Risalah yang telah dikumpulkan oleh Al Mursyid Al Arief Billaah K.H. Muhammad Romli Tamim, Rodhiallohu 'anhu, Peterongan, Jombang.
Dan sudah diterjemahkan didalam bahasa jawa oleh Al Mursyid Al Arief Billaah K.H. Muhammad Utsman bin Nadi Al Ishaqi, sawah pulo, surabaya.
Diterjemahkan kembali ke dalam bahasa indonesia oleh Asyauri bin Ma'ruf Al Makhdumi, Jakarta.
Dengan penyempurnaan /penambahan pembahsan berdasar pada Mursyid Thoriqoh Qodiriyah Wan Naqsyabamdiyah terdahulu, seperti Sayyidina Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu, Sayyidina Syaikh Bahauddin syah An Naqsyanandi Al Husaini, Imam Nawawi Al Bantani serta dari saya (Asyauri bin Ma'ruf Al Makhdumi,) selaku penerjemah bahasa indonesia karena rasa ketawadhu'an kepada masyayih/mursyid kita dalam bentuk tawasul (memasukkan nama-nama beliau dalam jajaran hadiah Fatihah). Tanpa merubah sedikitpun dari konteks yang asli yaitu penulis dan penyusun kitab Tsamroh Al Fikriyah ini.
Jama’ah Ahli Thariqoh Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Jombang.
وَاللهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوۡكُمْ
Dan Alloh Maha Mengetahui kesengsaraan kamu dan sejenisnya.
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ.
Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
الْحَمْدُ ِللهِ وَحْدَهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ
Segala Pujian hanya bagi Alloh semata. Dan semoga Alloh Azza Wa Jalla melimpahkan kesejahteraan dan kedamaian,
عَلَى رَسُوْلِ اللهِ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ,
kepada Rosululloh Nabi Muhammad Sholallohu 'Alaihi Wassalam, tidak ada Nabi setelah beliau,
لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ أَمَّا بَعْدُ.
Tidak ada Tenaga dan kekuatan kecuali bersama Alloh Azza Wa Jalla untuk seterusnya.
Kitab ini dinamakan risalah Tsamrotul Fikriyah, memikirkan/ajaran perilaku Thoriqoh Qodiriyah Wan Naqsyabandiyah. Silsilah kedua thoriqoh tadi dikumpulkan dari guru kita Al Arif Billaah Syaikh Ahmad Khothib Sambas yang makam beliau berada di Makkah Musyarrofah, kampung Suq Lail. Dan thoriqoh Naqsyabandiyah itu berasal dari Sayyidina Abu Bakr Ash-Shiddiq Rodhiyallohu ‘anu. Sedang Thoriqoh Qodiriyah itu berasal dari Sayyidina Ali karromallohu wajhah. Kedua Thoriqoh itu berasal dari Sayyidina Muhammad Rosulillah Shollallohu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Shohbihi Wa Sallam Ajma’in.
BAB I: Tata cara untuk talqin dan bai'at kedua thoriqoh tersebut dengan mengikuti syaikh guru kita:
Yaitu pertama-tama syaikh/mursyid bersama-sama dengan murid membaca:
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ.
Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Kemudian membaca:
اللَّهُمَّ افْتَحْ لِيْ بِفُتُوْحِ الْعَارِفِيْنَ. × 7
Wahai Alloh, bukakanlah aku bersama dengan pengetahuan yang mereka ketahui.
Kemudian membaca:
الْحَمْدُ ِللهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ
Segala puji bagi Alloh dan kesejahteraan serta keselamatan,
عَلَى حَبِيْبِ الْعَالِي الْعَظِيْمِ،
kepada kekasih-NYA yang tinggi serta agung kedudukannya di mata Alloh,
سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ نالْهَادِي إِلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيْمِ.
Baginda Nabi Muhammad Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wassallam yang menunjukkan kepada jalan yang lurus.
Setelah itu membaca:
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ.
Dengan menyebut Nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Kemudian membaca:
ٱسۡتَغۡفِرُ اللَّهَ الغَفُورٌ رَحِيمٌ ٢ x
Aku memohon ampuan kepada Alloh yang Maha mengapuni lagi Maha Penyayang.
Sebanyak 2 kali atau lebih banyak, kemudian membaca:
اَللَّهُمَّ صَلّى عَلىٰ مُحَمَّدٍ والَهِ وَسَلَّمَ
Yaa Alloh, berikanlah kesejahteraan dan keselamatan kepada Baginda Rosullulloh Muhammad Sholallohu 'Alaihi Wassalam
Sebanyak 2 kali atau lebih banyak,
Kemudian syaikh/mursyid/guru dzikir sampai mengucap kalimat:
لَا إلَهَ إِلاَّ اللَّهُ
Tidak ada Tuhan selain Alloh
Sebanyak 3 kali,
Kemudian murid/santri juga berdzikir mengikuti dzikirnya syaikh/mursyid/guru, sampai dzikir tadi ditutup/diakhiri dengan mengucap:
سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ رَسُوْل اللَّهُ
Baginda Nabi Muhammad Utusan Alloh
Kemudian ke dua-duanya yaitu syaikh/mursyid/guru beserta murid/santrinya membaca doa sholawat munjiat. Seperti ini tulisannya:
اَللّٰهُمَّ صَلِّى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلاَةً
Wahai Tuhanku, limpahkanlah kesejahteraan kepada junjungan kami Nabi Muhammadﷺ,
تُنْجِيْنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ اْلأَحْوَالِ وَالْاٰفَاتِ،
Yang melaluinya Engkau akan menyelamatkan kami dari semua keadaan yang menakutkan dan membahayakan,
وَتَقْضِيْ لَنَا بِهَا جَمِيعَ الْحَاجَاتِ،
Dan melaluinya Engkau mentakdirkan (mendatangkan) semua hajat kami,
وَتُطَهِّرُنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ السَيِّئَاتِ،
Dan melaluinya Engkau membersihkan dari semua keburukan kami,
وَتَرْ فَعُنَا بِهَا عِنْدَكَ اَعْلَى الدَّرَجَاتِ،
Dan melaluinya Engkau tinggikan derajat kami di sisi-MU,
وَتُبَلِّغُنَابِهَا اَقْصَى الْغَايَاتِ،
Dan melaluinya Engkau menyampaikan kami pada puncak tujuan,
مِنْ جَمِيْعِ الْخَيْرَاتِ،
Dari semua karunia (kebaikan-kabaikan),
فِى الْحَيَاةِ وَبَعْدَ الْمَمَاتِ.
Di dalam hidupku dan sesudah matiku.
Kemudian membaca:
اِنَّ الَّذِيْنَ يُبَايِعُوْنَكَ
Sesungguhnya orang-orang yang bersumpah setia kepada engakau,
اِنَّمَا يُبَايِعُوْنَ اللهَ.
sesungguhnya dia bersumpah kepada Alloh.
يَدُ اللهِ فَوْقَ اَيْدِيْهِمْ.
Tangan Alloh ada di atas tangan mereka.
فَمَنْ نَكَثَ فَاِنَّمَا يَنْكُثُ عَلَى نَفْسِهِ.
Maka siapa ingkar, maka sesungguhnya dia mengingkari dirinya sendiri.
وَمَنْ اَوْفَى بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ
Dan siapa termasuk memenuhi janji,
اللهَ فَسَيُؤْتِيْهِ اَجْرًا عَظِيْمًا.
maka kepadanya Alloh akan memberikan hadiah besar.
Kemudian membaca Al Fathihah yang ditujukan kepada ruh baginda Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wassallam dan kepada arwah masyayikh/para mursyid/para guru ahli silsilah Thoriqoh Qodiriyah Wan Naqsyabandiyah, khususnya ruh Sulthon 'awliya' Sayyidina Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Baghdadi dan Tho'ifah Shufiyyah Sayyidina Syaikh Junaid Al-Baghdadi Qoddasallohu sirrahuma, seperti ini:
١-إِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى،
Kepada kehadiran Nabi pilihan,
وَحَبِيْبَ الله، وَشَفِيْعِنَا، وَقُرَّةُ الْعَيْنِنَا،
dan kekasih Alloh, dan pemberi syafa'at bagi kami, dan penyejuk mata bagi kami,
سَيِّدِنَا رَسُوْلِ اللهِ مَحَمَّدٍ ﷺ
Utusan Alloh baginda Muhammad kepada beliau Alloh memberikan kesejahteraan dan kedamaian,
اَلْهَادِي إِلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيْمِ،
Dan menunjukkan jalan yang lurus,,
شَيْءٌ اللهِ بِسِّرِّ الْفَاتِحَة...
Segala sesuatu dari Alloh melalui rahasianya Alfatihah...
٢-ثُمَّ إِلَى حَضْرَةِ اَهلِی سِلسِلَةِ مَشَايِّخِ الطَّرِقَةِ الْقَدِرِيَّةِ وَالنَّقْشَبَنْدِيَّةِ أَجْمَعِيْنَ
Kemudian kepada kehadiran Para mursyid Thoriqoh Qodiriyah Wan Naqsyabandiyah seluruhnya,
وَخُصُوصًا إِلیٰ سُلْطَانِ الْأَوْلِيَآءِ سَيِّدِنَا الشَّيْجِ عَبْدِ القَادِرِ الجِيْلَانِى الْحَسَنِيْ قَدَّسَ اللهُ سِرُّهُ الْعَزِيْزُ،
Dan Khususnya kepada Rajanya Para Wali Alloh guru yang saya muliakan Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Alloh mensucikan rahasia beliau,
وَسَيِدِنَا الطّٰٓائِفَةِ الصُّوْفِيَّةِ أَبِى القَاسِمِ الْجُنَيْدِى الْبَغْدَادِيِّ،
Dan tuan mulia ketua para sufi Abu Qosim Junaid Al Baghdadi,
وَسَيِّدِنَا الشَّيْخِ مُحَمَّدٍ بَهَاءِ الدِّيْنِ النَّقْشَبَنْدِی،
Dan tuan mulia guru Muhammad Bahauddin An Naqsyabandy,
وَسَيِّدِنَا شَيِّحِ اَحۡمَدۡ خَطِبۡ عَبۡدِ الۡغَفَّرۡ اَلسَّمۡبَسِی اَلۡمَكِّی
Dan tuan mulia guru AHMAD KHOTIB SAMBAS BIN ABDIL GHOFFAR AS SAMBASY AL MAKKI,
وَڪِيَاهِيْ اَلْحَاجِ مُحَمَّدْ رَمْلِى تَمِيْمِ،
Dan Kyai Haji Muhammad Romli Tamim,
وَڪِيَاهِيْ اَلْحَاجِ مُسْتَعِيْنْ رَمْلِى،
Dan Kyai Haji Mustain Romli,
وَڪِيَاهِيْ اَلْحَاجِ عُثْمَانِ اَلْإِسْحَاقِی،
Dan Kyai Haji Utsman Al Ishaqi,
رَضِيَ اَللهُ عَنْهُمْ،
semoga Alloh redho kepada mereka,
شَيْءٌ اللهِ لَنِا وَلَهُمْ بِسِّرِّ الْفَاتِحَة...
Segala sesuatu dari Alloh kepada kami dan kepada mereka melalui rahasianya Alfatihah...
Kemudian syaikh/mursyid/guru membaca doa seperlunya untuk mengarahkan/membimbing murid/santri, menggunakan doa yang sekiranya mudah bagi syaikh/mursyid/guru. Kemudian syaikh/mursyid/guru memberikan tawajjuh (dzikir bersama) kepada murid/santri 1.000 kali atau lebih banyak.
Mengertilah kamu, sesungguhnya alam manusia tersusun dari 10 lathifah.
Lathifah yaitu setiap isyarat yang memiliki indikasi makna yang dalam, yang bisa difahami tapi tidak bisa di ungkapkan. Yaitu ulumul adzwaq (ilmu tentang rasa).
Lathifah manusia adalah jiwa yang berbicara (an-nafs an-nathiqoh) atau kata hati.
ALAM AMRI (ALAM PERINTAH):
1. LATHIFAH AL QOLBI (Nafsu Lauwamah)
لَطِيْفَةُ الْقَلْبِ (ٱلنَّفُوسُ اللَّوَّامَةِ)
Ruh/Nafsu yang bersemayam pada 2 jari di bawah dada (punting susu) kiri sedikit ke kiri, Warnanya adalah kuning. Tempat kekuasaan Nabi Adam Alaihis salam. Asalnya adalah tanah.
Adapun sifat-sifatnya:
1. Al-Laum artinya mencela.
2. Al-Hawa artinya suka bersenang-senang.
3. Al-Makar artinya menipu, licik.
4. Al-Ujub artinya bangga diri.
5. Al-Ghibah artinya mengupat.
6. Ar-Riya’ artinya pamer.
7. Adh-dholim artinya kejam.
8. Al-Kadzib artinya dusta.
9. Al-ghoflah artinya lupa, lalai.
2. LATHIFAH AR RUKHI (NAFSU MULHAMAH)
لَطِيْفَةُ الرُّوْحِ (ٱلنَّفُوسُ الۡمُلۡهَمَّةِ)
Ruh/nafsu yang bersemayam di dua jari di bawah susu kanan agak sedikit ke kanan. Warnanya adalah merah. Tempat kewenangan Nabi Ibrohim Alaihis salam , dan Nabi Nuh Alaihis salam. Asalnya adalah api.
Adapun sifat-sifatnya:
1. As-Sakhiya artinya murah hati.
2. Al-Qona’ah artinya merasa cukup (kesederhanaan).
3. Al-Halim artinya penyantun/suka memberi.
4. At-Tawadhu’ artinya rendah hati.
5. At-Taubat artinya kembali kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.
6. As-Shobar artinya sabar, tidak mudah marah.
7. At-Tahammul artinya bertanggung jawab.
3. LATHIFAH AS SIRRI (NAFSU MUTHMAINNAH)
لَطِيْفَةُ السِّرِّ (ٱلنَّفُوسُ الْمُطْمَئِنَّةِ)
Kelembutan rasa yang bersemayam di 2 jari dari dada (punting susu) kiri ke arah kanan. Warnanya adalah putih. Tempat kekuasaan Nabi Musa Alaihis salam dan Nabi Khidhir Alaihis salam. Asalnya adalah air. Nafsu Muthmainah ini bisa disebut Ruh Al-Qudsi (ruh termurni) adalah hakikat manusia yang disimpan di dalam lubuk hati (qulbun). Ruh inilah yang senantiasa akan mampu berhubungan dengan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala sedangkan badan atau jasmani ini bukan mahromnya bagi Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Ruhul quds, bisa juga dikatakan sebagai ruh idhofi.
Mempunyai sifat:
1. Al-Juud artinya dermawan, kerelaan hati.
2. At-tawakkal artinya berserah diri.
3. Al-Ibadah artinya penghambaan kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.
4. Asy-Syukur artinya berterima kasih.
5. Ar-Ridho artinya rela.
6. Al-Khosyah artinya takut kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.
4. LATHIFAH AL KHOFII (NAFSU MARDHIYAH)
لَطِيْفَةُ الْخَفِي (َٱلنَّفُوسُ الۡمَرْضِيَّةِ)
Kelembutan nafsu yang samar (tersembunyi) yang bertempat pada tepatnya dua jari diatas dada (punting susu) kanan ke tengah dada. Warnanya adalah hitam. Tempat kekuasaan Nabi Isa Al Masih dan Nabi Sulaiman Alaihis salam. Asalnya adalah udara.
Sifat-sifatnya adalah:
1. Husnul Khuluq artinya baik akhlak.
2. Tarku maa siwalloh artinya meninggalkan selain Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.
3. Al-Luthfu bil kholqi artinya lembut kepada makhluk.
4. Hamluhum ‘ala sholah artinya mengurus makhluk pada kebaikan.
5. Shofhu ‘an dzunubihim artinya mema’afkan kesalahan makhluk.
6. Al-Mail ilaihim liikhrojihim min dzulumati thoba’ihim wa anfusihim ila anwari arwahihim artinya mencintai makhluk dan cenderung perhatian kepada mereka guna mengeluarkannya dari kegelapan (keburukan) watak dan jiwa-jiwanya ke arah bercahayanya ruh-ruh mereka.
5. LATHIFAH AL AKHFAA (NAFSU KAMILAH)
لَطِيْفَةُ اْلأَخْفَى (ٱلنَّفُوسُ الۡكَمِلَةِ)
Kelembutan nafsu yang lebih samar (tersembunyi) lagi yang berada pada tengah-tengah dada pas cekungan. Warnanya hijau. Tempat kekuasaan Nabi Muhammad Sholallohu 'Alaihi Wassallam. Asalnya adalah cahaya. Nafsu Kamilah bisa pula disebut Ruh Saironi Rowani yang memiliki lapisan (balutan cahaya) di alam malakut (alamnya para malaikat). Hasilnya adalah ma’rifat kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, ilmu bathin, memperoleh ketenangan didalam bergaul, hidupnya hati dan musyahadah (mempersaksikan) di alam malakut (seperti menyaksikan sorga dan ahlinya dan malaikat-malaikatnya). Adapun Mempunyai sifat:
1. Ilmu Al’Yaqiin artinya menghilangkan keraguan.
2. Ainul Yaqiin artinya dengan melihat maka hilanglah keraguan.
3. Haqqul Yaqiin artinya dengan naqli (akal/pengetahuan, dan spiritual/rasa) maka hilanglah keraguan.
ALAM KHOLQI (ALAM PENCIPTAAN)
1. LATHIFAH AN NAFSI (NAFSU AMAROH)
لَطِيْفَةُ النَّفْسِ (َٱلنَّفُوسُ الۡأَمَّارَةِ)
Kelembutan otak yang tempatnya adalah antara kedua mata dikepala "dimaa' artinya otak dan mempunyai sifat:
1. Al-Bukhli artinya kikir, pelit.
2. Al-kharos artinya mengawasi.
3. Al-Hasad artinya iri, dendam.
4. Al-Jahil artinya kebodohan/tidak mengetahui.
5. Al-Kibar artinya tinggi hati, sombong, congkak.
6. Asy-Syahwat artinya keinginan menguasai (nafsu).
2. LATHIFAH AL QOLABI (ANASHIR AL ARBA'AH)
لَطِيْفَةُ الْقَالَبِ
Terdiri dari 4 unsur (anashir):
1. LATHIFAH ANASHIR AIR,
2. LATHIFAH ANASHIR API,
3. LATHIFAH ANASHIR ANGIN,
4. LATHIFAH ANASIR TANAH,
Kelembutan pada seluruh dan sekujur anggota badan yang dimulai dari rambut kepala sampai ke dua ujung kaki. Disebut juga LATHIFAH ini terdiri dari LATHIFAH ANASHIR (UNSUR) AIR, LATHIFAH ANASHIR API, LATHIFAH ANASHIR ANGIN, LATHIFAH ANASIR TANAH. Atau bisa disebut dengan Ruh jismani adalah ruh yang memiliki lapisan (balutan cahaya) di alam mulki (alam terendah bagi ruh). Alloh Subhanahu Wa Ta'ala telah tempatkan Ruh jismani di dalam jasad antara daging dan darah tepatnya di wilayah dada dan anggota badan yang dzohir. untuk mengolah ruh ini adalah perbuatan syari’at. Hasilnya adalah wilayah (pertolongan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala), mukasyafah (terbukanya hijab antara manusia dengan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala), dan musyahadah (merasa berhadap-hadapan dengan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala), begitu pula karomatul kauniyah pada martabat kewalian seperti ; berjalan di atas air, terbang di udara, menyingkat jarak, mendengar dari jauh, melihat rahasia badan dan lain-lain.
BAB II: MENERANGKAN TATA CARA MENGAMALKAN THORIQOH QODIRIYAH
membaca istighfar 2 kali atau lebih banyak lebih baik, seperti ini lafadznya:
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْغَفُوْرَ الرَّحِيْمَ.
Aku memohon ampunan Alloh Yang Maha Pengampun Maha penyayang.
Kemudian membaca sholawat:
اللّٰهُمَّ صَلِّی عَلىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَاَلِهَ وَسَلِّمْ
Wahai Tuhanku, limpahkan kesejahteraan kepada Junjungan kami Nabi Muhammadﷺ dan keluarga beliau disertai kedamaian.
Sebanyak 2 kali atau lebih banyak lebih baik.
Kemudian dzikir tauhid, yaitu:
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ.
Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Alloh, (165x),
Setiap selesai menjalankan sholat 5 waktu (shubuh, dhuhur, ashar, maghrib, isya'). Sedang selain dari sholat 5 waktu bisa dibaca seperlunya saja.
Peringatan:
Dalam melaksanakan dzikir itu dengan mengucap kalimat لاَ serta digambarkan/dibayangkan melalui pikiran dan ditarik mulai dari pusar hingga sampai ke otak (saya menolak segala pemikiran apa pun kerena tujuan saya hanya Alloh).
Kemudian kalimat إِلَهَ dimasukkan/ditekankan LATHIFAH AL KHOFII (NAFSU MARDHIYAH) ke dua jari diatas dada (punting susu) kanan ke tengah dada. (Ridhoilah hamba Yaa Alloh).
Dan kalimat إِلاَّ اللهُ dipukulkan/dihantamkan kepada kepada LATHIFAH SIRRI AS SIRRI (NAFSU RODHIYAH) yaitu hati sanubari (letaknya 2 jari diatas puting susu sebelah kiri agak serong ke kiri, letak bersemayamnya nafsu rodhiah/ruh sulthoni), dengan hantaman yang sangat keras. (Berilah karunia kepadaku rasa cinta dan ma'rifat kepada Engkau Yaa Alloh)
LATHIFAH SIRRI AS SIRRI (NAFSU RODHIYAH)
لَطِيْفَةُ سِرِّ السِّرِّ (َٱلنَّفُوسُ الرَّاضِيَةِ)
Kelembutan nafsu yang samar (tersembunyi) tempatnya di 2 jari diatas dada kiri (punting susu) sedikit ke kiri, yaitu di jantung (hati) yang berfungsi menggerakkan seluruh tubuh. Nafsu Rodhiyah bisa juga disebut Ruh Sulthoni yaitu ruh yang memiliki lapisan (balutan cahaya) di alam jabarut (adalah alam kekuasaan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, yang juga merupakan realitas yang disebut singgasana (Al-Arsy ). Lathifah Sirri As Sirri bisa juga disebut fuad (mata hati). Ruh suthoni yang mempunyai unsur malaikat Jibril, Mikail, Isrofil, Izroil (malaikat penyangga Arsy). Adapun keuntungan pengolahan dari ruh sulthoni/nafsu kamilah adalah melihat pantulan “Jamalillah” (keindahan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala), bisa melihat menggunakan mata hatinya. Mempunyai sifat:
1. Al-Karom artinya kemurahan hati, memuliakan makhluk lain.
2. Az-Zuhud artinya lebih mengutamakan akhirat, dari pada dunyawi.
3. Al-Ikhlas artinya tanpa pamrih.
4. Al-Waro’ artinya menahan diri dari hal-hal yang dapat menimbulkan madharat lalu menyeretnya kepada hal-hal yang haram dan syubhat.
