Kamis, 30 April 2020

SEJARAH & KAROMAH AL HABIB ABDULLAH BIN ALAWI AL-HADDAD

Al-Imam Al-’Allamah Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad, di lahirkan di Syubair di salah satu ujung Kota Tarim di provinsi Hadhramaut-Yaman pada tanggal 5 Safar tahun 1044 H. Beliau di besarkan di Kota Tarim dan di saat beliau berumur 4 tahun, beliau terkena penyakit cacar sehingga menyebabkan kedua mata beliau tidak dapat melihat.

Meskipun kedua mata beliau tidak dapat melihat sejak usia dini, beliau tetap tidak memutuskan gairahnya untuk menuntut ilmu-ilmu agama dan mengisi masa kecilnya dengan berbagai macam ibadah dan bertaqarrub kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, sehingga mulai dari sejak usia dini, hidupnya sangat berkah dan berguna.

Ayah beliau, Al-Habib Alawi bin Muhammad Al-Haddad berkata: “Sebelum aku menikah, aku berkunjung kerumah Al-’Arif Billah Al-Habib Ahmad bin Muhammad Al-Habsyi di Kota Syi’ib untuk meminta do’a. Lalu Al-Habib Ahmad menjawabku: “Awlaaduka Awlaadunaa Fiihim Albarokah” 
Artinya: “Putera-puteramu termasuk juga putera-putera kami, pada mereka terdapat berkah.”
Selanjutnya, Al-Habib Alawi Al-Haddad berkata: “Aku tidak mengerti arti ucapan Al-Habib Ahmad itu, sampai setelah lahirnya puteraku, Abdullah dan berbagai tanda-tanda kewalian dan kejeniusannya.”
Semenjak kecil, Al-Habib Abdullah Al-Haddad telah termotivasi untuk menimba ilmu dan gemar beribadah. Tentang masa kecilnya, Al-Habib Abdullah berkata: “Jika aku kembali dari tempat belajarku pada waktu Dhuha, maka aku mendatangi sejumlah masjid untuk melakukan sholat sunnah seratus rokaat setiap harinya.”
Kemudian untuk mengetahui betapa besar kemauan beliau untuk beribadah di masa kecilnya, Al-Habib Abdullah menuturkannya sebagai berikut: “Di masa kecilku, aku sangat gemar dan bersungguh-sungguh dalam ibadah dan mujahadah, sampai nenekku seorang wanita sholihah yang bernama Asy-Syarifah Salma binti Al-Habib Umar bin Ahmad Al-Manfar Ba’alawi berkata: 'Wahai anak kasihanilah dirimu.’ Ia mengucapkan kalimat itu, karena merasa kasihan kepadaku ketika melihat kesungguhanku dalam ibadah dan bermujahadah.”
Seorang sahabat dekat Al-Habib Abdullah al-Haddad berkata: “Ketika aku berkunjung kerumah al-Habib Abdullah bin Ahmad Bilfagih, maka ia bercerita kepada kami: ‘Sesungguhnya kami dan Al-Habib Abdullah Al-Haddad tumbuh bersama, namun Alloh Subhanahu Wa Ta'ala memberinya kelebihan lebih dari kami. Yang sedemikian itu, kami lihat hidup Al-Habib Abdullah sejak masa kecilnya telah mempunyai kelebihan tersendiri, yaitu ketika ia membaca Surat Yasiin, maka ia sangat terpengaruh dan menangis sejadi-jadinya, sehingga ia tidak dapat menyelesaikan bacaan surat yang mulia itu, maka dari kejadian itu dapat kami maklumi bahwa Al-Habib Abdullah telah diberi kelebihan tersendiri sejak di masa kecilnya.”

Al-Habib Abdullah sering berziarah kubur pada Hari Jum’at sore setelah melakukan shalat Ashar di masjid Al-Hujairoh. Selain itu, Al-Habib Abdullah Al-Haddad sering berziarah kubur pada Hari Selasa sore. Setelah usianya semakin lanjut dan kekuatannya semaki menurun, maka Al-Habib Abdullah tidak berziarah pada Hari Jum’at dan Selasa seperti biasanya, adakalanya beliau berziarah pada Hari Sabtu dan hari-hari lainnya sebelum matahari naik.

Di antara wirid Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad setiap harinya adalah kalimat “LAA ILAAHA ILLALLOH” sebanyak seribu kali. Tetapi di Bulan Romadhan dibaca sebanyak dua ribu kali setiap harinya
Beliau menyempurnakannya sebanyak tujuh puluh ribu kali pada waktu enam hari di Bulan Syawal.

Selain itu, beliau mengucapkan “LAA ILAAHA ILLALLAH AL-MALIKUL HAQQUL MUBIIN” sebanyak seratus kali setelah Sholat Dzuhur.

Al-Habib Abdullah berkata: “Kami biasa melakukan sholat Al-Awwabin sebanyak dua puluh rokaat.”

Al-Habib Abdullah sering berpuasa sunnah, khususnya pada hari-hari yang dianjurkan, seperti Hari Senin dan Hari Kamis, hari-hari putih (Ayyamul baidh), Hari Asyura, Hari Arafah, enam hari di Bulan Syawal dan lain sebagainya sampai di masa senjanya.

Beliau selalu menyembunyikan berbagai macam ibadah dan mujahadahnya, beliau tidak ingin memperlihatkannya kepada orang lain, kecuali untuk memberikan contoh kepada orang lain.
Selain di kenal sebagai ahli ibadah dan mujahadah, Al-Habib Abdullah juga dikenal seorang yang istiqomah dalam ibadah dan mujahadahnya seperti yang dilakukan Rosululloh Sholalloh 'Alaihi Wassalam dan para sahabatnya.
Al-Habib Ahmad An-Naqli berkata: “Al-Habib Abdullah adalah seorang yang sangat istiqomah dalam mengikuti semua jejak kakeknya, Rosululloh Sholalloh 'Alaihi Wassalam.”
Dalam masalah ini, Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad berkata: “Kami telah mengamalkan semua jejak Nabi Muhammad Rosululloh Sholalloh 'Alaihi Wassalam dan kami tidak meninggalkan sedikitpun daripadanya, kecuali hanya memanjangkan rambut sampai di bawah ujung telinga, karena Nabi Sholalloh 'Alaihi Wassalam memanjangkan rambutnya sampai di bawah ujung kedua telinganya.”

Tentang kesabaran Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad,

Sejak masa kecil beliau sudah mengalami berbagai cobaan, diantaranya adalah ketika ia menderita penyakit cacar sampai kedua matanya tidak dapat melihat.
Meskipun begitu, ia rajin mencari ilmu dan beribadah di masa kecilnya, hingga melakukan sholat sunnah seratus rokaat setiap paginya hingga Waktu Dzuhur tiba.
Disebutkan bahwa ia selalu menyembunyikan berbagai cobaan yang dideritanya, sampai di akhir usianya.
Dalam masalah ini beliau berkata kepada seorang kawan dekatnya: "Sesungguhnya penyakit demam di tubuhku sudah ada sejak lima belas tahun yang lalu dan hingga kini masih belum meninggalkan aku, meskipun demikian tidak seorangpun yang mengetahui penyakitku ini, sampaipun keluargaku sendiri.” 

Tentang thoreqot Al-Ba’alawi

Al-Habib Abdullah mengatakan:
Thoriqot kami adalah mengikuti tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunnah dan mengikuti jejak para salafunas sholihin di segala bidangnya.”

Al-Habib Abdullah kembali menjelaskan:
Kami tidak mengikuti tuntunan, kecuali tuntunan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, tuntunan Rosululloh Sholalloh 'Alaihi Wassalam dan jejak Al-Faqih Al-Muqaddam.
Dan thoriqoh orang-orang yang menuju kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dan kami tidak membutuhkan thoriqoh selain thoriqoh ini. Para sesepuh kami Al-Ba’alawi telah menetapkan sejumlah petunjuk bagi kami, karena itu kami tidak akan mengikuti petunjuk lain yang bertentangan dengan petunjuk mereka.”

Telah kami sebutkan bahwa di masa kecil beliau, Al-Habib Abdullah mengerjakan sholat sunnah seratus rokaat setiap harinya setelah pulang dari rumah gurunya di waktu Dhuha. Karena itulah tidaklah mengherankan jika Alloh Subhanahu Wa Ta'ala memberinya kedudukan sebagai ‘WALI AL-QUTHUB’ sejak usianya masih remaja.

Disebutkan bahwa beliau mendapat kedudukan Wali Al-Quthub lebih dari ‘Enam Puluh Tahun’. Beliau menerima libas atau pakaian kewalian dari Al-’Arif Billah Al-Habib Muhammad bin Alawi (Shohib Makkah). Beliau menerima libas tersebut tepat ketika Al-Habib Muhammad bin Alawi wafat di kota Makkah pada tahun 1070 H. Pada waktu itu, usia Al-Habib Abdullah 26 tahun. Kedudukan Wali al-Quthub itu beliau sandang hingga beliau wafat (1132 H). Jadi beliau menjadi Wali al-Quthub lebih dari ’60 Tahun’.

Guru-guru beliau adalah:

1. Sayyiduna Al-Quthub Al-Habib Umar bin Abdurrahman Al-Attas,
2. Al-Habib Al-’Allamah Agil bin Abdurrahman As-Segaf,
3. Al-Habib Al-’Allamah Abdurrahman bin Syeikh Aidid,
4. Al-Habib Al-’Allamah Sahl bin Ahmad Bahsin Al-Hudayli Ba’alawi,
5. Al-Imam Al-’Allamah guru besar kota Makkah Al-Mukarromah, Al-Habib Muhammad bin Alwi As-Segaf,
6. dan masih banyak lagi guru-guru beliau yang lainnya.

murid-murid beliau adalah:

1. Al-Habib Hasan bin Abdullah Al-Haddad (putera beliau sendiri),
2. Al-Habib Ahmad bin Zain Al-Habsyi,
3. Al-Habib Abdurrahman bin Abdullah Bilfaqih,
4. Al-Habib Umar bin Zain bin Smith,
5. Al-Habib Muhammad bin Zain bin Smith,
6. Al-Habib Umar bin Abdurrahman Al-Bar,
7. Al-Habib Ali bin Abdullah bin Abdurrahman As-Segaf,
8. Al-Habib Muhammad bin Umar bin Thoha Ash-Shafi As-Segaf,
 dan masih banyak lagi murid-murid beliau.

karya-karya tulis Al-Habib Abdullah adalah: 

1. Ar-Risalah Adab As-Suluk Al-Murid,
2. Ar-Risalatul Al-Mu’awanah,
3. An-Nafaais Al-’Ulwiyah Fi Al-Masailis As-Sufiyah,
4. Sabiilul Iddikar,
5. Al-Ithaaf As-Saail,
6. At-Tatsbiitul Fuaad,
7. Ad-Da’wah At-Taamah,
8. An-Nasaih Ad-Diiniyah,
9Ratib Al-Haddad (beliau susun di malam Lailatul Qadr tahun 1071 H)
10. dan masih banyak lagi lainnya.

Karomah Al-Imam Al-‘Allamah Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad
 
Karomah adalah suatu keistimewaan yang diberikan kepada seorang Wali Alloh sebagai karunia khusus baginya, sebagaimana mukjizat yang diberikan kepada seorang Nabi atau Rosul sebagai bukti kenabian dan kerosulannya. Kalau seorang Nabi atau Rosul diperintah memperkenalkan diri dan tugasnya kepada umatnya, dan untuk membuktikan kerosulan atau kenabiannya, maka ia dibolehkan memperlihatkan mukjizatnya, seperti ketika Nabi Alloh Musa Alaihis Salam di perintah melempar tongkatnya di depan Fir’aun, sehingga tongkatnya berubah menjadi seekor ular.

Berbeda dengan seorang wali dan karomahnya. Ia tidak diperintah memperkenalkan diri dan menampakkan karomahnya kepada orang lain, karena ia tidak diperintah untuk menyebarkan risalah agama. Hanya saja, seorang wali dianjurkan mengajak orang lain ke jalan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Kalau di tengah dakwahnya, ia membutuhkan suatu bukti, maka ia boleh minta diberi karomah, misalnya ketika Sunan Bonang dihadang oleh Raden Syahid bin Wilwatikta Al Abbasy (sebelum diangkat/dikenal dengan sebutan Sunan Kalijogo), maka beliau menunjuk tangannya ke atas pohon, dengan izin Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, si Raden Syahid melihat buah pohon yang ada di atasnya berupa emas, sehingga ia tidak putus-putusnya memandang emas yang ada di atas pohon itu, sampai Sunan Bonang dapat meneruskan perjalanannya dengan lancar. Adapun buah pohon yang berubah menjadi emas adalah karomah Alloh Subhanhu Wa Ta'ala yang diberikan kepada Sunan Bonang, sehingga beliau dapat selamat dalam perjalanannya.

