Senin, 20 Juli 2020

SAYYIDINA SYAIKH ABDUL QODIR AL JAILANI AL BAGHDADI BERDIALOG DENGAN ALLOH ROBBUL IZZATI

Sebagai bekal untuk Sobat-sobat dalam menapaki tangga rohani, lahir dan batin menuju kepada jalan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Ini risalah Al Ghoutsiyyah Sayyidina Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu yang berdialog batiniah (spiritual) dengan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, yang beliau terima melalui ilham qolbi dan penyingkapan ruhani [kasyaf ma’nawi].

Dengan nama Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang serta segala puji hanya bagi Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, Sang Penghapus Duka. Sholawat atas manusia terbaik, Rosululloh Muhammad Sholallohu 'Alaihi Wa Salam.

Berkatalah sang penolong agung Sayyidina Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu yang terasing dari selain Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dan amat intim dengan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.

   Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Berfirman :

“Wahai penolong agung!”

   Sayyidina Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu menjawab:

Aku mendengar panggilan-MU, Wahai Tuhannya si penolong.”

   Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Berfirman :

Setiap tahapan antara alam Naasut dan alam Malakut adalah syariat; setiap tahapan antara alam Malakut dan Jabarut adalah thoriqot; dan setiap tahapan antara alam Jabarut dan alam Lahut adalah hakikat.”

(Penjelasan:

Alam Naasut adalah alam manusia, di dalamnya yang tampak adalah urusan-urusan kemanusiaan yang lembut dan bersifat ruhaniah.

Alam Malakut adalah alam dimana para malaikat berkiprah melaksanakan tugas-tugas yang diberikan oleh Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.

Alam Jabarut adalah alam gaib tempat urusan-urusan ilahiah yang menunjukkan hakikat daya paksa, kekerasan, kecepatan tindak pembalasan, dan ketidakbutuhan kepada segala sesuatu.

Alam Lahut adalah alam gaib yang di dalamnya hanya tampak urusan-urusan ilahiah murni.).

   Kemudian Alloh Subhanahu Wa Ta'ala berkata kepada Sayyidina Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu:

“Wahai penolong agung ! Aku tidak pernah mewujudkan Diri-KU dalam sesuatu sebagaimana perwujudan-KU dalam diri manusia.”

    Lalu Sayyidina Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu bertanya:

“Wahai Tuhanku, apakah Engkau memiliki tempat ?”,

   Maka Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Berkata kepada Sayyidina Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu:

“Wahai penolong agung, AKU lah Pencipta tempat, dan AKU tidak memiliki tempat.”

   Lalu Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu bertanya:

“Wahai Tuhanku, apakah Engkau makan dan minum ?”,

   Maka Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Berkata kepada Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu:

“Wahai penolong agung, makanan dan minuman kaum fakir adalah makanan dan minuman-KU.”

(Penjelasan: Yang dimaksud fakir disini bukanlah orang yang membutuhkan harta benda, melainkan orang yang merasa butuh kepada Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.)

   Lalu Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu:

“Wahai Tuhanku, dari apa Engkau ciptakan malaikat ?”.

   Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Berkata kepada Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu:

“AKU Ciptakan malaikat dari cahaya manusia, dan AKU Ciptakan manusia dari cahaya-KU.”

   Lalu Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Berkata kepada Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu:

“Wahai penolong agung, AKU Jadikan manusia sebagai kendaraan-KU, dan AKU jadikan seluruh isi alam sebagai kendaraan baginya.”

(Penjelasan: Kendaraan di sini berarti sarana (alat) untuk menyampaikan seseorang kepada tujuan. Untuk tujuan tertentu, Alloh Subhanahu Wa Ta'ala memanfaatkan manusia sebagai sarana (alat)-NYA, sementara manusia memanfaatkan alam sebagai sarana (alat) untuk mencapai tujuannya.)

   Lalu Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Berkata kepada Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu:

“Wahai penolong agung, betapa indahnya AKU sebagai Pencari ! Betapa indahnya manusia sebagai yang dicari ! Betapa indahnya manusia sebagai pengendara, dan betapa indahnya alam sebagai kendaraan baginya.”

