Jumat, 17 Juli 2020

KISAH KAROMAH SAYYID SYEIKH ABU YAZID AL BUSTHOMI

RAJA PARA MISTIK

Abu Yazid Thoifur bin Isa bin Surusyan al-Busthomi, lahir di Busthom terletak di bagian timur Laut Persi. Meninggal di Busthom pada tahun 261 H/874 M.

Beliau merupakan salah seorang Al Aqtob (pemimpin para wali Alloh Subhanahu Wa Ta'ala di eranya), yang juga sebagai salah satu Syaikh (guru) yang ada dalam silsilah dalam thoriqoh Sadziliyah dan beberapa thoriqoh yang lain.

Kakek Abu Yazid merupakan penganut agama Zoroaster (majusi) Ayahnya adalah salah satu di antara orang-orang terkemuka di Busthom.

Kehidupan Abu Yazid yang luar biasa bermula sejak ia masih berada dalam kandungan. “Setiap kali aku menyuap makanan yang kuragukan kehalalannya”, ibunya sering berkata pada Abu Yazid, “engkau yang masih berada didalam rahimku memberontak dan tidak mau berhenti sebelum makanan itu kumuntahkan kembali”.

Pernyataan itu dibenarkan oleh Abu Yazid sendiri. Setelah sampai waktunya, si ibu mengirim Abu Yazid ke sekolah untuk mempelajari Al Qur-an. Pada suatu hari gurunya menerangkan arti satu ayat dari surat Luqman yang berbunyi, “Berterima kasihlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu”.

Ayat ini sangat menggetarkan hati Abu Yazid, ia lalu meletakkan batu tulisnya dan berkata kepada gurunya, “ijinkanlah aku pulang, ada yang hendak kukatakan pada ibuku”.

Si guru memberi ijin, Abu Yazid lalu pulang kerumah.

Ibunya menyambut dengan kata-kata,”Thoifur, mengapa engkau sudah pulang ? Apakah engkau mendapat hadiah atau adakah sesuatu kejadian istimewa ?”.

Tidak” jawab Abu Yazid, “Pelajaranku sampai pada ayat dimana Alloh Subhanahu Wa Ta'ala memerintahkan agar aku berbakti kepada-Nya dan kepada engkau wahai ibu.Tetapi aku tak dapat mengurus dua rumah dalam waktu yang bersamaan. Ayat ini sangat menyusahkan hatiku. Maka wahai ibu, mintalah diriku ini kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala sehingga aku menjadi milikmu seorang atau serahkanlah aku kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala semata sehingga aku dapat hidup untuk Dia semata”.

 “Anakku” jawab ibunya, “aku serahkan engkau kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dan kubebaskan engkau dari semua kewajibanmu terhadapku. Pergilah engkau menjadi hamba Alloh Subhanahu Wa Ta'ala."

Di kemudian hari Abu Yazid berkata, “Kewajiban yang semula kukira sebagai kewajiban yang paling ringan, ternyata merupakan kewajiban yang paling utama. Yaitu kewajiban untuk berbakti kepada ibuku. Di dalam berbakti kepada ibuku, itulah kuperoleh segala sesuatu yang kucari, yakni segala sesuatu yang hanya bisa dipahami lewat tindakan disiplin diri dan pengabdian kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala"

Kejadiannya adalah sebagai berikut:

Pada suatu malam, ibuku meminta air kepadaku. Maka aku pun mengambilnya, ternyata didalam tempayan kami tak ada air. Ku lihat dalam kendi, tetapi kendi itu pun kosong. Oleh karena itu, aku pergi ke sungai lalu mengisi kendi tersebut dengan air. Ketika aku pulang, ternyata ibuku sudah tertidur. Malam itu udara terasa dingin. Kendi itu tetap dalam rangkulanku. Ketika ibuku terjaga, ia meminum air yang kubawa kemudian mendo’akanku. Waktu itu terlihatlah olehku betapa kendi itu telah membuat tanganku kaku."

Mengapa engkau tetap memegang kendi itu ?” ibuku bertanya.

“Aku takut ibu terjaga sedang aku sendiri terlena”, jawab Abu Yazid.

Kemudian ibu berkata kepadaku, “Biarkan saja pintu itu setengah terbuka”.

"Sepanjang malam aku berjaga-jaga agar pintu itu tetap dalam keadaan setengah terbuka dan agar aku tidak melalaikan perintah ibuku. Hingga akhirnya fajar terlihat lewat pintu, begitulah yang sering kulakukan berkali-kali."

Abu Yazid melakukan disiplin diri dengan terus menerus dan berpuasa di siang hari dan bertirakat sepanjang malam. Ia belajar di bawah bimbingan seratus tiga belas guru spiritual dan telah memperoleh manfaat dari setiap pelajaran yang mereka berikan.

Diantara guru-gurunya itu ada seorang yang bernama syaikh Shodiq.

Ketika Abu Yazid sedang duduk dihadapannya, tiba-tiba Shodiq berkata kepadanya, ”Abu Yazid, ambilkan buku yang di jendela itu”.

”Jendela? Jendela yang mana?”, tanya Abu Yazid.

”Telah sekian lama engkau belajar di sini dan tidak pernah melihat jendela itu?” kata syaikh Shodiq

"Tidak”, jawab Abu Yazid,“apakah peduliku dengan jendela. Ketika menghadapmu, mataku tertutup terhadap hal-hal lain. Aku tidak datang kesini untuk melihat segala sesuatu yang ada di sini”.

”Jika demikian”, kata si guru,” kembalilah ke Busthom. Pelajaranmu telah selesai”.

Abu Yazid mendengar bahwa di suatu tempat ada seorang guru besar. Dari jauh Abu Yazid datang untuk menemuinya. Ketika sudah dekat, Abu Yazid menyaksikan betapa guru yang termasyhur itu meludah ke arah kota Makkah (diartikan menghina kota Makkah), karena itu segera ia memutar langkahnya. ”Jika ia memang telah memperoleh semua kemajuan itu dari jalan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala”, Abu Yazid berkata mengenai guru tadi, ”niscaya ia tidak akan melanggar hukum seperti yang dilakukannya”.