Adapun karomah yang diberikan kepada Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad cukup banyak, sehingga kalau diungkapkan satu persatunya, maka akan membutuhkan waktu yang panjang. Sehingga kami hanya mengungkapkan sebagian kecil saja, seperti yang dapat di baca di bawah ini:
Seorang sahabat dekat Al-Habib Abdullah berkata: “Pada suatu kali aku terlilit hutang yang banyak dan aku tidak dapat melunasinya, karena aku tidak mempunyai uang. Ketika aku menyampaikan keluhanku kepada al-Habib Abdullah Al-Haddad, maka beliau berkata: ‘Semoga esok pagi semua hutangmu dapat terlunasi.’ Ternyata keesokan paginya, ada seorang lelaki memberiku sepuluh potong pakaian. Setelah aku menerimanya, kemudian akupun menjualnya, maka aku mendapat keuntungan yang lebih besar dari jumlah hutangku, semua itu adalah berkah karomah al-Habib Abdullah al-Haddad."

Salah satu sahabat al-Habib Abdullah al-Haddad berkata: “Salah seorang yang sangat cinta kepada Al-Habib Abdullah Al-Haddad berkata: ‘Aku pernah dirampok sampai semua hartaku habis. Maka akupun mendatangi Al-Habib Abdullah untuk meminta tolong dan minta do’a. Ketika aku akan pamitan, maka ia berkata kepadaku, semoga engkau mendapat ganti yang lebih bagus daripada hartamu yang dirampok. Tetapi bacalah setiap paginya ‘YAA ROZZAK’ sebanyak tiga ratus delapan puluh kali dan do’a sebagai berikut sebanyak empat kali:
"ALLAHUM_MAGH_NINII BII CHALAALIKA ‘AN CHAROOMIKA, WA BII THOO’ATIKA ‘AN MA’SHIYATIKA WA BIFADH_LIKA ‘AMMAN SIWAAKA.”
Maka dengan izin Alloh Subhanhu Wa Ta'ala, lelaki itu kembali dalam keadaan yang lebih baik, karena hidupnya lebih baik dan hutang-hutangnya sudah terlunasi. Ia termasuk seorang yang shaleh, bertakwa dan wara’. Ia banyak mengerjakan amal-amal kebajikan, terutama sedekah. Ia sangat yakin kepada Al-Habib Abdullah dan kepada orang-orang shaleh. Ia wafat di Kota Syibam pada tahun empat puluh. Semoga Alloh Subhanhu Wa Ta'ala merohmatinya dan menempatkannya di surga-NYA yang sangat luas.”

Selain itu, Asy-Syeikh Abdulloh Syarohil menceritakan kisah Asy-Syeikh Umar Bahmid sebagai berikut: “Ada seorang datang mengadu kepada al-Habib Abdullah tentang sakit perut dan darah yang banyak keluar dari duburnya, dan ketika itu aku ada di sisinya. Maka Al-Habib Abdullah berkata kepadaku: Wahai Bahmid, obatilah orang ini.” Maka aku memegang perutnya, kemudian aku meniupnya. Maka penyakit orang itu sembuh pada waktu itu juga. Kemudian penyakit orang itu berpindah kepadaku, sampai aku mengeluh kepada Al-Habib Abdullah. Kemudian beliau memberi makanan kepadaku sambil mengusap perutku dengan tangannya yang mulia, maka dengan izin Alloh Subhanhu Wa Ta'ala penyakitku segera sembuh pada waktu itu juga.”

Asy-Syeikh Abdullah Syarohil menuturkan, bahwa al-Habib Ahmad berkata kepadaku: “Aku diberitahu oleh al-Habib Ahmad, bahwa al-Habib Abdullah al-Haddad berkata kepadanya: “Aku melihat ada seorang yang mengeluh sakit gigi dan ia minta do’a kesembuhan darimu.”
Maka aku berkata kepadanya: “Mengapa orang itu meminta do’a kepadaku, padahal engkau masih ada di dekatnya?”
Lalu al-Habib Abdullah mengatakan kepadaku: “Laksanakan saja perintahku.”
“Lalu akupun segera melaksanakan perintahnya, hingga penyakit orang itu sembuh, tetapi rasa sakitnya berpindah pada diriku. Ketika aku menghadap kepada al-Habib Abdullah, maka beliau memberitahuku: “Penyakit orang itu sudah sembuh, tetapi rasa sakitnya pindah kepadamu.”
“Memang aku merasakan sakitnya orang itu, namun segera hilang dengan berkahnya,” katanya.

kisah karomah yang dialami oleh al-Habib Abdullah sebagai berikut: 
Disebutkan bahwa ketika al-Habib Abdullah pergi menunaikan ibadah haji, maka ada seekor unta yang melompat-lompat karena emosi, sehingga tidak seorangpun yang berani mendekati dan menungganginya, karena lompatannya sangat keras. Ketika al-Habib Abdullah diberitahu tentang masalah itu, maka beliau mendatangi unta itu dan meletakkan tangannya di lehernya, maka dengan izin Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, maka unta itu menundukkan kepala kepadanya.” 

Salah seorang sahabat dekat al-Habib Abdullah al-Haddad berkata:
Aku diberitahu oleh salah seorang murid yang selalu mengikuti al-Habib Abdullah al-Haddad: Pada suatu hari aku keluar untuk mengunjungi seorang syeikh yang dikenal oleh penduduk Kota Tarim dengan nama asy-Syeikh Maula ar-Rakah, dan aku kesana tanpa memberitahu kepada al-Habib Abdullah lebih dahulu, sehingga aku kesana dalam keadaan demam yang sangat keras. Aku berkata dalam diriku sendiri: “Mungkin penyakitku ini disebabkan aku tidak memberitahu kepada al-Habib Abdullah terlebih dahulu.”
Ketika aku mendatangi al-Habib Abdullah dan mengeluh kepadanya, maka al-Habib Abdullah mengusap badanku dengan tangannya yang mulia. Dengan izin Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dan berkah Al-Habib Abdullah penyakitku segera sembuh dan tidak meninggalkan bekas apapun pada tubuhku.”
 
Dinukil dari kitab Syarah Ratib Al Haddad

Beliau wafat hari Senin Malam Selasa tanggal 7 Dzulqa’dah 1132 H, dan di makamkan di pemakaman Zambal di kota Tarim-Hadhromaut-Yaman.
Semoga Alloh Subhanahu Wa Ta'ala merohmati beliau dengan kasih sayang yang teramat luasnya dan meridhoinya serta memberi kita manfaat dan barokah beliau serta ilmu-ilmu beliau di dunia dan akhirat. 
Wallohu'alam bii showab, lahum biis sirril fatihah...
Read More

Selasa, 28 April 2020

IJAZAH DARI ABAH GURU IJAI AGAR SELAMA PUASA DIHINDARKAN DARI KEHAUSAN

Abah Guru Ijai (Tuan Guru Muhammad Zaini Abdul Ghani, Rodhiallohu'anhu) Sekumpul, martapura, Kalimantan Berkata:

"Kalau kamu ingin pada bulan Puasa tidak merasa kehausan, setelah sahur ambil secangkir air putih lalu baca surah Al-Kautsar 7x, kemudian tiupkan ke air tersebut.
Minum air tersebut dan bagikan kepada keluarga"

Fadhilahnya/keutamaannya Insya Alloh tidak akan merasa haus mulai sahur sampai hendak berbuka.
Karena minum air tersebut sama dengan minum Telaga Kautsar.

Semoga puasa kita lancar dan berkesempatan untuk mengamalkannya dengan harapan Barokah dari Auliya Alloh dan Syafa'at Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wassalam.
Read More

Senin, 27 April 2020

ORANG YANG PUASA TAPI MENINGGALKAN SHOLAT

Dua kategori orang yang meninggalkan shalat:


1. Meninggalkan sholat karena mengingkari kewajibannya,

Orang yang masuk dalam kategori ini maka ia dihukumi murtad (keluar dari islam)


2. Meninggalkan shalat karena malas, (bukan berarti dia tidak sholat),

Orang yang meninggalkannya karena malas, hingga waktunya habis, maka ia masih dikatakan muslim


 Batalnya puasa itu ada dua kategori:


 1. pembatalan yang merusak pahala puasa, namun tidak membatalkan puasa itu sendiri.

Kategori ini dinamakan muh_bi_thot (merusak pahala puasa) dan tidak diwajibkan qadha,


2. sesuatu yang dapat membatalkan puasa dan merusak pahalanya, (makan, minum, hub. Intim disiang hari/selama masa puasa), maka wajib mengqadha puasa di hari lainnya.

 Kategori ini dinamakan muf_thirot (membatalkan puasa)


Meninggalkan shalat itu dapat dikategorikan sebagai muh_bi_that as-shaum (merusak pahala puasa)

Puasa yang dilakukannya masih sah, tetapi dia telah merusak pahala ber-puasa-nya

 Sehingga, ibadah puasa yang dikerjakannya kurang nilainya di hapadan Alloh.

Meskipun demikian, dia diharuskan untuk tetap berpuasa sebagaimana mestinya dan mengqodho shalat yang ditinggalnya.

Wallohu a’lam bii showab.

Read More

Minggu, 26 April 2020

PUASA SYARIAT DAN PUASA THOREQOT MENURUT SYAIKH ABDUL QADIR AL-JAILANI RODHIALLOHU'ANHU

Dalam memandang puasa, SYAIKH ABDUL QODIR AL-JAILANI AL-BAGHDADI membaginya dalam dua kategori:

1. Shoum As-Syari’ah (puasa syare'at), atau bisa juga disebut “puasa berstandar fiqih” 

Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Baghdadi menjelaskan bahwa puasa syariat adalah:

“Menahan diri dari makanan, minuman, dan bersetubuh di waktu siang.”

Dari sudut pandang syariat, yang membatalkan puasa—secara umum—hanya makan, minum dan bersetubuh di siang hari. Selama bisa menahan diri dari tiga hal tersebut, puasa kita sah dalam sudut pandang fiqih. 


2. Shoum At thoriqoh (puasa thoriqot), bisa juga disebut sebagai dan “puasa berstandar tasawuf”.

Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Baghdadi menjelaskan bahwa:

“Menahan seluruh anggota tubuhnya dari melakukan perbuatan-perbuatan yang diharomkan dan dilarang, menjauhi sifat-sifat tercela seperti ujub, sombong, kikir, marah, membicarakan keburukan orang lain (ghibah/ghosip), marah, dan selainnya secara lahir dan batin. Setiap melakukan hal-hal tersebut membatalkan puasa thoriqohnya.”

Perbedaan mendasarnya terletak pada titik berat puasa thoriqot yang lebih luas dari puasa syariat.
Hal-hal yang membatalkannya pun lebih beragam, tidak seperti puasa syariat.
Selama seseorang berhasil memenuhi syarat dan rukunnya, tidak melanggar tiga larangan seperti yang disebutkan di atas, puasanya sah secara fiqih, meskipun dia menggunjing, marah, pelit, dan sombong. Tapi tetap saja, dia mendapatkan dosa dari perbuatannya itu.
Inilah yang dikhawatirkan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wassallam dalam beliau bersabda:

 رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ، وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلاَّ السَّهَرُ 

Artinya:
“Betapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar, dan betapa banyak orang yang bangun malam (untuk beribadah) yang tidak mendapatkan dari bangun malamnya kecuali begadang.”
(HR Imam Ibnu Majah)

Puasa thoriqoh/tasawuf memasukkan karakter negatif manusia dalam daftar pembatalan puasanya. Namun, perlu diingat, sistem pembatalan puasa thoriqot tidak berimplikasi langsung terhadap batalnya puasa menurut fiqih.
Sebab, puasa thoriqot adalah“tazkiyatun nufus (penjernihan diri)" atau “tashfiyyatul qulub (pembersihan hati)" yang biasa disebut dengan pembangunan spiritual.
Puasa thoriqot adalah bukan hanya sekadar ibadah puasa tahunan dengan iming-iming pahala yang melimpah, namun sebuah proses perbaikan diri yang berkelanjutan.

Sederhananya, puasa tasawuf (thoriqoh) bisa dianggap sebagai “saringan” bagi pengamalnya, yang semula dipenuhi dengan kebencian, setelah menjalankan ibadah puasa, kebenciannya perlahan-lahan berkurang. Begitu pula dengan karakter-karakter negatif lainnya.

Perbedaan lainnya adalah perihal waktu. Puasa syariat ditentukan waktunya atau mempunyai waktu tertentu (muwaqqot), sedangkan puasa 
tidak mempunyai waktu tertentu (muabbad fii jami'i ‘umrih, sepanjang hidup manusia). Karena puasa thoriqot adalah puasa jiwa, sehingga tidak terikat dengan bulan, waktu atau jarak tertentu. Ketika pengamalnya mulai berlaku sombong atau melakukan perbuatan yang diharomkan, puasanya batal secara thoriqot.

