Rabu, 05 Februari 2020

KISAH IBNU ATHOILLAH ASY SYAKANDARI

Kisah Ibn Athoillah Asy Syakandari

Prakata:
pembacaan manaqib (kisah hidup), para pembaca disaat nama Syaikh Ibnu Atho'illah,pembaca wajib memandu para jama'ah dan atau pribadi untuk mengucap Rodhiallohu'anhu, disertai suratul fatihah khususkan kepada beliau. Supaya kita yang membaca tersambung batin, dan kita mendapatkan berkah dari Alloh Subhanahu Wa Ta'ala melalui beliau yang telah mendapatkan keredhoan dari Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.

Barangsiapa membaca kisah hidup seorang 'Alim, maka dia telah menghidupkan ilmu Alloh didalam dirinya, seperti beliau yang telah mengamalkan ilmu Alloh Subhanahu Wa Ta'ala didalam kehidupan beliau.

Pengarang kitab al-Hikam yang cukup populer di negeri kita ini adalah Tajuddin Abu Al-Fadl Ahmad bin Muhammad bin Abd Al-Karim bin Atho’ As-Sakandari Al-Judzami Al-Maliki Asy-Syadzili.
Ia berasal dari bangsa Arab. Nenek moyangnya berasal dari Judzam yaitu salah satu Kabilah Kahlan yang berujung pada Bani Ya’rib bin Qohton, bangsa Arab yang terkenal dengan Arab Al-Aa’ribah. Kota Iskandariah merupakan kota kelahiran sufi besar ini. Suatu tempat di mana keluarganya tinggal dan kakeknya mengajar. Kendatipun namanya hingga kini demikian harum, namun kapan sufi agung ini dilahirkan tidak ada catatan yang tegas. Dengan menelisik jalan hidupnya DR. Taftazani bisa menengarai bahwa ia dilahirkan sekitar tahun 658 sampai 679 H.

Ayahnya termasuk semasa dengan Syaikh Abu Al-Hasan Asy-Syadzili -pendiri Thariqah Asy-Syadziliyyah-sebagaimana diceritakan Ibnu Atho’illah dalam kitabnya “Lathoiful Minan “ : “Ayahku bercerita kepadaku, suatu ketika aku menghadap Syaikh Abu Al-Hasan Asy-Syadzili, lalu aku mendengar beliau mengatakan:

 "Demi Alloh… kalian telah menanyai aku tentang suatu masalah yang tidak aku ketahui jawabannya, lalu aku temukan jawabannya tertulis pada pena, tikar dan dinding”.

Keluarga Ibnu Atho’illah adalah keluarga yang terdidik dalam lingkungan agama, kakek dari jalur nasab ayahnya adalah seorang ulama fiqih pada masanya.

Tajuddin remaja sudah belajar pada ulama tingkat tinggi di Iskandariah seperti Al-Faqih Nasiruddin Al-Mimbar Al-Judzami.

Kota Iskandariah pada masa Ibnu Atho’illah memang salah satu kota ilmu di semenanjung Mesir, karena Iskandariah banyak dihiasi oleh banyak ulama dalam bidang fiqih, hadits, usul, dan ilmu-ilmu bahasa arab, tentu saja juga memuat banyak tokoh-tokoh tasawwuf dan para Auliya’ Sholihin
Oleh karena itu tidak mengherankan bila Ibnu Atho’illah tumbuh sebagai seorang faqih, sebagaimana harapan dari kakeknya.

Namun kefaqihannya terus berlanjt sampai pada tingkatan tasawuf. Hal mana membuat kakeknya secara terang-terangan tidak menyukainya.

Ibnu Atho’illah menceritakan dalam kitabnya “Lathoiful minan” :

 “Bahwa kakeknya adalah seorang yang tidak setuju dengan tasawwuf, tapi mereka sabar akan serangan dari kakeknya. Di sinilah guru Ibnu Atho’illah yaitu Abul Abbas Al-Mursy mengatakan:

 "Kalau anak dari seorang alim fiqih Iskandariah (Ibnu Atho’illah) datang ke sini, tolong beritahu aku",

dan ketika aku datang, Al-Mursi mengatakan:

 "Malaikat jibril telah datang kepada Nabi bersama dengan malaikat penjaga gunung ketika orang quraisy tidak percaya pada Nabi. Malaikat penjaga gunung lalu menyalami Nabi dan mengatakan:

 "Wahai Muhammad.. kalau engkau mau, maka aku akan timpakan dua gunung pada mereka".