Diriwayatkan bahwa rumah Abu Yazid hanya berjarak empat puluh langkah dari sebuah masjid, ia tidak pernah meludah ke arah jalan dan menghormati masjid itu. Setiap kali Abu Yazid tiba di depan sebuah masjid, beberapa saat lamanya ia akan berdiri terpaku dan menangis.

”Mengapa engkau selalu berlaku demikian ?” tanya salah seseorang kepada Abu Yazid.

“Aku merasa diriku sebagai seorang wanita yang sedang haid. Aku merasa malu untuk masuk dan mengotori masjid”, jawab Abu Yazid.

(Lihatlah do’a Nabi Adam Alaihis Salam atau do’a Nabi Yunus Alaihis Salam “LAA ILAHA ILA ANTA SUBHANAKA INNI KUNTUM MINADHOLIMIN (Tidak ada tuhan melainkan Engkau ya Alloh, sesungguhnya aku ini termasuk orang-orang yang dholim)".

Atau lihat do’a Abunawas,’ "Ya Alloh kalau Engkau masukkan aku ke dalam sorga, rasanya tidaklah pantas aku berada di dalamnya. Tetapi kalau aku Engkau masukkan ke dalam neraka, aku tidak akan tahan, aku tidak akan kuat ya Alloh, maka terimalah saja taubatku."

Suatu ketika Abu Yazid di dalam perjalanan, ia membawa seekor unta sebagai tunggangan dan pemikul perbekalannya.

”Binatang yang malang, betapa berat beban yang engkau tanggung. Sungguh kejam!”, seseorang berseru.

Setelah beberapa kali mendengar seruan ini, akhirnya Abu Yazid menjawab, “Wahai anak muda, sebenarnya bukan unta ini yang memikul beban”.

Kemudian si pemuda meneliti apakah beban itu benar-benar berada diatas punggung onta tersebut. Barulah ia percaya setelah melihat beban itu mengambang satu jengkal di atas punggung unta dan binatang itu sedikitpun tidak memikul beban tersebut.

“Maha besar Alloh, benar-benar menakjubkan!”, seru si pemuda.

”Jika kusembunyikan kenyataan yang sebenarnya mengenai diriku, engkau akan melontarkan celaan kepadaku”, kata Abu Yazid kepadanya. “Tetapi jika kujelaskan kenyataan itu kepadamu, engkau tidak dapat memahaminya. Bagaimana seharusnya sikapku kepadamu?”

MI’ROJ

Abu Yazid berkisah, “Dengan tatapan yang pasti aku memandang Alloh Subhanahu Wa Ta'ala setelah Dia membebaskan diriku dari semua makhluk-NYA, menerangi diriku dengan Cahaya-NYA, membukakan keajaiban-keajaiban rahasia-NYA dan menunjukkan kebesaran-NYA kepadaku. Setelah menatap Alloh Subhanahu Wa Ta'ala aku pun memandang diriku sendiri dan merenungi rahasia serta hakekat diri ini. Cahaya diriku adalah kegelapan jika dibandingkan dengan Cahaya-NYA, kebesaran diriku sangat kecil jika dibandingkan dengan kebesaran-NYA, kemuliaan diriku hanyalah kesombongan yang sia-sia jika dibandingkan dengan kemuliaan-NYA. Di dalam Alloh Subhanahu Wa Ta'ala segalanya suci sedang didalam diriku segalanya kotor dan cemar. Bila kurenungi kembali, maka tahulah aku bahwa aku hidup karena cahaya Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Aku menyadari kemuliaan diriku bersumber dari kemuliaan dan kebesaran-NYA. Apapun yang telah kulakukan, hanya karena keMaha Kuasaan-NYA. Apa pun yang telah terlihat oleh mata lahirku, sebenarnya melalui Dia. Aku memandang dengan mata keadilan dan realitas. Segala kebaktianku bersumber dari Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, bukan dari diriku sendiri, sedang selama ini aku beranggapan bahwa akulah yang berbakti kepada-NYA."

"Wahai Alloh, Hiasilah diriku dengan ke-Esaan-MU, sehingga apabila hamba-hamba-MU memandangku yang terpandang oleh mereka adalah ciptaan-MU. Dan mereka akan melihat Sang Pencipta mata, bukan diriku ini”.

"Keinginanku ini dikabulkan-Nya. Ditaruh-Nya mahkota kemurahan hati ke atas kepalaku dan Ia membantuku mengalahkan jasmaniku."

 Setelah itu, DIA berkata, “temuilah hamba-hamba-KU itu”.

Maka kulanjutkan pula pengembaraan yang tak berkesudahan di lautan tanpa tepi itu untuk beberapa lama, aku katakan, “Tidak ada seorang manusia pun yang pernah mencapai kemuliaan yang lebih tinggi dari pada yang telah kucapai ini. Tidak mungkin ada tingkatan yang lebih tinggi daripada ini”.

Tetapi ketika kutajamkan pandangan ternyata kepalaku masih berada di telapak kaki seorang Nabi. Maka sadarlah aku, bahwa tingkat terakhir yang dapat dicapai oleh manusia-manusia suci hanyalah sebagai tingkatan awal dari kenabian. Mengenai tingkat terakhir dari kenabian tidak dapat kubayangkan.

Kemudian ruhku menembus segala penjuru di dalam kerajaan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.

Surga dan neraka ditunjukkan kepada ruhku itu tetapi ia tidak peduli.

Apakah yang dapat menghadang dan membuatnya peduli ?.

Semua sukma yang bukan Nabi yang ditemuinya tidak dipedulikannya.

Ketika ruhku mencapai sukma manusia kesayangan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, Nabi Muhammad Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wassallam, terlihatlah olehku seratus ribu lautan api yang tiada bertepi dan seribu tirai cahaya. Seandainya ku jejakkan kaki ke dalam lautan api yang pertama itu, niscaya aku hangus binasa.

Aku sedemikian gentar dan bingung sehinga aku menjadi sirna.

Tetapi betapa pun besar keinginanku, aku tidak berani memandang tiang perkemahan Muhammad Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wassallam. Walaupun aku telah berjumpa dengan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, tetapi aku tidak berani berjumpa dengan Muhammad Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wassallam.

Kemudian Abu Yazid berkata, “Ya Alloh, segala sesuatu yang telah terlihat olehku adalah aku sendiri. Bagiku tiada jalan yang menuju kepada-MU selama aku ini masih ada. Aku tidak dapat menembus ke-aku-an ini, apakah yang harus kulakukan?”