Hal menarik lainnya dari puasa thoriqot/tasawuf adalah masuknya, “menahan seluruh anggota tubuh dari melakukan perbuatan yang diharomkan,” sebagai salah satu perilaku yang membatalkan puasa.
Ini menarik, karena dapat membuat orang yang menjalankan puasa thoriqot menghindari sekuat tenaga perbuatan-perbuatan yang diharomkan agama, hingga timbul anggapan bahwa menahan diri dari hal-hal tersebut tidak kalah pentingnya dengan menahan diri dari makan, minum dan bersetubuh ketika berpuasa.
Apalagi pengamalan puasa thoriqot/tasawuf tidak terbatasi oleh waktu tertentu. Artinya, jika semua orang berhasil mengamalkannya, maka keseimbangan antara amal kebajikan ibadah keTuhanan (hablu minalloh) dan amal kebajikan ibadah sosial (hablu minanaas) bukan sekadar isapan jempol belaka.

Kemudian Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Baghdadi mengutip hadits Qudsi (firman Alloh Subhanahu Wa Ta'ala melalui hati kanjeng Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wassalam & bukan melalui perantara malaikat Jibril Alaihis sallam) yang mengatakan:

 يَصيْرُ لِلْصائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ الْإِفْطَارِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ رُؤْيَةِ جَمَالِي 

Artinya:
“Ada dua kebahagiaan bagi orang yang berpuasa:
(1). Ketika berbuka, dan
(2). Ketika melihat Alloh Subhanahu Wa Ta'ala (makna ahli hakikat).” 

Para ahli syariat (fiqih) menafsirkan hadits qudsi tersebut sesuai makna dasarnya, bahwa yang dimaksud dengan “adarhah ‘inda al-ifthor (kebahagian ketika berbuka)" adalah makan ketika matahari tenggelam (Al-akl ‘inda ghurub al-syams) dan yang dimaksud dengan “Farhah ‘Inda Ru’yah Jamali (kebahagiaan melihat keindahan)” adalah melihat hilal di malam idul fitri .

Sementara para ahli hakikat menafsirkan hadits di atas dengan makna yang lebih dalam, bahwa kebahagiaan ketika berbuka adalah kebahagiaan memasuki surga dengan memakan banyak kenikmatan di dalamnya (dukhul al-jannah bi al-akl mimma fîha min al-na’im), dan kebagiaan yang kedua benar-benar dimaknai dengan kabahagiaan bertemu Alloh Subhanahu Wa Ta'ala di hari kiamat (liqo’ Alloh yaum al-qiyamah).

Kesimpulannya, dalam berpuasa kita harus mempertimbangkan aspek ruhaniah juga, tidak sekadar melihat mana yang membatalkan puasa dan mana yang tidak secara hukum. Boleh jadi puasa kita sah secara hukum karena berhasil menahan diri dari makan, minum dan bersetubuh di waktu siang. Namun, apakah kita benar-benar berhasil mengambil manfaat puasa untuk hidup kita, dan melestarikan penahanan diri dari hal-hal yang dilarang sepanjang hidup kita, tidak hanya di bulan suci Ramadhon saja. 

Sayyodina Ali karomallohu wajhah berkata:

Jika seorang hamba tidak bermaksiat sedikitpun kepada Alloh di hari itu, maka sesungguhnya ia sedang berlebaran.”

Wallohu a’lam bish shawwab lahum biis sirril fatihah...
Read More

Kamis, 23 April 2020

KISAH IBROHIM BIN ADHAM MURID NABI KHIDHIR 'ALAIHIS SALAM



DATANGNYA HIDAYAH

Ibrohim bin Adham adalah raja Balkh yang sangat luas daerah kekuasaannya. Ke mana pun ia pergi, empat puluh buah pedang emas dan empat puluh buah tongkat kebesaran emas diusung di depan dan di belakangnya: Pada suatu malam ketika ia tertidur di kamar istananya, langit-langit kamar berderak-derik seolah-olah ada seseorang yang sedang berjalan di atas atap. Ibrahim terjaga dan berseru: “Siapakah itu?
 
Seorang sahabat”,' terdengar sebuah sahutan, “untaku hilang dan aku sedang mencarinya di atas atap ini"
 
Goblok, engkau hendak mencari unta di atas atap?”, seru Ibrohim.
 
Hai manusia! Siapa yang goblok? Kau atau aku ? Engkau benar-benar manusia yang lalai”, suara itu menjawab, “apakah engkau hendak mencari Alloh dengan berpakaian sutera dan tidur di atas ranjang emas?”.
 
Kata-kata ini sangat menggentarkan hati Ibrohim. Ia sangat gelisah dan tak dapat meneruskan tidurnya. Ketika hari telah siang, Ibrohim kembali ke ruang pertemuan dan duduk di atas singgasananya sambil berpikir-pikir, bingung dan sangat gundah. Para menteri telah berdiri di tempat masing-masing dan hamba-hamba telah berbaris sesuai dengan tingkatan mereka. Kemudian dimulailah pertemuan terbuka.
 

Tiba-tiba seorang lelaki berwajah menakutkan masuk ke dalam ruangan pertemuan itu. Wajahnya sedemikian menyeramkan sehingga tak seorang pun di antara anggota-anggota maupun hamba-hamba istana yang berani menanyakan namanya. Semua lidah menjadi kelu. Dengan tenang lelaki tersebut melangkah ke depan singgasana.
 
"Apakah yang engkau inginkan?”, tanya Ibrohim.
 
Aku baru saja sampai di persinggahan ini”; jawab lelaki itu.
 
Ini bukan sebuah persinggahan para khafilah. Ini adalah istanaku... Engkau sudah gila!”, Ibrohim menghardiknya.
 
Siapakah pemilik istana ini sebelum engkau?'’tanya lelaki itu,
 
Ayahku! “.jawab Ibrohim,
 
Dan sebelum ayahmu?” tanya lelaki itu,
 
Ibrohim menjawab, “Kakekku!”,
 
Lelaki itu kembali bertanya “Dan sebelum kakekmu?”,
 
Ayah dari kakekku!” jawab Ibrohim,
 
Dan sebelum dia?” tanya lelaki itu,
 
“Kakek dari kakekku!”
 
“Ke manakah mereka sekarang ini?”, tanya lelaki itu.
 
Mereka telah tiada, Mereka telah mati”, jawab Ibrohim.
 
“Jika demikian, bukankah ini sebuah persinggahan yang dimasuki oleh seseorang dan ditinggalkan oleh yang lainnya?” kata lelaki tersebut,
 
Setelah berkata demikian lelaki itu hilang. Sesungguhnya ia adalah Nabi Khidhir 'Alaihis Salam, yang sedang menyamar.
 
Kegelisahan, dan kegundahan hati Ibrohim semakin menjadi-jadi. Ia dihantui bayang-bayangan di siang hari dan mendengar suara-suara di malam hari; keduanya sama-sama membingungkan.
 
Akhirnya karena tidak tahan lagi, pada suatu hari berserulah Ibrohim: “Persiapkan kudaku! Aku hendak pergi berburu. Aku tak tahu apa yang telah terjadi terhadap diriku belakangan ini. Ya Alloh, kapan semua ini akan berakhir?”
 
Kudanya telah dipersiapkan lalu berangkatlah ia berburu. Kuda itu dipacunya menembus padang pasir, seolah-olah ia tak sadar akan segala perbuatannya. Dalam kebingungan itu ia terpisah dari rombongannya. Tiba-tiba terdengar olehnya sebuah seruan: “Bangunlah ! “
 
Ibrohim pura-pura tidak mendengar seruan itu. Ia terus memacu kudanya. Untuk kedua kalinya suara itu berseru kepadanya, namun Ibrohim tetap tak memperdulikannya. Ketika suara itu untuk ketiga kalinya berseru 'kepadanya. Ibrohim semakin memacu kudanya. Akhirnya untuk yang keempat kali, suara itu berseru: “Bangunlah! Sebelum engkau kucambuk
 
Ibrohim tidak dapat mengendalikan dirinya. Saat itu terlihat olehnya seekor rusa. Ibrohim hendak memburu rusa itu tetapi binatang itu berkata kepadanya: “Aku disuruh untuk memburumu. Engkau tidak dapat menangkapku. Untuk inikah engkau diciptakan atau inikah yang diperintahkan kepadamu?”
 
Wahai, apakah yang menghadang diriku ini?”, seru Ibrohim. Ia memalingkan wajahnya dari rusa tersebut. Tetapi dari pegangan di pelana kudanya terdengar suara yang menyerukan kata-kata yang serupa, Ibrohim panik dan ketakutan.
 
Seruan itu semakin jelas karena Alloh Yang Maha Kuasa hendak menyempurnakan janji-NYA. Kemudian suara yang serupa berseru pula dari mantelnya. Akhirnya sempurnalah seruan Alloh itu dan pintu hidayah terbuka bagi Ibrohim. Keyakinan yang teguh telah tertanam di dalam dadanya. Ibrohim turun dari tunggangannya. Seluruh pakaian dan tubuh kudanya basah oleh cucuran air matanya. Dengan sepenuh hati Ibrohim bertaubat kepada Alloh.
 
Ketika Ibrohim menyimpang dari jalan raya, ia melihat seorang gembala yang mengenakan pakaian dan topi terbuat dari bulu domba.
Sang penggembala sedang menggembalakan sekawanan ternak. Setelah diamatinya, ternyata si gembala itu adalah sahayanya yang sedang menggembalakan domba-domba miliknya pula.
Kepada si gembala itu Ibrohim menyerahkan mantelnya yang bersulam emas, topinya yang bertatahkan batu-batu permata dan domba-domba tersebut, sedang dari si gembala itu Ibrohim meminta pakaian dan topi bulu domba yang sedang dipakainya.
Ibrohim lalu mengenakan pakaian dan topi bulu milik si gembala itu dan semua malaikat menyaksikan perbuatannya itu dengan penuh kekaguman.
 
Betapa megah kerajaan yang diterima putera Adham ini”, malaikat-malaikat itu berkata, “Ia telah mencampakkan pakaian keduniawian yang kotor lalu menggantinya dengan jubah kepapaan yang megah”.
 
Dengan berjalan kaki, Ibrohim mengelana melalui gunung-gunung dan padang pasir yang luas sambil meratapi dosa-dosa yang pernah dilakukannya. Akhirnya sampailah ia di Mesir. Di sini Ibrohim melihat seorang lelaki terjatuh dari sebuah jembatan. Pastilah ia akan binasa dihanyutkan oleh air sungai.
 
Dari kejauhan Ibrohim berseru: “Ya Alloh, selamatkanlah dia!” Seketika itu juga tubuh lelaki itu berhenti di udara sehingga para penolong tiba dan menariknya ke atas. Dan dengan terheran-heran mereka memandang kepada Ibrohim. “Manusia apakah ia itu”, seru mereka.
 
Ibrohim meninggalkan tempat itu dan terus berjalan sampai ke Nishopur. Di kota Nishopur, Ibrohim mencari sebuah tempat terpencil di mana ia dapat tekun mengabdi kepada Alloh. Akhirnya dia menemukan sebuah gua yang dikemudian hari menjadi amat termasyhur. Di dalam gua itulah Ibrohim menyendiri selama sembilan tahun, tiga tahun pada masing-masing ruang yang terdapat di dalamnya. Tak seorang pun yang tahu apakah yang telah dilakukannya baik siang maupun malam di dalam gua itu, karena hanya seorang manusia yang luar biasa perkasanya yang sanggup menyendiri di dalam gua itu pada malam hari.
 
Setiap hari Kamis, Ibrohim memanjat keluar dari gua tersebut untuk mengumpulkan kayu bakar. Keesokan paginya pergilah ia ke Nishopur untuk menjual kayu-kayu itu. Setelah melakukan sholat Jum’at ia pergi membeli roti dengan uang yang diperolehnya. Roti itu separuhnya diberikannya kepada pengemis dan separuhnya lagi untuk pembuka puasanya. Demikianlah yang dilakukannya setiap pekan.
 
Pada suatu malam di musim salju, Ibrohim sedang, berada dalam ruang pertapaannya. Malam itu udara sangat dingin dan untuk bersuci Ibrohim harus memecahkan es. Sepanjang malam badannya menggigil namun ia tetap melaksanakan sholat dan berdoa hingga fajar menyingsing. Ia hampir mati kedinginan. Tiba-tiba ia teringat pada api. Di atas tanah dilihatnya ada sebuah kain bulu. Dengan kain bulu itu sebagai selimut ia pun tertidur. Setelah hari terang benderang barulah ia bangun dan badannya terasa hangat. Tetapi segeralah ia sadar bahwa yang disangkanya sebagai kain bulu itu adalah seekor naga dengan biji mata berwarna merah darah. Ibrohim panik ketakutan dan berseru:
 
Ya Alloh, Engkau telah mengirimkan’ makhluk ini dalam bentuk yang halus (tak kasat mata) tetapi sekarang terlihatlah bentuk sebenarnya yang sangat mengerikan. Aku tak kuat menyaksikannya”.
 
Naga itu segera bergerak dan meninggalkan tempat itu setelah dua atau tiga kali bersujud di depan Ibrohim.
 
Tetapi segeralah ia sadar bahwa yang disangkanya sebagai kain bulu itu adalah seekor naga dengan biji mata berwarna merah darah.
 
