Minggu, 19 April 2020

KISAH KAROMAH HADROTUS SYAIKH MUHAMMAD ROMLI TAMIM, MURSYID THORIQOH QODIRIYAH WAN NAQSYABANDIYAH DARUL 'ULUM REJOSO, PETERONGAN, JOMBANG, JAWATIMUR

Salah satu karomah HADROTUS SYAIKH MUHAMMAD ROMLI TAMIM,Rodhiallohu 'anhupasti kita semua faham bahwa HADROTUS SYAIKH KHOLIL,Rodhiallohu 'anhu Bangkalan adalah sosok 'ulama (wali) besar yang penuh dengan dengan karomah-karomah. HADROTUS SYAIKH MUHAMMAD ROMLI TAMIM,Ra penyusun istighotsah sekaligus mursyid Thoriqoh Qodiriyah Wan Naqsyabandiyah adalah salah satu murid (santri) beliau yang menjadi 'ulama besar pula. Kisah ini di ceritakan oleh KH. SHONHAJI MAKHFUD, Mojosari, mojokerto, jawatimur.
Sewaktu HADROTUS SYAIKH MUHAMMAD ROMLI TAMIM menjadi santri HADROTUS SYAIKH KHOLIL Bangkalan, pernah suatu hari dipanggil oleh gurunya mbah kholil bangkalan, "Romli, ali-ali ne nyai mu lugor nang kakus le, tolong golek no, terus kekno aq (Romli, cicinnya ibu nyai, <ibu nyai adalah sebutan dari istri kyai atau gurunya> kamu jatuh ke dalam WC, aku minta tolong kamu carikan & berikan kepada saya apabila sudah kamu dapatkan), begitu ucap mbah kyai kholil bangkalan kepada mbah kyai Romli. Sebagai santri yang tawadhu' (rendah hati seorang santri kepada kyai/gurunya adalah sebuah kewajiban, supaya ilmunya menjadi berkah), Romli muda bergegas masuk ke dalam WC dan mencari cincin tersebut. Selang tidak lama cincin itu berhasil di ketemukan oleh Romli-muda.
Dengan membawa cincin & perasaan senang Romli-muda langsung menemui gurunya, sampai lupa membersihkan dirinya dari kotoran manusia. Kemudian Romli-muda memberikan cincin tersebut kepada gurunya, mbah kyai Kholil Bangkalan dengan tangan kanannya.
Mbah Kyai Kholil Bangkalan langsung marah dan mengambil cincin itu kemudian melemparkannya ke jamban (wc), walau jaraknya cukup jauh, tetapi mbah Kyai Kholil melemparkannya pas di jamban (wc), kemudia berkata: "he Romli, aku ngongkon nang awakmu goleki cincin gawe tutuk mu, uduk gawe tanganmu, saiki golek ono maneh gawe tutuk mu yo le, seng ikhlas, tawadhu'  (hai Romli, aku menyuruh kepada kamu mencari cincin memakai mulutmu, bukan dengan tangan mu, sekarang carilah kembali menggunakan mulut kamu ya nak, dengan rasa ikhlas & penuh rasa rendah hati)". Romli-muda pun bergegas kembali ke jamban, langsung menyelaminya dengan wajah beliau. Alhamdulillaah cincin bisa ditemukan oleh Romli-muda dengan menggigitnya, dan langsung diberikan kepada Mbah Kyai Kholil Bangkalan.
Mbah Kyai Kholil merasa sangat terharu kepada Romli-muda dan berkata: "aduso, resik ono kabeh, boyongo (pulang), balik nang omah, santri mu akeh wes podo ngenteni awakmu mulih (mandilah kamu, bersihkan seluruh badan kamu, pulanglah, kembali ke rumahmu, kamu sudah ditunggu oleh santri-santri kamu yang banyak)"
Masya Alloh, akhirnya Mbah Kyai Romli menjadi ulama besar, wali besar, seorang sufi selain menjadi pengasuh pondok pesantren yang santri/muridnya ribuan, & guru thoriqoh (mursyid) dari THORIQOH QODIRIYAH WAN NAQSYABANDIYAH.
Salah satu kisah ini patut kita teladani, ikuti bagaimana ke-ikhlas-an, ke-redho(rela)-an, tawadhu'nya seorang santri kepada seorang Syaikh yang besar yang dapat mengantarkan Mbah Kyai Romli Tamim menjadi Ulama besar pula.dan penuh dengan karomah.

Seorang santri yang di tempeleng & menjadi seorang kyai besar.

