Kamis, 25 Juni 2020

NASIHAT MA'RIFAT DZUNNUN AL MISHRI

PERJALANAN MENUJU MESIR

Waliyulloh yang bangga dan dibanggakan oleh Mesir ini berasal dari Nubay (satu suku di selatan Mesir) kemudian menetap di kota Akhmim (sebuah kota di propinsi Suhaj).

Kota Akhmin ini rupanya bukan tempat tinggal terakhirnya. Ia selalu menjelajah bumi mensyiarkan agama Alloh mencari jati diri, menggapai cinta dan ma'rifatulloh yang haqiqi.

Suatu ketika dalam perjalanan yang dilalui kekasih Alloh ini, ia mendengar suara genderang berima rancak diiringi nyanyi-nyanyian dan siulan khas acara pesta. Karena ingin tahu apa yang terjadi ia bertanya pada orang di sampingnya: "ada apa ini?."

Orang tersebut menjawab: "Itu sebuah pesta perkawinan. Mereka merayakannya dengan nyanyi-nyanyian dan tari-tarian yang diiringi musik."

Tidak jauh dari situ terdengar suara memilu seperti ratapan dan jeritan orang yang sedang dirundung duka. "Fenomena apa lagi ini?" begitu pikir sang waliyulloh.

Ia pun bertanya pada orang tadi. Dengan santai orang tersebut menjawab: "Oh ya, itu jeritan orang yang salah satu anggota keluarganya meningal. Mereka biasa meratapinya dengan jeritan yang memekakkan telinga."

Di sana ada suka yang dimeriahkan dengan warna yang tiada tara. Di sini ada duka yang diratapi habis tak bersisa. Dengan suara lirih, ia mengadu: "Ya Alloh aku tidak mampu mengatasi ini. Aku tidak sanggup berlama-lama tinggal di sini. Mereka diberi anugerah tidak pandai bersyukur. Di sisi lain mereka diberi cobaan tapi tidak bersabar."

Dan dengan hati yang pedih ia tinggalkan kota itu menuju ke Mesir (sekarang Kairo).


PERJALANAN KE DUNIA TASAWUF

Banyak cara kalau Alloh berkehendak menjadikan hambaNYA menjadi kekasihNYA. Kadang berliku penuh onak dan duri. Kadang lurus bak jalan bebas hambatan. Kadang melewati genangan lumpur dan limbah dosa. Tak dikecualikan apa yang terjadi pada Dzunnun Al-Misri. Bukan waliyulloh yang mengajaknya ke dunia tasawuf. Bukan pula seorang alim yang mewejangnya mencebur ke alam haqiqot. Tapi seekor burung lemah tiada daya.

Pengarang kitab Al-Risalah Al-Qusyairiyyah bercerita bahwa Salim Al-Maghriby menghadap Dzunnun dan bertanya "Wahai Abu al-Faidl!" begitu ia memanggil demi menghormatinya.

"Apa yang menyebabkan Tuan bertaubat dan menyerahkan diri sepenuhnya pada Alloh Subhanahu Wa Ta'Ala?"

"Sesuatu yang menakjubkan, dan aku kira kamu tidak akan mampu." Begitu jawab Al-Misry seperti sedang berteka-teki.

Salim Al-Maghriby semakin penasaran "Demi Dzat yang engkau sembah, ceritakan padaku."

Lalu Dzunnun Al Misry bercerita: Suatu ketika aku hendak keluar dari Mesir menuju salah satu desa lalu aku tertidur di padang pasir. Ketika aku membuka mata, aku melihat ada seekor anak burung yang buta jatuh dari sangkarnya. Coba bayangkan, apa yang bisa dilakukan burung itu. Dia terpisah dari induk dan saudaranya. Dia buta tidak mungkin terbang apalagi mencari sebutir biji. Tiba-tiba bumi terbelah. Perlahan-lahan dari dalam muncul dua mangkuk, yang satu dari emas satunya lagi dari perak. Satu mangkuk berisi biji-bijian Simsim, dan yang satunya lagi berisi air. Dari situ dia bisa makan dan minum dengan puas. Tiba-tiba ada kekuatan besar yang mendorongku untuk bertekad:

"Cukup aku sekarang bertaubat dan total menyerahkan diri pada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Aku pun terus bersimpuh di depan pintu taubat-NYA, sampai DIA Yang Maha Kasih berkenan menerimaku".