PERGI KE MEKAH

Ketika kemasyhuran perbuatan-perbuatan ibrohim tersebar luas, Ibrohim meninggalkan gua tersebut dan pergi ke Mekkah. Di tengah padang pasir, Ibrohim berjumpa dengan seorang tokoh besar agama yang mengajarkan kepadanya Nama Yang Teragung dari Alloh dan setelah itu pergi meninggalkannya. Dengan Nama Yang Teragung itu Ibrohim menyeru Alloh dan sesaat kemudian tampaklah olehnya Nabi Khidhir 'Alaihis Salam.
 
"Ibrohim'’, kata Nabi Khidhir kepadanya, "' Saudaraku. Daud-lah (yaitu Nabi Daud 'Alaihis Salam) yang mengajarkan kepadamu Nama Yang Teragung itu”.
 
Kemudian mereka berbincang-bincang mengenai berbagai masalah. Dengan seizin Alloh Nabi Khidhir 'Alaihis Salam adalah manusia pertama yang telah menyelamatkan Ibrohim.
 
Mengenai kelanjutan perjalanannya menuju Mekkah Ibrohim mengisahkan sebagai berikut,ini: ''Setibanya di Dzatul Irak, kudapati tujuh puluh orang yang berjubah kain perca tergeletak mati dan darah mengalir dari hidung dari telinga mereka. Aku berjalan mengitari mayat-mayat tersebut, ternyata salah seorang di antaranya masih hidup”.
 
‘‘Anak muda, apakah yang telah terjadi?”, aku bertanya kepadanya.
 
Wahai anak Adam”, jawabnya padaku, “beradalah di dekat air dan tempat sholat Janganlah menjauh agar engkau tidak dihukum, tetapi jangan pula terlalu dekat agar engkau tidak celaka. Tidak seorang manusia pun boleh bersikap terlampau berani di depan sultan. Takutilah Sahabat, yang membantai dan memerangi para peziarah ke tanah suci seakan-akan mereka itu orang-orang kafir Yunani. Kami ini adalah rombongan sufi yang menembus padang pasir dengan berpasrah kepada Alloh dan berjanji tidak akan mengucapkan sepatah kata pun di dalam perjalanan, tidak akan memikirkan apa pun kecuali Alloh, senantiasa membayangkan Alloh ketika berjalan maupun istirahat, dan tidak perduli kepada segala sesuatu kecuali kepada-Nya."
 
Lalu di melanjutkan ceritanya:"Setelah kami mengarungi padang pasir dan sampai ke tempat di mana para peziarah harus mengenakan jubah putih, Nabi Khidhir 'Alaihis Salam, datang menghampiri kami. Kami mengucapkan salam kepadanya dan Nabi Khidir 'Alaihis Salam membalas salam kami"
 
Lanjutnya:"Kami sangat gembira dan berkata: 'Alhamdulillah, sesungguhnya perjalanan kita telah diridhoi Alloh, dan yang mencari telah mendapatkan yang dicari, karena bukankah manusia suci sendiri telah datang, untuk menyambut kita'. Tapi, di saat itu juga berserulah sebuah suara di dalam diri kami; ‘Kalian pendusta dan berpura-pura! Demikianlah kata-kata dan janji kalian dahulu? Kalian lupa kepada-KU dan memuliakan yang lain (yaitu Nabi Khidhir 'Alaihis Salam) Binasalah kalian! AKU tidak akan membuat perdamaian dengan kalian, sebelum nyawa kalian KU cabut sebagai pembalasan dan sebelum darah kalian KU tumpahkan dengan pedang kemurkaan!”
 
‘'Hai Ibrohim ! Manusia-manusia yang engkau saksikan terkapar di sini, semuanya adalah korban dari pembalasan itu. Wahai Ibrohim, berhati-hatilah engkau! Engkau pun mempunyai ambisi yang sama. Berhati-hatilah atau menyingkirlah jauh-jauh!”
 
Aku sangat gentar mendengar kisah itu. Aku bertanya kepadanya: “Tetapi mengapakah engkau tidak turut dibinasakan?”
 
Kepadaku dia mengatakan: "Sahabat-sahabatmu telah matang sedang engkau masih mentah. Biarlah engkau hidup beberapa saat lagi dan segera akan menjadi matang. Setelah matang engkau pun akan menyusul mereka' “.
 
Setelah berkata demikian ia pun menghembuskan nafasnya yang terakhir.
 
Empat belas tahun lamanya Ibrohim mengarungi padang pasir, dan selama itu pula ia selalu berdoa dan merendahkan diri kepada Alloh. Ketika hampir sampai ke kota Mekkah, para sesepuh kota Mekkah sudah mendengar kedatangan Ibrohim, mereka ke luar kota hendak menyambutnya.
Ibrohim mendahului rombongannya agar tidak seorang pun dapat mengenali dirinya. Hamba-hamba yang mendahului para sesepuh tanah suci itu melihat Ibrohim, tetapi karena belum pernah bertemu dengannya, mereka tak mengenalnya. Setelah Ibrohim begitu dekat, para sesepuh itu berseru: “Ibrohim bin Adham hampir sampai. Para sesepuh tanah suci telah datang menyambutnya”.
 
Apakah yang kalian inginkan dari si bid'ah itu?” tanya Ibrohim kepada mereka. Mereka langsung meringkus Ibrohim dan memukulinya.
 
"Para sesepuh tanah suci sendiri datang menyambut Ibrohim tapi engkau menyebutnya bid'ah?", hardik mereka.
 
Ya. aku katakan bahwa dia adalah seorang bid’ah?”, Ibrohim mengulangi ucapannya.
 
Ketika mereka meninggalkan dirinya, Ibrohim berkata pada dirinya sendiri: “Engkau pernah menginginkan agar para sesepuh itu datang menyambut kedatanganmu, bukankah telah engkau peroleh beberapa pukulan dari mereka? Alhamdulillah, telah kusaksikan betapa engkau telah memperoleh apa yang engkau inginkan!”
 
Ibrahim menetap di kota Mekkah. Ia selalu dikelilingi oleh beberapa orang sahabat dan ia memperoleh nafkah dengan memeras keringat sebagai tukang kayu.
 
BERTEMU PUTERANYA
 
Ketika berangkat dari Balkh, Ibrohim bin Adham meninggalkan seorang putera yang masih menyusui. Suatu hari, setelah si putera telah dewasa, ia menanyakan perihal ayahnya kepada ibunya.
 
Ayahmu telah hilang! “, si ibu menjelaskan.
 
Setelah mendapat penjelasan ini, si putera membuat sebuah maklumat bahwa barangsiapa yang bermaksud menunaikan ibadah haji, diminta supaya berkumpul. Empat ribu orang datang memenuhi panggilan ini. Kemudian ia lalu memberikan biaya makan dan unta selama dalam perjalanan kepada mereka itu. Ia sendiri memimpin rombongan itu menuju kota Mekkah. Dalam hati ia berharap semoga Alloh mempertemukan dia dengan ayahnya. Sesampainya di Mekkah, di dekat pintu Masjidil Harom, mereka bertemu dengan serombongan sufi yang mengenakan jubah kain perca.
 
Apakah kalian mengenal Ibrohim bin Adham?”, si pemuda bertanya kepada mereka.
 
Ibrohim bin Adham adalah sahabat kami. Ia sedang mencari makanan untuk menjamu kami”.
 
Pemuda itu meminta agar mereka sudi mengantarkannya ke tempat Ibrahim saat itu. Mereka membawanya ke bagian kota Mekkah yang dihuni oleh orang-orang miskin. Di sana dilihatnya betapa ayahnya bertelanjang kaki dan tanpa penutup kepala sedang memikul kayu bakar Air matanya berlinang tapi ia masih dapat mengendalikan diri, la lalu membuntuti ayahnya sampai ke pasar. Sesampainya di pasar si ayah mulai berteriak-teriak: “Siapakah yang suka membeli barang yang halal dengan barang yang halal?!”
 
Seorang tukang roti menyahuti dan menerima kayu api tersebut dan memberikan roti kepada Ibrohim. Roti itu dibawanya pulang lalu disuguhkannya kepada sahabat-sahabatnya.
 
Si putera berpikir-pikir dengan penuh kekuatiran: “Jika kukatakan kepadanya siapa aku, niscaya ia akan melarikan diri”. Oleh karena itu ia pun pulang meminta nasehat dari ibunya, bagaimana cara yang terbaik untuk mengajak ayahnya pulang. Si ibu menasihatkan agar ia bersabar hingga tiba saat melakukan ibadah haji.
 
Setelah tiba saat menunaikan ibadah haji, sang anak pun pergi ke Mekkah. Ibrohim sedang duduk beserta sahabat-sahabatnya.
 
Hari ini di antara jama’ah haji banyak terdapat perempuan dan anak-anak muda”, Ibrohim menasihati mereka. “Jagalah mata kalian.”
 
Semuanya menerima nasihat Ibrohim itu. Para jama’ah memasuki kota Mekkah dan melakukan thowaf mengelilingi Ka’bah, Ibrohim beserta para sahabatnya melakukan hal yang serupa. Seorang pemuda yang tampan menghampirinya dan Ibrohim terkesima memandanginya. Sahabat-sahabat Ibrohim yang menyaksikan kejadian ini merasa heran namun menahan diri sampai selesai thowaf.
 
Semoga Alloh mengampunimu”, mereka menegur Ibrohim. “Engkau telah menasihati kami agar menjaga mata dari setiap perempuan atau kanak-kanak, tetapi engkau sendiri telah terpesona memandang seorang pemuda tampan”.
 
Jadi kalian telah menyaksikan perbuatanku itu?” tanya ibrohim kepada sahabat-sahabatnya,
 
Ya, kami telah menyaksikannya”, jawab mereka.
 
Ketika pergi dari Balkh”, Ibrohim mulai memberi penjelasan, “aku meninggalkan seorang anakku yang masih menyusui. Aku yakin pemuda tadi adalah anakku sendiri”.
 
Keesokan harinya tanpa sepengetahuan Ibrohim; salah seorang sahabatnya pergi mengunjungi perkemahan jama'ah dari Balkh. Di antara semua kemah-kemah itu ada sebuah yang terbuat dari kain brokat. Di dalamnva berdiri sebuah mahligai dan atas di mahligai itu si pemuda sedang duduk membaca Al-Qur an sambil menangis. Sahabat Ibrohim tersebut meminta izin untuk masuk.
 
"Dari manakah engkau datang?', tanyanya kepada si pemuda. “Dari Balkh". jawab si pemuda.
 
Putera siapakah engkau?” tanya sahabat ibrohim,
 
Si pemuda menutup wajahnya,lalu menangis. "Sampai kemarin aku belum pernah menatap wajah ayahku”, katanya sambil memindahkan' Al-Qur’an yang sedang dibacanya tadi.
Walaupun demikian, aku belum merasa pasti apakah ia ayahku atau bukan. Aku kuatir jika kukatakan kepadanya siapa aku sebenarnya, ia akan menghindarkan diri kembali dari kami. Ayahku adalah Ibrohim bin Adham raja dari Balkh".
 
Sahabat Ibrohim lalu membawa si pemuda bertemu dengan ayahnya. Ibunya pun turut menyertai mereka. Ketika mereka sampai ke tempat Ibrohim, Ibrahim sedang duduk bersama sahabat-sahabatnya di depan pojok Yamani. Dari kejauhan Ibrohim telah melihat sahabatnya datang beserta si pemuda dan ibunya. Begitu melihat Ibrohim, wanita itu menjerit dan tidak dapat mengendalikan dirinya lagi.
 
Inilah ayahmu!”. Kata ibunya,
 
Semuanya gempar. Semua orang yang berada di tempat itu serta sahabat-sahabat Ibrohim menitikkan air mata. Begitu si pemuda dapat menguasai diri, ia segera mengucapkan salam kepada ayahnya. Ibrohim menjawab salam anaknya kemudian merangkulnya.
 
Agama apakah yang engkau anut?”, tanya Ibrohim kepada anaknya.
 
Agama Islam”.. jawab anaknya,
 
Alhamdulillah”, ucap Ibrohim, “dapatkah engkau membaca Al-Qur’an?”
 
Ya”, jawab anaknya.
 
Alhamdulillah. Apakah engkau sudah mendalami agama ini?” tanya Ibrohim kembali,
 
"Sudah.'’ jawab sang putra,

Setelah itu Ibrohim hendak pergi tetapi anaknya tidak mau melepaskannya. Ibunya meraung keras-keras. Ibrohim menengadahkan kepalanya dan berseru:
 
Ya Allah selamatkanlah diriku ini!”
 
Seketika itu juga, anaknya yang sedang berada dalam rangkulannya menemui ajalnya.
 
