PERJALANAN MENUJU MESIR
Waliyulloh yang bangga dan dibanggakan oleh Mesir ini berasal dari Nubay (satu suku di selatan Mesir) kemudian menetap di kota Akhmim (sebuah kota di propinsi Suhaj).
Kota Akhmin ini rupanya bukan tempat tinggal terakhirnya. Ia selalu menjelajah bumi mensyiarkan agama Alloh mencari jati diri, menggapai cinta dan ma'rifatulloh yang haqiqi.
Suatu ketika dalam perjalanan yang dilalui kekasih Alloh ini, ia mendengar suara genderang berima rancak diiringi nyanyi-nyanyian dan siulan khas acara pesta. Karena ingin tahu apa yang terjadi ia bertanya pada orang di sampingnya: "ada apa ini?."
Orang tersebut menjawab: "Itu sebuah pesta perkawinan. Mereka merayakannya dengan nyanyi-nyanyian dan tari-tarian yang diiringi musik."
Tidak jauh dari situ terdengar suara memilu seperti ratapan dan jeritan orang yang sedang dirundung duka. "Fenomena apa lagi ini?" begitu pikir sang waliyulloh.
Ia pun bertanya pada orang tadi. Dengan santai orang tersebut menjawab: "Oh ya, itu jeritan orang yang salah satu anggota keluarganya meningal. Mereka biasa meratapinya dengan jeritan yang memekakkan telinga."
Di sana ada suka yang dimeriahkan dengan warna yang tiada tara. Di sini ada duka yang diratapi habis tak bersisa. Dengan suara lirih, ia mengadu: "Ya Alloh aku tidak mampu mengatasi ini. Aku tidak sanggup berlama-lama tinggal di sini. Mereka diberi anugerah tidak pandai bersyukur. Di sisi lain mereka diberi cobaan tapi tidak bersabar."
Dan dengan hati yang pedih ia tinggalkan kota itu menuju ke Mesir (sekarang Kairo).
PERJALANAN KE DUNIA TASAWUF
Banyak cara kalau Alloh berkehendak menjadikan hambaNYA menjadi kekasihNYA. Kadang berliku penuh onak dan duri. Kadang lurus bak jalan bebas hambatan. Kadang melewati genangan lumpur dan limbah dosa. Tak dikecualikan apa yang terjadi pada Dzunnun Al-Misri. Bukan waliyulloh yang mengajaknya ke dunia tasawuf. Bukan pula seorang alim yang mewejangnya mencebur ke alam haqiqot. Tapi seekor burung lemah tiada daya.
Pengarang kitab Al-Risalah Al-Qusyairiyyah bercerita bahwa Salim Al-Maghriby menghadap Dzunnun dan bertanya "Wahai Abu al-Faidl!" begitu ia memanggil demi menghormatinya.
"Apa yang menyebabkan Tuan bertaubat dan menyerahkan diri sepenuhnya pada Alloh Subhanahu Wa Ta'Ala?"
"Sesuatu yang menakjubkan, dan aku kira kamu tidak akan mampu." Begitu jawab Al-Misry seperti sedang berteka-teki.
Salim Al-Maghriby semakin penasaran "Demi Dzat yang engkau sembah, ceritakan padaku."
Lalu Dzunnun Al Misry bercerita: Suatu ketika aku hendak keluar dari Mesir menuju salah satu desa lalu aku tertidur di padang pasir. Ketika aku membuka mata, aku melihat ada seekor anak burung yang buta jatuh dari sangkarnya. Coba bayangkan, apa yang bisa dilakukan burung itu. Dia terpisah dari induk dan saudaranya. Dia buta tidak mungkin terbang apalagi mencari sebutir biji. Tiba-tiba bumi terbelah. Perlahan-lahan dari dalam muncul dua mangkuk, yang satu dari emas satunya lagi dari perak. Satu mangkuk berisi biji-bijian Simsim, dan yang satunya lagi berisi air. Dari situ dia bisa makan dan minum dengan puas. Tiba-tiba ada kekuatan besar yang mendorongku untuk bertekad:
"Cukup aku sekarang bertaubat dan total menyerahkan diri pada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Aku pun terus bersimpuh di depan pintu taubat-NYA, sampai DIA Yang Maha Kasih berkenan menerimaku".
PERJALANAN RUHANIAH
Ketika si kaya tak juga kenyang dengan bertumpuknya harta. Ketika politisi tak jua puas dengan indahnya kursi. Maka kaum sufi pun selalu haus dengan kedekatan lebih dekat dengan Sang Kekasih sejati. Selalu ada kenyamanan yang berbeda. Selalu ada kebahagiaan yang tak sama.
Maka demikianlah, Dzunnun Al-Misri tidak puas dengan hikmah yang ia dapatkan dari burung kecil tak berdaya itu. Baginya semuanya adalah media hikmah. Batu, tumbuhan, wejangan para waliyulloh, hardikan pendosa, jeritan kemiskinan, rintihan orang hina semua adalah hikmah.
Suatu malam, tatkala Dzunnun Al Misry bersiap-siap menuju tempat untuk ber-munajat ia berpapasan dengan seorang laki-laki yang nampaknya baru saja mengarungi samudera kegundahan menuju ke tepi pantai kesesatan.
Dalam senyap laki-laki itu berdoa "Ya Alloh Engkau mengetahui bahwa aku tahu ber-istighfar dari dosa tapi tetap melakukannya adalah dicerca. Sungguh aku telah meninggalkan istighfar, sementara aku tahu kelapangan rahmatMU."
"Tuhanku Engkaulah yang memberi keistimewaan pada hamba-hamba pilihan-MU dengan kesucian ikhlas."