5. Ar-Riyadhoh artinya penyempurnaan diri melalui zikir dan pendekatan diri kepada Sang Kholik.
6. Al-Wafa’ artinya tepat janji, Kesetiaan, Kepatuhan, Kejujuran, Kasih setia.
Dengan harapan supaya kalimat yang mulia itu menjalar melewati 5 lathifah (Lathifah Qolbi/Nafsu Lauwamah, Lathifah Rukhi/Nafsu Mulhamah, Lathifah Sirri/Nafsu Muthmainah, Lathifah Khofiy/Nafsu Mardhiyah, Lathifah Akhfa/Nafsu Kamilah) dan hati kita ingat kepada arti dari kalimat, yaitu:
لاَ مَقْصُوْدَ إِلاَّ اللهُ
Artinya: "tidak ada Dzat yang dituju (menjadi tujuan) kita kecuali Alloh Ta'ala"
Kesemua penciptaan (makhluq) tidak ada yang menyamai/mengungguli baik itu persifatan yang ada (yaitu sifat yang dimiliki makhluk) dibandingkan dengan sifat kesempurnaan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala yang tetap tanpa perubahan apalagi sirna/musnah.
Setengah dari penjelasan diatas adalah penjelasan dari 20 sifat wajib Alloh Subhahu Wa Ta'ala. adalah:
Wujud (ada), Qidam (terdahulu), Baqo' (kekal abadi), Mukholafatul Lil Hawaditsi (berbeda dengan makhluq/ciptaan), Qiyamuhu Bin Nafsi (berdiri sendiri tanpa bantuan siapa/apa pun), Wahdaniyyat (esa/tunggal), Qudrot (berkuasa), Irodat (kehendak/keinginan), Ilmu (berpengetahuan), Hayat (hidup), Sama' (mendengar), Bashor (melihat), Kalam (berbicara/berfirman), Qodiron (mempunyai kekuatan), Muridan (menghendaki/menginginkan), 'Aliman (mengetahui segalanya), Hayyan (maha hidup), Sami'an (maha mendengar), Bashiron (maha melihat), dan Mutakalliman (maha berbicara).
Dan hanya Alloh Yang Maha Suci dari semua sifat kekurangan (sempurna).
Setengah dari sifat-sifat kekurangan adalah 20 sifat mustahil yang berlawanan dengan sifat wajib Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, yaitu:
Adam (tidak ada), Huduts (memiliki permulaan), Fana' (rusak/tidak kekal), Mumatsalah Lil Hawaditsi ( menyerupai ciptaan-NYA), 'ihtiyajuhu lii ghoirihi (membutuhkan kepada makhluk), Ta'addud (berbilang/lebih dari satu), 'Ajzu (lemah), Karohah (terpaksa), Jahlu (bodoh), al-mautu (mati), shomamu (tuli) , 'Al-Ama (buta), Bakamu (bisu), Kaunuhu 'Ajizan (berkeadaan lemah, tidak berdaya), Kaunuhu Karihan (berkeadaan dipaksa), Kaunuhu Jahilan (berkeadaan/bertindak bodoh), Kaunuhu Mayyitan (berkeadaan mati/binasa), Kaunuhu Ashomma (berkeadaan tidak menggubris), Kaunuhu A'ma (berkeadaan buta), dan Kaunuhu Abkam (berkeadaan membisu).
Dan orang yang berdzikir hanya mengharapkan pemberian anugrah/karunia dari Alloh. Dan itu adalah sifat jaiz Alloh (yaitu: Fi'lu kulli mumkinin au tarkuhu, artinya Allah itu berwenang untuk menciptakan dan berbuat sesuatu atau tidak sesuai dengan kehendak-Nya.). Dan membayangkan guru berada didepan kita.
Kamu harus mengetahui bahwa yang dimaksud dzikir nafi itsbat (yaitu LAA ILLAHA ILLALLOH) bersama-sama kita melakukan melalui jahr (jelas,dilantunkan) atau sirr (rahasia) yaitu di ucapkan dengan lisan atau didalam hati (sirr).
Apabila sudah sampai pada hitungan yang ditentukan, dzikir tersebut alangkah baik di akhiri sampai mengucapkan:
سَيِّدُنَا مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Tuanku yang mulia Muhammad Utusan Alloh, Alloh memberikan kesejahteraan dan kedamaian kepada beliau,
Kemudian membaca sholawat munjiat:
اَللّٰهُمَّ صَلِّى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلاَةً
Wahai Tuhanku, limpahkanlah kesejahteraan kepada junjungan kami Nabi Muhammadﷺ,
تُنْجِيْنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ اْلأَحْوَالِ وَالْاٰفَاتِ،
Yang melaluinya Engkau akan menyelamatkan kami dari semua keadaan yang menakutkan dan membahayakan,
وَتَقْضِيْ لَنَا بِهَا جَمِيعَ الْحَاجَاتِ،
Dan melaluinya Engkau mentakdirkan (mendatangkan) semua hajat kami,
وَتُطَهِّرُنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ السَيِّئَاتِ،
Dan melaluinya Engkau membersihkan dari semua keburukan kami,
وَتَرْ فَعُنَا بِهَا عِنْدَكَ اَعْلَى الدَّرَجَاتِ،
Dan melaluinya Engkau tinggikan derajat kami di sisi-MU,
وَتُبَلِّغُنَابِهَا اَقْصَى الْغَايَاتِ،
Dan melaluinya Engkau menyampaikan kami pada puncak tujuan,
مِنْ جَمِيْعِ الْخَيْرَاتِ،
Dari semua karunia (kebaikan-kabaikan),
فِى الْحَيَاةِ وَبَعْدَ الْمَمَاتِ.
Di dalam hidupku dan sesudah matiku.
Kemudian membaca Fatihah satu kali kepada arwah masyayih ahli silsilah Qodiriyah Wan Naqsyabandiyah, khususnya ruh Sayyidina Syaikh Abdul Qodir Al Jailani, Sayyidina Syaikh Abi Qosim Junaid Al Baghdadi Qoddasallohu sirrohuma Al 'Aziz, seperti ini.
١-إِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى،
Kepada kehadiran Nabi pilihan,
وَحَبِيْبَ الله، وَشَفِيْعِنَا، وَقُرَّةُ الْعَيْنِنَا،
dan kekasih Alloh, dan pemberi syafa'at bagi kami, dan penyejuk mata bagi kami,
سَيِّدِنَا رَسُوْلِ اللهِ مَحَمَّدٍ ﷺ
Utusan Alloh baginda Muhammad kepada beliau Alloh memberikan kesejahteraan dan kedamaian,
اَلْهَادِي إِلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيْمِ،
Dan menunjukkan jalan yang lurus,,
شَيْءٌ اللهِ بِسِّرِّ الْفَاتِحَة...
Segala sesuatu dari Alloh melalui rahasianya Alfatihah...
٢-ثُمَّ إِلَى حَضْرَةِ اَهلِی سِلسِلَةِ مَشَايِّخِ الطَّرِقَةِ الْقَدِرِيَّةِ وَالنَّقْشَبَنْدِيَّةِ أَجْمَعِيْنَ
Kemudian kepada kehadiran Para mursyid Thoriqoh Qodiriyah Wan Naqsyabandiyah seluruhnya,
وَخُصُوصًا إِلیٰ سُلْطَانِ الْأَوْلِيَآءِ سَيِّدِنَا الشَّيْجِ عَبْدِ القَادِرِ الجِيْلَانِى الْحَسَنِيْ قَدَّسَ اللهُ سِرُّهُ الْعَزِيْزُ،
Dan Khususnya kepada Rajanya Para Wali Alloh guru yang saya muliakan Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Alloh mensucikan rahasia beliau,
وَسَيِدِنَا الطّٰٓائِفَةِ الصُّوْفِيَّةِ أَبِى القَاسِمِ الْجُنَيْدِى الْبَغْدَادِيِّ،
Dan tuan mulia ketua para sufi Abu Qosim Junaid Al Baghdadi,
وَسَيِّدِنَا الشَّيْخِ مُحَمَّدٍ بَهَاءِ الدِّيْنِ النَّقْشَبَنْدِی،
Dan tuan mulia guru Muhammad Bahauddin An Naqsyabandy,
وَسَيِّدِنَا شَيِّحِ اَحۡمَدۡ خَطِبۡ عَبۡدِ الۡغَفَّرۡ اَلسَّمۡبَسِی اَلۡمَكِّی
Dan tuan mulia guru AHMAD KHOTIB SAMBAS BIN ABDIL GHOFFAR AS SAMBASY AL MAKKI,
وَڪِيَاهِيْ اَلْحَاجِ مُحَمَّدْ رَمْلِى تَمِيْمِ،
Dan Kyai Haji Muhammad Romli Tamim,
وَڪِيَاهِيْ اَلْحَاجِ مُسْتَعِيْنْ رَمْلِى،
Dan Kyai Haji Mustain Romli,
وَڪِيَاهِيْ اَلْحَاجِ عُثْمَانِ اَلْإِسْحَاقِی،
Dan Kyai Haji Utsman Al Ishaqi,
رَضِيَ اَللهُ عَنْهُمْ،
semoga Alloh redho kepada mereka,
شَيْءٌ اللهِ لَنِا وَلَهُمْ بِسِّرِّ الْفَاتِحَة...
Segala sesuatu dari Alloh kepada kami dan kepada mereka melalui rahasianya Alfatihah...
BAB III: MENERANGKAN TATA CARA MENGAMALKAN THORIQOH NAQSYABANDIYAH.
Tata cara mengamalkan Thoriqoh Naqsyabandiyah yaitu duduk takhiyat akhir tetapi posisi kaki dibalik (telapak kaki kiri berdiri ) membaca surotul Fatihah (tawasul):
١-إِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى،
Kepada kehadiran Nabi pilihan,
وَحَبِيْبَ الله، وَشَفِيْعِنَا، وَقُرَّةُ الْعَيْنِنَا،
dan kekasih Alloh, dan pemberi syafa'at bagi kami, dan penyejuk mata bagi kami,
سَيِّدِنَا رَسُوْلِ اللهِ مَحَمَّدٍ ﷺ
Utusan Alloh baginda Muhammad kepada beliau Alloh memberikan kesejahteraan dan kedamaian,
اَلْهَادِي إِلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيْمِ،
Dan menunjukkan jalan yang lurus,,
شَيْءٌ اللهِ بِسِّرِّ الْفَاتِحَة...
Segala sesuatu dari Alloh melalui rahasianya Alfatihah...
٢-ثُمَّ إِلَى حَضْرَةِ اَهلِی سِلسِلَةِ مَشَايِّخِ الطَّرِقَةِ الْقَدِرِيَّةِ وَالنَّقْشَبَنْدِيَّةِ أَجْمَعِيْنَ
Kemudian kepada kehadiran Para mursyid Thoriqoh Qodiriyah Wan Naqsyabandiyah seluruhnya,
وَخُصُوصًا إِلیٰ سُلْطَانِ الْأَوْلِيَآءِ سَيِّدِنَا الشَّيْجِ عَبْدِ القَادِرِ الجِيْلَانِى الْحَسَنِيْ قَدَّسَ اللهُ سِرُّهُ الْعَزِيْزُ،
Dan Khususnya kepada Rajanya Para Wali Alloh guru yang saya muliakan Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Alloh mensucikan rahasia beliau,
وَسَيِدِنَا الطّٰٓائِفَةِ الصُّوْفِيَّةِ أَبِى القَاسِمِ الْجُنَيْدِى الْبَغْدَادِيِّ،
Dan tuan mulia ketua para sufi Abu Qosim Junaid Al Baghdadi,
وَسَيِّدِنَا الشَّيْخِ مُحَمَّدٍ بَهَاءِ الدِّيْنِ النَّقْشَبَنْدِی،
Dan tuan mulia guru Muhammad Bahauddin An Naqsyabandy,
وَسَيِّدِنَا شَيِّحِ اَحۡمَدۡ خَطِبۡ عَبۡدِ الۡغَفَّرۡ اَلسَّمۡبَسِی اَلۡمَكِّی
Dan tuan mulia guru AHMAD KHOTIB SAMBAS BIN ABDIL GHOFFAR AS SAMBASY AL MAKKI,
وَڪِيَاهِيْ اَلْحَاجِ مُحَمَّدْ رَمْلِى تَمِيْمِ،
Dan Kyai Haji Muhammad Romli Tamim,
وَڪِيَاهِيْ اَلْحَاجِ مُسْتَعِيْنْ رَمْلِى،
Dan Kyai Haji Mustain Romli,
وَڪِيَاهِيْ اَلْحَاجِ عُثْمَانِ اَلْإِسْحَاقِی،
Dan Kyai Haji Utsman Al Ishaqi,
رَضِيَ اَللهُ عَنْهُمْ،
semoga Alloh redho kepada mereka,
شَيْءٌ اللهِ لَنِا وَلَهُمْ بِسِّرِّ الْفَاتِحَة...
Segala sesuatu dari Alloh kepada kami dan kepada mereka melalui rahasianya Alfatihah...
٣ - ثُمَّ إِلَى أَرْوَاحِ أَبَاتِنَا وَأُمَّهَاتِنَا وَأَهْلِي، وَعِتْرَتِی،
Kemudian kepada arwah ayah ku dan Ibu ku, dan keluargaku, dan keturunanku,
وَلِكَافَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ،
dan untuk keseluruhan umat islam baik yang laki-laki dan Perempuan,
وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ
kaum orang yang beriman baik laki-laki dan perempuan serta orang-orang yang masih hidup dan sudah meninggal yang berada di sekitar mereka,
شَيْءٌ ِللهِ لَنَا لَهُمُ الْفَاتِحَةُ ....
segala sesuatu dari Alloh untuk kita dan untuk mereka, alfatihah...
Kemudian membaca:
أَسْتَغْفِرُ اللهَ رَبِّيْ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ، (X٥)
Aku memohon ampunan dari setiap dosa dan wahai Tuhanku, aku kepada-NYA aku bertaubat (kembali), (5 kali atau lebih)
Dilanjutkan membaca surat Al ikhlas 3 kali:
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم ،
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang,
قُلۡ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌ ،
Katakanlah (Muhammad), "Dialah Alloh, Yang Maha Esa,
اَللهُ الصَّمَدُ ،
Alloh tempat meminta segala sesuatu,
لَمۡ يَلِدۡ ۙ وَلَمۡ يُوۡلَدۡ ،
(Alloh) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan,
,وَلَمۡ يَكُنۡ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ .
Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.
Kemudian membaca sholawat Ibrohimiyah:
اللَٰهُمَّ صَلِّی عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ,
Wahai Alloh curahkanlah kesejahteraan kepada Junjungan kami Nabi Muhammad ﷺ dan kepada keluarga Junjungan kami Nabi Muhammad ﷺ,
كَمَا صَلَّّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى اَلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ.
Seperti kesejahteraan kepada Junjungan Kami Nabi Ibrohim kepadanya kedamaian dan kepada keluarga Junjungan kami Nabi Ibrohim,
اللَٰهُمَّ بَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ,
Wahai Alloh, curahkanlah keberkahan kepada Junjungan Kami Nabi Muhammad ﷺ, dan kepada keluarga Junjungan Kami Nabi Muhammad ﷺ,
كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى اَلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ,
Seperti keberkahan yang dicurahkan kepada Junjungan Kami Nabi Ibrohim kepadanya kedamaian dan kepada keluarga Junjungan Kami Nabi Ibrohim kepadanya kedamaian,
فِى الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Ramah (sopan) lagi Maha Mulia di dalam dunia ini.
Kemudian dzikir (الله الله الله ) melalui fikiran dan dihadapkan kepada LATHIFAH AL QOLBU artinya kelembutan Nafsu Lauwamah yang bersemayam di 2 jari bawah dada (punting susu) kiri sedikit arah ke kiri, Warnanya adalah kuning. disertai memikirkan kepada nama yang telah dimengerti dan sudah di ingat, yaitu Alloh (الله), Yang Tidak Ada Tandingannya dan Yang sifat-NYA melalui semua sifat kesempurnaan dan juga Tetap tidak berubah/hancur (sirna).
Dari sifat-sifat yang tertulis tadi setengahnya adalah 20 sifat, Dan hanya Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Yang suci bersih dari keseluruhan sifat tercela (mustahil Alloh mempunyai sifat tercela/buruk),
Setengah dari sifat-sifat tersebut adalah sifat-sifat tercela/buruk, yaitu 20 sifat mustahil, yang menjadi kebalikan dari sifat wajib bagi Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.
Dan berharaplah akan tumpahnya keanugrahan dari Alloh,
Kemudian lidah di tekuk, sampai ujung lidah menempel di langit-langit mulut disertai memejamkan ke dua mata.
Apabila sudah jelas atau terasa bergerak (Rasa terguncang, terguncangnya jiwa dan raga oleh getaran qolbu yang berdzikir mengingat Alloh (QS. Al-Anfal ayat 2),
إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu,
إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ
Apabila dzikir Alloh dan gemetarlah hati mereka,
وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتُهُۥ
dan apabila dibacakan ayat-ayat-NYA,
زَادَتْهُمْ إِيۡمَٰنًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوۡنَ
bertambahlah iman mereka (karenanya), dan orang-orang bertawakkal kepada Tuhan mereka ."
Menyatunya dzikir di hati karena berkahnya dari bertawajjuh (berhadapan) syaikh/mursyid dan banyaknya dzikir, maka kemudian beralih sarana dengan izinnya syaikh/mursyid kepada LATHIFAH AR RUKHI Artinya kelembutan ruh/NAFSU MULHAMAH yang bersemayam di dua jari di bawah susu kanan agak sedikit ke kanan. Warnanya adalah merah, lalu dzikir seperti tadi.
Apabila sudah terlihat/terasa bergerak (terguncang)nya dzikir yang di LATHIFAH AR RUKHI. Kemudian berpindah tempat atas izin syaikh atau mursyid kepada LATHIFAH AS SIRRI Artinya Kelembutan rasa/NAFSU MUTHMAINNAH/Ruh Al-Qudsi (ruh termurni) yang bersemayam di 2 jari kearah kanan dari dada (punting susu) kiri. Warnanya adalah putih. Lalu dzikir seperti tadi.
Apabila sudah terlihat/terasa hasilnya dzikir yang di LATHIFAH AS SIRRI
Kemudian berpindah tempat atas izin syaikh atau mursyid kepada LATHIFAH AL KHOFII Artinya kelembutan NAFSU MARDHIYAH yang samar (tersembunyi) yang bertempat pada tepatnya dua jari diatas dada (punting susu) kanan ke tengah dada. Warnanya adalah hitam. Lalu dzikir seperti tadi.
Apabila sudah terlihat/terasa bergerak (terguncang badannya) dzikir yang di LATHIFAH AL KHOFII. Kemudian berpindah tempat atas izin syaikh atau mursyid kepada LATHIFAH AL AKHFAA
Kelembutan NAFSU KAMILAH/Ruh Saironi Rowani yang berada pada tengah-tengah dada pas cekungan. Warnanya hijau. Lalu dzikir seperti tadi.
Apabila sudah terlihat/terasa bergerak (terguncang badannya) dzikir pada LATHIFAH AL AKHFAA Kemudian berpindah tempat atas izin syaikh atau mursyid kepada LATHIFAH AN NAFSI, Kelembutan otak yang bersemayam NAFSU AMAROH tempatnya adalah "dimaa' artinya otak, kemudian dzikir seperti tadi.
Apabila sudah terlihat/terasa bergerak (terguncang badannya) dzikir yang di LATHIFAH AN NAFSI, Kemudian berpindah tempat atas izin syaikh atau mursyid kepada LATHIFAH AL QOLABI (JASAD) Kelembutan RUH JISMANI/LATHIFAH ANASIR terdiri dari ANASHIR (UNSUR) AIR (DARAH), ANASHIR API (RASA HANGAT DI TUBUH), ANASHIR ANGIN (NAFAS), ANASIR TANAH (DAGING, TULANG, KULIT) yang bersemayam pada seluruh dan sekujur anggota badan yang dimulai dari rambut kepala sampai ke dua ujung kaki. Tempat Lalu dzikir seperti yang disebutkan.
Apabila sudah terlihat/terasa dan sudah sampai hasilnya dzikir yang sebanyak 7 lathifah tadi, sama juga dzikir dengan Ismu Dzat (اللهُ اللهُ) atau dzikir nafi itsbat (لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ), maka membaca doa ini dengan ucapan atau dengan hati.
إِلّٰهِيْ أَنْتَ مَقْصُوْدِيْ،
Wahai Alloh, Engkaulah tujuanku,
وَرِضَاكَ مَطْلُوْبِيْ،
Dan kerelaan Engkau yang aku butuhkan,
أَعْطِينِيْ مَحَبَّتَكَ وَمَعْرِفَتَكَ.
Berilah aku karunia, rasa cinta kepada Engkau dan ilmu mengenal Engkau.
Dan jika Dzikir Jahr (Dzikir yang di ucapkan), maka hasilnya Dzikir harus jelas pengucapannya serta ingat kepada artinya.
Dan ingatnya itu dihadapkan/ditujukan kepada hatinya.
Dan Hatinya dihadapkan/ditujukan kepada Alloh,
Apabila sudah jelas istiqomahnya, menjalankan gerakan musi' dzikir, kemudian digambarkan dengan bersyukur atas pemberian Alloh.
Inilah Dzikir yang sudah menjadi watak/kebiasaan.
BAB IV: MENERANGKAN JALAN/CARA UNTUK SAMPAI KEPADA ALLOH
Para ahli thoriqoh telah menjelaskan caranya berjalan seseorang
sudah mengatakan ahli Thoriqoh, jalan yang menyampaikan kepada Alloh Ta'ala itu ada 3 bahasan:
1. Dzikir khofi (Dzikir tersembunyi) Yaitu, Dzikir dengan hati yang dipersembahkan kepada Alloh serta diserap dari ingatan akan hal-hal yang telah terjadi dan yang akan datang (masa depan), mengembalikan ingatan kepada Alloh semata.
2. Muroqobah adalah memperhatikan geraknya hati kepada Alloh, sama seperti kucing bejalan pelan-pelan memperhatikan tikus, hingga berharap-harap tumpahnya/jatuhnya karunia/anugrah dari Alloh.
3. Istiqomah didalam menghadiri pengajian yang di adakan oleh guru dan selalu berbakti kepada guru yang sudah memberikan pengajian dzikir tawajjuh kaifiyah (tata cara berdzikir dengan menghadapkan diri kepada Alloh) dan jam'iyah (dzikir secara bersama-sama).
Dari semua ketiga perkara itu tidak bisa ditinggalkan oleh seorang salik, yaitu orang ahli thoriqoh yang tujuannya kepada Alloh melalui perantara ilmu dan amal.
Sebagian dari syarat yang lainnya yaitu sabar dan rela, lapang dada pada hukumnya Alloh dan lain-lainnya.
Jika lathifah 7 tadi telah sempurna dijalankan dengan petunjuk dari syaikh, maka berpindah perantara melalui izinnya syaikh kepada muroqobah.
BAB V : PENJELASAN TENTANG MUROQOBAH.
Muroqobah artinya, menyendiri untuk merenungkan atau memperhatian secara penuh dan selalu konsentrasi dan selalu waspada bahwa seorang salik (penempuh jalan thoriqoh) terus menurus di awasi Alloh Subhanahu Wa Ta'ala di setiap keadaannya, baik mulai bangun tidur, beribadah, bekerja, istirahat, bertemu orang, hingga sampai tidur kembali.
Muroqobah memiliki perbedaan dengan dzikir terutama pada tempat/melalui pemusatan kesadaran (konsentrasinya).
Dzikir itu berpusat kepada kata atau kalimat, sedangkan muroqobah berpusat kepada penjagaan konsentrasi (waspada) akan sifat Qudrat Alloh yaitu: kekuasaan Alloh yang tidak terbatas dan sifat irodat Alloh yang artinya Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Maha berkehendak yang tidak ada seorang pun yang mampu menahan kehendak Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.
Demikian juga alat yang dipergunakannya didalam dzikir dan muroqobah juga ada perbedaannya.
