Prakata:
pembacaan manaqib (kisah hidup), para pembaca disaat nama Robi'ah Al adawiyah Rodhiallohu'anha, pembaca wajib memandu para jama'ah dan atau pribadi untuk mengucap "Rodhiallohu'anha", disertai suratul fatihah khususkan kepada beliau. Supaya kita yang membaca tersambung batin, dan kita mendapatkan berkah dari Alloh Subhanahu Wa Ta'ala melalui beliau yang telah mendapatkan keredhoan dari Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.
Barangsiapa membaca kisah hidup seorang 'Alim, maka dia telah menghidupkan ilmu Alloh didalam dirinya, seperti beliau yang telah mengamalkan ilmu Alloh Subhanahu Wa Ta'ala didalam kehidupan beliau.
Cinta & Ma'rifat Ratu Sufi
Sang ratu Cinta lahir dalam kemiskinan yang sangat, Tak ada kain untuk menyelimuti dirinya, Tak ada minyak setetespun untuk pemoles pusarnya, Tak ada lampu untuk menerangi kelahirannya, Ia adalah putri ke empat, Maka disebutlah Robi’ah.
Sang ayah merenung sedih memikirkan hal ini, dan sang istri berkata meminta suaminya ke tetangga:
“Pergilah ke tetangga kita si fulan dan mintalah setetes minyak, supaya aku bisa menyalakan lampu,”.
Lalu suami pergi ke tetangga dan berpura-pura menyentuhkan tangan ke pintu rumah tetangganya lantas kembali pulang, untuk menghibur hati istrinya. Ayah Robi'ah memegah teguh imannya hanya berharap kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dan tidak mau pinjam atau meminta kepada selain Alloh Yang Maha Pemberi. Semuanya digantungkannya pada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Ayah Robi'ah berkata kepada Istrinya:
“Mereka tidak mau membuka pintu,”
Istrinya yang malang itu menangis dengan susah hati. Dalam keadaan cemas, laki-laki itu menyelipkan kepalanya di antara lutut sampai tertidur. Dalam kesedihan tidurnya ia bermimpi, Bertemu sang Nabi Sholallohu 'Alaihi Wassallam yang menghibur hati, dan bersabda:
“Jangan bersedih,”
Kemudian Baginda Rosululloh kembali bersabda:
“Bayi perempuan yang baru saja lahir itu adalah ratu di antara kaum perempuan, yang akan menjadi perantara bagi tujuh puluh ribu kaumku. Besok,”
Kanjeng Rosululloh Shollallohu 'Alaihi Wassallam melanjutkan:
“Temuilah Isa az-Zadan, Gubernur Basroh, dan tulislah surat dengan kata-kata berikut ini:
“Setiap malam engkau kirimkan sholawat 100 kali kepadaku, dan setiap malam Jum’at 400 kali, tetapi kemarin adalah malam Jum’at dan engkau lupa mengerjakannya. Sebagai penebus kelalaianmu berikanlah empat ratus dinar yang telah engkau peroleh secara halal kepada orang ini.”
Ayah Robi’ah terbangun dalam keadaan bersimbah air mata. Dia pun bergegas menuliskan surat yang diperintahkan oleh Kanjeng Nabi Shollallohu 'Alaihi Wassallam, dan menyerahkan surat itu kepada gubernur, lewat perantaraan pengurus rumah tangga istana.
ketika membaca surat itu, sang gubernur memberikan perintah:
“Sedekahkan dua ribu dinar kepada fakir miskin,”
Dan berkata lagi:
“sebagai bentuk syukur karena junjungan kita yang telah mengingatkanku. Berikan juga tuan tadi empat ratus dinar, dan katakan padanya,:
‘Aku harap engkau datang kepadaku sehingga aku dapat melihatmu. Tetapi aku merasa tidak pantas jika seseorang sepertimu datang menemuiku. Aku lebih suka jikalau akulah yang datang dan menyeka pintu rumahmu dengan janggutku. Namun, demi Alloh, aku memohon kepadamu, apa pun yang engkau butuhkan, katakanlah kepadaku.”
Ayah Robi’ah menerima uang itu dan membelanjakan apapun kebutuhannya.
Dalam kitab Tadz_kirotul 'Awliya', ketika Robi'ah agak lebih dewasa, musibah kelaparan merebak di Basroh, yang membuat ibu dan ayahnya menghadap ke Illahi Robbi dan Robi'ah terpisah dari kakak-kakaknya.
