1. Selama tiga puluh tahun aku mencari Tuhan. Tapi ketika saya melihat dengan hati. Hati saya menemukan, bahwa pada kenyataannya Tuhan adalah pencari dan saya yang dicari oleh Tuhan.
Seorang hamba yang mencari Robb-nya, yaitu dengan pengetahuan ma'rifat, maka Alloh Subhanahu Wa Ta'ala telah menemukan kita kemudian membimbing kita untuk bisa bertemu dengan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala melalui mata hati seorang hamba, & di akherat akan bertemu dengan wujud Alloh Subhanahu Wa Ta'ala yang sebenarnya.
2.Melupakan diri (Keakuan diri) adalah mengingat Tuhan.
Disaat kita berdzikir, mengingat Alloh, maka disaat itulah kita melupakan siapa diri kita,
3. Musa ingin melihat Tuhan
Saya tidak ingin melihat Tuhan.
Saya tidak ingin melihat Tuhan.
Untuk melihat Tuhan seperti Nabi Musa 'Alaihis salam (dengan indra mata), maka tubuh kita tidak akan mampu ketika berhadapan nur/cahaya yang Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dan kita akan hancur, jadi tidak ada kenikmatan didalamnya. Sedang Sayyid Syaikh Abu Yazid Al-Busthomi "tidak ingin melihat Tuhan" yaitu tidak mau melihat dengan mata indra, dan melihat Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dengan mata hati, sehingga Sayyid Syaikh Abu Yazid Al-Busthomi merasakan kenikmatan & keindahan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala tanpa harus menghancurkan dirinya.
4. Aku tidak pernah melihat cahaya yang bersinar lebih cemerlang dari pada cahaya keheningan.
Sayyid Syaikh Abu Yazid Al-Busthomi beruzlah (pengasingan diri untuk memusatkan perhatian pada ibadah kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala), untuk berkholwat (menyepi/menyendiri untuk berdzikir guna mendekatkan diri kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala), didalam keheningan Sayyid Syaikh Abu Yazid Al-Busthomi melihat cahaya yang terang benerang
5. Saya tidak ingin berkehendak, karena kehendak saya tanpa nilai, karena saya tidak tahu apa-apa. Oleh karena itu, pilihlah untukku apa yang terbaik bagi-MU dan jangan meletakkan kebinasaanku dalam memilih otomasi dan kebebasanku.
Sayyid Syaikh Abu Yazid Al-Busthomi tidak mau berkehendak/berkeinginan karana secara haqiqinya segala sesuatunya telah Alloh Subhanahu Wa Ta'ala konsep untuk kebaikan kita, sedang kita hanya menjalankannya saja. Kehendak kita belum tentu baik atau membawa kebaikan untuk diri kita, namun kehendak Alloh Subhanahu Wa Ta'ala pasti akan menghadirkan kebaikan bagi kita, keberkahan bagi hidup kita di sisi Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Sayyid Syaikh Abu Yazid Al-Busthomi khawatir apabila bebas berkehendak itu akan menjadikan kebinasaan yang pedih bagi Sayyid Syaikh Abu Yazid Al-Busthomi.
6. Hal yang kita katakan tidak akan pernah bisa ditemukan dengan mencari, namun hanya pencari yang menemukannya.
Kita tidak akan bisa menemukan dimana Tuhan itu berada hanya dengan sebuah ilmu tanpa mengamalkanya, tetapi orang yang mencari Tuhan akan bisa bertemu/melihat TuhanNYA melalui mata hatinya, dengan mengamalkan ilmu yang telah dipelajari/diketahui.
7. Saya telah bermujahadah (beribadah sungguh-sungguh) selama 30 tahun. Tidak ada yang paling berat bagiku selain mempelajari ilmu dan mengamalkannya. Kalau bukan karena perbedaan para ulama, pasti saya akan tetap mendalaminya. Perbedaan pendapat para ulama adalah rahmat kecuali dalam masalah tauhid. Dikatakan pula bahwa Abu Yazid tidak meninggalkan dunia kecuali dia telah mengkhatamkan Al-Qur’an seluruhnya.
