Rabu, 05 Februari 2020

KISAH SAYYIDINA SYEIKH AS-SIRIY AS-SAQQOTHY

Prakata:
pembacaan manaqib (kisah hidup), para pembaca disaat nama Syaikh As-Siriy As-Saqqothy ,pembaca wajib memandu para jama'ah dan atau pribadi untuk mengucap "Rodhiallohu'anhu"disertai "suratul fatihah" khususkan kepada beliau.

Supaya kita yang membaca tersambung batin, dan kita mendapatkan berkah dari Alloh Subhanahu Wa Ta'ala melalui beliau yang telah mendapatkan keredhoan dari Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.

Barangsiapa membaca kisah hidup seorang 'Alim, maka dia telah menghidupkan ilmu Alloh didalam dirinya, seperti beliau yang telah mengamalkan ilmu Alloh Subhanahu Wa Ta'ala didalam kehidupan beliau.

Nama lengkap beliau adalah Abi Al-Hasan SIrri ibn Al-Mughilis As-Saqothi. Disamping itu beliau juga murid Sayyidi Syaikh Ma’ruf Al-Kurkhy Rodhiallohu 'anhu.

Kesholehan dan kegigihan Sayyidi Syaikh Sirri As Saqothi Rodhiallohu 'anhu dalam beribadah bukan menjadi suatu hal yang baginya.

Sayyidi Syaikh Sirri As-Saqothi Rodhiallohu'anhu dikenal sebagai ulama besar dengan kemampuan ilmu pengetahuan yang belum ditemukan bandingannya .

Sayyidi Syaikh Sirri As-Saqothi Rodhiallohu'anhu menguasai ilmu hadits, ilmu fikih, ilmu sejarah, ilmu tasawuf, ilmu kalam dan filsafat.

Sayyidi Syaikh Sirri As-Saqothi Rodhiallohu'anhu selain ahli ilmu yang juga ahli amal serta gemar menghabiskan waktunya hanya untuk beribadah dan bermunajat kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.

Hal itu diakui oleh keponakan sekaligus muridnya yaitu Sayyidi Syaikh Junaid Al-Baghdady Rodhiallohu'anhu yang kelak menjadi penggantinya.

Sayyidi Syaikh Junaid Al-Baghdady Rodhiallohu'anhu pernah berkata:

“Aku tidak melihat seorang yang lebih hebat ibadahnya daripada Syaikh Sirri As-Saqothi.” 

Selama 98 tahun Sayyidi Syaikh Sirri As-Saqothi Rodhiallohu'anhu tidak pernah berbaring kecuali pada saat sakit jelang wafatnya. Artinya Sayyidi Syaikh Sirri As-Saqothi Rodhiallohu'anhu senantiasa beribadah kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala baik siang atau malam hari. Sayyidi Syaikh Sirri As-Saqothi Rodhiallohu'anhu tidur dalam keadaan duduk, sehingga wudhunya tidak batal.

Beliau mendapat julukan dari masyarakat dan muridnya, "Al-Mughilis", sebab beliau tidak pernah keluar rumah kecuali hanya untuk beribadah.

Sayyidi Syaikh Sirri As-Saqothi Rodhiallohu'anhu adalah orang yang pertama sekali mengajarkan kebenaran mistik dan ”peleburan” [fana] sufi di kota Baghdad. Kebanyakan syaikh-syaikh sufi di negeri Irak adalah murid-murid Sayyidi Syaikh Sirri As-Saqothi Rodhiallohu'anhu.

Sayyidi Syaikh Sirri As-Saqothi Rodhiallohu'anhu juga pernah bertemu dengan Habib Ar-Ra’i. Pada mulanya Sayyidi Syaikh Sirri As-Saqothi Rodhiallohu'anhu tinggal di kota Baghdad di mana ia mempunyai sebuah toko. Setiap hari apabila hendak sholat digantungkannya sebuah tirai di depan pintu tokonya.

