Kamis, 23 April 2020

KISAH IBROHIM BIN ADHAM MURID NABI KHIDHIR 'ALAIHIS SALAM



DATANGNYA HIDAYAH

Ibrohim bin Adham adalah raja Balkh yang sangat luas daerah kekuasaannya. Ke mana pun ia pergi, empat puluh buah pedang emas dan empat puluh buah tongkat kebesaran emas diusung di depan dan di belakangnya: Pada suatu malam ketika ia tertidur di kamar istananya, langit-langit kamar berderak-derik seolah-olah ada seseorang yang sedang berjalan di atas atap. Ibrahim terjaga dan berseru: “Siapakah itu?
 
Seorang sahabat”,' terdengar sebuah sahutan, “untaku hilang dan aku sedang mencarinya di atas atap ini"
 
Goblok, engkau hendak mencari unta di atas atap?”, seru Ibrohim.
 
Hai manusia! Siapa yang goblok? Kau atau aku ? Engkau benar-benar manusia yang lalai”, suara itu menjawab, “apakah engkau hendak mencari Alloh dengan berpakaian sutera dan tidur di atas ranjang emas?”.
 
Kata-kata ini sangat menggentarkan hati Ibrohim. Ia sangat gelisah dan tak dapat meneruskan tidurnya. Ketika hari telah siang, Ibrohim kembali ke ruang pertemuan dan duduk di atas singgasananya sambil berpikir-pikir, bingung dan sangat gundah. Para menteri telah berdiri di tempat masing-masing dan hamba-hamba telah berbaris sesuai dengan tingkatan mereka. Kemudian dimulailah pertemuan terbuka.
 

Tiba-tiba seorang lelaki berwajah menakutkan masuk ke dalam ruangan pertemuan itu. Wajahnya sedemikian menyeramkan sehingga tak seorang pun di antara anggota-anggota maupun hamba-hamba istana yang berani menanyakan namanya. Semua lidah menjadi kelu. Dengan tenang lelaki tersebut melangkah ke depan singgasana.
 
"Apakah yang engkau inginkan?”, tanya Ibrohim.
 
Aku baru saja sampai di persinggahan ini”; jawab lelaki itu.
 
Ini bukan sebuah persinggahan para khafilah. Ini adalah istanaku... Engkau sudah gila!”, Ibrohim menghardiknya.
 
Siapakah pemilik istana ini sebelum engkau?'’tanya lelaki itu,
 
Ayahku! “.jawab Ibrohim,
 
Dan sebelum ayahmu?” tanya lelaki itu,
 
Ibrohim menjawab, “Kakekku!”,
 
Lelaki itu kembali bertanya “Dan sebelum kakekmu?”,
 
Ayah dari kakekku!” jawab Ibrohim,
 
Dan sebelum dia?” tanya lelaki itu,
 
“Kakek dari kakekku!”
 
“Ke manakah mereka sekarang ini?”, tanya lelaki itu.
 
Mereka telah tiada, Mereka telah mati”, jawab Ibrohim.
 
“Jika demikian, bukankah ini sebuah persinggahan yang dimasuki oleh seseorang dan ditinggalkan oleh yang lainnya?” kata lelaki tersebut,
 
Setelah berkata demikian lelaki itu hilang. Sesungguhnya ia adalah Nabi Khidhir 'Alaihis Salam, yang sedang menyamar.
 
Kegelisahan, dan kegundahan hati Ibrohim semakin menjadi-jadi. Ia dihantui bayang-bayangan di siang hari dan mendengar suara-suara di malam hari; keduanya sama-sama membingungkan.
 
Akhirnya karena tidak tahan lagi, pada suatu hari berserulah Ibrohim: “Persiapkan kudaku! Aku hendak pergi berburu. Aku tak tahu apa yang telah terjadi terhadap diriku belakangan ini. Ya Alloh, kapan semua ini akan berakhir?”
 
Kudanya telah dipersiapkan lalu berangkatlah ia berburu. Kuda itu dipacunya menembus padang pasir, seolah-olah ia tak sadar akan segala perbuatannya. Dalam kebingungan itu ia terpisah dari rombongannya. Tiba-tiba terdengar olehnya sebuah seruan: “Bangunlah ! “
 
Ibrohim pura-pura tidak mendengar seruan itu. Ia terus memacu kudanya. Untuk kedua kalinya suara itu berseru kepadanya, namun Ibrohim tetap tak memperdulikannya. Ketika suara itu untuk ketiga kalinya berseru 'kepadanya. Ibrohim semakin memacu kudanya. Akhirnya untuk yang keempat kali, suara itu berseru: “Bangunlah! Sebelum engkau kucambuk
 
Ibrohim tidak dapat mengendalikan dirinya. Saat itu terlihat olehnya seekor rusa. Ibrohim hendak memburu rusa itu tetapi binatang itu berkata kepadanya: “Aku disuruh untuk memburumu. Engkau tidak dapat menangkapku. Untuk inikah engkau diciptakan atau inikah yang diperintahkan kepadamu?”
 
Wahai, apakah yang menghadang diriku ini?”, seru Ibrohim. Ia memalingkan wajahnya dari rusa tersebut. Tetapi dari pegangan di pelana kudanya terdengar suara yang menyerukan kata-kata yang serupa, Ibrohim panik dan ketakutan.
 
Seruan itu semakin jelas karena Alloh Yang Maha Kuasa hendak menyempurnakan janji-NYA. Kemudian suara yang serupa berseru pula dari mantelnya. Akhirnya sempurnalah seruan Alloh itu dan pintu hidayah terbuka bagi Ibrohim. Keyakinan yang teguh telah tertanam di dalam dadanya. Ibrohim turun dari tunggangannya. Seluruh pakaian dan tubuh kudanya basah oleh cucuran air matanya. Dengan sepenuh hati Ibrohim bertaubat kepada Alloh.
 
Ketika Ibrohim menyimpang dari jalan raya, ia melihat seorang gembala yang mengenakan pakaian dan topi terbuat dari bulu domba.
Sang penggembala sedang menggembalakan sekawanan ternak. Setelah diamatinya, ternyata si gembala itu adalah sahayanya yang sedang menggembalakan domba-domba miliknya pula.
Kepada si gembala itu Ibrohim menyerahkan mantelnya yang bersulam emas, topinya yang bertatahkan batu-batu permata dan domba-domba tersebut, sedang dari si gembala itu Ibrohim meminta pakaian dan topi bulu domba yang sedang dipakainya.
Ibrohim lalu mengenakan pakaian dan topi bulu milik si gembala itu dan semua malaikat menyaksikan perbuatannya itu dengan penuh kekaguman.
 
Betapa megah kerajaan yang diterima putera Adham ini”, malaikat-malaikat itu berkata, “Ia telah mencampakkan pakaian keduniawian yang kotor lalu menggantinya dengan jubah kepapaan yang megah”.
 
Dengan berjalan kaki, Ibrohim mengelana melalui gunung-gunung dan padang pasir yang luas sambil meratapi dosa-dosa yang pernah dilakukannya. Akhirnya sampailah ia di Mesir. Di sini Ibrohim melihat seorang lelaki terjatuh dari sebuah jembatan. Pastilah ia akan binasa dihanyutkan oleh air sungai.
 
Dari kejauhan Ibrohim berseru: “Ya Alloh, selamatkanlah dia!” Seketika itu juga tubuh lelaki itu berhenti di udara sehingga para penolong tiba dan menariknya ke atas. Dan dengan terheran-heran mereka memandang kepada Ibrohim. “Manusia apakah ia itu”, seru mereka.
 
