Banyak orang mengatakan bahwa mereka sudah sabar, tetapi hasilnya tetap sama saja, tidak ada perubahan setelah itu.
Namun Kesabaran sejati itu adalah disaat kita mampu menahan gejolak amarah yang berada didalam hati, dan masuk kedalam zona ketenangan jiwa, sehingga didalam bersikap & bertindak kita mampu menggunakan akal-fikiran yang jernih tanpa melibatkan emosi didalamnya.
Dalam hal ini seperti Sabda Baginda Rosululloh Shollallohu 'Alaihi Wassallam, periwayatan dari Sayyidina Anas bin Malik Rodhiyallohu 'anhu:
"Sesungguhnya kesabaran itu ada pada pukulan pertama.”
(HR. Muslim)
Maksud beliau adalah
"Kesabaran yang sempurna dan mendatangkan pahala dari Alloh Subhanahu Wa Ta'ala adalah kesabaran yang langsung tampak ketika musibah itu datang"
"Adapun jika kesabaran itu muncul setelah emosi yang tidak terkontrol, maka kesabaran itu tidak banyak berarti bagi orang tersebut."
Janganlah kita mengambil sebuah keputusan dalam keadaan emosi & orang yang beriman adalah orang yang mampu menggunakan akal sehat mereka (yaitu yang berdasarkan kepada hati & jiwa yang tenang).
Orang yang kuat bukanlah orang yang mampu mengalahkan 100 orang sekaligus, namun orang yang kuat adalah orang yang mampu menahan amarahnya disaat amarahnya muncul.
Untuk menjadi orang yang kuat bukanlah perkara yang mudah dan membutuhkan yang tidak sebentar dan proses melalui tirakat, riyadhoh, dzikir yang di facuskan di dalam hati dan hati menjadi bersih & dzikir itu dialirkan keseluruh badan kita sehingga ketenangan jiwa bisa kita rasakan.
Selain itu pula kesabaran itu akan membuahkan hasil pemikiran yang bijaksana.
Wallohu a'lam bi_showab, Robbana taqob_bal min_na, syailillaahi lahum bisir_ril fatihah...
EmoticonEmoticon