Ketika Robi'ah pergi keluar rumah, ia terlihat oleh orang jahat kemudian menculiknya dan di jual seharga 6 dirham kepada pembeli. Robi'ah pun disuruhnya mengerjakan pekerjaan yang berat-berat.
Suatu hari, Robi'ah saat sedang berjalan-jalan, ia didekati oleh orang asing. Robi'ah pun berusaha melarikan diri, tetapi tersungkur dan membuat tangannya cidera terkilir.
Dalam tersungkurnya tadi Robi'ah bersujud sambil berseru:
"Yaa Alloh, aku ini orang asing, anak yatim-piatu, seorang tahanan tertangkap tak berdaya, tanganku terkilir. Namun aku tidak bersedih atas semua ini, yang aku butuhkan adalah keredhoan-MU, untuk mengetahui apakah Engkau berkenan atau tidak."
Telinga Robi'ah mendengar suara tanpa ia ketahui dari mana asalnya:
"Jangan engkau bersedih, esok engaku akan dimuliakan sehingga malaikat-malaikat pun iri kepadamu."
Lalu, Rabi’ah pun kembali ke rumah majikannya. Saat siang hari Robi'ah bekerja sambil berpuasa, Malam harinya dihabiskan waqtunya untuk mujahadah dan munajahah dengan Robb-nya sampai fajar merekah.
Kedekatan beralih menuju ke aqroban (orang yang dekat kepada Alloh). Keaqroban membawanya kepada kerinduan dan kerinduan telah mengantarkannya pada cintanya pada Tuhannya. Dan berkata:
"Aku adalah milik-NYA."
"Aku hidup dibawah naungan-NYA. Aku lepaskan segala sesuatu yang telah kuperoleh kepada-NYA. Aku telah mengenal-NYA, sebab aku menghayati Diri-NYA."
Suatu malam yang dingin, Sang majikan merasakan kegelisahan dalam hatinya. Maka ia pun berjalan kebelakang rumah, memeriksa sekelilingnya, memeriksa kunci-kunci rumahnya.
Dan ketika ia sampai didekat gudang tempat Robi’ah tinggal, Kekagetannya membuat ia sendiri gugup, lampu yang semula dipegangnya kini terlempar entah kemana.
Bagaimana tidak, ketika ia melongokkan kepalanya ke dalam ruang tempat Robi'ah beristirahat, Ia sedang melihat robi'ah menjalankan sholat, dalam sujudnya Robi'ah berdoa kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala:
"Yaa Alloh, Engkau tahu bahwa hasrat hatiku adalah untuk dapat memenuhi perintah-MU dan mangabdi kepada-MU. Seandainya aku dapat mengubah nasibku ini, maka aku tidak akan beristirahat barang sebentar pun dari mengabdi kepada-MU. Akan tetapi Engkau telah menyerahkan diriku kebawah kekuasaan seorang makhluk ciptaan-MU."
Demikian doa yang dipanjatkan Robi'ah. Si majikan tersentak kaget melihat dengan mata kepalanya sendiri sebuah lentera tergantung tanpa rantai di atas kepala Robi'ah, yang cahayanya menerangi seluruh rumahnya.
Menyaksikan peristiwa itu, si majikan merasa takut. Kemudian ia beranjak le kamar tidur dan hanya bisa duduk termenung hingga fajar menyingsing.
Begitu matahari mulai beranjak naik, dipanggillah Robi'ah dengan sikap yang sangat lemah lembut kepada Robi'ah dan memerdekakan Robi'ah sebagai budaknya.
Sang majikan meminta Robi'ah untuk tetap tinggal sebagai istrinya, tetapi Robi'ah meminta:
"Izinkan aku pergi,"
Dan si majikan memberi izin. Rabi’ah pun meninggalkan rumah majikannya memilih untuk pergi menjauhi masyarakat sekitar, menuju gurun. Dari gurun, ia pergi ke gua tempatnya uzlah yang letaknya agak di pinghir desa. Di situlah Robi'ah tinggal beberapa lama untuk membaktikan diri kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.
Di masa musim haji, Robi'ah berniat hendak pergi ke makkah menunaikan ibadah haji. Maka Robi'ah berangkat membelah gurun pasir lagi dengan membawa bundelan berisi barang-barangnya di bebankan kepada punggung keledai yang ia bawa. Tanpa di sangka, begitu Robi'ah dan keledainya sampai di tengah-tengah gurun pasir, keledainya menemui ajal.