Maka Abu Yazid mendengar perintah: “Untuk melepas ke-aku-an-mu itu ikutilah kekasih Kami, Muhammad Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wassallam. Usaplah matamu dengan debu kakinya dan ikutilah jejaknya."

Maka terjunlah aku ke dalam lautan api yang tak bertepi dan kutenggelamkan diriku kedalam tirai-tirai cahaya yang mengelilingi Muhammad Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wassallam. Dan kemudian tak kulihat diriku sendiri, yang kulihat Muhammad Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wassallam.

Aku terdampar dan kulihat Abu Yazid berkata, "aku adalah debu kaki Muhammad Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wassallam, maka aku akan mengikuti jejak Muhammad Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wassallam."

Suatu hari Abu Yazid berjalan-jalan dengan beberapa orang muridnya. Jalan yang sedang mereka lalui sempit dan dari arah yang berlawanan datanglah seekor anjing. Abu Yazid menyingkir kepinggir untuk memberi jalan kepada binatang itu. Salah seorang murid tidak menyetujui perbuatan Abu Yazid ini dan berkata, ”Alloh Yang Maha Besar telah memuliakan manusia di atas segala makhluk-makhluk-NYA. Abu Yazid adalah “Raja diantara kaum mistik”, tetapi dengan ketinggian martabatnya itu beserta murid-muridnya yang taat masih memberi jalan kepada seekor anjing. Apakah pantas perbuatan seperti itu ?” 

Abu Yazid menjawab, Anak muda, anjing tadi secara diam-diam telah berkata kepadaku, ‘Apakah dosaku dan apakah pahalamu pada awal kejadian sehingga aku berpakaian kulit anjing dan engkau mengenakan jubah kehormatan sebagai raja diantara para mistik?’. Begitulah yang sampai dalam pikiranku dan karena itulah aku memberi jalan kepadanya”.

Ada seorang pertapa di antara tokoh suci terkenal di Busthom yang mempunyai banyak pengikut dan pengagum, tetapi ia sendiri senantiasa mengikuti pelajaran yang diberikan oleh Abu Yazid.

Dengan tekun ia mendengarkan ceramah-ceramah Abu Yazid dan duduk bersama sahabat-sahabat beliau. Pada suatu hari berkatalah ia kepada Abu Yazid, “pada hari ini genap tiga puluh tahun lamanya aku berpuasa dan memanjatkan do’a sepanjang malam sehingga aku tidak pernah tidur. Namun pengetahuan yang engkau sampaikan ini belum pernah menyentuh hatiku. Walau demikian aku percaya kepada pengetahuan itu dan senang mendengarkan ceramah-ceramahmu”.

Abu Yasid menjawab: “Walaupun engkau berpuasa siang malam selama tiga ratus tahun, sedikitpun dari ceramahku ini tidak akan dapat engkau hayati”.

“Mengapa demikian ?”, tanya si murid.

“Karena matamu tertutup oleh dirimu sendiri”, jawab Abu Yazid.

“Apakah yang harus kulakukan ?”, tanya si murid pula.

“Jika kukatakan, pasti engkau tidak mau menerimanya”, jawab Abu Yazid.

“Akan kuterima !. Katakanlah kepadaku agar kulakukan seperti yang engkau petuahkan”. Jawab si murid.

“Baiklah!”, jawab Abu Yazid. “Sekarang ini juga, cukurlah janggut dan rambutmu. Tanggalkan pakaian yang sedang engkau kenakan dan gantilah dengan cawat yang terbuat dari bulu domba. Gantungkan sebungkus kacang dilehermu, kemudian pergilah ke tempat ramai. Kumpulkan anak-anak sebanyak mungkin dan katakan pada mereka, ”Akan kuberikan sebutir kacang kepada setiap orang yang menampar kepalaku”.

"Dengan cara yang sama pergilah berkeliling kota, terutama sekali ke tempat dimana orang-orang sudah mengenalmu. Itulah yang harus engkau lakukan”.

“Maha besar Alloh! Tiada Tuhan kecuali Alloh”, cetus si murid setelah mendengar kata-kata Abu Yazid itu.

“Jika seorang kafir mengucapkan kata-kata itu niscaya ia menjadi seorang Muslim”, kata Abu Yazid. “Tetapi dengan mengucapkan kata-kata yang sama engkau telah mempersekutukan Alloh”.

Mengapa begitu ?”, tanya si murid.

“Karena engkau merasa bahwa dirimu terlalu mulia untuk berbuat seperti yang telah kukatakan tadi. Kemudian engkau mencetuskan kata-kata tadi untuk menunjukkan bahwa engkau adalah seorang penting, dan bukan untuk memuliakan Alloh. Dengan demikian bukankah engkau telah mempersekutukan Alloh ?”, jawab Abu Yazid.

“Saran-saranmu tadi tidak dapat kulaksanakan. Berikanlah saran-saran yang lain”, si murid keberatan.

“Hanya itu yang dapat kusarankan”, Abu Yazid menegaskan.

 “Aku tak sanggup melaksanakannya”, si murid mengulangi kata-katanya.

 “Bukankah telah aku katakan bahwa engkau tidak akan sanggup untuk melaksanakannya dan engkau tidak akan menuruti kata-kataku”, kata Abu Yazid. (Besi mesti dipanasi untuk dijadikan pedang, batu kotor mesti digosok supaya jadi berlian. “Gosoklah berlian imanmu dengan LAA ILLAHA ILALLOH”. Sambung Abu Yazid.

"JADIDU IMANAKUM BII LAA ILLAHA ILALLAH (perbaikilah iman kalian dengan kalimat LAA ILLAHA ILALLOH). Tambah Abu Yazid.

Engkau dapat berjalan di atas air?”, orang-orang berkata kepada Abu Yazid.

“Sepotong kayupun dapat melakukan hal itu”, jawab Abu Yazid.

“Engkau dapat terbang di angkasa?”. Tanya orang-orang itu pada Abu Yazid.

“Seekor burung pun dapat melakukan itu”. Kata Abu Yazid.

“Engkau dapat pergi ke Ka’bah dalam satu malam”. Kata orang-orang itu.

”Setiap orang sakti dapat melakukan perjalanan dari India ke Demavand dalam satu malam”. Abu Yazid menjawabnya.

