KEBURUKAN DARI ORANG YANG TIDAK MAU SHOLAWAT SAAT NAMA NABI MUHAMMAD SHOLLALLOHU 'ALAIHI WASSALLAM DISEBUT/KITA MEMBACANYA DALAM TULISAN
&
WAKTU YANG DIANJURKAN UNTUK MEMBACA SHOLAWAT
Di dalam Surat Al-Ahzab ayat 56 Alloh Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Artinya:
“Sesungguhnya Alloh dan para malaikat-NYA selalu bersholawat kepada Nabi Muhammad. Wahai orang-orang yang beriman haturkan sholawat dan ucapkan salam kepadanya."
Berangkat dari ayat ini para ulama sepakat bahwa hukum membaca sholawat kepada Nabi Muhammad ﷺ adalah wajib bagi setiap orang muslim.
Riwayat dari sayyidina Ibnu Abdil Al Barr sebagaimana dikutip oleh Syekh Yusuf bin Ismail An-Nabhani menuturkan:
أجمع العلماء على أن الصلاة على النبي ﷺ فرض على كل مؤمن بقوله تعالى يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Artinya:
“Para ulama telah sepakat bahwa bersholawat kepada Nabi ﷺ adalah wajib bagi setiap orang muslim berdasarkan firman Alloh Q.S AL AHZAB Ayat 56 di atas.
(Yusuf bin Ismail An-Nabhani, dalam kitab Afdlalus Sholawat ‘ala Sayyidis Sadat)
Kata sholawat (الصلاة) menurut bahasa adalah berdo’a untuk kebaikan, jika kata Sholawat disandarkan pada Allah Ta’ala, maka mempunyai arti penambahan nikmat yang disertai dengan pengagungan dan penghormatan.
Ada riwayat dari Sayyidina Ibnu Abbas, mengatakan:
"Sholawat dari Alloh berarti Rohmat (kasih sayang), dan jika dari hamba berarti do’a dan jika dari malaikat berarti memintakan ampunan."
(kitab Aqidatul Awam, kitab pelajaran tauhid yang Rosululloh Shollalloh 'Alaihi Wassallam ajarkan kepada KH. Ahmad marzuqi, jakarta)
Di antara kejelekan-kejelekan yang dituturkan Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wassallam dalam berbagai hadits bagi orang yang enggan atau malas bersholawat ketika nama beliau disebut adalah sebagai berikut:
1. Dijauhkan dari rohmat (kasih sayang) Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.
“Barangsiapa yang mendapati bulan Romadhon namun dosanya tidak terampuni maka ia masuk neraka.
Semoga Alloh Subhanahu Wa Ta'ala menjauhkannya dari rohmat.
Katakan aamien, wahai Muhammad!”
Maka kemudian Rosululloh ﷺ menjawab:
“aamien.”
Kemudian Malaikat Jibril Alihi Sallam berkata lagi:
“Orang yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satunya lanjut usia lalu ia tidak berbakti kepadanya dan ia meninggal dunia, maka ia masuk neraka.
Semoga Alloh Subhanahu Wa Ta'ala menjauhkannya dari rohmat.
Katakan aamien!”
Maka Rosululloh ﷺ menjawab:
“aamien.”
Kemudian malaikat Jibril berkata lagi:
“Orang yang disebutkan namamu namun ia tak bersholawat kepadamu lalu ia meninggal dunia, maka ia masuk neraka.
Semoga Alloh Subhanahu Wa Ta'ala menjauhkannya dari rohmat.
Katakan aamien!”
Maka Rasulullah menjawab:
“aamien.”
2. Orang yang tidak mau membaca sholawat saat mendengar nama Rosululloh ﷺ disebut digambarkan oleh Rosululloh sebagai orang yang yang hidungnya yang berdebu.
Hadits tentang ini banyak diriwayatkan dalam berbagai kitab hadits di antaranya oleh Imam Turmudi:
رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ
Artinya:
“Berdebu hidung seseorang yang namaku disebut di sisinya namun ia tak mau bersholawat kepadaku.”
Kalimat raghima anfu (hidungnya berdebu) dimaknai oleh sebagian ulama sebagai kerendahan dan kehinaan.
