Selasa, 25 Februari 2020

HUBUNGAN ANTARA NASIB, TAKDIR, KEHIDUPAN, DAN KEBAJIKAN

Dalam menjalani kehidupan ini, kita tidak harus kita menjadi yang terbaik.
Tujuan kita Hidup untuk menjalani nasib dengan selalu berbuat kebaikan kepada siapa pun, baik kepada manusia, hewan, tumbuhan dan makhluk ciptaan Alloh yang lainnya, supaya apa?
Supaya takdir yang kita yang tertuang didalam lahul mahfadz juga berupa takdir yang baik pula, dalam kata lain, kita menanam padi, maka dengan proses berjalannya waqtu kita akan memanen padi tersebut. 
Sesungguhnya mereka pun juga hidup, dan berbuat kebaikan dan amal ibadah kepada Alloh, hanya saja kita tidak memahami bagaimana cara mereka beribadah kepada Alloh. Misal:
tanah, mereka hidup & melihat serta memahami apa yang kita rasakan, apa yang kita perbuat. Disaat mereka tersakiti dengan cara manusia menyakiti ciptaan Alloh yang lainnya, maka tanah pun bergerak & terjadilah bencana. Karana melihat tingkah laku manusia sudah keluar batas. Begitu pula dengan lautan, gunung, langit. Apabila hewan, mereka akan menggigit kita apabila mereka terancam, atau mereka akan nurut kepada siapa saja yang selalu berbuat kebaikan & taat, tulus-ikhlas, rela (redho) ibadah serta semua karana Alloh semata.

Kita tidak perlu khawatir, sebab segala sesuatu yang ditakdirkan untuk kita pasti akan sampai/terjadi kepada kita walaupun itu lama terjadinya. Apabila ingin mempercepat, terjadinya takdir yang baik harusnya kita sering bersedekah kepada faqir, miskin, janda tua, anak yatim, musyafir (orang yang kehabisan perbekalan didalam perjalanan), serta perbanyak Sholawat kepada Baginda Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wasalam.

Takdir adalah sebuah misteri, karana apabila kita berbuat kebaikan (amal sholeh) maka takdir yang kita alami pun juga akan baik, walau ada kalanya orang meremehkan, maka disitulah ujian kesabaran kita, karana modal hidup adalah kesabaran, orang yang sabar, orang yang mampu menahan amarahnya/emosinya dikala marah, maka itulah orang yang kuat, bukan orang yang tahan pukul atau sakti. Orang yang mampu melawan rasa malas, bisa juga dikategorikan orang yang kuat. Imam Al Ghozali berkata didalam kitab IHYA' ULUMUDDIN: "Untuk mendapatkan apa yang kamu suka, pertama-tama kamu harus bisa bersabar dengan apa yang kamu benci."

Apabila kita berbuat yang buruk atau perbuatan bodoh (amal jahiliyah), kenapa dikatakan bodoh?
Karana orang tersebut lebih menuruti hawa nafsu mereka ketimbang hati nurani mereka, sehingga hati mereka mati dan tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
Takdir yang sampai/terjadi kepada kita pun juga buruk, mengecewakan, walau pun ada kesenangan maka itu adalah istidrot (kesenangan yang Alloh berikan hanya sesaat, setelah itu Alloh akan membinasakannya dalam keadaan yang buruk). 

Jikalau orang yang memahami akibat perbuatan buruk kita berdampak kepada:
1. Takdir yang menjadi perjalanan yang tidak menyenangkan,
2. Ganjaran kebaikan (pahala) kita berpindah kepada yang kita sakiti (dzolimi),
3. Saat sakaratul maut (nazak, lepasnya ruh dari jasad) yang bukan main sakitnya (lebih sakit dari pada tercekik) hingga berhari-hari, susah menyebut Nama Alloh, sehingga dikhawatirkan meninggal dalam keadaan su'ul khotimah (mati dalam keadaan yang buruk), sehingga siksaan² batin didalam barzah terus terjadi hingga hari kiyamat besar, entah berapa puluh atau ratus tahun lagi, setelah dikubur,
4. Saat berada di alam barzah (kubur) yang ingin kembali kedunia ingin berbuat kebaikan saja dan dia berjanji akan berbuat amal sholeh, namun itu semua sudah terlambat, karana ruh sudah melewati kerongkongan, itulah batas akhir bertaubat sudah Alloh tutup.
5. Di alam akherat (surga atau neraka) yang habis amal kebaikannya (bangkrut), walau masuk surga sebagai pengemis, disaat semua datang berduyun-duyun untuk menemui SANG KHOLIQ (sang pencipta) dia tidak bisa hadir. Sungguh kesengsaraan yang menyedihkan. Kita merasakan dengan menyebut nama Alloh sangatlah nikmat & indah, apa lagi melihat Alloh.

Apabila kita fahami maka pastilah kita enggan untuk berbuat keburukan didunia ini.
Read More

Sabtu, 22 Februari 2020

ISLAM ADALAH

Kita memang muslim warisan (yaitu menjadi muslim karana ayah, ibu, kakek, nenek, buyut, dan seterusnya adalah seorang muslim). Dalam artian kita ini diwarisi ilmu islam oleh leluhur kita, Sayyidina Ali Karomahu Wajhah berkata:

"Ilmu (islam) adalah sebaik-baik warisan. Agama islam adalah rahmat lil 'alamin (kasih sayang kepada alam semesta), islam adalah agama akhlaq (adab, sopan santun), Baginda Rosul diutus untuk memperbaiki akhlaq. Dengan aturan-aturan yang ditetapkan oleh Alloh & Rosul-NYA."

Namun islam itu bukan agama dalil (hukum) yang harus begini & begitu sehingga pemahaman menjadi jumu' (kaku). Sedang Baginda Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wasalam bukan orang yang jumu' maupun kasar.

Read More

Kamis, 20 Februari 2020

SHOLAWAT NARIYAH atau SHOLAWAT TAFRIJIYAH (shalawat agar dilepaskan dalam kesusahan)

Sholawat ini lebih dikenal dengan sebutan Sholawat Tafrijiyah, yang berarti melapangkan kesulitan.
Sebagian ulama' lainnya menamakannya Sholawat Kamilah, artinya yang sempurna. Sholawat ini oleh penduduk Maghrib (Maroko)  disebut Sholawat Nariyah yang berarti segala hajat akan terkabul dengan cepat seperti cepatnya kobaran api yang membakar jerami.
Sebagian 'ulama menamakannya dengan Sholawat Taziyah lantaran dinisbahkan kepada penyusun sholawat tersebut, Sayyid Syaikh Abu Ishaq Ibrohim bin Muhammad Ali At-Tazi 

Dalam kitab Syawariqul Anwar, yang disusun oleh Abuya Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki Al-Hasani menyebutkan sholawat tersebut dengan “Sholawat Taziyah”. Dalam kitab beliau yang lain, yaitu kitab Abwabul Faroj , beliau menyebutnya dengan “Sholawat Nariyah”.

Sedangkan dalam Al-Kunuz Al- Muhammadiyah yang disebut di atas, disebut sebagai Sholawat Kamilah, Tafrijiyah, Taziyah (nisbah kepada Sayyid Syaikh Ibrohim bin Muhammad Ali At-Tazi , dan Nariyah (mengacu pada faedahnya).

Adapun bacaan Sholawat tersebut:

اَللَّهُمَّ صَلِّ صَلاَةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلاَمًا تآمًّا عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِنِ الَّذِي تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ . وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ . وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ . وَ تُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ . وَحُسْنُ الْخَوَاتِيْمِ وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ . وَعَلَى آلِهِ 
وَصَحْبِهِ فِي كُلِّ لَمْحَةٍ وَنَفَسٍ بِعَدَدِ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ

ALLOOHUM_MA SHOLI SHOLAATAN KAAMILATAN WASALIM SALAAMAN TAAM_MAN ‘ALAA SAY_YIDINA MUHAM_MADINIL LA_DZII TAN_HALLU BIHIL ‘UQODU WA TAN_FARIJU BIHIL KUROBU WA TUQ_DHOO BIHIL HAWAA_IJU WA TUNAALU BIHIR_RO_GHOO_IBU WA HUS_NUL KHOWAATIMI WA YUS_TAS_QOL GHOMAAMU BI WAJ_HIHIL KARIIMI WA ‘ALAA AALIHII WA SHOH_BIHII FII KULLI LAM_HATIN WA NAFASIN BI ‘ADADI KUL_LI MA’LUU_MIN LAKA.

Artinya:
Wahai Allah, limpahkanlah kesejahteraan dan keselamatan yang sempurna kepada junjungan kami Nabi Muhammad Sholallohu 'Alaihi Wasalam. Yang dapat melepaskan beberapa ikatan (kesulitan), menghilangkan kesusahan-kesusahan, mendatangkan hajad, mendapatkan kesenangan, khusnul khotimah (mati dalam keadaan yang baik), dicurahkan kasih sayang sebab wajah yang mulia, dan semoga tercurah juga kepada seluruh keluarga beliau, para shohabat beliau pada setiap nafas sebanyak yang ENGKAU ketahui, setiap kasih sayang-MU, wahai Alloh Yang Maha berbelas kasihan.

Sholawat ini disusun oleh Sayyid Syaikh Ibrahim Al-Taziy bin Muhammad bin Ali bin Malik bin Abdullah bin Ahmad bin Isa Ar-Ridho bin Musa Al-Murtadha bin Abdullah bin Abi Ja’far Ash-Shodiq bin Muhammad An-Nathiq bin Ali Zainal Abidin bin Abdullah bin Hamzah bin Idris bin Abdullah Al-Kamil bin Hasan Al-Mutsanna bin Al-Hasan As-Sibt bin Sayyidatuna Fatimah Az-Zahro binti Al Musthofa Sayyidina Muhammad Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wasalam. 

Seorang ulama' ahli tasawuf, muhaddits dan faqih yang masyhur, memiliki sifat sabar, selalu melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar, baik dalam pergaulan dan sifat-sifat kepujian lainnya.
Beliau wafat pada tanggal 9 Sya’ban tahun 866 H.

Tokoh kharismatik ini berjasa besar dan mempunyai peran penting dalam mendakwahkan ajaran Islam di kota Wahron (Maroco) dan penisbahan Al-Taziy lantaran beliau dilahirkan di kota Taza, Maroko yang masyhur dengan kehidupan orang-orang sholeh serta di kota tersebut beliau mempelajari berbagai disiplin ilmu agama.

Guru utama beliau adalah Syaikh Abu Zakariya Yahya Al-Waza’iy yang pernah memprediksikan beliau menjadi orang besar di kemudian hari.

Para guru beliau lainnya: Syaikh Taqyuddin Muhammad bin Ahmad Al-Fasiy, Syaikh Abu al-Fath bin Abu Bakar Al-Qurosyiy, Syaikh Abdullah Al-Abdusiy, Syaikh Muhammad bin Marzuqi dan Syaikh Al-Hawariy.

Di antara murid beliau: Imam As-Sanusiy, Syaikh Ali At-Talutiy, Syaikh Ahmad Zarruq dan lain-lain.

Ketika berangkat menunaikan ibadah haji, beliau mengenakan Khirqoh (selendang sufi) dari Syaikh Syarofuddin Ad-Da’iy dan Syaikh Sholih bin Muhammad Al-Zawawiy dengan sanad khirqoh yang bersambung kepada Imam Abu Madyan Al-Maghribiy.

Di suatu ketika penduduk Maghrib sedang dalam keadaan bahaya, musuh mau mendekat, kemudian para penduduk duduk dalam majelis (perkumpulan) kemudian membaca Sholawat Nariyah semua membaca sholawat tersebut secara bergantian sampai pada hitungan/sebanyak 4.444 kali, meminta pertolongan Alloh melalui doa syafa'at Al Musthofa sayyidina Muhammad Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wasalam dan rakyat Maghrib terhindar dari bahaya serta suasana kembali aman tentram santosa.

Begitu pula yang dilakukan  pendiri kerajaan Demak Bintoro Sultan Hasan Al Fatah, malam beliau membaca sholawat nariyah hingga hitungan 4.444 kali untuk rakyat Demak Bintoro supaya kerajaan menjadi aman, tentram, jaya, makmur. Sultan Hasan Al Fatah adalah murid dari sunan Ampel sekaligus menantu dari sunan Ampel, sultan Hasan Al Fatah pendiri kerajaan demak bintoro ibunya yang bernama Tan Eng Kian, orang cina bermarga "Tan" adalah cicit dari Maulana Ja'far Shodiq bin syaikh jumadil Al Akbar (Syaikh Jumadil Kubro).