7. Saya telah bermujahadah (beribadah sungguh-sungguh) selama 30 tahun. Tidak ada yang paling berat bagiku selain mempelajari ilmu dan mengamalkannya. Kalau bukan karena perbedaan para ulama, pasti saya akan tetap mendalaminya. Perbedaan pendapat para ulama adalah rahmat kecuali dalam masalah tauhid. Dikatakan pula bahwa Abu Yazid tidak meninggalkan dunia kecuali dia telah mengkhatamkan Al-Qur’an seluruhnya.
Sayyid Syaikh Abu Yazid Al Busthomi selama 30 tahun sangat berat ujiannya didalam mencari ilmu dan untuk mengamalkannya juga membutuhkan kesabaran yang tinggi. Ilmu Alloh Subhanahu Wa Ta'ala sangat luas, dengan perbedaan pendapat para ulama sudah mewakili betapa luasnya ilmu Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dan sebuah rohmat (kasih sayang) Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, karena dengan adanya perbedaan pendapat maka bertambah luas lah wawasan yang akan kita dapatkan, bertambah dalam ilmu yang kita pelajari, kecuali masaalah tauhid dan aqidah itu ilmu dasar didalam agama ini. Sayyid Syaikh Abu Yazid Al Busthomi sudah menjalankan semua yang terkandung didalam Al Qur'an, sehingga Sayyid Syaikh Abu Yazid Al Busthomi memahami/menyaksikan bahwa Alam raya ini bergerak sesuai dengan apa yang ada didalam Al Qur'an.
8. Pernah ditanyakan tentang awal taubat dan kezuhudannya, lalu dijawab, “Zuhud tidak mempunyai kedudukan.” Ditanyakan lagi, “Mengapa?” Jawabnya, “Karena ketika saya berzuhud selama tiga hari, pada hari keempatnya saya keluar dari zuhud. Hari pertama saya zuhud dari dunia dan seisinya, pada hari kedua saya zuhud dari akhirat dan seisinya, pada hari ketiga saya zuhud dari apa saja selain Alloh. Maka pada hari keempat tiadalah yang tersisa selain Alloh, lalu saya menemukan suatu kesimpulan pengertian. Tiba-tiba saya mendengar suara bisikan yang mengatakan, “Wahai Abu Yazid, tidak ada rasa takut orang yang bersama kami.” Saya pun menimpalinya, ‘Inilah yang saya inginkan. Datanglah suara berikutnya yang mengatakan, 'Kamu telah menemukan, kamu telah menemukan.'
8. Pernah ditanyakan tentang awal taubat dan kezuhudannya, lalu dijawab, “Zuhud tidak mempunyai kedudukan.” Ditanyakan lagi, “Mengapa?” Jawabnya, “Karena ketika saya berzuhud selama tiga hari, pada hari keempatnya saya keluar dari zuhud. Hari pertama saya zuhud dari dunia dan seisinya, pada hari kedua saya zuhud dari akhirat dan seisinya, pada hari ketiga saya zuhud dari apa saja selain Alloh. Maka pada hari keempat tiadalah yang tersisa selain Alloh, lalu saya menemukan suatu kesimpulan pengertian. Tiba-tiba saya mendengar suara bisikan yang mengatakan, “Wahai Abu Yazid, tidak ada rasa takut orang yang bersama kami.” Saya pun menimpalinya, ‘Inilah yang saya inginkan. Datanglah suara berikutnya yang mengatakan, 'Kamu telah menemukan, kamu telah menemukan.'
Orang yang telah menemukan Alloh Azza Wa Jalla, mereka mengawalinya dengan tidak mencintai dunia ini selain hanya untuk mencukupi hidupnya & orang-orang yang disekitarnya merasakan keamanan, kemudian dia tidak mencintai akherat karana didalam kenikmatan akherat lebih nikmat bersama dengan Alloh Azza Wa Jalla, sehingga Sayyid Syaikh Abu Yazid Al Busthomi tidak menginginkan dan tidak bertujuan untuk mendapatkan secuil pun kenikmatan dunia & akherat beserta apa yang ada didalam keduanya, maka didalam diri Sayyid Syaikh Abu Yazid Al Busthomi tidak ada rasa takut sedikitpun kepada siapa saja kecuali rasa cinta yang sangat tinggi kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, tanpa memperpedulikan siapaun & apa pun.