(Penjelasan: Alloh Subhanahu Wa Ta'ala sebagai pencari sarana, memilih manusia – makhluk yang paling mulia – sebagai kendaraan-NYA. Betapa Agungnya Alloh Subhanahu Wa Ta'ala dan betapa terhormatnya manusia yang telah dipilih-NYA. Dan merupakan keagungan pula bagi alam karena telah dijadikan oleh manusia sebagai kendaraan yang membawanya kepada tujuannya.)

   Lalu Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Berkata kepada Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu:

“Wahai penolong agung, manusia adalah rahasia-KU dan AKU adalah Rahasianya. Jika manusia menyadari kedudukannya di sisi-KU, maka ia akan berucap pada setiap hembusan nafasnya, ‘milik siapakah kekuasaan pada hari ini ?”

(Penjelasan: Jika manusia mengetahui secara hakiki betapa tinggi kedudukannya dan betapa dekat ia dengan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, maka ia akan merasa bahwa suatu saat nanti – karena kedekatan itu – Alloh Subhanahu Wa Ta'ala akan memberikan kekuasaan-NYA kepadanya. Karena itulah ia akan senantiasa menanti, kapan saat penyerahan itu tiba, dengan kalimat : “Milik siapakah kekuasaan pada hari ini?.”)

   Lalu Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Berkata kepada Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu:

“Wahai penolong agung, tidaklah manusia makan sesuatu, atau minum sesuatu, dan tidaklah ia berdiri atau duduk, berbicara atau diam, tidak pula ia melakukan suatu perbuatan, menuju sesuatu atau menjauhi sesuatu, kecuali AKU Ada [Berperan] di situ, Bersemayam dalam dirinya dan Menggerakkannya.”

(Penjelasan: Alloh Subhanahu Wa Ta'ala selalu berperan dalam setiap gerak dan diamnya manusia.)

   Lalu Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Berkata kepada Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu:

“Wahai penolong agung, tubuh manusia, jiwanya, hatinya, ruhnya, pendengarannya, penglihatannya, tangannya, kakinya, dan lidahnya, semua itu AKU Persembahkan kepadanya oleh Diri-KU, untuk Diri-KU. Dia tak lain adalah AKU, dan AKU Bukanlah selain dia.”

   Lalu Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Berkata kepada Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu:

“Wahai penolong agung, jika engkau melihat seseorang terbakar oleh api kefakiran dan hancur karena banyaknya kebutuhan, maka dekatilah ia, karena tidak ada penghalang antara Diri-KU dan dirinya.”

(Penjelasan: Orang yang telah menyadari kefakiran dan kebutuhannya di hadapan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala, berarti ia telah memahami posisi dirinya terhadap Tuhannya. Sehingga tiada lagi penghalang antara dirinya dan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.)

   Lalu Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Berkata kepada Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu:

“Wahai penolong agung, janganlah engkau makan sesuatu atau minum sesuatu dan janganlah engkau tidur, kecuali dengan kehadiran hati yang sadar dan mata yang awas.”

   Lalu Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Berkata kepada Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu:

“Wahai penolong agung, barangsiapa terhalang dari perjalanan-Ku di dalam batin, maka ia akan diuji dengan perjalanan lahir, dan ia tidak akan semakin dekat dari-Ku melainkan justru semakin menjauh dalam perjalanan batin.”

   Lalu Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Berkata kepada Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu:

“Wahai penolong agung, kemanunggalan ruhani merupakan keadaan yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Siapa yang percaya dengannya sebelum mengalaminya sendiri, maka ia telah kafir. Dan barang siapa menginginkan ibadah setelah mencapai keadaan wushul, maka ia telah menyekutukan Allah SWT.”