Setiap malam pun Hadrotus Syaikh Muhammad Romli Tamim, Pondok Pesantren Darul 'ulum, Rajoso, Peterongan Jombang, sekaligus Mursyid (guru) Thoriqoh Qodiriyah wan Naqsyabandiyah mengamalkan hal serupa membaca Sholawat Nariyah hingga hitungan 4.444 kali, mulai dari jam 2 pagi (sepertiga malam) hingga menjelang shubuh (tarkhim). Beliau lakukan demi pesatren yang beliau pimpin, para santri Darul 'ulum semuanya & jama'ah ahli Thoriqoh Qodiriyah wan Naqsyabandiyah semua menjadi berkah hidupnya & mendapatkan syafa'at Baginda Nabi Muhammad Sholallohu 'Alaihi Wasalam di dunia maupun di akherat. Saya pula pernah diberi tahu, bahwa siapa santri Darul 'Ulum akan beliau cari di Padang Mahsyar supaya tidak kesulitan & kesusahan diakherat.

Syaikh Yusuf bin Ismail An-Nabhaniy, menjelaskan dalam kitab Afdhol Ash-Sholawat Ala Sayyid As-Sadat halaman 159: Sholawat ini, Imam al-Qurthubiy menuturkan bahwa siapa saja yang membacanya secara rutin setiap hari sebanyak 41 kali atau 100 kali atau lebih, Alloh akan melenyapkan kecemasan dan kesusahannya, menghilangkan kesulitan dan penyakitnya, memudahkan segala urusannya, menerangi hatinya, meninggikan kedudukannya, memperbaiki keadaannya, meluaskan rizkinya, membukakan baginya segala pintu kebaikan, dan lain-lain.

Ahlul Asror menamakan Sholawat Tafrijiyyah dengan nama “ مفتاح الكنز المحيط لنيل مراد العبيد “ (kunci perbendaharaan samudra untuk menggapai tujuan hamba). Imam As-Sanusiy berkata:
“Siapa saja yang melazimi (istiqomah) membaca Sholawat Tafrijiyyah setiap hari sebanyak 11 kali, maka seakan-akan rizki dari langit turun kepadanya dan rizki dari bumi tumbuh untuknya.”

Syaikh Muhammad Haqqiy An-Naziliy dalam kitab Khazinah Al-Asror Jaliyah Al-Azkar halaman 179 dan Syaikh Yusuf bin Ismail An-Nabhaniy dalam kitab Afdhal Ash Sholawat Ala Sayyid As Sadat halaman 160:

Imam al-Dinawariy mengatakan:

1. Siapa saja yang secara istiqomah membacanya 11 kali setiap selesai shalat dan ia menjadikan wiridannya, maka rizkinya tidak pernah putus.

2. Siapa saja yang lazim membacanya setiap selesai shalat shubuh sebanyak 41 kali, maka segala hajatnya akan diijabah.
Siapa saja yang lazim membacanya setiap hari 100 kali, maka akan mendapatkan keberhasilan dan kesuksesan segala hal melebihi apa yang ia sangka.

3. Siapa saja yang lazim membacanya setiap hari sebanyak 313, maka Allah akan membukakan baginya tabir segala rahasia.

4. Siapa saja yang lazim membacanya 1000 kali, maka Allah akan memberikan sesuatu yang tidak bisa disifati oleh manusia, mata manusia belum pernah melihatnya, telinga manusia belum pernah mendengarnya dan belum pernah terlintas dalam hati mereka.

Syaikh Muhammad Haqqiy An-Naziliy, dalam kitab Khazinah Al-Asror Jaliyah Az-Azkar, halaman 182, mengatakan:
Pengarang kitab Sirrul Asror yaitu Sultanul 'Awliya' Sayyidina Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Baghdadi berkata:

“Fadhilah shalawat Nariyah atau shalawat kamilah yang disebutkan di atas akan didapatkan dengan syarat mudawamah (konsisten) membacanya."

Semoga Alloh memberikan keberkahan kepada kita dengan memuliakan Kekasih Alloh yang paling sempurna baik wujud (dhohir) beliau, maupun bathin (sifat, sikap, akhlaq) beliau, serta mendapatkan syafa'at Baginda Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wasalam, baik dunia, di alam barzah, minum air haudh (telaga) Al Kautsar, yang airnya lebih putih dari susu, lebih manis dari madu, lebih wangi dari kasturi, sehingga kita tidak akan kehausan selamanya, disaat para manusia & jin kehausan di Padang Mahsyar hingga Akhirat.

Read More

Minggu, 16 Februari 2020

PERBEDAAN ORANG BODOH DENGAN ORANG ALIM

Orang bodoh yang bertanya untuk memahami suatu ilmu pengetahuan kedudukannya sama seperti orang alim yang ahli ibadah serta sholeh.

Dan orang yang bertanya dengan keras kepala (yaitu tetap kukuh dengan pendapatnya sendiri), seperti orang bodoh yang ahli ibadah serta orang alim yang mengumbar nafsu syahwatnya (yaitu sia-sia amal ibadah dan dosanya berlipat-lipat).

Tidak ada penyakit yang lebih parah daripada kebodohan. Dan tidak ada kefakiran yang sebanding dengan kebodohan.

Orang bodoh adalah orang yang berkedudukan rendah walaupun dia orang tua dan orang alim adalah orang yang berkedudukan tinggi walau pun dia seorang remaja (anak muda).

Alloh memerintahkan orang alim untuk mengajar terlebih dahulu sebelum Alloh memerintahkan orang bodoh untuk belajar.

Kehancuran islam adalah disaat orang bodoh yang ahli ibadah dan orang alim yang mengumbar nafsunya merajalela.

Sayyidina Ali Karomallohu wajhah berkata: engkau tidaklah aman dari kejahatan orang bodoh yang dekat denganmu dalam pertemanan, kekerabatan dan ketetanggaan. Sebab, yang paling dikhawatirkan terbakar nyala api adalah yang paling dekat dengan api itu.
Dalam artian, ibarat api yang menyala itu adalah orang bodoh dan orang bodoh itu selalu merasa dirinya lah yang paling pintar dan benar dari kita, maka kita bisa terpengaruh oleh kebodohannya & yang paling dikhawatirkan kita melakukan tindakan bodoh seperti apa yang ia kerjakan.
Read More

Rabu, 12 Februari 2020

KISAH SUFI WANITA (WALIYATIN/WALI ALLOH YANG WANITA) ROBI'AH AL 'ADAWIYAH

Prakata:
pembacaan manaqib (kisah hidup), para pembaca disaat nama Robi'ah Al adawiyah Rodhiallohu'anha, pembaca wajib memandu para jama'ah dan atau pribadi untuk mengucap "Rodhiallohu'anha", disertai suratul fatihah khususkan kepada beliau. Supaya kita yang membaca tersambung batin, dan kita mendapatkan berkah dari Alloh Subhanahu Wa Ta'ala melalui beliau yang telah mendapatkan keredhoan dari Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.

Barangsiapa membaca kisah hidup seorang 'Alim, maka dia telah menghidupkan ilmu Alloh didalam dirinya, seperti beliau yang telah mengamalkan ilmu Alloh Subhanahu Wa Ta'ala didalam kehidupan beliau.

Cinta & Ma'rifat Ratu Sufi

Sang ratu Cinta lahir dalam kemiskinan yang sangat, Tak ada kain untuk menyelimuti dirinya, Tak ada minyak setetespun untuk pemoles pusarnya, Tak ada lampu untuk menerangi kelahirannya, Ia adalah putri ke empat, Maka disebutlah Robi’ah.

Sang ayah merenung sedih memikirkan hal ini, dan sang istri berkata meminta suaminya ke tetangga:

“Pergilah ke tetangga kita si fulan dan mintalah setetes minyak, supaya aku bisa menyalakan lampu,”.

Lalu suami pergi ke tetangga dan berpura-pura menyentuhkan tangan ke pintu rumah tetangganya lantas kembali pulang, untuk menghibur hati istrinya. Ayah Robi'ah memegah teguh imannya hanya berharap kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dan tidak mau pinjam atau meminta kepada selain Alloh Yang Maha Pemberi. Semuanya digantungkannya pada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Ayah Robi'ah berkata kepada Istrinya:

“Mereka tidak mau membuka pintu,

Istrinya yang malang itu menangis dengan susah hati. Dalam keadaan cemas, laki-laki itu menyelipkan kepalanya di antara lutut sampai tertidur. Dalam kesedihan tidurnya ia bermimpi, Bertemu sang Nabi Sholallohu 'Alaihi Wassallam yang menghibur hati, dan bersabda:

“Jangan bersedih,”

Kemudian Baginda Rosululloh kembali bersabda:

“Bayi perempuan yang baru saja lahir itu adalah ratu di antara kaum perempuan, yang akan menjadi perantara bagi tujuh puluh ribu kaumku. Besok,”

Kanjeng Rosululloh Shollallohu 'Alaihi Wassallam melanjutkan: 

“Temuilah Isa az-Zadan, Gubernur Basroh, dan tulislah surat dengan kata-kata berikut ini:

 “Setiap malam engkau kirimkan sholawat 100 kali kepadaku, dan setiap malam Jum’at 400 kali, tetapi kemarin adalah malam Jum’at dan engkau lupa mengerjakannya. Sebagai penebus kelalaianmu berikanlah empat ratus dinar yang telah engkau peroleh secara halal kepada orang ini.”

Ayah Robi’ah terbangun dalam keadaan bersimbah air mata. Dia pun bergegas menuliskan surat yang diperintahkan oleh Kanjeng Nabi Shollallohu 'Alaihi Wassallam, dan menyerahkan surat itu kepada gubernur, lewat perantaraan pengurus rumah tangga istana.

ketika membaca surat itu, sang gubernur memberikan perintah:

“Sedekahkan dua ribu dinar kepada fakir miskin,”

Dan berkata lagi:

“sebagai bentuk syukur karena junjungan kita yang telah mengingatkanku. Berikan juga tuan tadi empat ratus dinar, dan katakan padanya,:

‘Aku harap engkau datang kepadaku sehingga aku dapat melihatmu. Tetapi aku merasa tidak pantas jika seseorang sepertimu datang menemuiku. Aku lebih suka jikalau akulah yang datang dan menyeka pintu rumahmu dengan janggutku. Namun, demi Alloh, aku memohon kepadamu, apa pun yang engkau butuhkan, katakanlah kepadaku.”

Ayah Robi’ah menerima uang itu dan membelanjakan apapun kebutuhannya.

Dalam kitab Tadz_kirotul 'Awliya', ketika Robi'ah agak lebih dewasa, musibah kelaparan merebak di Basroh, yang membuat ibu dan ayahnya menghadap ke Illahi Robbi dan Robi'ah terpisah dari kakak-kakaknya.

Ketika Robi'ah pergi keluar rumah, ia terlihat oleh orang jahat kemudian menculiknya dan di jual seharga 6 dirham kepada pembeli. Robi'ah pun disuruhnya mengerjakan pekerjaan yang berat-berat.

Suatu hari, Robi'ah saat sedang berjalan-jalan, ia didekati oleh orang asing. Robi'ah pun berusaha melarikan diri, tetapi tersungkur dan membuat tangannya cidera terkilir.

Dalam tersungkurnya tadi Robi'ah bersujud sambil berseru:

"Yaa Alloh, aku ini orang asing, anak yatim-piatu, seorang tahanan tertangkap tak berdaya, tanganku terkilir. Namun aku tidak bersedih atas semua ini, yang aku butuhkan adalah keredhoan-MU, untuk mengetahui apakah Engkau berkenan atau tidak."

Telinga Robi'ah mendengar suara tanpa ia ketahui dari mana asalnya:

"Jangan engkau bersedih, esok engaku akan dimuliakan sehingga malaikat-malaikat pun iri kepadamu."

Lalu, Rabi’ah pun kembali ke rumah majikannya. Saat siang hari Robi'ah bekerja sambil berpuasa, Malam harinya dihabiskan waqtunya untuk mujahadah dan munajahah dengan Robb-nya sampai fajar merekah. 

Kedekatan beralih menuju ke aqroban (orang yang dekat kepada Alloh). Keaqroban membawanya kepada kerinduan dan kerinduan telah mengantarkannya pada cintanya pada Tuhannya. Dan berkata:

"Aku adalah milik-NYA."

"Aku hidup dibawah naungan-NYA. Aku lepaskan segala sesuatu yang telah kuperoleh kepada-NYA. Aku telah mengenal-NYA, sebab aku menghayati Diri-NYA."

Suatu malam yang dingin, Sang majikan merasakan kegelisahan dalam hatinya. Maka ia pun berjalan kebelakang rumah, memeriksa sekelilingnya, memeriksa kunci-kunci rumahnya.

Dan ketika ia sampai didekat gudang tempat Robi’ah tinggal, Kekagetannya membuat ia sendiri gugup, lampu yang semula dipegangnya kini terlempar entah kemana.

