Ruh al-Quds dicipta langsung oleh Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dan didalamnya terkandung bentuk serta program-program (konsep) Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, juga sifat-sifat Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, yang sifatnya sangat misterius/rahasia (sirri). Maka dari itu Ruh Al-Quds disebut juga Sirr (rahasia). Alloh Subhanahu Wa Ta'ala adalah cahaya. Firman Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dalam suroh An-Nur ayat 35: ٱللَّهُ نُورُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ مَثَلُ نُورِهِۦ كَمِشْكَوٰةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ ۖ ٱلْمِصْبَاحُ فِى زُجَاجَةٍ ۖ ٱلزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّىٌّ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُّبَٰرَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِىٓءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ ۚ نُّورٌ عَلَىٰ نُورٍ ۗ يَهْدِى ٱللَّهُ لِنُورِهِۦ مَن يَشَآءُ ۚ وَيَضْرِبُ ٱللَّهُ ٱلْأَمْثَٰلَ لِلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ Artinya: "Alloh (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Alloh, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Alloh membimbing kepada cahaya-NYA siapa yang dia kehendaki, dan Alloh memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Alloh Maha Mengetahui segala sesuatu". Ruh Al-Quds yang dicipta langsung oleh SANG CAHAYA pun mengandung cahaya yang sangat murni, yang memiliki tingkat radiasi sangat tinggi. Selanjutnya Ruh al-Quds (Sirr), yang sudah dibalut dengan Ruh as-Sulthony (Fuad) dan Ruh ar-Ruhaniyah (Qalbu), diturunkan lagi ke alam level-4 yaitu Alam Mulki. Alam Mulki adalah alam yang bisa dilihat oleh manusia dengan khasaf mata. Meliputi bumi dan langit yang masih bisa dijamah oleh indra manusia. Alam Mulki wujudnya sangat lahiriah dan dapat dikenali secara empirik (terukur). Namun radiasi cahaya Ruh Al-Quds, meski sudah dibalut dengan dua lapis ruh lainnya (Ruh As-Sulthony dan Ruh Ar-Ruhaniyah), masih terlalu tinggi bagi alam dunia ini. Apa yang ada di alam mulki dapat terbakar oleh radiasi cahaya Ruh al-Quds. Untuk itu, sebelum diturunkan ke alam mulki, Ruh al-Quds dibalut lagi dengan lapis ke-3 yaitu Ruh Al-Jismany yang untuk mudahnya sering disebut dengan Ruh saja. Untuk lebih jelasnya lihatlah tabel berikut ini Alam Ruh (Nafs) Inti-Lahut Ruh Al-Quds-(Sirr) Lapisan ke 1-Jabarut Ruh As-Sulthany-(Fu’ad) Lapisan ke 2-Malakut Ruh Ar-Ruhany-(Qalbu) Mulki Lapisan ke 3-Ruh Al-Jismany (Ruh/jiwa) Diri (nafs) kita yang hakiki adalah diri yang berwujud ruh (jiwa). Tubuh biologis kita (raga) hanyalah cangkang atau wadah bagi diri kita yang sesungghnya, yaitu ruh. Di dalam ruh ada qolbu, di dalam qolbu ada fuad dan di dalam fuad ada sirr. Sirr adalah rahasia berisi rahasia-rahasia Alloh Subhanahu Wa Ta'ala untuk orang itu berupa sifat-sifat Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, rencana dan takdir Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Sirr terhubung langsung dengan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Dikenal pula istilah lubb yang jamaknya albab. Firman Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Surot Ali Imron ayat 190: إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ Artinya: "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (ulil albab)" Ulil Albab adalah orang yang selalu berdzikir (menyebut nama Alloh Subhanahu Wa Ta'ala), berfikir, dan beribadah. Apa arti lubb? Kalau kita menebang sebatang pohon, lalu kita perhatikan