(Penjelasan: Penyatuan ruhani antara makhluk dan Kholiq tidak akan dapat diungkapkan dengan kata-kata. Jika seseorang belum mengalaminya sendiri, maka ia akan cenderung mengingkarinya. Dan orang yang mengaku telah mengalaminya padahal belum, maka ia telah kafir. Orang yang telah mencapai keadaan ini, tiada yang ia inginkan selain perjumpaan dengan Alloh. Jika ia menginginkan hal lain, meski itu berupa ibadah sekalipun, dalam maqam ini, ia dianggap telah menyekutukan Alloh dengan keinginannya yang lain.

     Lalu Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Berkata kepada Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu:

“Wahai penolong agung, barangsiapa memperoleh kebahagiaan azali, maka selamat atasnya, dia tidak akan terhina selamanya. Dan barang siapa memperoleh kesengsaraan azali, maka celaka baginya, dia tidak akan diterima sama sekali setelah itu.”

     Lalu Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Berkata kepada Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu:

“Wahai penolong agung, Aku Jadikan kefakiran dan kebutuhan sebagai kendaraan manusia. Barangsiapa menaikinya, maka ia telah sampai di tempatnya sebelum menyeberangi gurun dan lembah.”

(Penjelasan: Kefakiran dan kebutuhan merupakan sarana yang membawa manusia kepada kesadaran akan jati dirinya dan kebesaran Alloh SWT. Orang yang telah sampai pada kesadaran semacam ini berarti telah sampai pada posisinya yang tepat tanpa harus menempuh perjalanan yang berliku-liku.)

   Lalu Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Berkata kepada Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu:

“Wahai penolong agung, bila manusia mengetahui apa yang terjadi setelah kematian, tentu ia tidak menginginkan hidup di dunia ini. Dan ia akan berkata di setiap saat dan kesempatan, ‘Tuhan, matikan aku !’.”

(Penjelasan: Kematian merupakan saat disingkapkannya hakikat segala sesuatu, dan perjumpaan dengan Tuhan adalah saat yang paling dinantikan oleh orang yang merindukan-NYA.)

   Lalu Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Berkata kepada Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu:

“Wahai penolong agung, semua makhluk pada hari kiamat akan dihadapkan kepada-KU dalam keadaan tuli, bisu dan buta, lalu merasa rugi dan menangis. Demikian pula di dalam kubur.”

   Lalu Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Berkata kepada Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu:

“Wahai penolong agung, cinta merupakan tirai yang membatasi antara Sang Pencinta dan yang dicintai. Bila sang pencinta telah padam dari cintanya, berarti ia telah sampai kepada Sang Kekasih.”

(Penjelasan: Cinta tiada lain kecuali keinginan sang pencinta untuk berjumpa dan bersatu dengan yang dicintai. Bila keduanya telah bertemu, maka cinta itu sendiri akan lenyap, dan keberadaan cinta itu justru akan menjadi penghalang antara keduanya.)

   Lalu Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Berkata kepada Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu:

“Wahai penolong agung, AKU Melihat Ruh-ruh menunggu di dalam jasad-jasad mereka setelah ucapanNya, ‘Bukankah AKU ini Tuhanmu ?’ sampai hari kiamat.”

   Lalu Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu, berkata :

“Aku melihat Tuhan Yang Maha Agung dan DIA Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, barangsiapa bertanya kepada-KU tentang melihat setelah mengetahui, berarti ia terhalang dari pengetahuan tentang melihat. Barangsiapa mengira bahwa melihat tidak sama dengan mengetahui, maka berarti ia telah terperdaya oleh melihat Alloh ﷻ"

(Penjelasan: Yang dimaksud mengetahui adalah melihat dengan mata hati. Jadi, di sini melihat sama dengan mengetahui.)

   Lalu Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Berkata kepada Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu:

“Wahai penolong agung, orang fakir dalam pandangan-KU bukanlah orang yang tidak memiliki apa-apa, melainkan orang fakir adalah ia yang memegang kendali atas segala sesuatu. Bila ia berkata kepada sesuatu, ‘jadilah !’ maka terjadilah ia.”