Ibrohim meninggalkan tempat itu dan terus berjalan sampai ke Nishopur. Di kota Nishopur, Ibrohim mencari sebuah tempat terpencil di mana ia dapat tekun mengabdi kepada Alloh. Akhirnya dia menemukan sebuah gua yang dikemudian hari menjadi amat termasyhur. Di dalam gua itulah Ibrohim menyendiri selama sembilan tahun, tiga tahun pada masing-masing ruang yang terdapat di dalamnya. Tak seorang pun yang tahu apakah yang telah dilakukannya baik siang maupun malam di dalam gua itu, karena hanya seorang manusia yang luar biasa perkasanya yang sanggup menyendiri di dalam gua itu pada malam hari.
 
Setiap hari Kamis, Ibrohim memanjat keluar dari gua tersebut untuk mengumpulkan kayu bakar. Keesokan paginya pergilah ia ke Nishopur untuk menjual kayu-kayu itu. Setelah melakukan sholat Jum’at ia pergi membeli roti dengan uang yang diperolehnya. Roti itu separuhnya diberikannya kepada pengemis dan separuhnya lagi untuk pembuka puasanya. Demikianlah yang dilakukannya setiap pekan.
 
Pada suatu malam di musim salju, Ibrohim sedang, berada dalam ruang pertapaannya. Malam itu udara sangat dingin dan untuk bersuci Ibrohim harus memecahkan es. Sepanjang malam badannya menggigil namun ia tetap melaksanakan sholat dan berdoa hingga fajar menyingsing. Ia hampir mati kedinginan. Tiba-tiba ia teringat pada api. Di atas tanah dilihatnya ada sebuah kain bulu. Dengan kain bulu itu sebagai selimut ia pun tertidur. Setelah hari terang benderang barulah ia bangun dan badannya terasa hangat. Tetapi segeralah ia sadar bahwa yang disangkanya sebagai kain bulu itu adalah seekor naga dengan biji mata berwarna merah darah. Ibrohim panik ketakutan dan berseru:
 
Ya Alloh, Engkau telah mengirimkan’ makhluk ini dalam bentuk yang halus (tak kasat mata) tetapi sekarang terlihatlah bentuk sebenarnya yang sangat mengerikan. Aku tak kuat menyaksikannya”.
 
Naga itu segera bergerak dan meninggalkan tempat itu setelah dua atau tiga kali bersujud di depan Ibrohim.
 
Tetapi segeralah ia sadar bahwa yang disangkanya sebagai kain bulu itu adalah seekor naga dengan biji mata berwarna merah darah.
 
PERGI KE MEKAH

Ketika kemasyhuran perbuatan-perbuatan ibrohim tersebar luas, Ibrohim meninggalkan gua tersebut dan pergi ke Mekkah. Di tengah padang pasir, Ibrohim berjumpa dengan seorang tokoh besar agama yang mengajarkan kepadanya Nama Yang Teragung dari Alloh dan setelah itu pergi meninggalkannya. Dengan Nama Yang Teragung itu Ibrohim menyeru Alloh dan sesaat kemudian tampaklah olehnya Nabi Khidhir 'Alaihis Salam.
 
"Ibrohim'’, kata Nabi Khidhir kepadanya, "' Saudaraku. Daud-lah (yaitu Nabi Daud 'Alaihis Salam) yang mengajarkan kepadamu Nama Yang Teragung itu”.
 
Kemudian mereka berbincang-bincang mengenai berbagai masalah. Dengan seizin Alloh Nabi Khidhir 'Alaihis Salam adalah manusia pertama yang telah menyelamatkan Ibrohim.
 
Mengenai kelanjutan perjalanannya menuju Mekkah Ibrohim mengisahkan sebagai berikut,ini: ''Setibanya di Dzatul Irak, kudapati tujuh puluh orang yang berjubah kain perca tergeletak mati dan darah mengalir dari hidung dari telinga mereka. Aku berjalan mengitari mayat-mayat tersebut, ternyata salah seorang di antaranya masih hidup”.
 
‘‘Anak muda, apakah yang telah terjadi?”, aku bertanya kepadanya.
 
Wahai anak Adam”, jawabnya padaku, “beradalah di dekat air dan tempat sholat Janganlah menjauh agar engkau tidak dihukum, tetapi jangan pula terlalu dekat agar engkau tidak celaka. Tidak seorang manusia pun boleh bersikap terlampau berani di depan sultan. Takutilah Sahabat, yang membantai dan memerangi para peziarah ke tanah suci seakan-akan mereka itu orang-orang kafir Yunani. Kami ini adalah rombongan sufi yang menembus padang pasir dengan berpasrah kepada Alloh dan berjanji tidak akan mengucapkan sepatah kata pun di dalam perjalanan, tidak akan memikirkan apa pun kecuali Alloh, senantiasa membayangkan Alloh ketika berjalan maupun istirahat, dan tidak perduli kepada segala sesuatu kecuali kepada-Nya."
 
Lalu di melanjutkan ceritanya:"Setelah kami mengarungi padang pasir dan sampai ke tempat di mana para peziarah harus mengenakan jubah putih, Nabi Khidhir 'Alaihis Salam, datang menghampiri kami. Kami mengucapkan salam kepadanya dan Nabi Khidir 'Alaihis Salam membalas salam kami"
 
Lanjutnya:"Kami sangat gembira dan berkata: 'Alhamdulillah, sesungguhnya perjalanan kita telah diridhoi Alloh, dan yang mencari telah mendapatkan yang dicari, karena bukankah manusia suci sendiri telah datang, untuk menyambut kita'. Tapi, di saat itu juga berserulah sebuah suara di dalam diri kami; ‘Kalian pendusta dan berpura-pura! Demikianlah kata-kata dan janji kalian dahulu? Kalian lupa kepada-KU dan memuliakan yang lain (yaitu Nabi Khidhir 'Alaihis Salam) Binasalah kalian! AKU tidak akan membuat perdamaian dengan kalian, sebelum nyawa kalian KU cabut sebagai pembalasan dan sebelum darah kalian KU tumpahkan dengan pedang kemurkaan!”
 
‘'Hai Ibrohim ! Manusia-manusia yang engkau saksikan terkapar di sini, semuanya adalah korban dari pembalasan itu. Wahai Ibrohim, berhati-hatilah engkau! Engkau pun mempunyai ambisi yang sama. Berhati-hatilah atau menyingkirlah jauh-jauh!”
 
Aku sangat gentar mendengar kisah itu. Aku bertanya kepadanya: “Tetapi mengapakah engkau tidak turut dibinasakan?”
 
Kepadaku dia mengatakan: "Sahabat-sahabatmu telah matang sedang engkau masih mentah. Biarlah engkau hidup beberapa saat lagi dan segera akan menjadi matang. Setelah matang engkau pun akan menyusul mereka' “.
 
Setelah berkata demikian ia pun menghembuskan nafasnya yang terakhir.
 
Empat belas tahun lamanya Ibrohim mengarungi padang pasir, dan selama itu pula ia selalu berdoa dan merendahkan diri kepada Alloh. Ketika hampir sampai ke kota Mekkah, para sesepuh kota Mekkah sudah mendengar kedatangan Ibrohim, mereka ke luar kota hendak menyambutnya.
Ibrohim mendahului rombongannya agar tidak seorang pun dapat mengenali dirinya. Hamba-hamba yang mendahului para sesepuh tanah suci itu melihat Ibrohim, tetapi karena belum pernah bertemu dengannya, mereka tak mengenalnya. Setelah Ibrohim begitu dekat, para sesepuh itu berseru: “Ibrohim bin Adham hampir sampai. Para sesepuh tanah suci telah datang menyambutnya”.
 