Seorang anggota rombongan berkata kepada Robi'ah:
“Izinkan kami membawakan barang-barangmu,”
Robi'ah menjawab:
"Kalian teruslah berjalan, aku bertujuan bukan untuk bertawakkal kepada kalian"
Para lelaki itu pun meneruskan perjalanan dan meninggalkan Robi'ah yang sedang sendirian. Lalu ia menegadah sambil meneteskan air mata, ia berdoa:
"Yaa Alloh, begitulah cara raja-raja memperlakukan seoran perempuan yang tidak berdaya ditempat yang asing baginya?"
"Engkau telah memanggilku ke rumah-MU, tetapi ditengah perjalanan Engkau membunuh keledaiku dan meninggalkanku sendirian ditengah-tengah gurun ini."
Belum Robi'ah selesai didalam doanya, keledainya bergerak dan bangkit berdiri. Robiah pun girang dan menaruh kembali barang-barang bawaannya di punggung keledainya itu dan melanjutkan perjalanannya.
Robi'ah kembali melanjutkan perjalanannya menuju baitulloh memecah gurun pasir selama beberapa hari lagi, kemudian ia berhenti. Alloh pun langsung dawuh (berbicara) di dalam hati Robi'ah,:
"Robi'ah, engkau sedang berada di atas sumber kehidupan delapan belas ribu dunia. Tidaklah engkau ingat, betapa Musa telah memohon untuk melihat wajah-KU dan gunung terpecah-pecah menjadi 40 keping. Oleh karena itu, cukuplah engkau dengan nama-KU saja."
Suatu hari di musim semi, Robi’ah memasuki tempat tinggalnya, Kemudian ia melongok keluar sebab pelayannya berseru:
“Ibu, keluarlah dan saksikanlah, apa yang telah dilakukan oleh sang Pencipta”
Kemudian Robi'ah Al Adawiyah balik berseru:
“Lebih baik engkaulah yang masuk kemari dan saksikanlah sang Pencipta itu sendiri."
Karena lama pelayan Robi'ah Al Adawiyah tidak masuk kedalam gua, kembali Robi'ah Al adawiyah berkata:
"Aku sedang asyik menatap Sang Pencipta, sehingga aku tidak peduli lagi terhadap ciptaan-ciptaan-NYA?”
Suatu malam ketika Robi’ah sedang sholat di tempat uzlahnya itu, ia merasa sangat letih sehingga akhirnya tertidur lelap dan matanya berdarah tertusuk alang-alang dari tikar yang ditidurinya itu, ia sama sekali tidak menyadarinya.
Disaat itu lah seorang maling menyelinap masuk ke dalam rumahnya, dan mengambil cadarnya. Ketika hendak pergi dari tempat itu, si pencuri tidak menemukan jalan keluar. Dia meninggalkan cadar itu, dan pergi, mendapati bahwa jalannya telah terbuka. Dia mengambil cadar Rabi’ah lagi, dan kembali menemukan pintunya terhalang.
Sekali lagi dijatuhkannya cadar itu. Dia terus mengulang-ulang hal ini sampai tujuh kali. Kemudian si pencuri mendengar suara lantang:
“Hai manusia, tidak usah merepotkan diri. Sudah bertahun-tahun perempuan ini mengabdi kepada Kami."
Saat si pencuri mencari sumber suara itu, suara kembali terdengar:
"Iblis sendiri tidak berani datang menghampirinya. Bagaimana mungkin seorang maling punya keberanian mencuri cadarnya? . Pergilah dari sini. Jika seorang sahabat sedang tertidur, maka sang Sahabat bangun dan berjaga-jaga”
Ketika seorang sahabat mengantarkan seorang kaya yang ingin memberikan uang emasnya pada Robi'ah, Robiah berkata,:
“DIA telah menafkahi orang-orang yang menghujjah-NYA. Apakah DIA tidak akan menafkahi orang-orang yang mencintai-NYA?"
Robi'ah melanjutkan berkata:
"Sejak aku mengenal-NYA, aku telah berpaling dari manusia ciptaan-NYA. Aku tidak tahu apakah kekayaan seseorang itu halal atau tidak, Maka betapakah aku dapat menerima pemberiannya?"
Dimalam-malam hari yang sepi dan sunyi, Dalam kerinduannya dengan sang Maha Pencipta, Robi'ah bergumam sambil bersujud:
“Ya Alloh, apapun yang akan Engkau karuniakan kepadaku di dunia ini, berikanlah kepada musuh-musuh-MU."
"Dan apapun yang akan Engkau karuniakan kepadaku di akhirat nanti, Berikanlah kepada sahabat-sahabat-MU, Karena Engkau sendiri cukuplah bagiku”
“Ya Alloh, semua jerih payahku dan semua hasratku diantara kesenangan-kesenangan dunia ini, adalah untuk mengingat Engkau."