Bagaimana tidak, ketika ia melongokkan kepalanya ke dalam ruang tempat Robi'ah beristirahat, Ia sedang melihat robi'ah menjalankan sholat, dalam sujudnya Robi'ah berdoa kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala:

"Yaa Alloh, Engkau tahu bahwa hasrat hatiku adalah untuk dapat memenuhi perintah-MU dan mangabdi kepada-MU. Seandainya aku dapat mengubah nasibku ini, maka aku tidak akan beristirahat barang sebentar pun dari mengabdi kepada-MU. Akan tetapi Engkau telah menyerahkan diriku kebawah kekuasaan seorang makhluk ciptaan-MU."

Demikian doa yang dipanjatkan Robi'ah. Si majikan tersentak kaget melihat dengan mata kepalanya sendiri sebuah lentera tergantung tanpa rantai di atas kepala Robi'ah, yang cahayanya menerangi seluruh rumahnya.

Menyaksikan peristiwa itu, si majikan merasa takut. Kemudian ia beranjak le kamar tidur dan hanya bisa duduk termenung hingga fajar menyingsing.

Begitu matahari mulai beranjak naik, dipanggillah Robi'ah dengan sikap yang sangat lemah lembut kepada Robi'ah dan memerdekakan Robi'ah sebagai budaknya.

Sang majikan meminta Robi'ah untuk tetap tinggal sebagai istrinya, tetapi Robi'ah meminta:

"Izinkan aku pergi,"

Dan si majikan memberi izin. Rabi’ah pun meninggalkan rumah majikannya memilih untuk pergi menjauhi masyarakat sekitar, menuju gurun. Dari gurun, ia pergi ke gua tempatnya uzlah yang letaknya agak di pinghir desa. Di situlah Robi'ah tinggal beberapa lama untuk membaktikan diri kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.

Di masa musim haji, Robi'ah berniat hendak pergi ke makkah menunaikan ibadah haji. Maka Robi'ah berangkat membelah gurun pasir lagi dengan membawa bundelan berisi barang-barangnya di bebankan kepada punggung keledai yang ia bawa. Tanpa di sangka, begitu Robi'ah dan keledainya sampai di tengah-tengah gurun pasir, keledainya menemui ajal.

Seorang anggota rombongan berkata kepada Robi'ah:

“Izinkan kami membawakan barang-barangmu,”

Robi'ah menjawab:

"Kalian teruslah berjalan, aku bertujuan bukan untuk bertawakkal kepada kalian"

Para lelaki itu pun meneruskan perjalanan dan meninggalkan Robi'ah yang sedang sendirian. Lalu ia menegadah sambil meneteskan air mata, ia berdoa:

"Yaa Alloh, begitulah cara raja-raja memperlakukan seoran perempuan yang tidak berdaya ditempat yang asing baginya?"

"Engkau telah memanggilku ke rumah-MU, tetapi ditengah perjalanan Engkau membunuh keledaiku dan meninggalkanku sendirian ditengah-tengah gurun ini."

Belum Robi'ah selesai didalam doanya, keledainya bergerak dan bangkit berdiri. Robiah pun girang dan menaruh kembali barang-barang bawaannya di punggung keledainya itu dan melanjutkan perjalanannya.

Robi'ah kembali melanjutkan perjalanannya menuju baitulloh memecah gurun pasir selama beberapa hari lagi, kemudian ia berhenti. Alloh pun langsung dawuh (berbicara) di dalam hati Robi'ah,:

"Robi'ah, engkau sedang berada di atas sumber kehidupan delapan belas ribu dunia. Tidaklah engkau ingat, betapa Musa telah memohon untuk melihat wajah-KU dan gunung terpecah-pecah menjadi 40 keping. Oleh karena itu, cukuplah engkau dengan nama-KU saja."

Suatu hari di musim semi, Robi’ah memasuki tempat tinggalnya, Kemudian ia melongok keluar sebab pelayannya berseru:

“Ibu, keluarlah dan saksikanlah, apa yang telah dilakukan oleh sang Pencipta”

Kemudian Robi'ah Al Adawiyah balik berseru:

“Lebih baik engkaulah yang masuk kemari dan saksikanlah sang Pencipta itu sendiri."

Karena lama pelayan Robi'ah Al Adawiyah tidak masuk kedalam gua, kembali Robi'ah Al adawiyah berkata:

"Aku sedang asyik menatap Sang Pencipta, sehingga aku tidak peduli lagi terhadap ciptaan-ciptaan-NYA?”

Suatu malam ketika Robi’ah sedang sholat di tempat uzlahnya itu, ia merasa sangat letih sehingga akhirnya tertidur lelap dan matanya berdarah tertusuk alang-alang dari tikar yang ditidurinya itu, ia sama sekali tidak menyadarinya.

Disaat itu lah seorang maling menyelinap masuk ke dalam rumahnya, dan mengambil cadarnya. Ketika hendak pergi dari tempat itu, si pencuri tidak menemukan jalan keluar. Dia meninggalkan cadar itu, dan pergi, mendapati bahwa jalannya telah terbuka. Dia mengambil cadar Rabi’ah lagi, dan kembali menemukan pintunya terhalang.

Sekali lagi dijatuhkannya cadar itu. Dia terus mengulang-ulang hal ini sampai tujuh kali. Kemudian si pencuri mendengar suara lantang:

“Hai manusia, tidak usah merepotkan diri. Sudah bertahun-tahun perempuan ini mengabdi kepada Kami."

Saat si pencuri mencari sumber suara itu, suara kembali terdengar:

"Iblis sendiri tidak berani datang menghampirinya. Bagaimana mungkin seorang maling punya keberanian mencuri cadarnya? . Pergilah dari sini. Jika seorang sahabat sedang tertidur, maka sang Sahabat bangun dan berjaga-jaga”

Ketika seorang sahabat mengantarkan seorang kaya yang ingin memberikan uang emasnya pada Robi'ah, Robiah berkata,:

“DIA telah menafkahi orang-orang yang menghujjah-NYA. Apakah DIA tidak akan menafkahi orang-orang yang mencintai-NYA?"

Robi'ah melanjutkan berkata:

"Sejak aku mengenal-NYA, aku telah berpaling dari manusia ciptaan-NYA. Aku tidak tahu apakah kekayaan seseorang itu halal atau tidak, Maka betapakah aku dapat menerima pemberiannya?"

Dimalam-malam hari yang sepi dan sunyi, Dalam kerinduannya dengan sang Maha Pencipta, Robi'ah bergumam sambil bersujud:

“Ya Alloh, apapun yang akan Engkau karuniakan kepadaku di dunia ini, berikanlah kepada musuh-musuh-MU."

"Dan apapun yang akan Engkau karuniakan kepadaku di akhirat nanti, Berikanlah kepada sahabat-sahabat-MU, Karena Engkau sendiri cukuplah bagiku”

“Ya Alloh, semua jerih payahku dan semua hasratku diantara kesenangan-kesenangan dunia ini, adalah untuk mengingat Engkau."

"Dan diakhirat nanti, diantara segala kesenangan akhirat, adalah berjumpa denganMu."

"Begitulah halnya dengan diriku, Seperti yang telah kukatakan. Kini berbuatlah seperti yang Engkau kehendaki”

Robi'atul Adawiyah merupakan salah seorang srikandi agung dalam Islam. Beliau terkenal dengan sifat waro' (berhati-hati didalam hidupnya dengan meninggalkan perkara yang haram dan syubhat/perkara yang belum jelas halal atau haram) dan senantiasa menjadi rujukan golongan cerdik pandai karena beliau tidak pernah kehabisan hujjah (menerangkan suatu ilmu yang bersumber dari Al Qur'an dan Hadist). Ikutilah antara kisah-kisah teladan tentang beliau, semoga Alloh memberi kita hidayah dan memasukkan kita dalam golongan sholihin (orang-orang sholeh/suka berbuat kebajikan).

Pada suatu malam yang sunyi sepi, di kala masyarakat sedang nyenyak tidur, datang seorang pencuri yang mencoba masuk ke dalam pondok Robi'atul Adawiyah. Namun setelah mencari sesuatu sekeliling berkali-kali, dia tidak menemui sebuah benda berharga kecuali sebuah kendi untuk berwudu', itu pun jelek. 

Lantas si pencuri tergesa-gesa untuk keluar dari pondok tersebut.

Tiba-tiba Robi'atul Adawiyah menegur si pencuri tersebut:

"Hei, jangan keluar sebelum kamu mengambil sesuatu dari rumahku ini."

Si pencuri tersebut terperanjat karena dia menyangka tidak ada penghuni di pondok tersebut.

Dia juga merasa heran karena baru kali ini dia menemui tuan rumah yang begitu baik hati seperti Robi'tul Adawiyah.

Kebiasaannya tuan rumah pasti akan menjerit meminta tolong apabila ada pencuri memasuki rumahnya, namun ini lain, Robi'ah berkata kembali kepada si pencuri itu:

"Silahkan ambil sesuatu."

Si pencuri berterus-terang:

"Tidak ada apa-apa yang boleh aku ambil dari rumah mu ini." 

Robi'atul Adawiyah menunjuk kendi yang jelek tadi dan berkata:

"Ambillah itu!"

Si pencuri menjawab:

"Ini hanyalah sebuah kendi jelek yang tidak berharga."

Robi'ah berkata lagi:

"Ambil kendi itu dan bawa ke bilik air. Kemudian kamu ambil wudhu' menggunakan kendi itu. Selepas itu sholatlah 2 rokaat"

"Dengan demikian, engkau telah mengambil sesuatu yang sangat berharga daripada pondok jelekku ini."

Mendengar kata-kata itu, si pencuri tadi berasa gementar. Hatinya yang selama ini keras, menjadi lembut seperti terpukau dengan kata-kata Rabi'tul Adawiyah itu.

Lantas si pencuri mengambil kendi jelek itu dan dibawa ke bilik air, lalu berwudhu' menggunakannya. Kemudian dia menunaikan sholat 2 rokaat. Ternyata dia merasakan suatu kemanisan dan kelazatan dalam jiwanya yang tak pernah dirasa sebelum ini.

Robi'atul Adawiyah lantas berdoa:

"Ya Alloh, pencuri ini telah mencoba masuk ke rumahku. Akan tetapi dia tidak menemui sebuah benda berharga untuk dicuri. Kemudian aku suruh dia berdiri dihadapan-MU. Oleh itu janganlah Engkau halangi dia daripada memperoleh nikmat dan rohmat (kasih sayang)-MU."

Pada suatu hari, sekumpulan golongan cerdik pandai telah datang ke rumah Robi'atul Adawiyah. Tujuan mereka tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menguji Robi'atul Adawiyah dengan perbagai persoalan.

Dan mereka telah mempersiapkan dengan satu persoalan yang menarik. Mereka menaruh keyakinan yang tinggi, karena selama ini Robi'atul Adawiyah tidak pernah kekurangan hujjah (menerangkan suatu ilmu yang bersumber dari Al Qur'an dan Hadist).

Ketua rombongan itu memulai bicara:

"Wahai Robi'atul Adawiyah, semua bentuk kebajikan yang tinggi-tinggi telah dianugerahkan oleh Alloh kepada kaum lelaki, namun tidak kepada kaum wanita."

Robi'atul Adawiyah bertanya:

"Buktinya?"

Mereka menjawab dengan penuh keyaqinan:

"Buktinya adalah, mahkota kenabian dan Rosul telah dianugerahkan kepada kaum lelaki."

Salah 1 dari mereka menambahi:

"Malahan mahkota kebangsawanan juga dikurniakan kepada kaum lelaki."

Yang lain pula berkata:

"Yang paling penting, tidak ada seorang wanita pun yang telah diangkat menjadi Nabi atau Rosul, malah semuanya dari golongan lelaki." 

Robi'atul Adawiyah menimpali:

"Memang betul pendapat tuan-tuan sekalian. Akan tetapi harus diingat bahwa sejahat-jahat pangkat ada pada kaum lelaki juga."

Kemudian Dengan tenang, Robi'atul Adawiyah membalas hujah mereka sambil merujuk kepada Firaun dan Namrud:

"Siapa yang mengagung-agungkan diri sendiri?"

"Siapa yang begitu berani mendakwakan dirinya sebagai Tuhan?"

"Dan siapa pula yang berkata:
"Bukankah aku ini tuhanmu yang mulia?"

Kemudian Rabi'atul Adawiyah menambah lagi:

"Anggapan dan ucapan seperti itu tidak pernah keluar dari mulut seorang wanita. Malah semuanya dilakukan oleh kaum lelaki."

Suatu hari yang cerah, Robi'atul Adawiyah sedang berjalan-jalan dan melihat seorang dengan kepalanya berbalut sambil meminta simpati dari orang banyak. Karena ingin tahu sebabnya orang itu berbuat demikian, Robi'atul Adawiyah bertanya:

"Wahai hamba Alloh! Mengapa engkau membalut kepalamu begini rupa?"

Orang itu menjawab dengan singkat:

"Kepalaku sakit."

Robi'atul Adawiyah bertanya lagi:

"Sudah berapa lama?" 