Pada suatu hari datanglah seseorang dari gunung Lukam mengunjunginya. Dengan menyibakkan tirai itu orang itu mengucapkan salam kepada Sayyidi Syaikh Sirri As-Saqothi Rodhiallohu'anhu dan berkata:

”Syekh dari gunung Lukam mengirim salam kepadamu”.

Sayyidi Syaikh Sirri As-Saqothi Rodhiallohu'anhu menyahut:

”Si syaikh hidup menyepi di atas gunung dan oleh karena itu segala jerih payahnya tidak bermanfaat. Seorang manusia harus dapat hidup di tengah keramaian dan mengkhusyu’kan diri kepada Alloh sehingga kita tidak pernah lupa kepada-NYA walaupun sesaat”.

Diriwayatkan, di dalam berdagang itu Sayyidi Syaikh Sirri As-Saqothi Rodhiallohu'anhu tidak pernah menarik keuntungan melebihi lima persen. Pada suatu ketika Sayyidi Syaikh Sirri As-Saqothi Rodhiallohu'anhu membeli buah-buahan badam seharga enam puluh dinar. Pada waktu harga buah badam sedang naik, seorang pedagang perantara datang menemui Sayyidi Syaikh Sirri As-Saqothi Rodhiallohu'anhu. 

Sayyidi Syaikh Sirri As-Saqothi Rodhiallohu'anhu berkata kepadanya:

”Buah-buah badam ini hendak kujual”

Si perantara bertanya:

 ”Berapakah harganya?”,

Sayyidi Syaikh Sirri As-Saqothi Rodhiallohu'anhu kembali berkata:

 “Enam puluh dinar”,

Si perantara berkeberatan dan berkata:

“Tetapi harga buah badam pada saat ini sembilan puluh dinar”,

Sayyidi Syaikh Sirri As-Saqothi Rodhiallohu'anhu menjawab:

“Sudah menjadi peraturan bagi diriku untuk tidak menarik keuntungan lebih dari lima persen”,

”Dan aku tidak akan melanggar peraturan sendiri”.

Si pedagang perantara menyahuti:

“Dan aku pun tidak merasa pantas untuk menjual barang-barangmu dengan harga kurang dari sembian puluh dinar”,

Akhirnya si perantara tidak jadi menjualkan buah-buahan Sayyidi Syaikh Sirri As-Saqothi Rodhiallohu'anhu.

Al kisah ada seorang budak wanita lewat membawa sebuah bejana yang berisi sesuatu, lalu bejana itu jatuh dari tangannya dan pecah. Sayyidi Syaikh Sirri As-Saqothi Rodhiallohu'anhu mengambil sesuatu dari tokonya dan menyerahkannya kepada budak itu sebagai pengganti bejana yang pecah. Sayyidi Syaikh Ma’ruf Al Kurkhy Rodhiallohu'anhu melihat perbuatan Sayyidi Syaikh Sirri As-Saqothi Rodhiallohu'anhu dan menyukainya, lalu berkata:

“Semoga Allah membuat kamu membenci harta benda”.

Ada kisah lain, Sayyidi Syaikh Sirri As-Saqothi Rodhiallohu'anhu berdagang di pasar, lalu Sayyidi Syaikh Ma’ruf Al Kurkhy Rodhiallohu'anhu mendatanginya dengan membawa seorang anak yatim dan berkata:

“Berilah anak yatim ini pakaian”.

Sayyidi Syaikh Sirri As-Saqothi Rodhiallohu'anhu berkata:

“Aku memberikan pakaian kepada anak itu,"

Lalu Sayyidi Syaikh Ma’ruf Al Kurkhy Rodhiallohu'anhu bergembira dan berkata:

“Semoga Alloh membuat kamu membenci harta benda dan merehatkanmu dari apa yang kamu lakukan”.

Kemudian Sayyidi Syaikh Sirri As-Saqothi Rodhiallohu'anhu berdiri dari toko, sedangkan tidak ada yang lebih Sayyidi Syaikh Sirri As-Saqothi Rodhiallohu'anhu benci dari pada harta benda.