Dzikir menggunakan lidah dalam menyatakan kata atau kalimat, baik itu lidah lahir (yaitu mulut secara fisik) dan juga lidah bathin (yaitu hati dan jiwa).
Sedangkan muroqobah didalam prakteknya menggunakan konsentrasi murni (yaitu rasa) yang berupa imajinasi dan daya khayali dengan melahirkan daya spiritual.
Muroqobah dalam thoriqoh dilaksanakan sebagai ajaran pokok, karena Alloh ﷻ senantiasa memperhatikan hamba-NYA. Sebagaimana kalamulloh suroh An Nisa' ayat 1:
إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Terjemah Indonesia:
“Sesungguhnya Alloh senantiasa mengawasi/melihat kepada kamu semua”.
Maka sifat mengawasi selalu melekat dan terdapat pada Alloh ﷻ. Dan muroqobah sebagai latihan jiwa (riyadhoh an nafsi) untuk menanamkan kedalam hati salik akan sifat Alloh yang selalu mengawasi/melihat serta mencatat amal perbuatan manusia. Adapun tujuan akhir dari ajaran muroqobah ini adalah agar seseorang menjadi muhsin, yang dapat menghambakan diri kepada-NYA, “ibadah” dengan penuh hati seolah-olah melihat Alloh, sebagaimana sabda Nabi ﷺ yang diriwayatkan Imam Muslim:
فَأَخْبِرْنِي عَنِ الْإِحْسانِ قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُفَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
Terjemah Indonesia:
"Ihsan adalah apabila engkau beribadah pada Alloh seolah-olah engkau melihat-NYA, maka jika engkau tidak dapat melihat-NYA maka sesungguhnya ia melihatmu"
TAHAPAN MUROQOBAH ADA 20.
1. MUROQOBAH AHADIYAH,
artinya: Menyendiri pada sifat ke-ESA-an Alloh Ta'ala. Hasil dari Muroqobah ini disertai menghadapkan dan mendekatkan hati (rasa) pada kehadiran Alloh Ta'ala yang ESA (tunggal). Didalam ke-ESA-an Alloh terdapat dzatnya, sifatnya, perbuatannya, itulah keseluruhan kesempurnaan Alloh dan yang tetap tidak akan hancur/lenyap.
Dzat, sifat, perbuatan Alloh terdapat pada 20 sifat wajib bagi Alloh, yang sudah dijelaskan pada bab terdahulu.
Dan Alloh tidak akan mungkin melakukan atau mempunyai sifat kebalikan dari 20 sifat wajib Alloh, yaitu 20 sifat mustahil.
Serta mengharapkan tumpahnya anugerah dari Alloh berupa al-Fayd al-Rahmani (melimpahnya kasih sayang Alloh) yang datang dari 6 arah, yaitu barat, timur, utara, selatan, bawah dan atas yaitu sebagian dari sifat jaiz bagi Alloh.
Apa yang telah dikatakan tadi mengambil dasar hukum dari Firman Alloh Ta'ala Suroh Al Ikhlas ayat 1:
قُلْ هُوَ اللهُ اَحَدٌ.
Terjemah Indonesia:
"Katakanlah (wahai Muhammad): Alloh Dia Dzat yang Maha Esa (Tunggal)."
2. MUROQOBAH MA'IYYAH,
Artinya menyendiri yang dapat merasakan kebersamaan dengan Alloh didalam diri kita, didalam tiap-tiap bagian dari diri kita, tetapi kita tidak mengetahui dimana keberadaan Alloh yang bersama kita.
Dalilnya yaitu Firman Alloh Suroh Al Hadid ayat 4:
وَهُوَ مَعَكُمْ اَيْنَمَا كُنْتُمْء.
Terjemah Indonesia:
"Alloh secara maknawi itu bersama, dimanapun kalian berada”
وَالْفَيْضُ مِنَ الْجِهَاتِ.
Terjemah indonesia:
"Dan Tumpahnya anugerah Alloh dari segala Arah".
3. MUROQOBAH AQROBIYAH
Artinya menyendiri pada sifat kedekatan Alloh Ta'ala disertai Tawajuh (menghadapkan dan mendekatkan hati dengan rasa) kepada kehadiran Alloh yang lebih dekat didalam diri kita dibandingkan dari urat leher kita, dibandingkan dari indra pendengaran kita, dibandingkan dari indra penglihatan kita, dibandingkan dari indra penciuman kita, dibandingkan dari indra pengucapan kita, dibandingkan dari indra perasa kita, dibandingkan dari pemikiran (hati) kita, dan juga lebih dekat kepada kita dibandingkan dari pada seluruh anggota badan kita yang bersifat maknawi.
Tetapi kita juga tidak mengerti bagaimana cara dan perilaku kedekatan Alloh kepada kita itu.
Dan kita harus fahami dari penciptaan yang sudah diperintahkan oleh Alloh Ta'ala seperti halnya manusia dan hewan-hewan yang berjalan di atas bumi, dan yang terbang berada di angkasa yang tinggi, dan juga hewan yang bersama-sama berenang di kedalaman samudra yang luas, dan lain sebagainya.
Dan ingatlah keindahan-keindahan alam yang berada di atas seperti halnya 7 lapisan langit beserta isinya, seperti misalnya matahari, awan, rembulan, bintang dan lain sebagainya.
Dan ingatlah kepada terhadap pembentukan alam yang berada di bawah seperti halnya 7 lapisan bumi dan seisinya, yaitu samudera, pepohonan, pegunungan, dedaunan, tumbuh-tumbuhan yang beraneka ragam, dan lain sebagainya.
Dalilnya yaitu Firman Alloh dalam suroh Qoof ayat 16:
وَنَحْنُ اَقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيْدِ.
Terjemah Indonesia:
"AKU (ALLOH) lebih itu lebih dekat terhadap hamba-hamba-KU dibandingkan dengan urat leher manusia”.
وَالْفَيْضُ عَلَى لَطِيْفَةِ النَّفْسِ.
Terjemah indonesia:
"Tumpahnya (anugerah Alloh) kepada dimensi (Lathifah) keTuhanan yang ada pada diri sendiri."
Dalam artian mengharapkan anugerah Alloh Subhanahu Wa Ta'ala kepada kelembutan otak beserta kelompok lathifah yang lima yang berada di dalam dada yang dinamakan ^ALAM AL-AMRI^ adalah tempat pengijazahan guru terhadap murid.
Adapun lafadz ijazah yaitu perkataan syaikh (guru) kepada murid adalah:
اَلْبَسْتُكَ خِرْقَةَ الْفَقِيْرِيَّةِ الصُّوْفِيَّةِ وَاَجَزْتُكَ اِجاَزَةً مُطْلَقَةً لِلْاِرْشَادِ والْاِجَازَةِ وَجَعَلْتُكَ خَلِيْفَةً.
Terjemah indonesia:
"Aku memakaikan kepada kamu jubah kefaqiran bangsa sufi dan aku memberikan ijazah kepada kamu dengan ijazah yang murni untuk memberikan bimbingan dan mengijazahkannya dan aku menjadikan kamu sebagai penerus."
Dilanjutkan: didalam thoriqoh ini, maka kemudian murid menjawab:
قَبِلْتُ وَرَضِيْتُ عَلَى ذَلِكَ.
Terjemah Indonesia:
"Aku menerima dan aku rela kepada diatasnya (yang terucap tersebut)."
Apabila sudah begitu kemudian murid tersebut menjadi penerus kecil.
4. MUROQOBAH MAHABBAH FII DAIROH AL-ULA,
Artinya: menyendiri pada cinta kepada Alloh di dalam derajat yang pertama disertai Tawajuh (menghadapkan dan mendekatkan hati dengan rasa) kehadiran Alloh yang cinta kepada kita dan kita juga cinta kepada Alloh serta kita melihat Alloh melalui bashiroh (pandangan hati).
Alloh itu Dzat yang mempunyai banyak nama yang bagus, seperti halnya 99 asma'ul husna yang nyata, yaitu
Ar Rokhman (Yang Maha Pengasih), Ar Rokhim (Yang Maha Penyayang), Al Malik (Yang Maha Menguasai/Raja), Al Quddus (Yang Maha Suci), As Salaam (Yang Maha Pemberi Damai/Selamat), Al Mu`min (Yang Maha Pemberi Aman), Al Muhaimin (Yang Maha Memelihara), Al Aziz (Yang Maha Perkasa), Al Jabbar (Yang Maha Perkasa), Al Mutakabbir (Yang Maha Agung), Al Khaliq (Yang Maha Pencipta), Al Baari (Yang Maha Mengadakan/dari tidak ada menjadi ada), Al Mushowwir (Yang Maha Membentuk Rupa), Al Ghoffaar (Yang Maha Pengampun), Al Qohhaar (Yang Maha Kuasa dan tidak ada yang mampu melemahkan Alloh), Al Wahhaab (Yang Maha Pemberi Karunia), Ar Rozzaaq (Yang Maha Pemberi Rezeki), Al Fattaah (Yang Maha Membuka), Al `Aliim (Yang Maha Mengetahui), Al Qoobidh (Yang Maha Menyempitkan/menahan), Al Baasith (Yang Maha Melapangkan/meluaskan/membentangkan), Al Khoofidh (Yang Maha Merendahkan derajat), Ar Raafi (Yang Maha Meninggikan/mengangkat derajat), Al Mu`izz (Yang Maha Pemberi Kemuliaan), Al Mudzil (Yang Maha Mampu membuat seseorang menjadi hina), Al Samii (Yang Maha Mendengar), Al Bashiir (Yang Maha Melihat), Al Hakam (Yang Maha Menetapkan/Hakim/Bijaksana), Al `Adl (Yang Maha Adil), Al Lathiif (Yang Maha Lemah Lembut/sopan santun), Al Khobiir (Yang Maha Waspada, mengetahui hal yang terjadi pada masa lalu dan masa yang akan datang. Mengetahui hakikat sesuatu sebelum terjadinya dan hakikat yang tersimpan dalam segala hal), Al Haliim (Yang Maha Penyantun), Al `Adzhiim (Yang Maha Agung), Al Ghafuur (Yang Maha Pemberi Ampunan), Asy Syakuur (Yang Maha Pembalas Budi, berterima kasih), Al `Aliy (Yang Maha Tinggi Derajatnya), Al Kabiir (Yang Maha Besar), Al Hafidzh (Yang Maha Pemelihara Segala Sesuatu), Al Muqiit (Yang Maha Membalas perbuatan sesuai amaliyah), Al Hasiib (Yang Maha Perhitungan), Al Jaliil (Yang Maha Mempunyai Kebesaran), Al Kariim (Yang Maha Istimewa, Luar Biasa), Ar Roqiib (Yang Maha Mengawasi), Al Mujiib (Yang Maha Menjawab, Mengabulkan Setiap Permintaan), Al Waasi (Yang Maha Luas pemberianya, tanpa batasan), Al Hakiim (Yang Maha Memutuskan, menetapkan, Bijaksana), Al Waduud (Yang Maha Akrab, ramah), Al Majiid (Yang berhak menyandang kesempurnaan sifat-sifat Yang Maha Tinggi), Al Baa`its (Yang Maha Membangkitkan), Asy Syahiid (Yang Maha Menyaksikan), Al Haqq (Yang Maha Benar), Al Wakiil (Yang Maha Pemelihara), Al Qawiyyu (Yang Maha Mempunyai Kekuatan), Al Matiin (Yang Maha Kokoh), Al Waliyy (Yang Maha Melindungi), Al Hamiid (Yang berhak menerima pujian), Al Muhshii (Yang Maha Menghitung), Al Mubdi'u Yang Memulai Penciptaan makhluk), Al Mu`iid (Yang Mengembalikan Makhluk menjadi hidup kembali), Al Muhyii (Yang Maha Menghidupkan), Al Mumiitu (Yang Maha Mematikan), Al Hayyu (Yang Maha Hidup, tidak akan pernah mati), Al Qoyyuum (Yang Berdiri Sendiri, mandiri), Al Waajid (Yang Maha menemukan siapa saja yang dicariNYA), Al Maajid (Yang Maha Jaya/ Terhormat), Al Wahid (Yang Maha Satu), Al Ahad (Yang Maha Tunggal), As Shomad (Tempat meminta sesuatu), Al Qoodir (Yang Maha Menentukan), Al Muqtadir (Yang Maha Menguasai), Al Muqoddim (Yang Maha Mendahulukan), Al Mu`akkhir (Yang Maha Mengakhirkan), Al Awwal (Yang Paling Pertama/awal), Al Aakhir (Yang Maha Akhir), Az Dzhoohir (Yang Maha Nyata), Al Baathin (Yang Maha Ghoib, tidak terlihat), Al Waali (Yang Maha Memerintah), Al Muta`aalii (Yang Mempunyai Kedudukan Paling Tinggi), Al Barru (Yang Melimpahkan Kebaikan), At Tawwaab (Yang Maha Penerima Tobat, sampai manusia bosan berbuat keburukan), Al Muntaqim (Yang Pemberi balasan, Pemberi siksa), Al Afuww (Yang Maha Pemaaf, Pemberi Maaf), Ar Ro`uuf (Yang Maha Pengasuh, Penyantun), Malikul Mulk (Yang Menguasai Penguasa), Dzul Jalaali Wal Ikraam (Yang Maha Pemilik Keagungan dan Kehormatan), Al Muqsith (Yang Maha Pemberi Keadilan), Al Jamii` (Yang Maha Mengumpulkan), Al Ghoniyy (Yang Maha Kaya), Al Mughnii (Yang Maha Pemberi Kekayaan), Al Maani (Yang Maha Mencegah, menghambat, menahan), Ad Dhoor (Yang Maha Mendatangkan Mudhorot/Pembuat dan Pemberi Bahaya), An Nafii (Yang Maha Pemberi Manfaat), An Nuur (Yang Maha Bercahaya), Al Haadii (Yang Maha Pemberi Petunjuk), Al Badii’ (Yang Maha Pencipta), Al Baaqii (Yang Maha Kekal), Al Waarits (Yang Mewariskan), Ar Rosyiid (Yang Maha Pandai), As Shobuur (Yang Maha Sabar).
Kemudian kita melihat kepada indahnya ciptaan Alloh yang tidak ada habisnya.
وَالْفَيْضُ عَلَى لَطِيْفَةِ النَّفْسِ.
Terjemah Indonesia:
"Dan kelebihannya kepada kebagusan jiwa."
5. MUROQOBAH MAHABBAH FII DAIROH ATS-TSANIYAH,
artinya menyendiri pada cinta kepada Alloh didalam derajat yang ke dua disertai Tawajuh (menghadapkan dan mendekatkan hati dengan rasa) kehadiran Alloh yang cinta kepada kita, dan kita cinta kepada Alloh, dan melihat melalui bashiroh (pandangan hati) kepada Pengeran (Pangedepan Ratu Sasembahan yaitu Alloh) yang persifatan dengan sifat ma'ani ( yaitu: Maha kuasa, Maha menentukan, Maha mengetahui, Maha hidup, Maha mendengar, Maha melihat, Maha berkata-kata) dan ma'nawiyah (yaitu keberadaan Alloh yang maha berkuasa, keberadaan Alloh yang Maha menentukan, keberadaan Alloh yang Maha Mengetahui, keberadaan Alloh yang Maha hidup, keberadaan Alloh yang Maha mendengar, keberadaan Alloh yang Maha melihat, keberadaan Alloh yang Maha berkata-kata)
وَالْفَيْضُ عَلَى لَطِيْفَةِ النَّفْسِ.
Terjemah Indonesia:
"Dan kelebihannya kepada kebagusan jiwa."
6. MUROQOBAH MAHABBAH FIIL QOUSI,
Artinya, menyendiri dan mendekatkan diri kepada Alloh didalam rasa cinta kepada Alloh didalam hal yang sangat dekat sekali seakan-akan sampai berhadapan kepada kehadiran Alloh yang cinta kepada kita dan juga kita cinta kepada Alloh.
Dalil ke 3 muroqobah tadi, seperti firman Alloh suroh Al Maidah ayat 54, yaitu:
اللهَ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ
Terjemah Indonesia:
"Suatu yang Alloh mencintai mereka dan mereka mencintai-NYA."
وَالْفَيْضُ عَلَى لَطِيْفَةِ النَّفْسِ.
Terjemah Indonesia:
"Dan kelebihannya kepada kebagusan jiwa."
7. MUROQOBAH WILAYAH AL-'ULYA,
Artinya adalah menyendiri pada susunan yang tertinggi, yaitu wilayah (dunia) nya para malaikat disertai Tawajuh (menghadapkan dan mendekatkan hati dengan rasa) kepada kehadiran Alloh yang telah menjadikan kepada wilayah Al-'Ulya (artinya loteng, dalam hal ini yang dimaksud adalah langit, tempat para malaikat) dan yang dinamakan dengan nama dzohir dan bathin).
Yaitu para malaikat bisa menjadi dhohir (dilihat melalui indra mata) dan batin (yang hanya bisa dilihat dengan bashiroh atau pandangan hati/bathin).
Hal ini sesuai denga Firman Alloh ﷻ dalam Suroh Al Hadid ayat 3:
هُوَ اْلاَوَّلُ وَاْلاَخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ.
Terjemah indonesia:
"DIA Dzat yang awal tanpa Permulaan, dan Dzat yang akhir tanpa ujung, dan Dzat yang Dzohir (lahiriyah) dan Dzat yang Bathin (tersembunyi)."
Dan Firman Alloh ﷻ dalam Suroh Al A’rof ayat 206:
اِنَّ الَّذِيْنَ عِنْدَرَبِّكَ لاَيَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَيُسَبِّحُوْنَهُ وَلَهُ يَسْجُدُوْنَ
Terjemah Indonesia:
"Sesungguhnya orang-orang yang ada di sisi Tuhanmu tidak merasa enggan untuk menyembah Alloh dan mereka menyucikan-NYA dan hanya kepada-NYA mereka bersujud"
وَالْفَيْضُ عَلَى عَنَاصِرِ الثَّلاَثَةِ.
Terjemah Indonesia:
"Tumpahnya keanugerahan Alloh ﷻ kepada semua kejadian 3 unsur, Yaitu, air, api dan Angin."
8. MUROQOBAH KAMALATAN NUBBUWWAH,
Artinya menyendiri pada kesempurnaan kenabian (yaitu mengambil perilaku nabi sebagai utswatun hasanah/suri tauladan/panutan) disertai Tawajuh (menghadapkan dan mendekatkan hati dengan rasa) kepada kehadiran Alloh yang sudah menjadikan kesempurnaannya kenabian dan yang memerintahkan para Nabi dan Rosul dengan hukum syara' (syare'at)
Hal tersebut sesuai dengan Firman Alloh suroh Al Isro’ ayat 55:
وَلَقَدْ فَضَّلْنَا بَعْضَ النَّبِيِّيْنَ عَلَى بَعْضٍ
Terjemah Indonesia:
“Dan sungguh, Kami telah memberikan kelebihan kepada sebagian nabi-nabi atas sebagian (yang lain) ”
وَالْفَيْضُ عَلَى عُنْصُرِ التُّرَابِ.
Terjemah Indonesia:
"Dan melimpahnya (anugerah Alloh itu datang) kepada terjadinya debu (tanah)"
9. MUROQOBAH KAMALAT AR-RISALAH,
Artinya, menyendiri pada kesempurnaan sifat para nabi utusan (Rosul), disertai Tawajuh (menghadapkan dan mendekatkan hati dengan rasa) kepada kehadiran Alloh yang telah menjadikan sempurnanya sifat para Rosul (Jujur, Bisa dipercaya, menyampaikan, cerdas) dan memerintahkan para Rosul tadi dengan hukum syareat yang lebih sempurna daripada kamalat an Nubuwah.
Karena para Rosul lebih sempurna dari pada Nabi yang bukan Rosul.
Hal ini sesuai dengan Firman Alloh ﷻ suroh Al Baqoroh ayat 253:
تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ
Terjemah indonesia:
"Aku (Alloh) kepada engkau para Rosul, KAMI melebihkan beberapa mereka (yaitu para Rosul) atas yang lainnya."
Yaitu dengan memberi mereka keistimewaan yang tidak diberikan kepada lainnya. Antara para Rosul itu berbeda-beda kelebihannya, sedang Para Nabi berada dibawahnya Para Rosul.
Alloh juga berfirman dalam suroh Al Anbiya’ ayat 107:
وَمَااَرْسَلْناكَ اِلاَّرَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ
Terjemah indonesia:
"Dan KAMI mengirim engkau (Muhammad) kecuali kasih sayang kepada seluruh Alam Semesta."
Yaitu Alloh mengirim Kanjeng Nabi Muhammad ﷺ, bertujuan hanya memberikan/mengajarkan kasih sayang kepada seluruh alam semesta.
وَالْفَيْضُ عَلَى هيئة الوحدانية.
Terjemah Indonesia:
"Dan melimpahnya kepada lathifah sepuluh."
Yang lima dinamakan ‘ALAM AL AMRI (lathifah Qolbi/Nafsu Lauwamah, Lathifah Rukhi/Nafsu Mulhamah, Lathifah Sirri/Nafsu Muthmainah, Lathifah Khofi/Nafsu Mardhiyah, Lathifah Akhfa'/Nafsu Kamilah), dan yang lima lainnya dinamakan ‘ALAM AL KHOLQI" (Lathifah Nafsi/Nafsu Amarah yang letaknya berada di otak, tengah-tengah alis, tengah² mata, Lathifah Anashir Al Arba'ah).
Yaitu lathifah an-nafs dan ‘anashir al-arba’ah.
Bentuknya ‘ANASHIR AL ARBA^AH" anashir al-arba’ah yaitu air, angin, api, tanah/debu, dengan pelantara para guru ‘alaihi murrohmah.
Seperti itu juga muroqobah lain-lainnya.
10. MUROQOBAH ULIL AL 'AZMI,
Artinya, menyendiri pada sempurnanya para Nabi yang mempunyai sifat ketabahan yang kuat, disertai Tawajuh (menghadapkan dan mendekatkan hati dengan rasa) kepada kehadiran Alloh ﷻ yang telah memberikan perintah pada sempurnanya para nabi yang mempunyai sifat sabar dan kuat menanggung masysyaqoh (permasalah/kesulitan)
Dan Alloh telah memerintahkan kepada ulil 'azmi dengan hukum syare'at yang lebih sempurna daripada Kamalat Nubuwwah dan Kamalat Ar Risalah.
Karena ulul-'azmi itu lebih sempurna daripada Nabi-Nabi dan Rosul yang selain dari ulil-'azmi.
Sedangkan banyaknya Ulil-'Azmi itu ada 5, yaitu: Nabi Nuh 'Alahis salam, Nabi Musa Alahis salam, Nabi Ibrohim Alahis salam, Nabi 'Isa Al Masih, Nabi Muhammadﷺ.
Hal ini sesuai dengan Firman Alloh suroh Al Ahqoof ayat 35:
فَاصْبِرْ كَمَاصَبَرَاُوْلُوْالْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ،
Terjemah Indonesia:
"Maka bersabarlah engkau sebagaimana kesabaran Ulil-'Azmi (keteguhan hati) dari rosul-rosul,"
yaitu orang-orang yang teguh, tabah, sabar di dalam menghadapi cobaan dan tantangan (dari rasul-rasul) sebelummu, karena itu kamu akan termasuk orang yang mempunyai keteguhan hati.
وَالْفَيْضُ عَلَى هَيْئَةِ الْوَحْدَانِيَّةِ.
Terjemah Indonesia:
"Dan kelebihan kepada tubuh 10"
Yaitu ibarat berkumpulnya 10 Lathifah sampai akhir dengan pelantara para guru 'alaihi murrohmah.