Cerita berikutnya diceritakan oleh Pak Rodhi, seorang guru mata pelajaran sejarah saya. Beliau mendapat cerita dari ayahnya. Di pendopo lama pondok pesantren darul 'ulum, ada pohon mangga yang berbuah & masak di pohon, kemudian ada santri yang mengambil mangga tersebut dengan memanjatnya. Ketika santri itu hendak turun kepergok (ketahuan) sama HADROTUS SYAIKH MUHAMMAD ROMLI TAMIM,Ra. Kemudian santri itu dipanggil & di keplak (ditampar kepalanya) oleh HADROTUS SYAIKH MUHAMMAD ROMLI TAMIM, dan disuruh boyong (pulang). Selang 2 tahun kemudian si santri sowan (silaturohim) kepada HADROTUS SYAIKH MUHAMMAD ROMLI TAMIM, dan si santri tersebut sudah mempunyai mushola yang akan dibangun pondok pesantren.

Mbah Kyai Romli di penjara, tetapi setiap sholat selalu menjadi imam di masjid pondok kemudian kembali lagi ke penjara belanda

Salah satu karomah beliau yang banyak diriwayatkan oleh para Kyai diantaranya adalah saat berkecamuknya perang melawan sekutu yang diboncengi NICA pada bulan November 1945. Alkisah, di zaman pertempuran melawan sekutu berkecamuk kembali di Tanah Air, tepatnya pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, beliau menggerakkan santri-santri untuk maju perang di barisan komando Hadratusy Syaikh KH.Hasyim Asy’ari, yang juga guru sekaligus mertua beliau. Beliau sendiri turut terjun ke medan tempur saat itu. Sebelumnya para santri diberi minuman dan dibekali kepalan-kepalan tanah liat yang telah diasma’i. Konon, setiap kepalan tanah liat itu dilemparkan, akan bereaksi seperti bom yang meluluh lantakkan musuh. Dan seperti kita ketahui bersama, kemenangan berhasil diraih para pejuang Hizbullah saat itu. Di lain kesempatan, konon Mbah Yai Romli pernah di tahan oleh penjajah, namun anehnya setiap sholat jama’ah di Pondok Njoso akan dimulai, beliau selalu hadir dan mengimami sholat, namun kemudian kembali lagi ke dalam penjara. Hal inilah yang pada akhirnya menggemparkan para penjajah saat itu. Karena keanehan Mbah Yai Romli saat itu mengundang simpati besar masyarkat yang ingin setiap hari berdatangan mengunjungi beliau di penjara. Beliaupun dibebaskan oleh penjajah.

Bioskop yang gulung tikar karana kerikil dari Hadrotus Syaikh Romli Tamim

 Lain lagi tentang bioskop yang konon pernah ada di sekitar pasar Peterongan. Karena keberadaan bioskop itu menjadi ajang ma’shiyat dan sangat meresahkan masyarakat, hingga banyak yang mengadukan hal itu kepada beliau. Beliau hanya berpesan untuk melemparkan beberapa butir batu ke halaman bioskop tersebut. Konon beberapa waktu kemudian bioskop tersebut bangkrut dan tutup dengan sendirinya.

Seorang meminta sangu (pesangon) untuk berangkat haji.

Cerita ini diceritakan oleh teman satu kelas saya di SMU DARUL 'ULUM 1, haji Toha namanya. Dahulu kakeknya orang yang miskin tetapi selalu bermimpi bisa naik haji, kemudian beliau sowan (silaturohim) kepada Hadrotus Syaikh Muhammad Romli Tamim dan mengungkapkan keinginannya untuk berangkat haji (di waktu itu memang musim haji). Kemudian kakek teman saya disuruh pulang oleh mbah Kyai Romli ke rumahnya di gresik & apabila buang hajad, kotorannya di kumpulkan kemudian di balut/di bungkus kain putih.
Setelah apa yang Mbah Kyai Romli perintahkan, kemudian disuruh berangkat pergi haji menggunakan kapal (karana pada saat itu haji hanya bisa menggunakan kapal laut) & berpesan jangan membuka bungkusan itu (kotoran) sampai tiba di makkah.
Setiba di mekkah, bungkusan itu dibuka & berubah menjadi emas murni.
Begitu sampai di tanah air, beliau bercerita kepada Mbah Kyai Romli & setiap tahun beliau naik haji & semua anak & cucunya pun sudah haji sejak masih belia.

Hadrotus Syaikh Romli Tamim tidak pernah tidur

Hadrotus Syaikh Hasyim 'Asyari pernah membuat semacam sayembara, siapa saja santri Tebu Ireng yang memergoki atau dapat mengetahui Gus (sebutan untuk putra Kyai) Romli dalam keadaan tidur, yang bersangkutan akan diberi hadiah.
Para santri (murid) Tebu Ireng geger (heboh) mereka selalu membicarakan Gus Romli.
"Benarkah Gus Romli tidak pernah tidur?", Tanya mereka,para santri.
Pada hari sebelumnya, tidak pernah ada santri yang memperhatikan tingkah laku Kyai Romli. Akhirnya para santri bersepakat untuk melacak,meneliti, mengintip, bagaimana dan apakah yang dilakukan Kyai Romli dikala semua santri sedang terlelap. Ternyata memang benar, setelah para santri meneliti hari demi hari, bulan berganti bulan, secara bergantian antara santri satu dengan santri yang lain, Masya Alloh semua keheranan dan heboh, para santri tidak pernah memergoki (menemukan/mendapati) Kyai Romli tidur di saat para santri sedang terlelap tidur.
Kyai Romli selalu dalam keadaan tidur terjaga, bertafakkur, berdzikir, menjadikan malam-malamnya bagaikan proses peleburan diri dalam suasana "Percintaan"  dan "kemesraan" dengan Sang Maha Agung Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.