Orang itu menjawab dengan tenang:

"Sudah sekian hari."

Lantas Robi'ah bertanya berapa sekarang usianya?

Jawab dia:

"Sudah 30 tahun"

Robi'ah kembali bertanya:

"Bagaimana keadaanmu selama 30 tahun itu?" 

Laki-laki itu menjawab:

"Alhamdulillah, sehat-sehat saja." 

Robi'ah bertanya lagi:

"Apakah kamu memasang sesuatu tanda di badanmu bahwa kamu sehat selama ini?" 

Orang itu menjawab dengan ragu-ragu:

"Tidak"

Lantas Robi'atul adawiyah menjelaskan kepada orang tersebut:

"Masya Alloh, selama 30 tahun Alloh telah menyehatkan tubuh badanmu, tetapi kamu langsung tidak memasang sesuatu tanda untuk menunjukkan kamu sehat sebagai tanda bersyukur kepada Alloh."

"Jika sebaliknya, pasti manusia akan bertanya kepada kamu sebabnya kamu sangat gembira. Apabila mereka mengetahui nikmat Alloh kepadamu, diharapkan mereka akan bersyukur dan memuji Alloh."

Robi'atul Adawiyah menyambung perkataannya:

"Akan tetapi, kini apabila kamu mendapat sakit sedikit, kamu balut kepalamu dan kemudian pergi kesana sini bagi menunjukkan sakitmu dan kekasaran Alloh terhadapmu kepada orang banyak, mengapa kamu berbuat hina seperti itu?"

Orang yang berbalut kepalanya itu hanya diam seribu bahasa dan tertunduk malu dengan perlakuannya.
Kemudian dia segera meninggalkan Robi'atul Adawiyah dengan perasaan kesal dan insaf.

“Ya Alloh, jika aku menyembah-MU karena takut kepada neraka, bakarlah aku di dalam neraka dan jika aku menyembah-MU karena mengharap surga, campakkanlah aku dari dalam surga; tetapi jika aku menyembah-MU demi Engkau semata, janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan Wajah-MU yang abadi kepadaku”

Suatu ketika Abdul Wahid bin Zaid, seorang yang dihormati dan berpengaruh dalam masyarakat pada waktu itu, meminta temannya untuk menjadi perantara kepada Robi’ah namun ketika perantara itu menemuinya Robi’ah kemudian berkata:

“Wahai orang yang bernafsu kepadaku, carilah wanita yang bernafsu sepertimu."

Di lain waqtu Muhammad bin Sulaiman al-Hasyimi, seorang Amir Abbasiyah dari Basroh (w. 172 H), pernah mengajukan lamaran kepada Robi’ah untuk menjadi istrinya. Laki-laki itu sanggup memberikan mahar perkawinan sebesar 100 ribu dinar dan menulis surat kepada robi’ah bahwa ia masih memiliki gaji sebanyak 10 ribu dinar tiap bulan.

Tetapi dijawab oleh Rabi’ah:

”Aku sungguh tidak merasa senang bahwa engkau akan menjadi budakku dan semua milikmu akan engkau berikan kepadaku, atau engkau akan menarikku dari Alloh meskipun hanya untuk beberapa saat.”

Diceritakan bahwa Rabi’ah Adawiyah itu mempunyai tingkah laku yang berubah-ubah. Suatu ketika perasaan cintanya kepada Alloh begitu berat, hingga ia tidak sempat lagi berbuat apa-apa. Pada waktu lain ia kelihatan tenang nampak seperti tidak ada masalah, dan lain waktu ia kelihatan sangat takut dan cemas.

Suaminya pernah menceritakan, suatu hari aku duduk sambil menikmati makanan. Sementara ia duduk di sampingku dalam keadaan termenung lantaran dihantui peristiwa kiamat. 

Suaminya berkata:

”Biarkan aku sendirian menikmati makanan ini”.

Robi'ah pun menjawab:

“Aku dan dirimu itu bukanlah termasuk orang yang dibuat susah dalam menyantap makanan, lantaran mengingat akhirat”. 

Lebih lanjut Rabi’ah berkata:

”Demi Alloh, sesungguhnya bukanlah aku mencintaimu seperti kecintaannya orang yang bersuami istri pada umumnya. Hanyalah kecintaanku padamu sebagaimana kecintaan orang yang bersahabat”. 

Kalau Rabi’ah Adawiyah memasak makanan, ia berkata:

”Majikanku, makanlah masakan itu. Karena tidak patut bagi badanku kecuali membaca tasbih saja”.
(yang dimaksud majikan adalah suami dari Robi’ah Adawiyah sendiri).

Hingga suatu hari Robi’ah berkata pada suaminya:

”Tinggalkan diriku, silakan kamu menikah lagi”.

Hal itu dikatakan ketika suaminya masih hidup. Maka suaminya pun menikah lagi dengan tiga perempuan. Saat itu Robi’ah masih setia melayani keperluan suaminya, termasuk memasakkan makanan. 

Suatu hari Rabi’ah Adawiyah memasakkan daging untuk suaminya, ia berkata:

”Tinggalkanlah diriku dengan membawa kekuatan yang baru menuju istri-istrimu yang lain”.

Ketika suami Robi’ah Adawiyah wafat, beberapa waktu kemudian Syaikh Hasan Al-Bashri, ulama besar Iraq yang hidup di awal kekhalifahan Umayyah (generasi tabiin) dan sahabatnya datang menghadap Robi’ah. Mereka meminta izin diperkenankan masuk. 

Robi’ah pun mengenakan cadarnya dan mengambil tempat duduk di balik tabir. Syaikh Hasan Al-Bashri mewakili kawan-kawannya mengutarakan maksud kedatangannya. Ia berkata:

”Suamimu telah tiada, sekarang kau sendirian. Kalau kamu menghendaki silakan memilih salah seorang dari kami. Mereka ini orang-orang yang ahli zuhud”. 

Kemudian Robi’ah Adawiyah menjawab:

”Ya, aku suka saja mendapat kemuliaan ini. Namun aku hendak menguji kalian, siapa yang paling ‘alim (pandai) di antara kalian itulah yang menjadi suamiku”.

Syaikh Hasan Al-Bashri dan kawan-kawannya menyanggupi. Kemudian Rabi’ah Adawiyah bertanya:

”Jawablah empat pertanyaanku ini kalau bisa aku siap diperistri oleh kamu”.

Syaikh Hasan Al-Bashri berkata:

”Silakan bertanya, kalau Alloh memberi pertolongan aku mampu menjawab tentu aku jawab”. 

Robi'ah bertanya:

“Bagaimana pendapatmu kalau aku mati kelak, kematianku dalam muslim (husnul khotimah) atau dalam keadaan kafir (suul khotimah)?"

Hasan Al-Bashri menjawab:

”Yang kau tanyakan itu hal yang ghoib, mana aku tahu”.

Robi'ah kembali bertanya:

“Bagaimana pendapatmu, kalau nanti aku sudah dimasukkan ke dalam kubur dan Mungkar-Nakir bertanya kepadaku, apakah aku sanggup menjawab atau tidak?"

Syaikh Hasan Al Bashri menjawab:

“Itu persoalan ghoib lagi,”

Robi'ah bertanya:

“Kalau seluruh manusia digiring di mauqif (padang mahsyar) pada hari kiamat kelak, dan buku-buku catatan amal yang dilakukan oleh Malaikat Hafazhah beterbangan dari tempat penyimpanannya di bawah ‘arsy. Kemudian buku-buku catatan itu diberikan kepada pemiliknya. Sebagian ada yang melalui tangan kanan saat menerima dan sebagian lagi ada yang lewat tangan kiri dalam menerimanya. Apakah aku termasuk orang yang menerimanya dengan tangan kanan atau tangan kiri?"

Syaikh Hasan Al Bashri menjawab:

“Lagi-lagi yang kau tanyakan hal yang ghoib,”

Rabi’ah bertanya lagi:

”Manakala pada hari kiamat terdengar pengumuman bahwa sebagian manusia masuk surga dan sebagian yang lain masuk neraka, apakah aku termasuk ahli surga atau ahli neraka?”

Syaikh Hasan Al Bashri kembali menjawab:

“Pertanyaanmu yang ini juga termasuk persoalan yang ghaib,”

Kemudian Rabi’ah berkata:

”Bagaimana orang yang mempunyai perhatian kuat terhadap empat persoalan itu masih sempat mamikirkan nikah?”

"Wahai Syaikh Hasan Kabarkan kepadaku, berapa bagian Allah Membagi akal?"

Syaikh Hasan Al Bashri menjawab:

"Sepuluh bagian, yaitu:

"sembilan bagian diperuntukkan laki-laki"

"Dan satu bagian diperuntukkan perempuan."

Robiah kembali bertanya:

"Lalu, berapa bagian Alloh membagi nafsu?"

Syaikh Hasan Al Bashri menjawab:

"Sepuluh bagian, yaitu:

"Sembilan bagian diperuntukkan perempuan,"

"Dan satu bagian diperuntukkan laki-laki."


Kemudian Robi'ah Al Adawiyah berkata:

“Wahai Syaikh Hasan, aku dianugrahi Alloh dengan kemampuan menjaga sembilan bagian nafsu dengan satu bagian akal,"

"Dan engkau tidak mampu menjaga satu bagian nafsu dengan sembilan bagian akal."


Syaikh Hasan Al Bashri. Waliyullah, Ulama’, Ahli Haqiqah diangkatan tabi’in ini menangis dari apa yang dikatakan Rabi’ah al-Adawiyah. Dan ia pun mengurungkan niatnya untuk melamar Robi'ah Al Adawiyah.

Coba perhatikan kisah dialog anatara Syaikh Hasan Al Bashri dengan Robi'ah Al Adawiyah, betapa besar perasaan takut Robi’ah Adawiyah terhadap persoalan itu. Kendati ia seorang shoehah, namun masih diikuti perasaan takut yang luar biasa jika akhir hayatnya tidak baik.

(Bahwa orang yang telah Alloh sibukkan dengan pengabdian kepada Alloh dengan ibadah keTuhanan, maka ia merasa lebih indah dari sebuah pernikahan/seks).

Suatu hari Robi’ah sedang jalan-jalan di sebuah pegununang, ada banyak binatang buas yang mendekatinya. Anehnya, binatang-binatang tersebut tidak menyerang Robi’ah dan sangat jinak kepadanya. Mereka bermain bersama. Tiba-tiba, Hasan Al-Bashri muncul dan mendekati Robi’ah. Seketika binatang-binatang buas tersebut menampakkan wajah buasnya dan pergi meninggalkan Hasan Al-Basri.

suatu ketika Rabiah berjalan melewati seorang pemuda yang sedang mengembala kambing. Robi'ah berkata,:

“Aku ingin berangkat haji.”

Tiba-tiba laki-laki itu mengeluarkan segepok emas dari saku bajunya. Laki-laki ini berniat memberikannya kepada Robi'ah. Namun, tiba-tiba wanita ini menjulurkan tangannya ke udara, dan seketika tampak tangan itu penuh dengan emas. Rabiah al-Adawiyah berkata:

"Kamu mengambil dari saku, sedangkan aku mengambil dari Alam Ghoib"

Maka pemuda itu lewat dengam penuh tawakal.

Robiah Al-Adawiyah pernah menanam tanaman, tiba-tiba muncul belalang. Melihat serangga-serangga itu Robi'ah Al-Adawiyah berkata:

"Wahai Tuhan, rezeqiku telah Engkau tanggung, maka terserah Engkau akan memberi makan musuh-musuh-MU atau para kekasih-MU"

Maka belalang itu terbang seakan tidak pernah ada.

Pada suatu malam ada dua orang teman Robi’ah yang datang kerumahnya. Mereka hendak melakukan diskusi bersama dengan Robi’ah. Na’asnya, rumah Robi’ah tidak memiliki lampu penerang.
Lalu Robi’ah meniup ujung jari-jarinya hingga kemudian mengeluarkan cahaya yang terang dan menerangi seluruh rumahnya sepanjang malam. Dengan demikian, mereka bisa berdiskusi hingga pagi hari.

Di suatu hari Syaikh Hasan Al-Basri mengajak Robi’ah Al-Adawiyah untuk sholat di atas air.
Robi’ah pun merespons ajakan Syaikh Hasan Al Bashri dengan sebuah jawaban yang ketus.
Bagi Robi’ah tidak lah perlu menunjukkan kemampuan spiritual untuk mencari kepopuleran duniawi.
Tidak hanya itu, Robi’ah kemudian melemparkan sajadahnya dan terbang di atasnya.
Ia mengajak Syaikh Hasan Al Bashri untuk naik di atas bersamanya sehingga lebih banyak orang yang mengetahuinya, dari pada hanya sekedar sholat di atas air.
Hasan tahu jawaban yang diutarakan Robi’ah itu adalah sindirian. Mendengar hal itu, Syaikh Hasan hanya terdiam.