 Dengan bijak Nabi mengatakan:

 "Tidak… aku mengharap agar kelak akan keluar orang-orang yang bertauhid dan tidak musyrik dari mereka".

 "Begitu juga, kita harus sabar akan sikap kakek yang alim fiqih (kakek Ibnu Atho’illah) demi orang yang alim fiqih ini”.

 Pada akhirnya Ibn Atho'illah memang lebih terkenal sebagai seorang sufi besar.

Namun menarik juga perjalanan hidupnya, dari tarbiyah (pendidikan) yang murni fiqh sampai bisa memadukan fiqh dan tasawuf.

Oleh karena itu buku-buku biografi menyebutkan riwayat hidup Atho’illah menjadi tiga masa:

MASA PERTAMA:

Masa ini dimulai ketika ia tinggal di Iskandariah sebagai pencari ilmu agama seperti tafsir, hadits, fiqih, usul, nahwu dan lain-lain dari para alim ulama di Iskandariah.

Pada periode ini beliau terpengaruh pemikiran-pemikiran kakeknya yang mengingkari para ahli tasawwuf karena kefanatikannya pada ilmu fiqih, dalam hal ini Ibnu Atho’illah bercerita:

 "Dulu aku adalah termasuk orang yang mengingkari Abu Al-Abbas Al-Mursy, yaitu sebelum aku menjadi murid beliau".

 "Pendapat saya waktu itu bahwa yang ada hanya ulama ahli dzohir, tapi mereka (ahli tasawwuf) mengklaim adanya hal-hal yang besar, sementara dzohir syariat menentangnya”.

MASA KEDUA:

Masa ini merupakan masa paling penting dalam kehidupan sang guru pemburu kejernihan hati ini.

Pada periode ini dimulai semenjak Syaikh Ibnu 'Atho'illaah bertemu dengan gurunya, Syaikh Abu Al-Abbas Al-Mursy, tahun 674 H, dan berakhir dengan hijrahnya (pindah) beliau ke Kairo. Yang membuat sirnanya keingkaran beliau kepada 'ulama tasawwuf, setelah jatuh hati terkagum dan simpati kepada sang guru Syaikh Abu Al-Abbas Al-Mursy yang akhirnya ia mengambil bay'at Thoriqah Asy Syadziliyah langsung dari gurunya ini.

Ada cerita menarik mengapa Syaikh Ibnu Atho'illah beranjak memilih dunia tasawuf ini.

Suatu ketika Syaikh Ibnu Atho'illah mengalami goncangan bathin yang membuat jiwanya tertekan.

Dia bertanya-tanya dalam hatinya:

 "Apakah semestinya aku membenci tasawwuf ?"

 "Apakah suatu kebenaran apabila aku tidak menyukai Abul Abbas Al Mursy ?"

 "Setelah lama aku merenung, mencerna, akhirnya aku memberanikan diriku untuk mendekatinya, melihat siapa Al Mursy yang sesungguhnya, pelajaran apa yang sejatinya dia ajarkan?"

 "Jikalau memang dia orang baik dan benar maka semuanya akan kelihatan. Apabila tidak demikian halnya, biarlah ini menjadi takdirku (jalan hidupku) yang tidak sejalan dengan tasawwuf."

 "Kemudian aku datang ke majlisnya. Aku mendengar, menyimak ceramahnya dengan tekun tentang masalah-masalah syara'. Tentang kewajiban, keutamaan dan sebagainya."

 "Dari sinilah kebenaran mulai terbuka bahwa ternyata Al-Mursi yang kelak menjadi guru sejatiku ini mengambil ilmu langsung dari Tuhan."

 "Dan segala puji bagi Alloh, DIA telah menghilangkan rasa bimbang yang ada dalam hatiku".

Maka demikianlah, ketika Syaikh Ibnu Atho'illah sudah mencicipi manisnya tasawuf, hatinya semakin tertambat untuk masuk ke dalam dan lebih dalam lagi. Sampai-sampai beliau punya dugaan tidak akan bisa menjadi seorang sufi sejati kecuali dengan masuk ke dunia tasawwuf secara total, menghabiskan seluruh waktunya untuk sang guru dan meningalkan aktivitas lain.