(Penjelasan: Fakir dalam pandangan Alloh ﷻ bukanlah orang yang tidak memiliki harta benda, melainkan orang yang merasa butuh kepada Alloh ﷻ, dan tidak memiliki perhatian kepada apapun selain Alloh ﷻ. Orang seperti ini, kehendaknya sama dengan kehendak Alloh ﷻ, sehingga apa yang ia inginkan untuk terwujud akan terwujud.)

   Lalu Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Berkata kepada Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu:

“Tak ada persahabatan dan kenikmatan di dalam surga setelah kemunculan-KU di sana, dan tak ada kesendirian dan kebakaran di dalam neraka setelah sapaan-KU kepada para penghuninya.”

(Penjelasan: Keinginan dan kenikmatan terbesar manusia di alam akhirat itu hanyalah perjumpaan dengan Alloh ﷻ. Maka kenikmatan di dalam surga dan kesengsaraan di dalam neraka tidak akan terasa jika dihadapkan pada kenikmatan perjumpaan dengan Alloh ﷻ, meski itu hanya dalam bentuk sapaan belaka.)

   Lalu Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Berkata kepada Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu:

“Wahai penolong agung, Aku Yang Paling Mulia di antara semua yang mulia, dan Aku Yang Paling Penyayang di antara semua penyayang.”

   Lalu Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Berkata kepada Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu:

“Wahai penolong agung, tidurlah di sisi-KU tidak seperti tidurnya orang-orang awam, maka engkau akan melihat-KU.”

Terhadap hal ini Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu bertanya kepada Alloh Azza Wa Jalla:

“Wahai Tuhanku, bagaimana aku tidur disisi-MU?”.

Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Berkata kepada Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu:

“Dengan menjauhkan jasmani dari kesenangan, menjauhkan nafsu dari syahwat, menjauhkan hati dari pikiran dan perasaan buruk, dan menjauhkan ruh dari pandangan yang melalaikan, lalu meleburkan dzatmu di dalam Dzat.”

   Lalu Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Berkata kepada Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu:

"Wahai penolong agung, katakan kepada sahabatmu dan pencintamu, siapa di antara kalian yang menginginkan kedekatan dengan-KU, maka hendaklah ia memilih kefakiran, lalu kefakiran dari kefakiran. Bila kefakiran itu telah sempurna, maka tak ada lagi apapun selain AKU.”

(Penjelasan: Kefakiran adalah suatu keadaan butuh. Jika seseorang tidak membutuhkan apa pun selain Alloh, maka kefakirannya telah sempurna. Baginya, Yang Wujud hanyalah Alloh ﷻ, tak ada selain-NYA)

   Lalu Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Berkata kepada Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu:

“Wahai penolong agung, berbahagialah jika engkau mengasihi makhluk-makhluk-KU, dan beruntunglah jika engkau memaaafkan makhluk-makhluk-KU.

   Lalu Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Berkata kepada Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu:

“Wahai penolong agung, katakan kepada pencintamu dan sahabatmu, ambillah manfaat dari do’a kaum fakir, karena mereka bersama-KU dan AKU Bersama mereka.”

   Lalu Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Berkata kepada Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu:

“Wahai penolong agung, AKU Bersama segala sesuatu, Tempat Tinggalnya, Pengawasnya, dan kepada-KU tempat kembalinya.”

   Lalu Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Berkata kepada Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu:

“Wahai penolong agung, jangan peduli pada surga dan apa yang ada di sana, maka engkau akan melihat AKU tanpa perantara. Dan jangan peduli pada neraka serta apa yang ada di sana, maka engkau akan melihat AKU tanpa perantara.”

(Penjelasan: Ini seperti ungkapan Robi’ah Al Addawiyah : “Aku menyembah Alloh bukan karena mengharap surga atau takut akan neraka, melainkan karena DIA memang layak untuk disembah dan karena aku mencintai-NYA.)

   Lalu Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Berkata kepada Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu:

“Wahai penolong agung, para penghuni surga disibukkan oleh surga, dan para penghuni neraka disibukkan oleh-KU.”