Apakah yang kalian inginkan dari si bid'ah itu?” tanya Ibrohim kepada mereka. Mereka langsung meringkus Ibrohim dan memukulinya.
 
"Para sesepuh tanah suci sendiri datang menyambut Ibrohim tapi engkau menyebutnya bid'ah?", hardik mereka.
 
Ya. aku katakan bahwa dia adalah seorang bid’ah?”, Ibrohim mengulangi ucapannya.
 
Ketika mereka meninggalkan dirinya, Ibrohim berkata pada dirinya sendiri: “Engkau pernah menginginkan agar para sesepuh itu datang menyambut kedatanganmu, bukankah telah engkau peroleh beberapa pukulan dari mereka? Alhamdulillah, telah kusaksikan betapa engkau telah memperoleh apa yang engkau inginkan!”
 
Ibrahim menetap di kota Mekkah. Ia selalu dikelilingi oleh beberapa orang sahabat dan ia memperoleh nafkah dengan memeras keringat sebagai tukang kayu.
 
BERTEMU PUTERANYA
 
Ketika berangkat dari Balkh, Ibrohim bin Adham meninggalkan seorang putera yang masih menyusui. Suatu hari, setelah si putera telah dewasa, ia menanyakan perihal ayahnya kepada ibunya.
 
Ayahmu telah hilang! “, si ibu menjelaskan.
 
Setelah mendapat penjelasan ini, si putera membuat sebuah maklumat bahwa barangsiapa yang bermaksud menunaikan ibadah haji, diminta supaya berkumpul. Empat ribu orang datang memenuhi panggilan ini. Kemudian ia lalu memberikan biaya makan dan unta selama dalam perjalanan kepada mereka itu. Ia sendiri memimpin rombongan itu menuju kota Mekkah. Dalam hati ia berharap semoga Alloh mempertemukan dia dengan ayahnya. Sesampainya di Mekkah, di dekat pintu Masjidil Harom, mereka bertemu dengan serombongan sufi yang mengenakan jubah kain perca.
 
Apakah kalian mengenal Ibrohim bin Adham?”, si pemuda bertanya kepada mereka.
 
Ibrohim bin Adham adalah sahabat kami. Ia sedang mencari makanan untuk menjamu kami”.
 
Pemuda itu meminta agar mereka sudi mengantarkannya ke tempat Ibrahim saat itu. Mereka membawanya ke bagian kota Mekkah yang dihuni oleh orang-orang miskin. Di sana dilihatnya betapa ayahnya bertelanjang kaki dan tanpa penutup kepala sedang memikul kayu bakar Air matanya berlinang tapi ia masih dapat mengendalikan diri, la lalu membuntuti ayahnya sampai ke pasar. Sesampainya di pasar si ayah mulai berteriak-teriak: “Siapakah yang suka membeli barang yang halal dengan barang yang halal?!”
 
Seorang tukang roti menyahuti dan menerima kayu api tersebut dan memberikan roti kepada Ibrohim. Roti itu dibawanya pulang lalu disuguhkannya kepada sahabat-sahabatnya.
 
Si putera berpikir-pikir dengan penuh kekuatiran: “Jika kukatakan kepadanya siapa aku, niscaya ia akan melarikan diri”. Oleh karena itu ia pun pulang meminta nasehat dari ibunya, bagaimana cara yang terbaik untuk mengajak ayahnya pulang. Si ibu menasihatkan agar ia bersabar hingga tiba saat melakukan ibadah haji.
 
Setelah tiba saat menunaikan ibadah haji, sang anak pun pergi ke Mekkah. Ibrohim sedang duduk beserta sahabat-sahabatnya.
 
Hari ini di antara jama’ah haji banyak terdapat perempuan dan anak-anak muda”, Ibrohim menasihati mereka. “Jagalah mata kalian.”
 
Semuanya menerima nasihat Ibrohim itu. Para jama’ah memasuki kota Mekkah dan melakukan thowaf mengelilingi Ka’bah, Ibrohim beserta para sahabatnya melakukan hal yang serupa. Seorang pemuda yang tampan menghampirinya dan Ibrohim terkesima memandanginya. Sahabat-sahabat Ibrohim yang menyaksikan kejadian ini merasa heran namun menahan diri sampai selesai thowaf.
 
Semoga Alloh mengampunimu”, mereka menegur Ibrohim. “Engkau telah menasihati kami agar menjaga mata dari setiap perempuan atau kanak-kanak, tetapi engkau sendiri telah terpesona memandang seorang pemuda tampan”.
 
Jadi kalian telah menyaksikan perbuatanku itu?” tanya ibrohim kepada sahabat-sahabatnya,
 
Ya, kami telah menyaksikannya”, jawab mereka.
 
Ketika pergi dari Balkh”, Ibrohim mulai memberi penjelasan, “aku meninggalkan seorang anakku yang masih menyusui. Aku yakin pemuda tadi adalah anakku sendiri”.
 
Keesokan harinya tanpa sepengetahuan Ibrohim; salah seorang sahabatnya pergi mengunjungi perkemahan jama'ah dari Balkh. Di antara semua kemah-kemah itu ada sebuah yang terbuat dari kain brokat. Di dalamnva berdiri sebuah mahligai dan atas di mahligai itu si pemuda sedang duduk membaca Al-Qur an sambil menangis. Sahabat Ibrohim tersebut meminta izin untuk masuk.
 
"Dari manakah engkau datang?', tanyanya kepada si pemuda. “Dari Balkh". jawab si pemuda.
 
Putera siapakah engkau?” tanya sahabat ibrohim,
 
Si pemuda menutup wajahnya,lalu menangis. "Sampai kemarin aku belum pernah menatap wajah ayahku”, katanya sambil memindahkan' Al-Qur’an yang sedang dibacanya tadi.
Walaupun demikian, aku belum merasa pasti apakah ia ayahku atau bukan. Aku kuatir jika kukatakan kepadanya siapa aku sebenarnya, ia akan menghindarkan diri kembali dari kami. Ayahku adalah Ibrohim bin Adham raja dari Balkh".
 
Sahabat Ibrohim lalu membawa si pemuda bertemu dengan ayahnya. Ibunya pun turut menyertai mereka. Ketika mereka sampai ke tempat Ibrohim, Ibrahim sedang duduk bersama sahabat-sahabatnya di depan pojok Yamani. Dari kejauhan Ibrohim telah melihat sahabatnya datang beserta si pemuda dan ibunya. Begitu melihat Ibrohim, wanita itu menjerit dan tidak dapat mengendalikan dirinya lagi.
 
Inilah ayahmu!”. Kata ibunya,
 
Semuanya gempar. Semua orang yang berada di tempat itu serta sahabat-sahabat Ibrohim menitikkan air mata. Begitu si pemuda dapat menguasai diri, ia segera mengucapkan salam kepada ayahnya. Ibrohim menjawab salam anaknya kemudian merangkulnya.
 
Agama apakah yang engkau anut?”, tanya Ibrohim kepada anaknya.
 
Agama Islam”.. jawab anaknya,
 
Alhamdulillah”, ucap Ibrohim, “dapatkah engkau membaca Al-Qur’an?”
 
Ya”, jawab anaknya.
 