11. MUROQOBAH AL MAHABBAH FII DAERAH KHULLOH WAHIYA HAQIQAT IBROHIM 'ALAIHIS SALAM,
Artinya, menyendiri mendekatkan pada derajat kholil (kekasih), yaitu sejatinya kanjeng Nabi Ibrohim Alaihis salam, disertai Tawajuh (menghadapkan dan mendekatkan hati dengan rasa) kepada kehadiran Alloh ﷻ yang telah mengambil Nabi Ibrohim Alaihi Salam sebagai kekasihnya.
Hal ini sesuai dengan Firman Alloh Suroh An Nisa ayat 125:
وَاتَّخَذَاللهُ اِبْرَاهِيْمَ خَلِيْلاً
Terjemah Indonesia:
"Dan Alloh telah mengambil Ibrohim sebagai kekasih (NYA)”.
Yaitu, Alloh memilih Nabi Ibrohim diantara Nabi yang lain sebagai kesayangan-NYA dan disayangi-NYA secara tulus dan murni.
وَالْفَيْضُ عَلَى هَيْئَةِ الْوَحْدَانِيَّةِ.
Terjemah Indonesia:
"Dan kelebihan kepada tubuh 10"
Yaitu ibarat berkumpulnya 10 Lathifah sampai akhir dengan pelantara para guru 'alaihi murrohmah.
12. MUROQOBAH DAIRAH AL MAHABBAH AL SHIRFAH WAHIYA HAQIQOT NABI MUSA ALAIHIS SALAM,
Artinya, menyendiri kepada cinta yang murni, yaitu kebenaran Nabi Musa Alaihis Salam disertai Tawajuh (menghadapkan dan mendekatkan hati dengan rasa) kepada kehadiran Alloh yang telah memerintahkan sifat cinta yang murni kepada Nabi Musa Alaihi Salam yang mempunyai gelar kalimulloh.
Hal ini sesuai dengan firman Alloh Suroh Thooha ayat 39:
وَاَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً مِنِّي.
Terjemah indonesia:
“Dan Aku Telah melimpahkan kepadamu (Musa) kasih sayang yang datang dari- Ku”.
Yaitu Dan Alloh telah melimpahkan kepada Nabi Musa Alaihi Salam kasih sayang yang datang daripada Alloh, supaya semua orang merasa kasih sayang kepada Nabi Musa Alaihi salam, lalu demikian pula setiap orang yang melihat Nabi Musa Alaihis Salam.
وَالْفَيْضُ عَلَى هَيْئَةِ الْوَحْدَانِيَّةِ.
Terjemah Indonesia:
"Dan kelebihan kepada tubuh 10"
Yaitu dan seperti itu dengan pelantara para guru 'alaihimurrohmah.
13. MUROQOBAH MAHABBAH ADZ-DZATIYYAH AL MUMTAZIJAH BII AL MAHBUBIYAH WA HIYA HAQIQAT AL MUHAMMADIYAH,
Artinya, menyendiri pada rasa cinta kepada sejenis Dzat yang dicampur dengan kekasih, yaitu sejatinya yang Nabi Muhammad ﷺ disertai Tawajuh (menghadapkan dan mendekatkan hati dengan rasa) kepada kehadiran Alloh yang telah menjadikan sejatinya Nabi Muhammad ﷺ dari kekasih-NYA yang awal/utama dicampuri dengan sifat kasih sayang.(yaitu permulaan bahwa ciptaan Alloh yang pertama kali adalah Nur Muhammad dicampur dengan kasih sayang Alloh yang murni sehingga semua penciptaan itu berasal dari Nur Muhammad)
Hal ini sesuai dengan Firman Alloh suroh Ali Imron ayat 144:
وَمَامُحَمَّدٌ اِلاَّرَسُوْلٌ
Terjemah Indonesia:
“Dan yaitu (menjadikan) Nabi Muhammad kecuali sebagai Utusan Alloh”.
وَالْفَيْضُ عَلَى هَيْئَةِ الْوَحْدَانِيَّةِ.
Terjemah Indonesia:
"Dan kelebihan kepada tubuh 10"
Yaitu dan seperti itu dengan pelantara para guru 'alaihimurrohmah.
14. MUROQOBAH MAHBUBIYAH ASY-SYIRFAH WA HIYA HAQIQOH AL AHMADIYAH,
Artinya: Menyendiri pada cinta yang murni, yaitu haqiqat (kebenaran) Ahmadiyah disertai Tawajuh (menghadapkan dan mendekatkan hati dengan rasa) kepada kehadiran Alloh Subhanahu Wa Ta'ala yang telah menjadikan haqiqat (kebenaran) Al Ahmadiyah sebagai kekasih yang murni.
Hal ini seperti yang telah Alloh kabarkan kepada Nabi Isa Al Masih didalam kitab injil, sesuai dengan firman Alloh suroh Ash-shoof ayat 6:
وَمُبَشِّرًا بِرَسُوْلٍ يَأْتِيْ مِنْ بَعْدِى اسْمُهُ اَحْمَدُ.
Terjemah Indonesia:
"Dan memberi kabar gembira dengan seorang Rosul yang akan datang setelahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).”
وَالْفَيْضُ عَلَى هَيْئَةِ الْوَحْدَانِيَّةِ.
Terjemah Indonesia:
"Dan kelebihan kepada tubuh 10"
Yaitu dan seperti itu dengan pelantara para guru 'alaihimurrohmah.
15. MUROQOBAH AL HUBB ASH-SHORF,
Artinya, menyendiri pada mencintai yang murni disertai Tawajuh (menghadapkan dan mendekatkan hati dengan rasa) kepada kehadiran Alloh yang telah memberikan sifat cinta yang murni kepada semua hamba-NYA, sama seperti cinta pada Alloh Ta'ala, cinta kepada para malaikat, cinta pada para nabi, dan para utusan-NYA, semua orang islam dan lain-lainnya. Hal ini sesuai dengan Kalamulloh dalam suroh Al Baqoroh ayat 165:
وَالَّذِيْنَ اَمَنُوْا اَشَدُّ حُبًّا ِللهِ.
Terjemah Indonesia:
"Dan orang-orang yang beriman lebih kuat cintanya kepada Alloh"
Kecintaan mereka melebihi kecintaan kepada siapa pun, karena mereka tak hendak berpaling daripada-NYA dalam keadaan bagaimana pun.
وَالْفَيْضُ عَلَى هَيْئَةِ الْوَحْدَانِيَّةِ.
Terjemah Indonesia:
"Dan kelebihan kepada tubuh 10"
Yaitu dan seperti itu dengan pelantara para guru 'alaihimurrohmah.
16. MUROQOBAH LAA TA'YIN,
Artinya menyendiri kepada Alloh yang hakikatnya Dzat-NYA tidak bisa dinyatakan atau disamakan dengan semua makhluk seperti halnya malaikat Muqorrobin, para Rosul, dan lain sebagainya, disertai Tawajuh (menghadapkan dan mendekatkan hati dengan rasa) kepada kehadiran Alloh yang tidak bisa ditemukan kepada hakikatnya Dzat -NYA, kecuali Alloh sendiri. Sedangkan isyaratnya ayat yaitu kalamulloh suroh Asy-Syuroo ayat 11:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ.
Terjemah Indonesia:
"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat"
Sesungguhnya Alloh ﷻ. tiada sesuatu pun yang sama dengan-NYA, semua apa yang dikatakan, semua apa yang dikerjakan.
Dan lagi isyarat kepada ayat al ikhlas ayat 4:
وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا اَحَدٌ
Terjemah Indonesia:
"Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Alloh"
وَالْفَيْضُ عَلَى هَيْئَةِ الْوَحْدَانِيَّةِ.
Terjemah Indonesia:
"Dan kelebihan kepada tubuh 10"
Yaitu dan seperti itu dengan pelantara para guru 'alaihimurrohmah.
17. MUROQOBAH HAQIQAT AL KA'BAH,
Artinya, menyendiri kepada haqiqat (sejatinya) Ka'bah disertai Tawajuh (menghadapkan dan mendekatkan hati dengan rasa) kepada kehadiran Alloh yang telah menjadikan haqiqat ka'bah pada tempat sujudnya (sholat) para makhluk kepada Alloh (yaitu arah kiblat, dimana tempat Nabi Adam turun ke dunia). Hal ini sesuai dengan Kalamulloh suroh Al Baqoroh ayat 144:
فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ.
Terjemah Indonesia:
"Maka hadapkan wajah engkau ke arah masjidil harom (ka'bah)"
Yaitu menghadap ka'bah di waqtu sholat.
Bumi sebagai magnet dan pusat pusaran planet-planet, dan langit-langit Alam semesta dan Ka'bah merupakan sumber spiritual dan supra natural dari alam semesta raya.
وَالْفَيْضُ عَلَى هَيْئَةِ الْوَحْدَانِيَّةِ.
Terjemah Indonesia:
"Dan kelebihan kepada tubuh 10"
Yaitu dan seperti itu dengan pelantara para guru 'alaihimurrohmah.
18. MUROQOBAH HAQIQAT AL QUR'AN,
Artinya, menyendiri kepada haqiqat (sejatinya) nya Al Qur'an disertai tawajjuh (menghadapkan dan mendekatkan hati dengan rasa) kepada kehadiran Alloh yang telah menjadikan haqiqat (sejatinya) Al Qur'an yang diturunkan kepada baginda Nabi Muhammad ﷺ dan yang jadi ibadah terhadap orang yang membacanya, dan lebih agung-agungnya lagi dakwah mukjizat terhadap Nabi Muhammad ﷺ.
Alloh ﷻ berfirman didalam Al Qur'an suroh Al Baqoroh ayat 23:
وَاِنْ كُنْتُمْ فِى رَيْبٍ مِمَّانَزَّلْنَا عَلَى عبْدِنَافَأتُوْابِصُوْرَةٍمِنْ مِثْلِهِ.
Terjemah Indonesia:
"Dan jika kamu meragukan yang KAMI turunkan kepada hamba KAMI maka buatlah satu suroh menyerupai dengannya."
Yaitu Alloh menurunkan wahyu berupa Al Qur'an kepada Hamba KAMI yaitu Nabi Muhammad ﷺ, apabila meragukannya maka buatlah yang sebanding dengannya, baik dalam kedalaman makna maupun dalam keindahan susunan kata serta pemberitaan tentang hal-hal gaib dan sebagainya. Yang dimaksud dengan ‘suroh’ adalah suatu penggalan kata yang mempunyai permulaan kesudahan dan sekurang-kurangnya terdiri dari tiga ayat.
وَالْفَيْضُ عَلَى هَيْئَةِ الْوَحْدَانِيَّةِ.
Terjemah Indonesia:
"Dan kelebihan kepada tubuh 10"
Yaitu dan seperti itu dengan pelantara para guru 'alaihimurrohmah.
19. MUROQOBAH HAQIQOH SHOLAH,
Artinya, menyendiri pada haqiqatnya (sejatinya) sholat yaitu disertai Tawajuh (menghadapkan dan mendekatkan hati dengan rasa) kepada kehadiran Alloh yang telah menjadikan haqiqatnya (sejatinya) sholat, yaitu beberapa pengucapan dan gerakan yang diawali dengan takbiratul ikhrom dan diakhiri dengan salam melalui syarat-syarat yang telah ditentukan, termasuk hal-hal yang membatalkan sholat, menjaga waqtu, disertai khusyu' (keadaan bathin yaitu hati dan jiwa yang focus kepada Alloh) dan khudhu' (merendahkan diri dihadapan Alloh melalui pengucapan dan sikap). Alloh berfirman dalam Al Qur'an suroh An Nisa' ayat 103:
اِنَّ الصَّلاَةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ كِتاَباًمَوْقُوْتًا
Terjemah Indonesia:
"Sesungguhnya sholat adalah untuk orang-orang yang beriman yang ditetapkan waktunya."
Yaitu suatu kewajiban, maka janganlah diundur atau ditangguhkan mengerjakannya.
Dan juga Kalamulloh dalam suroh Al Ankabut ayat 45:
إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ
Terjemah indonesia:
"Sesungguhnya sholat mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar"
Yaitu Seharusnya sholat menjadi benteng bagi seseorang untuk tidak melakukan perbuatan-perbuatan keji dan mungkar, apabila seaeorang benar-benar mengerjakannya dengan khusyu' dan khudhu'.
وَالْفَيْضُ عَلَى هَيْئَةِ الْوَحْدَانِيَّةِ.
Terjemah Indonesia:
"Dan kelebihan kepada tubuh 10"
Yaitu dan seperti itu dengan pelantara para guru 'alaihimurrohmah.
20. MUROQOBAH DAERAH AL-MA'BUDIYAH ASH-SHIRFAH
Artinya, menyendiri kepada yang disembah yang paling murni, disertai Tawajuh (menghadapkan dan mendekatkan hati dengan rasa) kepada kehadiran Alloh yang pemilik ibadah yang murni dari keseluruhan perintah, yang pengertiannya Dzat yang berhak disembah dari semua makhluk dengan ibadah yang haq (benar). Hal ini sesuai dengan firman Alloh suroh Adz Dzariyat ayat 56:
وَمَاخَلَقْتُ الْجِنَّ والْاِنْسَانَ اِلاَّ لِيَعْبُدُوْنِ
Terjemah Indonesia:
"Dan AKU tidak menciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka menyembah kepada AKU"
pengertiannya bahwa makhluk mempersembahkan dirinya untuk Dzat yang paling murni, yaitu Alloh.
وَالْفَيْضُ عَلَى هَيْئَةِ الْوَحْدَانِيَّةِ.
Terjemah Indonesia:
"Dan kelebihan kepada tubuh 10"
Yaitu dan seperti itu dengan pelantara para guru 'alaihimurrohmah.
BAB VI : MENJELASKAN SILSILAHNYA THORIQOH QODIRIYAH WAN NAQSYABANDIYAH
SEJARAH TALQIN
Dzikir nafi itsbat ini pertama kali dibai’atkan oleh kanjeng Nabi ﷺ kepada Sayyidina Ali bin Abi Tholib Karomallohu Wajhah. Yaitu pada malam hijrahnya kanjeng Nabi Muhammad ﷺ dari Mekkah ke kota Yasrib (Madinah). Di saat Sayyidina Ali ibn Abi Tholib Karomallohu Wajhah hendak menggantikan posisi tidurnya kanjeng Nabi ﷺ (menempati tempat tidur dan memakai selimut kanjeng Nabi ﷺ). Sedangkan pada waktu itu kanjeng Nabi ﷺ sudah dikepung oleh para pembunuh bayaran kafir Quraisy. Dengan talqin dzikir inilah kemudian Sayyidina Ali ibn Abi Tholib Karomallohu wajhah mempunyai keberanian dan tawakkal kepada Alloh yang luar biasa. Sayyidina Ali berani “menyamar” sebagai Nabi ﷺ, sedangkan ia tahu persis bahwa Nabi ﷺ sedang terancam maut.
Selanjutnya dzikir ini ditalqinkan oleh Sayyidinan Ali ibn Abi Tholib Karomallohu Wajhah kepada puteranya, yaitu Sayyidina Al- Hussein. Kemudian Imam Al-Husein mentalqinkan dzikir ini kepada puteranya, yaitu Imam Ali Zainal Abidin. Dan seterusnya dzikir ini ditalqinkan secara sambung menyambung kemudian sampai kepada Sayyidina Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani Al Hasani. Maka setelah metode dzikir ini diamalkan oleh Sayyidina Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani Al-Hasani orang-orang sesudahnya (para muridnya) menyebutnya dengan Thoriqoh Qodiriyah atau dzikir Qodiriyah.
Sedangkan dzikir ism dzat dibai’atkan pertama kali oleh Baginda Nabi ﷺ kepada Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq, ketika sedang menemani Baginda Nabi ﷺ berada di Gua Tsur, pada saat sedang berada dalam perjalanan hijrah atau dalam persembunyian dari kejaran para pembunuh kafir Qurays. Ketika sedang panik-paniknya dalam persembunyian Baginda Nabi ﷺ mengajarkan (men-talqinkan) dzikir ini dan sekaligus cara muroqobah ma’iyah (merasakan kebersamaan dengan Alloh didalam diri, didalam tiap-tiap bagian dari diri).
Selanjutnya dzikir ismu dzat ini ditalqinkan kepada Sayyidina Salman Al-Farisi, kemudian ia mentalqinkan kepada Sayyidina Qosim bin Abi Bakar Ash-Shidiq. Kemudian terus diterima oleh Imam Ja’far Ash-Shodiq dan terus sambung menyambung sampai kemudian diterima oleh Sayyidina Syaikh Baha’uddin An-Naqsyabandi. Maka setelah thoriqoh dzikir ini diamalkan oleh Sayyidina syaikh Bahauddin An Naqsyabandy tersebut orang-orang menyebutnya dengan thoriqoh Naqsyabandiyah atau thoriqoh dzikir Naqsyabandiyah.
Adapun silsilahnya Thoriqoh kedua-duanya itu, sebenarnya Al Faqir Ilalloh Al Khobir (menyiarkan) Muhammad Romly Tamim, Rodhiallohu'anhu, Rejoso, Peterongan, Jombang, Jawa Timur, yang menerima talqin dan bai'at kedua thoriqoh tadi dari KH. Kholil Al Juraimi, Rejoso, Peterongan, Jombang, Jawa Timur (yang tidak lain adalah kakak iparnya sendiri).
Dari KH. Kholil Al Juraimi, menerima talqin dan Bai'at kedua thoriqoh tadi dari Syaikh Ahmad Hasbulloh bin Muhammad Al-Maduri.
Dari Syaikh Ahmad Hasbullah bin Muhammad Al-Maduri menerima talqin dan bay'at kedua thoriqoh tersebut dari Syaikh Al-Waqti Abdul Karim Al-Bantani tsumma Al-Makki.
Dari Syaikh Al-Waqti Abdul Karim Al-Bantani tsumma Al-Makki menerima talqin bai'at kedua thoriqoh tadi dari Syaikh Ahmad Khothib As Sambas bin Abdil Ghoffar Al-Makki, yang alim dan Arief billaah (wali Alloh) yang tinggal dan meninggal dunia di negara Makkah Al Musyarrofah, kampung Suqullail.
Pengurutan silsilah diatas seperti urutan yang ada dibawah ini mulai nomor urut 1 di talqin dan di bai'at oleh nomor 2 dan begitu seterusnya sampai jatuh kepada Sayyidil Mursalin Wa Habibi Robbil 'alamin Sayyidina Wa Syafi'ina Nabi Muhammad ﷺ Rosulillaah ila Kaaffatil Kholqi Ajma'in, dari Sayyiduna Jibril Alaihi Salam, dari Robbil Jalil Wa Mu'tiqir Riqob Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.
SILSILAH THORIQOH QODIRIYAH WAN NAQSYABANDIYAH DARUL 'ULUM-REJOSO-PETERONGAN-JOMBANG-JAWATIMUR.
Untuk meneruskan Kemursyidan di tubuh TQN Darul 'Ulum, Rejosa, Peterongan, Jombang KH. Rifa'i Romly dan Dr. KH. Ahmad Dimyati Romly mengambil bay'at Kemursyidan kepada KH. Ma'sum ja'far (porong, Sidoarjo), beliau adalah kholifah dari K.H. Muhammad Romly Tamim, Rodhiallohu'anhu.yang tetap berkhidmat (melayani) menegakkan kemursyidan di Darul 'Ulum, Rejoso, Peterongan, Jombang.
1. Dr. K.H. Musta’in Romly dan KH. Utsman Al ishaqi,
2. K.H. Muhammad Romly Tamim,
3. K.H. Kholil Al Julaimi,
4. Syaikh Ahmad Hasbulloh bin Muhammad Al-Maduri,
5. Syaikh Al-Waqti Abdul Karim al-Banteni tsumma Al-Makki,
6. Syaikh Ahmad Khothib bin Abdil Ghoffar As Sambasi Al-Makki,
SILSILAH THORIQOH QODIRIYAH
7. Syaikh Syamsuddin,
8. Umdatul ‘Ulama Al-Abror wa Qudwatul Auliya' Al-Akhyar Al-Ustadz Al-A’zham Wal-‘Alim Al-Fard Al-Atamm Syaikh Murod Wa Innahu Qod Sabaqot Jadz_batuhu ‘Ala Sulukihi Wa Washola Ila Kamalin Nubuwwah Fii Sittah Asy_hur Tsuma Akhadza Al-Khilafah Litarbiyatil Kholqi Wasy_taghola biha.
9. Syaikh Abdul Fattah qaddasallahu sirrah Al-Aziz,
10. Syaikh Kamaluddin,
11. Syaikh Utsman,
12. Syaikh Abdur Rohim,
13. Syaikh Abu Bakr,
14. Syaikh Yahya,
15. Syaikh Hisamuddin,
16. Syaikh Waliyuddin,
17. Syaikh Nuruddin,
18. Syaikh Zainuddin,
19. Syaikh Syarofuddin,
20. Syaikh Syamsuddin,
21. Syaikh Muhammad Hattak
22. Syaikh Abdul Aziz bin Abdul Qodir Al-Jailani Al Hasani,
23. Sulthon Auliya' Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu.
24. Syaikh Abu Sa’id Al-Mubarok bin Ali Al-Makhzumi,
25. Syaikh Abu Hasan Ali Al-Qurosyi Al-Hakkari,
26. Syaikh Abu Faroj Ath-Tharthusi,
27. Syaikh Abdul Wahid At-Tamimi,
28. Syaikh Abu Bakr Dalf bin Jahdar Asy-Syibli,
29. Syaikh Abu Qosim Junaid Al-Baghdadi,
30. Syaikh Abu Sariy As-Saqothi,
31. Syaikh Abu Mahfuzh Ma’ruf bin Fairuz Al-Kurkhi,
32. Al Imam Abu Hasan Ali bin Musa Ar-Ridho,
33. Al Imam Musa Al-Kazhim,
34. Al Imam Ja’far Ash-Shodiq,
35. Al Imam Muhammad Al-Baqir,
36. Al Imam Zainul Abidin,
37. Al Imam Sayyiduna Hussain bin Fathimah Azzahro bintu Nabi Muhammad ﷺ,
38. Sayyiduna Ali bin Abi Tholib Karromallohu wajhah,
39. Sayyidul Mursalin Ila Kaaffatil Kholqi Ajma’in Rosulillaah Muhammad ﷺ,
40. Aminul wahyi Sayyiduna Jibril Alaihi Salam,
41. Robbul Arbab Wa Mu’tiqur Riqob Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Al-Malik Al-Wahhab.
SILSILAH THORIQOH NAQSYABANDIYAH
7. Syaikh Sulaiman Affandy Al-Qorimi,
8. Syaikh Abdullah Al-Affandi Al-Makky,
9. Syaikh Dhiyauddin Kholid Al-Utsmani Al-Baghdady Al-Kurdi,
10. Syaikh Abdullah Ad-Dahlawy Al-'Alawy,
11. Syaikh Syamsuddin Habibulloh Jan Janan Muzhhar Al-'Alawy,
12. Syaikh Asy-Syarif Nur Muhammad Al-Badwany,
13. Syaikh Muhammad Syaifuddin bin Muhammad Ma'shum,
14. Syaikh Muhammad Ma'shum bin Ahmad Al Faruqy,
15. Imam Ar Robbani Al Mujaddid Al Fassami Syaikh Ahmad Al Faruqy As Sirhindy,
16. Syaikh Muayyiduddin Muhammad Al-Baqi Billah,
17. Syaikh Muhammad Al-Khowajiki Al-Amkani As-Samarqondi,
18. Syaikh Darwis Muhammad As-Samarqondi,
19. Syaikh Muhammad Az-Zahid Wakhsi,
20. Syaikh Nashiruddin Ubaidullah Al-Ahror As-Samarqondi bin Mahmud bin Shihabuddin,
21. Syaikh Ya'qub Al-Jarkhi,
22. Syaikh Muhammad 'Aluddin Al Aththor Al Bukhory Al Khowarizmy,
23. Al Aqthob As Sayyid Syaikh Muhammad Baha'uddin Bin Muhammad Bin Muhammad Asy Syarif Al Husaini Al Hasani Al Uwaisi Al Bukhory,
24. Syaikh Sayyid Amir Kulal bin sayyid Hamzah,
25. Syaikh Muhammad Baba As-Samasi,
26. Syaikh Ali Ar-Romitany,
27. Syaikh Mahmud Al-Injir Al-Fagh_nawy,
28. Syaikh Arif Riwqory,
29. Syaikh Abdul Kholiq Al-Ghaj_dawani bin Al-Imam Abdul Jamil,
30. Syaikh Abu Yaqub Yusuf Al-Hamadany bin Ayyub bin Yusuf bin Al-Hussainy,
31. Syaikh Abu Ali Al-Fadhil bin Muhammad Ath-Thusi Al Farmadhi,
32. Syaikh Abu Hasan Ali bin Abu Ja'far Al Kharqony,
33. Sultanul Arifin Syaikh Thoifur bin Isa bin Adam bin Sarwasyan, (Sayyidina Syaikh Abu Yazid Al Busthomy)
34. AL Imam Ja'far Ash-Shodiq,
35. Sayyidina Qosim bin Muhammad bin Abu Bakar Ash-Shiddiq,
36. Sayyidina Salman al-Farisi, Rodhiallohu'anhu,
37. Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq, Rodhiallohu'anhu
38. Sayyidul Mursalin Ila Kaaffatil Kholqi Ajma’in Rosulillaah Muhammad ﷺ,
39. Aminul wahyi Sayyiduna Jibril Alaihi Salam,
40. Robbul Arbab Wa Mu’tiqur Riqob Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Al-Malik Al-Wahhab.
اَذْكُرْ حَدِيْثَ الصَّالِحِيْنَ وَوَسْمَهُمْ فَبِذِكْرِهِمْ تَتَنَزَّلُ الرَّحْمَاتُ
Terjemah Indonesia:
"Aku menyebut (tawasul) membicarakan (membaca sejarah hidup) orang-orang sholeh dan nama mereka, maka dengan mengingat mereka membuahkan kasih sayang Alloh"
اَذْكُرْ حَدِيْثَ الصَّالِحِيْنَ وَوَسْمَهُمْ وَقُبُوْرَهُمْ زُرْهَا تَنَلْ فَوْزًا اَبَدًا
Terjemah Indonesia:
"Aku menyebut (tawasul) membicarakan (membaca sejarah hidup) orang-orang sholeh dan nama mereka, dan mengunjungi kuburan mereka memperoleh kemenangan selamanya."