Apakah yang terjadi Ibrohim?”, tanya sahabat-sahabatnya. “Ketika aku merangkulnya”, Ibrohim menjelaskan kepada sahabatnya. "Timbullah rasa cintaku kepada anakku, dan sebuah suara berseru kepadaku 'engkau telah mengatakan bahwa engkau mencintai AKU, tetapi nyatanya engkau mencintai orang lain di samping AKU. Engkau telah menasihati sahabat-sahabatmu agar mereka tidak memandang wanita dan perempuan, tetapi hatimu sendiri lebih tertarik kepada wanita dan pemuda itu!' Mendengar kata-kata itu akupun berdo’a :"Ya Alloh Yang Maha Besar, selamatkanlah diriku ini. Anak ini akan merenggut seluruh perhatianku sehingga aku tidak dapat mencintaiMU lagi. Cabutlah nyawa anakku atau cabutlah nyawaku sendiri.” Dan kematian anakku tersebut adalah jawaban Alloh terhadap do'aku.”
 
JUAL BELI PEKERJAAN
 
Seseorang bertanya kepada Ibrohim bin Adham: “Apakah yang telah terjadi terhadap dirimu sehingga engkau meninggalkan kerajaanmu ?”
 
Ibrohim bin adham bercerita: “Pada suatu hari aku sedang duduk di atas tahta dan sebuah cermin dipegangkan di hadapanku. Aku memandang cermin itu, tiba-tiba yang terlihat olehku adalah sebuah kuburan sedang di dalamnya tak ada teman-teman yang kukenal. Sebuah perjalanan yang jauh terbentang di depanku sedang aku tak punya bekal. Kulihat seorang hakim yang adil sedang aku tidak mempunyai seorang pun yang membela diriku. Setelah kejadian itu aku benci-melihat kerajaanku”.
 
Mengapa pula engkau meninggalkan Khurasan?”, sahabat-sahabatnya bertanya.
 
Di Khurasan banyak kudengarkan kata-kata mengenai Sahabat Sejati” Jawab Ibrohim.
 
Mengapa engkau tidak beristeri lagi?” tanya sahabat-sahabat ibrohim
 
Maukah seorang wanita mengambil seorang suami yang akan membuatnya lapar dan tak berpakaian?”. Ibrohim balik bertanya.
 
Tidak!” jawab mereka..
 
Itulah sebabnya aku tidak mau menikah lagi”. Ibrohim menjelaskan. “Setiap wanita yang kunikahi akan lapar dan bertelanjang seumur hidupnya. Bahkan seandainya sanggup, aku ingin menceraikan diriku sendiri. Bagaimanakah aku dapat membawa seseorang yang lain di atas pelana kudaku?”
 
Kemudian ia berpaling kepada seorang pengemis yang turut mendengarkan kata-katanya itu dan bertanya kepada pengemis itu: “Apakah engkau mempunyai seorang isteri?”
 
Tidak”, jawab si pengemis.
 
Apakah engkau mempunyai seorang anak?” tanya Ibrohim
 
Tidak”. Si pengemis menjawab.
 
Baik sekali! Baik sekali!”, seru Ibrohim.
 
Mengapa engkau berkata demikian?", si pengemis bertanya.
Seorang pengemis yang menikah adalah seperti seorang yang menumpang sebuah perahu. Apabila anak-anaknya lahir, tenggelamlah ia”. Ibrohim menjelaskan.
 
Suatu hari Ibrahim menyaksikan seorang pengemis sedang meratapi nasibnya.
 
“Aku menduga bahwa engkau membeli pekerjaan ini dengan gratis”, kata Ibrohim kepada pengemis yang meratapi nasibnya.
 
Apakah pekerjaan mengemis diperjual belikan”, si pengemis bertanya heran.
 
Sudah tentu!”, jawab Ibrohim. “Aku sendiri telah membelinya dengan kerajaan Balkh. Dan aku merasa sangat beruntung! “. 
 
SI KAYA YANG PENGEMIS
 
Seseorang datang hendak memberi uang seribu dinar kepada Ibrohim. “Terimalah uang ini", katanya kepada Ibrohim.
 
Aku tak mau menerima sesuatu pun dari para pengemis’. jawab Ibrohim.
 
Tetapi aku adalah seorang yang kaya”, balas orang tersebut.
Apakah engkau masih menginginkan kekayaan yang lebih besar dari yang telah engkau miliki sekarang ini?",tanya Ibrohim. “Ya”, jawabnya.
 
Bawalah kembali uang ini!. Engkau adalah ketua para pengemis. Engkau bahkan bukan seorang pengemis lagi tetapi seorang yang sangat tidak punya apa-apa dan terlunta-lunta”.

Seorang pengemis adalah orang yang meminta-minta untuk memenuhi kebutuhan hidupnya (walaupun ia meminta kepada Alloh), secara haqiqi manusia adalah pengemis dihadapan Alloh.
Orang kaya yang tidak punya apa-apa adalah orang yang meminta-minta untuk menuruti/memenuhi keinginan (hawa nafsu) nya bukan akheratnya dan semua itu hilang apabila Alloh sudah menurunkan musibah, semua akan lenyap apalagi musibah kematiannya. Dan orang kaya tidak akan punya teman sejati, semua teman mendekati dirinya bukan murni karana rasa pertemanan, tetapi mereka mendekat karana ia punya harta.
Orang yang terlunta-lunta adalah orang yang tidak pernah merasakan ketenangan hidup, orang yang selalu mengejar harta, melupakan akan kenikmatan sehat, berkumpul, berteman, dan melupakan akherat. Sehingga di padang mahsar di yaumil hisab (hari perhitungan amal) ia terlunta-lunta menunggu giliran di hisab dari orang miskin, terlunta-lunta tidak tenang dihisab dengan waktu lama karana banyaknya harta, dan terlunta-lunta menunggu giliran masuk surga/neraka setelah orang miskin.

Orang yang bagus adalah orang kaya yang selalu ingat akan akherat.

Dari Abu Hurairah, Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wassallam bersabda:

يَدْخُلُ فُقَرَاءُ الْمُؤْمِنِينَ الْجَنَّةَ قَبْلَ الأَغْنِيَاءِ بِنِصْفِ يَوْمٍ خَمْسِمِائَةِ عَامٍ

Orang beriman yang miskin akan masuk surga sebelum orang-orang kaya yaitu lebih dulu setengah hari yang sama dengan 500 tahun.”

(HR. Ibnu Majah,Tirmidzi).


PERTAPA MUDA
 
Kepada Ibrohim dikabarkan mengenai seorang pertapa remaja yang telah memperoleh pengalaman-pengalaman menakjubkan dan telah melakukan disiplin diri yang sangat keras.
 
Antarkanlah aku, kepadanya karena aku ingin sekali bertemu dengannya”, kata Ibrohim.
 
Mereka mengantarkan Ibrohim ke tempat si pemuda bertapa itu, “Jadilah tamuku selama tiga hari”, si pemuda mengundang lbrohim.
Dan ibrohim menerima undangannya dan selama itu pula lbrohim memperhatikan tingkah lakunya. Ternyata yang disaksikan Ibrohim lebih menakjubkan daripada yang telah didengarnya dari sahabat-sahabatnya. Sepanjang malam si pemuda tidak pernah tertidur atau terlena. Menyaksikan semua ini Ibrohim merasa iri.
 
"Aku sedemikian lemah, tidak seperti pemuda ini yang tak pernah tidur dan beristirahat sepanjang malam. Aku akan mengamati dirinya lebih seksama”, Ibrohim berkata dalam hati. “Akan kuselidiki apakah syaithan telah merasuk ke dalam tubuhnya atau apakah semua ini wajar sebagaimana yang semestinya. Aku harus meneliti sedalam-dalamnya. Yang menjadi inti persoalan adalah apa yang dimakan oleh seseorang.”
 
Maka diselidikinyalah makanan si pemuda. Ternyata si pemuda memperoleh makanan dari sumber yang tidak halal.
 
"Maha Besar Allah, ternyata semua ini adalah perbuatan syaithan”. Ibrohim berkata dalam hati.
 
"Aku telah menjadi tamumu selama tiga hari”, kata Ibrohim. "Kini engkaulah yang menjadi tamuku selama empat puluh hari!”.
 
Si pemuda setuju. Ibrohim membawa si pemuda ke rumahnya dan menjamunya dengan makanan yang telah diperolehnya dengan memeras keringatnya sendiri. Seketika itu juga kegembiraan si pemuda hilang. Semua semangat dan kegesitannya buyar. Ia tidak dapat lagi hidup tanpa istirahat dan tidur, la lalu menangis.
 
"Apakah yang telah engkau perbuat terhadapku?” tanya si pemuda kepada Ibrohim.
 
Makananmu engkau peroleh dari sumber yang tak halal. Setiap saat syaithan merasuk ke dalam tubuhmu. Tetapi begitu engkau menelan makanan yang halal, maka ketahuanlah bahwa semua hal-hal menakjubkan yang dapat engkau lakukan selama ini adalah pekerjaan syaitan.”
 

SETIA KAWAN
 
Sahi bin Ibrohim berkisah : "Ketika melakukan perjalanan dengan Ibrohim bin Adham aku jatuh sakit. Ibrohim menjual segala sesuatu yang dimilikinya dan mempergunakan uang yang diperolehnya itu untuk merawat diriku. Kemudian aku memohonkan sesuatu dari Ibrohim dan ia menjual keledainya dan hasil penjualan itu diperuntukkannya padaku. Setelah sembuh aku bertanya kepada Ibrahim: “Di manakah keledaimu?”
 
Telah kujual”, jawab Ibrahim.
 
Apakah tungganganku?”, tanyaku.
 
Saudaraku”, jawab Ibrohim, “naiklah ke atas punggungku ini”. Kemudian ia mengangkat tubuhku ke atas pungungnya dan menggendongku sampai ke persinggahan yang ketiga dari tempat itu. 
 

BELAS KASIH TERHADAP SAHABAT
 
Setiap hari Ibrohim pergi keluar rumah untuk menjual tenaganya., bekerja hingga malam, dan seluruh pendapatannya digunakan untuk kepentingan sahabat-sahabatnya. Suatu hari, ia baru membeli makanan setelah selesai sholat Isya' dan kembali kepada sahabat-sahabatnva ketika hari telah larut malam.
 
Sahabat-sahabatnya berkata sesama mereka: “Ibrohim terlambat datang, marilah kita makan roti kemudian tidur. Hal ini akan menjadi peringatan kepada Ibrohim, agar lain kali agar ia pulang lebih cepat dan tidak membiarkan kita lama menunggu-nunggu".
 
Niat itu mereka laksanakan. Sewaktu Ibrohim pulang, dilihatnya sahabat-sahabatnya sudah tertidur. Mengira bahwa mereka belum makan dan tidur dengan perut kosong, Ibrohim lalu menyalakan api. Ia membawa sedikit gandum. Maka dibuatnyalah makanan untuk santapan sahabat-sahabatnya itu apabila mereka terbangun nanti, dengan demikian mereka dapat berpuasa esok hari.
Sahabat-sahabatnya terbangun, melihat Ibrohim sedang meniup api, janggutnya menyentuh lantai dan air matanya meleleh karena asap yang mengepul-ngepul di sekelilingnya.
 
Apakah yang sedang engkau lakukan,’’ tanya mereka. 

Kulihat kalian sedang tertidur”, jawab Ibrahim. "Aku mengira kalian tertidur dalam keadaan lapar karena belum makan, ini kubuatkan makanan untuk kalian makan setelah bangun dari tidur.”
 
Betapa ia memikirkan diri kita dan betapa kita berpikir yang bukan-bukan mengenai dirinya”, mereka berkata saling berpandang-pandangan.
 
KEBAHAGIAAN SUFI
 
Sejak engkau menempuh kehidupan yang seperti ini, apakah engkau pernah mengalami kebahagiaan?”, seseorang bertanya kepada Ibrohim.
 
Sudah beberapa kali”, jawab Ibrohim. “Pada suatu ketika aku sedang berada di atas sebuah kapal dan nakhoda tak mengenal diriku. Aku mengenakan pakaian yang lusuh dan rambutku belum dicukur. Aku sedang berada dalam suatu ekstase spiritual namun tak seorang pun di atas kapal itu yang mengetahuinya. Mereka menertawai dan memperolok-olokkanku. Di atas kapal itu ada seorang pembadut. Setiap kali ia menghampiriku ia menjambak rambutku dan menampar tengkukku. Pada saat itu aku merasakan bahwa keinginanku telah tercapai dan aku merasa sangat bahagia karena dihinakan sedemikian rupa”.
 
“Tanpa terduga-duga, datanglah gelombang raksasa. Semua yang berada di atas kapal kuatir kalau-kalau mereka akan tenggelam. Salah seorang di antara penumpang harus dilemparkan ke luar agar muatan jadi ringan!”, teriak juru mudi. Mereka segera meringkusku untuk dilemparkan ke laut. Tetapi untunglah seketika itu juga gelombang mereda dan perahu itu tenang kembali. Pada saat mereka menarik telingaku untuk dilemparkan ke laut itulah aku merasakan bahwa keinginanku telah tercapai dan aku merasa sangat berbahagia”.
 