Alhamdulillah. Apakah engkau sudah mendalami agama ini?” tanya Ibrohim kembali,
 
"Sudah.'’ jawab sang putra,

Setelah itu Ibrohim hendak pergi tetapi anaknya tidak mau melepaskannya. Ibunya meraung keras-keras. Ibrohim menengadahkan kepalanya dan berseru:
 
Ya Allah selamatkanlah diriku ini!”
 
Seketika itu juga, anaknya yang sedang berada dalam rangkulannya menemui ajalnya.
 
Apakah yang terjadi Ibrohim?”, tanya sahabat-sahabatnya. “Ketika aku merangkulnya”, Ibrohim menjelaskan kepada sahabatnya. "Timbullah rasa cintaku kepada anakku, dan sebuah suara berseru kepadaku 'engkau telah mengatakan bahwa engkau mencintai AKU, tetapi nyatanya engkau mencintai orang lain di samping AKU. Engkau telah menasihati sahabat-sahabatmu agar mereka tidak memandang wanita dan perempuan, tetapi hatimu sendiri lebih tertarik kepada wanita dan pemuda itu!' Mendengar kata-kata itu akupun berdo’a :"Ya Alloh Yang Maha Besar, selamatkanlah diriku ini. Anak ini akan merenggut seluruh perhatianku sehingga aku tidak dapat mencintaiMU lagi. Cabutlah nyawa anakku atau cabutlah nyawaku sendiri.” Dan kematian anakku tersebut adalah jawaban Alloh terhadap do'aku.”
 
JUAL BELI PEKERJAAN
 
Seseorang bertanya kepada Ibrohim bin Adham: “Apakah yang telah terjadi terhadap dirimu sehingga engkau meninggalkan kerajaanmu ?”
 
Ibrohim bin adham bercerita: “Pada suatu hari aku sedang duduk di atas tahta dan sebuah cermin dipegangkan di hadapanku. Aku memandang cermin itu, tiba-tiba yang terlihat olehku adalah sebuah kuburan sedang di dalamnya tak ada teman-teman yang kukenal. Sebuah perjalanan yang jauh terbentang di depanku sedang aku tak punya bekal. Kulihat seorang hakim yang adil sedang aku tidak mempunyai seorang pun yang membela diriku. Setelah kejadian itu aku benci-melihat kerajaanku”.
 
Mengapa pula engkau meninggalkan Khurasan?”, sahabat-sahabatnya bertanya.
 
Di Khurasan banyak kudengarkan kata-kata mengenai Sahabat Sejati” Jawab Ibrohim.
 
Mengapa engkau tidak beristeri lagi?” tanya sahabat-sahabat ibrohim
 
Maukah seorang wanita mengambil seorang suami yang akan membuatnya lapar dan tak berpakaian?”. Ibrohim balik bertanya.
 
Tidak!” jawab mereka..
 
Itulah sebabnya aku tidak mau menikah lagi”. Ibrohim menjelaskan. “Setiap wanita yang kunikahi akan lapar dan bertelanjang seumur hidupnya. Bahkan seandainya sanggup, aku ingin menceraikan diriku sendiri. Bagaimanakah aku dapat membawa seseorang yang lain di atas pelana kudaku?”
 
Kemudian ia berpaling kepada seorang pengemis yang turut mendengarkan kata-katanya itu dan bertanya kepada pengemis itu: “Apakah engkau mempunyai seorang isteri?”
 
Tidak”, jawab si pengemis.
 
Apakah engkau mempunyai seorang anak?” tanya Ibrohim
 
Tidak”. Si pengemis menjawab.
 
Baik sekali! Baik sekali!”, seru Ibrohim.
 
Mengapa engkau berkata demikian?", si pengemis bertanya.
Seorang pengemis yang menikah adalah seperti seorang yang menumpang sebuah perahu. Apabila anak-anaknya lahir, tenggelamlah ia”. Ibrohim menjelaskan.
 
Suatu hari Ibrahim menyaksikan seorang pengemis sedang meratapi nasibnya.
 
“Aku menduga bahwa engkau membeli pekerjaan ini dengan gratis”, kata Ibrohim kepada pengemis yang meratapi nasibnya.
 
Apakah pekerjaan mengemis diperjual belikan”, si pengemis bertanya heran.
 
Sudah tentu!”, jawab Ibrohim. “Aku sendiri telah membelinya dengan kerajaan Balkh. Dan aku merasa sangat beruntung! “. 
 
SI KAYA YANG PENGEMIS
 
Seseorang datang hendak memberi uang seribu dinar kepada Ibrohim. “Terimalah uang ini", katanya kepada Ibrohim.
 
Aku tak mau menerima sesuatu pun dari para pengemis’. jawab Ibrohim.
 
Tetapi aku adalah seorang yang kaya”, balas orang tersebut.
Apakah engkau masih menginginkan kekayaan yang lebih besar dari yang telah engkau miliki sekarang ini?",tanya Ibrohim. “Ya”, jawabnya.
 
Bawalah kembali uang ini!. Engkau adalah ketua para pengemis. Engkau bahkan bukan seorang pengemis lagi tetapi seorang yang sangat tidak punya apa-apa dan terlunta-lunta”.

Seorang pengemis adalah orang yang meminta-minta untuk memenuhi kebutuhan hidupnya (walaupun ia meminta kepada Alloh), secara haqiqi manusia adalah pengemis dihadapan Alloh.
Orang kaya yang tidak punya apa-apa adalah orang yang meminta-minta untuk menuruti/memenuhi keinginan (hawa nafsu) nya bukan akheratnya dan semua itu hilang apabila Alloh sudah menurunkan musibah, semua akan lenyap apalagi musibah kematiannya. Dan orang kaya tidak akan punya teman sejati, semua teman mendekati dirinya bukan murni karana rasa pertemanan, tetapi mereka mendekat karana ia punya harta.
Orang yang terlunta-lunta adalah orang yang tidak pernah merasakan ketenangan hidup, orang yang selalu mengejar harta, melupakan akan kenikmatan sehat, berkumpul, berteman, dan melupakan akherat. Sehingga di padang mahsar di yaumil hisab (hari perhitungan amal) ia terlunta-lunta menunggu giliran di hisab dari orang miskin, terlunta-lunta tidak tenang dihisab dengan waktu lama karana banyaknya harta, dan terlunta-lunta menunggu giliran masuk surga/neraka setelah orang miskin.

Orang yang bagus adalah orang kaya yang selalu ingat akan akherat.

Dari Abu Hurairah, Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wassallam bersabda:

يَدْخُلُ فُقَرَاءُ الْمُؤْمِنِينَ الْجَنَّةَ قَبْلَ الأَغْنِيَاءِ بِنِصْفِ يَوْمٍ خَمْسِمِائَةِ عَامٍ

Orang beriman yang miskin akan masuk surga sebelum orang-orang kaya yaitu lebih dulu setengah hari yang sama dengan 500 tahun.”

(HR. Ibnu Majah,Tirmidzi).


PERTAPA MUDA
 
Kepada Ibrohim dikabarkan mengenai seorang pertapa remaja yang telah memperoleh pengalaman-pengalaman menakjubkan dan telah melakukan disiplin diri yang sangat keras.
 
Antarkanlah aku, kepadanya karena aku ingin sekali bertemu dengannya”, kata Ibrohim.
 
Mereka mengantarkan Ibrohim ke tempat si pemuda bertapa itu, “Jadilah tamuku selama tiga hari”, si pemuda mengundang lbrohim.
Dan ibrohim menerima undangannya dan selama itu pula lbrohim memperhatikan tingkah lakunya. Ternyata yang disaksikan Ibrohim lebih menakjubkan daripada yang telah didengarnya dari sahabat-sahabatnya. Sepanjang malam si pemuda tidak pernah tertidur atau terlena. Menyaksikan semua ini Ibrohim merasa iri.
 