"Dan diakhirat nanti, diantara segala kesenangan akhirat, adalah berjumpa denganMu."
"Begitulah halnya dengan diriku, Seperti yang telah kukatakan. Kini berbuatlah seperti yang Engkau kehendaki”
Robi'atul Adawiyah merupakan salah seorang srikandi agung dalam Islam. Beliau terkenal dengan sifat waro' (berhati-hati didalam hidupnya dengan meninggalkan perkara yang haram dan syubhat/perkara yang belum jelas halal atau haram) dan senantiasa menjadi rujukan golongan cerdik pandai karena beliau tidak pernah kehabisan hujjah (menerangkan suatu ilmu yang bersumber dari Al Qur'an dan Hadist). Ikutilah antara kisah-kisah teladan tentang beliau, semoga Alloh memberi kita hidayah dan memasukkan kita dalam golongan sholihin (orang-orang sholeh/suka berbuat kebajikan).
Pada suatu malam yang sunyi sepi, di kala masyarakat sedang nyenyak tidur, datang seorang pencuri yang mencoba masuk ke dalam pondok Robi'atul Adawiyah. Namun setelah mencari sesuatu sekeliling berkali-kali, dia tidak menemui sebuah benda berharga kecuali sebuah kendi untuk berwudu', itu pun jelek.
Lantas si pencuri tergesa-gesa untuk keluar dari pondok tersebut.
Tiba-tiba Robi'atul Adawiyah menegur si pencuri tersebut:
"Hei, jangan keluar sebelum kamu mengambil sesuatu dari rumahku ini."
Si pencuri tersebut terperanjat karena dia menyangka tidak ada penghuni di pondok tersebut.
Dia juga merasa heran karena baru kali ini dia menemui tuan rumah yang begitu baik hati seperti Robi'tul Adawiyah.
Kebiasaannya tuan rumah pasti akan menjerit meminta tolong apabila ada pencuri memasuki rumahnya, namun ini lain, Robi'ah berkata kembali kepada si pencuri itu:
"Silahkan ambil sesuatu."
Si pencuri berterus-terang:
"Tidak ada apa-apa yang boleh aku ambil dari rumah mu ini."
Robi'atul Adawiyah menunjuk kendi yang jelek tadi dan berkata:
"Ambillah itu!"
Si pencuri menjawab:
"Ini hanyalah sebuah kendi jelek yang tidak berharga."
Robi'ah berkata lagi:
"Ambil kendi itu dan bawa ke bilik air. Kemudian kamu ambil wudhu' menggunakan kendi itu. Selepas itu sholatlah 2 rokaat"
"Dengan demikian, engkau telah mengambil sesuatu yang sangat berharga daripada pondok jelekku ini."
Mendengar kata-kata itu, si pencuri tadi berasa gementar. Hatinya yang selama ini keras, menjadi lembut seperti terpukau dengan kata-kata Rabi'tul Adawiyah itu.
Lantas si pencuri mengambil kendi jelek itu dan dibawa ke bilik air, lalu berwudhu' menggunakannya. Kemudian dia menunaikan sholat 2 rokaat. Ternyata dia merasakan suatu kemanisan dan kelazatan dalam jiwanya yang tak pernah dirasa sebelum ini.
Robi'atul Adawiyah lantas berdoa:
"Ya Alloh, pencuri ini telah mencoba masuk ke rumahku. Akan tetapi dia tidak menemui sebuah benda berharga untuk dicuri. Kemudian aku suruh dia berdiri dihadapan-MU. Oleh itu janganlah Engkau halangi dia daripada memperoleh nikmat dan rohmat (kasih sayang)-MU."
Pada suatu hari, sekumpulan golongan cerdik pandai telah datang ke rumah Robi'atul Adawiyah. Tujuan mereka tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menguji Robi'atul Adawiyah dengan perbagai persoalan.
Dan mereka telah mempersiapkan dengan satu persoalan yang menarik. Mereka menaruh keyakinan yang tinggi, karena selama ini Robi'atul Adawiyah tidak pernah kekurangan hujjah (menerangkan suatu ilmu yang bersumber dari Al Qur'an dan Hadist).
Ketua rombongan itu memulai bicara:
"Wahai Robi'atul Adawiyah, semua bentuk kebajikan yang tinggi-tinggi telah dianugerahkan oleh Alloh kepada kaum lelaki, namun tidak kepada kaum wanita."