Sayyidi Syaikh Sirri As-Saqothi Rodhiallohu'anhu berkata:

"Segala yang ada padaku adalah karena berkat Sayyidi Syaikh Ma’ruf Al Kurkhy Rodhiallohu'anhu”.

Sayyidi Syaikh Sirri As-Saqothi Rodhiallohu'anhu selalu berada di rumahnya dan dia tidak keluar rumah, kecuali karena sholat Jum’at dan jama'ah. Tidak ada yang melihatnya di selain kedua hal tersebut, kecuali orang yang ingin bertemu dengannya.

Sayyidi Syaikh Sirri As-Saqothi Rodhiallohu'anhu berkata:

“Barangsiapa ingin agamanya selamat, badannya istirahat, sedikit susahnya karena mendengar ucapan yang menyakitkan, maka hendaknya dia uzlah (menyendiri) dari manusia, sebab ini adalah zaman uzlah dan sendirian”.

Lebih jelas lagi, Sayyidi Syaikh Sirri As-Saqothi Rodhiallohu'anhu berkata:

“Bagaimana hati orang faqir bersinar, sedangkan dia memakan harta orang yang menipu dalam muamalah dan bermuamalah dengan orang-orang zalim dan pemakan riba? Apalagi jika faqir meminta kepada mereka dengan rendah dan hina karena tidak punya pekerjaan”.

Sayyidi Syaikh Sirri As-Saqothi Rodhiallohu'anhu berkata:

“Jika seseorang beribadah, lalu menulis hadits, maka dia kendor. Jika dia menulis hadits dulu, lalu beribadah, maka dia sukses”.

Sayyidi Syaikh Sirri As-Saqothi Rodhiallohu'anhu membuat sebuah devinisi tentang tasawuf yang menjelaskan pandangan hakiki dan keluhuran bagi tasawuf Islam di Madrasah Bagdad. Devinisi tersebut seakan-akan meringkas seluruh ucapan dan hidup Sayyidi Syaikh Sirri As-Saqothi Rodhiallohu'anhu sendiri, di mana dia berkata:

“Tasawuf terdiri dari tiga hal. Yaitu orang yang makrifatnya tidak memadamkan cahaya wirainya, tidak berbicara dengan batin yang bertentangan dengan lahir Al-Qur’an Hadits, keramat tidak mendorongnya untuk merusak haram-haram Alloh”.

Sayyidi Syaikh Sirri As-Saqothi Rodhiallohu'anhu bercerita:

”Sudah 30 tahun aku beristighfar kepada Alloh hanya karena ucapan alhamdulillah yang pernah ku ucapkan dahulu.” 

Tentu hal ini membuat banyak orang bingung sehingga bertanya kepada Sayyidi Syaikh Sirri As-Saqothi Rodhiallohu'anhu:

”Bagaimana itu bisa terjadi?.”

Sayyidi Syaikh Sirri As-Saqothi Rodhiallohu'anhu berkata:

”Saat itu aku memiliki toko di Baghdad. Lalu suatu hari aku mendengar berita bahwa pasar Baghdad hangus terbakar dan tokoku berada di pasar tersebut. Aku bergegas ke sana untuk memastikan apakah tokoku terbakar atau tidak. Seseorang lalu memberitahuku:

”Api tidak membakar tokomu”.

Aku pun berseru:

 ”Alhamdulillah!”

Namun tak lama kemudian aku pun berpikir,:

”Apakah hanya engkau saja yang berada di dunia ini? Walaupun tokomu tidak terbakar, bukankah toko-toko orang lain banyak yang terbakar. Ucapan alhamdulilah menunjukkan bahwa engkau bersyukur bahwa api tidak membakar tokomu. Namun lantas engkau telah rela toko-toko orang lain terbakar, asalkan tokomu tidak terbakar! Lalu aku pun terus berkata kepada diriku sendiri,:

”Tidak adakah sedikit pun perasaan sedih di hatimu atas musibah yang menimpa banyak orang, wahai Sirri?”