 “Jika demikian apakah yang harus dilakukan oleh manusia-manusia sejati ?”, mereka bertanya kepada Abu Yazid.

Abu Yazid menjawab, “Seorang manusia sejati tidak akan menggantungkan hatinya kepada selain Alloh Subhanahu Wa Ta'ala."

Sedemikian khusyuknya Abu Yazid dalam berbakti kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, sehingga setiap hari apabila ditegur oleh muridnya, yang senantiasa menyertainya selama 20 tahun, ia akan bertanya,”Anakku, siapakah namamu ?”

Suatu ketika si murid berkata pada Abu Yazid, "Guru, apakah engkau memperolok-olokkanku. Telah 20 tahun aku mengabdi kepadamu, tetapi, setiap hari engkau menanyakan namaku”.

Anakku”, Abu Yazid menjawab, "aku tidak memperolok-olokkanmu. Tetapi nama-NYA telah memenuhi hatiku dan telah menyisihkan nama-nama yang lain. Setiap kali aku mendengar sebuah nama yang lain, segeralah nama itu terlupakan olehku”.

Abu Yazid mengisahkan:

Suatu hari ketika sedang duduk-duduk, datanglah sebuah pikiran ke dalam benakku bahwa aku adalah Syaikh dan tokoh suci zaman ini.

Tetapi begitu hal itu terpikirkan olehku, aku segera sadar bahwa aku telah melakukan dosa besar.

Aku lalu bangkit dan berangkat ke Khurazan. Di sebuah persinggahan aku berhenti dan bersumpah tidak akan meninggalkan tempat itu sebelum Alloh Subhanahu Wa Ta'ala mengutus seseorang untuk membukakan hatiku.

Tiga hari tiga malam aku tinggal di persinggahan itu. Pada hari yang ke-empat kulihat seseorang yang bermata satu dengan menunggang seekor unta sedang datang ke tempat persinggahan itu.

Setelah mengamati dengan seksama, terlihat olehku tanda-tanda kesadaran Ilahi di dalam dirinya. Aku mengisyaratkan agar unta itu berhenti lalu unta itu segera menekukkan kaki-kaki depannya.

Lelaki bermata satu itu memandangiku. “Sejauh ini engkau memanggilku”, katanya,” hanya untuk membukakan mata yang tertutup dan membukakan pintu yang terkunci serta untuk menenggelamkan penduduk Bustham bersama Abu Yazid?”

Aku jatuh lunglai. Kemudian aku bertanya kepada orang itu, "Darimanakah engkau datang?”

“Sejak engkau bersumpah itu telah beribu-ribu mil yang kutempuh”, jawab lelaki bermata satu penunggang onta tadi.

kemudian ia menambahkan, "berhati-hatilah Abu Yazid, Jagalah hatimu!”

Setelah berkata demikian ia berpaling dariku dan meninggalkan tempat itu. Menolak mereka hanya karena keingkaran mereka. Segala sesuatu yang kulakukan hanyalah debu. Kepada setiap perbuatanku yang tidak berkenan kepada-MU limpahkanlah ampunan-MU. Basuhlah debu keingkaran dari dalam diriku karena akupun telah membasuh debu kelancangan karena mengaku telah mematuhi-MU.

Kemudian Abu Yazid menghembuskan nafas terakhirnya dengan menyebut nama Alloh Subhanahu Wa Ta'ala pada tahun 261 H /874 M.

DEBAT DENGAN PENDETA SAM'AN

Abu Yazid Al Bustomi seorang ahli Sufi yang dikejutkan oleh mimpinya supaya pergi ke gereja Sam'an. Tiga kali mimpinya itu berulang. Lalu ia bersiap sedia dengan pakaian dan cara yang diberitahu dalam mimpinya.

Ia masuk ke gereja Sama'an tanpa disedari oleh Paderi-paderi yang hadir. Dia sama-sama menanti kedatangan ketua Paderi. Setelah ketua Paderi datang, ketua Paderi itu tidak dapat berucap. Dia tahu ada orang lain, orang Islam di dalam gereja itu. Katanya, ”ada orang yang percaya kepada Syariat Muhammad di dalam gereja ini.”

Semua paderi menjadi gempar dan mereka mau orang itu di bunuh. Namun ketua paderi menghalang, sebaliknya ketua paderi meminta orang itu bangun supaya mereka dapat mengenalinya.

Abu Yazid Al-Bustomi pun bangun, tanpa rasa takut. Menjawab 50 pertanyaan dalam satu soal.

Ketua paderi berkata, “wahai pengikut Muhammad, saya akan mengajukan pertanyaan kepada kamu. Jika kamu dapat menjawab semuanya dengan benar, maka saya akan mengikut agama kamu. Namun jika kamu tidak dapat menjawabnya, maka kami akan membunuh kamu.”

Jawab Abu Yazid, “baiklah! Tanyalah apa saja yang kamu ingin tanyakan.”

Ketua paderi itu mengemukakan 50 soalan berterusan dan selepas ini Abu Yazid menjawabnya dengan tepat.

 Kata Abu Yazid, “saya sudah jawab semua pertanyaan tuan. Sekarang ada lagikah soalan-soalan lain?”

Semua pendeta menjawab, “tidak ada lagi,”

Kemudian Abu Yazid mengemukakan pertanyaan kepada mereka. “beritahu saya kunci Surga dan Neraka langit.”

Tidak seorang pun yang dapat menjawabnya dan mereka mengaku bahwa memang mereka tidak tahu jawabannya. Baru satu soalan sudah tidak dapat dijawab sedangkan Abu Yazid telah menjawab berpuluh persoalan.

Mereka meminta ketua paderi menjawab, namun ia membisu. Katanya, “bukan saya tidak mau menjawab, tetapi saya takut kamu semua tidak bersetuju.”

Mereka yang hadir mendengar kata-kata ketua paderi itu. Akhirnya mereka mendesak juga dan bersedia untuk bersetuju dan menerima kata-kata ketua mereka.

“bahwa kunci Surga dan kunci langit itu tidak lain ialah “LAA ILAHA ILLALLOH HU MUHAMMADDAR ROSULUULOH.” Tegas ketua paderi.

Mereka semua tersentak, terdiam. Lalu Abu Yazid berkata, “memang benar kata ketua kamu ini.”
Semua paderi memeluk Islam.