   Lalu Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Berkata kepada Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu:

“Wahai penolong agung, sebagian penghuni surga berlindung dari kenikmatan, sebagaimana penghuni neraka berlindung dari jilatan api.”

(Penjelasan: Penghuni surga berlindung dari kenikmatan agar mereka tidak terlena sehingga lupa akan kenikmatan yang paling besar, yakni perjumpaan dengan Alloh ﷻ.)

   Lalu Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Berkata kepada Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu:

“Wahai penolong agung, barangsiapa disibukkan dengan selain Aku, maka temannya adalah sabuk [tanda kekafiran] pada hari kiamat.”

   Lalu Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Berkata kepada Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu:

“Wahai penolong agung, orang-orang yang dekat mencari pertolongan dari kedekatan, sebagaimana orang-orang yang jauh mencari pertolongan dari kejauhan.”

   Lalu Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Berkata kepada Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu:

“Wahai penolong agung, sesungguhnya AKU Memiliki hamba-hamba yang bukan nabi maupun rosul, yang kedudukan mereka tidak diketahui oleh siapapun dari penghuni dunia maupun penghuni akhirat, dari penghuni surga ataupun neraka, tidak juga malaikat Malik ataupun Ridwan, dan AKU tidak menjadikan mereka untuk surga maupun untuk neraka, tidak untuk pahala ataupun siksa, tidak untuk bidadari, istana maupun pelayan-pelayan mudanya. Maka beruntunglah orang yang mempercayai mereka meski belum mengenal mereka.”

   Lalu Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Berkata kepada Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu:

“Wahai penolong agung, engkau adalah salah satu dari mereka. Dan di antara tanda-tanda mereka di dunia adalah tubuh-tubuh mereka terbakar karena sedikitnya makan dan minum. Nafsu mereka telah hangus dari syahwat. Hati mereka telah hangus dari pikiran dan perasaan buruk. Ruh-ruh mereka juga telah hangus dari pandangan yang melalaikan. Mereka adalah pemilik keabadian yang terbakar oleh cahaya perjumpaan [dengan Tuhan].”

   Lalu Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Berkata kepada Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu:

“Wahai penolong agung, bila seseorang yang haus datang kepadamu di hari yang amat panas, sedangkan engkau memiliki air dingin dan engkau sedang tidak membutuhkan air, jika engkau menahan air itu baginya, maka engkau adalah orang yang paling kikir. Bagaimana Aku Menolak mereka dari Rohmat-KU padahal AKU telah menetapkan atas Diri-KU, bahwa AKU Paling Pengasih di antara yang mengasihi.”

Lalu Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Berkata kepada Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu:

“Wahai penolong agung, tak seorang pun dari ahli maksiat yang jauh dari-KU, dan tak seorangpun dari ahli ketaatan yang dekat dari-KU.”

(Penjelasan : Maksudnya, walaupun seseorang termasuk ahli maksiat, Alloh tetap dekat dengannya sehingga jika ia mau bertobat, Alloh pasti menerimanya. Dan janganlah seorang yang taat menyombongkan diri atas ketaatannya, karena dengan begitu ia justru akan semakin jauh dari Alloh. Memiliki perasaan kekurangan dan penyesalan itulah yang menyebabkan seseorang dekat kepada Alloh.)

   Lalu Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Berkata kepada Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu:

“Wahai penolong agung, bila seseorang dekat kepada-KU, maka ia adalah dari kalangan maksiat, karena ia merasa memiliki kekurangan dan penyesalan.”

Lalu Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Berkata kepada Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu:

“Wahai penolong agung, merasa memiliki kekurangan merupakan sumber cahaya, dan mengagumi cahaya diri sendiri merupakan sumber kegelapan.”

Lalu Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Berkata kepada Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu:

“Wahai penolong agung, ahli maksiat akan tertutupi oleh kemaksiatannya, dan ahli taat akan tertutupi oleh ketaatannya. Dan AKU memiliki hamba-hamba selain mereka, yang tidak ditimpa kesedihan maksiat dan keresahan ketaatan.”