penampang potongannya, akan terlihat di bagian tengah dari batang pohon itu ada bagian yang berwarna kecoklatan. Itulah inti dari batang pohon tersebut. Arab menyebutnya lubb, bahasa indonesia adalah inti, orang jawa mengatakan galih. Qolbu adalah lubb/inti/galih bagi ruh. Intinya RUH adalah QOLBU, Qolbu mempunyai inti namanya adalah FU’AD, Dan fu'ad mempunyai inti disebut SIRR. Sirr adalah inti dari segala inti, yang mengandung rahasia dari segala rahasia, sehingga disebut SIRRUL-ASROR (rahasia didalam kerahasiaan). Banyak orang memahami bahwa hati (qolbu) itu adalah segumpal daging dalam diri manusia. Pemahaman ini tidak salah karena didasarkan pada sabda Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wassallam sebagai berikut : Namun pemahaman ini adalah pemahaman yang sangat mendasar yang diajarkan oleh Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wassalam kepada umatnya yang pada waktu itu masih kental dengan kejahiliyahan dan tidak mau menerima sesuatu yang sulit difahami secara akal. Adapun maksudnya agar umatnya mudah mengerti dan tidak timbul banyak pertanyaan yang menjadikannya kembali kepada kemusyrikan dan kekufuran. Qolbu adalah sebuah lathifah/titik sensor/dimensi keTuhanan yang tidak mempunyai bentuk fisik sebagaimana difahami oleh sebagian kita. Untuk membuktikan bahwa qolbu itu bukanlah daging hati, kita bisa melihat dan menyaksikan seekor ayam atau kambing yang kita potong kemudian kita bedah perutnya maka kita akan menemukan pada hewan tersebut segumpal daging yang disebut daging hati, tapi pernahkah setelah kita cari kemudian kita temukan di dalam perut hewan yang sudah dibedah tersebut ada daging qolbu? Kemudian kita pergi ke sebuah warung makan atau restoran lalu kita bertanya apakah disana ada sop daging hati atau goreng daging hati, maka pasti di salah satu warung makan atau restoran itu ada dan disediakan menu makanan dengan lauk sop atau goreng daging hati. Daging hati yang berbentuk segumpal daging itu dalam bahasa arab disebut “kabid” bukan qolbu (bagian terdalam dari kabid/hati). Adapun qolbu menurut Imam Al-Ghozali Rodhiallohu'anhu adalah ruh, akal atau nafsu. Firman Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dalam suroh Al-Isroo' ayat 85 : وَيَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلرُّوحِ ۖ قُلِ ٱلرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّى وَمَآ أُوتِيتُم مِّنَ ٱلْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا Artinya : dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: “Ruh itu Termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”. Dalam kitab sirrur asror karya Syekh Abdul Qodir Al-Jailani dikemukakan sebagai berikut : Makhluk yang pertama kali diciptakan oleh Alloh Subhanahu Wa Ta'ala adalah ruh. Yaitu ruh Muhammad Sholallohu 'Alaihi Wassallam, Sebagaimana telah Alloh Subhanahu Wa Ta'ala firmankan dalam hadits qudsi : “AKU ciptakan ruh Muhammad dari cahaya-KU”. Ruh adalah hakikat Muhammad dan hakikat Muhammad disebut nur. kenapa disebut nur ? karena bersih dari segala kegelapan. Ruh Muhammad adalah ruh termurni sebagai makhluk pertama dan asal seluruh makhluk (ciptaan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala) sebagaimana sabda beliau Sholallohu 'Alaihi Wassallam : “aku dari Alloh dan makhluk lain dari aku”. Dari ruh Muhammad inilah Alloh Subhanahu Wa Ta'ala menciptakan semua ruh di alam lahut (adalah alam azali negeri asal setelah 4.000 tahun dari penciptaan ruh Muhammad). Kemudian ruh-ruh tersebut diturunkan ke tempat yang terendah, dimasukkan