Abu Yazid menuntut janji kepada ketua paderi dan persetujuan pengikut-pengikutnya.

“Sahabat-sahabat sekalian percayalah bahwa apa yang saya beritahu itu adalah benar. Saya tidak didesak oleh mana-mana tekanan. Memang sudah lama saya fikirkan hendak menyampaikan perkara ini kepada sahabat-sahabat semua, tetapi saya bimbang sahabat-sahabat tidak akan percaya kepada saya lagi. Saya hanya menunggu waktu.” kata ketua padri.

“Dari mana tuan mengetahui perkara ini?” Tanya salah seorang paderi.

“Dari ketua sebelum saya.” Jelas ketua paderi.

“Sebelum ketua itu meninggal dunia dia telah bersumpah bahwa perkara yang dikatakan itu adalah benar.” Sambung ketua paderi itu.

“Kalau begitu, apa lagi yang kita tunggu!”, kata seorang paderi.

Ketua paderi dan pengikut-pengikutnya semuanya memeluk Islam disebabkan oleh Abu Yazid.

Ilmu Abu Yazid telah menyelamatkan dari pada maut. Ilmu ketua paderi telah menyelamatkan daripada kesesatan dan ilmu kedua-duanya telah menutup tabir kejahilan dan menyingkap tabir kebenaran dan Islam!

1. Yang Satu Tidak Ada Duanya,

Kewujudan Alloh Maha Esa. Dia Tuhan yang tunggal tiada sekutu baginya.

2. Yang Dua Tiada Tiganya,

Malam dan siang. Apabila pergi malam datanglah siang dan apabila pergi siang datanglah malam.

3. Yang Tiga Tiada Empatnya,

Kursi, Kalam dan Arasy Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.

4. Yang Empat Tiada Limanya,

Taurat, Injil, Zabur dan Al-Quran.

5. Yang Lima Tiada Enamnya,

Islam telah memfardhukan solat lima waktu: Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isyak dan Shubuh.

6. Yang Enam Tiada Tujuhnya,

Hari-hari Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. telah menciptakan langit dan bumi. Ini semua tersebut di dalam Kitab-kitab suci juga.

7. Yang Tujuh Tiada Delapannya,

Tujuh petala langit dan tujuh lapis bumi yang disebut di dalam Kitab Suci juga.

8. Yang Delapan Tiada Sembilannya,

Bilangan Malaikat yang memikul Arasy Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. yang disebutkan di dalam Kitab Suci (artinya): dan akan memikul Arasy Tuhan kamu pada hari (Kiamat) itu adalah delapan Malaikat.

9. Yang Sembilan Tiada Sepuluh

Bilangan kaum daripada golongan manusia yang menjadi kerusakan bumi Alloh Subhanahu Wa Ta'ala., sebagaimana yang tersebut di dalam Kitab Suci. 

Artinya: "Di Dalam kota itu dahulu terdapat sembilan kumpulan yang menjadi perusak bumi, mereka tidak pernah melakukan yang baik."

10. Sepuluh Yang Sempurna

Kewajiban puasa sepuluh hari atas orang yang berihram haji sebagaimana firman Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.

Artinya: "Maka hendaklah ia (orang yang berihram haji) berpuasa tiga hari semasa haji dan tujuh hari setelah balik ke negerinya. Itulah dia sepuluh yang sempurna."

11. Yang Sebelas

Saudara-saudara Nabi Yusuf Alaihis Salam.

12. Yang Dua Belas

Bilangan bulan dalam setahun.

13. Yang Tiga Belas

Mimpi Nabi Yusuf Alaihis Salam yang tersebut di dalam Kitab Suci:

"Sesungguhnya Aku melihat sebelas bintang, matahari dan bulan."

Jumlahnya tiga belas.

14. Orang Yang Berdusta, Kemudian Dapat Masuk Surga

Mereka ialah saudara-saudara Nabi Yusuf Alaihis Salam. Mereka memberitahu ayah mereka Nabi Yakub Alaihis Salam bahwa Yusuf telah di makan serigala. Mereka membawa pakaiannya yang dilumur dengan darah kambing. Perkara yang mereka lakukan itu adalah suatu dusta.

15. Orang Yang Benar, Tetapi Mereka Dimasukkan Ke Dalam Neraka

Mereka ialah kaum Yahudi dan Nasrani, sesuai dengan firman Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.

Artinya: "Telah berkata Kaum Yahudi, kaum Nasrani itu tidak benar dan berkata kaum Nasrani pula kaum Yahudi itu tidak benar. Kedua-dua kaum itu berkata benar pada tuduhan mereka antara satu dengan lain, namun mereka tidak mau tunduk kepada kebenaran yang ada di hadapan mereka yaitu mempercayai agama yang di bawa oleh Nabi Muhammad Shollallohu Alaihi Wasalam sebagai agama yang sebelumnya. Lantaran itu mereka menduduki neraka." 

16. Tempat Roh Dalam Badan Manusia

Roh berada di dalam tubuh badan manusia yang hanya diketahui hakikatnya oleh Alloh Subhanahu Wa Ta'ala kerana roh adalah merupakan urusan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, berdasarkan firmannya.

Artinya: "katakan roh itu dari perkara urusan Tuhanku."

17. Al Zariyati Zarwa

Nama empat macam angin.

18. Al Hamilati Wakra

Awan gemawan di dada langit.

19. Al Jariyati Yusra

Perahu-perahu yang belayar di laut.

20. Al Mukassimati Amra

Malaikat-malaikat yang bertugas membahagi-bahagikan rezeki kepada manusia pada malam Nisfu Sya'ban.

21. Yang Empat Belas

Tujuh petala langit dan tujuh lapis bumi yang sesuai dengan firman Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.

Artinya: "Maka Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. berfirman kepadanya yaitu kepada tujuh petala langit dan tujuh lapis bumi, datanglah kepada aku secara patuh terhadap perintahku ataupun secara terpaksa. Maka berkata kedua-dua langit dan bumi, “kami akan datang kepadamu secara patuh dan taat.”

22. Kubur Yang Berjalan Dengan Penghuninya

Ikan besar yang menelan Nabi Yunus Alaihis Salam. Nabi Yunus Alaihis Salam di bawa oleh ikan ke mana-mana saja yang akhirnya dimuntahkan di pantai dengan izin Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.

