalanya berkurangan. Ciri khas mereka ini selalu merendahkan diri. Mereka merasa rendah di hadapan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.


25. As-Sufiyyah

Di antaranya, ada pula yang termasuk dalam kelompok As Sufiyyah. Jumlah mereka tidak terbatas. Ada kalanya membesar dan ada kalanya pula berkurangan. Mereka dikenal sebagai wali yang amat luhur budi pekertinya. Mereka selalu menghias diri mereka dengan kebajikan-kebajikan yang sesuai dengan ketinggian budi pekerti mereka.

Kebanyakan dari wali jenis ini, mereka tidak terkenal dan berbaur dengan masyarakat kebanyakan, jarang yang mempunyai santri atau murid, tetapi ucapan mereka penuh dengan kesederhanaan & ilmu.


26. Al-‘Ibaad

Di antaranya, ada pula yang termasuk dalam golongan Al ‘Ibaad. Mereka dikenali sebagai orang-orang yang suka beribadah. Pokoknya, ibadah merupakan kegiatan mereka sehari-hari, mereka suka mengasingkan diri di gunung-gunung, di lembah-lembah dan di pantai-pantai. Di antara mereka ada yang mau bekerja, tetapi kebanyakan dari mereka meninggalkan semua kegiatan duniawi. Puasa sepanjang masa dan beribadah di malam hari merupakan syiar mereka. Sebab, menurut mereka dunia ini adalah tempat untuk menyuburkan amal-amal di akhirat. Abu Muslim Al Khaulani adalah di antara wali tingkatan ini. Biasanya jika ia merasa letih ketika beribadah di malam hari, maka ia memukul kedua kakinya seraya berkata: “Kamu berdua lebih pantas dipukul dari binatang ternakanku”.


27. Az-Zuhaad

Di antaranya, ada pula yang termasuk dalam golongan Az Zuhaad. Mereka termasuk orang-orang yang suka meninggalkan kesenangan duniawi. Mereka mempunyai harta, tetapi mereka tidak pernah menikmatinya sedikitpun, sebab, seluruh hartanya mereka nafkahkan pada jalan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Sayyid Muhyiddin berkata: “Di antara bapa saudaraku ada yang tergolong dari wali tingkatan ini”.

Disebutkan bahawa Syeikh Abdullah At Tunisi, seorang ahli ibadah di masanya, ia dikenal sebagai salah seorang wali Az Zuhad. Pada suatu hari, penguasa kota Tilmasan menghampiri tempat Syeikh Abdullah seraya berkata kepadanya: “Wahai Syeikh Abdullah, apakah aku boleh sholat dengan pakaian kebesaranku ini?” Mendengar pertanyaan itu, Syeikh Abdullah tertawa.

Tanya si penguasa: “Mengapa engkau tertawa, wahai Syeikh?

Jawab Syeikh Abdullah: “Aku tertawa kerana lucunya pertanyaanmu tadi, sebab mengapa engkau bertanya kepadaku seperti itu, padahal pakaianmu dan makananmu dari harta yang haram?” 

Mendengar jawaban Syeikh Abdullah seperti itu, maka si penguasa menangis dan menyatakan taubatnya kepada Syeikh, selanjutnya ia meninggalkan kekuasaannya demi untuk mengabdikan diri kepada Syeikh Abdullah, sehingga beliau berkata: “Mintalah doa kepada Yahya Bin Yafan, sesungguhnya ia adalah seorang penguasa dan seorang ahli zuhud, andaikata aku diuji sepertinya, mungkin aku tidak dapat melaksanakannya”.

28. Rijalul Maa’i

Di antaranya, ada pula yang termasuk dalam golongan Rijalul Maa’i. Mereka adalah para wali yang senantiasa beribadah di pinggir-pinggir laut dan sungai. Mereka tidak banyak dikenal, kerana mereka suka mengasingkan diri. Disebutkan, bahwa Syeikh Abu Saud Asy Syibli pernah berada di pinggir sungai Dajlah di Baghdad. Ketika hatinya bergerak: “Apakah ada di antara hamba-hamba Alloh yang beribadah di dalam air?” 

Tiba-tiba ada seorang yang muncul dari dalam air seraya berkata: “Ada, wahai Abu Saud. Di antara hamba-hamba Alloh ada juga yang beribadah di dalam air dan aku termasuk di antara mereka. Aku berasal dari negeri Takrit, aku sengaja keluar, kerana beberapa hari mendatang akan terjadi musibah di negeri Baghdad”. 

Kemudian ia menghilang ke dalam air. Kata Abu Saud: “Ternyata tidak lebih dari lima belas hari musibah memang terjadi.”


29. Al-Afrod

Di antaranya, ada pula yang termasuk dalam golongan Al Afrad. Mereka termasuk wali-wali berkedudukan tinggi. Di antara mereka adalah Syeikh Muhammad Al ‘Awani, sahabat karib Syeikh Abdul Qodir Al Jailani.

Mereka ini jarang dikenal manusia awam, kerana kedudukan mereka terlalu tinggi. Jumlah mereka tidak terbatas. Ada kalanya jumlah mereka meningkat dan ada kalanya pula berkurangan.