   Lalu Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Berkata kepada Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu:

“Wahai penolong agung, sampaikan kabar gembira kepada para pendosa tentang adanya keutamaan dan kemurahan, dan sampaikan berita kepada para pengagum diri sendiri tentang adanya keadilan dan pembalasan.”

   Lalu Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Berkata kepada Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu:

“Wahai penolong agung, ahli ketaatan selalu mengingat kenikmatan, dan ahli maksiat selalu mengingat Yang Maha Pengasih.”

   Lalu Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Berkata kepada Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu:

“Wahai penolong agung, AKU Dekat dengan pelaku maksiat setelah ia berhenti dari kemaksiatannya, dan AKU Jauh dari orang yang taat setelah ia berhenti dari ketaatannya.”

   Lalu Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Berkata kepada Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu:

“Wahai penolong agung, AKU menciptakan orang awam namun mereka tidak mampu memandang cahaya kebesaran-KU, maka AKU Meletakkan tirai kegelapan di antara Diri-KU dan mereka. Dan AKU Menciptakan orang-orang khusus namun mereka tidak mampu mendekati-KU dan mereka sebagai tirai penghalang.”

   Lalu Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Berkata kepada Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu:

“Wahai penolong agung, katakan kepada para sahabatmu, siapa di antara mereka yang ingin sampai kepada-KU, maka ia harus keluar dari segala sesuatu selain AKU.”

   Lalu Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Berkata kepada Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu:

“Wahai penolong agung, keluarlah dari batas dunia, maka engkau akan sampai ke akhirat. Dan keluarlah dari batas akhirat, maka engkau akan sampai kepada-KU.”

   Lalu Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Berkata kepada Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu:

“Wahai penolong agung, keluarlah engkau dari raga dan jiwamu, lalu keluarlah dari hati dan ruhmu, lalu keluarlah dari hukum dan perintah, maka engkau akan sampai kepada-KU.”

   Maka Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu bertanya :

“Wahai Tuhanku, sholat seperti apa yang paling dekat dengan-Mu ?.”

   Dan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Berkata kepada Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu:

“Sholat yang di dalamnya tiada apapun kecuali AKU, dan orang yang melakukannya lenyap dari sholatnya dan tenggelam karenanya.”

(Penjelasan: Lenyap dari sholat bermakna bahwa niat dan perhatian si pelaku sholat hanya tertuju kepada Alloh ﷻ. Fokusnya bukan lagi penampilan fisik maupun gerakan-gerakan, melainkan kepada makna batiniah sholat itu.)

   Lalu Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu berkata :

“Wahai Tuhanku, puasa seperti apa yang paling utama di sisi-MU?.”

   Lalu Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Berkata kepada Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu:

“Puasa yang di dalamnya tiada apa pun selain AKU, dan orang yang melakukannya lenyap darinya."

   Lalu Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu berkata :

“Wahai Tuhanku, amal apa yang paling utama di sisi-MU ?.”

   Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Berkata :

“Amal yang di dalamnya tiada apa pun selain AKU, baik itu [harapan] surga ataupun [ketakutan] neraka, dan pelakunya lenyap darinya."

   Lalu Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu berkata :

“Wahai Tuhanku, tangisan seperti apa yang paling utama di sisi-MU ?.”

   Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Berkata :

“Tangisan orang-orang yang tertawa."

   Lalu Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu berkata :

“Wahai Tuhanku, tertawa seperti apa yang paling utama di sisi-MU ?.”

   Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Berkata :

“Tertawanya orang-orang yang menangis karena bertobat.”

   Lalu Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu berkata :

“Wahai Tuhanku, tobat seperti apa yang paling utama di sisi-MU ?.”

   Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Menjawab :

“Tobatnya orang-orang yang suci.”

   Lalu Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu bertanya :

“Wahai Tuhanku, kesucian seperti apa yang paling utama di sisi-MU ?.”

   Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Menjawab :

“Kesucian orang-orang yang bertobat.”