BAB VII : MENJELASKAN KHATAMNYA (PENUTUPAN) WIRID ROTIB THORIQOH QODIRIYAH WAN NAQSYABANDIYAH (khususiyah)
Melaksanakannya yaitu membaca alfatihah (tawasul) sebanyak 8 kali seperti dengan lafaldz dibawah ini:
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ،
Dengan nama Alloh Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang,
١- إِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى وَرَسُوْلِ اللهِ مُحَمَّدٍصَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاَلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْفَاتِحَةُ ...
1. Kepada kehadiran Nabi pilihan, dan Utusan Alloh Muhammad Yang Alloh curahkan kesejahteraan dan kedamaian kepada beliau, dan keluarga beliau, dan para sahabat-sahabat beliau Alfatihah...
٢- ثُمَّ إِلَى أَرْوَاحِ آبَائِهِ وَإِخْوَانِهِ،
2. Kemudian kepada arwah para leluhur beliau, teman-teman beliau,
مِنَ الْاَنْبِيآءِ وَالمُرْسَلِينَ،
Dari para Nabi dan para Rosul,
وَإِلَى الْمَلآئِڪَةِ الْمُقَرَّبِّيْنَ
Dan malaikat Muqorrobbin (malaikat yang paling dekat dengan Alloh),
وَالْڪَرُوْبِيِّيْنَ وَالرُّوْحَانِيِّيْنَ،
Dan Karrubiyyin (kaum pemimpin dari para malaikat), dan malaikat Ruhaniyin (kaum malaikat yang berada di hadirotul quds dilangit ke 7),
وَالْقُلُوْبِيِّيْنَ وَالدَّرَاجَاتِيِّيْنَ،
Dan Qulubiyyin (malaikat pembawa kesembuhan, penyehat badan, cahaya hati), dan Darojatiyyin (malaikat pembawa derajat) ,
وَالْبَنِيْقُ الرِّزْقِيِّيْنَ،
Dan Baniqur Rizqi (malaikat pembawa rezeqi),
وَالْمَلآئِكَةِ فِی السَّمَاوَاتِ وَلْأَرْضِ،
Dan para malaikat didalam (berada), dilangit-langit dan diBumi,
وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَآءِ وَالصَّالِحِيْنَ،
Dan Shodiqiyyin (orang-orang yang jujur), dan Syuhada'i (kaum muslim yang mati syahid), dan Sholihin (orang-orang yang berbuat kebaikan),
وإِلَى أَرْوَاحِ آلِ كُلِّ وَأَصْحَابِ كُلٍّ مِنْهُمْ،
Dan kepada arwah setiap keluarga dan setiap sahabat dari mereka,
وَإِلَى حَضْرَةِ أَبِيْنَا سَيِّدُنَا آدَمَ وَأُمِّنَا سَيِّدَتِنَا حَوَّا عَلَيْهِمَا السَّلاَمُ
Dan kepada kehadiran bapak kami tuan yang kami mulyakan Nabi Adam Alaihi salam dan Ibu nyonya yang kami muliakan Hawa kepada mereka kedamaian,
وَمَا تَنَاسَلَ بَيْنَهُمَا إِلَى يَوْمِ الدِّينِ
Dan keturunan diantara mereka hingga hari penghakiman,
شَيْءٌ اللهِ لَهُمُ بِسِّرِّ الْفَاتِحَة...
Sesuatu dari Alloh kepada mereka, melalui rahasianya Alfatihah...
٣-ثُمَّ إِلَى حَضْرَةِ سَادَاتِنَا وَمَوَالِيْنَا،
3. Kemudian kepada kehadiran para yang kami muliakan, dan para pembimbing kami,
وَأَئِمَّتِنَا سَيِدُنَا أَبِي بَكْرٍ، عُمَرَ، عُثْمَان، عَلِيِّ رَضِيَ اَللهُ عَنْهُمَا،
Dan para pemimpin kami, orang mulia Abu Bakar, Umar, Utsman, Aliy semoga Alloh rela kepada mereka,
وَإِلَى اَرْوَاحِ بَقِيَّةِ الصَّاحَبَةِ وَالْقَرَابَةِ،
Dan kepada segenap arwah para Sahabat Nabi ﷺ, para kerabat beliau,
وَالتَّابَعِيْنَ، وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ،
Dan para Tabi'in (murid sahabat Nabi ﷺ) dan para Tabi'it Tabi'in (murid dari Tabi'in),
وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ
Dan siapa yang mengikuti mereka dengan kebaikan sampai hari Penghakiman,
شَيْءٌ ا ِللهِ لَهُمُ بِسِّرِّ الْفَاتِحَة...
segala sesuatu dari Alloh kepada mereka, melalui rahasianya Alfatihah...
٤-ثُمَّ إِلَى أَرْوَاحِ الْأَئِمَّةِ المُجْتَهِدِيْنَ
4. Kemudian Kepada kehadiran para imam mujtahidin (orang dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang dimilikinya untuk menggali dan menemukan hukum-hukum syariat),
وَمُقَلِّدِيْهِمْ فِى الدِّيْنِ،
dan para pengikut mereka didalam agama,
وَإِلَى أَرْوَاحِ الْعُلَمَاءِالرَّاشِدِيْن،
Dan kepada arwah ulama Rosyidin (orang yang mempunyai pengetahuan yang mendapatlan petunjuk dari Alloh),
وَالقُرَّاءِ المُخْلِصِيْنَ وَأَئِمَّةِ الْحَدِيْثِ وَالمُفَسِّرِيْنَ
Dan qurroil mukhlisin (penghafal al qur'an dengan ketulusan hatinya), dan para imam hadist dan para ahli tafsir,
وَسَائِرِ سَادَاتِنَا الصُّوفِيَّةِ الْمُحَقِّقِيْنَّ
Dan semua para tuan yang kami mulyakan Sufiyatil Muhaqqiqina (orang yang mempelajari tasawuf/sufi dan mendalami ilmu haqiqat),
وَإِلَى أَرْوَاحِ كُلِّ وَلِيٍّ وَوَلِيَّةٍ وَمُسْلِمٍ ومُسْلِمَةٍ
Dan kepada ruh-ruh para wali lelaki dan Wali perempuan, dan orang islam laki-laki dan perempuan,
مِنْ مَشَارِقِالأَرْضِ إِلَى مَغَارِبِهَا
Dari belahan bumi sebelah timur hingga baratnya,
وَمِنْ يَمِينِهَا إِلَى شِمَالِهَا
Dan dari kanannya (selatan) hingga kirinya (utara),
فِی الدُّنْيَ والْأَخِرَاةِ
Didalam dunia hingga akherat,
شَيْءٌ ا ِللهِ لَهُمُ بِسِّرِّ الْفَاتِحَة...
Segala sesuatu dari Alloh kepada mereka, melalui rahasianya Alfatihah...
٥-ثُمَّ إِلَى حَضْرَةِ مَشَايِخِ الْقَدِرِيَّةِ وَ النَّقْشَبَنْدِيَّةِ وَجَمِيعِ أَهْلِ الطُّرُقِ،
5. Kemudian kepada kehadiran Para mursyid Thoriqoh Qodiriyah Wan Naqsyabandiyah dan seluruh ahli thoriqoh ini.
خُصُوصًا إِلَى سُلْطَانِ الْأَوْلِيَآءِ سَيِّدِنَا الشَّيْجِ عَبْدِ القَادِرِ الجِيْلَانِى الْحَسَنِيْ رَضِيَ اَللهُ عَنْهُ،
khususnya kepada Rajanya Para Wali Alloh guru yang saya muliakan Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani semoga Alloh rela kepada beliau,
وَسَيِدِنَا الطّٰٓائِفَةِ الصُّوْفِيَّةِ أَبِى القَاسِمِ الْجُنَيْدِى الْبَغْدَادِيِّ رَضِيَ اَللهُ عَنْهُ،
dan ketua para ahli tasawuf orang mulia guruku Abu Qosim Junaid Al Baghdadi semoga Alloh rela kepada beliau,
وَسَيِدِنَا سِرِّى السَّقَطِى رَضِيَ اَللهُ عَنْهُ،
Dan orang mulia guruku Sirri As Saqothi semoga Alloh rela kepada beliau,
وَسَيِدِنَا الشَّيْخِ مَعْرُوْفِ الكُرْخِى رَضِيَ اَللهُ عَنْهُ،
Dan orang mulia guruku Ma'ruf Al Khurkhiy semoga Alloh rela kepada beliau,
وَسَيِدِنَا الشَّيْخ حَبِيْبُ الْعَجَمِيِّ رَضِيَ اَللهُ عَنْهُ،
Dan orang mulia guruku Habib Al 'Ajamiyi semoga Alloh rela kepada beliau,
وَسَيِدِنَا الشَّيْخ حَسَنِ الْبَصْرِيِّ رَضِيَ اَللهُ عَنْهُ،
Dan orang mulia guruku Khasan Al Bashriyi semoga Alloh rela kepada beliau,
وَسَيِدِنَا الشَّيْخ الإِمَامِ جَعْفَرِ الصَّادِقِ رَضِيَ اَللهُ عَنْهُ،
Dan orang mulia guruku Imam Ja'far Shodiq semoga Alloh rela kepada beliau,
وَسَيِدِنَا الشَّيْخ أَبِى يَزِيْدَ الْبُسْطَامِى رَضِيَ اَللهُ عَنْهُ،
Dan orang mulia guruku Abi Yasid Al Busthomy semoga Alloh rela kepada beliau,
وَسَيِدِنَا الشَّيْخ يُوْسُفَ الْهَمْدَانِيِّ رَضِيَ اَللهُ عَنْهُ،
Dan orang mulia guruku Yusuf Al Hamdaniyi semoga Alloh rela kepada beliau,
وَسَيِدِنَا الشَّيْخ مُحَمَّدٍ بَهَاءُالدِّيْنِ النَّقْشَبَنْدِيِّ رَضِيَ اَللهُ عَنْهُ،
Dan orang mulia guruku Muhammad Bahauddin An Naqsyabandiyi semoga Alloh rela kepada beliau,
وڪِيَاهِيْ اَلْحَاجِ خَلِيْلُ اَلْجُرَيْمِ رَضِيَ اَللهُ عَنْهُ،
Dan Kiai haji Kholil Al Juraimi semoga Alloh rela kepada beliau,
وَڪِيَاهِيْ اَلْحَاجِ مُحَمَّدٍ رَمْلِى تَمِيْمِ رَضِيَ اَللهُ عَنْهُ،
Dan Kiai Haji Muhammad Romli Tamim semoga Alloh rela kepada beliau,
وَڪِيَاهِيْ اَلْحَاجِ مُسْتَعِيْنْ رَمْلِى رَضِيَ اَللهُ عَنْهُ،
Dan Kiai Haji Musta'in Romli semoga Alloh rela kepada beliau,
وَڪِيَاهِيْ اَلْحَاجِ عُثْمَانِ اَلْإِسْحَاقِی رَضِيَ اَللهُ عَنْهُ،
Dan Kiai Haji Utsman Al Ishaqi semoga Alloh rela kepada beliau,
وَإِلَى حَضْرَةِ الْإِمَامِ الرَّبَّانِى
Dan kepada kehadiran para guru pembimbing jalan menuju Tuhan,
وَأُصُوْلِهِمْ وَفُرُوْعِهِمْ،
Dan akar (leluhur) mereka dan cabang (keturunan) mereka,
وَأَهْلِ سِلْسِلَتِهِمْ وَلأَخِذِيْنَ مِنْهُمْ،
Dan orang yang mengikuti jejak (santri) mereka, dan orang yang mengambil (berbai'at) dari mereka,
شَيْءٌ ا ِللهِ لَهُمُ بِسِّرِّ الْفَاتِحَة...
Segala sesuatu dari Alloh kepada mereka, melalui rahasianya Alfatihah...
٦-ثُمَّ إِلَى أَرْوَاحِ وَلِدِيْنَا وَوَلِدِيْكُمْ
6. Kemudian kepada orang tua saya dan orang tua kalian,
وَمَشَايِخِيْنَا وَمَشَايِخِكُمْ
Dan guru saya dan guru kalian,
وَأَمْوَاتِنَا وَأَمْوَاتِكُمْ
Dan ahli kubur saya dan ahli kubur kalian,
وَلِمَنْ أَحْسَنَ إِلَيْنَا وَلِمَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْنَا
Dan kepada orang-orang yang berbuat baik kepada kami, dan orang yang memiliki hak (menjadi tanggung jawab) kepada kami,
وَلِمَنْ أَوْصَانَا وَاسْتَوْصَانَا
Dan kepada orang-orang yang memberi petuah kepada kami, dan meminta petuah kepada kami,
وَقَلَّدَنَا عِنْدَكَ بِدُعَاءِ الخَيْرِ
Dan yang mengikuti jejak kami karena Engkau, melalui permohonan doa yang baik,
شَيْءٌ ا ِللهِ لَهُمُ بِسِّرِّ الْفَاتِحَة...
segala sesuatu dari Alloh kepada mereka, melalui rahasianya Alfatihah...
٧-ثُمَّ إِلَى أَرْوَاحِ جَمِيْعِ وَالمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ
7 . Kemudian kepada arwah seluruh muslimin dan muslimat,
وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ
Dan mu'minin dan mu'minat,
اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ
Baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia,
مِنْ مَشَارِقِ الْأَرْضِ إِلَى مَغَارِبِهَا
Dari belahan timur hingga barat bumi,
وَمِنْ يَمِيْنِهَا إِلَى شِمَالِهَا بِرَّهَا وَبَحۡرِهَا
Dan dari utara hingga selatan, penghuni daratan dan lautan,
وَمِنْ قَافٍ إِلَى قَافٍ
dan dari berdiri hingga berdiri lagi (sholat),
مِنْ لَدُنْ آدَمَ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ
mulai dari Nabi Adam Alaihi salam hingga hari kebangkitan,
شَيْءٌ اللهِ لَهُمُ بِسِّرِّ الْفَاتِحَة...
Segala sesuatu yang berasal dari Alloh kepada saya dan mereka, melalui rahasianya Alfatihah...
٨-ثُمَْ بِاالْخَاصَّةِ نُدِيْرُ وَنُعْرِضُ
8. Kemudian khususnya kami bagian bawah ini dan kami menghaturkan,
خَتْمَ هٰدِهِ اَلفَاتِحَةِ لَحَضْرَةِ
Penutup Alfatikhah ini kepada hadirat,
سُلْطَانِ الْأَوْلِيَآءِ سَيِّدِنَا الشَّيْجِ عَبْدِ القَادِرِ الجِيْلَانِى الْحَسَنِيْ رَضِيَ اَللهُ عَنْهُ،
kepada Rajanya Para Wali Alloh guru yang saya muliakan Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani semoga Alloh rela kepada beliau,
وَسَيِدِنَا الطّٰٓائِفَةِ الصُّوْفِيَّةِ أَبِى القَاسِمِ الْجُنَيْدِى الْبَغْدَادِيِّ رَضِيَ اَللهُ عَنْهُ،
Dan orang mulia ketua para ahli tasawuf Abu Qosim Junaid Al Baghdadi semoga Alloh rela kepada beliau,
وَإِلَى حَضْرَةِ مَشَايِخِ أَهْلِسِلْسِلَةِ
Dan kepada hadirat rentetan para mursyid,
الْقَدِرِيَّةِ وَالنَّقْشَبَنْدِيَّةِ
Qodiriyah wan Naqsyabandiyah,
وَأُصُوْلِهِمْ وَفُرُوْعِهِمْ،
Dan akar (leluhur) mereka dan cabang (keturunan) mereka,
شَيْءٌ اللهِ لَهُمُ بِسِّرِّ الْفَاتِحَة...
Segala sesuatu yang berasal dari Alloh kepada saya dan mereka, melalui rahasianya Alfatihah...
Setelah membaca Fatikhah Khotaman (penutupan) yang dinamakan Fatikhah Maidaroniyah dihaturkan kepada Sayyidina Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani dan Sayyidina Syaikh Junaid Al Baghdadi dan seluruh masyayih (mursyid) ahli silsilah, lalu membaca seperti yang dibawah ini:
١-اَللّٰهُمَّ صَلِّی عَلَی سَيِّدِنَا ﷴٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ،
1. Wahai Alloh mencurahkan kesejahteraan kepada Junjungan kami Nabi Muhammadﷺ Nabi yang buta huruf,
وَعَلَی آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Dan kedamaian kepada keturunan dan para sahabat beliau.
٢-بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ،
2. Dengan nama Alloh Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang,
أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ،
Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?
وَوَضَعْنَا عَنكَ وِزْرَكَ،
Dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu,
ٱلَّذِىٓ أَنقَضَ ظَهْرَكَ،
Yang memberatkan punggungmu?
وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ،
Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (derajat) mu,
فَإِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا،
Maka sesungguhnya dengan kesulitan itu ada kemudahan,
إِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا،
Sesungguhnya dengan kesulitan itu ada kemudahan,
فَإِذَا فَرَغْتَ فَٱنصَبْ،
Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain,
وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَٱرْغَبْ.
Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.
٣-بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ،
3. Dengan nama Alloh Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang,
قُلۡ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌ،
Katakanlah (Muhammad), "Dialah Alloh, Yang Maha Esa,
اَللهُ الصَّمَدُ،
Alloh tempat meminta segala sesuatu,
لَمۡ يَلِدۡ ۙ وَلَمۡ يُوۡلَدۡ،
(Alloh) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan,
وَلَمۡ يَكُنۡ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ.
Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.
٤-إِلَى حَضْرَةِ مَشَايِخِ الْقَدِرِيَّةِ وَ النَّقْشَبَنْدِيَّةِ وَجَمِيعِ أَهْلِ الطُّرُقِ،
4. Kemudian kepada kehadiran Para mursyid Thoriqoh Qodiriyah Wan Naqsyabandiyah dan seluruh ahli thoriqoh ini.
٥-اَللّٰهُمَّ صَلِّی عَلَی سَيِّدِنَا ﷴٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ،
5. Wahai Alloh mencurahkan kesejahteraan kepada Junjungan kami Nabi Muhammadﷺ Nabi yang buta huruf,
وَعَلَی آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Dan kedamaian kepada keturunan dan para sahabat beliau.
٦-اَللّٰهُمَّ يَاقَاضِيَ الْحَاجَاتِ،
6. Wahai Alloh, wahai Dzat Yang Maha Memenuhi segala kebutuhan, keinginan,
٧-اَللّٰهُمَّ يَاكَافِيَ الْمُهِمَّاتِ،
7. Wahai Alloh, wahai Dzat Yang Maha Mencukupi segala kepentingan,
٨-اَللّٰهُمَّ يَارَافِعَ الدَّرَجَاتِ،
8. Wahai Alloh, Wahai Dzat Yang Menaikkan, Mengangkat darajat, martabat, pangkat,
٩-اَللّٰهُمَّ يَادَافِعَ الْبَلِيَّاتِ،
9. Wahai Alloh, Wahai Dzat Yang Maha Penolak segala bencana, musibah, malapetaka, keburukan, kejahatan, kerusakan, kedholiman, fitnah,
١٠-اَللّٰهُمَّ يَامُحِلَّ الْمُشْڪِلاَتِ،
10. Wahai Alloh, wahai Dzat Yang Maha Mengurai, Melepaskan, Melapangkan segala kemusyrikan, persoalan, kesulitan,
١١-اَللّٰهُمَّ يَامُجِيْبَ الدَّعَوَاتِ،
11. Wahai Alloh, Wahai Dzat Yang Maha Pengabul segala doa (permintaan)
١٢-اَللّٰهُمَّ يَاشَافِيَ اْلأَمْرَاضِ،
12. Wahai Alloh, Dzat Yang Maha Penyembuh dari segala penyakit lahir, bathin, jasmani, rohani
١٣-اَللّٰهُمَّ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
13. Wahai Alloh, Wahai Dzat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.
١٤-اَللّٰهُمَّ صَلِّی عَلَی سَيِّدِنَا ﷴٍ ﷺ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ،
14. Wahai Alloh mencurahkan kesejahteraan kepada Junjungan kami Nabi Muhammadﷺ Nabi yang buta huruf,
وَعَلَی آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Dan kedamaian kepada keturunan dan para sahabat beliau.
١٥-إِلَى حَضْرَةِ سَيِّدِنَا اَلْإِمَامِ اَلْخَوَّاجَڪَانْ، اَلْفَاتِحَةْ...