Imam Qurtubi menjelaskan bahwa kalimat itu bisa bermakna bahwa Alloh membanting orang tersebut hingga jatuh pada hidungnya dan menghancurkannya.
Sebagian Ulama berpendapat bahwa Alloh Subhanahu Wa Ta'ala merendahkan orang tersebut. Hidung merupakan anggota badan yang mulia dan tanah merupakan tempat berpijaknya kaki, maka orang yang hidungnya ditempelkan ke tanah berarti ia telah direndahkan dan dihinakan sedemikian rupa.
Sebagian Ulama berpendapat bahwa dia tidak akan mencium baunya surga yang mana bau surga bisa tercium sampai 70 tahun perjalanan. Apabila tidak bisa mencium bau harumnya surga, apalagi masuk surga tidak akan bisa.
Dengan demikian dapat dipahami bahwa orang yang enggan/malas membaca sholawat ketika mendengar nama Rosululloh ﷺ disebut ia adalah orang yang rendah dan hina di hadapan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.
3. Celaka bagi orang yang enggan/malas bersholawat kepada Nabi ﷺ ketika nama beliau disebutkan. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ فَقَدْ شَقِيَ
Artinya:
“Barangsiapa yang namaku disebut di sisinya lalu ia tak bersholawat kepadaku maka ia telah celaka.”
Celaka di sini berarti terhalang dari kebaikan dan jatuh ke dalam keburukan.
Orang yang enggan bersholawat ketika nama Rosululloh ﷺ disebut ia telah menghalangi diri sendiri dari mendapatkan kebaikan dan keutamaan bersholawat yang dapat mendekatkan kepada surga dan menjauhkan dari siksaan api neraka.
Maka dengan malasnya bersholawat ia telah mendekatkan dirinya kepada neraka karena ia tidak mendekatkannya kepada surga.
4. Orang yang malas bersholawat kepada Nabi ﷺ ketika ia mendengar atau melihat tulisan nama beliau dianggap ia sebagai orang yang bakhil (pelit).
Imam An-Nasa’i meriwayatkan satu hadits:
الْبَخِيلُ مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ
Artinya:
“Orang yang bakhil (pelit) adalah orang yang ketika namaku disebut di sisinya lalu ia tidak bersholawat kepadaku.”
Orang yang bakhil (pelit) adalah yang tidak mau memenuhi hak orang lain yang menjadi kewajibannya.
Sebaliknya orang yang mau memenuhi kewajibannya secara sempurna tidak disebut sebagai orang bakhil (pelit) Rosululloh ﷺ adalah orang yang menjadi sebab didapatkannya kebahagiaan dunia dan akherat.
Beliau datang sebagai orang yang memberi petunjuk dan rohmat (kasih sayang) bagi alam semesta.
Beliau juga penyelamat bagi manusia dari kejelekan dan kerusakan dunia dan penyelamat di akherat dari segala hal yang tidak disukai dan dari siksaan apai neraka.
Bila demikian adanya, tidakkah beliau berhak untuk diagungkan?
Tidakkah beliau berhak untuk dihormati ketika namanya diucapkan/dituliskan?
Rosululloh ﷺ adalah orang yang paling berhak untuk diagungkan dan dihormati dengan sebaik-baik pengagungan dan penghormatan.
Maka bila seorang yang mendengar nama beliau disebut lalu ia enggan/malas mengagungkannya dengan bersholawat, tidakkah ia pantas disebut sebagai orang yang bakhil (pelit), bahkan orang yang paling pelit?
Kita semua mengetahui bahwa sebelum Alloh Subhanahu Wa Ta'ala menciptakan semuanya Alloh Subhanahu Wa Ta'ala terlebih dahulu menciptakan Nur Muhammad ﷺ
5. Salah jalan ke surga
Imam At-Thabrani di dalam kitab Al-Mu’jam Al-Kabîr meriwayatkan sebuah hadits:
مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَخَطِئَ الصَّلَاةَ عَلَيَّ؛ خَطِئَ طَرِيقَ الْجَنَّةِ
Artinya:
“Barangsiapa yang namaku disebut di sisinya lalu luput ia tidak bersholawat kepadaku maka ia telah salah jalan ke surga.”