Di sini aku mengambil dari hadits Nabi ﷺ ,:

”Barang siapa melewatkan waktu paginya tanpa memerhatikan urusan kaum muslimin, niscaya bukanlah ia termasuk dari kaum muslimin”.

Sudah 30 tahun aku beristighfar atas ucapan alhamdulillah itu."

Akhirnya harta bendanya yang tersisa dikeluarkan dan dibagikan kepada masyarakat yang terkena musibah, terutama untuk anak yatim dan fakir miskin. Kemudian Syaikh As-Siriy As-Saqqothy Rodhiallohu'anhu mengambil jalan sufi.

Syaikh As-Siriy As-Saqqothy Rodhiallohu'anhu memiliki perhatian yang luar biasa besar terhadap peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ,
Di suatu waktu, beliau pernah menuturkan :

“Barang siapa mendatangi tempat yang dibacakan Maulid Nabi ﷺ, maka ia telah mendatangi taman Surga, sebab tujuannya mendatangi majelis itu tak lain ialah untuk mengungkapkan rasa cintanya kepada Rosululloh ﷺ,.”

Sedangkan Rosululloh ﷺ, bersabda:

 “Barang siapa mencintaiku, maka dia bersamaku di Surga”
 (Kitab I’anathuth Thalibin Darul Fikr, Abu Bakar Bin Muhammad Syatho Ad-Dimyathi)

Syaikh As-Siriy As-Saqqothy Al-Mughilis adalah sosok guru yang luar biasa bagi murid-muridnya.

Syaikh As-Siriy As-Saqqothy Rodhiallohu'anhu sangat peduli kesejahteraan sesama, tidak pernah makan kecuali bersama fakir miskin, tidak pernah meminta tetapi tidak pernah menolak jika diberi, mudah bergaul dengan berbagai kalangan, dekat dengat rakyat dan disegani pejabat.

Begitu istimewanya beliau yang tak pernah memanfaatkan sedikitpun kedekatannya dengan pejabat untuk kepentingan duniawi. Sebut saja Ahmad Yazid, raja masa itu yang berubah akhlaknya menjadi raja yang mencintai kesholehan setelah mendengarkan khutbah Syaikh As-Siriy As-Saqqothy Rodhiallohu'anhu.


Pesan Syaikh As-Siriy As-Saqqothy Rodhiallohu'anhu kepada Sayyidi Syaikh Junaid Al-Baghdady, saat Al-Junaidi menanyakan jalan pintas agar masuk surga. Syekh Sirri kemudian menjelaskan cara pintas agar mudah masuk ke surga yaitu jangan meminta dan jangan mengharapkan sesuatupun dari seseorang, juga jangan menahan sesuatupun untuk diberikan kepada orang lain.
(Maulida - disarikan dari “Warisan Para Aulia” kitab Fariduddin Al-Attar)

Syaikh As-Siriy As-Saqqothy Rodhiallohu'anhu bercerita:


Sekali peristiwa sedang aku berada di Baitul-Maqdis, ketika itu aku duduk di Sakhroh berdekatan dengan Masjid Al-Aqsho. Aku dalam keadaan sedih dan pilu sekali, kerana hari-hari untuk perlaksanaan haji ke Batulloh hanya tinggal sepuluh hari saja lagi, jadi aku merasa kesal sekali kerana tidak dapat menunaikan ibadah Haji pada tahun itu

 Aku berkata dalam hatiku:

 "Alangkah buruknya nasib! Semua orang telah berangkat menuju ke Makkah untuk menunaikan haji, dan kini yang tinggal hanya beberapa hari saja, padahal aku masih berada di sini!"

 Aku pun menangis, karena ketinggalan amalan Haji tahun ini. Tidak beberapa lama sesudah itu, aku terdengar suatu suara ghoib menyambut tangisanku tadi. Katanya:

 "Wahai Siriy Saqothy! Janganlah anda menangis, nanti Tuhan akan mengirimkan utusan-NYA untuk menghantarmu ke Baitullohil-Harom, Makkah di saat ini juga.!"