Kisah syuhada' zaman, pencuri saat hari raya

Suatu pagi disaat hari raya tiba bu nyai, istri Mbah Kyai Romli menangis tersedu-sedu di kamarnya, karana saat bangun dari tidur beliau mengetahui jika hampir seluruh isinya raib hilang di curi maling.
Barang-barang yang akan digunakan untuk persiapan hari raya seperti beras, kelapa, dll ludes tidak tersisa.
Ibu Nyai merasa dongkol kepada Mbah Kyai Romli karana Mbah Kyai Romli tidak mengetahui klo sudah ada maling masuk, tetapi malah membiarkan maling itu menjarah rumah mereka.
Mbah Kyai Romli memahami perasaan dongkol istrinya tesebut dan beliau berusaha untuk menghibur hatinya bu Nyai yang sedang dongkol.
"Nyai...nyai..mbok ya merene (nyai...nyai..kemarilah sebentar) pangilan halus kepada istrinya.
Namun karana marah melihat suaminya santai-santai saja, bu nyai justru mendampat suaminya habis-habisan.
"Iya, tapi merene disek lho nyi (iya, tapi kesini dulu lho)", kata Mbah Kyai Romli menanggapi istri beliau yang sedang marah.
Kemudian Mbah Kyai Romli menghampiri istrinya langsung, untuk menunjukkan sesuatu kepada istrinya yang dalam keadaan masih marah.
Namun ketika melihat barang bawaan Kyai Romli, bu Nyai justru jatuh pingsan.
Ternyata...
Mbah Kyai Romli menunjukkan sejumlah uang yang jumlahnya 7 juta (jumlah yang sangat besar sekali di masa itu).
Tampaknya uang itu berasal dari "RIZKI IN HAI_TSU LAA YAH_TASIB", rejeki yang tidak terduga dari Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, sebagai pengganti dari barang-barang yang telah dicuri tadi.
Setelah ibu nyai sadar dari pingsannya, barulah Mbah Kyai Romli menceritakan dari mana asalnya sejumlah uang 7 juta tersebut.
"Nyi..., Seseorang yang datang mencuri barang-barang milik kita ini bukanlah rampok biasa" pemaparan Mbah Kyai Romli kepada istri beliau.
"Pencuri yang telah mengangkut barang-barang milik kita adalah SYUHADA' ZAMAN (bilyan bin malkan atau lebih akrab di telinga kit adalah NABIYULLOH KHIDHIR ALAIHI 'SALAM)" 
"Kenapa tidak bilang dari tadi owalah bah...abah" kata bu Nyai kepada Mbah Kyai Romli.

Hadrotus Syaikh Romli mengecup ubun-ubun santri yang istiqomah

Di dalam adat santri darul 'ulum adalah istiqomah. Bahkan begitu istimewa fadilah/keutamaan istoqomah sehingga  Hadrotus Syaikh Romli pernah dawuh (berkata): "sopo santri njoso seng istiqomah bakal tak cup ubun-ubune (siapa santri rejoso yang istiqomah pasti aku kecup ubun-ubunnya).
Seorang santri njoso yang tidak menangi (satu masa) dengan Hadrotus Syaikh Romli, Rodhiallohu'anhu, bernama Asyauri sangat ingin menjadi santri Hadrotus Syaikh Romli, asyauri melakukan tirakat istiqomah dengan sholat shubuh berjama'ah (dengan mengikuti adat membaca istighotsah) hingga isya' berjama'ah di masjid pondok pada shof pertama & di tempat yang sama pula, kemudian si santri itu pun setiap selesai sholat ashar & tahajud di masjid, dia istiqomah membaca istighotsah di depan pesarehan (makam) Hadrotus Syaikh Romli, dan tempat yang sama serta di jam yang sama pula. Di hari ke 41, belum selesai membaca istighotsah si santri merasakan ada yang mengecup ubun-ubunnya & itu terasa sangat nyata sekali. Masya Alloh, sungguh pembuktian bahwa seorang wali Alloh tidak pernah wafat, walau beliau berada di dalam makam. Dan sungguh benar bahwa Hadros Syaikh Romli masih berada di pondok untuk mengawasi santri, mendoakan santri beliau sama persis seperti beliau masih sugeng atau sehat (hidup).
Kemudian setelah itu asyauri berbai'at Thoriqoh Qodiriyah Wan Naqsyabandiyah kepada KH. Dimyati Romli (putra Hadrotus Syaikh Romli Tamim, Rodhiallohu'anhu).

Wallohu 'alam bii showaf, lahum bii sirril fatihah...


EmoticonEmoticon