Ketika Robi’ah melakukan perjalanan haji ke baitulloh Mekkah dengan menaiki unta. Di tengah jalan, unta yang dinaiki tersebut mati. Langsung saja, Robi’ah berdoa kepada Alloh. Tidak lama setelah itu, untanya hidup kembali. Robi’ah pun melanjutkan perjalanannya hingga sampai ke baitulloh dan pulang dengan menaiki unta yang sama, unta yang pernah mati itu.

Suatu hari Robi'ah membawa air di tangan kiri dan obor di tangan kanan.

"Kemana engkau hendak pergi Robi'ah?" Tanya seseorang kepadanya.

Robiah menjawab: "Saya hendak ke langit untuk membakar surga dan memadamkan api neraka, agar ke duanya tidak menjadi sebab manusia menyembah Alloh."

Kemudian Robi'ah meneruskan perkataannya.
"Sekiranya Alloh tidak menjadikan pahala dan siksa, masihkah diantara kalian yang menyembah Alloh??"

Wafatnya Robi'atul Adawiyah

Mengenai wafatnya ada dua pendapat yaitu tahun 135 H / 752M atau tahun 185 H / 801 M. Demi agar ia kuat beribadah, Robi'ah senantiasa meletakkan kain kafan persiapan dirinya nanti disebelahnya ketika ia sholat.
Ketika tiba saatnya Robi’ah harus meninggalkan dunia fana ini, Ia mengisyaratkan dengan tanganya agar orang-orang keluar, Orang-orang yang sebelumnya menunggui, kini satu demi satu membiarkan Robi’ah sendiri.
Setelah itu, mereka mendengar suara dari dalam kamar Robi'ah,

“Yaa nafsul muthmainnah. Irji’i ila robbika”

(wahai nafsu yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu)

Beberapa saat kemudian tak ada lagi suara yang terdengar dari kamar Robi’ah. Mereka lalu membuka pintu kamar itu dan mendapatkan Robi’ah telah berpulang.

Konon setelah itu ada yang bermimpi melihat Robi'ah, kepadanya ditanyakan:

“Bagaimanakah engkau menghadapi Munkar dan Nakir, wahai Robi'ah ?”

Robi’ah menjawab:

“Kedua malaikat itu datang kepadaku dan bertanya:

”Siapakah Tuhanmu?”.

Aku menjawab:

”Pergilah kepada Tuhanmu dan katakan kepada-NYA,

”Di antara beribu-ribu makhluk yang ada, janganlah Engkau melupakan seorang wanita tua yang lemah."

"Aku hanya memiliki Engkau di dunia yang luas, tidak pernah lupa kepadaMu, tetapi mengapakah Engkau mengirimkan utusan sekedar menanyakan “Siapakah Tuhanmu” kepadaku ?”

Ya Alloh, curahkan dan limpahkanlah keridhoan atas Robi'atul 'Adawiyah dan anugerahilah kami dengan rahasia-rahasia yang Engkau simpan padanya, Aamien...


Wallahu A'lam Bish-shawab sya_i_lillaahi lahum bii sirril fatihah...


Read More

KARAKTER MANUSIA MENURUT SAYYIDUL AWLIYA' SYAIKH ABDUL QODIR AL JAILANI AL BAGDADI.

Dalam kitab Nashoihul Ibad, karya Syaikh Nawawi Al-Bantani, Sayyidul 'Auliya' Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani berwasiat bahwa typekal karakter manusia terbagi dalam empat kategori di ambil dari kitab futuhatul ghoib.

Golongan Pertama:

Golongan manusia yang tidak ada lidah dan tidak ada hati.

Mereka ini ialah orang-orang yang bertaraf biasa, berotak tumpul dan berjiwa kerdil yang tidak mengenang Alloh dan tidak ada kebaikan pada mereka.

Mereka ini ibarat melukut (ujung beras yang patah karena ditumbuk) yang ringan, yaitu orang yang mudah bimbang dan mudah mempercayai omongan orang tanpa mereka ketahui kebenarannya. kecuali mereka dilimpahi dengan kasih sayang Alloh dan membimbing hati mereka supaya beriman serta menggerakkan angota-anggota mereka supaya patuh kepada Alloh.

Berhati-hatilah supaya kamu jangan termasuk dalam golongan mereka.

Janganlah kamu melayani mereka dan janganlah kamu berteman/bergaul dengan mereka.

Mereka orang-orangbyang dimurkai Alloh dan penghuni neraka.

Kita meminta supaya Alloh melindungi kita dari pengaruh mereka.

Sebaliknya kamu hendaklah mencoba melengkapi diri kamu dengan ilmu KeTuhanan, Mencari guru yang baik, pembimbing didalam agama Alloh, menyampaikan dan mengajak manusia kepada Jalan Alloh.

Kita harus berhati-hati untuk mengajak mereka untuk patuh kepada Alloh dan memberi arahan kepada mereka tentang hal-hal yang mendatangkan murka Alloh.

Jika kamu berjuang di jalan Alloh untuk mengajak mereka menuju Alloh, maka kamu akan jadi pejuang dan pahlawan di jalan Alloh dan akan diberi ganjaran seperti yang diberi kepada Nabi-nabi dan Rosul-rosul.

Nabi Muhammad Shollallohu 'Alaihi Wassallam pernah bersabda kepada Sayyidina Ali Karomallohu Wajhah:

"Jika Alloh membimbing seseorang melalui bimbingan kamu kepadaNYA, maka itu terlebih baik kepada kamu dari apa-apa saja di mana matahari terbit".


Golongan ke Dua:

Golongan manusia yang ada lidah tetapi tidak ada hati.

Mereka bijak bercakap tetapi tidak melakukan seperti yang dicakapkannya.

Mereka mengajak manusia menuju Alloh tetepi mereka sendiri lari dari Alloh.

Mereka benci kepada maksiat yang dilakukan oleh orang lain, tetapi mereka sendiri senang melakukan maksiat itu.

Mereka menunjuk kepada orang lain yang mereka itu Sholeh tetapi mereka sendiri melakukan dosa-dosa yang besar.

Bila mereka bersendirian, mereka bertindak selaku harimau yang berpakaian.

Seperti sabda Nabi Shollallohu 'Alaihis Wassallam:

"Yang paling aku takuti dan aku pun takut di kalangan umatku adalah orang 'Alim yang jahat".

Kita berlindung dengan Alloh dari pada orang 'Alim seperti itu.
Oleh itu, larilah dan jauhkan diri kamu dari orang-orang seperti itu.
Jika tidak, kamu akan terpengaruh oleh kata-kata manis yang bijak berbicara itu dan apa dosanya itu akan membakari kamu (kamu akan ikut berdosa) dan kekotoran hatinya akan membunuh kamu.


Golongan ke Tiga:

Golongan orang yang mempunyai hati tetapi tidak ada lidah.

Dia adalah seorang yang beriman.

Alloh telah mendindingkan mereka dari pada makhluk dan menggantungkan di keliling mereka dengan tabir-NYA dan memberi mereka kesedaran tentang cacat cedera diri mereka.

Alloh menyinari hati mereka dan menyadarkan mereka tentang kejahatan yang timbul kerana mencampuri urusan orang lain dan kejahatan kejahatan kerena banyak berbicara.

Mereka ini tahu bahwa keselamatan itu terletak dalam "DIAM" dan bekholwat.

Nabi Shollallohu 'Alaihi Wassallam. pernah bersabda:

"Barangsiapa yang diam akan mencapai keselamatan".

Sabda baginda lagi:

"Sesungguhnya berkhidmat kepada Alloh itu terdiri dari sepuluh bahagian, sembilan darinya terletak dalam diam". 

Oleh itu mereka dalam golongan jenis ini adalah Wali Alloh dalam rahasia-NYA, dilindungi dan diberi keselamatan, bijaksana, ke'arifan Alloh dan diberkati dengan keredhoan dan segala yang baik akan diberikan kepada mereka.

Oleh itu, kamu hendaklah berteman dengan mereka dan bergaul dengan orang-orang ini dan diberi pertolongan kepada mereka.

 Jika kamu berbuat demikian, kamu akan dikasihi Alloh dan kamu akan dipilih dan dimasukkan dalam golongan mereka yang menjadi Wali Alloh dan hamba-hambanya yang Sholeh.


Golongan ke Empat:

Golongan manusia yang diajak ke dunia tidak nampak (Alam Ghoib), diberi pakaian kemuliaan seperti dalam sabda Nabi Shollalloh 'Alaihi Wassallam:

"Barangsiapa yang belajar dan mengamalkan pelajarannya dan mengajarkan orang yang lain, maka akan diajak ke dunia ghoib dan mendapatkan muliaan".

Orang dalam golongan ini mempunyai ilmu-ilmu Ketuhanan dan tanda-tanda Alloh.

 Hati mereka menjadi gudang ilmu Alloh yang amat berharga dan orang itu akan diberi Alloh rahasia-rahasia yang tidak diberi kepada orang lain.

 Alloh telah memilih mereka dan membawa mereka hampir kepada-NYA.

 Alloh akan membimbing mereka dan membawa mereka ke sisi-NYA. Hati mereka akan dilapangkan untuk menerima rahasia-rahasia ini dan ilmu-ilmu yang tinggi.

 Alloh jadikan mereka itu apa mereka lakukan dan perlakuan-NYA (yaitu mereka melihat menggunakan Mata-NYA, tangan mereka adalah Tangan-NYA, pendengaran mereka adalah Telinga-NYA, perlakuannya adalah Perilaku Alloh) dan pengajak manusia kepada jalan Alloh dan melarang membuat dosa dan maksiat.

 Jadilah mereka itu "Orang-orang Alloh". Mereka mendapat bimbingan yang benar dan yang mengesahkan kebenaran orang lain.

Mereka ibarat timbalan Nabi-nabi dan Rosul-rosul Alloh.

 Mereka sentiasa mendapat taufiq dan hidayah dari Alloh Yang Maha Agung.

 Orang yang dalam golongan ini adalah pada peringkat terakhir atau puncak kemanusian dan tidak ada Maqam di atas ini kecuali Kenabian.

Oleh itu hati-hatilah kamu supaya jangan memusuhi dan membantah orang-orang seperti ini dan dengarlah cakap atau nasihat mereka.

 Oleh itu, keselamatan terletak dalam apa yang dicakapkan oleh mereka dan dalam berdamping dengan mereka, kecuali mereka yang Alloh beri kuasa dan pertolongan terhadap hak dan keampunan-NYA.

Kebanyakan dari mereka adalah dari golongan mursyid (guru thoriqoh) & para ulama yang suka mengajarkan tentang ilmu tasawuf yang mana akhlaq didahulukan dari pada ilmu pengetahuan, sikap zuhud (tidak mencintai dunia), sikap waro' (yaitu berhati-hati didalam bertingkah laku, sesuai dengan apa yang Alloh sukai & menghindarkan diri dari apa yang Alloh tidak sukai, termasuk subhat mereka tinggalkan).

 Subhat adalah hal yang belum diketahui baik & buruknya, halal & haramnya, manfaat & mudhorotnya.

Ketahuiah bahwa pokok-pokok ajaran zuhud (mengutamakan kehidupan akherat) atau tasawuf (cara menyucikan hati & jiwa, menjernihan akhlaq, membangun dhohir dan batin serta untuk memperoleh kebahagian yang abadi) adalah menjauhi berbagai hal-hal yang dilarang (haramkan) Alloh Subhanahu Wa Ta'ala baik yang kecil maupun besar. Kemudian menjalankan berbagai kewajiban (faroidh) baik yang mudah maupun yang susah. Serta menyerahkan urusan dunia kepada para ahlinya baik itu urusan kecil maupun urusan besar.

Read More

KEUTAMAAN DARI MEMBERSIHKAN HATI, AMAL SHOLEH, & MEMPERBAIKI HUBUNGAN DENGAN ALLOH

Apabila kita mampu membersihkan hati & jiwa kita, maka Alloh akan memperbaiki kehidupan lahiriyah kita, memperbaiki supaya kita lebih mudah untuk beramal sholeh (berbuat kebajikan).
Maka surga pun bisa kita beli dengan amal sholeh kita, walau pun itu tidak mudah, namun kenikmatan surga itu tidak ada yang menyerupai didunia ini melainkan hanya setetes.

Apabila kita selalu beramal sholeh (berbuat kebajiakan, shodaqoh,dll), baik itu dengan harta, tenaga, dan atau senyuman & doa, untuk bekal di alam akherat maka Alloh akan memenuhi semua kebutuhan hidup kita di dunia. Jadi sesusah apapun hidup kita didunia Alloh pasti akan menolong kita dengan cara menggerakkan tangan orang lain untuk membantu diri kita. 1 kebaikan yang kita berikan kepada manusia maka Alloh akan membalas kita dengan 10 kali kebaikan, sehinga berlipat-lipat ganjaran kebaikan yang kita terima.