Tidak diragukan bahwa orang yang salah jalan menuju surga maka ia tidak mendapatkan petunjuk jalan menujunya.
Yang terpampang di depannya adalah jalan menuju neraka.
Karena di akherat kelak tidak ada jalan lain selain dua jalan yang menuju ke surga dan yang ke neraka.
6. Orang yang kasar perangainya
Abdur Razaq As-Shon’ani di dalam kitab Mushonnaf-nya meriwayatkan sebuah hadits:
مِنَ الْجَفَاءِ أَنْ أُذْكَرَ عِنْدَ الرَّجُلِ فَلَا يُصَلِّي عَلَيَّ
Artinya:
“Termasuk kasarnya perangai adalah ketika aku disebut di sisi seseorang lalu ia tidak bersholawat kepadaku.”
As-Sakhowi mengartikan kata Al-Jafa' sebagai meninggalkan kebaikan dan silaturohim (menyambung kasih sayang), Kata Al-Jafa’ secara mutlak juga berarti kerasnya perangai.
Orang yang keras perangainya, yang meninggalkan kebaikan dan silaturohim (menyambung kasih sayang), jauh dari dari Rosululloh Muhammad ﷺ.
Dari berbagai hadits di atas yang menuturkan berbagai kejelekan bagi orang yang enggan/malas bersholawat kepada Nabi ﷺ saat nama beliau disebut para ulama mengambil satu kesimpulan bahwa adalah wajib hukumnya membaca sholawat kepada Nabi ﷺ manakala nama beliau disebutkan.
WAKTU YANG DIANJURKAN UNTUK MEMBACA SHOLAWAT
1. Sunah membaca sholawat setelah selesai dikumandangkannya adzan.
Rosululloh ﷺ bersabda:
“Bila kalian mendengar orang yang mengumandangkan adzan maka ucapkanlah seperti apa yang ia ucapkan, lalu bersholawatlah kepadaku karena orang yang bersholawat kepadaku sekali maka dengan sholawat itu Alloh bersholawat kepadanya sepuluh kali.”
(HR. Muslim)
2. Dianjurkan membaca sholawat di awal, tengah dan akhir doa.
Dengan membaca sholawat di ketiga tempat itu saat berdoa maka akan lebih kuat potensi dikabulkannya doa tersebut dan lebih banyak lipatan pahalanya.
Riwayat Imam Tirmidzi menjelaskan tentang membaca sholawat di dalam berdoa:
“Dari Fudholah bin Ubaid berkata, ketika Rosululloh sedang duduk tiba-tiba masuk seorang lelaki kemudian melakukan sholat dan berkata:
“Ya Alloh, ampuni aku dan kasihani aku.”
Maka Rosululloh ﷺ bersabda:
“Engkau terburu-buru wahai orang yang sholat. Bila engkau selesai sholat kemudian duduk maka pujilah Alloh sebagaimana mestinya dan bersholawatlah kepadaku kemudian berdoalah kepada Alloh.”
Fudholah berkata:
"kemudian seorang laki-laki lain melakukan sholat, lalu memuji kepada Alloh dan bersholawat kepada Nabi ﷺ. Maka Rosululloh bersabda:
“Wahai orang yang sholat, berdoalah maka engkau akan diijabahi.”
Imam Al-Ghozali di dalam kitab Ihya 'Ulumuddin mengutip penjelasan dari Abu Sulaiman Ad-Daroni yang mengatakan:
"Dianjurkannya menjadikan doa berada di tengah-tengah antara dua shalawat (awal dan akhir) karena doa yang demikian tidak akan ditolak. Kiranya Alloh yang mulia tidak layak baginya mengabulkan dua sisi awal dan akhir sementara menolak sisi tengahnya."