"Dalam peristiwa yang lain, aku pergi ke sebuah masjid untuk tidur di sana. Tetapi orang-orang tidak mengizinkan aku tidur di dalam masjid itu sedang aku sedemikian lemah dan letih sehingga tak sanggup berdiri Untuk meninggalkan tempat itu. Orang-orang menarik kakiku dan menyeretku ke luar. Masjid itu mempunyai tiga buah anak tangga. Setiap kali membentur anak tangga itu, kepalaku mengeluarkan darah. Pada saat itu aku merasa bahwa keinginanku telah tercapai. Sewaktu mereka melemparkan diriku ke anak tangga yang berada di bawah, misteri alam semesta terbuka kepadaku dan aku berkata di dalam hati: 'Mengapa masjid ini tidak mempunyai lebih banyak anak tangga sehingga semakin bertambah pula kebahagiaanku!”.
 
“Dalam peristiwa lain, aku sedang asyik dalam ekstase. Seorang pembadut datang dan mengencingiku. Pada saat itu aku pun merasa berbahagia”.
 
“Dalam sebuah peristiwa, aku mengenakan sebuah mantel bulu. Mantel itu penuh dengan tuma (kutu) yang tanpa ampun lagi mengganyang tubuhku. Tiba-tiba aku teringat akan pakaian bagus yang tersimpan di dalam gudang, tetapi hatiku berseru: ‘Mengapa? Apakah semua itu menyakitkan? Pada saat itu aku merasa bahwa keinginanku telah tercapai!”
 
PASRAH
 
Ibrohim berkisah: "Pada suatu hari ketika aku sedang mengarungi padang pasir dan aku berpasrah diri kepada Alloh. Telah beberapa hari lamanya aku tidak makan. Aku teringat kepada seorang sahabat tetapi aku segera berkata kepada diriku sendiri, “Jika aku pergi ke tempat sahabatku, apakah gunanya kepasrahanku kepada Alloh?”.
 
Kemudian aku memasuki sebuah masjid sambil bibirku bergerak-gerak menggumamkan: "Aku telah mempercayakan diriku kepada Dia Yang Hidup dan tak pernah mati, Tidak ada Tuhan selain-Nya”.
 
Sebuah suara berseru dari langit: “Maha besar Alloh yang telah mengosongkan bumi bagi orang-orang yang berpasrah diri kepada-Nya”. Aku bertanya: “Mengapakah demikian?”
 
Suara itu menjawab: “Betapakah seseorang benar-benar berpasrah diri kepada Alloh, melakukan perjalanan jauh demi sesuap makanan yang dapat diberikan sembarang sahabatnya, kemudian menyatakan ‘Aku telah memasrahkan diriku kepada Yang Hidup dan tidak pernah mati?’ Engkau telah memberikan ucapan berpasrah kepada Alloh kepada seseorang pendusta”.
 
BUKAN HAK SEORANG HAMBA
 
Ibrahim berkisah: Pada suatu ketika aku membeli seorang hamba “Siapakah namamu?”, tanyaku kepadanya.
 
Panggilanmu terhadapku”, jawabnya.
 
Apakah yang engkau makan?” tanya Ibrohim
 
Makanan yang kau berikan untuk kumakan” jawabnya,
 
Ibrohim bertanya, “Pakaian apakah yang engkau pakai?”
 
“Pakaian yang engkau berikan untuk kukenakan”, jawab si hamba kepadaku,
 
Apakah yang engkau kerjakan?” tanya Ibrohim
 
Pekerjaan yang engkau perintahkan kepadaku.” jawab ia,
 
Apakah yang engkau inginkan?” tanya Ibrohim
 
Apakah hak seorang hamba untuk menginginkan?”, jawabnya.
 
Celakalah engkau”; kataku kepada diriku sendiri, “seumur hidup engkau adalah hamba Alloh. Kini ketahuilah bagaimana seharusnya menjadi seorang hamba.”
 
Sedemikian lamanya aku menangis sehingga aku tidak sadarkan diri.
 
TAK PERNAH BERSILA
 
Tak seorang pun pernah menyaksikan Ibrohim duduk bersila. “Mengapa engkau tak pernah duduk bersila?”, tanya seseorang kepada Ibrohim,
 
Ibrohim menjawab:’ “Pada suatu hari ketika aku duduk bersila terdengar olehku suara yang berkata kepadaku: “Wahai anak Adham, apakah hamba-hamba duduk seperti itu di hadapan tuan mereka?’ Segeralah aku duduk tegak dan memohon ampunan”.
 
GODAAN SYAITHAN
 
Ibrohim berkisah: "Pada suatu ketika aku berjalan menempuh padang pasir sambil memasrahkan diri kepada Alloh. Sudah tiga hari lamanya aku tidak makan. Kemudian syaithan datang kepadaku dan menggoda: “Apakah engkau meninggalkan kerajaanmu beserta kemegahan-kemegahan yang sedemikian banyak hanya untuk pergi ke tanah suci dalam keadaan lapar seperti ini? Sesungguhnya engkau dapat melakukan hal yang serupa tanpa penderitaan ini”.
 
Setelah mendengar kata-kata syaithan itu aku tengadahkan kepalaku dan berseru kepada Alloh: “Ya Alloh, apakah Engkau lebih suka mengangkat musuh-Mu daripada sahabat-Mu untuk menyiksa diriku? Kuatkanlah diriku karena aku tak sanggup menyeberangi padang pasir ini tanpa pertolonganmu”.
 
Maka terdengarlah olehku sebuah seruan:
 
Ibrohim, campakkanlah yang di dalam sakumu itu sehingga Kami boleh mendatangkan karunia Kami dari alam ghaib”.
 
Aku rogoh sakuku, kudapatkan empat buah mata uang perak yang tanpa sengaja terbawa olehku. Begitu aku melemparkan uang itu, si syaithan lari meninggalkan diriku dan secara ghaib di depanku telah terhidang makanan.
 
TAK PERNAH MENCICIPI
 
Aku pernah bekerja menjaga sebuah kebun buah-buahan. Pada suatu hari pemilik kebun itu datang kepadaku dan berkata: “Ambil kanlah padaku beberapa buah delima yang manis rasanya”. Maka kuambilkan beberapa buah tetapi ternyata rasanya asam.
 
Bawakanlah buah-buahan yang manis”, si pemilik kebun mengulangi perintahnya. Maka kubawakan delima sepinggan penuh, namun buah-buahan itu asam pula rasanya.
 
Si pemilik kebun berseru: “Masya-Alloh, telah sedemikian lama engkau bekerja di kebun ini namun engkau tidak mengenal buah delima yang telah masak?”
 
‘’Aku menjaga kebunmu namun aku tak tahu bagaimana rasanya buah delima karena aku tak pernah mencicipinya”, jawabku. Maka berkatalah si pemilik kebun: “Dengan keteguhan, yang seperti ini, aku mempunyai persangkaan bahwa engkau adalah Ibrohim bin Adham”.
 
Setelah mendengar kata-kata tersebut segeralah aku meninggalkan tempat itu.
 
CATATLAH NAMAKU JIBRIL!
 
Ibrohim mengisahkan: Pada suatu malam, dalam sebuah mimpi kulihat Jibril 'Alaihis Salam turun ke bumi membawa segulung kertas di tangannya.
 
Aku bertanya kepadanya: “Apakah yang hendak engkau lakukan?”
 
Aku hendak mencatat nama sahabat-sahabat Alloh”, jawab Jubril.”
 
Catatlah namaku,” aku bermohon kepadanya.
 
Engkau bukan salah seorang di antara sahabat-sahabat Alloh”, jawab Jibril.
 
Tetapi aku adalah seorang sahabat dari sahabat-sahabat Alloh itu”, aku bermohon hampir putus asa.
 
Beberapa saat Jibril terdiam. Kemudian ia berkata: “Telah kuterima sebuah perintah: 'Tuliskanlah nama Ibrohim di tempat paling atas karena di dalam jalan ini harapan tercipta dari keputusasaan.”
 
DO’A TULUS
 
Suatu hari ketika Ibrohim sedang berada di sebuah padang pasir, seorang tentara menegurnya:
 
Siapakah engkau?”
 
‘"Seorang hamba”, jawab Ibrohim.
 
Manakah jalan ke perkampungan?”, tanya tentara itu. Ibrohim lalu menunjuk ke sebuah pemakaman.
 
Engkau memperolok-olokkan aku!”, hardik si tentara, kemudian memukul kepala Ibrohim hingga luka dan berdarah. Setelah itu ia mengalungkan tali ke leher Ibrohim dan menyeretnya. Beberapa orang dari kota yang terletak di dekat tempat kejadian itu kebetulan lewat. Menyaksikan hal ini mereka berhenti dan berseru:
 
Hai orang bodoh, orang ini adalah Ibrohim bin Ad-ham, sahabat Alloh!..."
 
Sardadu itu cepat berlutut di depan Ibrohim, bermohon agar ia dimaafkan.
 
Engkau mengatakan bahwa engkau adalah seorang hamba”, si serdadu mencoba membela diri.
 
Siapakah orangnya yang bukan hamba?”, tanya Ibrohim.
 
Aku telah melukai kepalamu tetapi engkau malah mendoakan keselamatanku”.
 
Aku mendoakan agar engkau memperoleh berkah karena perlakuanmu terhadap diriku”, jawab Ibrohim. “Imbalan terhadap diriku karena perlakuanmu itu adalah surga dan aku tidak tega jika imbalan untukmu adalah neraka”.
 
Mengapakah engkau menunjukkan pemakaman ketika aku menanyakan jalan ke perkampungan?”, tanya si serdadu.
 
Ibrohim menjawab: “Karena semakin lama, pemakaman semakin penuh sedang kota semakin kosong”.
 
MEMULIAKAN ALLAH
 
Suatu hari Ibrohim bertemu dengan seorang yang sedang mabuk. Mulutnya berbau busuk. Segera Ibrohim mengambil air dan dibasuhnya mulut si pemabuk itu sambil berkata kepada dirinya sendiri:
 
Apakah akan kubiarkan mulut yang pernah mengucapkan nama Alloh di dalam keadaan kotor. Itu namanya tidak memuliakan Alloh”.
 
Ketika si pemabuk siuman, orang-orang berkata kepadanya: “Pertapa dari Khurasan telah membasuh mulutmu”.
 
Si pemabuk menjawab: “Sejak saat ini aku bertaubat!”.
 
Setelah bertaubat demikian, Ibrohim di dalam mimpinya mendengar sebuah seruan kepada dirinya:
 
Engkau telah membasuh sebuah mulut demi AKU dan AKU telah membasuh hatimu”.
 
MENUMPANG PERAHU
 
Rojah berkisah: Ketika aku dan Ibrohim sedang menumpang sebuah perahu, tiba-tiba angin topan datang menerpa dan bumi menjadi kelam. Aku berteriak: “Perahu kita akan tenggelam!”.
 
Tetapi dari langit kudengar sebuah suara:
 
Jangan kuatirkan perahu akan tenggelam karena Ibrohim bin Adham ada beserta kalian”.
 
Segera setelah itu angin mereda dan bumi yang kelam menjadi terang kembali.
 
TAK BISA BAYAR
 
Ibrohim menumpang sebuah perahu tetapi ia tidak mempunyai uang. Kemudian terdengar sebuah pengumuman: “Setiap orang harus memberikan satu dinar”.
 
Ibrohim segera shalat sunnat dua raka’at dan berdoa:
 
Ya Alloh, mereka meminta ongkos tetapi aku tak mempunyai uang”.
 
Mendadak lautan luas berubah menjadi emas. Ibrohim mengambil segenggam dan memberikannya kepada mereka.
 
KEMBALIKAN JARUMKU
 
Suatu hari Ibrohim duduk di tepi sungai Tigris menjahit jubah tuanya. Jarumnya terjatuh ke dalam sungai: Seseorang bertanya kepadanya: “Engkau telah meninggalkan sebuah kerajaan yang jaya, tetapi apakah yang telah engkau peroleh sebagai imbalan?”
 
Sambil menunjuk ke sungai, Ibrohim berseru:
 
Kembalikanlah jarumku!”
 
Seribu ekor ikan mendongakkan kepala ke permukaan air, masing-masing dengan sebuah jarum emas di mulutnya. Kepada ikan-ikan itu Ibrohim berkata:
 
Yang aku inginkan adalah jarumku sendiri”.
 
Seekor ikan yang kecil dan lemah datang mengantarkan jarum kepunyaan Ibrohim di mulutnya.
 
Jarum ini adalah salah satu di antara imbalan-imbalan yang kuperoleh karena meninggalkan kerajaan Balkh. Sedang yang lain-lainnya belum engkau ketahui”.
 
SUMUR HARTA
 
Suatu hari Ibrohim pergi ke sebuah sumur. Timba diturunkan- nya dan ketika diangkat ternyata timba itu penuh dengan kepingan emas. Emas-emas itu ditumpahkannya kembali ke dalam sumur. Kemudian timba diturunkan dan ketika diangkat ternyata penuh pula dengan butiran butiran mutiara. Dengan jenaka mutiara-mutiara itu ditumpahkannya pula. Kemudian Ibrohim berdoa kepada Alloh “Ya Allah, Engkau menganugerahiku dengan harta karun. Aku tahu bahwa Engkau Maha Kuasa, tetapi Engkaupun tahu bahwa aku pun tak terpesona oleh harta  benda. Berilah aku air agar aku dapat bersuci.”
 