PERJALANAN RUHANIAH

Ketika si kaya tak juga kenyang dengan bertumpuknya harta. Ketika politisi tak jua puas dengan indahnya kursi. Maka kaum sufi pun selalu haus dengan kedekatan lebih dekat dengan Sang Kekasih sejati. Selalu ada kenyamanan yang berbeda. Selalu ada kebahagiaan yang tak sama.

Maka demikianlah, Dzunnun Al-Misri tidak puas dengan hikmah yang ia dapatkan dari burung kecil tak berdaya itu. Baginya semuanya adalah media hikmah. Batu, tumbuhan, wejangan para waliyulloh, hardikan pendosa, jeritan kemiskinan, rintihan orang hina semua adalah hikmah.

Suatu malam, tatkala Dzunnun Al Misry bersiap-siap menuju tempat untuk ber-munajat ia berpapasan dengan seorang laki-laki yang nampaknya baru saja mengarungi samudera kegundahan menuju ke tepi pantai kesesatan.

Dalam senyap laki-laki itu berdoa "Ya Alloh Engkau mengetahui bahwa aku tahu ber-istighfar dari dosa tapi tetap melakukannya adalah dicerca. Sungguh aku telah meninggalkan istighfar, sementara aku tahu kelapangan rahmatMU."

"Tuhanku Engkaulah yang memberi keistimewaan pada hamba-hamba pilihan-MU dengan kesucian ikhlas."

"Engkaulah Dzat yang menjaga dan menyelamatkan hati para auliya dari datangnya kebimbangan."

"Engkaulah yang menentramkan para waliyulloh,"

"Engkau berikan kepada mereka kecukupan dengan adanya seseorang yang bertawakkal."

"Engkau jaga mereka dalam pembaringan mereka"

"Engkau mengetahui rahasia hati mereka. Rahasiaku telah terkuak di hadapan-MU. Aku di hadapan-MU adalah orang lara tiada asa."

Dengan khusyu' Dzunnun Al Misry menyimak kata demi kata rintihan orang tersebut.

Ketika dia kembali memasang telinga untuk mengambil hikmah di balik ratapan lelaki itu, suara itu perlahan menghilang sampai akhirnya hilang sama sekali di telan gulitanya sang malam namun menyisakan goresan yang mendalam di hati sang waliyulloh ini.

Di saat yang lain Dzunun Al Misry bercerita pernah mendengar seorang ahli hikmah di lereng gunung Muqotthom.

"Aku harus menemuinya.", begitu sang waliyulloh bertekad.

kemudian setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan Dzunun Al Misry pun bisa menemukan kediaman lelaki misterius.

Selama 40 hari mereka bersama, merenungi hidup dan kehidupan, memaknai ibadah yang berkualitas dan saling tukar pengetahuan.

Suatu ketika Dzunnun bertanya: "Apakah keselamatan itu?"

Orang tersebut menjawab "Keselamatan ada dalam ketakwaan dan al-Muroqobah (mengevaluasi diri)"

"Selain itu?", pinta Dzunnun Al Misry seperti kurang puas.

"Menyingkirlah dari makhluk dan jangan merasa tentram bersama mereka!" Jawab laki-laki itu.

"Selain itu?", pinta Dzunnun Al Misry lagi.

"Ketahuilah Alloh mempunyai hamba-hamba yang mencintai-NYA. Maka Alloh memberikan segelas minuman kecintaan."