15. Kepada kehadiran orang mulia Imam Khouwajakan (para guru mursyid berderajat wali Alloh)
١٦-إِلَى حَضْرَةِ سُلْطَانِ الْأَوْلِيَآءِ سَيِّدِنَا الشَّيْجِ عَبْدِ القَادِرِ الجِيْلَانِى الْحَسَنِيْ رَضِيَ اَللهُ عَنْهُ،
16. Kepada kehadiran Rajanya Para Wali Alloh guru yang saya muliakan Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani semoga Alloh rela kepada beliau,
١٧-اَللّٰهُمَّ صَلِّی عَلَی سَيِّدِنَا ﷴٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ،
17. Wahai Alloh mencurahkan kesejahteraan kepada Junjungan kami Nabi Muhammadﷺ Nabi yang buta huruf,
وَعَلَی آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Dan kedamaian kepada keturunan dan para sahabat beliau.
١٨-حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ.
18. Cukuplah Alloh bagi ku, Dan sebaik-baik Pemelihara,
١٩-اَللّٰهُمَّ صَلِّی عَلَی سَيِّدِنَا ﷴٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ،
19. Wahai Alloh mencurahkan kesejahteraan kepada Junjungan kami Nabi Muhammadﷺ Nabi yang buta huruf,
وَعَلَی آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Dan kedamaian kepada keturunan dan para sahabat beliau.
٢٠-إِلَى حَضْرَةِ سُلْطَانِ الْأَوْلِيَآءِ سَيِّدِنَا الشَّيْجِ عَبْدِ القَادِرِ الجِيْلَانِى الْحَسَنِيْ رَضِيَ اَللهُ عَنْهُ،
20. Kepada kehadiran Rajanya Para Wali Alloh guru yang saya muliakan Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani semoga Alloh rela kepada beliau,
٢١-إِلَى حَضْرَةِ اَلْإِمَامِ الرَّبَّانِّی،
21. Kepada kehadiran Imam Robbani (guru pembimbing jalan kepada Tuhan),
٢٢-اَللّٰهُمَّ صَلِّی عَلَی سَيِّدِنَا ﷴٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ،
22. Wahai Alloh mencurahkan kesejahteraan kepada Junjungan kami Nabi Muhammadﷺ Nabi yang buta huruf,
وَعَلَی آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Dan kedamaian kepada keturunan dan para sahabat beliau.
٢٣-لآحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ
23. Tidak ada tenaga dan tidak pula kekuatan, hanya melalui Alloh.
٢٤-اَللّٰهُمَّ صَلِّی عَلَی سَيِّدِنَا ﷴٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ،
24. Wahai Alloh mencurahkan kesejahteraan kepada Junjungan kami Nabi Muhammadﷺ Nabi yang buta huruf,
وَعَلَی آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Dan kedamaian kepada keturunan dan para sahabat beliau.
Dengan kemantaban dan kebesaran hati memohon kehadirat Alloh Ta'ala:
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمَ
يَااللهُ يَااللهُ يَارَبِّ !...
Limpahilah dan curahilah kami rohmat, barokah, karomah, dan ampunilah dosa-dosa kami yang telah lewat dan yang akan datang, baik lahir maupun bathin, baik yang kecil maupun besar, yang sengaja maupun tidak sengaja.
Dan anugerahilah kami, lapang, selalu bersyukur, sabar, tabah dan redho akan takdir dari-MU, serta penuh sehat wal afiat, sehat jasmani dan rohani, nikmatnya, damainya, tenangnya hidup, serta naungi dan lindungi kami dengan kebaikan-MU, dan hindarkan kami dari segala ujian, cobaan, keburukan, kejahatan, musibah, malapetaka, kerusakan, gangguan, kedholiman, kesewenang-wenangan, serta segala fitnah, didunia, dibarzah, dan diakherat.
Dan berilah, cukupilah, serta sempurnakanlah rezeqi kami, yang mudah, murah, lapang, baik, halal, manfaat, barokah, secara terus-menerus disertai membawa karomah.
Dan tambah serta tebalkanlah, kuatkanlah iman kami, anak-anak kami, keluarga kami, lingkungan kami, masyarakat kami, serta pemimpin-pemimpin kami yang selalu bertaqwalloh dan melakukan sifat-sifat dan perilaku yang indah dan terpuji serta menjauhi, meninggalkan sifat-sifat dan perilaku yang buruk dan tercela, serta beruntung dunia dan akherat.
Melalui perantara Kemulyaan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala bukakanlah, lapangkanlah, teguhkanlah, mudahkanlah hati kami, selalu bertemu, berkumpul dengan hamba-hamba-MU yang sholeh dan selalu bernaung tuntunan, bimbingan syari'at dan thoriqoh, dengan penuh istiqomah, tuma'ninah, mahabbah, haqiqat dan Ma'rifat keharibaan-MU.
Dengan anugerah Maha Kasih Sayang-MU, Agungnya pengampunan dan naungan, perlindungan-MU, akhirilah hidup kami, dengan membawa Redho-MU dan khusnul khotimah. Selamat dan aman dari kerisauan, kegelisahan, kesedihan dan guncangan, terhimpit, fitnah dan siksa di dalam kubur.
Dengan izin dan ridho-MU, sambut dan pertemukanlah kami, dengan kedua orang tua kami, para pendahulu-pendahulu (leluhur) kami, para guru-guru kami, seluruh awliya'illaah, dan hamba-hamba-MU yang sholeh, segenap keluarga kami, serta lingkungan sekitar kami.
Dengan izin dan ridho-MU hadirkanlah segenap para guru Robbani dihadapan kami, dan dituntunnya, diajaknya kami bersama-sama dipertemukan kepada Baginda Habiballoh Rosulillaah Muhammad ﷺ disertai dengan meraih syafa'at beliau ﷺ yang mulia dan agung, mengiringi beliau ﷺ masuk ke dalam surga dengan disertai menatap, melihat Dzat-MU Yang Maha Indah, Maha Sempurna, Maha Besar dan Maha Agung.
Diakhiri dengan membaca doa ini 3 kali:
إِلّٰهِيْ أَنْتَ مَقْصُوْدِيْ،
Wahai Alloh, Engkaulah tujuanku,
وَرِضَاكَ مَطْلُوْبِيْ،
Dan kerelaan Engkau yang aku butuhkan,
أَعْطِينِيْ مَحَبَّتَكَ وَمَعْرِفَتَكَ.
Anugrahilah kami rasa cinta kepada Engkau dan ilmu mengenal Engkau.
٢٦-عَلیٰ هٰدِهِ النِّيَّةِ اَلْفَاتِحَةْ. . .
26. Kepada niat ini Alfatikhah...
٢٧-اَللّٰهُمَّ صَلِّی عَلَی سَيِّدِنَا ﷴٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ،
27. Wahai Alloh mencurahkan kesejahteraan kepada Junjungan kami Nabi Muhammadﷺ Nabi yang buta huruf,
وَعَلَی آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Dan kedamaian kepada keturunan dan para sahabat beliau.
٢٨-يَالَطِيْفُ
28. Wahai Yang Maha Lemah Lembut,
٢٩-اَللّٰهُمَّ صَلِّی عَلَی سَيِّدِنَا ﷴٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ،
29. Wahai Alloh mencurahkan kesejahteraan kepada Junjungan kami Nabi Muhammadﷺ Nabi yang buta huruf,
وَعَلَی آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Dan kedamaian kepada keturunan dan para sahabat beliau.
٣٠-إِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى وَرَسُوْلِ اللهِ مُحَمَّدٍصَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاَلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْفَاتِحَةُ ...
30. Kepada kehadiran Nabi pilihan, dan Utusan Alloh Muhammad Yang Alloh curahkan kesejahteraan dan kedamaian kepada beliau, dan keluarga beliau, dan para sahabat-sahabat beliau Alfatihah...
Lalu Kemudian berdiam sejenak, serta menghadapkan dan mendekatkan hati (rasa) keharibaan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Yang Maha Besar dan Maha Agung secukupnya, dan terus membaca doa khususiyah dengan khusyu' menghadirkan hati dan rohaninya menggunakan nama Alloh seperti ini bentuknya:
يَالَطِيْفُ يَالَطِيْفُ يَالَطِيْفُ
Wahai Dzat Yang Penuh Kelemah-lembutan, Wahai Dzat Yang Penuh Kelemah-lembutan, Wahai Dzat Yang Penuh Kelemah-lembutan,
يَامَنْ وَسِعَ لُطْفُهُ أَهْلَ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ،
Wahai Yang kelemah-kelembutan meluas kepada orang-orang penghuni langit dan bumi,
نَسْأَلُكَ بِخَفِيِّ لُطْفِكَ الْخَفِيِّ،
Aku memohon kepada ENGKAU dengan sekecil-kecilnya kelemah-lembutan ENGKAU yang sangat samar,
أَنْ تُخْفِيَنَا فِيْ خَفِيِّ لُطْفِكَ الْخَفِيِّ.
Untuk memasukkan, menyamarkan, dan menyembunyikan kami didalam kelemah-lembutan ENGKAU yang samar.
إِنَّكَ قُلْتَ وَأَنْتَ أَصْدَقُ الْقَائِلِيْنَ،
Sesungguhnya ENGKAU telah berfirman dan ENGKAU berfirman dengan
وَقَوْلُكَ الْحَقُّ.
Dan perkataan Engkau adalah kebenaran.
اللهُ لَطِيْفٌ بِعِبَادِهِ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ،
Alloh Yang maha Lemah-lembut dengan Hamba-NYA yang memberikan penghidupan kepada orang yang dikehendaki,
وَهُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيْزُ.
Dan DIA Yang Maha Menghidupkan lagi Maha Perkasa,
اللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ يَا قَوِيُّ، يَاعَزِيْزُ, يَامُعِيْنُ,
Wahai Alloh sesungguhnya aku memohon kepada Engkau, wahai Dzat yang Maha kuat, wahai Dzat Yang Maha Mulia, wahai Dzat Yang Maha Penolong,
بِقُوَّتِكَ وَعِزَّتِكَ، يَامَتِيْنُ,
Dengan kekuatan Engkau, dan kemulyaan Engkau, wahai Dzat Yang Maha kokoh,
أَنْ تَڪُوْنَ لَنَا عَوْنًا،
Untuk menjadi bantuan kepada kami,
وَمُعِيْنًا فِی جَمِيْعِ اْلأَقْوَالِ وَاْلأَحْوَالِ وَاْلأَفْعَالِ،
Dan kekokohan dalam pengucapanku dan keadaanku dan perbuatanku seluruhnya,
وَجَمِيْعِ مَا نَحْنُ فِيْهِ مِنْ فِعْلِ الْخَيْرِ.
Dan dari apa yang kami lakukan didalamnya semua perbuatan yang baik.
وَأَنْ تَدْفَعَ عَنَّا كُلَّ شَرٍّى وَنِقْمَةٍ وَمِحْنَةٍ،
Dan untuk kami menolak dari semua kejahatan-kejahatan, dan kemarahan-kemarahan, dan kesengsaraan-kesulitan,
قَدِ اسْتَخْفَيْنَاهَا مَنْ غَفْلَتِنَا وَذُنُوْبِنَا،
Kami sudah menghidarikan dari kelalaian kami Dan dosa-dosa kami,
فَإِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ،
Maka sungguh Engkau Maha Pengampun, Engkau Maha penyayang,
وَقَدْ قُلْتَ وَقَوْلُكَ الْحَقُّ،
Dan aku sudah katakan, dan perkataan Engkau yaitu kebenaran,
وَيَعْفُوْ عَنْ كَثِيْرٍ.
Dan memberikanlah dari pengampunan yang banyak (untuk mereka).
اللَٰهُمَّ بِحَقِّ مَنْ لَطَفْتَ بِهِ،
Wahai Alloh melalui kebenaran orang yang ENGKAU lemah-lembut dengannya,
وَوَجَّهْتَهُ عِنْدَكَ،
Dan hadapkan, dekatkan di sisi Engkau,
وَجَعَلْتَ اللُّطْفَ الْخَفِيَّ
Dan menjadikan kelemah-lembutan yang tersembunyi,
تَابِعًالَهُ حَيْثُ تَوَجَّهَ،
Mengikutinya dimana pun mereka menghadap dan mendekat,
نَسْأَلُكَ أَنْ تُوَجِّهَنَا عِنْدَكَ،
Kami memohon kepada Engkau, untuk menarik kami ke sisi ENGKAU,
وَأَنْ تُخْفِيَنَا بِخَفِيِّ لُطْفِكَ،
Dan untuk menyembunyikan diri kami dengan sekecil-kecilnya kelemah-lembutan ENGKAU,
إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.
Sesungguhnya Engkau berkuasa atas segala sesuatu.
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
Dan semoga Alloh melimpahkan kesejahteraan kepada Junjungan kami Nabi Muhammad ﷺ,
وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
Dan kedamaian kepada keluarga beliau dan sahabat beliau.
وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
Dan segala puji bagi Alloh Tuhan alam semesta,
اَمِيْنَ يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
Kabulkanlah Wahai Tuhan semseta Alam.
Lalu bersalaman dengan jama'ah yang hadir yang dimulai dari Mursyid (guru/imam) di iringi bersama-sama membaca sholawat dan salam kepada Baginda Rosulillaah Muhammad ﷺ.
Wirid khotaman (penutupan) thoriqoh ini bisa dilakukan secara munfarid (sendiri-sendiri), atau berjama'ah bersama orang banyak. Untuk waqtunya juga bisa kapan saja, bisa dikerjakan siang hari atau malam hari. Tetapi yang manqul (resmi) dari mursyid (syaikh) yaitu dilaksanakan ba'da (setelah) sholat ashar.
Kalau faedah/keutamaan/manfaat mengamalkan wirid khotaman (penutupan) ini banyak sekali, antara lain:
1. Mensyiarkan thoriqoh,
2. Menolak keseluruhan dari balak,
3. Alloh mematikan dalam keadaann khusnul khotimah,
4. Memperoleh derajat yang luhur dunia-akherat,
5. Memudahkan apa yang menjadi permohonannya kepada Alloh,
6. Memperoleh rezeqi dengan mudah,
7. Mendapatkan kasih sayang dari Alloh dan semua para Wali Alloh,
وَاللهُ تَعَالَى أَعْلَمُ.
Dan Alloh yang Maha Tinggi lagi mengetahui.
BAB VIII : MENJELASKAN SEDIKIT-SEDIKITNYA DZIKIR QODIRIYAH DAN DZIKIR NAQSYABANDIYAH
Melakukan Dzikir Qodiriyah yaitu setiap setelah sholat 5 waqtu sedikit-sedikitnya 165 kali. Dan seharusnya salik hendaknya memperbanyak dzikirnya, dan setiap melakukan dzikir dihadapkan kepada lathifah qolbi, artinya kelembutan hati, lalu kepada beberapa lathoif disertai tertib (berurutan) seperti yang sudah dibahas sebelumnya. Kemudia berpindah kepada muroqobah secara bergantian melalui ketertiban seperti yang telah dibahas sebelumnya.
Sedangkan sedikit-sedikitnya Dzikir Naqsyabandiyah di dalam sehari semalam sebanyak 5.000 kali, seharusnya untuk salik, artinya orang yang menuju kepada Alloh, yaitu ahli thoriqoh, hendaknya memperbanyak dzikir sampai mencapai 25.000 kali yang supaya menjadi watak (kebiasaan).
BAB IX: MENJELASKAN KEUTAMAAN DZIKIR
Al Mursyid KH. Muhammad Romli Tamim, Rodhiallohu 'anhu memberikan nasehat:
Ketahuilah kamu! Sesungguhnya aku berharap kepada saudara sekalian yang sama-sama bersungguh-sungguh kepada melaksanakan ini (ajaran Thoriqoh Qodiriyah Wan Naqsyabandiyah). Semoga selalu diberi bertambahnya keyaqinan dan keteguhan didalam mengamalkan dzikir. Oleh karena itu disini perlu aku menambahkan keterangan-keterangan yang menjelaskan keutamaannya dzikir. Mengambil keterangan dari Ayat Al Qur'an dan dawuh Kanjeng Nabi Muhammad ﷺ.
Keutamaan dzikir itu sangatlah banyak, sebagian dari keutamaan/faedah/manfaatnya, Firman Alloh dalam Suroh Ar Ro'd ayat 28:
الَّذِيْنَ اَمَنُوْا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللهِ. اَلاَ بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ.
Terjemah Indonesia:
"orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenang (tenteram) dengan mengingat Alloh (akan janji Alloh), Ingatlah, hanya dengan mengingat Alloh hati menjadi tenteram (lapang dan lega)"
Nur Alloh apabila masuk kedalam hati orang yang beriman, mengakibatkan hati menjadi tentram, lapang dan lega.
Kalamulloh dalam suroh Al Ankabut ayat 45:
وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ.
Terjemah Indonesia:
"Dan sesungguhnya mengingat Alloh adalah lebih besar keutamaannya (daripada ibadah-ibadah dan amal-amal ketaatan lainnya)"
sebagaimana Al Qur'an suroh Al-Jin ayat 16, Alloh ﷻ berfirman:
وَأَنْ لَوِاسْتَقَا مُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا
Terjemah Indonesia:
“Dan bahwasanya jika mereka tetap berjalan lurus (berpegang teguh) di atas jalan itu (ajaran kanjeng Rosul ﷺ), benar-benar KAMI akan memberi minum kepada mereka dengan air yang segar yang berlimpah-limpah (dari langit)”.
Alloh juga berfirman dalam suroh Thoha ayat 14:
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
Terjemah indonesia:
“Sesungguhnya AKU ini adalah Alloh, tidak ada Tuhan selain AKU. Maka sembahlah AKU dan dirikanlah sholat untuk mengingat (yaitu menyebut di dalam hati, fikiran, ucapan) KU."
Baginda Rosululloh ﷺ pernah dawuh:
أَفْضَلُ الذِّكْرُ الَّذِيْ لاَ يَسْمَعُهُ الْحَفَظَةُ سَبْعُوْنَ ضَعِفًا،إَذَا كَانَ يَوْمِ الْقِيَّامَةَ وَجَمَعَ الله جَمِيْعَ الخَلاَئِقَ لْحَسَابِهُمْ وَجَائَت الْحَفَظَةُ بِمَا حَفَظَوًا وَكَتَبُوْا،قَالَ لَهُمْ أَنْظروا هل بقي له مِنْ شَيْءٍ، فَقَالُوْا مَا تركِنَا مِنْ شَيْءٍ مِمَّا علمنا وحفظنا إلا وقد أحصيناه وَكَتَبُنَاهَ، فَقَالَ الله تَعَالَى: إِن لك عِنْدِي حَسَنَا لا يعلمه وانا أجزيك به وَهُوَ الَّذِكْرُ الخَفِيْ.
Terjemah Indonesia:
"Keutamaan dzikir yang tidak didengar malaikat hafadzoh (malaikat pencatat kebaikan dan kejelekan) itu 70x lipat (yaitu derajatnya lebih tinggi). Lalu kelak apabila telah datang hari kiamat di saat Alloh mengumpulkan seluruh makhluknya untuk dihisab, datanglah malaikat hafadzah membawa catatan amal mereka. Setelah catatan amal mereka diperlihatkan, Alloh bertanya pada malaikat : apakah masih ada tersisa dari amalnya? Malaikat hafadzah berkata: kami tidak meninggalkan sedikit pun dari yang kami hafal melainkan semuanya sudah dihitung dan dicatat dalam buku amal ini. Maka Alloh berkata kepada si hamba : kamu memiliki amalan yang tidak diketahui malaikat hafadzah, dan Aku akan membalasnya sekarang yaitu dzikir sirr (rahasia/khofi)."
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ قَالَ قِيلَ يَارَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِبِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَلَقَدْ ظَنَنْتُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَنْ لَا يَسْأَلُنِي عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ أَحَدٌأَوَّلُ مِنْكَ لِمَا رَأَيْتُ مِنْ حِرْصِكَ عَلَى الْحَدِيثِ أَسْعَدُ النَّاسِبِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْنَفْسِهِ *
Terjemah indonesia
“Dari Abu Huroiroh, berkata : “ Saya bertanya, wahai Rosululloh, siapakah manusia yang paling bahagia menerima syafa’atmu ?” Nabi ﷺ menjawab : "Wahai Abu Huroiroh, sungguh aku mengira, bahwa kaulah orang yang pertama kali menanyakan hal ini kepadaku. Karena itu aku memahami keseriusanmu terhadap pembicaraan tentang orang yang paling bahagia menerima syafa’atku pada hari kiamat, yaitu “Orang yang mengucapkan La ilaha illa Alloh dengan ikhlas dari dalam hati dan jiwanya.’
Diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbali, Ibnu Hibban, Baihaqi, Dari Abu ‘Awanah , Nabi ﷺ, bersabda:
خَيْرُ الذِّكْرِ الْخَفِيُّ وَخَيْرُ الرِّزْقِ مَا يَكْفِيْ.
Terjemah Indonesia:
“Sebaik-baik zikir adalah zikir dengan samar (didalam hati) dan sebaik-baik rezeki adalah rezeki yang mencukupi.”
Kanjeng Nabi Muhammad ﷺ, dhawuh kepada Sayyidina Ali Karomallohu Wajhah:
عَلَيْكَ بِمُدَاوَمَةِ ذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ سِرًّا وَجَهْرًا.
Terjemah Indonesia:
"Kepadamu dengan terus-menerus dzikir Alloh Yang mempunyai kemuyaan dan sifat terang secara sirri (hati) dan jahr (dilantunkan)"
Diriwayatkan Ath Thorbroni dari Abu Huroiroh, Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ أَكْثَرَ ذِكْرَ اللهِ فَقَدْ بَرِئَ مِنَ النِّفَاقِ.
Terjemah Indonesia:
"Orang yang memperbanyak dzikir Alloh, maka dia telah terhindar dari sifat munafik."
إِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ صِقَالَةً. وَإِنَّ صِقَالَةَ الْقُلُوْبِ ذِكْرُ اللهِ. وَمَا مِنْ شَيْءٍ أَنْجَى مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ مِنْ ذِكْرِ اللهِ.
Terjemah Indonesia:
"Sesungguhnya kepada setiap sesuatu ada pembersihnya, dan sesungguhnya pembersih hati adalah dzikir kepada Alloh dan tidak ada sesuatu yang lebih bisa menyelamatkan dari siksa kubur daripada dzikir kepada Alloh."
Yang tersebut diatas tadi menjelaskan kepada keutamaannya/faedah/manfaat dzikir nafi istbat dan lain sebagainya.
Apabila hadist yang menerangkan terus-menerus dzikir dengan Ism Adz-Dzat yaitu dhawuhe Nabi ﷺ yang diriwayatkan oleh Imam Muslim didalam kitab shohihnya dan riwayat At Tirmidzi:
لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى لاَ يُقَالَ فِي اْلأَرْضِ اللهُُ اللهُ اللهُ.
Terjemah Indonesia:
"Kiamat tidak akan terjadi sampai di dalam bumi tidak ada yang mengatakan (dzikir) Alloh, Alloh, Alloh."
Dalam riwayat Thobroni, Ahmad, Thirmidzi, baginda Nabi ﷺ, bersabda:
مَا مِنْ قَوْمٍ اجْتَمَعُوا يَذْكُرُونَ اللَّهَ لَا يُرِيدُونَ بِذَ لِكَ إِلَّا وَجْهَهُ إِلَّانَادَاهُمْ مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ أَنْ قُومُوا مَغْفُورًا لَكُمْ قَدْ بُدِّلَتْسَيِّئَاتُكُمْ حَسَنَاتٍ
Terjemah Indonesia:
“Tidak ada segolongan manusia pun yang berkumpul dan melakukan dzikir kepada Alloh dengan tidak ada niat lain, selain untuk Alloh semata-mata. Kecuali nanti akan datang seruan dari langit “Bangkitlah kamu semua, sudah diampuni dosa kalian, dan sudah ditukar kejelekan kalian yang telah lalu dengan kebaikan”.