Namun demikian Syaikh Ibnu Atho'illah tidak berani memutuskan keinginannya itu kecuali setelah mendapatkan izin dari sang guru Al-Mursy.

Dalam kisah ini Syaikh Ibnu Atho'ilah menceritakan:

 "Aku menghadap guruku Al-Mursy, dan dalam hatiku ada keinginan untuk meninggalkan ilmu dzohir. Namun Belum sempat aku mengutarakan apa yang terbersit dalam hatiku ini tiba-tiba beliau berkata:

 "Di kota Qous aku mempunyai kawan namanya Ibnu Naasyi’. Dulu dia adalah pengajar di Qous dan sebagai wakil penguasa."

 "Dia merasakan sedikit manisnya thoriqoh kita. Kemudian dia menghadapku dan berkata :

 "Tuanku… apakah sebaiknya aku meninggalkan tugasku sekarang ini dan berkhidmat saja pada tuan?".

 "Aku memandangnya sebentar kemudian aku katakan:

 "Tidak demikian itu thoriqoh kita. Tetaplah dengan kedudukan yang sudah di tentukan Alloh padamu. Apa yang menjadi garis tanganmu akan sampai padamu juga".

 "Setelah bercerita semacam itu yang sebetulnya adalah nasehat untuk diriku beliau (Syaikh Ibnu Atho'illah) berkata:

 “Beginilah keadaan orang-orang Ash-Shiddiqiyyin. Mereka sama sekali tidak keluar dari suatu kedudukan yang sudah ditentukan Alloh sampai DIA sendiri yang mengeluarkan mereka".

 "Mendengar uraian panjang lebar semacam itu aku tersadar dan tidak bisa mengucapkan sepatah katapun."

 "Dan Segala puji-pujian kepada Alloh yang telah menghapus angan kebimbangan (was-was/keraguan) yang ada dalam hatiku, sepertinya aku baru saja melepas pakaianku."

 "Aku pun rela (ridho) dan lebih tenang dengan jalan kehidupan yang diberikan oleh Alloh kepadaku".

MASA KETIGA:

Masa semenjak kepindahan Syaikh Ibnu Atho'illah dari Iskandariah ke Kairo. Dan berakhir dengan kepindahannya ke haribaan Yang Maha Kasih pada tahun 709 H.

Masa periode dimana kematangan dan kesempurnaan Syaikh Ibnu Atho’illah dalam ilmu fiqih dan ilmu tasawwuf dan mampu membedakan antara Uzlah dan kholwah.

Uzlah menurut Syaikh Ibnu Atho'illah adalah pemutusan (hubungan) yang bersifat maknawi bukan hakiki (sebenarnya) yaitu lahiriyah dengan makhluk (nyaman dengan selalu sendirian), dengan cara si Salik (orang yang uzlah) selalu mengontrol dirinya (berhubungan dengan makhluk hanya ala kadarnya) dan menjaganya dari perdaya dunia (tidak suka duniyawi, dalam artian duniawi hanyalah untuk beribadah kepada Alloh saja) .

Ketika seorang sufi sudah mantap dengan uzlah-nya dan nyaman dengan kesendiriannya ia memasuki tahapan kholwah.

 Dan kholwah dipahami dengan suatu cara menuju rahasia Tuhan.

Syaikh Ibnu Atho'illah berpendapat kholwah adalah perendahan diri (tawdhu') dihadapan Alloh dan pemutusan hubungan dengan selain Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. (Ruhnya, fikirannya, jiwanya, raganya terfokus hanya kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala semata).

Syaikh Ibnu Atho’illah berkata:

"Ruangan yang bagus untuk ber-kholwah adalah:

1. Yang tingginya, setinggi orang yang berkholwat tersebut,

2. Panjangnya sepanjang ia sujud,

3. Luasnya seluas tempat duduknya (saat duduk bersila/tahiyat),

4. Ruangan itu tertutup tidak ada lubang untuk masuknya cahaya matahari,

5. Jauh dari keramaian,

6. Pintunya rapat,

7. Tidak ada dalam rumah yang banyak penghuninya, selain dia sendiri.

 Sepeninggal gurunya Abu Al-Abbas Al-Mursy tahum 686 H, Syaikh Ibnu Atho'illah menjadi pengganti beliau (mursyid) di dalam mengembangkan Thoriqoh Syadziliah.

Tugas ini beliau emban di samping tugas mengajar di kota Iskandariah.