23. Yang Bernafas, Tetapi Tidak Mempunyai Roh.

Waktu subuh seperti firman Alloh Ta'ala.

Artinya: "Demi subuh apabila ia terlepas."

24. Air Yang Tidak Turun Dari Langit Dan Tidak Keluar Dari Bumi.

Air yang dikirim oleh ratu Balqis kepada Nabi Sulaiman Alaihis Salam di dalam botol yaitu air peluh kuda.

25. Empat Yang Bukan Daripada Golongan Manusia, Malaikat Dan Bukan Daripada Punggung Lelaki Dan Daripada Perempuan.

Kibas yang di bawa Jibril Alaihis Salam sebagai korban ganti Nabi Ismail Alaihis Salam, unta Nabi Sholleh Alaihis Salam yang disembelih kaumnya, untuk Nabi Adam dan Sayyidatuna Hawa Alaihis Salam.

26. Satu Ciptaan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, Lalu Diingkarinya Sebagai Satu Yang Buruk.

Suara keledai yang tidak sedap didengar, sesuai dengan firman Alloh Taala.

Artinya: "sesungguhnya suara yang paling buruk adalah suara keledai."

27. Darah Yang Mula-mula Mengalir Ke Bumi.

Darah Habil yang dibunuh oleh saudaranya Kabil.

28. Sesuatu Ciptaan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, Lalu Diangkat Sesuatu Yang Berat.

Helah kaum wanita, seperti Firman Alloh Ta'ala.

Artinya: "Sesungguhnya tipu helah wanita adalah suatu tipu helah besar atau berat."

29. Pada Mulanya Sebatang Kayu Kemudian Menjadi Roh.

Tongkat Nabi Musa Alaihis Salam

30. Wanita Yang Paling Utama.

Sayyidatuna Hawa Alaihis Salam, ibu sekalian manusia, kemudian Khatijah dan Aisyah, Asiah (isteri Firaun) dan Maryam Binti Imran.

31. Gunung Yang Paling Utama

Gunung Tursina. Gunung tempat Nabi Musa Alaihis Sallam dipanggil berdialog dengan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala

35. Tentang Attaamah

Hari Kiamat.

36. Pohon Yang Mempunyai 12 Ranting, Setiap Ranting Ada 30 Daun, Setiap Daun Ada Lima Kembang, Dua Bunga Di Matahari Dan Tiga Bunga Di Tepi Kegelapan.

Pohon itu “tahun” yang padanya ada 12 bulan, satu bulan ada 30 hari. Lima itu ialah lima waktu sholat.

37. Satu Benda Yang Pergi Haji Dan Thowaf Di Baitullah, Tetapi Tidak Mempunyai Roh Dan Tidak Wajib Haji.

Bahtera Nabi Nuh Alaihis Salam.

38. Empat Jenis Air Yang Lain Rupanya Dan Rasanya, Tetapi Sumbernya Satu.

Air mata, air telinga, air hidung dan air mulut. Air mata masin, air telinga pahit, air hidung masin dan air mulut tawar.

39. Nakir, Fatil Dan Kitmir.

Nakir ialah titik yang terdapat pada kulit luar benih.

Fatil ialah titik yang terdapat di dalam benih.

Kitmir ialah kulit yang membaluti benih.

40. Sabid dan Labad

Bulu kambing biri-biri dan kambing kasi.

41. Sam dan Ram.

Makhluk yang telah ada sebelum wujud Nabi Adam Alaihis Salam.

42. Maksud Keledai Makwak.

Keledai Makwak tanda ia melihat syaitan, lalu ia berkata: Alloh melaknatnya.

43. Maksud Anjing Menyalak.

Anjing menyalak bermaksud: Awas! Celaka bagi penghuni-penghuni neraka dari kemurkaan Alloh Yang Maha Berkuasa.

44. Maksud Jeritan Kuda.

Kuda menjerit bermaksud: Maha Suci Alloh yang memeliharaku ketika tentera berpadu menyerang musuh dengan penuh semangat.

45. Maksud Jeritan Unta

Unta menjerit membawa maksud: Hasbiyallahu Wakafa Billahi Wakila

Artinya: Memadailah Alloh bagiku dan cukuplah Dia tempat aku menyerahkan diriku.

46. Maksud Nyanyian Burung Bulbul.

Nyanyian Bulbul bermaksud: Maha Suci Alloh pada waktu pagi dan pada waktu petang.

47. Maksud Bunyi Katak.

Bunyi katak bermaksud: Maha Suci Tuhan yang di sembah di mana-mana saja ada makhluknya dan di tempat-tempat yang tiada penghuninya.

48. Maksud Kata-kata Burung Nakus.

Maksud kata-katanya: Maha Suci Alloh sungguh-sungguh! Wahai anak Adam! Lihatlah di barat dan di timur di dunia itu, adakah makhluk yang menongkat langit?.

49.Yaitu: Lebah.

adalah dalam Qur’an suroh An Nahl ayat 68:

"Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia”.
Jadi lebah juga Rosul/utusan Alloh, karena diberi wahyu. Wallahu a’lam.

50.Di Mana Malam Ketika Siang Dan Di Mana Siang Ketika Malam.

Kedua-duanya berada di dalam ilmu Alloh Taala yang amat sulit.


ABU YAZID DAN ANJING HITAM

Syahdan, pada zaman dahulu, ada seorang ulama besar yang sangat dihormati. Orang-orang di sekitarnya memanggi Syaikh Yazid –lengkapnya Syaikh Abu Yazid Al-Bustomi. Santrinya banyak. Mereka belajar di bawah bimbingan Sang Guru. Mereka datang dari berbagai penjuru dunia; ada yang dari Irak, Iran, Arab, Tanah Gujarat, Negeri Pasai dan sebagainya. Mereka setia dan tunduk patuh atas semua nasihat dan bimbingan Sang Mursyid.

Selain Syaikh Yazid punya santri di pesantrennya, banyak pula masyarakat yang menginginkan nasihat dari beliau. Mereka pun datang dari berbagai penjuru dunia. Ada yang menanyakan tentang perjalanan spiritual yang sedang dihayatinya, ada pula yang bertanya cara menghilangkan penyakit-penyakit hati, bahkan tak jarang yang menginginkan usaha mereka lancar serta keperluan-keperluan yang Sifatnya pragmatis dan teknis lainnya. Semuanya dilayani dan diterima dengan baik oleh Sang syaikh.