kepada makhluk yang terendah, yaitu jasad. Jasad itu sendiri diciptakan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dari bumi yang tersusun dari empat unsur (unsur tanah, unsur air, unsur api dan unsur angin). Setelah diwujudkan jasad itu maka Alloh Subhanahu Wa Ta'ala menitipkan ruh dari-NYA ke dalam jasad, dan sebagai barang titipan pastinya Alloh Subhanahu Wa Ta'ala akan mengambil kembali titipannya itu. Ketahuilah ruh itu memiliki perjanjian awal di negeri asalnya yaitu alam lahut/azali dalam suroh Al-A'rof Alloh Subhanahu Wa Ta'ala menceritakan: وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَآ ۛ أَن تَقُولُوا۟ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَٰفِلِينَ Dari firman Alloh Subhanahu Wa Ta'ala di atas isi perjanjiannya adalah: Ketika Alloh Subhanahu Wa Ta'ala bertanya kepada semua ruh: “Alastu birobbikum? (Bukankah Aku ini Tuhanmu sekalian?) Ruh-ruh menjawab:” Benar, Engkau adalah Tuhan kami. Namun sangat disayangkan banyak ruh yang melupakan perjanjian awalnya terhadap Alloh Subhanahu Wa Ta'ala sehingga mereka terlena/lalai dan betah tinggal di dalam jasad sebagai tempat terendah bagi mereka. Ruh-ruh yang setia dan tetap memegang perjanjian awal pada hakikatnya mereka tetap berada pada negeri asalnya yaitu alam lahut/azali meskipun badannya di bumi. Namun sangat sedikit orang yang sadar dan berkeinginan pulang atau kembali ke negeri asalnya. Oleh karena itu Alloh Subhanahu Wa Ta'ala melimpahkan kenabian kepada ruh agung Muhammad sebagai penunjuk jalan dari kesesatan mereka. Nabi mengajak mereka agar kembali dan sampai serta bertemu dengan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Tapi sebagai manusia biasa Nabi memiliki keterbatasan waktu di dunia ini untuk menjalankan tugasnya tersebut, maka kemudian Alloh Subhanahu Wa Ta'ala mewariskan tugas ini kepada para ulama yang sholih yang sudah mencapai kesucian ruh dan telah Alloh Subhanahu Wa Ta'ala berikan bashiroh (pandangan yang jelas) kepadanya. Siapa mereka? Mereka adalah para wali Alloh. Para wali Alloh sebagai ahli bashiroh telah dibukakan mata hatinya untuk mengetahui jalan menuju Alloh Subhanahu Wa Ta'ala (thoriqoh) mereka itulah yang disebut ahli ruhani (imam Robbani/pembimbing kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala/mursyid, dalam bahasa thoriqoh) RUH TERBAGI KE DALAM 4 BAGIAN: 1. Ruh Al-Qudsi (ruh termurni) yaitu ruh yang berada di alam lahut atau alam ma’rifat atau alam tertinggi. Ruh ini adalah hakikat manusia yang disimpan di dalam lubuk hati (qulby). Keberadaannya akan diketahui dengan taubat dan talqin kalimat “LAA ILAAHA ILLALLAH”. Ruh ini dinamakan oleh ahli Tasawuf sebagai bayi ma’nawi (thiflul ma’ani). Ruh inilah yang senantiasa akan mampu berhubungan dengan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala sedangkan badan atau jasmani ini bukan mahromnya bagi Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Ruh Al-Qudsi telah Alloh Subhanahu Wa Ta'ala tempatkan di dalam rasa (sirri). Alatnya adalah ilmu hakikat, yaitu ilmu tauhid. Amalannya adalah mudawamah (berdzikir dengan kesungguhan dan dilakukan secara terus-menerus) nama-nama Tauhid dengan lisan sir (rahasia) tanpa suara dan huruf (didalam hati) Siapapun tidak ada yang mampu melihat/menelitinya kecuali Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Adapun keuntungannya yaitu keluarnya tiflul ma’ani, musyahadah (mempersaksikan) serta terarah dan melihat kepada zat Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dalam keagungan-NYA dan dalam