Robi'atul Adawiyah bertanya:
"Buktinya?"
Mereka menjawab dengan penuh keyaqinan:
"Buktinya adalah, mahkota kenabian dan Rosul telah dianugerahkan kepada kaum lelaki."
Salah 1 dari mereka menambahi:
"Malahan mahkota kebangsawanan juga dikurniakan kepada kaum lelaki."
Yang lain pula berkata:
"Yang paling penting, tidak ada seorang wanita pun yang telah diangkat menjadi Nabi atau Rosul, malah semuanya dari golongan lelaki."
Robi'atul Adawiyah menimpali:
"Memang betul pendapat tuan-tuan sekalian. Akan tetapi harus diingat bahwa sejahat-jahat pangkat ada pada kaum lelaki juga."
Kemudian Dengan tenang, Robi'atul Adawiyah membalas hujah mereka sambil merujuk kepada Firaun dan Namrud:
"Siapa yang mengagung-agungkan diri sendiri?"
"Siapa yang begitu berani mendakwakan dirinya sebagai Tuhan?"
"Dan siapa pula yang berkata:
"Bukankah aku ini tuhanmu yang mulia?"
Kemudian Rabi'atul Adawiyah menambah lagi:
"Anggapan dan ucapan seperti itu tidak pernah keluar dari mulut seorang wanita. Malah semuanya dilakukan oleh kaum lelaki."
Suatu hari yang cerah, Robi'atul Adawiyah sedang berjalan-jalan dan melihat seorang dengan kepalanya berbalut sambil meminta simpati dari orang banyak. Karena ingin tahu sebabnya orang itu berbuat demikian, Robi'atul Adawiyah bertanya:
"Wahai hamba Alloh! Mengapa engkau membalut kepalamu begini rupa?"
Orang itu menjawab dengan singkat:
"Kepalaku sakit."
Robi'atul Adawiyah bertanya lagi:
"Sudah berapa lama?"
Orang itu menjawab dengan tenang:
"Sudah sekian hari."
Lantas Robi'ah bertanya berapa sekarang usianya?
Jawab dia:
"Sudah 30 tahun"
Robi'ah kembali bertanya:
"Bagaimana keadaanmu selama 30 tahun itu?"
Laki-laki itu menjawab:
"Alhamdulillah, sehat-sehat saja."
Robi'ah bertanya lagi:
"Apakah kamu memasang sesuatu tanda di badanmu bahwa kamu sehat selama ini?"
Orang itu menjawab dengan ragu-ragu:
"Tidak"
Lantas Robi'atul adawiyah menjelaskan kepada orang tersebut:
"Masya Alloh, selama 30 tahun Alloh telah menyehatkan tubuh badanmu, tetapi kamu langsung tidak memasang sesuatu tanda untuk menunjukkan kamu sehat sebagai tanda bersyukur kepada Alloh."
"Jika sebaliknya, pasti manusia akan bertanya kepada kamu sebabnya kamu sangat gembira. Apabila mereka mengetahui nikmat Alloh kepadamu, diharapkan mereka akan bersyukur dan memuji Alloh."
Robi'atul Adawiyah menyambung perkataannya:
"Akan tetapi, kini apabila kamu mendapat sakit sedikit, kamu balut kepalamu dan kemudian pergi kesana sini bagi menunjukkan sakitmu dan kekasaran Alloh terhadapmu kepada orang banyak, mengapa kamu berbuat hina seperti itu?"
Orang yang berbalut kepalanya itu hanya diam seribu bahasa dan tertunduk malu dengan perlakuannya.
Kemudian dia segera meninggalkan Robi'atul Adawiyah dengan perasaan kesal dan insaf.
“Ya Alloh, jika aku menyembah-MU karena takut kepada neraka, bakarlah aku di dalam neraka dan jika aku menyembah-MU karena mengharap surga, campakkanlah aku dari dalam surga; tetapi jika aku menyembah-MU demi Engkau semata, janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan Wajah-MU yang abadi kepadaku”
Suatu ketika Abdul Wahid bin Zaid, seorang yang dihormati dan berpengaruh dalam masyarakat pada waktu itu, meminta temannya untuk menjadi perantara kepada Robi’ah namun ketika perantara itu menemuinya Robi’ah kemudian berkata:
“Wahai orang yang bernafsu kepadaku, carilah wanita yang bernafsu sepertimu."