30. Al-Umana’

Di antaranya, ada pula yang termasuk dalam golongan Al Umana’ artinya orang-orang yang dapat diberikan kepercayaan. Di antara mereka adalah Abu Ubaidah Ibnul Jarroh, seperti mana yang disebutkan oleh Nabi Sholallohu 'Alaihi Wassalam: “Abu Ubaidah adalah orang yang paling dapat diberi kepercayaan di antara umat ini”.

Jumlah mereka tidak terbatas. Mereka jarang dikenal manusia, kerana mereka tidak pernah menonjol ditengah masyarakatnya.


31. Al-Qurra’

Di antaranya, ada pula yang termasuk dalam golongan Al Qurra’. Mereka ahli membaca Al Quran. Menurut sebuah hadis, wali-wali ini termasuk orang-orang yang dekat dengan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, kerana mereka ahli Al Quran. Dan mereka harus dimuliakan. Syeikh Sahal Bin Abdullah At Tusturi termasuk di antara mereka dan juga Syaikh Abdurrohman As Sudais.

32. Al-Ahbab

Di antaranya, ada pula yang termasuk dalam golongan Al Ahbab, yaitu orang-orang yang dikasihi. Jumlah mereka tidak terbatas, adakalanya meningkat, adakalanya pula berkurangan.

Mereka mencapai tingkatan ini disebabkan mereka melaksanakan segala ibadah dan taqorrub (taqorrub adalah mampu merasakan dengan hati kita dekat dengan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.) kerana rasa cinta kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Ibadah yang didasari rasa cinta, lebih baik dari ibadah yang berharap pahala dan surga. Maka sebagai imbalan baik bagi mereka, mereka mendapat kasih sayang Alloh Subhanahu Wa Ta'ala yang luar biasa.


33. Al-Muhaddathun

Di antaranya, ada pula yang termasuk dalam golongan Al Muhaddathun, yaitu orang-orang yang selalu diberi ilham oleh Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.

Menurut hadits Nabi, ada sebagian dari umatku yang diberi ilham dari Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Maka Umar Bin Al Khattab termasuk salah satu dari mereka. Sayyid Muhyiddin Ibnu Arabi Rodhiallohu'anhu berkata: “Di zaman kami ada pula wali-wali Al Muhaddathun, di antaranya adalah Abul Abbas Al Khasyab dan Abu Zakariya Al Baha-i. Para wali yang tergolong dalam golongan ini senantiasa mendapat bisikan-bisikan rohani dari penduduk alam malakut, misalnya dari Jibril, Mikail, Isrofil dan Izroil, sebab rohani mereka sudah dapat menembus alam arwah atau alam malakut.


34. Al-Akhilla’

Di antaranya, ada pula yang termasuk dalam golongan Al Akhilla’. Mereka adalah orang-orang yang dicintai Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Jumlah mereka tidak terbatas, adakalanya meningkat dan adakalanya berkurangan.


35. As-Samro’

Di antaranya, ada pula yang termasuk dalam golongan As Samra’. Arti kata As Samro’ adalah berkulit hitam manis. Jumlah mereka tidak terbatas. Mereka termasuk orang-orang yang senantiasa berdialog dengan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, sebab hati mereka selalu dipenuhi rasa keTuhanan yang tiada taranya.


36. Al-Wirothoh

Di antaranya, ada pula yang termasuk dalam golongan Al Wirathah, yaitu mereka yang mendapat warisan dari Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.

Mereka adalah para ulama, pewaris para Nabi. Kelompok ini termasuk orang-orang yang gemar beribadah sampai melebihi dari batas kemampuannya. Mereka suka mengasingkan diri di tempat-tempat terpencil demi untuk memenuhi kecintaannya kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.


CERITA TENTANG WALI-WALI ALLOH SUBHANAHU WA TA'ALA.

1. Kisah Wali Alloh yang Sholat Di Atas Air

Sebuah kapal yang sarat dengan muatan dan bersama 200 orang temasuk ahli perniagaan berlepas dari sebuah pelabuhan di Mesir. Apabila kapal itu berada di tengah lautan maka datanglah ribut petir dengan ombak yang kuat membuat kapal itu terumbang-ambing dan hampir tenggelam. Berbagai usaha dibuat untuk mengelakkan kapal itu dipukul ombak ribut, namun semua usaha mereka sia-sia saja. Kesemua orang yang berada di atas kapal itu sangat cemas dan menunggu apa yang akan terjadi pada kapal dan diri mereka. Ketika semua orang berada dalam keadaan cemas, terdapat seorang lelaki yang sedikitpun tidak merasa cemas. Dia kelihatan tenang sambil berzikir kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Kemudian lelaki itu turun dari kapal yang sedang terumbang ambing dan berjalanlah dia di atas air dan mengerjakan sholat di atas air. Beberapa orang peniaga yang bersama-sama dia dalam kapal itu melihat lelaki yang berjalan di atas air dan dia berkata, “Wahai wali Alloh, tolonglah kami. Janganlah tinggalkan kami!”

Lelaki itu tidak memandang ke arah orang yang memanggilnya. Para peniaga itu memanggil lagi, “Wahai wali Alloh, tolonglah kami. Jangan tinggalkan kami!”