Apabila kita tulus ikhlas (redho) beribadah untuk memperbaiki hubungan kita dengan Alloh, maka SANG MAHA RAJA akan memperbaiki hubungan kita dengan makhluk-NYA. Didalam kehidupan didunia ini suatu kewajaran apabila ada yang suka & ada yang tidak suka. Namun apabila dibuat persentase maka dari 100 orang yang ada disekiling kita, hanya 10-15 orang saja yang tidak suka kepada kita dan selebihnya mereka mengukuhkan & membela kita disaat mereka yang tidak suka sama kita mengusik kita.
Read More

GHOSHOB (meminjam barang tanpa izin)

Ghosob adalah meminjam/memakai suatu barang tanpa izin dari pemiliknya, dan selama kita memakainya maka Alloh akan menyuruh malaikat mencatat kita sebagai seorang pencuri.

Walau pun ini adalah dosa kecil (setengah mencuri) namun bisa menghalangi terkabulnya doa kita, terkecuali si pemilik itu redho/rela/ikhlas barangnya dipinjam, maka gugurlah dosanya.

Sedang apabila kita mengambil sesuatu untuk kita miliki seutuhnya atau untuk kita jual (bukan meminjam tanpa izin/ghosob), maka hisab dosanya adalah selama kita masih bernafas atau sampai barang dikembalikan & kita meminta maaf kepada yang mempunyai barang tersebut sampai yang mempunyai barang itu menjadi ikhlas & redho (rela).
Read More

KESABARAN YANG HAKIKI

Banyak orang mengatakan bahwa mereka sudah sabar, tetapi hasilnya tetap sama saja, tidak ada perubahan setelah itu.
Namun Kesabaran sejati itu adalah disaat kita mampu menahan gejolak amarah yang berada didalam hati, dan masuk kedalam zona ketenangan jiwa, sehingga didalam bersikap & bertindak kita mampu menggunakan akal-fikiran yang jernih tanpa melibatkan emosi didalamnya.

Dalam hal ini seperti Sabda Baginda Rosululloh Shollallohu 'Alaihi Wassallam, periwayatan dari Sayyidina Anas bin Malik Rodhiyallohu 'anhu:

"Sesungguhnya kesabaran itu ada pada pukulan pertama.”
(HR. Muslim)

Maksud beliau adalah
"Kesabaran yang sempurna dan mendatangkan pahala dari Alloh Subhanahu Wa Ta'ala adalah kesabaran yang langsung tampak ketika musibah itu datang"

"Adapun jika kesabaran itu muncul setelah emosi yang tidak terkontrol, maka kesabaran itu tidak banyak berarti bagi orang tersebut."

Janganlah kita mengambil sebuah keputusan dalam keadaan emosi & orang yang beriman adalah orang yang mampu menggunakan akal sehat mereka (yaitu yang berdasarkan kepada hati & jiwa yang tenang).

Orang yang kuat bukanlah orang yang mampu mengalahkan 100 orang sekaligus, namun orang yang kuat adalah orang yang mampu menahan amarahnya disaat amarahnya muncul.

Untuk menjadi orang yang kuat bukanlah perkara yang mudah dan membutuhkan yang tidak sebentar dan proses melalui tirakat, riyadhoh, dzikir yang di facuskan di dalam hati  dan hati menjadi bersih & dzikir itu dialirkan keseluruh badan kita sehingga ketenangan jiwa bisa kita rasakan.

Selain itu pula kesabaran itu akan membuahkan hasil pemikiran yang bijaksana.

Wallohu a'lam bi_showab, Robbana taqob_bal min_na, syailillaahi lahum bisir_ril fatihah...
Read More

MENGENAL 'AWLIYA 'ILLAH DAN KAROMAH MEREKA

Mengenal Waliyulloh dan Karomahnya



Di dalam setiap era kemodernan, kehidupan manusia sentiasa berkembang menuju ke arah kesempurnaan. Sehingga terwujudlah sebuah tatanan, baik itu adat - istiadat, pengetahuan, budaya, moral, kepercayaan, kemasyarakatan, pendidikan, undang - undang hingga kepada sistem kepemerintahan.

Di dalam perkembangannya, aturan moral juga akan mengalami masa pasang surut, namun disetiap kali mengalami masa surutnya pasti akan muncul insan - insan yang bergelar Wali - Wali Alloh, yang akan sentiasa berjuang untuk dapat mengembalikan tatanan nilai moral/akhlaq/sopan santun tersebut ke tahap yang tertinggi, sehingga nilai - nilai tersebut dapat diserapi kembali ke dalam jiwa manusia.

Perkembangan adat dan nilai akhlaq ini juga terjadi dikalangan dunia Islam, dan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala juga telah menjelaskan jika Nabi Muhammad Shollallohu 'Alaihi Wassallam adalah seseorang yang mempunyai moral yang paling sempurna. Nabi Muhammad Sholallohu 'Alaihi Wassallam pun mengenalkan dirinya sebagai utusan yang akan menyempurnakan keperibadian moral dan akhlak. Alloh Subhahu Wa Ta'ala pun telah menyerukan umat Islam untuk menjadikan Rosul-NYA sebagai insan yang patut dicontoh (Uswatun hasalah, suri tauladan)

Nabi Muhammad Sholallohu 'Alaihi Wassallam telah berhasil membina sahabat - sahabatnya menjadi manusia - manusia sufi yang boleh dibanggakan di hadapan seluruh umat manusia. Padahal pada waktu sebelumnya mereka adalah manusia - manusia Jahiliyah, yang berada di tepi jurang neraka. Tentunya keberhasilan beliau itu tidak lain karena bantuan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dibarengi dengan bimbingan dari Baginda Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassallam. Di dalam kehidupan sehariannya Nabi Sholallohu 'Alaihi Wassallam menyeru dan mempamerkan cara hidup yang sederhana, selalu prihatin,berharap penuh keridhoan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dan kesenangan di akhirat, dan selalu menjalani kehidupan sufistik dalam segala tingkah laku dan tindakannya. Kehidupan sufistik ini dilanjutkan oleh generasi tabi’in, tabi’it-tabi’in dan seterusnya hingga kini. Perjuangan Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wassallam tidak berhenti sampai masa hidupnya saja, namun segala ilmu-ilmu dan nilai-nilai akhlaq Islamiyah telah diwarisi oleh wali-wali yang sentiasa mendokong dan meneruskan perjuangan Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wassallam seperti mana yang disifatkan oleh Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dalam salah satu hadis qudsi yang berbunyi :

“Wali-wali-KU berada di bawah kubah-kubah-KU. Tidak ada yang mengetahuinya selain AKU”.

Maka wujudnya para wali-wali Alloh tidak dapat dinafikan dan mereka merupakan para kekasih Alloh yang terdapat diseluruh pelosok bumi di mana saja terdapat orang yang beriman. Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah mengingatkan hakikat wujudnya para wali serta karomah (keistimewaan) mereka sebagaimana tercatat dalam kitabnya. Fatwa Ibnu Taimiyah:

“Wali Alloh adalah orang-orang mu'min yang bertaqwa kepada Alloh. Ingatlah sesungguhnya wali-wali Alloh itu tidak ada ketakutan pada diri mereka dan mereka tidak merasa khawatir. Mereka beriman dan bertaqwa kepada Alloh, bertaqwa dalam pengertian mentaati firman-firman-NYA, penciptaan-NYA, redho (kerelaan)-NYA, dan kehendak-NYA yang termasuk dalam ruang lingkungan agama. Semua itu kadang-kadang menghasilkan berbagai karomah (keistimewaan) pada diri mereka sebagai hujjah (pendapat) dalam agama dan bagi kaum muslimin, tetapi karomah tersebut tidak akan pernah ada kecuali dengan menjalankan syariat yang dibawa Rosululloh Sholalloh 'Alaihi Wasalam"

Kedudukan wali hanya dapat diberikan kepada orang-orang yang telah nyata ketaqwaannya. Sementara orang yang nyata telah melanggar syari’at tidak dapat diberikan kedudukan yang mulia ini. Sayangnya, di kalangan manusia, ada orang yang mengaku bahwa dirinya adalah wali dan memperoleh karomah dari Alloh, padahal dalam kehidupannya sehari-hari mereka tidak melaksanakan syariat yang baginda Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wassallam bawa dengan baik sehingga mustahil bagi Alloh Subhanahu Wa Ta'ala untuk memberikan darajat (maqom) ‘wali’ kepada orang seperti ini.

Yang perlu diwaspadai juga, syaitan pun dapat membantu manusia untuk mewujudkan keajaiban-keajaiban di mata manusia. Itulah yang dinamakan sihir. Syaitan pun berupaya membantu seseorang menghilang dirinya dari pandangan orang lain, dan juga memberi maklumat kejadian yang akan datang. Dan inilah yang sering dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak beriman untuk menipu manusia. Maka, perlu pentingnya bagi umat Islam mengetahui juga akan perkara-perkara luar biasa yang wujud di alam ini supaya dapat membedakan antara yang hak dan yang batil. Para wali-wali Alloh juga diberi kurniaan yang luar biasa dikenali sebagai Karomah.

Karomah adalah sesuatu pemberian Alloh Subhanahu Wa Ta'ala berupa keistimewaan kepada seorang wali Alloh diluar kebiasaan manusia pada umumnya (ajaib), yang bertujuan untuk membuktikan kebesaran Alloh Subhanahu Wa Ta'ala semata dihadapan orang lain untuk menambah keimanan dari orang lain tersebut. Sedang sifat karomah seakan-akan seperti mukjizat para nabi dan rosul, namun perbedaannya adalah mukjizat itu pemberian Alloh kepada wali Alloh, yang posisinya dibawah mukjizat para Nabi & Rosul.

Bagi kaum wali Alloh, sebuah karomah itu hal yang biasa, karena mereka mengenal Alloh dengan baik, atau mereka sudah berma'rifat kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.
Apakah hal seperti itu bisa dipelajari?
Maka seorang wali Alloh pun tidak pernah belajar demikian, mereka hanya belajar terus dan terus memperbaiki diri, memperbaiki hubungan dengan Alloh SubhanahubWa Ta'ala. Dan dikala sang wali Alloh itu terdesak, maka karomah itu pun muncul begitu saja atas perkataan hati dari sang Wali Alloh. Itulah hasil dari 'awliya'illaah (para wali Alloh) dalam selalu membersihkan hati & mensucikan jiwa mereka dengan selalu berdzikir, bersholawat didalam hati mereka serta didalam hembusan nafas mereka selalu memuji Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dan mereka menghindarkan diri mereka dari hal-hal yang Alloh tidak sukai, atau pun yang subhat (tidak tahu halal atau haramnya).
Mudah-mudahan dengan pembahasan yang sedikit ini tentang pengetahuan tentang wali-wali Alloh dan karomah mereka ini, pintu keberkahan para wali-wali Alloh akan terbuka bagi kita, sehingga dapat kita meningkatkan ketaqwaan dan keimanan kita kepada Yang Maha Pencipta.
Wallohu a'lam bishowab...alfatihah
Read More

Selasa, 11 Februari 2020

PENGERTIAN WALI ALLOH

DARI SEGI BAHASA

Wali dari segi bahasa berarti:

1. Dekat. Jika seseorang sentiasa mendekatkan dirinya kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dengan memperbanyak amal kebajikan, ketulus - ikhlasan serta kerelaan didalam beribadah, maka Alloh Subhanahu Wa Ta'ala akan menjadi dekat kepadanya. Dengan limpahan rahmat dan kasih sayang, serta pemberian dari - NYA, maka di saat itu orang tersebut dapat menjadi seorang Wali.

2. Orang yang senantiasa dipelihara dan dijauhkan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dari perbuatan maksiat, dan ia hanya diberikan kesempatan untuk taat saja. Maka di saat itu orang tersebut dapat menjadi seorang Wali.