keindahan-NYA dengan penglihatan sirri (rahasia) melalui mata hati (fuad). Ruhul quds, bisa juga dikatakan sebagai ruh idhofi 2. Ruh Sulthoni adalah ruh yang memiliki lapisan (balutan cahaya) di alam jabarut (adalah alam kekuasaan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, yang juga merupakan realitas yang disebut singgasana ( Al-Arsy ). Tempat ruh ini adalah fuad (mata hati). Alatnya adalah ma’rifat, Amalannya adalah mudawamah (berdzikir dengan kesungguhan dan dilakukan secara terus-menerus) asma Alloh dengan lisan dan hati (qolbu). Ruh suthoni yang mempunyai unsur malaikat Jibril, Mikail, Isrofil, Izroil (malaikat penyangga Arsy), Adapun keuntungan pengolahan dari ruh sulthoni adalah melihat pantulan “Jamalillah” (keindahan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala), bisa melihat menggunakan mata hatinya. Tempatnya adalah di sorga ketiga yaitu sorga firdaus. 3. Ruh Saironi Rowani (ruh-ruhani) adalah ruh yang memiliki lapisan (balutan cahaya) di alam malakut (alamnya para malaikat). Tempatnya adalah hati (qolbu). Alatnya adalah mudawamah (berdzikir dengan kesungguhan dan dilakukan secara terus-menerus) asma’ul bathin tanpa suara dan huruf, Hasilnya adalah ma’rifat kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, ilmu bathin, memperoleh ketenangan didalam bergaul, hidupnya hati dan musyahadah (mempersaksikan) di alam malakut (seperti menyaksikan sorga dan ahlinya dan malaikat-malaikatnya). Ruh inilah yang biasa disebut akal Tempatnya di akhirat adalah sorga tingkat ke dua yaitu sorga na’im. 4.Ruh jismani (jiwa) adalah ruh yang memiliki lapisan (balutan cahaya) di alam mulki (alam terendah bagi ruh). Ruh jismani Alloh Subhanahu Wa Ta'ala telah tempatkan di dalam jasad antara daging dan darah tepatnya di wilayah dada dan anggota badan yang dzohir. Alat untuk mengolah ruh ini adalah syari’at, Hasilnya adalah wilayah (pertolongan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala), mukasyafah (terbukanya hijab antara manusia dengan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala), dan musyahadah (merasa berhadap-hadapan dengan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala), begitu pula karomatul kauniyah pada martabat kewalian seperti ; berjalan di atas air, terbang di udara, menyingkat jarak, mendengar dari jauh, melihat rahasia badan dan sebagainya, Keuntungan di akhirat akan ditempatkan di surga ma’wa. Setiap ruh itu mempunyai hanut (tempat) di daerah keberadaannya, dan bekal/alat pengolahannya dan keuntungan/hasil pengolahannya dan cara pengolahannya yang tidak pernah sia-sia yang diketahui secara tertutup (rahasia) maupun secara terbuka. Oleh karena itu wajib bagi setiap manusia untuk mengetahui cara mengolah dirinya, sebab apa yang dilakukan di muka bumi ini akan diminta pertanggung jawabannya kelak di hari kiamat. Tujuan utama didatangkannya manusia kealam terendah adalah agar manusia berupaya kembali mendekatkan diri kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dan mencapai darajat (kembalinya manusia ke tempat asalnya) dengan menggunakan hati (qolbu) dan jasad. Maka perlu ditanamkan bibit tauhid di ladang hati agar tumbuh menjadi pohon tauhid yang akarnya tertanam di dalam rasa dan menghasilkan buah tauhid untuk mencapai ridho Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. SYAIKH ABDUL QODIR AL-JAILANI MENYEBUT RUH ATAU HAKIKAT MUHAMMAD ITU ADALAH AKAL. APA ITU AKAL? Kebanyakan kita mengatakan bahwa akal itu adalah otak, sehingga kalau kita berkata kepada orang lain “gunakan