Di lain waqtu Muhammad bin Sulaiman al-Hasyimi, seorang Amir Abbasiyah dari Basroh (w. 172 H), pernah mengajukan lamaran kepada Robi’ah untuk menjadi istrinya. Laki-laki itu sanggup memberikan mahar perkawinan sebesar 100 ribu dinar dan menulis surat kepada robi’ah bahwa ia masih memiliki gaji sebanyak 10 ribu dinar tiap bulan.
Tetapi dijawab oleh Rabi’ah:
”Aku sungguh tidak merasa senang bahwa engkau akan menjadi budakku dan semua milikmu akan engkau berikan kepadaku, atau engkau akan menarikku dari Alloh meskipun hanya untuk beberapa saat.”
Diceritakan bahwa Rabi’ah Adawiyah itu mempunyai tingkah laku yang berubah-ubah. Suatu ketika perasaan cintanya kepada Alloh begitu berat, hingga ia tidak sempat lagi berbuat apa-apa. Pada waktu lain ia kelihatan tenang nampak seperti tidak ada masalah, dan lain waktu ia kelihatan sangat takut dan cemas.
Suaminya pernah menceritakan, suatu hari aku duduk sambil menikmati makanan. Sementara ia duduk di sampingku dalam keadaan termenung lantaran dihantui peristiwa kiamat.
Suaminya berkata:
”Biarkan aku sendirian menikmati makanan ini”.
Robi'ah pun menjawab:
“Aku dan dirimu itu bukanlah termasuk orang yang dibuat susah dalam menyantap makanan, lantaran mengingat akhirat”.
Lebih lanjut Rabi’ah berkata:
”Demi Alloh, sesungguhnya bukanlah aku mencintaimu seperti kecintaannya orang yang bersuami istri pada umumnya. Hanyalah kecintaanku padamu sebagaimana kecintaan orang yang bersahabat”.
Kalau Rabi’ah Adawiyah memasak makanan, ia berkata:
”Majikanku, makanlah masakan itu. Karena tidak patut bagi badanku kecuali membaca tasbih saja”.
(yang dimaksud majikan adalah suami dari Robi’ah Adawiyah sendiri).
Hingga suatu hari Robi’ah berkata pada suaminya:
”Tinggalkan diriku, silakan kamu menikah lagi”.
Hal itu dikatakan ketika suaminya masih hidup. Maka suaminya pun menikah lagi dengan tiga perempuan. Saat itu Robi’ah masih setia melayani keperluan suaminya, termasuk memasakkan makanan.
Suatu hari Rabi’ah Adawiyah memasakkan daging untuk suaminya, ia berkata:
”Tinggalkanlah diriku dengan membawa kekuatan yang baru menuju istri-istrimu yang lain”.
Ketika suami Robi’ah Adawiyah wafat, beberapa waktu kemudian Syaikh Hasan Al-Bashri, ulama besar Iraq yang hidup di awal kekhalifahan Umayyah (generasi tabiin) dan sahabatnya datang menghadap Robi’ah. Mereka meminta izin diperkenankan masuk.
Robi’ah pun mengenakan cadarnya dan mengambil tempat duduk di balik tabir. Syaikh Hasan Al-Bashri mewakili kawan-kawannya mengutarakan maksud kedatangannya. Ia berkata:
”Suamimu telah tiada, sekarang kau sendirian. Kalau kamu menghendaki silakan memilih salah seorang dari kami. Mereka ini orang-orang yang ahli zuhud”.
Kemudian Robi’ah Adawiyah menjawab:
”Ya, aku suka saja mendapat kemuliaan ini. Namun aku hendak menguji kalian, siapa yang paling ‘alim (pandai) di antara kalian itulah yang menjadi suamiku”.
Syaikh Hasan Al-Bashri dan kawan-kawannya menyanggupi. Kemudian Rabi’ah Adawiyah bertanya:
”Jawablah empat pertanyaanku ini kalau bisa aku siap diperistri oleh kamu”.
Syaikh Hasan Al-Bashri berkata:
”Silakan bertanya, kalau Alloh memberi pertolongan aku mampu menjawab tentu aku jawab”.
Robi'ah bertanya:
“Bagaimana pendapatmu kalau aku mati kelak, kematianku dalam muslim (husnul khotimah) atau dalam keadaan kafir (suul khotimah)?"
Hasan Al-Bashri menjawab:
”Yang kau tanyakan itu hal yang ghoib, mana aku tahu”.
Robi'ah kembali bertanya:
“Bagaimana pendapatmu, kalau nanti aku sudah dimasukkan ke dalam kubur dan Mungkar-Nakir bertanya kepadaku, apakah aku sanggup menjawab atau tidak?"