Kemudian lelaki itu menoleh ke arah orang yang memanggilnya dengan berkata, “Ada apa?” Seolah-olah lelaki itu tidak mengetahui apa-apa.

Peniaga itu berkata, “Wahai wali Alloh, tidakkah kamu hendak mengambil berat tentang kapal yang hampir tenggelam ini?"

 Wali itu berkata, “Dekatkan dirimu kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.”

Para penumpang itu berkata, “Apa yang mesti kami buat?

Wali Alloh itu berkata, “Tinggalkan semua hartamu, jiwamu akan selamat.”

Kesemua mereka sanggup meninggalkan harta mereka. Asalkan jiwa mereka selamat. Kemudian mereka berkata, “Wahai wali Alloh, kami akan membuang semua harta kami asalkan jiwa kami semua selamat.”

Wali Allah itu berkata lagi, “Turunlah kamu semua ke atas air dengan membaca Bismillah.”

Dengan membaca Bismillah, maka turunlah seorang demi seorang ke atas air dan berjalan menghampiri wali Alloh yang sedang duduk di atas air sambil berzikir. Tidak berapa lama kemudian, kapal yang mengandungi muatan beratus ribu ringgit itu pun tenggelam ke dasar laut. Habislah kesemua barang-barang perniagaan yang mahal-mahal terbenam ke laut. Para penumpang tidak tahu apa yang hendak dibuat, mereka berdiri di atas air sambil melihat kapal yang tenggelam itu. Salah seorang daripada peniaga itu berkata lagi, “Siapakah kamu wahai wali Alloh?

Wali Allah itu berkata, “Saya Awais Al-Qorni.

Peniaga itu berkata lagi, “Wahai wali Alloh, sesungguhnya di dalam kapal yang tenggelam itu terdapat harta fakir-miskin Madinah yang dihantar oleh seorang jutawan Mesir.”

Wali Alloh berkata, “Sekiranya Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. kembalikan semua harta kamu, adakah kamu betul-betul akan membahagikannya kepada orang-orang miskin di Madinah?” 

Peniaga itu berkata, “Betul, saya tidak akan menipu, yaa wali Alloh.

Setelah wali itu mendengar pengakuan dari peniaga itu, maka dia pun mengerjakan sholat dua rakaat di atas air, kemudian dia memohon kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. agar kapal itu ditimbulkan semula bersama-sama hartanya.Tidak berapa lama kemudian, kapal itu timbul sedikit demi sedikit sehingga terapung di atas air. Kesemua barang perniagaan dan lain-lain tetap seperti asal. Tiada yang kurang. Setelah itu dinaikkan kesemua penumpang ke atas kapal itu dan meneruskan pelayaran ke tempat yang dituju.

Apabila sampai di Madinah, peniaga yang berjanji dengan wali Alloh itu terus menunaikan janjinya dengan membahagi-bahagikan harta kepada semua fakir miskin di Madinah sehingga tiada seorang pun yang tertinggal.

 

2. KAROMAH

Karomah merupakan perkara luar biasa yang berlaku ke atas ulama atau wali Alloh. Mereka adalah golongan insan yang beriman dan beramal sholeh, ikhlas dalam perkataan, perbuatan serta menjadikan seluruh kehidupan mereka hanya untuk beribadah kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Para kekasih Alloh sangat menumpukan seluruh perhatiannya kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dan Alloh pun senantiasa memperhatikannya bahkan menjadikan insan sholeh tersebut lebih dekat kepadaNYA.

Karomah berlaku sepanjang zaman sejak dahulu hingga ke hari ini. Begitu halnya dari kalangan para sahabat, ramai memiliki karomah atau kelebihan yang luar biasa. Mereka beriman dengan kejernihan kalbu, kecintaan terhadap Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dan RasulNYA melebihi segala-galanya bahkan kasih sayang mereka terhadap orang mukmin sangat mendalam, sehingga akhirnya mereka memperoleh darajat yang tinggi.

 

PENGERTIAN KAROMAH

Karomah berasal dari kata Ikroom yang mempunyai arti penghargaan dan pemberian. Alloh Subhanahu Wa Ta'ala memberikan karunia kepada wali-waliNYA berbagai kejadian luar biasa atau yang biasa disebut karOmah. Hal itu diberikan kepada mereka sebagai rohmat dari Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dan bukan kerana hak mereka. Karomah biasa disebut sebagai kejadian yang luar biasa yang diberikan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala kepada hamba-hambaNYA yang selalu meningkatkan taraf ibadahnya dan ketaatannya. Karomah itu diberikan sebagai suatu pembekalan ilmu atau sebagai ujian bagi seorang wali. Dan karomah boleh terjadi tanpa sebab dan tanpa adanya tantangan dari orang lain.

 

PENJELASAN TENTANG KEJADIAN-KEJADIAN LUAR BIASA

Alloh Subhanahu Wa Ta'ala telah menganugerahkan kepada manusia khusus dan awam 8 perkara luar biasa yang mengikuti adat yang boleh berlaku ke atas manusia. Perkara luar biasa itu bolehlah dibagikan kepada 2 bahagian yaitu, 4 perkara yang dipuji dan 4 perkara yang dikeji dan menyalahi ajaran Islam. Ramai daripada kalangan orang Islam sendiri yang keliru tentang konsep dan perbedaan perkara-perkara tersebut, kadang kala masyarakat tidak dapat membedakan yang mana baik dan yang mana mesti dijauhi.