akalmu!” maka kita akan menunjuk dan mengarahkannya kepada kepala kita sebagai isyarat bahwa tempatnya akal disana. Perlu kita ketahuilah haqiqinya akal bukanlah otak, dan letak keberadaannya bukan di kepala. Keberadaan akal tidaklah berbentuk secara fisik sehingga tidak dapat dilihat oleh mata kepala ini. Tapi meskipun demikian, fungsi dan gerakannya dapat dirasakan. Sulit untuk kita yakin dan beriman dengan menggunakan otak kita ini, otak ini selalu menuntut bukti nyata, alasan dan sebab yang benar menurutnya. Dengan selalu menggunakan otak dan menuntut segala sesuatunya harus rasional akhirnya kita tidak bisa beriman secara betul-betul akan tetapi malah bermain-main dalam keimanan. Seperti dalam melaksanakan sholat. Kita perhatikan firman Alloh Subhanahu Wa Ta'ala suroh Al-Maaidah ayat 58 : وَإِذَا نَادَيْتُمْ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ ٱتَّخَذُوهَا هُزُوًا وَلَعِبًا ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَّا يَعْقِلُونَ Artinya : “Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) sholat, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal”. Akal adalah alat untuk menerima hidayah, taufik, ilmu, dan memahami ayat-ayat Alloh Subhanahu Wa Ta'ala baik yang kauniyah (ayat-ayat berupa tanda-tanda kebesaran Alloh Subhanahu Wa Ta'ala yang ada di alam sekitar kita.) maupun qur'aniyah (percaya bahwa Quran adalah satu-satunya sumber nyata agama Islam). Tapi berfikir dengan akal tidak seperti berfikir dengan otak, berfikir dengan akal itu akan berujung dengan satu kesimpulan : “robbana maa kholaqta hadza baathila” artinya: "tidak ada sesuatu apapun yang Alloh Subhanahu Wa Ta'ala telah ciptakan itu sia-sia". Berfikir dengan akal biasa dikatakan dengan tafakkur, meminta petunjuk kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala melalui dzikir dan kholwat (menyembunyikan diri untuk bermunajah kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala) Apabila seseorang telah mempergunakan akalnya dalam berfikir dengan baik dan benar maka keimanannya akan semakin mantap dan terus meningkat. Sekarang kita buktikan bahwa akal bukanlah otak, pernahkah anda makan goreng atau pepes ikan mas ? ketika kita makan dibagian kepalanya akan terdapat yang disebut otak ikan. Tapi sekarang adakah di kepala ikan itu akal, maka pasti tidak ada karena akal bukan di kepala dan akal bukan otak. Kalau akal diartikan otak seperti yang ada di kepala ikan maka berarti ikan juga punya akal. Jadi jelas bahwa akal bukanlah otak dan otak bukanlah akal. Manusia adalah makhluk yang paling sempurna karana Alloh Subhanahu Wa Ta'ala membubuhi manusia dengan akal. Dan otak adalah alat untuk berfikirnya akal. Akal itu adalah qolbu, sebagaimana Alloh Subhanahu Wa Ta'ala firmankan dalam suroh Qoof ayat 37 : إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِمَن كَانَ لَهُۥ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى ٱلسَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ Artinya : “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang DIA menyaksikannya”. Dalam ayat di atas Alloh Subhanahu Wa Ta'ala menggunakan kata qolbun untuk menyatakan akal. Nafsu adalah elemen jiwa (unsur ruh) yang berpotensi mendorong pada tabi’at badaniyah/biologis dan mengajak diri pada berbagai amal baik atau buruk. Nafsu itu pula adalah ruh sebagaimana dimaksud dalam firman Alloh Subhanahu Wa Ta'ala suroh At-Takwir ayat 7 : وَإِذَا ٱلنُّفُوسُ زُوِّجَتْ Artinya : “dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh)”. Nafsu di dalam ayat ini diartikan ruh. Adapun nafsu memiliki tingkatan-tingkatan, Syaikh Muhammad Nawawi Al-Jawi membagi nafsu dalam 7 tingkatan yang dikenal dengan istilah “marotibun nafsi” yaitu terdiri dari : 1. NAFSU AMAROH Nafsu Amaroh tempatnya adalah "dimaa' artinya otak. Ia mempunyai sifat: 1. Al-Bukhli artinya kikir, pelit. 