Adapun asal perkataan Wali adalah:

Yang berarti Pelindung, dan juga Penolong, dan juga Wakil. Maka yang dikatakan sebagai Wali Alloh adalah orang yang berusaha untuk mendekatkan dirinya kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, dengan cara melaksanakan apa yang diwajibkan kepadanya. Hatinya pun sentiasa sibuk kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala "selalu berdzikir memuji nama Alloh Subhanahu Wa Ta'ala" dan asyik untuk mengenal kebesaran Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Sehingga ia mendapatkan perlindungan, dan "atau" pertolongan dari Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, dan "atau" ia pun dijadikan sebagai Wakil, yang artinya Alloh Subhanahu Wa Ta'ala telah mewakilkan ia untuk mengajarkan dan "atau" mengajak seseorang kembali kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, dengan cara memperlihatkan kebesaran - kebesaran Alloh Subhanahu Wa Ta'ala tersebut. Kalaulah ia melihat maka yang dilihatnya itu semua hanyalah kekuasaan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, kalaulah ia mendengar maka yang didengarkannya adalah ayat - ayat "atau" tanda - tanda (bukti - bukti) adanya Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, kalaulah ia berbicara maka ia hanyalah memanjatkan puji - pujian kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, kalaulah ia bergerak maka pergerakannya hanyalah untuk mentaati perintah Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, dan kalaulah ia Berijtihad "maka ia akan berusaha dengan sungguh - sungguh dalam mencari ilmu, yang dapat dipergunakan sebagai bekal pegangan hidup".
Maka nilai Ijtihadnya hanyalah perkara yang dapat mendekatkan dirinya kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Dan Seterusnya, ia tidaklah akan pernah bosan untuk selalu mengingat Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, dan hatinya pun tidak akan pernah berpaling selain kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, Maka inilah sifat 'Awliya' Alloh. Kalaupun ada seorang hamba yang demikian keadaannya, sesungguhnya Alloh Subhanahu Wa Ta'ala telah menjadi pemeliharanya, pelindungnya, penolongnya, dan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala pun membantunya.


Siapakah yang digelari Wali Alloh

1. Ibnu Abbas seperti yang dicatat dalam tafsir Al - Khozin, menyatakan:
Wali - Wali Alloh atau Awliya'illah (bentuk jamak dari wali Alloh) adalah orang yang selalu mengingat Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, jika ia melihat maka "ia selalu berpandangan kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, bahwa apa yang ia temui adalah Alloh Subhanahu Wa Ta'ala yang menggerakkan".

2. Al Imam Tabari meriyawatkan dari pada Said bin Zubair. Beliau bercerita, jika Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wasaallam pernah ditanyai mengenai perihal tentang Wali - Wali Alloh, Beliau pun bersabda:
"Mereka adalah orang - orang yang apabila melihat, maka yang dilihat adalah Alloh (yaitu semua itu Alloh yang menggerakkannya)".

3. Abu Bakar Al Asam mengatakan:
"Jika Wali - Wali Alloh itu adalah orang yang diberikan hidayah (petunjuk) oleh Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, dan mereka pun menjalankan kewajiban penghambaan terhadap Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, serta menjalankan dan mengajak manusia kembali kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala".


PENGGUNAAN ISTILAH WALI DALAM AL-QURAN.

Suroh Al Baqoroh: 257

“اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ ۗ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Artinya:

"Alloh Pelindung (Wali) bagi orang - orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang - orang yang kafir pelindung - pelindungnya ialah syaithan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; dan mereka kekal di dalamnya."

Suroh Al-‘Arof: 196

“إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ ۖ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ 

Artinya:

"Sesungguhnya pelindungku adalah Alloh Yang telah menurunkan Al - Kitab (Al - Quran), dan DIA (Alloh) melindungi orang - orang yang sholeh (yang selalu berbuat kebajikan)."

Suroh Al-Baqaroh: 286

“لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Artinya:

"Alloh tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "wahai Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang - orang sebelum kami. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rohmatilah (kasih sayangilah) kami. Engkaulah Penolong (Wali) kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir".

Suroh Muhammad: 11

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ مَوْلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَأَنَّ الْكَافِرِينَ لَا مَوْلَى لَهُمْ

Artinya:

"Yang demikian itu karena sesungguhnya Alloh adalah pelindung (Wali) orang - orang yang beriman dan sesungguhnya orang - orang kafir (ingkar) itu tidak mempunyai pelindung (Wali)."

Suroh Al-Maidah: 55

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ

Artinya:

"Sesungguhnya penolong (Wali) kamu hanyalah Alloh, Rosul - NYA, dan orang - orang yang beriman, yang mendirikan  sholat dan menunaikan zakat, dan kepada Alloh mereka tunduk patuh."

Dari semua ayat - ayat tersebut diatas dapat kita lihat bahwa Alloh Subhanahu Wa Ta'ala disebut Wali,

Orang - orang mu'min disebut Wali,

Seorang yang dewasa yang diberi tugas melindungi dan memelihara anak kecil juga disebut Wali,

Demikian juga orang yang lemah yang tidak dapat mengurus harta - bendanya sendiri, lalu dipelihara oleh keluarga yang lain, maka keluarga tersebut itu juga dipanggil Wali,

Penguasa pemerintah yang diberi tanggung jawab kepemerintahan juga disebut Wali,

Ayah atau mahram yang berkuasa yang menikahkan anak perempuannya juga disebut Wali,

Lantaran semua itu dapatlah kita semua mengambil sebuah kesimpulan, makna universal (luas) dari kalimat Wali ini, terutama sekali artinya. Ialah hubungan yang amat dekat (karib), baik karena pertalian darah keturunan, atau karena persamaan pendirian, atau karena kedudukan, atau karena kekuasaan, atau karena persahabatan yang karib.
Alloh Subhanahu Wa Ta'ala adalah Wali dari seluruh hamba - NYA dan makhluk - NYA, kerena DIA berkuasa dan lagi Maha Tinggi, dan kuasa - NYA itu adalah langsung. Sementara si makhluk tadi wajib berusaha agar dia dapat menjadi Wali pula "dari Alloh". Kalau Alloh Subhanahu Wa Ta'ala sudah nyata tegas dekat atau karib kepadanya, maka dia pun hendaklah untuk dapat bertaqorrub (mendekatkan pula dirinya kepada) Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Maka dengan begitu akan timbullah hubungan perwalian yang bersifat timbal - balik. Dan segala usaha yang dapat memperkuatkan iman, memperteguh ketakwaan, menegakkan ibadah kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, menuruti aturan - aturan yang telah ditentukan oleh Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dan Rosul - NYA, semuanya itu adalah ikhtiar (usaha) mengangkat diri menjadi Wali Alloh. Segala amal sholeh sebagai tanda dari keimanan yang mantap didalam hati, dalam rangka usaha mengangkat diri menjadi Wali Alloh.


Dari Segi Penggunaan

Wali pada mafhumnya berarti :

1.
Seseorang yang senantiasa taat kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala tanpa menodainya dengan perbuatan dosa kecil sedikitpun.

2. Seseorang yang sentiasa mendapat perlindungan dan penjagaan, sehingga ia senantiasa taat kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala tanpa melakukan dosa sedikit pun, meskipun ia dapat melakukannya (dapat menahan diri).



DALIL - DALIL WUJUDNYA WALI ALLOH SUBHANAHU WA TA'ALA DARI AL - QURAN DAN AS-SUNNAH

Suroh Yunus: 62- 64

أَلا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ (62) الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ (63) لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (64

Artinya:

62. "Ingatlah, sesungguhnya wali - wali Alloh itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tidak bersedih hati."

63. "(Mereka adalah) orang - orang yang beriman dan mereka melakukan ketaqwaan."

64. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan dunia dan di dalam (kehidupan) akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji - janji) Alloh. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.

Alloh Subhanahu Wa Ta'ala juga  memberitahukan jika kekasih - kekasih - NYA (awliya'illoh) adalah mereka yang beriman dan bertakwa, dan setiap orang yang bertaqwa kepada -  NYA adalah Wali atau "kekasih Alloh". Dan mereka tidak ada kekhawatiran dalam menghadapi masa mendatangnya, yaitu kengerian - kengerian dan hal - hal yang sangat menakutkan pada alam akherat nanti. Mereka tidak bersedih hati terhadap apa yang ada di belakang mereka "di dunia".

Ibnu Jarir mengatakan telah menceritakan kepada kami Abu Hisyam Ar - Rifa'i, telah menceritakan kepada kami Abu Fudail, telah menceritakan kepada kami ayahku. Dari Imaroh ibnul Qo'qa', dari Abu Zur'ah, dari Amr ibnu Jarir Al - Bajali, dari Abu Huroiroh Rodhiallohu'anhu, Mengatakan bahwa Nabi Sholallohu 'Alaihi Wassallam pernah bersabda:
"Sesungguhnya di antara hamba - hamba Alloh terdapat banyak hamba yang para nabi dan para syuhada merasa iri melihat mereka".

Dan ketika ditanyakan
"Siapakah mereka itu, wahai Rosululloh? Mudah - mudahan kami dapat mencintai mereka".

Nabi Sholallohu 'Alaihi Wasalam pun bersabda:
"Mereka adalah suatu kaum yang saling mengasihi karena Alloh, tanpa ada harta benda dan tanpa nasab (keturunan di antara sesama mereka), wajah mereka bercahaya berada di atas mimbar - mimbar dari nur (cahaya). Mereka tidak merasa khawatir di saat manusia dicekam oleh kekhawatiran, mereka pun tidak bersedih hati di saat manusia bersedih hati".

Kemudian Nabi Sholallohu 'Alaihi Wasalam membacakan firman - NYA:
"Ingatlah sesungguhnya Wali - Wali Alloh itu tidak ada kekhawatiran terhadap diri mereka, dan mereka tidak bersedih hati."
(Q.S.Yunus ayat 62),



Pengertian Al - Busyro (Berita Gembira)

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Rozzaq, telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Al - A'masy, dari Zakwan ibnu Abu Sholeh, dari seorang lelaki, dari Abu Darda' Rodhiallohu'anhu., Dari Nabi Sholallohu 'Alaihi Wassallam sehubungan dengan makna firman - NYA:
"Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat". (Q.S.Yunus ayat 64).

Nabi Sholallohu 'Alaihi Wassallam pun bersabda menerangkan hal tersebut:
"Mimpi yang baik yang dilihat oleh seorang muslim atau mimpi yang baik yang diperlihatkan kepadanya, sebagai berita gembira buatnya dalam kehidupan di dunia, sedangkan berita gembira untuknya dalam kehidupan di akhirat adalah surga".

Kemudian Ibnu Jarir meriwayatkannya dari hadist Musa ibnu Ubaidah, dari Ayyub ibnu Kholid ibnu Shufyan, dari Ubaidah ibnu Sumait, ia pernah bertanya kepada Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wassallam mengenai firman - Nya:
"Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat".
(Q.S.Yunus ayat 64).

Ia mengatakan,
"Kami telah mengetahui bahwa berita gembira di akhirat adalah surga, maka apakah yang dimaksud dengan berita gembira di dunia?"

Rosulullah Sholallohu 'Alaihi Wasalam pun bersabda:
"Mimpi yang baik yang dilihat oleh seorang mu'min atau yang diperlihatkan kepadanya. Mimpi yang baik itu merupakan suatu bagian dari empat puluh empat atau tujuh puluh bagian dari kenabian".

Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan berita yang gembira di dunia adalah turunnya malaikat kepada seorang mukmin yang sedang sakaratul maut yang memperlihatkan tempat yang akan disediakan baginya di dalam surga. Seperti yang disebutkan dalam firman Alloh Subhanahu Wa Ta'ala:

Suroh Fushshilat ayat 30

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنزلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

Artinya:

"Sesungguhnya orang - orang yang mengatakan, "Tuhan kami adalah Alloh," kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Alloh kepadamu.” 

Dari Al - Hafiz Abu Ya'la Al - Mausuli mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al - Jarroh, telah menceritakan kepada kami Salam ibnu Qutaibah atau Qutaibah Asy - Sya'iri, telah menceritakan kepada kami Suhail ibnu Abu Hazim, telah menceritakan kepada kami Sabit dari Anas ibnu Malik Rodhiallohu'anhu. yang menceritakan bahwa Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wassallam membacakan ayat berikut kepada kami, yaitu firman - NYA:
"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, "Tuhan kami ialah Alloh" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka."
(Q.S. Fushshilat ayat 30),

Kemudian Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wassallam kembali bersabda:
"Sesungguhnya ada segolongan manusia yang telah mengucapkannya, tetapi setelah itu kebanyakan dari mereka kafir (ingkar). Maka barangsiapa yang mengucapkannya dan berpegang teguh kepadanya hingga mati, berarti dia telah meneguhkan pendiriannya pada kalimah tersebut (Tuhan kami adalah Alloh)."

Sayyidina Abu Bakar Ash Shidiq Rodhiallohu'anhu mengatakan:
"mereka adalah orang - orang yang tidak mempersekutukan Alloh dengan sesuatu pun."

Az - Zuhri mengatakan bahwa Sayyidina Umar Rodhiallohu'anhu., membaca ayat ini di atas mimbarnya, kemudian mengatakan:
"Demi Alloh, mereka meneguhkan pendiriannya karena Alloh dengan taat kepada - NYA dan mereka tidak mencla - mencle (tidak konsisten) seperti musang."

Dari Qothodah mengatakan bahwa Sayyidina Al - Hasan bin Fatimah Zahro binti Muhammad Rosulillah sholallohu 'alaihi wasaallam selalu mengatakan dalam doanya:
"wahai Alloh, Engkau adalah Tuhan kami, maka berilah kami istiqomah (keteguhan dalam pendirian)."

Abu Aliyah mengatakan:
"mengikhlaskan (kerelaan) ketaatan dan beramal karena Alloh Subhanahu Wa Ta'ala."