 Aku bertanya dalam hatiku:

 "Bagaimana ini boleh terjadi, sedang saat ini aku masih di sini, padahal perlaksanaan haji tinggal beberapa hari lagi?"

"Apakah aku akan diterbangkan?"

"atau bagaimana?"

 Suara itu kembali terdengar lagi:

 "engkau jangan ragu!"

"Alloh Maha Kuasa mampu mempermudah segala yang sukar bagaimanapun caranya."

 Mendengar jawaban itu, aku langsung bersujud kepada Alloh untuk bersyukur dengan air mata kegembiraan. Kemudian aku duduk dengan hati yang berdebar-debaran dan hatiku terus bertanya:

 "Benarkah apa yang dikatakan oleh suara itu?!"

 Tiba-tiba dari jauh tampak dengan jelas empat orang pemuda berjalan cepat-cepat menuju ke masjid, dan kelihatan wajah keempat-empat pemuda itu sangat bersinar. Seorang di antaranya lebih tampan dan berwibawa, mungkin dia itulah pemimpin rombongan ini. Mereka sholat masing-masing dua rakaat. Saya turun dari Sakhroh, lalu mendekati mereka, dalam hatiku berkata:

 "Moga-moga mereka inilah orang-orang yang dijanjikan oleh Tuhan dalam suara ghoib tadi!"

 Aku mendekati pula pemuda yang aku menganggapnya sebagai pemimpin rombongan ini agar aku dapat mendengar doa dan munajatnya. Aku mendapatinya sedang menangis, kemudian dia berdiri, menyentuh hati sanubariku. Selesai bersholat dia lalu duduk dan datang pula ketiga-tiga pemuda yang lain pula yang duduk di sisinya.

 Akupun mendekati mereka serta memberi salam kepada mereka. Pemuda pemimpin rombongan itu menjawab:

 "Wa'alaikumus salam,"

"Wahai Siriy Saqothy, wahai orang yang mendengar suara ghoib pada hari ini. Bergembiralah, bahwa engkau tidak akan ketinggalan haji pada tahun ini."

 Aku hampir-hampir jatuh pingsan, apabila mendengar berita itu. Aku terlalu gembira, dan tidak dapat kusifatkan betapa hatiku merasa senang sekali, sesudah tadinya aku bersedih dan menangis. Kemudian aku berkata:

 "Ya, memang saya dengar suara ghoib itu tadi,"

 Kemudian pemuda itu menjelaskan tujuan perjalanan mereka.

 "Kami, Sebelum suara ghoib itu membisikkan suaranya kepada mu itu, kami sedang berada di negeri Khurosan dengan tujuan kami ke Negeri Baghdad. Kami cepat-cepat menyelesaikan keperluan kami di sana, dan terus berangkat ke arah Baitullohi-Harom. Tiba-tiba terfikir oleh kami ingin menziarahi makam-makam Anbiya' (para Nabi) di Shyam, kemudian barulah kami akan pergi ke Makkah yang dimuliakan oleh Alloh tanahnya. Kini kami telah pun memenuhi hak-hak para Nabi itu dengan menziarahi makam-makam mereka, dan kami datang ke mari pula untuk menziarahi Baitul-Maqdis,"

 Aku pun kembali bertanya:

 "Tetapi, apa pula yang tuan-tuan melakukan ketika di Khurosan awal-awal itu,?"

 Pemuda itu berkata:

 "Kami mengadakan pertemuan dengan rekan kami, yaitu Syaikh Ibrohim Bin Adham dan Syaikh Ma' ruf Al-Karkhi. Dan saat ini mereka sedang menuju ke Makkah, melalui jalan padang pasir, dan kami pula singgah di Baitul Maqdis."

 Heranku memuncak kini, apakah benar apa yang mereka katakan itu?

 Mana Khurosan dan mana pula Sham? 

 Jarak di antara kedua-duanya amatlah jauh sekali dan jika ditempuh berjalan kaki memakan masa setahun lamanya. Bagaimana mereka dapat menempuhnya dengan sekelip mata saja?! Aku berucap kepada mereka:

 "Moga-moga Alloh merohmatimu,"

 Kemudian aku menambahkan lagi:

 "Perjalanan dari Khurosan dan Baitul Maqdis kerap kali ditempuh selama setahun, bagaimana kalian dapat menempuhnya dalam masa yang singkat sekali?!"