   Lalu Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Berkata kepada Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu:

“Wahai penolong agung, pencari ilmu di mata-KU tidak mempunyai jalan kecuali setelah ia mengakui kebodohannya, karena jika ia tidak melepaskan ilmu yang ada padanya, ia akan menjadi setan.”

(Penjelasan: Ilmu yang sesungguhnya adalah yang ada di sisi Alloh ﷻ, sementara ilmu yang kita miliki hanyalah semu dan palsu. Selama manusia tidak melepas kepalsuan itu, ia tidak akan menemukan ilmu sejati. Ilmu sejati tidak akan berlawanan dengan perbuatan. Setan adalah contoh pemilik ilmu yang perbuatannya berlawanan dengan ilmu yang dimilikinya.)

Berkatalah sang penolong agung (Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu):

“Aku bertemu Tuhanku ﷻ dan aku bertanya kepada-NYA, ‘Wahai Tuhan, apa makna kerinduan [‘isyq] ?’,

Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Menjawab :

‘Wahai penolong agung, [artinya] engkau mesti merindukan-KU dan mengosongkan hatimu dari selain AKU."


Lalu Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Berkata kepada Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu:

“Wahai penolong agung, jika engkau mengerti bentuk kerinduan maka engkau harus lenyap dari kerinduan, karena ia merupakan penghalang antara si perindu dan yang dirindukan.”

Lalu Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Berkata kepada Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu:

“Wahai penolong agung, bila engkau berniat melakukan tobat, maka pertama kali engkau harus bertobat dari nafsu, lalu mengeluarkan pikiran dan perasaan buruk dari hati dengan mengusir kegelisahan dosa, maka engkau akan sampai kepada-KU. Dan hendaknya engkau bersabar, karena bila tidak bersabar berarti engkau hanya bermain-main belaka.”

Lalu Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Berkata kepada Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu:

“Wahai penolong agung, bila engkau ingin memasuki wilayah-KU, maka hendaknya engkau tidak berpaling kepada alam mulk, alam malakut, maupun alam jabarut. Karena alam mulk adalah setannya orang berilmu, dan malakut adalah setannya ahli makrifat, dan jabarut adalah setannya orang yang sadar. Siapa yang puas dengan salah satu dari ketiganya, maka ia akan terusir dari sisi-KU.”

Dan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Berkata kepada Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu:

“Wahai penolong agung, perjuangan spiritual [MUJAHADAH] adalah salah satu lautan di samudera penyaksian [MUSYAHADAH] dan telah dipilih oleh orang-orang yang sadar. Barangsiapa hendak masuk ke samudera MUSYAHADAH, maka ia harus memilih MUJAHADAH, karena MUJAHADAH merupakan benih dari MUSYAHADAH dan MUSYAHADAH tanpa MUJAHADAH adalah mustahil. Barangsiapa telah memilih MUJAHADAH, maka ia akan mengalami MUSYAHADAH, dikehendaki atau tidak dikehendaki.”

(Penjelasan : MUJAHADAH adalah perjuangan spiritual dengan cara menekan keinginan-keinginan jasmani, nafsu, dan jiwa, agar tunduk di bawah kendali ruh kita. MUSYAHADAH adalah penyaksian akan kebesaran dan keagungan Alloh ﷻ melalui tanda-tanda keagungan-NYA di alam ini.)

   Dan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Berkata kepada Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu:

“Wahai penolong agung, para pencari jalan spiritual tidak dapat berjalan tanpa MUJAHADAH, sebagaimana mereka tak dapat melakukannya tanpa AKU.”

   Dan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Berkata kepada Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu:

“Wahai penolong agung, sesungguhnya hamba yang paling AKU cintai adalah hamba yang mempunyai ayah dan anak tetapi hatinya kosong dari keduanya. Jika ayahnya meninggal, ia tidak sedih karenanya, dan jika anaknya pun meninggal, ia pun tidak gundah karenanya. Jika seorang hamba telah mencapai tingkat seperti ini, maka di sisi-KU tanpa ayah dan tanpa anak, dan tak ada bandingan baginya.”