2. Al-kharos artinya mengawasi. 3. Al-Hasad artinya iri, dendam. 4. Al-Jahil artinya kebodohan/tidak mengetahui. 5. Al-Kibar artinya tinggi hati, sombong, congkak. 6. Asy-Syahwat artinya keinginan menguasai (nafsu). 2. NAFSU LAUWAMAH Nafsu Lawwamah tempatnya adalah “Al-Qolbu” artinya hati. Letaknya dua jari di bawah susu kiri. Adapun sifat-sifatnya: 1. Al-Laum artinya mencela. 2. Al-Hawa artinya suka bersenang-senang. 3. Al-Makar artinya menipu, licik. 4. Al-Ujub artinya bangga diri. 5. Al-Ghibah artinya mengupat. 6. Ar-Riya’ artinya pamer. 7. Adh-dholim artinya kejam. 8. Al-Kadzib artinya dusta. 9. Al-ghoflah artinya lupa, lalai. Nafsu Mulhamah tempatnya adalah “Ar-Ruh”, Letaknya dua jari di bawah susu kanan. Adapun sifat-sifatnya: 1. As-Sakhiya artinya murah hati. 2. Al-Qona’ah artinya merasa cukup (kesederhanaan). 3. Al-Halim artinya penyantun/suka memberi. 4. At-Tawadhu’ artinya rendah hati. 5. At-Taubat artinya kembali kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. 6. As-Shobar artinya sabar, tidak mudah marah. 7. At-Tahammul artinya bertanggung jawab. 4. NAFSU MUTHMAINNAH Nafsu Muthmainnah tempatnya adalah “As-Sirr” artinya rahasia, tepatnya dua jari dari samping susu kiri kearah dada. Mempunyai sifat: 1. Al-Juud artinya dermawan, kerelaan hati. 2. At-tawakkal artinya berserah diri. 3. Al-Ibadah artinya penghambaan kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. 4. Asy-Syukur artinya berterima kasih. 5. Ar-Ridho artinya rela. 6. Al-Khosyah artinya takut kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Nafsu Rodiyah tempatnya adalah “Sirr-Assirr” artinya sangat rahasia, tepatnya di jantung yang berfungsi menggerakkan seluruh tubuh. Mempunyai sifat: 1. Al-Karom artinya kemurahan hati, memuliakan makhluk lain. 2. Az-Zuhud artinya lebih mengutamakan akhirat, dari pada dunyawi. 3. Al-Ikhlas artinya tanpa pamrih. 4. Al-Waro’ artinya menahan diri dari hal-hal yang dapat menimbulkan madharat lalu menyeretnya kepada hal-hal yang haram dan syubhat. 5. Ar-Riyadhoh artinya penyempurnaan diri melalui zikir dan pendekatan diri kepada Sang Kholik. 6. Al-Wafa’ artinya tepat janji, Kesetiaan, Kepatuhan, Kejujuran, Kasih setia. Nafsu mardhiyah tempatnya adalah “Al-Khofiy” artinya samar, tepatnya dua jari diatas susu kanan ke tengah dada. Sifat-sifatnya adalah: 1. Husnul Khuluq artinya baik akhlak. 2. Tarku maa siwalloh artinya meninggalkan selain Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. 3. Al-Luthfu bil kholqi artinya lembut kepada makhluk. 4. Hamluhum ‘ala sholah artinya mengurus makhluk pada kebaikan. 5. Shofhu ‘an dzunubihim artinya mema’afkan kesalahan makhluk. 6. Al-Mail ilaihim liikhrojihim min dzulumati thoba’ihim wa anfusihim ila anwari arwahihim artinya mencintai makhluk dan cenderung perhatian kepada mereka guna mengeluarkannya dari kegelapan (keburukan) watak dan jiwa-jiwanya ke arah bercahayanya ruh-ruh mereka. Nafsu kamilah tempatnya adalah “Al-Akhfa” artinya sangat samar, tepatnya di tengah-tengah dada. Adapun Mempunyai sifat: 1. Ilmu Al’Yaqiin artinya menghilangkan keraguan. 2. Ainul Yaqiin artinya dengan melihat maka hilanglah keraguan. 