9. Pernah ditanyakan, “Penghalang apa yang paling berat dalam melalui jalan menuju Alloh?” Jawabnya, “Saya tidak dapat menerangkannya.” Ditanyakan lagi, “Usaha apakah yang paling ringan untuk menghindari nafsu?” Jawabnya, “Kalau ini saya dapat menerangkan. Saya pernah mengajak hawa nafsuku untuk taat pada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, namun ia menolaknya, lalu saya jauhi air (berpuasa) selama setahun.”
9. Pernah ditanyakan, “Penghalang apa yang paling berat dalam melalui jalan menuju Alloh?” Jawabnya, “Saya tidak dapat menerangkannya.” Ditanyakan lagi, “Usaha apakah yang paling ringan untuk menghindari nafsu?” Jawabnya, “Kalau ini saya dapat menerangkan. Saya pernah mengajak hawa nafsuku untuk taat pada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, namun ia menolaknya, lalu saya jauhi air (berpuasa) selama setahun.”
Didalam menempuh jalan menuju kepada Alloh Azza Wa Jalla tidaklah gampang, harus mempunyai iman yang tebal, dan niat yang kuat. Karana iman manusia bisa tebal bisa pula menipis didalam setiap waktunya, maka harus selalu dijaga ketebalannya dengan zuhud seperti point 8, dan niat pun tidak boleh bengkok walau hanya sedikit. Namun untuk urusan nafsu pun, puasa adalah cara untuk bisa mengendalikan/menundukkan/mengarahkan/mengajak nafsu kepada Alloh Azza Wa Jalla. Untuk membersihkannya melalui dzikir kepada Alloh Azza Wa Jalla.
10. Jika kamu melihat seorang yang telah diberi karunia/keramat/karomah sampai ia bisa terbang di udara sekalipun, maka janganlah tertipu dengannya, sehingga kamu dapat menilai kesungguhannya dalam melaksanakan perintah dan larangan Alloh Azza Wa Jalla, dalam menjaga batas-batas hukum Alloh Azza Wa Jalla, dan dalam melaksanakan syariat Alloh Azza Wa Jalla.
Sesungguhnya keramat itu bisa berubah menjadi istidroj (berupa kenikmatan didunia kepada orang yang lalai, kemudian apabila dia tidak segera mengingat kepada Alloh Azza Wa Jalla, maka dia akan dibinasakan oleh Alloh Azza Wa Jalla dalam keadaan su'ul khotimah/mati dalam keadaan mengenaskan), apabila seorang itu lupa akan berbuat kebaikan. Maka apabila ada orang yang memiliki keramat/karomah/karunia namun dia jauh dari akhlaq yang baik, jauh dari agama, jauhilah dia, supaya kita tidak terjerumus didalam kemusyrikan dia.
11. Pamanku, Al-Busthomi pernah menceritakan dari ayahnya. Dia mengatakan, "Di suatu malam pernah Abu Yazid pergi ke suatu markas (tempat untuk berdzikir) di tempat itu, namun sampai pagi ia tidak dapat berdzikir. Saya tanyakan sebabnya, lalu dijawab, ‘Saya teringat sebuah kata ketika saya masih kecil yang kata ini berputar-putar terus di lidahku, sehingga saya malu untuk berdzikir kepada Alloh Azza Wa Jalla’."
11. Pamanku, Al-Busthomi pernah menceritakan dari ayahnya. Dia mengatakan, "Di suatu malam pernah Abu Yazid pergi ke suatu markas (tempat untuk berdzikir) di tempat itu, namun sampai pagi ia tidak dapat berdzikir. Saya tanyakan sebabnya, lalu dijawab, ‘Saya teringat sebuah kata ketika saya masih kecil yang kata ini berputar-putar terus di lidahku, sehingga saya malu untuk berdzikir kepada Alloh Azza Wa Jalla’."
Aku adalah seorang hamba Alloh, sedangkan aku sendiri tidak mengabdi kepada Alloh.