(Penjelasan : 22. Kecintaan seseorang kepada anak atau orang tua semestinya tidak melebihi kecintaannya kepada Alloh ﷻ Ia harus menyadari bahwa orang tua maupun anak adalah anugerah Alloh ﷻ yang bersifat sementara, dan cepat atau lambat ia akan berpisah dengan mereka. Maka seharusnya perpisahan itu tidak membuatnya gundah dan gelisah mengingat hal itu terjadi karena kehendak Alloh ﷻ. QS 'Abasa : 34-37:

٣٤-يَوۡمَ يَفِرُّ ٱلۡمَرۡءُ مِنۡ أَخِيهِ 

34. Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya.

٣٥-وَأُمِّهِۦ وَأَبِيهِ

35. Dari ibu dan bapaknya.

٣٦-وَصَٰحِبَتِهِۦ وَبَنِيهِ 

36. Dari teman hidupnya (yakni istrinya) dan anak-anaknya.

٣٧-لِكُلِّ ٱمۡرِئٍ مِّنۡهُمۡ يَوۡمَئِذٍ شَأۡنٌ يُغۡنِيهِ 

37. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya (yakni keadaan yang membuatnya tidak mengindahkan hal-hal lainnya, atau dengan kata lain setiap orang pada hari itu sibuk dengan urusannya masing-masing.)

   Dan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Berkata kepada Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu:

“Wahai penolong agung, siapa yang tidak merasakan lenyapnya seorang ayah karena kecintaan kepada-KU dan lenyapnya seorang anak karena kecintaan kepada-KU, maka ia tak akan merasakan lezatnya Kesendirian dan Ketunggalan.”

   Alloh Subhanahu Wa Ta'ala juga Berkata kepada Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu:

“Wahai penolong agung, bila engkau ingin memandang-KU di setiap tempat, maka engkau harus memilih hati resah yang kosong dari selain AKU.”

   Lalu Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu bertanya :

“Tuhanku, apa ilmunya ilmu itu ?.”

   Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Menjawab :

“Ilmunya ilmu adalah ketidaktahuan akan ilmu.”

   Dan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Berkata kepada Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu:

“Wahai penolong agung, berbahagialah seorang hamba yang hatinya condong kepada MUJAHADAH, dan celakalah bagi hamba yang hatinya condong kepada SYAHWAT.”

Lalu Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu bertanya kepada Tuhan ﷻ tentang mi’roj.

Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Berkata :

“Mi’roj adalah naik meninggalkan segala sesuatu kecuali AKU, dan kesempurnaan mi’roj adalah pandangan tidak berpaling dan tidak pula melampauinya [ QS An-Najm : 17].”

مَا زَاغَ ٱلۡبَصَرُ وَمَا طَغَىٰ 

Penglihatannya tidak berpaling (penglihatan Nabi ﷺ. tidak berpaling) dan tidak melampauinya (maksudnya, tidak berpaling dari apa yang dilihatnya dan tidak pula melampaui apa yang dilihatnya pada malam ketika ia di isro kan)

Lalu Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Berkata kepada Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu:

“Wahai penolong agung, tidak ada sholat bagi orang yang tidak melakukan mi’roj kepada-KU.”

(Penjelasan : 23. Dalam sebuah hadist, Nabi ﷺ berkata :
“Sholat adalah mi’roj kaum mukmin.”
Mi’roj berarti naiknya ruh menghadap Alloh ﷻ meski jasad kita tetap berada di alam ini. Jika sholat seseorang belum membawanya kepada keadaan seperti ini, berarti ia belum melakukan sholat dengan sempurna.)

Lalu Alloh Subhanahu Wa Ta'ala Berkata kepada Syaikh Abdul Qodir Al Jailani Al Hasani Qoddasallohu Sirruhu Al Aziz Rodhiallohu'anhu:

“Wahai penolong agung, orang yang kehilangan sholatnya adalah orang yang tidak mi’raj kepada-KU.”


EmoticonEmoticon