"Aku sedemikian lemah, tidak seperti pemuda ini yang tak pernah tidur dan beristirahat sepanjang malam. Aku akan mengamati dirinya lebih seksama”, Ibrohim berkata dalam hati. “Akan kuselidiki apakah syaithan telah merasuk ke dalam tubuhnya atau apakah semua ini wajar sebagaimana yang semestinya. Aku harus meneliti sedalam-dalamnya. Yang menjadi inti persoalan adalah apa yang dimakan oleh seseorang.”
 
Maka diselidikinyalah makanan si pemuda. Ternyata si pemuda memperoleh makanan dari sumber yang tidak halal.
 
"Maha Besar Allah, ternyata semua ini adalah perbuatan syaithan”. Ibrohim berkata dalam hati.
 
"Aku telah menjadi tamumu selama tiga hari”, kata Ibrohim. "Kini engkaulah yang menjadi tamuku selama empat puluh hari!”.
 
Si pemuda setuju. Ibrohim membawa si pemuda ke rumahnya dan menjamunya dengan makanan yang telah diperolehnya dengan memeras keringatnya sendiri. Seketika itu juga kegembiraan si pemuda hilang. Semua semangat dan kegesitannya buyar. Ia tidak dapat lagi hidup tanpa istirahat dan tidur, la lalu menangis.
 
"Apakah yang telah engkau perbuat terhadapku?” tanya si pemuda kepada Ibrohim.
 
Makananmu engkau peroleh dari sumber yang tak halal. Setiap saat syaithan merasuk ke dalam tubuhmu. Tetapi begitu engkau menelan makanan yang halal, maka ketahuanlah bahwa semua hal-hal menakjubkan yang dapat engkau lakukan selama ini adalah pekerjaan syaitan.”
 

SETIA KAWAN
 
Sahi bin Ibrohim berkisah : "Ketika melakukan perjalanan dengan Ibrohim bin Adham aku jatuh sakit. Ibrohim menjual segala sesuatu yang dimilikinya dan mempergunakan uang yang diperolehnya itu untuk merawat diriku. Kemudian aku memohonkan sesuatu dari Ibrohim dan ia menjual keledainya dan hasil penjualan itu diperuntukkannya padaku. Setelah sembuh aku bertanya kepada Ibrahim: “Di manakah keledaimu?”
 
Telah kujual”, jawab Ibrahim.
 
Apakah tungganganku?”, tanyaku.
 
Saudaraku”, jawab Ibrohim, “naiklah ke atas punggungku ini”. Kemudian ia mengangkat tubuhku ke atas pungungnya dan menggendongku sampai ke persinggahan yang ketiga dari tempat itu. 
 

BELAS KASIH TERHADAP SAHABAT
 
Setiap hari Ibrohim pergi keluar rumah untuk menjual tenaganya., bekerja hingga malam, dan seluruh pendapatannya digunakan untuk kepentingan sahabat-sahabatnya. Suatu hari, ia baru membeli makanan setelah selesai sholat Isya' dan kembali kepada sahabat-sahabatnva ketika hari telah larut malam.
 
Sahabat-sahabatnya berkata sesama mereka: “Ibrohim terlambat datang, marilah kita makan roti kemudian tidur. Hal ini akan menjadi peringatan kepada Ibrohim, agar lain kali agar ia pulang lebih cepat dan tidak membiarkan kita lama menunggu-nunggu".
 
Niat itu mereka laksanakan. Sewaktu Ibrohim pulang, dilihatnya sahabat-sahabatnya sudah tertidur. Mengira bahwa mereka belum makan dan tidur dengan perut kosong, Ibrohim lalu menyalakan api. Ia membawa sedikit gandum. Maka dibuatnyalah makanan untuk santapan sahabat-sahabatnya itu apabila mereka terbangun nanti, dengan demikian mereka dapat berpuasa esok hari.
Sahabat-sahabatnya terbangun, melihat Ibrohim sedang meniup api, janggutnya menyentuh lantai dan air matanya meleleh karena asap yang mengepul-ngepul di sekelilingnya.
 
Apakah yang sedang engkau lakukan,’’ tanya mereka. 

Kulihat kalian sedang tertidur”, jawab Ibrahim. "Aku mengira kalian tertidur dalam keadaan lapar karena belum makan, ini kubuatkan makanan untuk kalian makan setelah bangun dari tidur.”
 
Betapa ia memikirkan diri kita dan betapa kita berpikir yang bukan-bukan mengenai dirinya”, mereka berkata saling berpandang-pandangan.
 
KEBAHAGIAAN SUFI
 
Sejak engkau menempuh kehidupan yang seperti ini, apakah engkau pernah mengalami kebahagiaan?”, seseorang bertanya kepada Ibrohim.
 
Sudah beberapa kali”, jawab Ibrohim. “Pada suatu ketika aku sedang berada di atas sebuah kapal dan nakhoda tak mengenal diriku. Aku mengenakan pakaian yang lusuh dan rambutku belum dicukur. Aku sedang berada dalam suatu ekstase spiritual namun tak seorang pun di atas kapal itu yang mengetahuinya. Mereka menertawai dan memperolok-olokkanku. Di atas kapal itu ada seorang pembadut. Setiap kali ia menghampiriku ia menjambak rambutku dan menampar tengkukku. Pada saat itu aku merasakan bahwa keinginanku telah tercapai dan aku merasa sangat bahagia karena dihinakan sedemikian rupa”.
 
“Tanpa terduga-duga, datanglah gelombang raksasa. Semua yang berada di atas kapal kuatir kalau-kalau mereka akan tenggelam. Salah seorang di antara penumpang harus dilemparkan ke luar agar muatan jadi ringan!”, teriak juru mudi. Mereka segera meringkusku untuk dilemparkan ke laut. Tetapi untunglah seketika itu juga gelombang mereda dan perahu itu tenang kembali. Pada saat mereka menarik telingaku untuk dilemparkan ke laut itulah aku merasakan bahwa keinginanku telah tercapai dan aku merasa sangat berbahagia”.
 
"Dalam peristiwa yang lain, aku pergi ke sebuah masjid untuk tidur di sana. Tetapi orang-orang tidak mengizinkan aku tidur di dalam masjid itu sedang aku sedemikian lemah dan letih sehingga tak sanggup berdiri Untuk meninggalkan tempat itu. Orang-orang menarik kakiku dan menyeretku ke luar. Masjid itu mempunyai tiga buah anak tangga. Setiap kali membentur anak tangga itu, kepalaku mengeluarkan darah. Pada saat itu aku merasa bahwa keinginanku telah tercapai. Sewaktu mereka melemparkan diriku ke anak tangga yang berada di bawah, misteri alam semesta terbuka kepadaku dan aku berkata di dalam hati: 'Mengapa masjid ini tidak mempunyai lebih banyak anak tangga sehingga semakin bertambah pula kebahagiaanku!”.
 
“Dalam peristiwa lain, aku sedang asyik dalam ekstase. Seorang pembadut datang dan mengencingiku. Pada saat itu aku pun merasa berbahagia”.
 
“Dalam sebuah peristiwa, aku mengenakan sebuah mantel bulu. Mantel itu penuh dengan tuma (kutu) yang tanpa ampun lagi mengganyang tubuhku. Tiba-tiba aku teringat akan pakaian bagus yang tersimpan di dalam gudang, tetapi hatiku berseru: ‘Mengapa? Apakah semua itu menyakitkan? Pada saat itu aku merasa bahwa keinginanku telah tercapai!”
 