POHON EMAS
 
Ketika Ibrahim menyertai sebuah rombongan yang hendak berziarah ke tanah suci. Mereka berkata: “Tak seorang pun di antara kita yang mempunyai unta maupun perbekalan”.
 
Percayalah bahwa Alloh akan menolong kita”, kata Ibrohim. Setelah diam sebentar, ia menambahkan: “Pandanglah pohon-pohon di sana. Jika emas yang kalian inginkan; maka pohon-pohon itu niscaya akan berubah menjadi emas”.
 
Dan seketika itu juga pohon-pohon akasia itu, dengan kekuasaan Alloh Yang Maha Besar, berubah menjadi emas.
 
DAGING YANG HALAL
 
Ibrohim sedang berjalan dengan sebuah rombongan, mereka tiba di sebuah benteng. Di depan benteng itu banyak terdapat semak belukar.
 
Baiklah kita bermalam di sini karena di tempat ini banyak semak belukar sehingga kita dapat membuat api unggun”, kata mereka. 
 
Mereka pun menghidupkan api dan duduk di sekelilingnya. Semuanya memakan roti kering ketika Ibrohim sedang berdiri dalam sholatnya. Salah seorang di antara mereka berkata: “Seandainya kita mempunyai daging yang halal untuk kita panggang di atas api ini!”,
 
Setelah selesai sholat, Ibrohim .berkata kepada mereka: “Sudah pasti Alloh dapat memberikan daging yang halal kepada kamu sekalian”.
 
Setelah selesai berkata demikian Ibrohim bangkit dan sholat kembali. Tiba-tiba terdengar auman seekor singa yang menyeret keledai liar. Singa itu menghampiri mereka. Keledai itu mereka ambil, mereka, panggang untuk kemudian mereka makan sementara si singa duduk memperhatikan segala tingkah laku mereka.

KELIRU MENGAMBIL PELAJARAN

Syaqiiq Al-Balkhi adalah teman Ibrohim bin Adham yang dikenal ahli ibadah, zuhud dan tinggi tawakalnya kepada Alloh. Hingga pernah sampai pada tataran enggan untuk bekerja.
Penasaran dengan keadaan temannya, Ibrohim bin Adham bertanya, “Apa sebenarnya yang menyebabkan Anda bisa seperti ini?”
Syaqiiq menjawab, “Ketika saya sedang dalam perjalanan di padang yang tandus, saya melihat seekor burung yang patah kedua sayapnya. Lalu saya berkata dalam hati, aku ingin tahu, dari mana burung itu mendapatkan rizki. Maka aku duduk memperhatikannya dari jarak yang dekat. Tiba-tiba datanglah seekor burung yang membawa makanan di paruhnya. Burung itu mendekatkan makanan ke paruh burung yang patah kedua sayapnya untuk menyuapinya. Maka saya berkata dalam hati, “Dzat yang mengilhami burung sehat untuk menyantuni burung yang patah kedua sayapnya di tempat yang sepi ini pastilah berkuasa untuk memberiku rejeki di manapun aku berada. Maka sejak itu, aku putuskan untuk berhenti bekerja dan aku menyibukkan diriku dengan ibadah kepada Alloh."
Mendengar penuturan Syaqiiq tersebut Ibrohim berkata: "Wahai Syaqiiq, mengapa kamu serupakan dirimu dengan burung yang cacat itu? Mengapa Anda tidak berusaha menjadi burung sehat yang memberi makan burung yang sakit itu? Bukankah itu lebih utama?"
Ibrohom menuturkan: "Bukankah Nabi Sholallohu 'Alaihi Wassalam bersabda:“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah?”
Sudah selayaknya bagi seorang mukmin memilih derajat yang paling tinggi dalam segala urusannya, sehingga dia bisa mencapai derajat orang yang berbakti?"
Sudah selayaknya bagi seorang mukmin memilih derajat yang paling tinggi dalam segala urusannya, sehingga dia bisa mencapai derajat orang yang berbakti?"
Syaqiiq tersentak dengan pernyataan Ibrahim dan ia menyadari kekeliruannya dalam mengambil pelajaran. Serta merta diraihnya tangan Ibrohim dan dia cium tangan itu sambil berkata, “Sungguh. Anda adalah ustadzku, wahai Abu Ishaq (Ibrohim).”

TANGISAN IBRAHIM BIN ADHAM DI PEMANDIAN UMUM

Suatu hari, seorang tokoh sufi besar, Ibrohim bin Adham, mencoba untuk memasuki sebuah tempat pemandian umum. Penjaganya meminta uang untuk membayar karcis masuk. Ibrohim menggeleng dan mengaku bahwa ia tak punya uang untuk membeli karcis masuk.
Penjaga pemandian lalu berkata, “Jika engkau tidak punya uang, maka engkau tak boleh masuk.”
Ibrohim seketika menjerit dan tersungkur ke atas tanah. Dari mulutnya terdengar ratapan-ratapan kesedihan. Para pejalan yang lewat berhenti dan berusaha menghiburnya. Seseorang bahkan menawarinya uang agar ia dapat masuk ke tempat pemandian.
Ibrohim menjawab, “Aku menangis bukan karena ditolak masuk ke tempat pemandian ini. Ketika si penjaga meminta ongkos untuk membayar karcis masuk, aku langsung teringat pada sesuatu yang membuatku menangis. Jika aku tak diizinkan masuk ke pemandian dunia ini kecuali jika aku membayar tiket masuknya, harapan apa lagi yang dapat aku andalkan agar diizinkan memasuki surga? Apa yang akan terjadi padaku jika mereka menuntut: Amal sholih apa yang telah kau bawa? Apa yang telah kau kerjakan yang cukup berharga untuk boleh dimasukkan ke surga? Sama ketika aku diusir dari pemandian karena tak mampu membayar, aku tentu tak akan diperbolehkan memasuki surga jika aku tak mempunyai amal sholih apa pun. Itulah sebabnya aku menangis dan meratap.”
Dan orang-orang di sekitarnya yang mendengar ucapan itu langsung terjatuh dan menangis bersama Ibrohim.


KARENA SEBUTIR KURMA

Selesai menunaikan ibadah haji, Ibrohim bin Adham berniat ziarah ke mesjidil Aqso. Untuk bekal di perjalanan, ia membeli 1 kg kurma dari pedagang tua di dekat mesjidil Harom.Setelah kurma ditimbang dan dibungkus, Ibrohim melihat sebutir kurma tergeletak didekat timbangan. Menyangka kurma itu bagian dari yang ia beli, Ibrohim memungut dan memakannya.
Setelah itu ia langsung berangkat menuju Al Aqso. 4 Bulan kemudian, Ibrohim tiba di Al Aqso. Seperti biasa, ia suka memilih sebuah tempat beribadah pada sebuah ruangan dibawah kubah Sakhra. Ia sholat dan berdoa khusuk sekali. Tiba tiba ia mendengar percakapan dua Malaikat tentang dirinya.
“Itu, Ibrohim bin Adham, ahli ibadah yang zuhud dan wara yang doanya selalu dikabulkan ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala,” kata malaikat yang satu.

“Tetapi sekarang tidak lagi. doanya ditolak karena 4 bulan yg lalu ia memakan sebutir kurma yang jatuh dari meja seorang pedagang tua di dekat mesjidil harom,” jawab malaikat yang satu lagi.

Ibrohim bin adham terkejut sekali, ia terhenyak, jadi selama 4 bulan ini ibadahnya, sholatnya, doanya dan mungkin amalan-amalan lainnya tidak diterima oleh ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala, gara-gara memakan sebutir kurma yang bukan haknya.

“Astaghfirullohal adzhim” Ibrohim memohon ampunan Alloh.

 Ia langsung berkemas untuk berangkat lagi ke Mekkah menemui pedagang tua penjual kurma. Untuk meminta dihalalkan sebutir kurma yang telah ditelannya.
Begitu sampai di Mekkah ia langsung menuju tempat penjual kurma itu, tetapi ia tidak menemukan pedagang tua itu melainkan seorang anak muda.
“4 bulan yang lalu saya membeli kurma disini dari seorang pedagang tua. kemana ia sekarang ?” tanya Ibrohim.

“Sudah meninggal sebulan yang lalu, saya sekarang meneruskan pekerjaannya berdagang kurma” jawab anak muda itu.

“Innalillahi wa innailaaihi roji’un, kalau begitu kepada siapa saya meminta penghalalan ?”. Lantas ibrohim menceritakan peristiwa yg dialaminya, anak muda itu mendengarkan penuh minat.

Nah, begitulah” kata ibrohim setelah bercerita, “Engkau sebagai ahli waris orangtua itu, maukah engkau menghalalkan sebutir kurma milik ayahmu yang terlanjur aku makan tanpa izinnya?”.

Lantas pemuda itu berkata: “Bagi saya tidak masalah. Insya ALLOH saya halalkan. Tapi entah dengan saudara-saudara saya yang jumlahnya 11 orang. Saya tidak berani mengatas nama kan mereka karena mereka mempunyai hak waris sama dengan saya.”

“Dimana alamat saudara-saudaramu ? biar saya temui mereka satu persatu.” jawab Ibrohim penuh semangat,

Setelah menerima alamat, ibrohim bin adham pergi menemui. Biar berjauhan, akhirnya selesai juga. Semua setuju menghalakan sebutir kurma milik ayah mereka yang termakan oleh ibrohim.

4 bulan kemudian, Ibrohim bin adham sudah berada dibawah kubah Sakhra. Tiba tiba ia mendengar dua malaikat yang dulu terdengar lagi bercakap cakap. “Itulah ibrohim bin adham yang doanya tertolak gara gara makan sebutir kurma milik orang lain.” 

“O, tidak.., sekarang doanya sudah makbul lagi doanya, ia telah mendapat penghalalan dari ahli waris pemilik kurma itu.. Diri dan jiwa Ibrohim kini telah bersih kembali dari kotoran sebutir kurma yang harom karena masih milik orang lain. Sekarang ia sudah bebas.” kata malaikat yang lainnya.


Pesan :
Adakah manusia jaman sekarang yang rela meninggalkan gemerlap harta dan kedudukan tinggi kemudian hidup sederhana bahkan kelewat sederhana seperti Syaikh Ibrohim bin Adham Rodhiallohu'anhu, seorang Raja Balkh yang memilih jalan sufi sebagai jalan hidupnya.

Read More

Senin, 20 April 2020

KEBODOHAN DAN KESOMBONGAN

Alloh tidak akan pernah merasa bosan untuk selalu mengampuni kita,

Sampai kita merasa bosan untuk melakukan keburukan (jahiliyah/kebodohan).

Orang yang suka membicarakan orang lain, menghina orang lain atau golongan, secara tidak sadar dia telah menontonkan kebodohan & kehinaan dirinya sendiri.

Kenapa?

Karana dia merasa dirinya paling benar, bukan kah itu salah satu sifat orang sombong.

kita semua tahu bahwa makhluk paling sombong adalah syaithan,

Apabila ada orang yang sombong, maka dia lah syaithan yang nyata, Alloh memberi tahu kita untuk berhati-hati terhadap syaitan yang nyata itu.
Selain dia bisa menyesatkan kita dengan ucapan manisnya, dia juga bisa menarik kita untuk mendapatkan murka Alloh.

Dan kita pun tahu bahwa syaithan itu dilaknat Alloh.

Maka sama halnya orang sombong mengundang murka Alloh.

Apabila kita berniat untuk meluruskan sesuatu yang kurang benar, ajaklah berbicara 4 mata, ajaklah kembali kepada Alloh, apabila masih bersikeras (kaku/jumud), sabarlah, tinggalkanlah, karana belum waktunya dia mendapat hidayah Alloh.

Syaikh ibnu Atho'illah berkata dalam kitab hikam: segala sesuatu di dunia ini ada waktunya, waktunya miskin, waktunya kaya, waktunya sehat, waktunya sakit, waktunya mursal, waktunya taubat, waktunya meninggalkan dunia (maut/mati),dll
Read More

KISAH SUFI SYAIKH HASAN AL - BASHRI, RODHIALLOHU'ANHU


Nasihat Tuhan untuk Sang Wali

Pada suatu hari, Hassan Al-Bashri pergi mengunjungi Habib Ajmi, seorang sufi besar lain. Pada waktu salatnya, Hassan mendengar Ajmi banyak melafalkan bacaan sholatnya dengan keliru. Oleh karena itu, Hasan memutuskan untuk tidak sholat berjamaah dengannya. Ia menganggap kurang pantaslah bagi dirinya untuk sholat bersama orang yang tidak mengucapkan bacaan sholat dengan benar.