Meski demikian, kadang-kadang terjadi pula tamu yang datang dengan maksud menguji dan mencobai Sang syaikh: apakah syaikh Yazid itu memang benar-benar waskita (tajam penglihatan mata batinnya)?

Para tamu yang datang, bukan hanya didominasi kalangan lelaki saja, tetapi juga ada perempuan sufi yang belajar kepadanya. Mereka ingin ber-taqorrub (mendekatkan diri) kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala sebagaimana yang dilalui Sang syaikh. Di antara mereka ada yang berhasil, ada pula yang gagal di tengah jalan. Semua itu, kata Syaikh Yazid, memang bergantung pada ketekunannya masing-masing. Beliau hanya mengarahkan dan membimbing; semuanya bergantung dari keputusan-NYA jua.

Karena ke'Alim-annya itu, akhirnya masyarakat memang benar-benar menganggap bahwa Syaikh Yazid adalah sosok yang patut dijadikan tauladan atau panutan. Bukan hanya itu. Para kalangan sufi pun menghormati kedalaman rasa Sang Syaikh. Para sufi pun banyak yang mengajak diskusi, konsultasi, musyawarah dan membahas soal-soal spiritual yang pelik-pelik. Nglangut. Hadir dan menghadirkan. Berpisah dan bersatu.

Kedalaman rasa Sang Syaikh, misalnya, ia bisa saja merasa kesepian atau “menyendiri” ketika berkumpul dengan orang banyak. Di tempat lain, Sang Syaikh sangat merasakan ramai, padahal ia sendirian. Begitulah, semua rasa itu tertutup oleh penampilan beliau yang memikat, mengayomi, melindungi, mengajar, dan gaul dengan banyak orang.

Pada suatu hari, Syaikh Yazid sedang menyusuri sebuah jalan. Ia sendirian. Tak seorang santri pun diajaknya. Ia memang sedang menuruti kemauan langkah kakinya berpijak; tak tahu ke mana arah tujuan dengan pasti. Ia mengalir begitu saja. Maka dengan enjoy-nya ia berjalan di jalan yang lengang nan sepi.

Tiba-tiba dari arah depan ada seekor anjing hitam berlari-lari. Syaikh Yazid merasa tenang-tenang saja, tak terpikirkan bahwa anjing itu akan mendekatnya. Ternyata tahu-tahu sudah dekat dan di sampingnya. Melihat Syaikh Yazid –secara reflek dan spontan– segera mengangkat jubah kebesarannya. Tindakan tadi begitu cepatnya dan tidak jelas apakah karena -barangkali– merasa khawatir: jangan-jangan nanti bersentuhan dengan anjing yang liurnya najis itu!

Tapi, betapa kagetnya Sang Syaikh begitu ia mendengar Si Anjing Hitam yang di dekatnya tadi memprotes: “Tubuhku kering dan aku tidak melakukan kesalahan apa-apa!”

Mendengar suara Si Anjing Hitam seperti itu, Syaikh Yazid masih tertegun: benarkah ia bicara padanya?! Ataukah itu hanya perasaan dan ilusinya semata? Sang Syaikh masih terdiam dengan renungan-renungannya.

Belum sempat bicara, Si Anjing Hitam meneruskan celotehnya: “Seandainya tubuhku basah, engkau cukup menyucinya dengan air yang bercampur tanah tujuh kali, maka selesailah persoalan di antara kita. Tetapi apabila engkau menyingsingkan jubah sebagai seorang Parsi (kesombonganmu), dirimu tidak akan menjadi bersih walau engkau membasuhnya dengan tujuh samudera sekalipun!”

Setelah yakin bahwa suara tadi benar-benar suara Si Anjing Hitam di dekatnya, Syaikh Yazid baru menyadari kekhilafannya. Secara spontan pula, ia bisa merasakan kekecewaan dan keluh kesah Si Anjing Hitam yang merasa terhina. Ia juga menyadari bahwa telah melakukan kesalahan besar; ia telah menghina sesama makhluk Tuhan tanpa alasan yang jelas.

“Ya, engkau benar Anjing Hitam,” kata Syaikh Yazid, “Engkau memang kotor secara lahiriah, tetapi aku kotor secara batiniah. Karena itu, marilah kita berteman dan bersama-sama berusaha agar kita berdua menjadi bersih!”

Ungkapan Syaikh Yazid tadi, tentu saja, merupakan ungkapan rayuan agar Si Anjing Hitam mau memaafkan kesalahannya. Jikalau binatang tadi mau berteman dengannya, tentu dengan suka rela ia mau memaafkan kesalahannya itu.

“Engkau tidak pantas untuk berjalan bersama-sama denganku dan menjadi sahabatku! Sebab, semua orang menolak kehadiranku dan menyambut kehadiranmu. Siapa pun yang bertemu denganku akan melempariku dengan batu, tetapi Siapa pun yang bertemu denganmu akan menyambutmu sebagai raja di antara para mistik. Aku tidak pernah menyimpan sepotong tulang pun, tetapi engkau memiliki sekarung gandum untuk makanan esok hari!” kata Si Anjing Hitam dengan tenang.

Syaikh Yazid masih termenung dengan kesalahannya pada Si Anjing Hitam. Setelah dilihatnya, ternyata Si Anjing Hitam telah meninggalkannya sendirian di jalanan yang sepi itu. Si Anjing Hitam telah pergi dengan bekas ucapannya yang menyayat hati Sang Syaikh.

“Ya Alloh, aku tidak pantas bersahabat dan berjalan bersama seekor anjing milik-MU! Lantas, bagaimana aku dapat berjalan bersama-MU Yang Abadi dan Kekal? Maha Besar Alloh yang telah memberi pengajaran kepada yang termulia di antara makhluk-MU yang terhina di antara semuanya!” seru Syaikh Yazid kepada Tuhannya di tempat yang sepi itu.

Kemudian, Syaikh Yazid dengan langkah yang sempoyongan meneruskan perjalanannya. Ia melangkahkan kakinya menuju ke pesantrennya. Ia sudah rindu kepada para santri yang menunggu pengajarannya.