PASRAH
 
Ibrohim berkisah: "Pada suatu hari ketika aku sedang mengarungi padang pasir dan aku berpasrah diri kepada Alloh. Telah beberapa hari lamanya aku tidak makan. Aku teringat kepada seorang sahabat tetapi aku segera berkata kepada diriku sendiri, “Jika aku pergi ke tempat sahabatku, apakah gunanya kepasrahanku kepada Alloh?”.
 
Kemudian aku memasuki sebuah masjid sambil bibirku bergerak-gerak menggumamkan: "Aku telah mempercayakan diriku kepada Dia Yang Hidup dan tak pernah mati, Tidak ada Tuhan selain-Nya”.
 
Sebuah suara berseru dari langit: “Maha besar Alloh yang telah mengosongkan bumi bagi orang-orang yang berpasrah diri kepada-Nya”. Aku bertanya: “Mengapakah demikian?”
 
Suara itu menjawab: “Betapakah seseorang benar-benar berpasrah diri kepada Alloh, melakukan perjalanan jauh demi sesuap makanan yang dapat diberikan sembarang sahabatnya, kemudian menyatakan ‘Aku telah memasrahkan diriku kepada Yang Hidup dan tidak pernah mati?’ Engkau telah memberikan ucapan berpasrah kepada Alloh kepada seseorang pendusta”.
 
BUKAN HAK SEORANG HAMBA
 
Ibrahim berkisah: Pada suatu ketika aku membeli seorang hamba “Siapakah namamu?”, tanyaku kepadanya.
 
Panggilanmu terhadapku”, jawabnya.
 
Apakah yang engkau makan?” tanya Ibrohim
 
Makanan yang kau berikan untuk kumakan” jawabnya,
 
Ibrohim bertanya, “Pakaian apakah yang engkau pakai?”
 
“Pakaian yang engkau berikan untuk kukenakan”, jawab si hamba kepadaku,
 
Apakah yang engkau kerjakan?” tanya Ibrohim
 
Pekerjaan yang engkau perintahkan kepadaku.” jawab ia,
 
Apakah yang engkau inginkan?” tanya Ibrohim
 
Apakah hak seorang hamba untuk menginginkan?”, jawabnya.
 
Celakalah engkau”; kataku kepada diriku sendiri, “seumur hidup engkau adalah hamba Alloh. Kini ketahuilah bagaimana seharusnya menjadi seorang hamba.”
 
Sedemikian lamanya aku menangis sehingga aku tidak sadarkan diri.
 
TAK PERNAH BERSILA
 
Tak seorang pun pernah menyaksikan Ibrohim duduk bersila. “Mengapa engkau tak pernah duduk bersila?”, tanya seseorang kepada Ibrohim,
 
Ibrohim menjawab:’ “Pada suatu hari ketika aku duduk bersila terdengar olehku suara yang berkata kepadaku: “Wahai anak Adham, apakah hamba-hamba duduk seperti itu di hadapan tuan mereka?’ Segeralah aku duduk tegak dan memohon ampunan”.
 
GODAAN SYAITHAN
 
Ibrohim berkisah: "Pada suatu ketika aku berjalan menempuh padang pasir sambil memasrahkan diri kepada Alloh. Sudah tiga hari lamanya aku tidak makan. Kemudian syaithan datang kepadaku dan menggoda: “Apakah engkau meninggalkan kerajaanmu beserta kemegahan-kemegahan yang sedemikian banyak hanya untuk pergi ke tanah suci dalam keadaan lapar seperti ini? Sesungguhnya engkau dapat melakukan hal yang serupa tanpa penderitaan ini”.
 
Setelah mendengar kata-kata syaithan itu aku tengadahkan kepalaku dan berseru kepada Alloh: “Ya Alloh, apakah Engkau lebih suka mengangkat musuh-Mu daripada sahabat-Mu untuk menyiksa diriku? Kuatkanlah diriku karena aku tak sanggup menyeberangi padang pasir ini tanpa pertolonganmu”.
 
Maka terdengarlah olehku sebuah seruan:
 
Ibrohim, campakkanlah yang di dalam sakumu itu sehingga Kami boleh mendatangkan karunia Kami dari alam ghaib”.
 
Aku rogoh sakuku, kudapatkan empat buah mata uang perak yang tanpa sengaja terbawa olehku. Begitu aku melemparkan uang itu, si syaithan lari meninggalkan diriku dan secara ghaib di depanku telah terhidang makanan.
 
TAK PERNAH MENCICIPI
 
Aku pernah bekerja menjaga sebuah kebun buah-buahan. Pada suatu hari pemilik kebun itu datang kepadaku dan berkata: “Ambil kanlah padaku beberapa buah delima yang manis rasanya”. Maka kuambilkan beberapa buah tetapi ternyata rasanya asam.
 
Bawakanlah buah-buahan yang manis”, si pemilik kebun mengulangi perintahnya. Maka kubawakan delima sepinggan penuh, namun buah-buahan itu asam pula rasanya.
 
Si pemilik kebun berseru: “Masya-Alloh, telah sedemikian lama engkau bekerja di kebun ini namun engkau tidak mengenal buah delima yang telah masak?”
 
‘’Aku menjaga kebunmu namun aku tak tahu bagaimana rasanya buah delima karena aku tak pernah mencicipinya”, jawabku. Maka berkatalah si pemilik kebun: “Dengan keteguhan, yang seperti ini, aku mempunyai persangkaan bahwa engkau adalah Ibrohim bin Adham”.
 
Setelah mendengar kata-kata tersebut segeralah aku meninggalkan tempat itu.
 
CATATLAH NAMAKU JIBRIL!
 
Ibrohim mengisahkan: Pada suatu malam, dalam sebuah mimpi kulihat Jibril 'Alaihis Salam turun ke bumi membawa segulung kertas di tangannya.
 
Aku bertanya kepadanya: “Apakah yang hendak engkau lakukan?”
 
Aku hendak mencatat nama sahabat-sahabat Alloh”, jawab Jubril.”
 
Catatlah namaku,” aku bermohon kepadanya.
 
Engkau bukan salah seorang di antara sahabat-sahabat Alloh”, jawab Jibril.
 
Tetapi aku adalah seorang sahabat dari sahabat-sahabat Alloh itu”, aku bermohon hampir putus asa.
 
Beberapa saat Jibril terdiam. Kemudian ia berkata: “Telah kuterima sebuah perintah: 'Tuliskanlah nama Ibrohim di tempat paling atas karena di dalam jalan ini harapan tercipta dari keputusasaan.”
 
DO’A TULUS
 
Suatu hari ketika Ibrohim sedang berada di sebuah padang pasir, seorang tentara menegurnya:
 
Siapakah engkau?”
 
‘"Seorang hamba”, jawab Ibrohim.
 
Manakah jalan ke perkampungan?”, tanya tentara itu. Ibrohim lalu menunjuk ke sebuah pemakaman.
 
Engkau memperolok-olokkan aku!”, hardik si tentara, kemudian memukul kepala Ibrohim hingga luka dan berdarah. Setelah itu ia mengalungkan tali ke leher Ibrohim dan menyeretnya. Beberapa orang dari kota yang terletak di dekat tempat kejadian itu kebetulan lewat. Menyaksikan hal ini mereka berhenti dan berseru:
 
Hai orang bodoh, orang ini adalah Ibrohim bin Ad-ham, sahabat Alloh!..."
 
Sardadu itu cepat berlutut di depan Ibrohim, bermohon agar ia dimaafkan.
 