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Harun, telah menceritakan kepada kami Ibrohim ibnu Sa'd, telah menceritakan kepadaku Ibnu Syihab, dari Abdur Rohman ibnu Ma'iz Al - Ghomidi, dari Sufyan ibnu Abdullah As - Saqofi yang menceritakan. Bahwa ia pernah bertanya:
"Wahai Rosululloh, sebutkanlah suatu perkara kepadaku yang kelak akan kujadikan sebagai pegangan?",

Maka Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wassallam pun menjawab: "Katakanlah Tuhanku ialah Alloh, kemudian teguhkanlah pendirianmu!",

kemudian aku kembali bertanya: "Wahai Rosululloh, lalu apakah yang engkau sangat khawatirkan terhadap diriku?",

Maka Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wassallam pun memegang ujung lisannya dan bersabda:
"Ini" (yakni menjaga lisanmu)."

Para malaikat menyampaikan berita gembira kepada mereka akan lenyapnya semua keburukan dan akan memperoleh semua kebaikan. Hal ini sebagaimana yang disebutkan di dalam hadist Sayyidina Al - Barra' Rodhiallohu'anhu., yang mengatakan bahwa: Sesungguhnya para malaikat berkata kepada roh orang mukmin:"Keluarlah engkau, wahai jiwa yang baik, dari tubuh yang baik yang sebelumnya engkau huni, keluarlah engkau menuju kepada ampunan dan nikmat serta Tuhan yang tidak murka."

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zur'ah, telah menceritakan kepada kami Abdus Salam ibnu Mazhar, telah menceritakan kepada kami Ja'far ibnu Sulaiman, yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Sabit membaca suroh Ha Mim (suroh Fushshilat). Dan ketika bacaannya sampai pada firman - NYA:
"Sesungguhnya orang - orang yang mengatakan, "Tuhan kami ialah Alloh," kemudian mereka meneguhkan pendiriannya, maka malaikat akan turun kepada mereka."
(Q.S.Fushshilat ayat 30),

Maka dia berhenti dari bacaannya, kemudian berkata bahwa telah sampai suatu berita kepada kami yang menyebutkan, bahwa seorang mukmin ketika dibangkitkan oleh Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dari kuburnya, ada dua malaikat menyambutnya. Kedua malaikat itu yang dahulunya selalu bersamanya ketika di dunia. Lalu keduanya mengatakan kepadanya:
"Janganlah kamu takut dan jangan pula kamu bersedih Dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah di  janjikan Alloh kepadamu." 
(Q.S.Fushshilat ayat 30).

maka Alloh Subhanahu Wa Ta'ala menenteramkan rasa takutnya dan menyenangkan hatinya, dan tiada suatu peristiwa besar yang terjadi di hari kiamat yang ditakuti oleh manusia melainkan hal itu bagi orang mukmin merupakan penyejuk hatinya berkat petunjuk Alloh Subhanahu Wa Ta'ala kepadanya, dan berkat amal perbuatannya selama di dunia.

Zaid ibnu Aslam juga mengatakan:
"para malaikat itu menyampaikan berita gembira kepada orang mukmin saat menjelang kematiannya dan saat ia dibangkitkan dari kuburnya."

Ada ulama yang berpendapat bahwa yang dimaksudkan dengan berita yang gembira di dunia adalah pujian dan kecintaan dari orang banyak kepada seorang yang suka beramal sholeh (berbuat kebajikan), seperti yang disebutkan dalam hadits berikut:
Dari Abu Dzar menuturkan bahwa ada seorang yang bertanya kepada Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wassallam:
"Apakah pandanganmu jika ada seseorang yang suka beramal sholeh, sehingga ia dipuji oleh orang ramai?"

Beliau Sholallohu 'Alaihi Wassallam bersabda:
"Itu adalah berita gembira kepada seorang mu'min."

Ada juga ulama yang berpendapat bahwa yang dimaksudkan dengan berita yang gembira di dunia adalah:
"karomah dan dikabulkannya segala permintaan seorang mu'min ketika ia masih di dunia, sehingga segala keperluannya dipenuhi oleh Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dengan segera."

Seorang ulama berkata:
"Jika seorang mu'min rajin beribadah, maka hatinya bercahaya, dan pancaran cahayanya melimpah ke wajahnya, sehingga terlihat pada wajahnya tanda khusyu’ dan tunduk kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, sehingga ia dicintai dan dipuji oleh banyak orang, itulah tanda kecintaan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala kepadanya, dan itulah berita gembira yang didahulukan baginya ketika ia di dunia."

Semua keterangan di atas adalah benar. Sedangkan berita gembira yang sebenarnya adalah:
"kesempatan yang diberikan oleh Alloh Subhanahu Wa Ta'ala kepada seorang mu'min untuk rajin beribadah dan keasyikannya untuk beramal sholeh. Manakala, yang dimaksudkan dengan berita gembira di akhirat"
 ialah:

1. Surga beserta segala macam kesenangannya yang bersifat abadi, seperti yang disebutkan dalam firman Alloh Subhanahu Wa Ta'ala:

Suroh Al Hadiid: 12

يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَى نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ بُشْرَاكُمُ الْيَوْمَ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ 

Artinya:

"pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki - laki dan perempuan, sedangkan cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada mereka), "Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang banyak."

Ayat ini tentang orang - orang mu'min yang ahli dalam bersedekah, bahwa di hari kiamat kelak nur (cahaya) mereka menyinari bagian depan mereka di tempat pemberhentian hari kiamat sesuai dengan amal perbuatan masing-masing. Sebagaimana yang dikatakan oleh Sayyidina Abdullah ibnu Mas'ud Rodhiallohu'anhu:
"Bahwa hal itu sesuai dengan amal perbuatan mereka masing -masing. Mereka berjalan di atas shirolt, di antara mereka ada yang nur - nya seperti gunung, ada yang nur - nya seperti pohon kurma, dan ada yang nur - nya seperti seorang lelaki yang berdiri, dan orang yang paling rendah nur - nya dari mereka adalah yang sebesar ibu jarinya, yang kadangkala menyala dan kadangkala padam."
(riwayat Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Jarir.)

Qothodah mengatakan, telah menceritakan kepada kami bahwa Nabi Sholallohu 'Alaihi Wassallam. pernah bersabda:
"Di antara orang-orang mu'min ada yang cahayanya menerangi antara Madinah dan 'Adn serta San'ah dengan sinar yang sangat terang, dan yang kurang dari itu hingga sesungguhnya di antara orang-orang mu'min ada yang cahayanya hanya dapat menerangi tempat kedua telapak kakinya saja."

2. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksudkan dengan berita gembira di akhirat adalah sambutan baik dari para malaikat kepada kaum Muslimin di akhirat, yaitu ketika mereka diberi berita gembira dengan keberhasilan, diputihkannya wajah  wajah - wajah mereka dan diberikannya buku catatan amal - amal mereka dari sebelah kanan dan disampaikannya salam dari Alloh Subhanahu Wa Ta'ala kepada mereka dan beberapa berita gembira yang lain.

Dalam setiap era milenial saat ini, kehidupan manusia sentiasa berkembang ke arah kesempurnaan, sehingga terwujudlah adat - istiadat pengetahuan, budaya, moral, kepercayaan, aturan kemasyarakatan, pendidikan, undang - undang dan pemerintahan. Dalam perkembangannya, aturan moral ini tetap mengalami pasang surutnya. Namun, setiap kali mengalami masa surutnya, pasti akan muncul insan -insan yang digelari wali - wali Alloh yang sentiasa berjuang untuk mengembalikan nilai moral ke tahap yang tertinggi, sehingga nilai - nilai ini diserapi kembali ke dalam jiwa manusia.
Perkembangan adat dan nilai akhlak ini terjadi pula dikalangan dunia Islam sejak Alloh Subhanahu Wa Ta'ala telah menjelaskan bahwa Nabi Sholallohu 'Alaihi Wassallam mempunyai moral yang paling sempurna.
Nabi Sholallohu 'Alaihi Wassallam pun mengenalkan dirinya sebagai utusan yang akan menyempurnakan keperibadian moral dan akhlaq.
Justru itu, Alloh Subhanahu Wa Ta'ala telah menyeru umat Islam untuk menjadikan Rosul-NYA sebagai insan yang sentiasa dicontohi (suri tauladan) Nabi Muhammad Sholallohu 'Alaihi Wassallam telah berhasil membina sahabat-sahabatnya menjadi manusia-manusia sufi yang boleh dibanggakan di hadapan seluruh umat manusia. Padahal pada waktu sebelumnya mereka adalah manusia-manusia jahiliyah yang berada di tepi jurang neraka. Tentunya keberhasilan beliau itu tidak lain karena bantuan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dan bimbingan Baginda Sholallohu 'Alaihi Wassallam Dalam kehidupan sehariannya Nabi Sholallohu 'Alaihi Wassallam menyeru dan mempamerkan cara hidup yang sederhana, selalu prihatin, berharap penuh keridhoan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dan kesenangan di akhirat, dan selalu menjalani kehidupan sufistik dalam segala tingkah laku dan tindakannya.
Kehidupan sufistik ini dilanjutkan oleh generasi tabi’in, tabi’it-tabi’in dan seterusnya hingga kini.

Perjuangan Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wassallam tidak berhenti setingkat masa hidupnya saja, namun segala ilmu-ilmu dan nilai-nilai akhlak Islamiyah telah diwarisi oleh wali-wali Alloh yang sentiasa mendorong dan meneruskan perjuangan Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wassallam seperti mana yang disifatkan oleh Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dalam salah satu hadis qudsi yang berbunyi :
“Wali-waliKu berada di bawah kubah-kubahKu. Tidak ada yang mengetahuinya selain AKU”.

Maka wujudnya para wali-wali Alloh tidak dapat dinafikan dan mereka merupakan para kekasih Alloh Subhanahu Wa Ta'ala yang terdapat diseluruh pelusuk bumi di mana saja terdapat orang yang beriman.

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah mengingatkan hakikat wujudnya para wali serta karomah mereka sebagaimana tercatat dalam kitabnya Fatwa Ibnu Taimiyah :
“Wali Alloh adalah orang-orang mu'min yang bertaqwa kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Ingatlah sesungguhnya wali-wali Alloh itu tidak ada ketakutan pada diri mereka dan mereka tidak merasa khawatir. Mereka beriman dan bertaqwa kepada Alloh, bertaqwa dalam pengertian mentaati firman-firman-NYA, penciptaan-NYA, izin-NYA, dan kehendak-NYA yang termasuk dalam ruang lingkungan agama. Semua itu kadang-kadang menghasilkan berbagai karomah pada diri mereka sebagai hujjah dalam agama dan bagi kaum muslimin, tetapi karomah tersebut tidak akan pernah ada kecuali dengan menjalankan syariat yang dibawa Rasulullah Sholallohu 'Alaihi Wasalam."

Kedudukan wali hanya dapat diberikan kepada orang-orang yang telah nyata ketaqwaannya. Sementara orang yang nyata telah melanggar syari’at tidak dapat diberikan kedudukan yang mulia ini. Sayangnya, di kalangan manusia, ada orang yang mengaku bahwa dirinya adalah wali dan memperoleh karomah dari Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, padahal dalam kehidupannya sehari-hari mereka tidak melaksanakan syari'at Islam dengan baik sehingga mustahil bagi Alloh Subhanahu Wa Ta'ala untuk memberikan darajat ke‘wali’an kepada orang seperti ini.
Yang perlu diwaspadai juga, syaitan pun dapat membantu manusia untuk mewujudkan keajaiban-keajaiban di mata manusia. Itulah yang dinamakan sihir. Syaitan pun berupaya membantu seseorang menghilang dirinya dari pandangan orang lain, dan juga memberi maklumat kejadian yang akan datang. Dan inilah yang sering dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak beriman untuk menipu manusia. Maka, peri pentingnya bagi umat Islam mengetahui juga akan perkara-perkara luar biasa yang wujud di alam ini supaya dapat membedakan antara yang haq dan yang batil. Para wali-wali Alloh juga diberi kurniaan yang luar biasa dikenali sebagai Karomah.

Karomah adalah anugrah pemberian Alloh Subhanahu Wa Ta'ala yang sifatnya diluar nalar manusia, untuk membuktikan kebesaran Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dan hampir sama seperti mukjizat para Nabi dan Rosul, yaitu kebolehan melakukan hal-hal yang luar biasa yang diberikan kepada orang-orang yang dikasihi-NYA yang dikenal sebagai wali Alloh.
Mudah-mudahan dengan penjelasan pengetahuan tentang wali-wali Alloh dan karomah mereka ini, pintu keberkahan para wali-wali Alloh akan terbuka bagi kita, sehingga dapat kita meningkatkan ketaqwaan dan keimanan kita kepada Yang Maha Pencipta.
Wallohu a'lam bii showaf....alfatihah

Read More