 Salah satu dari mereka berkata:

"Wahai Siriy, jangan kau heran!" 

 Kemudian dia melanjutkan perkataannya:

"Kalau perjalanannya itu sampai seribu tahun sekalipun, bukankah kita ini semua hamba-hamba Alloh, dan bumi pun bumi Alloh?!"

"Kita pun pergi untuk menziarahi rumah-NYA, jadi DIALAH yang menyampaikan kita ke sana dan kuasa dan kehendak adalah kuasa dan kehendak-NYA. Tidakkah engkau lihat betapa matahari beredar dari timur dan barat pada suatu hari saja, yakni siangnya. Coba engkau fikirkan bagaimana matahari itu beredar?"

"Apakah ia beredar dengan kuasa (kekuatan) nya sendiri, ataukah dengan kuasa Tuhan?"

"Kalaulah matahari itu yang hanya jamad (benda yang tidak bernyawa), dan ia tidak ada hisab (perhitungan) dan tidak ada iqob (siksa) ia boleh beredar dari timur ke barat dalam satu hari, jadi tidaklah mustahil bagi seorang hamba dari hamba-hamba Alloh boleh memotong perjalanan dari Khurosan ke Baitul Maqdis dalam satu saat saja. Sesungguhnya Alloh Ta'ala mempunyai kuasa mutlak dan kehendak untuk membuat sesuatu yang luar biasa kepada siapa yang dicintai-NYA atau yang dipilih-NYA, tiada suatu kuasa (kekuatan) yang dapat menghalangi kuasa dan kehendak-NYA."

Dia berhenti semula kemudian menyambung lagi:

"Engkau wahai Siriy Saqothy!"

Seru pemuda itu tadi kepadaku

"Hendaklah engkau memuliakan dunia dan akhirat sekaligus?"

Kemudia dia menjelaskan:

"Siapa yang mau akan kekayaan tanpa harta, dan ilmu pengetahuan tanpa belajar serta kemuliaan tanpa kaum keluarga, maka hendaklah ia membersihkan jiwanya dari mencintai dunia sama sekali, jangan sekali-kali ia bergantung kepada dunia, dan jangan sampai hatinya mengingatinya sama sekali!"

Aku pun memberanikan diri untuk bertanya:

"Tuan! demi Alloh yang telah menggutamakanmu dengan Nur cahaya-NYA, dan Yang telah Membukakan bagimu dari hal rahasia-rahasia-NYA, sekarang engkau akan berangkat ke mana?!"

Dan mereka menjawab:

"Kami akan berangkat untuk menunaikan haji, kemudian menziarahi makam Nabi 'Alaihis Sholatu Wassallam."

Aku mencoba merayu kepadanya:

"Demi Alloh, aku tidak akan berpisah denganmu lagi, kerana berpisah denganmu bererti berpisahnya roh dengan jasad,"

Pemimpin rombongan itu berkata:

"Kalau begitu, marilah kita berangkat bersama dengan menyebut Bismillah."

Dia mula bersia-siap dan berangkat jalan. Aku pun menurut di belakangnya. Sebentar saja kami berjalan, tiba-tiba sudah masuk waktu sholat dzuhur. Mereka pun bertanya:

"Wahai Siriy, sekarang sudah masuk waktu dzuhur, engkau tidak bersholat dzuhur?!".

Aku pun berkata;

"Ya, aku akan bersholat dzuhur",

Aku pun segera mencari debu bersih untuk bertayammum. Tiba-tiba kata pemuda itu:

"Tak perlu tayammum. Di sini ada mata air tawar, mari ikut aku ke sana!"

Aku sebagai orang yang bodoh ikut ke jalan yang diarahkan. Di situ memang benar ada sebuah mata air tawar, rasanya lebih enak dan lebih manis dari rasa madu.