Engkau mengatakan bahwa engkau adalah seorang hamba”, si serdadu mencoba membela diri.
 
Siapakah orangnya yang bukan hamba?”, tanya Ibrohim.
 
Aku telah melukai kepalamu tetapi engkau malah mendoakan keselamatanku”.
 
Aku mendoakan agar engkau memperoleh berkah karena perlakuanmu terhadap diriku”, jawab Ibrohim. “Imbalan terhadap diriku karena perlakuanmu itu adalah surga dan aku tidak tega jika imbalan untukmu adalah neraka”.
 
Mengapakah engkau menunjukkan pemakaman ketika aku menanyakan jalan ke perkampungan?”, tanya si serdadu.
 
Ibrohim menjawab: “Karena semakin lama, pemakaman semakin penuh sedang kota semakin kosong”.
 
MEMULIAKAN ALLAH
 
Suatu hari Ibrohim bertemu dengan seorang yang sedang mabuk. Mulutnya berbau busuk. Segera Ibrohim mengambil air dan dibasuhnya mulut si pemabuk itu sambil berkata kepada dirinya sendiri:
 
Apakah akan kubiarkan mulut yang pernah mengucapkan nama Alloh di dalam keadaan kotor. Itu namanya tidak memuliakan Alloh”.
 
Ketika si pemabuk siuman, orang-orang berkata kepadanya: “Pertapa dari Khurasan telah membasuh mulutmu”.
 
Si pemabuk menjawab: “Sejak saat ini aku bertaubat!”.
 
Setelah bertaubat demikian, Ibrohim di dalam mimpinya mendengar sebuah seruan kepada dirinya:
 
Engkau telah membasuh sebuah mulut demi AKU dan AKU telah membasuh hatimu”.
 
MENUMPANG PERAHU
 
Rojah berkisah: Ketika aku dan Ibrohim sedang menumpang sebuah perahu, tiba-tiba angin topan datang menerpa dan bumi menjadi kelam. Aku berteriak: “Perahu kita akan tenggelam!”.
 
Tetapi dari langit kudengar sebuah suara:
 
Jangan kuatirkan perahu akan tenggelam karena Ibrohim bin Adham ada beserta kalian”.
 
Segera setelah itu angin mereda dan bumi yang kelam menjadi terang kembali.
 
TAK BISA BAYAR
 
Ibrohim menumpang sebuah perahu tetapi ia tidak mempunyai uang. Kemudian terdengar sebuah pengumuman: “Setiap orang harus memberikan satu dinar”.
 
Ibrohim segera shalat sunnat dua raka’at dan berdoa:
 
Ya Alloh, mereka meminta ongkos tetapi aku tak mempunyai uang”.
 
Mendadak lautan luas berubah menjadi emas. Ibrohim mengambil segenggam dan memberikannya kepada mereka.
 
KEMBALIKAN JARUMKU
 
Suatu hari Ibrohim duduk di tepi sungai Tigris menjahit jubah tuanya. Jarumnya terjatuh ke dalam sungai: Seseorang bertanya kepadanya: “Engkau telah meninggalkan sebuah kerajaan yang jaya, tetapi apakah yang telah engkau peroleh sebagai imbalan?”
 
Sambil menunjuk ke sungai, Ibrohim berseru:
 
Kembalikanlah jarumku!”
 
Seribu ekor ikan mendongakkan kepala ke permukaan air, masing-masing dengan sebuah jarum emas di mulutnya. Kepada ikan-ikan itu Ibrohim berkata:
 
Yang aku inginkan adalah jarumku sendiri”.
 
Seekor ikan yang kecil dan lemah datang mengantarkan jarum kepunyaan Ibrohim di mulutnya.
 
Jarum ini adalah salah satu di antara imbalan-imbalan yang kuperoleh karena meninggalkan kerajaan Balkh. Sedang yang lain-lainnya belum engkau ketahui”.
 
SUMUR HARTA
 
Suatu hari Ibrohim pergi ke sebuah sumur. Timba diturunkan- nya dan ketika diangkat ternyata timba itu penuh dengan kepingan emas. Emas-emas itu ditumpahkannya kembali ke dalam sumur. Kemudian timba diturunkan dan ketika diangkat ternyata penuh pula dengan butiran butiran mutiara. Dengan jenaka mutiara-mutiara itu ditumpahkannya pula. Kemudian Ibrohim berdoa kepada Alloh “Ya Allah, Engkau menganugerahiku dengan harta karun. Aku tahu bahwa Engkau Maha Kuasa, tetapi Engkaupun tahu bahwa aku pun tak terpesona oleh harta  benda. Berilah aku air agar aku dapat bersuci.”
 
POHON EMAS
 
Ketika Ibrahim menyertai sebuah rombongan yang hendak berziarah ke tanah suci. Mereka berkata: “Tak seorang pun di antara kita yang mempunyai unta maupun perbekalan”.
 
Percayalah bahwa Alloh akan menolong kita”, kata Ibrohim. Setelah diam sebentar, ia menambahkan: “Pandanglah pohon-pohon di sana. Jika emas yang kalian inginkan; maka pohon-pohon itu niscaya akan berubah menjadi emas”.
 
Dan seketika itu juga pohon-pohon akasia itu, dengan kekuasaan Alloh Yang Maha Besar, berubah menjadi emas.
 
DAGING YANG HALAL
 
Ibrohim sedang berjalan dengan sebuah rombongan, mereka tiba di sebuah benteng. Di depan benteng itu banyak terdapat semak belukar.
 
Baiklah kita bermalam di sini karena di tempat ini banyak semak belukar sehingga kita dapat membuat api unggun”, kata mereka. 
 
Mereka pun menghidupkan api dan duduk di sekelilingnya. Semuanya memakan roti kering ketika Ibrohim sedang berdiri dalam sholatnya. Salah seorang di antara mereka berkata: “Seandainya kita mempunyai daging yang halal untuk kita panggang di atas api ini!”,
 
Setelah selesai sholat, Ibrohim .berkata kepada mereka: “Sudah pasti Alloh dapat memberikan daging yang halal kepada kamu sekalian”.
 
Setelah selesai berkata demikian Ibrohim bangkit dan sholat kembali. Tiba-tiba terdengar auman seekor singa yang menyeret keledai liar. Singa itu menghampiri mereka. Keledai itu mereka ambil, mereka, panggang untuk kemudian mereka makan sementara si singa duduk memperhatikan segala tingkah laku mereka.