Di malam harinya, Hassan Al-Bashri bermimpi. Ia mendengar Tuhan berbicara kepadanya, “Hasan, jika saja kau berdiri di belakang Habib Ajmi dan menunaikan sholatmu, kau akan memperoleh keridaan-KU, dan salat kamu itu akan memberimu manfaat yang jauh lebih besar daripada seluruh sholat dalam hidupmu. Kau mencoba mencari kesalahan dalam bacaan sholatnya, tapi kau tak melihat kemurnian dan kesucian hatinya. Ketahuilah, Aku lebih menyukai hati yang tulus daripada pengucapan tajwid yang sempurna.

Tetanga Nasrani

Imam Hassan Al Bashri adalah seorang ulama tabi’in terkemuka di kota Basroh, Irak. Beliau dikenal sebagai ulama yang berjiwa besar dan mengamalkan apa yang beliau ajarkan. Beliau juga dekat dengan rakyat kecil dan dicintai oleh rakyat kecil.

Imam Hassan Al Bashri memiliki seorang tetangga nasrani. Tetangganya ini memiliki kamar kecil untuk kencing di loteng di atas rumahnya. Atap rumah keduanya bersambung menjadi satu. Air kencing dari kamar kecil tetangganya itu merembes dan menetes ke dalam kamar Imam Hasan Al Bashri. Namun beliau sabar dan tidak mempermasalahkan hal itu sama sekali. Beliau menyuruh istrinya meletakkan wadah untuk menadahi tetesan air kencing itu agar tidak mengalir ke mana-mana.

Selama dua puluh tahun hal itu berlangsung dan Imam Hassan Al Bashri tidak membicarakan atau memberitahukan hal itu kepada tetangganya sama sekali. Dia ingin benar-benar mengamalkan sabda Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wassalam. “Siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhir maka muliakanlah tetangganya.”

Suatu hari Imam Hasan Al Bashri sakit. Tetangganya yang nasrani itu datang ke rumahnya menjenguk. Ia merasa aneh melihat ada air menetes dari atas di dalam kamar sang Imam. Ia melihat dengan seksama tetesan air yang terkumpul dalam wadah. Ternyata air kencing. Tetangganya itu langsung mengerti bahwa air kencing itu merembes dari kamar kecilnya yang ia buat di atas loteng rumahnya. Dan yang membuatnya bertambah heran kenapa Imam Hasan Al Bashri tidak bilang padanya.

Imam, sejak kapan Engkau bersabar atas tetesan air kencing kami ini ?” tanya si Tetangga.

Imam Hasan Al Bashri diam tidak menjawab. Beliau tidak mau membuat tetangganya merasa tidak enak. Namun …

Imam, katakanlah dengan jujur sejak kapan Engkau bersabar atas tetesan air kencing kami? Jika tidak kau katakan maka kami akan sangat tidak enak,” desak tetangganya.

Sejak dua puluh tahun yang lalu,” jawab Imam Hasan Al Bashri dengan suara parau.

Kenapa kau tidak memberitahuku ?

Nabi mengajarkan untuk memuliakan tetangga, Beliau bersabda, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka muliakanlah tetangganya !

Seketika itu si Tetangga langsung mengucapkan dua kalimat syahadat. Ia dan seluruh keluarganya masuk Islam.

Umpatan

Seseorang datang menemui Syekh al-Hasan. Dia bercerita bahwa dirinya baru saja diumpat oleh si Fulan. Syekh al-Hasan justru menyuruh orang tersebut untuk kembali menemui si Fulan.

“Ingat, kata ulama, orang yang suka mengumpat memasang senjata untuk melemparkan kebaikannya ke barat dan timur, serta ke kanan dan ke kiri,” kata Syekh al-Hasan.

Orang tadi lantas menuruti nasihat Syekh al-Hasan. Dia tak sekadar menemui tapi juga membawakan sebakul kurma rutab. Sembari menyerahkan sebakul kurma yang dibawanya, ia berkata dengan tenang: “Aku mendengar kabar bahwa engkau telah menghadiahkan kebaikanmu kepadaku. Maka terimalah kirimanku sebagai ucapan terimakasih.”

Apa lagi sebenarnya yang dikatakan Syekh al-Hasan hingga lelaki yang diumpat itu bisa sebaik demikian pada orang mengumpatnya? Ternyata, Syekh al-Hasan –seperti dikisahkan oleh Al-Ghazali—mengutipkan satu nasehat yang pernah didengarnya dari Syekh Ibn Mubarak.

Bunyinya pendek sekali: “Jika aku suka mengumpat, tentu aku mengumpat ibuku, sebab ibuku berhak menerima kebaikanku.”

"Oh Syaikh, Siapa ini ?"

Hasan al-Bashri, Rodhiallohu'anhu (semoga Allah memberikan Redho kepadanya) adalah seorang imam yang terkenal dan di masanya, hidup Habib Al-’Ajami, Quddusiallohu ruhhi (semoga Allah mensucikan jiwanya). Beliau bukan seorang Arab, tapi dari Persia atau Bukharo, dan (beliau) buta huruf.

Suatu ketika Habib al-’Ajami sedang duduk di depan khaniqohnya (pondokan untuk berdzikir), tiba-tiba Hasan al-Bashri datang dengan tergopoh-gopoh. “Oh Habib, sembunyikan aku karena Hajjaj, wakil gubernur, mengutus tentaranya untuk menangkapku. Sembunyikan aku!”
kata Hasan al Bashri. Dan Habib membalas “Masuklah ke dalam dan bersembunyilah.” Hassan masuk ke dalam dan menemukan sebuah tempat untuk bersembunyi. Beberapa saat kemudian, beberapa tentara menghampiri Habib, “Apakah anda melihat Hassan Al-Bashri?

Ya, Aku melihatnya di dalam. Dia ada di dalam.

Mereka masuk ke dalam dan melihat ke sekeliling, melihat ke segala arah, bahkan menyentuh kepala Hassan Al-Bashri, dan beliau melihat mereka dengan ketakutan. Kemudian pasukan itu keluar, dan berkata kepada Habib, ”Apa sekarang anda tidak malu (karena) anda telah berdusta. Di mana dia? Hajjaj akan berurusan dengan orang yang bekerja sama dengan Hasan al-Bashri, dan itu cocok dengan anda. Anda berkata bahwa dia berada di dalam, apakah anda tidak malu telah berdusta!

Di dalam, Aku tidak berdusta. Dia di dalam.”

Sekali lagi, mereka masuk. Lalu, dengan sangat marah, mereka pergi. Kemudian Hasan al-Bashri keluar. “Oh, Syaikh, apa ini? aku datang kapadamu, memintamu untuk menjagaku dan engkau mengatakan kepada tentara bahwa aku berada di dalam.
“Ya Hassan, ya Imam, najawt min sidqi-l-kalaam –engkau diselamatkan oleh kebenaranku! aku mengatakan kebenaran dan Alloh melindungimu karena aku berkata dengan jujur. Aku berkata, “Wahai Tuhanku, ini adalah Hassan Al-Bashri, hamba-MU, dia datang meminta pertolonganku, berkata, ‘Sembunyikan aku, jagalah aku!’ Aku tidak bisa melindunginya. Aku mempercayakan dia kepada-Mu, menyerahkan dia kepada-Mu sebagai amanat dariku. Engkau melindunginya.’ Aku hanya mengatakan hal itu dan membaca Ayat Al-Kursi.”

Karena itulah para tentara tiada pun dapat melihatnya.
Read More

PENGERTIAN ORANG SIDDIQIYYIN

Siddiqiyyin adalah "orang - orang yang berjalan dengan kejujuran", dan mereka sama sekali tidak akan bisa turun dan keluar dari suatu kedudukan maupun jabatan, baik di dalam hal pekerjaannya maupun di dalam bermasyarakat.

Karena Alloh telah mententukan, atau mentakdirkan, atau memberikan, atau menganugerahkan kepada mereka, julukan Siddiqiyyin tersebut. 

Dan sampai Alloh sendiri yang mengeluarkan atau menurunkan mereka, barulah mereka akan diberhentikan atau tidak dipilih kembali.

Sesungguhnya semua itu adalah kehendak Alloh sementara kita sebagaimana manusia biasa hanyalah mampu untuk menjalaninya saja, sesuai pengetahuan mereka.

Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi Wassallam bersabda:

 لاَ إِيمَانَ لِمَنْ لاَ أَمَانَةَ لَهُ ، وَلاَ دِينَ لِمَنْ لاَ عَهْدَ لَهُ 

Artinya:
Tidak ada keimanan bagi orang yang tidak beramanah. Dan tidak ada agama bagi orang yang tidak mememenuhi perjanjian.

Orang yang diberikan amanah harus benar-benar menjalankan amanah yang diberikan kepadanya.

Syaikh Hasan Al Bash_ri Rodhiallohu'anhu berkata:

إِنْ أَرَدْتَ أَنْ تَكُوْنَ مَعَ الصَّادِقِيْنَ، فَعَلَيْكَ بِالزُّهْدِ فِي الدُّنْيَا، وَالكَفُّ عَنْ أَهْلِ المِلَّةِ

Artinya:
 Apabila engkau ingin bersama orang-orang yang jujur, maka engkau wajib berzuhud terhadap dunia dan menahan diri dari (mengikuti) orang kafir.
Read More

Minggu, 19 April 2020

KISAH KAROMAH HADROTUS SYAIKH AL MURSYID DOKTOR ABUYA MUSTA'IN ROMLI, RODHIALLOHU 'ANHU


Hadrotus Syaikh Abuya Musta'in Romli mengetahui kapan beliau wafat

Pernah suatu ketika kiai Musta’in dawuh (berkata) pada sopirnya “Besok di sini rame, banyak mentri dan pejabat hadir.” Sang sopir nampak bingung dengan perkataan kiai Mustain, padahal sopir tadi tahu bahwa besok tidak ada acara apa pun di pondok pesantren.

Apa yang dikatakan Kiai Mustain menjadi kenyataan. Keesokan harinya banyak para pejabat dan menteri datang ke pondok Pesantren Darul ’ulum Jombang untuk berbela sungkawa atas wafatnya Hadrotus Syaikh Abuya Musta’in Romly, Rodhiallohu'anhu, Beliau wafat ketika sedang berzikir ba’da isya’ pada senin malam. 


Hadrotus Syaikh Abuya Musta’in Romly, Rodhiallohu'anhu pecah raga menjadi 2

Sang sopir Abuya Musta'in Romli mengantarkan beliau pada acara di sebuah kota, sedang pada hari itu ada 2 acara di kota yang berbeda dengan waktu yang bersamaan yaitu kota malang dan kota kediri. Kemudia sang sopir bertanya kepada Abuya mau kemana?, "Kita ke kediri saja", jawab Abuya musta'in.

Sesampainya di kediri, beliau langsung naik ke podium untuk memberikan siraman rohani, dan sang sopir meminta izin tuan rumah untuk meminjam telepon guna memberi kabar sekaligus meminta maaf kepada shohibul bait yang berada di kota malang, karana Kyai TA'in (sapaan akrab Abuya Musta'in) sedang memberikan tausiah di kota kediri. Namun begitu kaget setelah sang sopir mengetahui bahwa Kyai Ta'in sedang bertausiah juga di malang, dengan pakaian yang sama & mobil yang sama pula, sedang sang sopir faham benar bahwa mobil Abuya Musta'in cuma 1 yaitu merk mercy.


Mobil melaju sedang tetapi antara jombang magelang hanya 45 menit.

Suatu ketika Hadrotus Syaikh Abuya Musta’in Romly, Rodhiallohu'anhu sowan (silaturohim) ke syaikh muslikh, santri dari Kyai Romli yang mengembangkan Thoriqoh Qodiriyah Wan Naqsyabandiyah mranggen, semarang, beliau berangkat dari rejoso, peterongan, Jombang dengan kecepatan standard, sang sopir kaget karana sudah setengah perjalanan, sedang waktu yang sudah ditempuh kurang dari 30 menit, kemudian beliau bilang kepada kyai ta'in, "kita sudah sampai setengah perjalanan, tidak sampai setengah jam padahal saya nyopirnya biasa-biasa saja", beliau menjawab, "ya sudah diteruskan saja, tidak perlu kencang-kencang". Namun diluar dugaan, mereka sampai pas 40 menit dari jombang. Begitu penuturan sopir kyai ta'in kepada KH. Tuhani, santri yang paling dekat dengan kyai Ta'in.


Hadrotus Syaikh Abuya Musta’in Romly, Rodhiallohu'anhu membeli mobil baru tapi yang menaiki pertama adalah para santri & bukan dari keluarga beliau

KH. Tuhani, dawuh: "Disaat mobil mercy yang baru saja Hadrotus Syaikh Abuya Musta’in Romly, Rodhiallohu'anhu beli sampai di kediaman beliau, dekat dengan pendopo baru, Kyai Ta'in memanggil santri yang berada di situ untuk mencoba mobil baru milik Kyai Ta'in itu berkeliling pondok".

Wallohu 'alam bii showaf, lahum bii sirril fatihah...

Read More