Keunikan dan ke-nyleneh-an Syaikh Yazid memang sudah terlihat sejak dulu. Kepada para santrinya, beliau tidak selalu mengajarkan di pesantrennya saja, tetapi juga diajak merespon secara langsung untuk membaca ayat-ayat alam yang tergelar di alam semesta ini. Banyak pelajaran yang didapat para santri dari Sang Syaikh; baik pembelajaran secara teoritis maupun praktis dalam hubungannya dengan keTuhanan.

Suatu hari, Syaikh Yazid sedang mengajak berjalan-jalan dengan beberapa orang muridnya. Jalan yang sedang mereka lalui sempit dan dari arah yang berlawanan datanglah seekor anjing. Setelah diamati secara seksama, ternyata ia bukanlah Si Anjing Hitam yang dulu pernah memprotesnya. Ia Si Anjing Kuning yang lebih jelek dari Si Anjing Hitam. Begitu melihat Si Anjing Kuning tadi terlihat tergesa-gesa –barangkali karena ada urusan penting– maka Syaikh Yazid segera saja mengomando kepada para muridnya agar memberi jalan kepada Si Anjing Kuning itu.

“Hai murid-muridku, semuanya minggirlah, jangan ada yang mengganggu Si Anjing Kuning yang mau lewat itu! Berilah dia jalan, karena sesungguhnya ia ada suatu keperluan yang penting hingga ia berlari dengan tergesa-gesa,” kata Syaikh Yazid kepada para muridnya.

Para muridnya pun tunduk-patuh kepada perintah Sang Syaikh. Setelah itu, Si Anjing Kuning melewati di depan Syaikh Yazid dan para santrinya dengan tenang, tidak merasa terganggu. Secara sepintas, Si Anjing Kuning memberikan hormatnya kepada Syaikh Yazid dengan menganggukkan kepalanya sebagai ungkapan rasa terima kasih. Maklum, jalanan yang sedang dilewati itu memang sangat sempit, sehingga harus ada yang mengalah salah satu; rombongan Syaikh Yazid ataukah Si Anjing Kuning.

Si Anjing Kuning telah berlalu. Tetapi rupanya ada salah seorang murid Kiai Yazid yang memprotes tindakan gurunya dan berkata: “Alloh Yang Maha Besar telah memuliakan manusia di atas segala makhluk-makhluk-Nya. Sementara, Syaikh adalah raja di antara kaum sufi, tetapi dengan ketinggian martabatnya itu beserta murid-muridnya yang taat masih memberi jalan kepada seekor anjing jelek tadi. Apakah pantas perbuatan seperti itu?!”

Syaikh Yazid menjawab: “Anak muda, anjing tadi secara diam-diam telah berkata kepadaku: “Apakah dosaku dan apakah pahalamu pada awal kejadian dulu sehingga aku berpakaian kulit anjing dan engkau mengenakan jubah kehormatan sebagai raja di antara para mistik (kaum sufi)?” Begitulah yang sampai ke dalam pikiranku dan karena itulah aku memberikan jalan kepadanya.”

Mendengar penjelasan Syaikh Yazid seperti itu, murid-muridnya manggut-manggut. Hal itu merupakan pertanda bahwa mereka paham mengapa guru mereka berlaku demikian. Semuanya diam membisu. Mereka tidak ada yang membantah lagi. Mereka pun terus meneruskan perjalanannya.

MELIHAT ABU YAZID

Seandainya engkau melihat Abu Yazid sekali saja, itu lebih bermanfaat bagimu daripada melihat Alloh Subhanahu Wa Ta'ala tujuh puluh kali….

Diceritakan bahwa Abu Turob An-Nakhsyabi merasa kagum pada pemuda, lalu ia mendekatinya dan mengerjakan tugas-tugasnya. Sedangkan si pemuda sibuk dengan ibadah. Lalu pada suatu hari Abu Turob berkata kepadanya, “Seandainya engkau melihat Abu Yazid.”

Lalu ketika abu Turob berulang-ulang pernyataan, “Seandainya engkau melihat AbuYazid” kepadanya, sang pemuda menjadi kesal dan langsung berkata, “Celaka kamu, apa yang harus aku perbuat dengan Abu Yazid?”

Melihat sikapnya, jiwa Abu Turob bergejolak, ia marah dan tidak dapat menahan diri lagi sehingga berkata, “Celakalah engkau, engkau telah menipu Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Seandainya engkau melihat Abu Yazid sekali saja, itu lebih bermanfaat bagimu daripada melihat Alloh Subhanahu Wa Ta'ala tujuh puluh kali.”

Sang pemuda tercengang dengan ucapan Abu Turob dan mengingkarinya dengan bertanya, “Bagaimana bisa demikian?”

Abu Turob menjawab, “Celaka kamu, engkau melihat Alloh Subhanahu Wa Ta'ala hanya dari sisimu, lalu ia memperlihatkan dirinya-NYA kepadamu sesuai dengan kemampuanmu. Sedangkan jika kamu melihat Abu Yazid di sisi Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, maka ia akan memperlihatkan diri-NYA sesuai dengan kemampuan Abu Yazid.”

Sang pemuda pun memahami perkataan Abu Turob, lalu ia berkata, “Bawa saya kepadanya.”

Di akhir kisah, Abu Turob dan sang pemuda berdiri di atas bukit untuk menunggu Abu Yazid keluar dari dalam hutan yang penuh dengan hewan buas. Lalu Abu Yazid melintas di hadapan mereka sambil membawa seekor burung di pundaknya. Maka Abu Turob berkata kepada sang pemuda, “Itu dia Abu Yazid, lihatlah.”

Saat sang pemuda melihatnya, seketika itu pula ia pingsan. Lalu Abu Turob menggerak-gerakkan badannya, namun ternyata ia telah meninggal. Maka Abu Turob dan Abu Yazid berusaha menguburkannya. Saat sedang prosesi pemakaman, Abu Turob berkata kepada Abu Yazid, “Wahai tuanku, melihatmu membuat ia meninggal.”

Abu Yazid berkata, “Tidak, tetapi temanmu dalam posisi benar. Dalam hatinya bersemayam rahasia yang tidak dapat terungkap oleh dirinya sendiri, lalu ketika ia melihat kita, barulah ia menyingkap rahasia hatinya sehingga ia pun merasa berat menanggungnya karena ia berada di tingkatan murid yang rendah. Karena menanggung beban itulah ia meninggal."