Dan pula Baginda Rosululloh ﷺ, pernah bersabda kepada Sayyidina Ali Karomalloh Wajhah, yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Baihaqi:
يَا عَلِيُّ, أَغْمِضْ عَيْنَيْكَ وَأَلْصِقْ شَفَتَيْكَ وَأَعْلِ لِسَانَكَ وَقُلْ: اللهُ اللهُ اللهُ.
Terjemah Indonesia:
"Wahai Ali, tutuplah kedua matamu, dan tutuplah mulutmu, dan lipatlah lidahmu (ujung lidah menempel pada langit-langit mulut) dan ucapkanlah Alloh, Alloh, Alloh, (didalam hati)."
BAB X : MENJELASAN KEUTAMAANNYA TAFAKKUR
Para syaikh berkata: seharusnya untuk murid ditiap-tiap waqtu terus menerus bertafakkur (memikirkan dan merenungkan makna, haqiqat dan hikmah/pelajaran dibalik sesuatu untuk menemukan keagungan Alloh), karena sesungguhnya para agama dan para ahli dunia itu menurut kebenaran tafakkur (nalar pemikiran) sendiri (masing-masing).
Rosulalloh ﷺ bersabda:
“Tafakur (mengenai ma'rifat) satu jam lebih utama daripada ibadah seribu tahun.”
Dan Sayyidina Ali Karomallohu Wajhah berkata:
"Tidak ada ibadah paling utama dari pada tafakkur."
Dan orang ahli ma'rifat rodhiallohu'anhum berkata:
"Tafakkur itu akan menjadi pelita di dalam hatinya, maka apabila hilang tafakkurnya, maka hilang pula pandangan (kecerdasannya), klo sudah hilang pandangannya, akibatnya gelap hatinya."
Tingkatan tafakkur ada 6, antara lain:
1. Memikirkan ketika melihat keindahan sesuatu. Apabila seperti itu, menunjukkan pada sifat kekuasaan Alloh dan wujudnya 7 lapis langit serta 7 lapis bumi beserta keseluruhan isinya, itu pertandanya wujudnya Alloh ﷻ.
2. Memikirkan kepada nikmatnya Alloh dan keagungannya nikmat (karunia) yang kita tidak bisa dihitung-hitung supaya bertambah syukurnya kepada Alloh. Dalam suroh Ibrohim ayat 7 Alloh berfirman:
لَئِنْ شَكَرْتُمْ َلاَزِيْدَنَّكُمْ.
Terjemah Indonesia:
"Sesungguhnya jika kalian bersyukur (akan nikmat Alloh dengan menjalankan ketauhidan dan ketaatan) pasti KAMI akan menambah nikmat kepada kalian."
3. Memikirkan sesungguhnya Alloh itu mengetahui segala sesuatu yang ghoib dan sesuatu yang fisik, dan selalu melihat pada menggerakkan hati dan baik-buruknya keinginan nafsu, oleh karena itu menghilangkan sebanyak-banyaknya keharaman yang supaya dhohir dan bathin bisa berhati-hati, jangan sampai jatuh kepada sesuatu yang didatangi oleh azab (siksa)nya Alloh.
4. Angan-angan pada kelengkapan diri untuk ibadahnya kepada Alloh (dengan khusu'/focus kepada Alloh dan khudu'/merendandahkan diri baik secara ucapan maupun gerakan) sebab didekap oleh rayuan/bujukan nafsu. Memikirkan di bahayanya diri besok berada di akherat ketika diri tadi banyak kejahatan/kecurangan dan kesalahan kepada sesuatu.
5. Berangan-anganlah sudah dari dahulu kala kalau dunia itu kebanyakan untuk mengajak meninggalkan perkara akherat. Dan dunia itu cepat hilangnya dan cepat rusaknya. Alloh berfirman dalam Al Baqoroh ayat 148:
فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ.
Terjemah Indonesia:
"Maka berlomba-lombalah berbuat kebaikan (yakni segera menaati dan menerima perintah Alloh)."
Dan memperbanyak zuhud (menjauhkan diri dari persoalan/tidak mencintai dunia) dan menerima segala pemberian Alloh apa adanya tanpa menuntut yang lebih dari itu. Dan berbahagialah ketika diberi kesempatan untuk bisa melakukan ibadah.
6. Memikirkan pada saatnya didatangi kematian, dan ingatlah datangnya kematian itu mendadak, akibat kamu putus dari amal lalu sangat sedih di dalam alam barzah (kubur) karena di dunia dirinya selalu terlena kepada perkara ibadah. Jadi selagi masih hidup, cepat-cepatlah berbuat amal sholeh (kebajikan) menggunakan keikhlasan hati untuk menyediakan akan kematian. Dan cepat-cepatlah membuat pengakuan diri kamu (orang yang banyak dosa dan hina) disertai meminta maghfiroh (pengampunan) dan taubat (kembali) kepada Alloh ﷻ selagi belum kedatangan kiamat sugro (kecil), yang artinya mati.
وَسَارِعُوْا اِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ مِنْ قَبْلِ اَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لاَ رَيْبَ فِيْهِ.
Terjemah Indonesia:
"Dan bergegaslah meminta pengampunan dari Tuhanmu sebelum datangnya hari yang tidak ada keraguan (kematian)."
Risalah ini selesai melalui pertolongan Alloh Ta'ala tanggal 28 Sya'ban 1360 H bertepatan dengan tanggal 20 September 1941 M
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ. وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ. وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
Terjemah Indonesia:
"Maha suci bagi ENGKAU Tuhan, Tuhan yang Mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan kepada Rosul-rosul. Dan segala puji bagi Alloh Tuhan alam semesta.”
BAB XI : TENTANG IMAN, ISLAM, IHSAN
IMAN
Yang dinamakan iman menurut para ulama yaitu, kepercayaan hati kepada semua perkara yang sudah diturunkan/diajarkan oleh Kanjeng Nabi Muhammad ﷺ dari Gusti Alloh ﷻ, sama juga perkara mu'taqod (keyaqinan) atau lahiriyah, seperti tauhid (meng-esa-kan) kepada Gusti Alloh Ta'ala atau sholat 5 waqtu, dan lain-lainnya, disertai menerima dan redho (kerelaan). Dengan membaca 2 kalimat syahadad menjadikan sahnya iman. Sedang iman tersebut mempunyai 6 rukun, antra lain:
1. Percaya kepada wujudnya Gusti Alloh ﷻ hanya satu yang haq (benar) dengan tetap tanpa perubahan.
2. Percaya kepada wujudnya malaikat,
3. Percaya semua kitab yang diberikan/diturunkan kepada para Nabi dan Rosul.
4. Percaya kepada para Nabi dan para Utusan dengan tidak membeda-bedakannya.
5. Percaya kepada adanya hari akhir (kiamat)
6. Percaya kepada kejadian buruk dan bagus semuanya berasal dari Alloh.
ISLAM
Yang dinamakan islam menurut para ulama, yaitu pasrah (berserah diri) dan mematuhi dan mengikuti terhadap semua perkara (hal) yang telah diturunkan (diajarkan) oleh kanjeng Nabi Muhammad ﷺ, dari Pengeran (Pangedepan Ratu Sasembahan yaitu Alloh T'ala) melalui melaksanakan semua perintah dan menjauhkan diri apa yang menjadi larangan-NYA.
IHSAN
Yang dinamakan ihsan menurut kanjeng Rosululloh ﷺ, riwayat Imam Muslim:
فَأَخْبِرْنِي عَنِ الْإِحْسَانِ قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُفَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
Terjemah Indonesia:
"Ihsan adalah apabila engkau beribadah pada Alloh seolah-olah engkau melihat-NYA, maka jika engkau tidak dapat melihat-NYA maka sesungguhnya DIA melihatmu."
BAB XII : HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DIDALAM MENCARI GURU
Ini sebagai pengingat yang perlu diketahui untuk saudara muslimin yang paling dasar. Disebutkan didalam kitab Nata'il Al-Afkar Al Qudsiyyah, orang islam yang ingin mendapatkan keselamatan dunya-akherat, apabila mencari guru supaya mencari guru yang mempunyai sifat seperti berikut ini:
1. Orang yang memahami kepada sifat wajib, mustahil, dan kewenangan (hak untuk melakukan sesuatu atau memerintah orang lain untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu agar tercapai tujuan tertentu) nya Gusti Alloh dan para utusan-NYA, menggunakan dalil-dalilnya, sama juga dalil sam'i atau dalil aqli (Al-Qur'an, Hadist, Ijma'/kesepakatan dari para sahabat terdekat Nabi ﷺ, Qiyas/pendapat para ulama yang disertai dalil dari Al-Qur'an, Hadist, dan Ijma'). Itulah sifat guru yang bisa menghilangkan keragu-raguan murid ketika murid tadi dihinggapi rasa ragu atau subhat (tidak memahami halal dan haramnya suatu perkara/permasalahan).
2. Orang yang mu'taqod (Tauhid/Dasar Aqidah)-nya sama seperti mu'taqod ahli as-sunnah wal jama'ah.
3. Orang yang memahami hukum-hukum Alloh, sama juga hukum jenis lahiriyah seperti thoharoh (bersuci) atau jenis bathin seperti syukur, tawakkal, dan lain sebagainya.
4. Orang yang mengamalkan ilmunya didalam kehidupannya dan menjauhkan dirinya dari larangan-larangan yang mengarah kepada perbuatan ketidak-adilan.
BAB XIII : ADAB/TATA KRAMA/SOPAN SANTUN SEORANG MURID
ADAB KEPADA ALLOH
Seorang murid harus senantiasa menjaga adab lahir dan batin dengan sebaik-baiknya. Demikian juga adabnya kepada Alloh Ta'ala. Dan di antara adab seorang murid kepada Alloh Ta'ala, adalah mensyukuri semua karunia dan pemberian Alloh atas dirinya dalam setiap waktu dan kesempatan, serta senantiasa menjaga kesadaran untuk bersyukur dan tidak melupakannya.
Juga termasuk adab seorang murid kepada Tuhannya adalah tidak bersembunyi dari seorang, kecuali karena hikmah (kebijaksanaan dalam pandangan), bukan karena kikir, dan bakhil (pelit). Berusaha mengeluarkan kecenderungannya kepada selain Alloh Ta'ala dari dalam hati. Mengutamakan kepentingan saudaranya sesama muslim dengan apa yang dimilikinya. Menjauhi sesuatu yang diagungkan (diperebutkan) oleh kebanyakan manusia, termasuk di dalamnya adalah berbuat yang tidak jelas hukumnya.
ADAB KEPADA MURSYIDNYA (GURU)
Adab kepada syaikh (mursyid/guru), merupakan ajaran yang sangat prinsip dalam thoriqot, bahkan merupakan syarat dalam riyadhoh (melatih diri) seorang murid. Adab atau etika antara murid dengan mursyidnya diatur sedemikian rupa, sehingga menyerupai adab para sahabat dengan Nabi Muhammad ﷺ. Hal yang sedemikian ini karena diyakini bahwa mu'asyaroh (hubungan) antara murid dan mursyid adalah melestarikan tradisi (sunnah) yang terjadi pada masa kanjeng Rosululloh ﷺ. Dan kedudukan murid menempati peran sahabat, dan mursyid menggantikan peran baginda Nabi ﷺ dalam hal irsyad (bimbingan) dan ta'lim (pengajaran).
Diyakini oleh para ahli thoriqot, bahwa ada tiga hal yang dapat menghantarkan seseorang dapat wushul (sampai) kepada Allah Ta'ala dalam arti ma’rifat, yaitu:
1. Dzikir sirri atau dzikir dalam hati (dzikir khafi),
2. Renungan/perhatian secara penuh (muroqobah),
3. senantiasa hadir, robithoh (menghubungkan/mengikat) dan khidmah (melayani) kepada mursyidnya. Adab kepada mursyid ini tersimpul dalam rasa cinta seorang murid kepada mursyidnya, dengan sebenar-benarnya cinta.
Di antara kitab pegangan murid Thoriqoh Qodiriyah wa Naqyabandiyah ada yang menyebutkan secara rinci tentang adab seorang murid kepada syaikh (mursyid/guru) nya. Adab tersebut dirumuskan secara terperinci dalam sepuluh point, dibawah ini :
1. Seorang murid harus memiliki keyakinan, bahwa maksud dan tujuan suluknya tidak mungkin berhasil tanpa perantaraan gurunya. Karena jika seorang murid merasa bimbang dan ingin berpindah kepada guru lain, maka hal tersebut menjadi sebabnya hirman (terhijab) oleh nur gurunya tersebut, yang menghalangi sampainya al-fayd ar rohmani (limpahan kasih sayang/pancaran berkah). Hal ini bisa tidak terjadi kalau kepindahan murid kepada guru yang lain itu atas izin yang syarikh (jelas) dari gurunya yang semula. Atau jika guru yang pertama ternyata syari’at atau thoriqotnya batal (dalam arti tidak cocok dengan syari’atnya Rosulullohﷺ). Jika keadaannya memang demikian, maka seorang murid harus pindah kapada guru mursyid yang lebih sempurna dan lebih zuhud (tidak mencintai duniawi), lebih waro’ (waspada terhadap halal dan haramnya suatu hukum agama) dan lebih luas ilmu syari’at dan thoriqotnya. Di samping itu harus dicari yang lebih selamat hatinya dari sifat tercela. Lagi pula ia memang seorang mursyid yang mendapat izin bai’at sebagai mursyid dari mursyid sebelumnya.
2. Seorang murid harus pasrah, menurut dan mengikuti bimbingan guru dengan rela hati. Ia juga harus khidmat (melayani) guru dengan rasa senang, rela dan lkhlas hatinya hanya karena Alloh Ta'ala. Karena jauhar (inti)-nya irodah (kehendak) dan mahabbah (kecintaan) itu tidak dapat jelas kecuali menurut, patuh dan khidmat (melayani).
3. Jika seorang murid berbeda paham (pendapat) dengan guru, baik dalam masalah kuliyyah (Universal) maupun juz’iyyah (sektoral), masalah ibadah maupun adat, maka murid harus mutlak mengalah dan menuruti pendapat gurunya karena i'tirodh (menentang) guru itu menghalangi berkah dan menjadi sebab akhir hayat yang su'ul khotimah (tidak baik). NA'UDZUBILLAHI MIN DZALIK. Kecuali jika guru memberikan kelonggaran kepada murid untuk menentukan pilihannya sendiri.
4. Murid harus berlari dari semua hal yang dibenci gurunya dan turut membenci apa yang dibenci gurunya.
5. Jangan tergesa-gesa memberikan atau mengambil ta'bir (kesimpulan) atas masalah-masalah seperti: impian, dan isyarat-isyarat, walaupun ia lebih ahli dari gurunya dalam hal itu. Akan tetapi sampaikan hal itu kepada guru dan jangan meminta jawaban. Tunggu saja jawabannya pada waktu yang lain dan kalau tidak dijawab maka diamlah. Yakinlah diamnya guru karena ada hikmah. Dan apabila murid ditanya guru, atau diperintahkan menerangkan sesuatu, maka ia harus menjawab seperlunya.
6. Merendahkan suara di majelis gurunya dan jangan memperbanyak bicara dan tanya jawab dengan gurunya, karena semua itu akan menjadi sebabnya mahjub (tertutup hatinya).
7. Kalau berniat menghadap guru jangan sekonyong-konyong, atau tidak tahu waktu. Jangan menghadap guru dalam waktu sibuk, atau dalam waktu istirahat. Dan kalau sudah menghadap, jangan bicara sesuatu kecuali yang menyenangkan hati guru serta harus tetap menjaga kesopanan, rendah diri dengan sikap dan perbuatan (khudhu') dan merendahkan diri (tawadhu'), jangan memandang ke atas, melihat kanan-kiri, atau bicara dengan teman. Tetapi menghadaplah dengan penuh perhatian terhadap perkataan guru. Karena su'ul adab (jeleknya tata krama) kepada guru bisa menjadikan hirman (tertutup) dari futuh (pencerahan). Dan jangan lama-lama berhadap-hadapan dengan guru tetapi sekedar perlunya kemudian segera memohon diri, kecuali jika dicegah oleh guru, maka juga harus menurut.
8. Jangan menyembunyikan rahasia di hadapan guru, tentang kata hati, impian, kasyaf (pandangan indra ke enam) maupun karomah (keluarbiasaan)-nya. Katakanlah dengan terus terang.
9. Murid tidak boleh menukil pernyataan guru kepada orang lain, kecuali sekedar yang dapat dipahami oleh orang yang diajak bicara. Dan itupun perkataan-perkataan yang diizinkan untuk disebar luaskan.
10. Jangan menggunjing, mengolok-olok, mengumpat memelototi, mengkritik dan menyebarluaskan aib guru kepada orang lain. Dan murid tidak boleh marah ketika maksud dan tujuannya dihalangi oleh guru. Murid harus yakin, guru meghalangi karena ada hikmah, dan bila diperintah guru harus berangkat walaupun terasa berat menurut perhitungan nafsunya.
Jangan sekali-kali murid berkata : "Pak kiyai itu dulu guru saya, tetapi sekarang bukan, karena saya sekarang tidak mengaji dan belajar kepadanya." dan adalah bodoh kwadrat jika ada seorang murid berkata: “Makanya saya berani dengan guru, karena memang dia yang salah kepadaku." Demikian juga kalau sedang mengikuti majelisnya guru, janganlah sampai keluar atau pulang sebelum waktunya. Tetapi jangan bikin taswis (gaduh) atau memperbanyak pertanyaan kepada guru. Tetapi diam dan perhatikan semua perkataan guru, dan terima isyarat-isyarat guru dengan hati yang ikhlas karena Alloh. Dan hati harus dipenuhi dengan rasa senang kepada guru beserta keluarganya.
Dan jika guru dipanggil oleh Alloh Ta'ala (wafat), maka sebaiknya jangan mengawini bekas isterinya. Akan tetapi murid bisa mengawini anaknya, dengan niat khidmah. Dan anggaplah putra-puri guru sebagai saudara sendiri (dalam hal hormat dan kasih sayang). Karena sesungguhnya guru itu adalah bapak spiritual. Sedang bapak sendiri adalah bapak jasmani.
ADAB KEPADA SAUDARA (KERABAT) DAN SESAMA TEMAN
Prinsip-prinsip ajaran etika (adab), antara sesama saudara (ikhwan) dan teman, diantaranya disebutkan oleh al-Kurdi dalam kitabnya Tanwîr al-Qulûb Fi Mua’amalati ’Allamil Ghuyub disebutkan prinsip-prinsip adab yang diajarkan oleh Rosululloh ﷺ. kepada para sahabat beliau. Prinsip-prinsip adab itu tersimpul pada penggambaran bentuk persahabatan yang diajarkannya sebagaimana dalam hadist riwayat Abu Na'im: “Perumpamaan dua orang yang bersaudara adalah sebagaimana dua tangan, ia saling membersihkan antara satu dengan yang lainnya. ” dan dalam hadist Riwayat Al Bukhori:
اَلْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا وَشَبَّكَ بَيْنَأَصَابِعِهِ
Terjemah Indonesia:
“Seorang mukmin dengan mukmin yang lain, bagaikan sebuah bangunan. Bagian yang satu dengan yang lain saling menyangga. Dan (Rosululloh memberi isyarat) merapatkan jari-jarinya.”
dan Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani dalam kitabnya yang berjudul al-Ghunyah LiTholib al-Thoriq al-Haq,sebagai berikut;
1. Hendaknya kamu menyenangkan mereka dengan sesuatu yang menyenangkan dirimu, dan jangan mengistimewakan dirimu sendiri.
2. Jika bertemu mereka, hendaknya bersegera mengucapkan salam, mengulurkan tangan (mengajak berjabat tangan), dan bermanis-manis kata kepada mereka.
3. Menggauli mereka dengan akhlak yang baik, yaitu memperlakukan mereka sebagaimana kamu suka diperlakukan.
4. Merendahkan diri kepada mereka.
5. Usahakan agar mereka rela (suka), pandanglah bahwa mereka lebih baik dari dirimu. Bertolong menolonglah dengan mereka dalam kebaktian, takwa dan cinta kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Jika kamu lebih tua, bimbinglah mereka kepada kebajikan. Dan jika kamu lebih muda, maka mintalah bimbingan kepada mereka.
6. Berlemah lembutlah dalam menasehati kawan, jika kamu melihat mereka menyimpang dari kebenaran.
7. Perbaikilah prasangkamu kepada mereka. Jika kamu melihat aib pada mereka katakan pada diri anda sendiri “Jangan-jangan ini juga ada pada saya”, karena seorang muslim adalah cermin bagi muslim yang lain.
8. Jika teman (ikhwan) minta izin (keringanan/pertolongan), maka kabulkan. Walaupun kau tahu bahwa ia adalah pembohong atau tidak suka sama dirinya.
9. Jika ada pertikaian antara sesama kawan, maka damaikanlah di antara keduanya. Dan jangan memihak salah satu di antara keduanya.
10. Jadikanlah kamu teman dalam semua keadaan. Jangan sampai melupakan berdoa untuk mereka, agar diampuni oleh Allah ﷻ.
11. Hendaknya kalian memberi tempat duduk kepada kawan dalam majelis.
12. Hendaknya membatasi berpaling dari mereka, dan mendukung mereka secara moral, karena kehormatan adalah kewajiban.
13. Tunaikan janji, jika kamu berjanji, karena janji itu dihadapan Alloh ﷻ. adalah hutang, dan menyalahi janji termasuk orang yang dibenci Alloh.
ADAB KEPADA DIRI SENDIRI
Dalam menempuh jalan menuju Alloh ﷻ. (suluk), seorang salik harus menjaga diri agar tetap beradab pada diri sendiri. Abdul Wahab Asy-Sya’roni menjelaskan panjang lebar tentang hal ini, demikian juga al-Kurdi dalam kitabnya Tanwîr al-Qulûb fi Mua’amalat ’Allâmil Ghuyûb yang secara garis besar seorang murid harus;
1. Memegangi prinsip tingkah laku yang lebih sempurna jangan sampai seseorang bertindak yang menjadikan dia orang tercela, dan mengecewakan,
2. Untuk maksud sebagaimana tersebut di poin 1, maka apabila mempunyai janji hendaklah segera dipenuhi, apabila dipercaya jangan sampai berkhianat, dan apabila bergaul dengan yang lebih tua, hendaklah senantiasa memberi penghormatan, terhadap yang lebih muda harus mengasihi. Jika terpaksa terjerumus atau terjebak pada perkataan dan, atau perbuatan yang tidak pantas maka segera menjauhinya.
3. Hendaklah para murid bertingkah laku dan menerapkan adab (tata krama), senantiasa meyakinkan dirinya, bahwa Alloh ﷻ. senantiasa mengetahui semua yang diperbuat hamba-Nya, baik lahir maupun batin
4. Para murid hendaknya berusaha untuk bergaul dengan orang-orang yang baik akhlaknya dan menjauhi orang-orang yang kurang baik akhlaknya.
5. Bagi para murid juga tidak diperbolehkan untuk berlebih-lebihan dalam hal makan, minum, berbusana, dan berhubungan seksual.