Untuk menjelaskan kekeliruan itu maka dijelaskan serba ringkas tentang perkara-perkara tersebut, agar kita semua dapat membuat penilaian dengan sebaik-baiknya.

1. MUKJIZAT

Kejadian luar biasa yang diberikan kepada seorang nabi atau rasul untuk menguatkan kenabian dan kerasulannya.

2. KAROMAH

Kejadian luar biasa yang diberikan kepada seorang hamba yang sholih atau wali, dan ia tidak mengaku sebagai seorang nabi atau rasul.

3. MA’UNAH

Kejadian luar biasa yang diberikan kepada sebagian orang awam untuk melepaskan dirinya dari kesulitan.

4. IHAANAH

Kejadian luar biasa yang diberikan kepada seorang pembohong yang mengaku sebagai nabi, seperti yang pernah diberikan kepada Musailamah Al Kadzab. Ia pernah meludah di sebuah sumur dengan harapan agar airnya bertambah banyak, tetapi pada kenyataannya airnya mengering, dan ia pernah meludah pada mata seorang yang juling, agar matanya sembuh, tetapi pada kenyataannya mata orang itu menjadi buta.

5. ISTIDROJ

Kejadian luar biasa yang diberikan kepada orang fasik yang mengaku sebagai wakil Tuhan dengan mengemukakan berbagai dalil untuk menguatkan kebohongannya. Menurut Ijma’, biasanya seorang yang mengaku sebagai nabi, maka ia tidak akan diberi kejadian luar biasa.

Alloh Subhanahu Wa Ta'ala memberikan ISTIDROJ kepada orang-orang yang keliru dalam perbuatannya, sehingga dengan batas waktu yang Alloh Subhanahu Wa Ta'ala tentukan kemudian membinasakannya, sebagai pembelajaran bahwa apa yang ia kerjakan adalah salah. 

6. IRHAAS

Kejadian luar biasa yang diberikan kepada seorang nabi meskipun ia belum diutus, seperti adanya naungan awan bagi Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wassallam di masa kecilnya.

7. SIHIR

Suatu cara yang dapat menampilkan berbagai perbuatan yang aneh bagi yang tidak mengerti seluk beluknya, tetapi seluk beluknya itu dapat dipelajari.

8. SYA’WAZAH

Kejadian luar biasa yang biasa timbul di tangan seseorang, sehingga menimbulkan pesona bagi yang melihatnya meskipun kejadian itu tidak terjadi.

 

PERBEZAAN ANTARA KAROMAH DAN ISTIDRAJ

Seseorang yang menginginkan sesuatu, kemudian Alloh Subhanahu Wa Ta'ala memberinya, maka pemberian itu tidak menunjukkan bahwa orang itu mempunyai kedudukan mulia di sisi Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, baik pemberian itu bersifat biasa ataupun tidak. Kemungkinan pemberian itu merupakan anugerah dari Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, tetapi kemungkinan pula merupakan istidraj, yaitu pemberian sebagai ujian.

Al Istidraj mempunyai beberapa nama atau istilah yang berbagai:

1. Adakalanya seseorang dikabulkan segala permintaannya agar ia makin bertambah ingkar dan sesat dan pada akhirnya ia akan dibinasakan dalam keadaan kafir. Hal itu seperti yang disebutkan dalam firman Alloh Subhanahu Wa Ta'ala:

Nanti KAMI akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan ) dengan cara yang tidak mereka ketahui”. (Surah Al-Qolam :44)

2. Makar:

Dalam Al Qur’an disebutkan:

Maka tidak ada yang terhindar dari tipu daya Alloh kecuali orang yang rugi”. (Surah Al-‘Araf: 99)

Alloh Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

Dan mereka berbuat tipu daya, maka Alloh membalas mereka dengan tipu daya yang serupa dan DIA sebaik-baik yang membuat balasan”(Surah Ali ‘Imran: 54)

3. Al Kaid artinya tipu daya:

Dalam firman Alloh Subhanahu Wa Ta'ala disebutkan:

Mereka berusaha menipu Alloh, padahal Alloh lah yang menipu mereka”(Surah An-Nisaa’:142)

Alloh Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

“Mereka akan menipu Alloh dan orang-orang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri, tetapi mereka tidak merasakannya”.(Surah Al-Baqarah: 9)

4. Imla’ mempunyai arti memberi tangguh:

Firman Alloh Subhanahu Wa Ta'ala:

Dan janganlah orang-orang kafir itu mengira bahawa pemberian tangguh bagi mereka itu memberi kebaikan bagi mereka, tetapi hal itu terjadi agar mereka makin bertambah dosa-dosanya” (Surah Ali ‘Imran: 178)


5. Al Ihlak mempunyai arti kebinasaan:

Alloh Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

Sampai ketika mereka bergembira dengan apa yang diberikan kepada mereka, maka Kami siksa mereka dengan cara yang mendadak” (Surah Al-‘Anam: 44)

Alloh Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

“Firaun dan bala tentaranya menyombongkan diri di permukaan bumi tanpa alasan yang dibenarkan, dan mereka mengira bahwa mereka tidak akan kembali kepada Kami, maka Kami menyiksanya dan bala tentaranya, kemudian Kami menenggelamkan mereka di dalam laut” (Surah Al-Qisas: 33)

Dari ayat-ayat di atas, dapat kami simpulkan bahwa antara karomah dan istidroj perbedaannya adalah Seorang yang diberi karomah tidak pernah merasa senang atas pemberian itu, bahkan ia makin bertambah takut kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, sebab ia takut kalau pemberian karomah itu merupakan ujian atau membuat dirinya jauh dari Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Ada juga seorang wali yang dengan karomah tersebut untuk menyadarkan seseorang supaya bertaubat & kembali ke jalan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.