Syaikh Hasan Al Bashri menjawab:
“Itu persoalan ghoib lagi,”
Robi'ah bertanya:
“Kalau seluruh manusia digiring di mauqif (padang mahsyar) pada hari kiamat kelak, dan buku-buku catatan amal yang dilakukan oleh Malaikat Hafazhah beterbangan dari tempat penyimpanannya di bawah ‘arsy. Kemudian buku-buku catatan itu diberikan kepada pemiliknya. Sebagian ada yang melalui tangan kanan saat menerima dan sebagian lagi ada yang lewat tangan kiri dalam menerimanya. Apakah aku termasuk orang yang menerimanya dengan tangan kanan atau tangan kiri?"
Syaikh Hasan Al Bashri menjawab:
“Lagi-lagi yang kau tanyakan hal yang ghoib,”
Rabi’ah bertanya lagi:
”Manakala pada hari kiamat terdengar pengumuman bahwa sebagian manusia masuk surga dan sebagian yang lain masuk neraka, apakah aku termasuk ahli surga atau ahli neraka?”
Syaikh Hasan Al Bashri kembali menjawab:
“Pertanyaanmu yang ini juga termasuk persoalan yang ghaib,”
Kemudian Rabi’ah berkata:
”Bagaimana orang yang mempunyai perhatian kuat terhadap empat persoalan itu masih sempat mamikirkan nikah?”
"Wahai Syaikh Hasan Kabarkan kepadaku, berapa bagian Allah Membagi akal?"
Syaikh Hasan Al Bashri menjawab:
"Sepuluh bagian, yaitu:
"sembilan bagian diperuntukkan laki-laki"
"Dan satu bagian diperuntukkan perempuan."
Robiah kembali bertanya:
"Lalu, berapa bagian Alloh membagi nafsu?"
Syaikh Hasan Al Bashri menjawab:
"Sepuluh bagian, yaitu:
"Sembilan bagian diperuntukkan perempuan,"
"Dan satu bagian diperuntukkan laki-laki."
Kemudian Robi'ah Al Adawiyah berkata:
“Wahai Syaikh Hasan, aku dianugrahi Alloh dengan kemampuan menjaga sembilan bagian nafsu dengan satu bagian akal,"
"Dan engkau tidak mampu menjaga satu bagian nafsu dengan sembilan bagian akal."
Syaikh Hasan Al Bashri. Waliyullah, Ulama’, Ahli Haqiqah diangkatan tabi’in ini menangis dari apa yang dikatakan Rabi’ah al-Adawiyah. Dan ia pun mengurungkan niatnya untuk melamar Robi'ah Al Adawiyah.
Coba perhatikan kisah dialog anatara Syaikh Hasan Al Bashri dengan Robi'ah Al Adawiyah, betapa besar perasaan takut Robi’ah Adawiyah terhadap persoalan itu. Kendati ia seorang shoehah, namun masih diikuti perasaan takut yang luar biasa jika akhir hayatnya tidak baik.
(Bahwa orang yang telah Alloh sibukkan dengan pengabdian kepada Alloh dengan ibadah keTuhanan, maka ia merasa lebih indah dari sebuah pernikahan/seks).
Suatu hari Robi’ah sedang jalan-jalan di sebuah pegununang, ada banyak binatang buas yang mendekatinya. Anehnya, binatang-binatang tersebut tidak menyerang Robi’ah dan sangat jinak kepadanya. Mereka bermain bersama. Tiba-tiba, Hasan Al-Bashri muncul dan mendekati Robi’ah. Seketika binatang-binatang buas tersebut menampakkan wajah buasnya dan pergi meninggalkan Hasan Al-Basri.
suatu ketika Rabiah berjalan melewati seorang pemuda yang sedang mengembala kambing. Robi'ah berkata,:
“Aku ingin berangkat haji.”
Tiba-tiba laki-laki itu mengeluarkan segepok emas dari saku bajunya. Laki-laki ini berniat memberikannya kepada Robi'ah. Namun, tiba-tiba wanita ini menjulurkan tangannya ke udara, dan seketika tampak tangan itu penuh dengan emas. Rabiah al-Adawiyah berkata:
"Kamu mengambil dari saku, sedangkan aku mengambil dari Alam Ghoib"
Maka pemuda itu lewat dengam penuh tawakal.
Robiah Al-Adawiyah pernah menanam tanaman, tiba-tiba muncul belalang. Melihat serangga-serangga itu Robi'ah Al-Adawiyah berkata:
"Wahai Tuhan, rezeqiku telah Engkau tanggung, maka terserah Engkau akan memberi makan musuh-musuh-MU atau para kekasih-MU"
Maka belalang itu terbang seakan tidak pernah ada.