6. Hendaknya bagi para murid senantiasa berpaling dari cinta duniawi, kepada mendambakan ketinggian derajat akhirat.
7. Jika murid terbuai oleh hawa nafsu misalnya berat melaksanakan ketaatan maka hendaklah senantiasa merayu dirinya sendiri, dan meyakinkan diri bahwa payahnya hidup di dunia ini sangat pendek waktunya.
PENUTUPAN (خَاتِمَةٌ)
SYARI'AT, THORIQOH, HAQIQOH, MA'RIFAT
SYARI'AT (شَرِيْعَةٌ)
Yang dinamakan syari'at yaitu mengetahui kepada beberapa hukum islam, seperti wajib, haram, sunnah, makruh, mubah, batal, shohih, dan lain sebagainya, serta melaksanakannya semua anjuran, perintah, dan menjauhi, menghindari, apa-apa yang jadi laranganya.
THORIQOH(طَرِيْقَةٌ)
Yang dinamakan thoriqoh, yaitu menjalankan syare'at secara berhati-hati. Artinya melaksanakan semua perintah, anjuran termasuk sunnah, dan menjauhi, menghindari semua kekejian termasuk makruh, dan menjauhi, menghindari perkara subhat, yaitu perkara yang tidak jelas halal dan haramnya.
HAQIQAT (حَقِيْقَةٌ)
Yang dinamakan haqiqat, yaitu memandangnya hati (sudut pandang hati) kepada ke-ESA-an Gusti Alloh ﷻ ada pada keseluruhan kehidupan. Pengertiannya, melihat kepada berkehendaknya Gusti Alloh yang memegang kendali terhadap semua makhluk. Seperti berkehendaknya Gusti Alloh yang membuat wujudnya nuthfah (mani) dijadikannya manusia sehingga manusia tidak bisa keluar dari rahim ibu (kelahiran) selama belum datang waktu yang telah ditentukan dari Alloh yang maha kuasa. Dan seperti berkehendaknya Gusti Alloh ﷻ berkehendak didalam menetapkan beberapa maqom (kedudukan). Seperti halnya ihsan yang disabdakan Kanjeng Rosululloh ﷺ yang di riwayatkan oleh Imam Muslim:
فَأَخْبِرْنِي عَنِ الْإِحْسَانِ قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُفَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
Terjemah Indonesia:
"Ihsan adalah apabila kamu beribadah pada Alloh seolah-olah kamu melihat-NYA, maka jika kamu tidak dapat melihat-NYA maka sesungguhnya DIA melihatmu."
Orang yang sudah mencapai kedudukan ihsan sudah tentu hatinya mengetahui kepada ke-ESA-an Gusti Alloh ﷻ, dan tentunya mempunyai keyaqinan bila sesungguhnya tidak ada Pengeran (Pengedepan Ratu Sasembahan yaitu Tuhan) yang haq patut disembah kecuali hanya Gusti Alloh Azza Wa Jalla yang Maha Suci.
Dan hasilnya, orang tidak bisa mengetahui dengan sesungguhnya terhadap sejatinya hakikat kecuali orang yang sudah menikmati terhadap hakikat, karena hakikat tidak bisa digambarkan dengan penglihatan indra mata.
Kembalinya hakikat itu telah diterima oleh jiwa pemahaman pemikiran orang beriman dan islam.
جَعَلَنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ أَيُّهَا اْلإِخْوَانُ مِمَّنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ اَلْمَأْوَى.
Terjemah Indonesia:
"Alloh menjadikan kami dan kalian bersaudara, orang yang takut akan kedudukan Tuhannya dan DIA melarang jiwa dari keinginan. Maka sesungguhnya surga adalah tempat berlindung."
MA'RIFAT (مَعْرِفَةٌ)
Yang dinamakan ma'rifat, mengambil keterangan dari Risalah Qusyairiyyah karya Syaikh Qoddhi Qudhot Abu Yahya Zakariya Al-Anshori rohimahulloh, yaitu keteguhan hati kepada wujudnya Gusti Alloh ﷻ yang bersifat dengan segala sifat kesempurnaan dan Maha Suci dari segala sifat kekurangan, dengan sejumlah bukti dan ditandai dari nalar serta Al-Qur'an dan hadist, yang sudah diterima dari Kanjeng Nabi Muhammad ﷺ.
KETERANGAN
Dan syariat itu menjadikan lahirnya hakikat, sedangkan hakikat itu menjadi bathin (ruh/jiwa) dari syari'at. Oleh karena itu mereka harus berkumpul (menjadi satu kesatuan), karena jika syare'at tidak ditunjang oleh hakikat, maka tidak bisa diterima untuk mengenal (ma'rifat) kepada Gusti Alloh.
Begitu pula hakikat yang tidak ada syari'at, sudah pasti rusak, bahkan tidak ada manfaatnya sama sekali (sia-sia). Karena hakikat di ibaratkan reng (kayu atau baja yang melintang, berfungsi penyangga dan penahan atap/genting), sedangkan syare'at diumpamakan atapnya rumah.
Hakikat itu dari ketentuannya anggota bathin, syari'at itu perbuatan dari anggota lahir, seperti pelafalan kita ketika membaca Fatihah:ِ
إِيَّاكَ نَعْبُدُ
Terjemah indonesia:
"Hanya (kepada) ENGKAU kami menyembah"
Itu adalah melatih/menjalankan syare'at, karena masih merasakan beribadah, tetapi ketika pelafalan:
إِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ
Terjemah indonesia:
"Hanya (kepada) ENGKAU kami meminta pertolongan."
Itu adalah ikrar, menetapkan/meneguhkan Hakikat, karena merasakan tidak bisa berbuat apa-apa apabila tidak mendapatkan pertolongan dari Alloh ﷻ.
غَفَرَ اللهُ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَلِمَشَايِخِنَا وَلِكَاتِبِ هَذِهِ الرِّسَالَةِ وَ ِلإِخْوَانِنَا اَلْمُسْلِمِيْنَ وَثَبَّتَ اللهُ قُلُوْبَنَا وَقُلُوْبَهُمْ عِنْدَ نَزْعِ الرُّوْحِ بِاْلإِيْمَانِ وَاْلإِسْلاَمِ فِي الدَّارَيْنِ. اَمِيْنَ.
Terjemah Indonesia:
"Pengampunan Alloh kepada kami dan untuk orang tua kami, dan untuk guru-guru kami, dan untuk penulis (pengarang, penyusun, penerjemah) pesan (kitab/risalah) ini, dan untuk saudara kami orang-orang muslim, dan Alloh memperkuat hati kami dan hati mereka, ketika mencabut ruh dengan iman dan islam di dalam 2 lingkaran (qodiriyah dan naqsyabandiyah). Kabulkanlah doa kami"
Ini doa dibaca setelah khatam 'Ataaqot shughro (عَتَاقَة صُغْرَى) artinya pembebasan/kemerdekaan kecil dari api neraka atau fida' ashghor (فِدَاء أَصْغَر) artinya pembebasan kecil dari api neraka yaitu membaca لاَ إلَهَ إِلَا الله sebanyak 70.000 kali sekali duduk. Yang di nukil (ambil) dari kita Al-Futuhat Ar-Robbaniyah karya Kanjeng Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani Al-Hasani Qoddasallohu sirruhunAl Aziz Rodhiallohu'ahu Sebagai berikut:
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ.
اللَٰهُمَّ إِنَّكَ تَعْلَمُ أَنِّيْ هَلَّلْتُ
Wahai Tuhanku, sesungguhnya ENGKAU, mengetahui bahwasanya aku bersorak,
هَذِهِ السَّبْعِيْنَ أَلْفَ تَهْلِيْلَةٍ،
70.000 kalimat tauhid ini,
وَأُرِيْدُ أَنْ أَدَّخِرَهَا لِنَفْسِيْ،
Dan bahwa aku ingin mengabadikan (simpan) nya untuk diri sendiri,
وَأُشْهِدُكَ أَنِّيْ قَدِ اشْتَرَيْتُ بِهَا نَفْسِيْ مِنَ النَّارِ،
Dan aku bersaksi kepada ENGKAU, bahwasannya aku sudah membeli diriku dari neraka melalui kalimat itu,
وَفَدَيْتُهَا مِنْكَ يَا اللهُ مِنَ النَّارِ،
Dan aku menebusnya (diriku) dari ENGKAU Wahai Alloh (yaitu) dari neraka,
بِثَوَابِ قِرَاءَتِهَا الَّتِيْ قَدْرُهَا عِنْدَكَ جَسِيْمٌ،
aku membacanya sejumlah itu melalui pakaian jasim (tubuh bathin) disisi Engkau,
وَثَوَابُهَا عِنْدَكَ عَظِيْمٌ،
Dan pakaiannya berada disisi Engkau Yang Maha Agung,
فَأَعْتِقْنِيْ بِهَا مِنَ النَّارِ،
Maka melalui itu bebaskanlah aku dari Neraka,
وَخَلِّصْنَا بِهَا مِنَ النَّارِ،
Dan melalui itu menebus aku dari neraka,
وَأَجِرْنِيْ بِهَا مِنَ النَّارِ،
Dan melalui itu aku terhindar dari Neraka,
وَأَعِذْنِيْ بِهَا مِنَ النَّارِ،
Dan melalui itu aku diperbolehkan (keluar) dari neraka,
وَأَدْخِلْنِيْ بِهَا الْجَنَّةَ مَعَ اْلأَبْرَارِ،
Dan melalui itu aku masuk surga bersama orang-orang yang berbuat baik,
يَاعَزِيْزُ يَاغَفَّارُ.
Wahai Maha Perkasa wahai Maha Pengampun.
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَاَلِهِ وَسَلَّمَ.
Dan Alloh mencurahkan kesejahteraan kepada Junjungan aku Nabi Muhammad ﷺ, dan keluarga beliau yang disertai kedamaian (salam).
Fadhilahnya adalah siapa yang membacanya maka dia akan membeli/menebus dirinya dari api neraka.
Doa ini dibaca setelah dzikir Qodiriyah, Naqsyabandiyah dan muroqobah, seperti ini doanya:
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ.
Dengan nama Alloh Yang Maha Pengasih Maha Penyayang,
اللَٰهُمَّ إِنَّا فَدَيْنَا مِنْكَ يَا اللهُ ...(٣x)
Wahai Tuhanku, sesungguhnya dari Engkau menebus kami wahai Alloh (3x)
أَنْفُسَنَا مِنَ النَّارِ بِثَوَابِ قِرَاءَةِ،
Yaitu jiwa kami dari neraka melalui jubah pembacaan,
هَذِهِ الْكَلِمَةِ الْمُشَرَّفَةِ الَّتِيْ هِيَ،
Kalimat ini yang dia mempunyai kehormatan,
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَذِكْرُ اللهِ، اللهُ، اللهُ،
Yaitu Tidak ada Tuhan selain Alloh, dan Dzikir Alloh, Alloh, Alloh,
فِي اللَّطَائِفِ السَّبْعِ وَمُرَاقَبَتِكَ،
Didalam 7 lathifah, dan aku bermuroqobah (sifat yang merasa selalu dilihat dan diawasi oleh Alloh) kepada Engkau,
وَمُشَاهَدَتِكَ، وَمَحَبَّتِكَ، وَمَعْرِفَتِكَ
Dan aku bermusyahadah kepada Engkau (didalam beribadah kepada Alloh, seorang Hamba merasa bahwa dia berada dihadapan Alloh dan Alloh sedang melihatnya), dan aku merasakan cinta kepada Engkau, Dan aku mengenali kepada Engkau,
قَدْرُهُنَّ عِنْدَكَ جَسِيْمٌ.
Dengan jumlah tubuh bathin (jasim) kami yang berada di sisi Engkau,
وَثَوَابُهُنَّ عِنْدَكَ عَظِيْمٌ.
Dan pakaian Engkau kepada kami berada di sisi Engkau,
فَأَعْتِقْنَا مِنَ النَّارِ، وَسَلِّمْنَا مِنَ النَّارِ.
Maka bebaskanlah kami dari neraka, Dan selamatkanlan kami dari api neraka,
وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ اْلأَبْرَارِ,
Dan masukkanlah kami ke surga bersama Al-Abror (orang-orang yang benar),
يَاعَزِيْزُ يَاغَفَّارُ.
Wahai Maha Perkasa Wahai Maha Pengampun,
وَاحْشُرْنَا فِيْ زُمْرَةِ،
Dan kumpulkan kami didalam kalangan orang-orang yang mempunyai minat yang sama,
الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ،
orang-orang yang telah Engakau beri nikmat kepada mereka dari Para Nabi-Nabi,
وَالصِّدِّيْقِيْنَ، وَالْعَارِفِيْنَ بِكَ،
Dan orang-orang yang berkata jujur (benar), dan orang-orang Yang mengetahui segala sesuatu melalui Engkau,
وَالْمُقَرَّبِيْنَ عِنْدَكَ، وَالصَّالِحِيْنَ،
Dan orang-orang yang dekat disisi Engkau, dan orang-orang yang suka beramal kebajikan,
وَحَسُنَ أُوْلَئِكَ رَفِيْقًا.
Dan teman yang baik yang mengajak kepada Engkau.
اللَٰهُمَّ يَسِّرْ لَنَا مُتَابَعَتَهُمْ،
Wahai Tuhanku, mudahkanlah aku didalam aku mengikuti jejak mereka,
وَأَوْصِلْ إِلَيْنَا فُتُوْحَاتِهِمْ،
Dan datanglah kepadaku bukakanlah (hijab) aku kepada mereka,
وَأَدِمْ لَنَا، بَرَكَاتِهِمْ، وَأَلْحِقْنَا بِهِمْ،
Dan selamanya kepada kami, keberkahan mereka untukku, dan kebenaran kami melalui mereka,
وَاحْشُرْنَا فِيْ زُمْرَتِهِمْ،
Dan kumpulkan kami didalam kalangan mereka yang mempunyai minat yang sama,
وَاهْدِنَا هُدَاهُمْ وَسَلِّكْنَا طَرِيْقَتَهُمْ.
Dan bimbing kami layaknya bimbing mereka, dan kami penempuh (mengikuti) thoriqoh (jalan) mereka,
✯
اللَٰهُمَّ وَارْحَمْنَا بِاسْتِجَابَةِ دَعْوَاتِنَا،
Wahai Tuhanku, dan kasih sayangilah kami, melalui pengabulan doa-doa kami,
وَقَبُوْلِ أَعْمَالِنَا، وَتَيْسِيْرِ أُمُوْرِنَا كُلِّهَا،
Dan menerima amal-amal kami, dan memudahkan urusan-urusan kami semuanya,
يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
Wahai Tuhan Yang Maha Penyayang diantara para Penyayang.
(Dibaca 3 kali)
اللّٰهُمَّ صَلِّی عَلَی سَيِّدِنَا ﷴٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ،
Wahai Alloh mencurahkan kesejahteraan kepada Junjungan kami Nabi Muhammadﷺ Nabi yang buta huruf,
وَعَلَی آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Dan kedamaian kepada keturunan dan para sahabat beliau.
وَ الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
Dan segala puji bagi Alloh Tuhan alam semesta,
آمِيْنَ يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ. الْفَاتِحَة...
Kabulkanlah Wahai Tuhan semseta Alam. Alfatihah...
Nasehat dari Para Mursyid Thoriqoh Qodiriyah Wan Naqsyabandiyah
"Hormatilah orang yang lebih tua walaupun kamu sudah lebih-lebih semuanya (kaya raya & banyak/tinggi ilmunya)."
K.H. MUSTA'IN ROMLY
"Tirakatnya orang umum/syare'at itu puasa, tirakatnya orang thoriqot itu jalan kaki, tirakatnya orang hakikat itu jarang tidur (untuk banyak berdzikir & sholat diwaktu malam)."
K.H. MUHAMMAD ROMLY TAMIM,
"Hindari dan tinggalkanlah kemaksiatan, karena kemaksiatan itu bisa berdampak pada hilangnya suatu amal ibadah yang biasa dilakukan."
K.H. MUSTAIN ROMLY,
"Murid yang terdekat kepada gurunya adalah santri yang tahu akan rahasia-rahasia gurunya."
K.H. MUHAMMAD ROMLY TAMIM,
"Sopo wonge bener-bener olehe meper syahwat kepinginane marang opo bahe kerono Gusti Alloh ora kerono nafsu, Gusti Alloh bakal ngilangi syahwat songko atine. (Barangsiapa bersungguh-sungguh dalam menahan syahwat keinginannya kepada apa saja hanya karena Gusti Alloh semata bukan karena nafsu/menginginkan sesuatu, maka Gusti Alloh akan menghilangkan syahwat dari dalam hatinya.)
KH. MUSTAIN ROMLI,
"Kalo pingin sakti jangan belajar ilmu kanuragan, tetapi jangan menghina orang lain, selalu senangkan hati orang lain dan sukalah memberikan kepada orang lain, sukalah untuk saling tolong menolong. Insya Alloh kamu akan menjadi sakti."
K.H. MUHAMMAD ROMLI TAMIM,
"Banyak orang yang menafkahkan harta bendanya, tetapi sedikit sekali orang yang menafkahkan ruhnya."
K.H. MUHAMMAD ROMLI TAMIM,
"Santriku seng aku lan santri seng gak menangi aku, tak dolek'i nang akherat pokok gelem ngamalno ISTIGHOTSAH. (Santri/muridku yang pernah bertemu aku dan santri yang setelah aku meninggal/belum pernah bertemu aku, akan aku cari kelak diakherat asalkan mau mengamalkan ISTIGHOTSAH)."
K.H. MUHAMMAD ROMLI TAMIM,
"Berdzikir kepada Gusti Alloh itu untuk mengharap turunnya anugerah/karunia dari Gusti Alloh, dengan itu Gusti Alloh mengangkat derajat manusia menjadi angkat lebih tinggi dan Gusti Alloh akan memberi pemahaman ilmu (pengetahuan) yang sangat luas ."
K.H. MUHAMMAD ROMLI TAMIM,
"Berotak London, Barhati Masjidil Harom"
London adalah ibu kota inggris. Mereka mengikuti peradaban dunia (modern), tetapi tidak meninggalkan kebudayaan yang ditinggalkan nenek moyangnya.
Ikutilah perkembangan zaman modern, tetapi tetap berpegang teguhlah pada sunnah Rosululloh ﷺ. Berhati masjidil Harom artinya Ka'bah sebagai pusat spiritual dan supranatural alam semesta (makro), dan hati sebagai pusat spiritual dan supranatural dari alam semesta mikro (manusia).
KH. MUSTAIN ROMLI,
"Jangan menjadi seorang hamba yang dekat dengan Alloh, tetapi ketika Alloh sudah mendekati seorang hamba tersebut dengan membawa berbagai ujian, musibah, cobaan, dan fitnah, hamba tersebut malah ingkar dan tidak menerima dengan pemberian Alloh tersebut"
K.H. AHMAD ASRORI AL ISHAQI,
"Dhohirnya takwa adalah syare'at, dan haqiqat adalah bathinnya taqwa. Rahasia yang tersembunyi dari syare'at adalah haqiqat. Maka dari itu lakukanlah syare'at, nanti akan ketemu yang namanya haqiqat."
K.H. MUHAMMAD ROMLI TAMIM,
"Pidato itu jangan membicarakan keburukan orang lain (walaupun tidak menyebutkan nama)."
K.H. MUHAMMAD ROMLY TAMIM,
"Seharusnya bagi murid-murid Thoriqoh selalu tafakkur didalam setiap waqtu." (Maksudnya santri-santri hendaknya selalu dalam keadaan "sadar" yaitu senantiasa selalu berdzikir dengan membentangkan perenungan pada akal ataupun nalar sehingga jalan dan gerak nafsu menjadi sempit dan terbatas. Baik dan tidaknya agama seseorang, bisa disebabkan oleh aspek dari tafakkurnya.)
K.H. MUHAMMAD ROMLY TAMIM,
Kyai itu ada 4 macam:
1. Kyai Segoro (samudra)
Yaitu Kyai seperti ini banyak ilmunya, santri (murid) nya banyak, cobaannya banyak, namun hatinya tetep sabar, ikhlas, bersyukur,
2. Kyai Sumur,
Yaitu Kyai seperti ini ilmunya banyak, santrinya sedikit, hatinya selalu bening, taat, sabar,
3. Kyai Kran,
Yaitu Kyai seperti ini ilmunya tergantung orang yang membutuhkannya, apabila ada yang mengundang ilmunya keluar, jikalau tidak ada yang mengundang ilmunya tidak keluar, kyai ini tidak mempunyai santri.
4. Kyai comberan (got/selokan),
Yaitu Kyai seperti ini kadang kala ilmunya keluar apabila waqtu dibutuhkan saja dan penampilannya bergaya seperti seorang alim, ulama besar, namun apabila tidak ada undangan hatinya mengeluh saja, wajah dan hatinya tidak sama, kotor dan bau.
K.H. MUHAMMAD ROMLY TAMIM,
"Thoriqoh itu jangan dicampur sama NU, atau organisasi apa pun itu"
K.H. MUHAMMAD ROMLY TAMIM,
Hari jum'at K.H. MUHAMMAD ROMLY TAMIM selalu keliling kampung untuk membagi-bagikan uang, apabila tidak punya uang dihari jum'at pagi beliau menangis, karena tidak bisa berbagi kepada tetangga-tetangga yang tidak mampu.
"Apabila menginginkan kesaktian, jangan ghibah (membicarakan keburukan orang lain), jangan menjelekkan/mengolok-olok/mencaci-maki orang lain, suka memberi orang lain apa pun itu bentuknya."
K.H. MUHAMMAD ROMLY TAMIM,
K.H. Muhammad Faqih (Pondok Pesantren Langitan, Tuban) pernah berkata: "K.H. Zubeir (ayahanda K.H. Maimoen Zubeir) sarang Rembang, bermimpi bertemu Baginda Rosululloh ﷺ sedang menemui 2 orang laki-laki dan Baginda Rosululloh ﷺ bersabda kepada K.H Zubeir :"Keluargaku banyak tersebar di tanah jawa diantaranya Romly dan Utsman".
Nur saking Alloh yen melebu jerone ati, banjur ati iku jembar, lego lan marem (cahaya dari Alloh apabila sudah masul kedalamnya hati, kemudian hati menjadi lapang, puas, dan tenang/tentram). ABUYA KH. MUSTA'IN ROMLY.
Alhamdulillaah berkat pertolongan Alloh ﷻ, syafa'at Kanjeng Rosululloh Muhammad ﷺ, keberkahan dari para mursyid Thoriqoh Qodiriyah Wan Naqsyabandiyah, khususnya Sayyidina Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu sirruhu Al Aziz, Sayyidina syaikh Muhammad Bahauddin An Naqsyanandi, Sayyidina Syaikh Ahmad Khotib bin Abdul Ghoffar As Sambasi Al Makki, Hadrotus Syaikh Muhammad Romli Tamim, Hadrotus Syaikh Musta'in Romli, Hadrotus Syaikh Utsman Al Ishaqi, Hadrotus Syaikh Ahmad Asrori Al Ishaqi, terjemah Kitab Tsamroh Al Fikriyah selesai diterjemahkan dalam bahasa indonesia. Mohon maaf dari para jami'iyah Thoriqoh Qodiriyah Wan Naqsyabandiyah apabila ada kesalahan dalam menejemahkan dan kekuarangan dalam penulisan.
Jakarta, 2 zulkaidah 1442/12 juni 2021 bertepatan hari Ahad.
Asyauri Ma'rif Al Makhdumi,
Jalan Kebantenan 2 gang Merpati 2 RT. 03/RW.02 Kelurahan: Semper Timur, Kecamatan: Cilincing, Jakarta Utara.
DKI JAKARTA
(WA : 0895365274383)
EmoticonEmoticon