Aku pun berwudhu' dengan air itu serta meminumnya dengan sepuas-puasnya. Kemudian aku berkata kepadanya:

"Tuan! demi Alloh, aku telah melalui jalan ini berkali-kali, tetapi tak pernah aku menemui mata air ini, ataupun air apa pun di tempat ini?!"

"Kalau begitu kita harus bersyukur kepada Alloh atas kemurahan-NYA terhadap hamba-hamba- NYA."

Kami pun bersholat berjama'ah, kemudian berjalan lagi hingga dekat ke waktu Ashar. Aku tidak percayakan diriku ketika aku lihat menara-menara tinggi Negeri Hijaz itu. Tidak beberapa lama sesudah itu, aku terlihat tembok-tembok Kota Makkah.
 
"Oh, ini Makkah!"

 bisik hatiku. Betulkah aku dalam keadaan sadar, ataupun mungkin ini hanya sebuah impian malam saja!!!

Tiba-tiba tercetus dari mulutku:

 "Eh kita sudah sampai ke Makkah?!"

Aku terus menangis dan air mataku membasahi seluruh pipiku.

Pemuda itu memanggilku:

"Wahai Siriy, engkau sudah sampai di Makkah. Sekarang engkau hendak berpisah denganku ataupun kau hendak masuk bersama-sama denganku?!" 

Aku pun menjawab:

"Ya, saya akan masuk bersamamu," Jawabku.

Kami pun masuk Makkah melalui pintu Nadwah. Di situ aku temui dua orang laki-laki sedang menunggu kami. Seorang agak sudah tua parasnya dan yang lain pula masih muda dan tegak lagi.

Apabila kedua orang laki-laki itu melihat pemuda tadi, mereka tersenyum dan serta merta mereka datang dan mendakapnya.

Kemudian mereka berkata:

"Alhamdulillah Alas-salaamah! (segala puji bagi Alloh yang telah menyelamatkan kamu.)"

Aku pun bertanya:

"Tuan, siapa mereka ini".

"Ah," jawab salah 1 pemuda itu.

Dan memperkenalkan ke 2 orang tersebut:

"Yang tua ini ialah Syaikh Ibrohim Bin Adham dan pemuda ini ialah Syaikh Ma'ruf Al-Karkhi."

Aku pun bersalaman dengan mereka.

Kami semua duduk di dalam masjid itu hinggalah tiba waktu sholat Ashar. Kemudian kita bersholat pula sholat Maghrib dan Isya' di Masjidil Harom itu.

Sesudah itu, maka masing-masing mereka mengambil tempat-tempat sendiri di dalam masjid itu bersholat bermacam-macam sholat. Aku juga turut bersholat sekadar kemampuanku sehinggalah tertidur dengan nyenyaknya. Apabila aku terbangun dari tidurku itu, aku dapati mereka sudah tidak ada lagi di situ. Aku coba mencarinya di seluruh Masjidil-Harom, tiada suatu celah pun melainkan sudah aku amat-amatinya, namun bayangnya pun tidak kudapati. Ke mana mereka telah pergi?
aku kesana-kemari seperti orang gila yang tidak tentu arahnya.

Kemudian aku pergi mencari mereka di seluruh tempat lain, di sekitar Masjidil-Harom, dan seluruh kota Makkah, di Mina, dan di tempat-tempat lain lagi, namun aku tidak menemui walau seorang pun dari mereka.

Aku merasa sedih sekali, dan kadang-kadang aku menangis seorang diri, kerana telah terpisah dari mereka semua.

Moga-moga Alloh memberikan rohmat (kasih sayang) kepada mereka semua dan anda yang membaca ini.

Wallohu a'lam bi_showab, Robbana taqob_bal min_na, Ila Hadroti Nabiyil Mus_thofa Muham_mad Rosululloh Shollallohu 'Alaihi Wassallam wa Tsum_ma ila Arwahi Syaikh Sirri As Saqoti syailillaahi lahum bisir_ril fatihah...


EmoticonEmoticon