"Engkaulah Dzat yang menjaga dan menyelamatkan hati para auliya dari datangnya kebimbangan."
"Engkaulah yang menentramkan para waliyulloh,"
"Engkau berikan kepada mereka kecukupan dengan adanya seseorang yang bertawakkal."
"Engkau jaga mereka dalam pembaringan mereka"
"Engkau mengetahui rahasia hati mereka. Rahasiaku telah terkuak di hadapan-MU. Aku di hadapan-MU adalah orang lara tiada asa."
Dengan khusyu' Dzunnun Al Misry menyimak kata demi kata rintihan orang tersebut.
Ketika dia kembali memasang telinga untuk mengambil hikmah di balik ratapan lelaki itu, suara itu perlahan menghilang sampai akhirnya hilang sama sekali di telan gulitanya sang malam namun menyisakan goresan yang mendalam di hati sang waliyulloh ini.
Di saat yang lain Dzunun Al Misry bercerita pernah mendengar seorang ahli hikmah di lereng gunung Muqotthom.
"Aku harus menemuinya.", begitu sang waliyulloh bertekad.
kemudian setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan Dzunun Al Misry pun bisa menemukan kediaman lelaki misterius.
Selama 40 hari mereka bersama, merenungi hidup dan kehidupan, memaknai ibadah yang berkualitas dan saling tukar pengetahuan.
Suatu ketika Dzunnun bertanya: "Apakah keselamatan itu?"
Orang tersebut menjawab "Keselamatan ada dalam ketakwaan dan al-Muroqobah (mengevaluasi diri)"
"Selain itu?", pinta Dzunnun Al Misry seperti kurang puas.
"Menyingkirlah dari makhluk dan jangan merasa tentram bersama mereka!" Jawab laki-laki itu.
"Selain itu?", pinta Dzunnun Al Misry lagi.
"Ketahuilah Alloh mempunyai hamba-hamba yang mencintai-NYA. Maka Alloh memberikan segelas minuman kecintaan."
"Mereka itu adalah orang-orang yang merasa dahaga ketika minum, dan merasa segar ketika sedang haus".
Lalu orang tersebut meninggalkan Dzunnun Al-Misri dalam kedahagaan yang selalu mencari kesegaran cinta Ilahi.
NASIHAT MA'RIFAT DZUNNUN AL MISHRY
1. Sang arif semakin rendah hati (tawadhu) setiap saat, dan setiap saat dia semakin dekat kepada Tuhannya.
Kaum Arifin melihat tanpa pengetahuan, tanpa penglihatan, tanpa penggambaran, tanpa halangan dan tanpa tirai.
Mereka bukan diri mereka sendiri, tetapi sepanjang keberadaannya mereka itu berada di dalam Tuhan.
Gerak-gerik mereka disebabkan oleh Alloh dan kata-kata mereka adalah kata-kata Tuhan yang diucapkan melalui lidah-lidah mereka, dan penglihatan mereka adalah penglihatan Tuhan, yang telah memasuki mata mereka.
Demikianlah, Alloh Yang Maha Tinggi berfirman: “Jika Aku mencintai hamba-Ku, maka Akulah telinganya yang dengannya dia mendengar, Akulah mata-Nya yang dengannya dia melihat dan Akulah lidahnya yang dengannya dia berbicara, dan Akulah tangannya yang dengannya dia memegang.”
13. Hendaklah engkau bergaul dengan orang yang dengan melihatnya saja mengingatkanmu kepada Alloh, kemuliaannya berkesan dalam batinmu, perkataannya menambah ilmumu, dan perbuatannya menjadikanmu zuhud di dunia. Ia tidak berbuat maksiat kepada Alloh selama engkau berada di dekatnya. Ia mengajarimu dengan lisan dan perbuatannya, dan tidak dengan lisan perkataannya. Ia meninggalkan apa yang menunjukkanmu padanya, yakni bahwa ia tidak memiliki keutamaan dengannya ia mengajarimu, kerena seseorang kadang-kadang mengerjakan perbuatan baik yang dituntut keadaannya. Ia menunjukimu dengan ucapannya pada perbuatan baik yang dituntut kepadamu, tetapi pada waktu yang sama tidak dituntut keadaannya. Dengan perkataannya, ia maksudkan lisan perbuatannya, yakni perbuatan-perbuatannya yang lurus atau adil. Inilah makna firman Alloh Subhanahu Wa Ta'ala: Mengapa kamu suruh orang lain melakukan kebajikan sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu kembaca Al-Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?
15. Janganlah engkau keluar dari tiga hal, yakni pandangan pada agamamu dengan keimananmu, berbekal dengan duniamu untuk akhiratmu, dan permohonan tolong kepada Tuhanmu di dalam apa yang diperintahkan-NYA kepadamu dan yang dilarang-NYA atas dirimu.
16. Barangsiapa memandang dan melihat-lihat aib orang lain, maka ia buta pada aib dirinya sendiri.
20. Wahai Ibrohim, jagalah dariku 5 hal. Jika engkau menjaganya, maka engkau tidak akan peduli kepada apa yang terjadi sesudahnya. Yaitu:
26. Kebahagiaan diperuntukkan bagi orang yang ikhlas, yakni:
27. Ketahuilah wahai Ibrohim, bahwa sisi halal itu ada 5, yaitu:
30. Hal yang mengandung ketenangan, yaitu:
32. Terdapat 5 yang di dalamnya menggabungkan tujuan, yaitu:
38. Kepada saudaranya, Al-Kifla, Dzunun Al Mishry berkata, “Wahai Saudaraku, jadilah engkau orang yang selalu disifati dengan kebaikan dan jangan menjadi orang yang hanya bisa menerangkan kebaikan-kebaikan saja.”
EmoticonEmoticon