KELIRU MENGAMBIL PELAJARAN

Syaqiiq Al-Balkhi adalah teman Ibrohim bin Adham yang dikenal ahli ibadah, zuhud dan tinggi tawakalnya kepada Alloh. Hingga pernah sampai pada tataran enggan untuk bekerja.
Penasaran dengan keadaan temannya, Ibrohim bin Adham bertanya, “Apa sebenarnya yang menyebabkan Anda bisa seperti ini?”
Syaqiiq menjawab, “Ketika saya sedang dalam perjalanan di padang yang tandus, saya melihat seekor burung yang patah kedua sayapnya. Lalu saya berkata dalam hati, aku ingin tahu, dari mana burung itu mendapatkan rizki. Maka aku duduk memperhatikannya dari jarak yang dekat. Tiba-tiba datanglah seekor burung yang membawa makanan di paruhnya. Burung itu mendekatkan makanan ke paruh burung yang patah kedua sayapnya untuk menyuapinya. Maka saya berkata dalam hati, “Dzat yang mengilhami burung sehat untuk menyantuni burung yang patah kedua sayapnya di tempat yang sepi ini pastilah berkuasa untuk memberiku rejeki di manapun aku berada. Maka sejak itu, aku putuskan untuk berhenti bekerja dan aku menyibukkan diriku dengan ibadah kepada Alloh."
Mendengar penuturan Syaqiiq tersebut Ibrohim berkata: "Wahai Syaqiiq, mengapa kamu serupakan dirimu dengan burung yang cacat itu? Mengapa Anda tidak berusaha menjadi burung sehat yang memberi makan burung yang sakit itu? Bukankah itu lebih utama?"
Ibrohom menuturkan: "Bukankah Nabi Sholallohu 'Alaihi Wassalam bersabda:“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah?”
Sudah selayaknya bagi seorang mukmin memilih derajat yang paling tinggi dalam segala urusannya, sehingga dia bisa mencapai derajat orang yang berbakti?"
Sudah selayaknya bagi seorang mukmin memilih derajat yang paling tinggi dalam segala urusannya, sehingga dia bisa mencapai derajat orang yang berbakti?"
Syaqiiq tersentak dengan pernyataan Ibrahim dan ia menyadari kekeliruannya dalam mengambil pelajaran. Serta merta diraihnya tangan Ibrohim dan dia cium tangan itu sambil berkata, “Sungguh. Anda adalah ustadzku, wahai Abu Ishaq (Ibrohim).”

TANGISAN IBRAHIM BIN ADHAM DI PEMANDIAN UMUM

Suatu hari, seorang tokoh sufi besar, Ibrohim bin Adham, mencoba untuk memasuki sebuah tempat pemandian umum. Penjaganya meminta uang untuk membayar karcis masuk. Ibrohim menggeleng dan mengaku bahwa ia tak punya uang untuk membeli karcis masuk.
Penjaga pemandian lalu berkata, “Jika engkau tidak punya uang, maka engkau tak boleh masuk.”
Ibrohim seketika menjerit dan tersungkur ke atas tanah. Dari mulutnya terdengar ratapan-ratapan kesedihan. Para pejalan yang lewat berhenti dan berusaha menghiburnya. Seseorang bahkan menawarinya uang agar ia dapat masuk ke tempat pemandian.
Ibrohim menjawab, “Aku menangis bukan karena ditolak masuk ke tempat pemandian ini. Ketika si penjaga meminta ongkos untuk membayar karcis masuk, aku langsung teringat pada sesuatu yang membuatku menangis. Jika aku tak diizinkan masuk ke pemandian dunia ini kecuali jika aku membayar tiket masuknya, harapan apa lagi yang dapat aku andalkan agar diizinkan memasuki surga? Apa yang akan terjadi padaku jika mereka menuntut: Amal sholih apa yang telah kau bawa? Apa yang telah kau kerjakan yang cukup berharga untuk boleh dimasukkan ke surga? Sama ketika aku diusir dari pemandian karena tak mampu membayar, aku tentu tak akan diperbolehkan memasuki surga jika aku tak mempunyai amal sholih apa pun. Itulah sebabnya aku menangis dan meratap.”
Dan orang-orang di sekitarnya yang mendengar ucapan itu langsung terjatuh dan menangis bersama Ibrohim.


KARENA SEBUTIR KURMA

Selesai menunaikan ibadah haji, Ibrohim bin Adham berniat ziarah ke mesjidil Aqso. Untuk bekal di perjalanan, ia membeli 1 kg kurma dari pedagang tua di dekat mesjidil Harom.Setelah kurma ditimbang dan dibungkus, Ibrohim melihat sebutir kurma tergeletak didekat timbangan. Menyangka kurma itu bagian dari yang ia beli, Ibrohim memungut dan memakannya.
Setelah itu ia langsung berangkat menuju Al Aqso. 4 Bulan kemudian, Ibrohim tiba di Al Aqso. Seperti biasa, ia suka memilih sebuah tempat beribadah pada sebuah ruangan dibawah kubah Sakhra. Ia sholat dan berdoa khusuk sekali. Tiba tiba ia mendengar percakapan dua Malaikat tentang dirinya.
“Itu, Ibrohim bin Adham, ahli ibadah yang zuhud dan wara yang doanya selalu dikabulkan ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala,” kata malaikat yang satu.

“Tetapi sekarang tidak lagi. doanya ditolak karena 4 bulan yg lalu ia memakan sebutir kurma yang jatuh dari meja seorang pedagang tua di dekat mesjidil harom,” jawab malaikat yang satu lagi.

Ibrohim bin adham terkejut sekali, ia terhenyak, jadi selama 4 bulan ini ibadahnya, sholatnya, doanya dan mungkin amalan-amalan lainnya tidak diterima oleh ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala, gara-gara memakan sebutir kurma yang bukan haknya.

“Astaghfirullohal adzhim” Ibrohim memohon ampunan Alloh.

 Ia langsung berkemas untuk berangkat lagi ke Mekkah menemui pedagang tua penjual kurma. Untuk meminta dihalalkan sebutir kurma yang telah ditelannya.
Begitu sampai di Mekkah ia langsung menuju tempat penjual kurma itu, tetapi ia tidak menemukan pedagang tua itu melainkan seorang anak muda.
“4 bulan yang lalu saya membeli kurma disini dari seorang pedagang tua. kemana ia sekarang ?” tanya Ibrohim.

“Sudah meninggal sebulan yang lalu, saya sekarang meneruskan pekerjaannya berdagang kurma” jawab anak muda itu.

“Innalillahi wa innailaaihi roji’un, kalau begitu kepada siapa saya meminta penghalalan ?”. Lantas ibrohim menceritakan peristiwa yg dialaminya, anak muda itu mendengarkan penuh minat.

Nah, begitulah” kata ibrohim setelah bercerita, “Engkau sebagai ahli waris orangtua itu, maukah engkau menghalalkan sebutir kurma milik ayahmu yang terlanjur aku makan tanpa izinnya?”.

Lantas pemuda itu berkata: “Bagi saya tidak masalah. Insya ALLOH saya halalkan. Tapi entah dengan saudara-saudara saya yang jumlahnya 11 orang. Saya tidak berani mengatas nama kan mereka karena mereka mempunyai hak waris sama dengan saya.”

“Dimana alamat saudara-saudaramu ? biar saya temui mereka satu persatu.” jawab Ibrohim penuh semangat,

Setelah menerima alamat, ibrohim bin adham pergi menemui. Biar berjauhan, akhirnya selesai juga. Semua setuju menghalakan sebutir kurma milik ayah mereka yang termakan oleh ibrohim.

4 bulan kemudian, Ibrohim bin adham sudah berada dibawah kubah Sakhra. Tiba tiba ia mendengar dua malaikat yang dulu terdengar lagi bercakap cakap. “Itulah ibrohim bin adham yang doanya tertolak gara gara makan sebutir kurma milik orang lain.” 

“O, tidak.., sekarang doanya sudah makbul lagi doanya, ia telah mendapat penghalalan dari ahli waris pemilik kurma itu.. Diri dan jiwa Ibrohim kini telah bersih kembali dari kotoran sebutir kurma yang harom karena masih milik orang lain. Sekarang ia sudah bebas.” kata malaikat yang lainnya.


Pesan :
Adakah manusia jaman sekarang yang rela meninggalkan gemerlap harta dan kedudukan tinggi kemudian hidup sederhana bahkan kelewat sederhana seperti Syaikh Ibrohim bin Adham Rodhiallohu'anhu, seorang Raja Balkh yang memilih jalan sufi sebagai jalan hidupnya.


EmoticonEmoticon