 Lain halnya dengan seorang yang diberi istidraj. Ia makin maharajalela, kerana ia mendapat anugerah dan ia pun tidak takut disiksa. Adapun kalau seseorang bergembira ketika ia diberi karomah, maka ia termasuk orang yang melanggar. Ini disebabkan oleh beberapa perkara antaranya:

Jika seorang diberi karomah, lalu ia bergembira, maka ia termasuk orang yang menyimpang, kerana ia merasa berhak untuk mendapatkan anugerah semacam itu disebabkan amal kebajikannya.

✓ Karomah adalah sesuatu yang di luar kebiasaan Sunnatulloh. Seorang yang diberi karomah, kemudian ia terlalu bangga dengan karomah yang diperolehnya, bererti ia telah melanggar dan telah menyimpang dari kebenaran.

✓ Seseorang yang berkeyakinan, bahwa ia berhak mendapat karomah kerana amal kebajikannya yang istiqomah, maka boleh dikatakan bahawa ia seorang yang bodoh. Seharusnya ia merasa bahwa semua amal ibadah yang ia kerjakan merupakan kewajipan baginya terhadap hak Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Seharusnya ia selalu merasa kurang pengabdiannya kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, tetapi kalau ia merasa puas, maka ia termasuk orang yang bodoh.

✓ Seseorang yang diberi karomah, seharusnya ia merasa bahwa karomah yang diberikan kepadanya hanya untuk menundukkan dirinya makin rendah dihadapan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Bila seseorang berlaku sebaliknya, maka sudah jelas orang itu mirip dengan Iblis yang merasa sombong atas kemuliaan yang diberikan kepada dirinya.

✓ Karomah itu adakalanya tidak menyebabkan seseorang menjadi mulia. Seseorang yang bangga ketika mendapat karomah, maka ia terlalu membesarkan sesuatu yang biasa. Seseorang yang membesarkan sesuatu yang biasa, maka ia sama dengan berbuat sesuatu yang sia-sia. Demikian pula, seorang wali yang bangga dengan karomah, maka ia termasuk seorang yang rendah kedudukannya.

✓ Seseorang yang sombong diri kerana kedudukannya, ia sama seperti Iblis dan Firaun. Nabi Sholallohu 'Alaihi Wassallam bersabda:

Ada tiga perkara yang menyebabkan kebinasaan seseorang. Yang terakhir adalah seorang yang membanggakan kedudukan peribadinya”.

Alloh Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

Maka terimalah apa yang AKU berikan kepadamu dan jadilah engkau orang-orang yang berterima kasih. Dan sembahlah Tuhanmu sampai engkau didatangi kematian”.

Berdasarkan ayat di atas, seseorang yang mendapat kurnia dari Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, hendaknya ia selalu rajin menyembah Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dan mensyukuri semua nikmat yang ia terima, bukannya makin bertambah ingkar.

✓ Ketika Nabi Sholallohu 'Alaihi Wassalam diberi pilihan untuk memilih, apakah beliau ingin dijadikan sebagai seorang penguasa dan seorang Nabi, ataukah beliau ingin dijadikan seorang hamba dan seorang Nabi, maka beliau memilih pilihan yang kedua. Karana itu nama beliau selalu disebut di dalam tasyahud (persaksian) setiap muslim dalam ucapan: “Wa asyhadu anna Muhammadan abduhu war rosuluh”.

✓ Seseorang yang selalu bergaul akrab dengan makhluk, maka ia tidak terlalu akrab bergaul dengan Kholiknya.

✓ Seseorang yang tidak takut dan tidak bertawakkal kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala sudah tentu ia tidak akan menjadi wali, apa lagi kalau ia selalu menyandarkan hidupnya kepada dirinya atau kepada orang lain. Jika seseorang dapat mendatangkan satu perbuatan atau kejadian yang luar biasa, pasti ia akan mengikutinya dengan pengakuan bagi dirinya, tetapi ada juga yang tidak. Bagi mereka yang dapat mengikuti dengan pengakuan bagi dirinya dan dapat mendatangkan sesuatu perbuatan atau kejadian yang luar biasa, adakalanya ia mengaku sebagai Tuhan, atau sebagai Nabi, atau sebagai wali, atau sebagai ahli sihir. Dalam perkara ini dapat kita bahagikan kepada empat bagian :

a. Ada yang mengaku sebagai Tuhan:

Ada kalanya orang yang dapat mendatangkan suatu perbuatan atau kejadian yang luar biasa, maka ia mengaku sebagai Tuhan, seperti yang dilakukan oleh Firaun dan yang akan dilakukan oleh Dajjal. Dalam keadaan seperti, ini sudah jelas, bahwa perbuatan orang itu adalah bathil.

b. Ada pula yang mengaku sebagai Nabi:

Ini boleh berlaku pada dua kemungkinan, yaitu adakalanya pengakuannya itu benar, tetapi adakalanya pengakuannya itu bohong. Jika pengakuannya itu memang benar dan ia benar-benar nabi, maka ia harus mampu untuk menunjukkan bukti kenabiannya, tetapi jika ia tidak mampu menunjukkan buktinya, maka ia adalah seorang pembohong. Namun dizaman milenial ini, yang mengaku Nabi pasti pembohong.

c. Ada yang mengaku sebagai seorang wali:

Dalam keadaan seperti ini ada yang boleh melakukannya, tetapi ada pula yang tidak mampu.

d. Ada yang mengaku sebagai ahli sihir:

Dalam situasi seperti ini ada kalanya orang-orangnya dapat membuktikan kepandaiannya, tetapi kaum Mutazilah menolak pendapat ini. Seseorang yang dapat mendatangkan perbuatan atau kejadian yang luar biasa tanpa pengakuan bagi dirinya, adakalanya ia seorang wali yang diredhai oleh Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, tetapi adakalanya pula ia seorang fasik yang banyak dosanya. Ada pula yang dapat mendatangkan berbagai kejadian luar biasa, tetapi ia tidak termasuk orang yang taat kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, bahkan orang itu selalu berbuat dosa dan maksiat. Kejadian luar biasa yang ia datangkan itu disebut Istidraj, yaitu kelebihan yang diberikan kepadanya, agar dosanya dan kejahatannya makin bertambah dan terus menerus yang akhirnya dibinasakan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dalam keadaan yang menyedihkan, seperti yang diberikan kepada Iblis dan syaitan.

 

TUJUAN KAROMAH

1. Dapat menambah keyakinan kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.

2. Untuk menguatkan kepercayaan masyarakat kepada seorang wali, seperti yang terjadi pada masa-masa terdahulu. Berbeda halnya dengan masa-masa terakhir. Kaum salaf sholih tidak pernah memerlukan karomah sedikit pun.

3. Adanya karomah merupakan bukti anugerah atau pangkat yang diberikan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. kepada seorang wali, agar pengabdiannya tetap istiqomah.

 

DALIL-DALIL WUJUDNYA KAROMAH

Andaikata Alloh Subhanahu Wa Ta'ala tidak mau memperlihatkan karomah bagi seorang mukmin, mungkin kerana Alloh Subhanahu Wa Ta'ala memang tidak ingin melakukannya, atau mungkin juga seorang mukmin itu memang belum pantas mendapatkan karomah. Adapun kemungkinan pertama, dapat memberi penilaian yang tidak baik terhadap takdir Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, tentunya hal itu dapat menyebabkan ingkar kepada Dzat Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. 

Sedangkan kemungkinan yang kedua adalah tak mungkin, sebab hal itu termasuk hal yang batil. Mengetahui Dzat Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, sifat-sifatNYA, perbuatan-perbuatanNYA, hukum-hukumNYA, nama-namaNYA, mencintaiNYA, mentaatiNYa dan senantiasa menyebutNYA dan memujiNYA, tentunya hal itu lebih mulia dari sekedar memberi se-potong roti, menundukkan seekor ular atau seekor singa.


DALIL DARI AL-QUR'AN

“Setiap kali Zakariya masuk untuk menemui Maryam di Mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: “Hai Maryam, dari mana kamu memperoleh makanan ini?”. Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Alloh”. Sesungguhnya Alloh memberi rezeki kepada siapa yang dikehendakiNya tanpa perhitungan” (Surah Al Imron: 37)

Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu, maka makanlah, minumlah dan bersenang hatilah kamu” (Suroh Maryam : 25-26)

Siti Maryam bukanlah seorang nabi. Tentunya yang terjadi padanya, seperti yang tertera pada ayat di atas, bukanlah suatu mukjizat, tetapi suatu karomah.

Ashif Ibnu Barkhiya berkata: “Aku akan membawa singgahsana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” (Suroh An Naml: 40)

Seorang hamba yang sholih yang bernama Ashif Ibnu Barkhiya mampu membawa singgasana Ratu Balqis dari Yaman ke Syam hanya dalam waktu sekelip mata. Padahal ia bukan seorang Nabi. Tentunya kemampuan luar biasa yang dimilikinya adalah karomah.

Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rohmat (kasih sayang) NYa kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu. Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam, menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda kebesaran Alloh” (Suroh Al Kahfi: 16-17)

Dan mereka tinggal dalam gua selama tiga ratus tahun dan sembilan tahun” (Suroh Al Kahfi: 25)

Pemuda Ashabul Kahfi seramai tujuh orang berasal dari Syam. Mereka hidup setelah masa Nabi Isa Al Masih. Karena mereka takut kehilangan imannya, maka mereka bersembunyi di sebuah gua untuk sesaat, tetapi mereka ditidurkan oleh Alloh  Subhanahu Wa Ta'ala selama 300 tahun. Setelah itu mereka dibangunkan kembali. Anehnya tubuh mereka tidak binasa dimakan masa, kerana itu para ulama berpendapat bahwa mereka adalah para wali bukan para nabi.