"Mereka itu adalah orang-orang yang merasa dahaga ketika minum, dan merasa segar ketika sedang haus".

Lalu orang tersebut meninggalkan Dzunnun Al-Misri dalam kedahagaan yang selalu mencari kesegaran cinta Ilahi.


NASIHAT MA'RIFAT DZUNNUN AL MISHRY

1. Sang arif semakin rendah hati (tawadhu) setiap saat, dan setiap saat dia semakin dekat kepada Tuhannya.

Kaum Arifin melihat tanpa pengetahuan, tanpa penglihatan, tanpa penggambaran, tanpa halangan dan tanpa tirai.

Mereka bukan diri mereka sendiri, tetapi sepanjang keberadaannya mereka itu berada di dalam Tuhan.

Gerak-gerik mereka disebabkan oleh Alloh dan kata-kata mereka adalah kata-kata Tuhan yang diucapkan melalui lidah-lidah mereka, dan penglihatan mereka adalah penglihatan Tuhan, yang telah memasuki mata mereka.

Demikianlah, Alloh Yang Maha Tinggi berfirman: “Jika Aku mencintai hamba-Ku, maka Akulah telinganya yang dengannya dia mendengar, Akulah mata-Nya yang dengannya dia melihat dan Akulah lidahnya yang dengannya dia berbicara, dan Akulah tangannya yang dengannya dia memegang.

2. Orang berakal bukanlah orang yang pintar dalam urusan dunianya, tetapi bodoh dalam urusan akhiratnya, bukan orang yang jelek pekerti ketika harus bermurah hati, dan juga bukan orang yang bersikap sombong ketika harus merendahkan diri.

3. Janganlah menjadi orang yang marah pada kebenaran jika dikatakan kebenaran itu kepadanya.

4. Janganlah menjadi orang yang menjauhkan diri dari hal-hal yang disukai orang berakal.

5. Janganlah menjadi orang yang menyedikitkan apa yang banyak dari Penciptanya dan memperbanyak yang sedikit dari apa yang disyukurinya.
Janganlah menjadi orang yang menuntut keadilan dari orang lain untuk dirinya, tetapi ia sendiri tidak berlaku adil kepada orang lain.

6. Janganlah menjadi orang yang melupakan Alloh ketika harus mentaati-NYA, tetapi mengingat Alloh ketika berhajat kepada-NYA.

7. Janganlah menjadi orang yang menumpuk ilmu sehingga terkenal, tetapi kemudian dipengaruhi hawa nafsunya ketika mempelajarinya.

8. Janganlah menjadi orang yang sedikit rasa malunya kepada Alloh atas keindahan hijab-NYA.

9. Janganlah menjadi orang yang lalai bersyukur atas penampakan nikmat-Nya.

10. Janganlah menjadi orang yang lemah dari berjihad melawan musuhnya demi keselamatannya ketika musuhnya memaksakan peperangan kepadanya.

11. Janganlah menjadi orang yang menjadikan harga dirinya sebagai pakaiannya, tetapi tidak menjadikan adab, wara’, dan ketakwaan sebagai pakaiannya.

12. Janganlah menjadi orang yang menjadikan ilmu dan pengetahuannya sebagai perhiasan dalam majlisnya.

13. Hendaklah engkau bergaul dengan orang yang dengan melihatnya saja mengingatkanmu kepada Alloh, kemuliaannya berkesan dalam batinmu, perkataannya menambah ilmumu, dan perbuatannya menjadikanmu zuhud di dunia. Ia tidak berbuat maksiat kepada Alloh selama engkau berada di dekatnya. Ia mengajarimu dengan lisan dan perbuatannya, dan tidak dengan lisan perkataannya. Ia meninggalkan apa yang menunjukkanmu padanya, yakni bahwa ia tidak memiliki keutamaan dengannya ia mengajarimu, kerena seseorang kadang-kadang mengerjakan perbuatan baik yang dituntut keadaannya. Ia menunjukimu dengan ucapannya pada perbuatan baik yang dituntut kepadamu, tetapi pada waktu yang sama tidak dituntut keadaannya. Dengan perkataannya, ia maksudkan lisan perbuatannya, yakni perbuatan-perbuatannya yang lurus atau adil. Inilah makna firman Alloh Subhanahu Wa Ta'ala: Mengapa kamu suruh orang lain melakukan kebajikan sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu kembaca Al-Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?
(QS Al Baqarah 2: 44) 