Pada suatu malam ada dua orang teman Robi’ah yang datang kerumahnya. Mereka hendak melakukan diskusi bersama dengan Robi’ah. Na’asnya, rumah Robi’ah tidak memiliki lampu penerang.
Lalu Robi’ah meniup ujung jari-jarinya hingga kemudian mengeluarkan cahaya yang terang dan menerangi seluruh rumahnya sepanjang malam. Dengan demikian, mereka bisa berdiskusi hingga pagi hari.
Di suatu hari Syaikh Hasan Al-Basri mengajak Robi’ah Al-Adawiyah untuk sholat di atas air.
Robi’ah pun merespons ajakan Syaikh Hasan Al Bashri dengan sebuah jawaban yang ketus.
Bagi Robi’ah tidak lah perlu menunjukkan kemampuan spiritual untuk mencari kepopuleran duniawi.
Tidak hanya itu, Robi’ah kemudian melemparkan sajadahnya dan terbang di atasnya.
Ia mengajak Syaikh Hasan Al Bashri untuk naik di atas bersamanya sehingga lebih banyak orang yang mengetahuinya, dari pada hanya sekedar sholat di atas air.
Hasan tahu jawaban yang diutarakan Robi’ah itu adalah sindirian. Mendengar hal itu, Syaikh Hasan hanya terdiam.
Ketika Robi’ah melakukan perjalanan haji ke baitulloh Mekkah dengan menaiki unta. Di tengah jalan, unta yang dinaiki tersebut mati. Langsung saja, Robi’ah berdoa kepada Alloh. Tidak lama setelah itu, untanya hidup kembali. Robi’ah pun melanjutkan perjalanannya hingga sampai ke baitulloh dan pulang dengan menaiki unta yang sama, unta yang pernah mati itu.
Suatu hari Robi'ah membawa air di tangan kiri dan obor di tangan kanan.
"Kemana engkau hendak pergi Robi'ah?" Tanya seseorang kepadanya.
Robiah menjawab: "Saya hendak ke langit untuk membakar surga dan memadamkan api neraka, agar ke duanya tidak menjadi sebab manusia menyembah Alloh."
Kemudian Robi'ah meneruskan perkataannya.
"Sekiranya Alloh tidak menjadikan pahala dan siksa, masihkah diantara kalian yang menyembah Alloh??"
Wafatnya Robi'atul Adawiyah
Mengenai wafatnya ada dua pendapat yaitu tahun 135 H / 752M atau tahun 185 H / 801 M. Demi agar ia kuat beribadah, Robi'ah senantiasa meletakkan kain kafan persiapan dirinya nanti disebelahnya ketika ia sholat.
Ketika tiba saatnya Robi’ah harus meninggalkan dunia fana ini, Ia mengisyaratkan dengan tanganya agar orang-orang keluar, Orang-orang yang sebelumnya menunggui, kini satu demi satu membiarkan Robi’ah sendiri.
Setelah itu, mereka mendengar suara dari dalam kamar Robi'ah,
“Yaa nafsul muthmainnah. Irji’i ila robbika”
(wahai nafsu yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu)
Beberapa saat kemudian tak ada lagi suara yang terdengar dari kamar Robi’ah. Mereka lalu membuka pintu kamar itu dan mendapatkan Robi’ah telah berpulang.
Konon setelah itu ada yang bermimpi melihat Robi'ah, kepadanya ditanyakan:
“Bagaimanakah engkau menghadapi Munkar dan Nakir, wahai Robi'ah ?”
Robi’ah menjawab:
“Kedua malaikat itu datang kepadaku dan bertanya:
”Siapakah Tuhanmu?”.
Aku menjawab:
”Pergilah kepada Tuhanmu dan katakan kepada-NYA,
”Di antara beribu-ribu makhluk yang ada, janganlah Engkau melupakan seorang wanita tua yang lemah."
"Aku hanya memiliki Engkau di dunia yang luas, tidak pernah lupa kepadaMu, tetapi mengapakah Engkau mengirimkan utusan sekedar menanyakan “Siapakah Tuhanmu” kepadaku ?”
Ya Alloh, curahkan dan limpahkanlah keridhoan atas Robi'atul 'Adawiyah dan anugerahilah kami dengan rahasia-rahasia yang Engkau simpan padanya, Aamien...
Wallahu A'lam Bish-shawab sya_i_lillaahi lahum bii sirril fatihah...