3. Dianjurkan membaca sholawat ketika memasuki masjid dan ketika keluar darinya.
Sebuah hadits riwayat Imam Tirmidzi dari Ummul mukminin 'Aisyah binti Abu Bakar Rodhiyallohu ‘anha berkata:
“Adalah (memberi contoh) Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wassallam ketika memasuki masjid beliau bersholawat dan bersalam untuk Muhammad (dirinya sendiri) dan berdoa ROBBIIGH_FIR_LI DZUNUBI WAF_TAH LI AB_WABA ROKH_MATIKA.
Dan ketika keluar beliau bersholawat dan bersalam kepada Muhammad serta berdoa ROBBIIGH_FIR_LI DZUNUBI WAF_TAH LI AB_WABA FADH_LIKA.”
4. Dianjurkan membaca sholawat ketika bertemunya seorang muslim dengan sesama muslim.
Abu Ya’la Al-Mushili meriwayatkan sebuah hadits dari Rosululloh ﷺ, beliau bersabda:
“Tidaklah dua orang hamba yang saling mencintai di jalan Alloh salah satunya menemui saudaranya kemudian menyalaminya dan keduanya bersholawat kepada Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wassallam kecuali keduanya tidak berpisah sampai diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang kemudian.”
5. Dianjurkan bagi kaum muslimin ketika mereka berkumpul di suatu majelis untuk menghiasi majelis mereka dengan membaca sholawat.
Sayyidina Ibnu Umar meriwayatkan sebuah hadits dari Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wassallam bahwa beliau bersabda:
“Hiasilah majelis-majelis kalian dengan bersholawat kepadaku. Karena sholawat kalian kepadaku adalah cahaya bagi kalian di hari kiamat.”
Adapun hadits yang mengingatkan untuk tidak meninggalkan bacaan sholawat di majelis di antaranya hadits riwayat Imam Ahmad, Rosululloh ﷺ bersabda:
“Tidaklah sekelompok orang duduk di suatu tempat di mana mereka tidak berdzikir kepada Alloh dan tidak bersholawat kepada Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wassallam kecuali hal itu menjadi kerugian bagi mereka di hari kiamat meskipun mereka masuk surga, karena besarnya pahala (bersholawat ketika berkumpul).”
6. Dianjurkan menuliskan sholawat ketika menulis nama Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wassallam.
Riwayat Imam Thobroni dari Abu Huroiroh, bahwa Rosulullah pernah bersabda:
“Barangsiapa yang bersholawat kepadaku di dalam sebuah buku (tulisan) maka para malaikat tidak henti-hentinya memintakan ampun baginya selama namaku masih ada di dalam buku itu.”
7. Dianjurkan membaca sholawat ketika membuka setiap ucapan baik yang memiliki tujuan tertentu disamping juga dianjurkan membukanya dengan hamdalah dan pujian kepada Alloh.
“Setiap perkara yang memiliki tujuan yang tidak diawali dengan dzikir kepada Alloh dan sholawat kepadaku maka perkara itu terputus terhapus keberkahannya.”
8. Dianjurkan membaca sholawat dalam membuka nasehat, peringatan dan mengajarkan ilmu, terlebih ketika membaca sebuah hadits.
Imam Nawawi di dalam kitab Al-Adzkar menuturkan bahwa disunahkan bagi orang yang membaca hadits dan selainnya ketika menyebut Rosululloh ﷺ untuk mengeraskan suaranya dalam bersholawat, namun kerasnya suara itu jangan sampai berlebihan.
9. Dianjurkan membaca sholawat di waktu pagi dan sore hari.
Sebuah riwayat dari Sayyidina Abu Darda bahwa Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wassallam pernah bersabda:
“Barangsiapa yang bersholawat kepadaku di waktu pagi sepuluh kali dan di waktu sore sepuluh kali maka syafa'atku akan mendapatinya di hari kiamat.”
10. Membaca shalawat juga dianjurkan ketika hendak tidur.
"Barangsiapa yang menuju tempat tidurnya (hendak tidur) kemudian ia membaca surat Tabaroka (Al-Mulk) kemudian ia membaca sebanyak empat kali:
"Maka Alloh akan mewakilkan kepada dua malaikat hingga keduanya datang kepadaku dan mengatakan kepadaku perihal yang dilakukan orang tersebut."