14. Mohon ampunlah kepada Alloh jika engkau terlalu banyak bicara. Jika engkau tidak menghentikannya, maka pembicaraan tidak akan terputus.

15. Janganlah engkau keluar dari tiga hal, yakni pandangan pada agamamu dengan keimananmu, berbekal dengan duniamu untuk akhiratmu, dan permohonan tolong kepada Tuhanmu di dalam apa yang diperintahkan-NYA kepadamu dan yang dilarang-NYA atas dirimu.

16Barangsiapa memandang dan melihat-lihat aib orang lain, maka ia buta pada aib dirinya sendiri.

17. Barangsiapa memperhatikan Firdaus dan neraka, maka dia dilalaikan dari omongan orang.

18. Barangsiapa lari dari manusia, maka ia terhindar dari kejahatan mereka.

19. Barangsiapa mensyukuri nikmat, maka nikmat bertambah baginya.

20Wahai Ibrohim, jagalah dariku 5 hal. Jika engkau menjaganya, maka engkau tidak akan peduli kepada apa yang terjadi sesudahnya. Yaitu:
1. Rangkullah kefakiran,
2. bersifatlah dengan kesabaran,
3. lawanlah keinginan (syahwat),
4. ingkari hawa nafsu,
5.takutlah kepada Alloh dalam segala urusanmu.

21. Dengan Hal itu kamu akan mendapatkan:
1. rasa syukur,
2. rasa kerelaan,
3. rasa ketakutan,
4. rasa pengharapan,
5. kesabaran.

22. Maka kamu akan mendapatkan 5 hal, yakni:
1. ilmu,
2. amal,
3. menunaikan yang fardhu,
4. menjauhi yang haram,
5. menepati janji.

23. Engkau tidak akan mendapatkan pada yang 5 (nomor 22) kecuali dengan 5 hal, yakni:
1. ilmu yang berlimpah,
2. makrifat yang pasti,
3. hikmah yang berpengaruh,
4. akal yang menembus,
5. jiwa yang takut.

24Celakalah semua, celaka orang yang diuji dengan:
1. Barang haram,
2. kemaksiatan,
3. menghias diri untuk apa yang dimurkai Alloh,
4. menghina manusia dengan apa yang ada pada dirinya.

25. Keburukan yang paling paling jelek adalah:
1. pegangan pada yang jelek,
2. perbuatan yang jahat,
3. membebani punggung dengan dosa,
4. memata-matai manusia dengan apa yang tidak disukai Alloh,
5. menampakkan kepada Alloh apa yang dibenci-NYA.

26Kebahagiaan diperuntukkan bagi orang yang ikhlas, yakni:
1. Orang mengikhlaskan ilmu dan amalnya,
2. Orang mengikhlaskan cinta dan marahnya,
3. Orang mengikhlaskan bicara dan diamnya,
4. Orang mengikhlaskan perkataan dan perbuatannya.

27Ketahuilah wahai Ibrohim, bahwa sisi halal itu ada 5, yaitu:
1. perniagaan dengan jujur,
2. bekerja dengan ketulusan,
3. perburuan di darat dan di laut,
4. pewarisan barang yang diperoleh secara halal,
5. hadiah dari tempat yang engkau relakan.