Adapun bahtera (kapal) itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut dan aku bertujuan merusaknya bahtera (kapal) itu, karana di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera (kapal).”Dan adapun anak itu, maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran.” (Suroh Al Kahfi: 79)

Dari Hadist Antara Karomah Umat Yang Terdahulu

Hadits Pertama

Dari Abdullah Ibnu Umar Rodhiallohu'anhu, beliau berkata :

“Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wassallam pernah bersabda: Ada tiga lelaki tergolong di antara orang-orang terdahulu. Pada suatu hari, ketika mereka berjalan di suatu hutan, maka mereka bermalam di suatu gua. Setelah mereka masuk ke dalam gua, tiba-tiba sebuah batu besar jatuh tepat di permukaan gua itu dan menutupinya, sehingga mereka tidak dapat keluar.

Kata salah seorang dari pada mereka: “Tidak ada yang dapat menyelamatkan kamu, kecuali jika kamu berdoa kepada Alloh dan bertawassul dengan perbuatan baik kamu."

Salah seorang di antara mereka berkata: “Dahulu aku mempunyai ibu-bapak yang telah lanjut usia, dan aku tidak pernah makan malam sebelum mereka makan. Pada suatu hari, keduanya sudah tidur ketika aku datang membawa segelas air susu. Aku tidak ingin membangunkan mereka. Aku menjaga keduanya semalaman tanpa makan dan minum, dan aku tetap memegang gelas susu itu hingga pagi. Ketika keduanya bangun, barulah kuberikan air susu itu.

Wahai Alloh, jika amalan sholihku yang satu itu benar-benar ikhlas untukMu, maka bebaskan kami dari batu besar ini”.

Dengan izin Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, batu itu bergeser sedikit dari mulut gua,tetapi mereka masih belum dapat keluar.

Selanjutnya, orang yang kedua berkata: “Dahulu, anak saudaraku termasuk orang yang paling aku cintai, aku selalu menggodanya, agar ia cinta kepadaku, tetapi ia selalu menolak.

Pada suatu ketika, ia datang kepadaku dan minta bantuan uang. Aku ingin membantunya, asalkan ia ingin bercinta denganku. Ia setuju dengan permintaanku kerana terpaksa. Ketika aku hendak memperkosanya, maka ia berkata: “Sebenarnya engkau tidak boleh memecahkan keperawananku, kecuali dengan cara yang sah”.

Maka aku segera meninggalkannya dan aku tidak minta kembali uangku. Ya Alloh, jika Engkau tahu, bahwa perbuatanku itu karana MU, maka selamatkanlah kami dari batu besar ini”.

Dengan izin Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, batu besar itu bergeser sedikit, tetapi mereka belum dapat keluar. 

Selanjutnya orang yang ketiga berkata: “Dahulu aku mempunyai banyak pegawai, aku selalu memberi upah mereka tepat pada waktunya, dan aku tidak pernah merugikan mereka.

Pada suatu kali salah seorang pegawaiku meninggalkan tempatku tanpa meminta upahnya. Selanjutnya, upah itu aku kembangkan dan aku belikan binatang ternak serta lembu abdi. Setelah beberapa waktu binatang ternak itu berkembang menjadi besar. Sampai pada suatu waktu ia datang kepadaku untuk meminta upahnya.

 Kataku: “Semua binatang ternak dan lembu abdi yang kau lihat di lembah itu adalah upahmu”.

Kata lelaki itu: “Wahai hamba Alloh, apakah engkau mempermainkan aku”.

Kataku: “Aku tidak mempermainkan kamu”. Maka ia membawa pergi semua binatang ternak dan para abdi itu.

Wahai Alloh, jika perbuatanku benar-benar ikhlas karana MU, maka bebaskanlah kami dari himpitan batu besar ini”.

Maka dengan izin Alloh Subhanahu Wa Ta'ala batu besar itu bergerak, sehingga ketiga orang itu dapat keluar dengan selamat. (Hadis Hasan Sahih, Mutthofaq 'Alaih).


Hadist Kedua

Dari Abu Hurairah Rodhiallohu'anhu sesungguhnya Nabi Sholallohu 'Alaihi Wassallam. Pernah bersabda :

Tidak ada seorang bayi yang dapat berbicara ketika masih dibuaian (gendongan) ibunya (masih bayi) kecuali tiga orang, yaitu Isa Al Masih putra Maryam, seorang bayi di masa Juroij An Nasik, dan seorang bayi lainnya. Tentang Isa putra Maryam, kamu telah mengetahui kisahnya.

Tentang Juraij, ia adalah seorang ahli ibadah dari kalangan Bani Israil. Ia mempunyai seorang ibu. Juroij gemar ibadah. Ketika ibunya rindu kepadanya, maka ia memanggil nama Juroij.

Tetapi Juroij tidak memenuhi panggilan ibunya, ia hanya berkata: “wahai Alloh, apakah sebaiknya aku memenuhi panggilan ibuku, ataukah aku meneruskan ibadahku?” Ibunya memanggilkannya sampai tiga kali, tetapi Juroij masih meneruskan ibadahnya tanpa memenuhi panggilannya.