Kemudian aku menjawabnya:
11. Dianjurkan membaca sholawat bagi orang yang baru saja bangun dari tidur malamnya.
Imam Nasa'i dalam kitab As-Sunan Al-Kubra meriwayatkan dari Sayyidina Abdullah bin Mas’ud, Nabi ﷺ bersabda:
“Alloh 'tertawa' terhadap 2 orang malaikat; .... dan orang yang bangun di tengah malam di mana tak ada seorang pun yang mengetahuinya, lalu ia berwudlu dan menyempurnakannya, kemudian memuji kepada Alloh dan bersholawat kepada Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wassallam dan memulai membuka Al-Qur’an.
Yang demikian itu Alloh 'tertawa' kepadanya. Ia berfirman,:
“Lihatlah hamba-Ku sedang berdiri sholat, tidak ada seorang pun yang melihatnya selain AKU.”
12. Membaca sholawat kepada Nabi ﷺ dianjurkan ketika telinga berdengung.
Abu Rofi’ meriwayatkan sabda Rosululloh ﷺ:
“Apabila telinga salah seorang di antara kalian berdengung maka ingatlah aku dan bersholawatlah kepadaku serta ucapkan dzakarollohu man dzakaroni biil khoir (semoga Alloh mengingat orang yang mengingatku dengan kebaikan).”
Al-Munawi di dalam kitab Faidhul Qodir menjelaskan bahwa yang dimaksud “ingatlah aku” pada hadits tersebut adalah mengucapkan kalimat Muhammad Rosululloh ﷺ.
13. Dianjurkan membaca sholawat ketika lupa akan suatu perkataan.
Ibnu Sunni dengan sanad dari Usman bin Abi Harb Al-Bahili meriwayatkan bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
“Barangsiapa yang hendak mengatakan suatu perkataan kemudian ia lupa akan perkataan itu maka bersholawatlah kepadaku, karena sholawatnya kepadaku itu sebagai pengganti ucapannya, semoga ia bisa mengingatnya.”
14. Membaca sholawat juga Dianjurkan setelah selesai melakukan sholat.
Sebuah hikayat menceritakan, satu hari Muhammad bin Umar bersama Abu Bakr bin Mujahid sedang duduk Kemudian datanglah Syaikh As-Syibli.
Melihat kedatangan As-Syibli ini Abu Bakr bin Mujahid segera bangkit menyambutnya dan ia peluk As-Syibli dan mencium di tengah kedua matanya.
Melihat hal ini Muhammad bin Umar bertanya kepada Abu Bakr:
“Tuan, engkau lakukan ini kepada As-Syibli, sedangkan engkau dan orang-orang menggambarkan ia sebagai orang yang gila?”
Abu Bakr menjawab bahwa ia lakukan ini meniru apa yang dilakukan oleh Rosululloh ﷺ kepada As-Syibli.
Abu bakar bin Mujahid menceritakan:
"Aku telah bermimpi, Rosululloh ﷺ bangun menyambut kedatangan As-Syibli lalu memeluk dan mencium di tengah kedua matanya"
Dalam mimpi itu aku bertanya kepada Rosul ﷺ,:
“Ya Rosul, engkau lakukan ini kepada As-Syibli?”
Rosululloh ﷺ menjawab:
“Orang ini setelah sholat selalu membaca ayat "laqad jâakum rasûlun min anfusikum..... kemudian meneruskannya dengan bersholawat kepadaku.”
15. Dianjurkan membaca sholawat kepada Nabi ﷺ ketika khatam membaca Al-Qur’an, mengingat saat itu adalah saatnya berdoa di mana doa setelah khatam Al-Qur’an akan dikabulkan.
16. Dianjurkan membaca sholawat ketika sedang mengalami kegundahan, keresahan, dan hal-hal yang berat.
Suatu waqtu Ubay bin Ka’b menyampaikan beberapa kalimat kepada Rosululloh ﷺ . Di antaranya ia menyampaikan:
“Aku jadikan seluruh doaku sebagai sholawat kepadamu, wahai Rosululloh.”
Rosululloh ﷺ bersabda:
“Kalau begitu akan dicukupi keresahanmu dan akan diampuni dosamu.”