28. Setiap kesenangan dunia ada kelebihan, kecuali 5 hal:
1. roti yang mengenyangkanmu,
2. air yang memuaskanmu,
3. pakaian yang menutupi tubuhmu,
4. rumah yang meneduhimu,
5. ilmu yang kau amalkan.

29. Engkau memerlukan juga 5 hal, yaitu:
1. keikhlasan,
2. niat baik,
3. taufik,
4. kesesuaian dengan kebenaran,
5. makanan dan minuman yang baik.

30Hal yang mengandung ketenangan, yaitu:
1. meninggalkan teman yang jahat,
2. kezuhudan di dunia,
3. meninggalkan penghinaan pada hamba-hamba Alloh (tidak menhina siapa pun), bahkan engkau tidak menghinakan orang yang berbuat maksiat kepada Alloh.

31. Maka hilanglah 5 hal darimu, yaitu:
1. perbantahan,
2. perdebatan,
3.riya’ (pamer/sombong),
4. berhias (memuji diri sendiri)
5. mencintai kedudukan (popularitas)

32Terdapat 5 yang di dalamnya menggabungkan tujuan, yaitu:
1. memutuskan hubungan dengan selain Alloh,
2. meninggalkan kelezatan yang mendatangkan hisab,
3. tidak sabar dalam menghadapi sahabat dan musuh,
4. ketenangan,
5. meninggalkan penumpukan harta.

33.  Seorang berilmu (‘alim) mengharapkan 5 hal, yaitu:
1. kenikmatan yang hilang,
2. bencana yang datang,
3. kematian yang membinasakan,
4. fitnah yang mematikan,
5. ketergelinciran kaki setelah tegaknya.

34Wahai pemuda, ambillah senjata celaan bagi dirimu (sabar, tidak marah dihina orang), dan gabungkanlah dengan menolak kedzoliman (jangan dibalas hinaan tersebut) maka di Hari Kemudian engkau akan memakai jubah keselamatan.

35. Tahanlah dirimu dalam taman ketenteraman, rasakan pedihnya (sabar dalam menjalankan) fardhu-fardhu keimanan, maka engkau akan memperoleh kenikmatan surga.

36. Teguklah cawan kesabaran dan persiapkan ia untuk kefakiran hingga engkau menjadi orang yang sempurna urusannya (Alloh akan mencukupi semua kebutuhanmu)

37“Diri yang bersabar atas lapar, yang teringat pada jubah kedzoliman (dosa), diri yang membeli akhirat dengan dunia tanpa syarat dan tanpa kecuali (redho, ikhlas, tulus karana Alloh) dan diri yang berperisaikan kerisauan, yang menggiring kegelapan pada kejelasan (risau apabila tidak berbuat kebaikan). Apa pedulimu dengan diri yang menempuh lembah kegelapan (berbuat kemaksiatan), meninggalkan kegelapan lalu memiliki (kenikmatan iman setelah bertaubat) memandang akhirat, melihat kefanaan (dunia adalah sementara), melalaikan dosa (tidak berbuat dosa), merasa cukup dengan makanan sedikit (jarang makan), menundukkan pasukan nafsu, dan bersinar dalam kegelapan (dibutuhkan banyak orang). Ia bercadarkan kudung berhias (ahli ibadah), dan menuju kemuliaan dalam kegelapan (dimuliakan di dunia). Ia meninggalkan penghidupan (hidup hanya untuk beribadah kepada Alloh semata, baik ibadah sosial maupun ibadah keTuhanan). Inilah diri yang berkhidmat, yang mengetahui hari yang akan datang. Semua itu dengan taufik Alloh yang Maha Hidup dan Maha Berdiri Sendiri.” 

38Kepada saudaranya, Al-Kifla, Dzunun Al Mishry berkata, “Wahai Saudaraku, jadilah engkau orang yang selalu disifati dengan kebaikan dan jangan menjadi orang yang hanya bisa menerangkan kebaikan-kebaikan saja.”