Maka ibunya kecewa, sehingga ia berdoa : “wahai Alloh, jangan Engkau matikan putraku itu sampai setelah Engkau menemukannya dengan seorang wanita pelacur”.

Kebetulan di tempat itu, ada seorang wanita pelacur. Ia berkata: “Aku akan merayu Juroij sampai ia berbuat zina denganku”.

Maka ia mendatangi Juroij dan merayunya, tetapi Juroij tidak mempedulikannya. Akhirnya wanita pelacur itu merayu seorang petani yang kebetulan bermalam di samping tempat ibadah Juroij, sampai ia hamil dari petani itu. Selanjutnya ia mendatangi Juroij sambil membawa anak haramnya dari si petani.

Kemudian ia berkata kepada orang banyak: “Bayiku ini adalah dari hasil hubungan gelapku dengan Juroij”.

Mendengar ucapan wanita pelacur itu, maka Bani Israil mendatangi tempat ibadah Juroij, kemudian mereka menghancurkannya dan merajam Juroij secara beramai-ramai.

Maka Juroij melakukan sholat dan ia berdoa. Kemudian ia menyentuh tubuh bayi itu dengan jari telunjuknya seraya berkata: “Wahai anak bayi, siapa ayahmu?”

Anak bayi itu berkata: “Ayahku adalah seorang petani”.

Maka masyarakat Bani Israil menyesali perbuatannya terhadap Juroij dan mereka minta maaf kepadanya.

Mereka berkata: “Kalau engkau mau, kami akan membangun kembali tempat ibadahmu dari emas atau perak",

tetapi tawaran mereka ditolak oleh juroij sehingga mereka membangunnya kembali seperti semula.

Itulah kisah bayi yang dapat berbicara di masa Juroij.

Adapun kisah bayi yang lain, ada seorang wanita yang tengah menyusui anak bayinya. Ketika ada seorang pemuda tampan lewat di depannya, maka ibunya berkata: “wahai Alloh, jadikan putraku ini seperti pemuda itu.

Maka dengan spontan bayinya berkata: “wahai Alloh, janganlah Engkau jadikan aku seperti pemuda itu.”

Selanjutnya ketika ada seorang wanita yang tertuduh mencuri dan berzina sedang lewat di depan ibunya, maka ia berkata: “wahai Alloh, jangan Engkau jadikan putraku ini seperti wanita itu”.

Maka bayinya berkata: “wahai Alloh, jadikan aku sepertinya”.

Maka ibunya bertanya: “Mengapa engkau berdoa seperti itu?”

Bayinya berkata: “Pemuda tampan yang lewat di sini tadi adalah seorang yang bengis dan kejam dan aku tidak ingin menjadi sepertinya.

Adapun si wanita yang dituduh sebagai pencuri dan pelacur, sebenarnya ia bukan pencuri ataupun pelacur, dan ia hanya berkata: “Aku hanya pasrahkan diriku kepada Alloh”. (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)

ANTARA KAROMAH UMAT NABI MUHAMMAD Sholallohu 'Alaihi Wassalam.

Pertama

Dari Abu Said Al-Khudri, beliau berkata : “Pada suatu malam ketika Usaid ibnu Khudhoir sedang membaca Al Qur’an di pekarangan rumahnya, tiba-tiba kudanya melonjak-lonjak, sampai ia menghentikan bacaannya.

Kemudian ketika ia melanjutkan bacaannya lagi, anehnya, kudanya melonjak-lonjak lagi, sampai ia menghentikan bacaannya. 

Kata Usaid: “Maka aku takut kalau kudaku menginjak Yahya, putraku. Ketika aku berdiri, tiba-tiba aku lihat di atas kepalaku ada naungan cahaya dan ia membumbung ke atas lambat-lambat sampai menghilang dari pandanganku."

Kedua

Dari ummu Aisyah Rodhiallohu'anha, beliau berkata :

Abu Bakar Ash Shiddiq pernah memiliki dua puluh gantang buah kurma yang diberikan kepadaku.

Ketika saat kematiannya tiba, maka ia berkata; “Wahai putriku, tidak seorang pun yang lebih kucintai dan lebih aku takuti kesusahannya darimu, dulu aku pernah berikan kepadamu dua puluh gantang buah kurma, kalau dulu telah engkau pakai, tentunya aku tak akan mempersoalkannya, tetapi pada hari ini harta itu akan jadi harta waris setelah aku tiada. Harta itu boleh engkau bagi dengan kedua saudara lelakimu dan kedua saudara perempuanmu, bagilah harta waris itu menurut hukum Kitabulloh.”

Kata Aisyah: “Maka aku berkata: “Wahai ayah, kami tidak keberatan untuk membaginya, tetapi putrimu hanya Asma dan aku, maka siapakah putrimu yang lain?”

Kata Abu bakar: “Kini ia masih dalam perut ibunya, yaitu Habibah binti Khorijah ibnu Zaid, kulihat, ia adalah perempuan.”

Setelah ia wafat, memang benar yang lahir adalah anak perempuan, ia diberi nama Ummu Kaltsum binti Abubakar. (Hadis riwayat Malik dalam kitab Al-Muwatho’)