 Maka ketika pindah ke Kairo, Syaikh Ibnu Atho'illah bertugas mengajar dan ceramah di Masjid al-Azhar.

Syaikh Ibnu Hajar berkata:

"Syaikh Ibnu Atho’illah berceramah di Azhar dengan tema yang menenangkan hati dan memadukan perkatan-perkatan orang kebanyakan dengan riwayat-riwayat dari salafus sholeh, juga berbagai macam ilmu. Maka tidak heran kalau pengikutnya berjubel dan beliau menjadi simbol kebaikan".

Hal senada diucapkan oleh Syaikh Ibnu Taghri Barodi:

"Syaikh Ibnu Atho’illah adalah orang yang sholeh, berbicara di atas kursi Azhar, dan dihadiri oleh hadirin yang banyak sekali. Ceramahnya sangat mengena dalam hati. Dia mempunyai pengetahuan yang dalam akan perkataan ahli hakekat dan orang orang ahli thoriqoh". 

Termasuk tempat mengajar beliau adalah Madrasah Al-Mansuriah di Hay Ash-Shoghoh.

Beliau mempunyai banyak anak didik yang menjadi seorang ahli fiqih dan tasawwuf, seperti Imam Taqiyyuddin As-Subki, (ayah dari Syaikh Tajuddin As-Subki), pengarang kitab “Tobaqoh Asy-syafi’iyyah Al-Kubro”.
 
KARYA SYAIKH IBNU ATHO'ILLAH:
 
Sebagai seorang sufi yang alim Syaikh Ibnu Atho'illah meninggalkan banyak karangan sebanyak 22 kitab lebih. Mulai dari sastra, tasawuf, fiqh, nahwu, mantiq, falsafah sampai khitobah.
 
Kitabnya yang paling masyhur sehingga telah menjadi terkenal di seluruh dunia Islam ialah kitabnya yang bernama Hikam, yang telah diberikan komentar oleh beberapa orang ulama di kemudian hari dan yang juga telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa asing lain, termasuklah bahasa Melayu dan bahasa Indonesia.
 
Kitab ini dikenali juga dengan nama Al-Hikam Al-Atho'iyyah untuk membedakannya daripada kitab-kitab lain yang juga berjudul Hikam.
 
Karomah Syaikh Ibnu Atho'illah
Al-Munawi dalam kitabnya
“Al-Kawakib Ad durriyyah" 
mengatakan:

“Syaikh Kamal Ibnu Humam ketika ziarah ke makam wali besar ini membaca Surat Hud sampai pada ayat yang artinya:

"Diantara mereka ada yang celaka dan bahagia...".

"Tiba-tiba terdengar suara dari dalam liang kubur Syaikh Ibnu Atho'illah dengan keras:

"Wahai Kamal… tidak ada diantara kita yang celaka".

"Demi menyaksikan karomah agung seperti ini Syaikh Ibnu Humam berwasiat supaya dimakamkan dekat dengan Syaikh Ibnu Atho’illah ketika meninggal kelak".

Di antara karomah pengarang kitab "Al-Hikam" ini adalah:

Suatu ketika salah satu murid beliau berangkat haji.

Di sana si murid itu melihat Syaikh Ibn Atho'illah sedang thowaf.

Dia juga melihat sang guru ada di belakang maqam Ibrahim, di Mas’aa dan Arofah.

Ketika pulang, si murid bertanya kepada teman-temannya apakah sang guru pergi haji atau tidak.

Si murid langsung terperanjat kaget ketika mendengar teman-temannya menjawab "Tidak".

Kurang puas dengan jawaban mereka, dia menghadap sang guru. Kemudian pembimbing spiritual ini bertanya:

"Siapa saja yang kamu temui ?"

Lalu si murid menjawab:

"Tuanku… saya melihat tuanku di sana".

Dengan tersenyum Al-arif Billah ini menerangkan:

"Orang besar itu bisa memenuhi dunia. Seandainya saja Wali Qutb di panggil dari liang tanah, dia pasti menjawabnya”.

Wallohu a'lam bi_showab, Robbana taqob_bal min_na, Ila Hadroti Nabiyil Mus_thofa Muham_mad Rosululloh Shollallohu 'Alaihi Wassallam wa Tsum_ma ila Arwahi Syaikh Ibnu Attho'illah Asy Syakandari syailillaahi lahum bisir_ril fatihah...


EmoticonEmoticon