3. Haqqul Yaqiin artinya dengan naqli (akal/pengetahuan, dan spiritual/rasa) maka hilanglah keraguan. Kenapa dikatakan demikian, karena memang benar seperti itu adanya. Mari kita lihat bersama apabila ada di hadapan kita sosok mayat. Apabila saya tanyakan, mayat ini sudah tidak ada apanya : ruhnya, akalnya, qolbunya atau nafsunya. maka pasti jawabannya : “semuanya”. Tidak salah kalau orang berkata ruhnya yang tidak ada, karena ruh adalah nyawa bagi mayat itu. Setelah ruhnya tidak ada maka mayat itu tidak bernyawa lagi, tidak bernafas lagi tidak berdetak lagi jantungnya serta nadinya pun tidak berdenyut lagi. Apabila ada yang mengatakan akalnya yang tidak ada, maka ini juga betul karena setelah meninggalnya seseorang maka mayat orang tersebut tidak akan berfikir lagi dan tidak akan faham lagi dengan ilmu-ilmu yang dulu pernah dipelajarinya selagi hidup. Tidak salah apabila ada yang mengatakan qolbunya yang tidak ada, karena ketika seseorang meninggal, maka qolbunya yang selalu menjadi sumber perasa ketika masih hidup seperti ; sedih, senang, tentram, menyesal, marah,dll. maka setelah meninggal perasaan di mayat itu hilang, dia tidak merasakan apa-apa lagi. Terakhir jika dikatakan yang tidak ada itu nafsunya, maka ini pun betul. Karena nafsu itu adalah unsur dalam jiwa orang yang masih hidup yang memiliki keinginan-keinginan baik maupun buruk. Dengan demikian setelah menjadi mayat maka tidak ada lagi pada mayat itu nafsunya sehingga dia tidak memiliki keinginan apapun. Sekarang dapat kita simpulkan kalau semua jawaban tersebut adalah benar, maka berarti keempat nama yang berbeda itu adalah satu, sebagaimana yang telah dinyatakan oleh Imam Al-Ghozali, Rodhiallohu'anhu: ruh, akal, qolbu Jualdan nafsu itu adalah satu. (syai’un wahidun).
Artinya : “… Ketahuilah bahwa dalam diri ini terdapat segumpal daging, jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh; ketahuilah bahwa dia adalah hati (qolbu) “. (Riwayat Bukhori dan Muslim)
Tapi coba kita tanyakan apakah disana ada sop atau goreng daging qolbu, maka jawabannya pasti tidak ada karena qolbu tidak diperjualbelikan dan bukan untuk dimakan dan bukan pula berbentuk segumpal daging.
APA ITU RUH?
Artinya: Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Alloh mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah AKU ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)".
Semoga Alloh Subhanahu Wa Ta'ala senantiasa menjaga kita dari kesesatan, semoga kita diberikan pemahaman yang mendalam akan akal ini sehingga kita tahu sebenarnya akal itu apa.
APA ITU NAFSU?
3. NAFSU MULHAMAH
5. NAFSU RODHIYAH
6. NAFSU MARDHIYAH
7. NAFSU KAMILAH
RUH = AKAL = QOLBU = NAFSU
Wallohu A’lam bish-showab, lahum biis sirril fatihah...
Your Ads Here
Senin, 29 Juni 2020
AJARAN SYAIKH ABDUL QODIR TENTANG RUH
AJARAN SYAIKH ABDUL QODIR TENTANG RUH
AsyauriAlMakhdumi
5.0
stars based on
35
reviews
Dalam kitab ‘ Sirr Al-Asror ’ yang berisi kumpulan ajaran Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani didapati keterangan bahwa pada awalnya...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Sosial Media
Popular
Kategori
- cerita (7)
- doa (1)
- kata kata bijak (2)
- kharomah (4)
- pembelajaran (4)
- perjalanan hidup (4)
- quote (2)
- renungan (6)
- sejarah (4)
- sholawat (1)
Timeline
- September 2021 (4)
- Agustus 2021 (1)
- Juni 2021 (5)
- Mei 2021 (2)
- April 2021 (1)
- Januari 2021 (1)
- Desember 2020 (4)
- November 2020 (1)
- Oktober 2020 (1)
- September 2020 (2)
- Agustus 2020 (6)
- Juli 2020 (11)
- Juni 2020 (7)
- Mei 2020 (10)
- April 2020 (17)
- Maret 2020 (1)
- Februari 2020 (15)
EmoticonEmoticon