(HR. Imam Turmudzi)
17. Dianjurkan membaca sholawat ketika berdoa tentang suatu hajat.
“Barangsiapa yang memiliki hajat (keinginan) kepada Alloh atau kepada seseorang maka berwudhulah dan sempurnakan wudhunya serta lakukanlah sholat dua rakaat. Kemudian pujilah Alloh dan bersholawatlah kepada Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wassallam, lalu ucapkanlah:
"LAA ILAHA IL_LALLOH AL-HALIMUL KARIEM, LAA ILAHA IL_LAL_LOH SUB_HANALLOHI ROB_BIL 'AR_SYIL 'ADHIM, WAL_HAMDULIL_LAH ROB_BIL 'ALAMIN, AS_ALUKA MUJIBATI ROKH_MATIKA WA 'AZAIMA MAGH_FIROTIKA WAL GHONIMATA MIN KUL_LI BIRIN, WAS SALAMATA MIN KUL_LI DZANBIN, LAA TADA LI DZANBAN IL_LA GHOFAR_TAHU, WA LAA HAM_MAN IL_LA FAR_ROJ_TAHU, WA LAA HAJATAN HIYA LAKA RIDHON IL_LA QODHO_ITAHA, YAA AR_KHAMAR_RO_KHIMIN.”
18. Dianjurkan membaca sholawat ketika seorang laki-laki meminang seorang perempuan untuk dinikahi.
Imam Nawawi di dalam kitab Al-Adzkar menuturkan, dianjurkan orang yang meminang maupun ijab qobul mengawalinya dengan mengucapkan hamdalah dan memuji kepada Alloh serta bersholawat kepada Rosululloh Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wassallam, kemudian mengucapkan:
"ASY_HADU ALLA ILAHA IL_LAL_LOHU WAH_DAHU LAA SYARIKALAH WA ASY_HADU AN_NA MUHAMMADAN 'ABDUHU WA ROSULUHU..."
19. Dianjurkan memberpanyak membaca sholawat kepada Nabi ﷺ hari kamis malam Jum’at setelah maghrib dan sampai hari Jum'atnya sebelum waqtu ashar.
Beliau menjelaskan bahwa pada hari Jumat sholawat dilaporkan kepada beliau secara khusus dan hari Jum’at memiliki kondisi khusus pula.
Sayyidina Anas Rodhiyallohu 'anhu berkata: Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wassalam bersabda:
"Barangsiapa bersholawat kepadaku di hari Jumat 100 kali, maka Alloh akan mengabulkan baginya 100 hajat (kebutuhan), yang 70 dari kebutuhan akhirat dan 30 dari kebutuhan-kebutuhan duniawi. Dan Alloh membebankan sholawat tersebut kepada malaikat hingga menghaturkannya ke kuburanku, layaknya (cahaya) hidayah yang masuk kepada kamu sekalian, dan malaikat memberi tahu akan namanya, kemudian aku menetapkannya di sampingku di dalam lembaran yang putih bersih, dan dengan sholawatnya, aku mencukupinya (memberi syafa'at) kelak di hari kiamat,".
20. Dianjurkan memperbanyak membaca sholawat ketika sedang melaksanakan ibadah haji dan umrah.
Orang yang sedang melaksanakn ibadah haji dan umrah dianjurkan untuk memperbanyak membaca sholawat nabi ﷺ di berbagai kegiatan manasik haji, baik setelah membaca talbiyah, ketika thawaf, sa’i, wukuf dan lain sebagainya.
ROB_BANA TAQOB_BAL MIN_NA,,BI_SYAFA'ATI NABIYINA MUHAMMAD SHOL_LAL_LOHU 'ALAIHI WAS_SAL_LAM, BIBIDZ_NIL_LAHI WA RI_DHOL_LOH YAA ALLOH
(Dan hanya Alloh Yang Maha Mengetahui, wahai Alloh, wahai Tuhan Kami terimalah amal kami melalui syafa'at Nabi junjungan kami Muhammad Shollallohu 'Alaihi Wassallam, dengan izin Alloh,dan keredhoan/kerelaan Alloh)
EmoticonEmoticon